Login Daftar - Gratis

CHAPTER 8

Di publikasikan 27 Oct 2026 oleh _didiable

Satu bulan telah berlalu sejak kasus Kevin Anggara berakhir. Seperti biasa, Grace sudah di kantor pukul 9, menyarap roti lapis dan es kopi hitam. Beberapa hari ini Grace cukup sibuk dengan kasus-kasus kecil. Tidak rumit. Kliennya adalah beberapa kenalan lamanya yang membutuhkan pendapat hukum sebelum mengajukan gugatan. "Sepi banget..." Dari meja di seberangnya, Mira mengangkat kepala. "Mbak Grace?" "Hm?" "Nanti mau makan siang apa? Delivery Sei Sapi mau?" Tanya Mira yang perutnya sudah keroncongan di jam 10 pagi. Grace menoleh. "Boleh tuh, aku ekstra sambal sama ekstra bayam kering ya." "Yes, oke Mba." Jawab Mira girang. Mira sudah hafal, kalau pesan makan bareng sama Mbak Grace pasti dia tidak akan mengeluarkan uang pribadinya.  Mira berlari kecil dan bertanya pelan ke arah Bowo. "Elo mau gak?" Bowo yang sudah mendengar percakapan Grace dan Mira dari pantry langsung mengangguk setuju. Sudah empat bulan sejak kantor kecil itu berdiri dengan nama yang masih terlalu baru untuk dikenal banyak orang. Grace Jasmine Law Firm. Belum banyak klien, belum banyak uang, belum banyak nama besar. Tapi setidaknya Grace merasa bisa tidur lebih nyenyak. Ia tidak lagi bekerja untuk orang-orang yang menjadikan hukum sebagai alat untuk menang dengan segala cara. Grace pernah percaya bahwa seorang pengacara hanya bertugas membela klien. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Pengacara memang berhak membela siapa pun. Tapi Grace tidak ingin membela seseorang yang menginjak orang lain hanya karena orang itu kaya raya dan mampu membayar berapapun demi dinyatakan tidak bersalah. Grace menatap layar laptopnya lagi, sampai suara ketukan pintu terdengar. Tok.Tok! Mira menoleh, dan menyapa ramah. "Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"  Seorang pria jangkung mengenakan kaos polo shirt biru dongker bergaris, dengan celana jeans dan tas punggung kecil. Ia memberikan tangan tegapnya pada Mira untuk berjabat tangan. "Saya Andika, teman Grace."  Mira menerima jabatan tangan Andika dengan grogi dan terpesona oleh ketampanan Andika. "Saya Mira, Resepsionis."  "Mau ketemu Grace bisa? saya belum buat janji sih." Sebelum Mira menjawab, Grace mengintip dari belakang laptopnya, karena mendengar suara yang familiar. "Dika!" Seru Grace berdiri dari kursinya, ia cukup terkejut sekaligus senang melihat teman lamanya berkunjung, tepatnya mantan rekannya dulu di Arman Sudibjo & Partners. "Silahkan duduk Pak Dika. Mau minum apa?" Mira mempersilahkan Andika duduk di sofa tamu panjang dengan canggung.  "Kopi hitam panas boleh?"  "Boleh Pak." Jawab Mira sambil berlalu ke pantry. Andika adalah salah satu dari sedikit orang di kantor lama mereka yang sering berbeda pendapat dengan partner senior. Dan Grace tahu persis kenapa, karena ia sama seperti dirinya tidak tahan melihat hukum dipelintir hanya demi uang. "Apa kabar Ibu Grace yang hebat?" ledek Andika sambil mengagumi kantor Grace. "Ih hebat apaan sih. Gue sehat dong. Elo sendiri gimana?" "Ah, gue kangen banget sama elo. Sedih enggak bisa lihat elo tiap hari dikantor." Andika membalut perasaan aslinya dengan bercanda. Grace memukul pelan lengan Andika dengan kepalan tangannya. "Jadi apa nih? pasti elo nyari gue karena ada sesuatu kan?" tebak Grace. Andika mengangguk, dan wajahnya berubah serius. "Can i be your partner Grace?" Andika yang sudah lama menyimpan rasa sukanya pada Grace sengaja melontarkan pertanyaan terselebung. Grace melebarkan mata pada Andika, terkejut dan mencoba menerka-menerka maksud pertanyaannya. Andika mendorong lembut kening Grace dengan jari telunjuknya. "Jadi partner di Grace Jasmine Law Firm, Grace! Mikir apa sih?!"  Grace masih menatapnya dengan mata sedikit melebar. "Oh..." Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Andika tertawa kecil. "Kenapa? Kaget?" "Ya iyalah kaget. Gue kira.." Grace menghentikan kalimatnya sendiri. Andika langsung menyipitkan mata. "Kira apa?" "Nggak ada." Grace menjawab cepat "Enggak. Tadi mau ngomong apa?" Andika penasaran, Grace menggeleng cepat. "Enggak penting, lupain, lupain!" Andika tersenyum semakin lebar. "Menarik." "Apanya yang menarik?" Tanya Grace salah tingkah. "Reaksi elo." Saut Andika yang asik menggoda Grace. Grace mendengus. "Jangan geer." "Siapa yang geer?, Elo?" Andika tertawa. Grace lega ketika Bowo datang membawa kopi untuk Andika. "Kantor lo bagus, gue suka". Andika melihat sekeliling. Grace mengangkat alis. Andika berhenti di dekat sebuah rak yang berisi beberapa buku hukum. "Dan ternyata elo masih pakai buku-buku yang dulu." Grace tersenyum. "Masih berguna." Andika mengambil sebuah buku. "Ini bahkan masih ada coretan elo." "Balikin." "Kenapa?" "Karena itu punya gue." Andika menyerahkan buku tersebut. "Masih galak." "Masih." Mereka kembali duduk. Kali ini ekspresi Andika berubah lebih serius, menyeruput dalam kopi nya dan terdiam agak lama. Grace memperhatikannya, ia lalu menyilangkan tangan di depan dada. "Jadi, elo datang ke sini, ngomong mau jadi partner, terus sekarang tiba-tiba diem." Andika tersenyum kecil. "Memang harus langsung ngomong?" "Iya." "Galak." "Karena gue kenal elo." Grace menatapnya lekat. "Gue udah enggak di kantor Arman Grace, gue resign." Senyum Andika perlahan menghilang. Grace tidak menyela. "Gue capek, selalu pura-pura nggak lihat." Grace langsung memahami maksudnya. "Kasus?" Andika mengangguk. "Kasus terakhir yang gue pegang." Andika membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebuah map tebal dan meletakkannya di meja. Grace menatap map tersebut. "Ini alasan gue datang ke sini." Ucap Andika. Grace membuka map berisi dokumen yang tersusun rapi. Surat kepemilikan tanah. Fotokopi identitas warga. Surat somasi. Surat pemberitahuan pengosongan dan beberapa foto. Grace mengambil foto pertama, sebuah rumah sederhana. Foto kedua, seorang perempuan tua berdiri di depan rumah. Foto ketiga, beberapa warga berkumpul di depan jalan kampung. Foto keempat, membuat Grace berhenti. Sebuah alat berat berdiri beberapa meter dari rumah-rumah warga. "Ini di mana?" "Lubuk Hijau." Jawab Andika. Grace mengangkat wajah."Kasus penggusuran?" "Iya." "Klien elo siapa?" "Warga." Grace mengernyit. "Warga?" Andika mengangguk. "Total ada tiga puluh tujuh keluarga yang terdampak langsung." Grace kembali melihat dokumen. "Tanah mereka mau dibangun apa?" "Kawasan komersial." "Perumahan?" "Bukan cuma perumahan." Andika menggeser satu dokumen ke hadapan Grace. "Hotel, apartemen, pusat perbelanjaan kecil, dan kawasan kuliner." Grace membaca cepat. "Siapa developernya?" "Baja Caraka." Andika menyebut sebuah nama perusahaan. Grace terdiam sebentar, ia pernah mendengar nama itu. "Pemiliknya..." Andika mengangguk. "Orang yang sama." "Orang kaya yang punya beberapa proyek besar di kota ini?" "Betul." Grace bersandar dan sudah bisa menebak. "Arman Pengacaranya." Andika tertawa hambar. "Mereka salah satu klien terbesarnya" Grace menutup map sebentar. "Dan elo diminta menangani kasusnya." "Awalnya iya, awalnya gue pikir cuma sengketa tanah biasa." Grace kembali membuka map. "Ternyata?" "Ternyata warga punya bukti kepemilikan." Grace membaca lebih teliti. "SHM?" "Sebagian." "Sebagian?" "Sebagian punya sertifikat hak milik. Sebagian lagi punya surat waris dan dokumen lama yang menunjukkan penguasaan tanah turun-temurun." Grace mengangguk. "Berarti tidak sesederhana perusahaan datang membawa sertifikat lalu warga dianggap ilegal." "Justru itu." Andika menarik napas. "Yang bikin aneh, ada beberapa dokumen yang berubah." Grace langsung berhenti membaca. "Berubah bagaimana?" "Data batas tanah." "Perubahan resmi?" "Nah, itu yang harus kita cari." Grace menatapnya. "Arman?" Andika tertawa kecil. "Mereka nggak tertarik mencari." Grace sudah bisa menebak. "Mereka cuma mau menang." "Exactly." Andika menyandarkan tubuhnya. "Partner gue bilang, 'Dik, tugas kita bukan mencari siapa yang benar. Tugas kita memastikan klien kita menang.'" Grace diam, ia teringat kata-kata yang sama dari masa lalunya. Ia masih ingat bagaimana seorang partner senior pernah menyuruhnya mencari celah hukum untuk memenangkan klien yang jelas-jelas bersalah. Ia masih ingat bagaimana saat ia menolak, ia justru dianggap tidak profesional. Grace mengangkat wajah. "Jadi elo resign." Andika mengangguk. "Besoknya." Grace tersenyum kecil. "Lo memang keras kepala." Andika menatapnya. "Makanya kita cocok." Grace berdeham salah tingkah tingkah. "Maksud gue... cocok kerja." Andika tersenyum. "I know." "Jangan macam-macam." "Gue nggak ngomong apa-apa." "Tapi muka elo ngomong." Andika tertawa dan kemudian kembali serius. "Gue datang bukan cuma buat minta pekerjaan, Grace." Grace menatapnya. "Gue mau bantu elo membangun kantor ini, sebagai partner." Ucap Andika penuh harap. "Elo yakin?" Ada sedikit rasa senang di hati Grace, tapi ia tidak mau teman lamanya itu kecewa suatu saat. "Yakin." "Lo tahu kantor ini belum menghasilkan banyak." "Tahu." "Belum punya banyak klien." "Tahu." "Belum punya associate." Andika melihat ke sekeliling. "Makanya gue datang." Grace mengernyit. "Maksudnya?" Andika menunjuk ruangan."Elo sendirian di sini." Grace tidak menjawab. "Mira resepsionis sekaligus admin." Mira yang mendengar namanya langsung menoleh. "Betul." Andika menunjuk ke arah pantry. "Bowo office boy." Dari dalam pantry terdengar suara gelas diletakkan. Andika melanjutkan. "Dan elo, satu-satunya pengacara" Grace yang sudah tau arah pembicaraan ini, hanya terdiam setuju. "Menurut gue, elo butuh partner." Grace menatapnya lama. "Tapi kenapa lo pilih kantor ini?" Andika tidak langsung menjawab, ia menatap Grace sejenak. "Karena gue tahu cara kerja elo. Gue tahu elo nggak akan mengambil kasus cuma karena bayarannya besar." Andika berhenti. "Gue tahu elo masih percaya bahwa hukum itu harus punya batas. Dan gue juga tahu elo nggak takut bilang tidak." Grace tersenyum kecil. "Kadang itu justru bikin gue kehilangan klien." "Ya." Andika mengangkat bahu. "Tapi mungkin suatu hari justru itu yang bikin orang datang." Grace menatapnya, kalimat sederhana yang sepertinya benar. Andika mengambil map kasus tadi. "Grace, orang di belakang perusahaan itu punya uang, punya koneksi, punya pengacara." Grace mengangguk. Andika menatapnya. "Mereka sudah mulai menekan warga." Grace membuka kembali dokumen."Diancam?" tebaknya. "Belum secara terang-terangan." Andika menunjuk beberapa surat. "Tapi beberapa warga ditawari uang jauh di bawah nilai tanah." Grace mengerutkan dahi. "Yang menerima?" "Beberapa." "Yang menolak?" "Mereka mulai diberi surat peringatan." Grace terdiam. Andika kemudian mengeluarkan sebuah foto, seorang ibu tua duduk di depan rumahnya. Wajahnya terlihat lelah. "Namanya Bu Marni." Grace melihat foto tersebut. "Usianya?" "Enam puluh tujuh." "Tanahnya?" "Warisan dari orang tuanya." "Dia tinggal sendirian?" "Iya." "Anaknya?" "Merantau." Grace memperhatikan foto itu. Andika berkata pelan, "Dia bilang ke gue, 'Mas, kalau saya pergi dari sini, saya harus pulang ke mana?'" Grace diam. Andika menatapnya. "Gue nggak bisa jawab." Grace perlahan menutup map. "Besok kita ke sana." Andika mengangguk. "Serius?" "Serius." "Padahal elo belum setuju gue jadi partner." Grace menatapnya. "Kalau gue nggak setuju, gue udah potong semua omongan elo dari tadi." Andika tersenyum. "Berarti..." Grace berdiri. "Besok jam sembilan." "Jam sembilan?" Tanya Andika. Grace mengangguk."Kalau elo mau jadi partner gue, biasakan datang tepat waktu." Andika ikut berdiri. "Siap, Ibu Grace." Grace memukul lengannya. "Jangan panggil gue Ibu." Andika tertawa, lalu tersenyum. "Thanks." "Untuk?" "Masih mau percaya sama gue." Grace menatapnya beberapa detik dan membalas senyumannya. "Sei sapi datang!" Suara ceria Mira memenuhi ruangan. Ia memesan satu porsi lebih, jaga-jaga kalau Grace akan menawari tamunya ikutan makan siang bersama. Dan yang ternyata feelingnya benar. "Sebagai karyawan baru, elo harus ikutan makan siang bareng kita ya sekarang." Paksa Grace, merangkul lengan Andika tanpa ia sadar. Jantung Andika berdegup. Ia tidak pernah merasa sedekat ini dengan Grace sebelumnya.  "Wah..beneran nih?" Andika melemaskan tubuhnya, membiarkan Grace membawanya ke pantry. "Mir, pesen satu porsi lagi buat Dika ya."  "Sudah beres Mbak Grace, aku pesen satu porsi tambahan tadi, hehe" Jawab Mira, bangga pada dirinya sendiri. "You're the best!" Puji Grace, mengancungkan jempolnya. "Wah, enak banget nih keliatannya." Andika lebih mendekatkan dirinya ke tubuh Grace. Wajah Grace memerah, ia tersadar dan langsung melepaskan rangkulannya dari lengan Andika dengan salah tingkah.  "Selamat datang di Grace Jasmine Law Firm, Pak Andika." Ucap Mira & Bowo. ---

Graces's Cases

CHAPTER 7

Di publikasikan 06 Oct 2026 oleh _didiable

Di seberang meja kaca dalam ruangan kerja Pak Gunawan, Efendi, kuasa hukum andalannya, sedang memeriksa salinan dokumen yang sempat ditunjukkan Grace pada sidang pertama. Wajah Efendi tampak tegang, kontras dengan Pak Gunawan yang masih berusaha mempertahankan keangkuhannya. "Perempuan itu... Grace Jasmine, dia bukan pengacara sembarangan," ujar Efendi sambil meletakkan berkas. "Dia memegang manifes audit internal yang seharusnya sudah kita bereskan. Kalau dokumen itu sah di mata hakim, tuduhan penggelapan yang kita timpakan ke Kevin bisa berbalik." Pak Gunawan menggebrak meja. "Saya tidak mau tahu, Efendi! Tugas saya bayar mahal kamu adalah untuk menang. Cari celah! Gimana pun caranya." Efendi memperbaiki letak kacamata hitamnya, tersenyum tipis. "Tenang, Pak Gunawan. Di sidang kedua besok, kita akan langsung menyerang kredibilitas bukti mereka sebelum mereka sempat menjelaskannya. Kita buat hakim meragukan asal-usul dokumen itu. Jika bukti Grace ditolak, Kevin tidak punya dasar untuk membela diri." --- Hari yang ditunggu tiba. Suasana ruangan di sidang ke dua  sedingin es. Ketukan palu Hakim Ketua menandai dibukanya persidangan yang akan menjadi penentu nasib Kevin Anggara. Begitu hakim memberikan kesempatan kepada pihak tergugat, Efendi langsung berdiri sambil merapikan letak toganya. "Yang Mulia Majelis Hakim," buka Efendi dengan suara berat yang sengaja dikeraskan. "Sebelum melangkah lebih jauh, kami memohon agar Majelis Hakim menolak dan mengesampingkan seluruh alat bukti elektronik yang diajukan oleh Kuasa Hukum Penggugat pada persidangan lalu. Kami menduga kuat bahwa dokumen audit internal tersebut diperoleh secara ilegal melalui peretasan sistem, atau bahkan merupakan hasil manipulasi digital demi menyudutkan klien kami, Pak Gunawan." Efendi menoleh ke arah Grace, melempar senyum sinis. "Berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, alat bukti elektronik hanya sah jika diperoleh dengan cara yang sah dan dijamin autentisitasnya. Dokumen yang dibawa Saudari Grace ini cacat hukum, unlawful evidence, dan harus dinyatakan tidak dapat diterima!" Pak Gunawan di kursi tergugat mmicingkan bibirnya angkuh. Hakim Ketua beralih menatap pihak penggugat. "Bagaimana tanggapan Kuasa Hukum Penggugat atas keberatan ini?" Grace Jasmine berdiri dengan tenang. Tidak ada keraguan di wajahnya. Ia merapikan beberapa lembar kertas di mejanya sebelum melangkah maju ke tengah ruang sidang. "Terima kasih, Yang Mulia," ucap Grace, suaranya tenang namun memiliki penekanan yang tegas. "Keberatan dari Rekan Efendi sangat bisa dipahami, namun sayangnya keliru dan tidak berdasar. Kami sama sekali tidak melakukan peretasan ataupun manipulasi." Grace membuka sebuah map biru dan mengeluarkan lembaran laporan teknis. "Perlu kami luruskan, klien kami, Kevin Anggara, sebelum dinonaktifkan secara sepihak, menjabat sebagai Manajer Keuangan senior yang memiliki hak akses legal dan sah ke dalam backup server keuangan perusahaan. Dokumen audit ini diunduh secara resmi dalam masa aktif jabatan beliau, jauh sebelum aksesnya diputus." Efendi langsung memotong tanpa menunggu izin hakim. "Keberatan, Yang Mulia! Mengunduh data internal perusahaan untuk kepentingan pribadi di luar operasional tetap merupakan pelanggaran privasi data dan penyalahgunaan wewenang!" "Saya belum selesai berbicara, Rekan Efendi," potong Grace cepat dengan nada dingin yang langsung membungkam lawannya. "Yang Mulia, demi membuktikan integritas alat bukti ini, kami tidak hanya membawa salinan cetak. Kami membawa kode verifikasi digital SHA-256 dari berkas asli server bersama dengan laporan audit dari Ahli Forensik Digital Independen terakreditasi." Grace berjalan mendekati meja Majelis Hakim, menyerahkan dokumen tersebut sembari melanjutkan argumennya. "Sesuai dengan Pasal 5 dan Pasal 6 UU ITE, informasi elektronik dinyatakan sah selama dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kami telah menyertakan chain of custody atau rantai alur bukti yang tidak terputus. Ahli kami siap bersaksi bahwa metadata dalam berkas ini mencatat aliran dana sebesar 5 miliar rupiah ditransfer dari rekening operasional Pratama Group langsung ke rekening PT Artha Global, sebuah perusahaan cangkang yang seluruh sahamnya, berdasarkan data Kemenkumham yang kami lampirkan, dimiliki secara mutlak oleh Saudara Gunawan." Grace berbalik, menatap langsung ke mata Efendi yang mulai khawatir. "Jadi, ini bukan manipulasi. Ini adalah rekam jejak digital yang tidak bisa dihapus. Sifat bukti ini inkontestabel—tidak dapat dibantah. Klien saya tidak menggelapkan uang, dia justru dijebak karena menolak menjadi bagian dari korupsi ini." Efendi terpaku, matanya beralih ke berkas di tangan hakim. Ia menoleh ke arah Pak Gunawan, memberikan gelengan kepala kecil sebagai tanda bahwa pembelaan mereka gagal. Pak Gunawan yang tadinya bersandar angkuh, kini memajukan badannya dengan wajah pucat. Hakim Ketua mengetuk palu satu kali. "Keberatan Tergugat ditolak. Majelis Hakim menyatakan alat bukti elektronik Penggugat sah dan dapat diterima. Sidang kami skors selama satu jam untuk menyusun putusan akhir." Ketukan palu hakim menandai skors satu jam. Suasana ruang sidang seketika berubah menjadi riuh rendah oleh bisikan para pengunjung. Di dalam ruangan yang sama, dua kubu terpisah menunjukkan pemandangan yang sama-sama serius. Di meja tergugat, kekesalan tidak dapat disembunyikan dari wajah Pak Gunawan. Keringat dingin bercucuran hingga membasahi leher kemeja mahalnya. "Efendi! Apa-apaan ini?!" bisik Pak Gunawan dengan suara bergetar yang penuh tekanan. "Kamu bilang bukti mereka lemah dan bisa membatalkan dokumen itu!" "Pak Gunawan, tenang dulu! Anda tidak bilang kalau mereka memegang nilai hash SHA-256 dan chain of custody yang seketat itu! Kalau sudah forensik digital independen yang bicara, hakim tidak akan percaya bualan kita soal peretasan!" Jawab Effendi dengan nada gusar. "Saya tidak mau tahu!" sergah Gunawan, matanya melotot panik. "Lakukan sesuatu! Sogok saksi ahlinya, atau buat skenario lain. Kalau sampai aliran dana ke perusahaan cangkang itu dibahas, saya bisa busuk di penjara!" Efendi menggelengkan kepala, wajahnya tampak frustrasi. "Sudah terlambat, Pak. Buktinya sudah masuk dan disahkan hakim. Kalau saya terus menekan, saya bisa ikut terseret pasal merintangi penyidikan, obstruction of justice. Sekarang pilihan kita hanya dua, pasrah menerima putusan atau bersiap mengajukan banding dengan risiko hukuman yang bisa jadi lebih berat." Mendengar itu, lutut Pak Gunawan terasa lemas. Ia terduduk di kursinya, menatap kosong ke lantai ruang sidang, yang tiba-tiba saja membuat hatinya merasa sempit. Sementara itu, di meja penggugat, Kevin Anggara mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Tangannya yang sempat gemetar kini mulai santai. Ia menoleh ke arah Grace yang sedang merapikan berkas-berkas dengan ekspresi wajah yang tenang, seolah semua ini hanyalah hari biasa di kantor. "Mbak Grace..." panggil Kevin, suaranya agak serak. "Saya sempat berpikir kita akan kalah saat Efendi membawa-bawa UU ITE." Grace menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Kevin sambil tersenyum tipis. "Efendi hanya menggunakan taktik klasik,  menakut-nakuti dengan jargon hukum untuk menutupi kelemahan kliennya. Tapi dalam hukum modern, sains dan validitas data digital tidak bisa dibantah dengan retorika kosong." Kevin tersenyum kecil, ada rasa lega yang luar biasa menjalar di dadanya. "Apakah ini berarti... semuanya akan selesai hari ini?" Grace mengangguk dengan pasti, menepuk lengan kevin dengan lembut. Kevin merasakan kehangatan dari tepukan lembut Grace. Ia tersenyum menatap langit-langit ruang sidang. Beban berat yang menghimpit pundaknya selama ini perlahan-lahan mulai hilang. -- Pintu ruang sidang kembali dibuka. Majelis Hakim memasuki ruangan dengan langkah tegap, membetulkan letak kacamatanya, memegang berkas tebal berlogo Garuda, lalu duduk dan mengetukkan palu sidang. Tok! Tok! Tok! "Skors dicabut. Sidang perkara pidana dan perselisihan hubungan kerja atas nama Kevin Anggara dinyatakan dilanjutkan dan terbuka untuk umum," ujar Hakim Ketua dengan suara berat yang menggema di setiap sudut ruangan. Hakim Ketua melirik ke arah Kevin, lalu ke arah Pak Gunawan yang kini duduk dengan gusar. "Menimbang seluruh fakta persidangan, keterangan saksi ahli forensik digital, serta keabsahan alat bukti elektronik yang diajukan oleh Kuasa Hukum Penggugat, Majelis Hakim telah mencapai keputusan bulat. Kepada Terdakwa Tergugat, Saudara Gunawan, dan Penggugat, Saudara Kevin Anggara, dimohon untuk berdiri mendengarkan amar putusan." Kevin berdiri dengan tegap. Di seberang mereka, Pak Gunawan bangkit berdiri dengan bertumpu lemas pada meja, wajahnya pucat. Hakim Ketua mulai membacakan teks putusan dengan tegas: "MENGADILI:" "Menyatakan Terdakwa Kevin Anggara Tidak Tebukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan sebagaimana yang didakwakan oleh pihak Pratama Group." "Membebaskan Terdakwa Kevin Anggara dari segala dakwaan hukum serta memerintahkan kepada pihak perusahaan untuk memulihkan harkat, martabat, dan nama baik Terdakwa pada keadaan semula." "Menyatakan Saudara Gunawan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Sumpah Palsu dan Keterangan Palsu sebagaimana diatur dalam Pasal 242 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, serta tindak pidana Pengaduan Fitnah sebagaimana diatur dalam Pasal 317 KUHP." "Menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada Saudara Gunawan selama LimamTahun Penjara dikurangi masa penahanan yang telah dijalani, serta membebankan seluruh biaya perkara kepada Terdakwa." Tok! Ketukan palu hakim itu bagaikan petir di siang bolong bagi Pak Gunawan. Pria paruh baya itu langsung terduduk lemas di kursinya, matanya kosong tak percaya. Efendi di sebelahnya hanya bisa menepuk bahu kliennya tanpa sepatah kata pun, rencana mereka telah hancur total. Dua petugas kepolisian yang berjaga di dalam ruang sidang mendekati Pak Gunawan. Suara gemerincing borgol besi mengunci pergelangan tangan Pak Gunawan. "Mari ikut kami, Pak," ujar salah satu petugas dengan tegas sambil menarik pelan lengan Pak Gunawan yang kini tertunduk malu. Di sisi lain ruang sidang, Kevin memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata keharuan setitik menetes dari ujung matanya, lalu menoleh ke arah Grace Jasmine. "Terima kasih, Mbak Grace" bisik Kevin dengan suara bergetar menahan tangis lega. Grace tersenyum bangga dan menjabat tangan Kevin dengan erat. "Ini bukan sepenuhnya karena saya juga, Pak Kevin. Ini karena Pak Kevin memilih untuk bertahan pada kebenaran. Keadilan mungkin datang terlambat, tapi ia tidak pernah lupa jalannya. Seperti air yang selalu mencari tempat terendah, keadilan akan selalu menemukan jalannya kembali ke tempat yang semestinya."

Graces's Cases

CHAPTER 6

Di publikasikan 02 Oct 2026 oleh _didiable

Aroma kayu tua bercampur wangi karbol pembersih lantai tercium dari dalam Ruang Sidang Pengadilan. Di atas meja majelis hakim, tumpukan berkas perkara bersampul merah tertata rapi. Di sisi kiri ruang sidang, Kevin Anggara duduk dengan punggung tegak, tangannya dingin. Grace duduk disampingnya dengan tenang dan percaya diri. Ia memilah lembar demi lembar dokumen bukti tertulis yang telah diberi tanda. Di meja pihak Tergugat, Pak Gunawan sedang berbisik santai dengan tim pengacaranya yang dipimpin oleh Efendi, seorang advokat senior dari Arman Atmaja Law Firm. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang, wajahnya dipasang seangkuh mungkin, berkali-kali melirik jam tangan kronograf emasnya seolah keberadaannya di ruang sidang ini hanyalah buang-buang waktu yang berharga. "Efendi," bisik Pak Gunawan, suaranya mendadak serak, menyenggol lengan pengacaranya. "Kenapa pengacaranya Grace Jasmine? Kamu bilang bocah itu cuma pakai pengacara publik gratisan?" Efendi ikut menoleh. Alisnya bertaut rapat. Ekspresi santainya luruh seketika, berubah tegang. "Tenang, Pak Gunawan. Di berkas gugatan awal yang masuk, tidak ada nama Grace. Dia pasti baru menandatangani surat kuasa khususnya. Tetap tenang, jangan tunjukkan kita panik." Namun, ketenangan adalah kemewahan yang baru saja dirampas dari Pak Gunawan. Dari seberang ruangan, Grace sempat melirik ke arah meja Tergugat. Ia tidak tersenyum. Ia hanya memberikan satu anggukan dingin. Tok! Tok! Tok! "Sidang perkara perselisihan pemutusan hubungan kerja dengan nomor register 412/Pdt.Sus-PHI/2026 atas nama Penggugat Kevin Anggara melawan Pratama Group sebagai Tergugat, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," Hakim Ketua mengetuk palu kayu dengan ketukan yang tegas. Hakim Ketua memeriksa berkas identitas di mejanya. "Baik, dari pihak Penggugat, apakah ada perubahan kuasa hukum? Karena yang tercatat di sini sebelumnya adalah Lembaga Bantuan Hukum." Grace Jasmine berdiri, membungkuk hormat dengan anggun namun berwibawa. "Betul, Yang Mulia. Penggugat telah memberikan Kuasa Khusus Baru kepada kantor kami. Surat Kuasa Khusus asli beserta Kartu Tanda Advokat dan Berita Acara Sumpah saya sudah kami serahkan ke Panitera Pengganti." Efendi langsung berdiri, mencoba merebut kendali ruang sidang sejak menit pertama. "Keberatan, Yang Mulia! Pergantian kuasa hukum di menit-menit terakhir sebelum sidang pembacaan gugatan ini adalah taktik untuk mengulur waktu dan mengaburkan substansi perkara. Kami memohon Majelis Hakim untuk menolak permohonan ini atau setidaknya menunda persidangan!" "Kami tidak meminta penundaan sidang, Yang Mulia," sahut Grace, suaranya jernih dan memotong interupsi Efendi tanpa perlu berteriak. "Kami sudah siap dengan gugatan kami, bahkan kami sudah siap membawa alat bukti tertulis hari ini jika Majelis mengizinkan. Kami tidak mengulur waktu satu detik pun." Hakim Ketua berdiskusi sejenak dengan dua hakim anggota, lalu mengetuk palu. "Keberatan Tergugat ditolak. Pergantian kuasa adalah hak mutlak Penggugat selama surat kuasa sah secara hukum. Silakan Kuasa Hukum Penggugat membacakan poin-poin pokok gugatannya." Grace mengambil dokumen gugatan setebal tiga puluh halaman. Ia tidak membacanya dari balik meja. Ia melangkah ke tengah ruang sidang, berdiri di antara meja Hakim dan barisan kursi Tergugat. "Yang Mulia Majelis Hakim, perkara ini bukan sekadar perselisihan pemecatan biasa," Grace mulai, suaranya penuh penekanan di ruang sidang yang senyap. "Klien kami, Kevin Anggara, mengabdi selama tujuh tahun di Pratama Group dengan rekam jejak tanpa cela. Kehancuran kariernya dimulai bukan karena dia tidak kompeten, melainkan karena dia memiliki integritas yang terlalu tinggi." Grace membalik halaman dokumennya, matanya melirik tajam ke arah Pak Gunawan yang kini mulai gelisah, memegang erat pulpennya. "Pada bulan Oktober tahun lalu, klien kami menemukan adanya ketidaksesuaian masif dalam laporan audit internal. Ketika manajemen—secara spesifik Direktur Keuangan yang duduk di kursi Tergugat hari ini meminta klien kami menandatangani laporan yang telah dimanipulasi tersebut, klien kami menolak dengan tegas. Dua bulan setelah penolakan itu, ia dipecat tanpa pesangon sepeser pun. Dan tiga bulan kemudian, perusahaan menyusun narasi palsu, menuduh klien kami menggelapkan dana dua belas miliar rupiah untuk menutupi lubang yang mereka buat sendiri." "Keberatan, Yang Mulia! Penggugat sudah masuk ke materi pokok perkara pidana yang bukan merupakan kewenangan Pengadilan Hubungan Industrial!" potong Efendi sambil menggebrak meja pelan. Grace membalikkan tubuhnya dengan tenang menghadap Majelis Hakim. "Izin menanggapi, Yang Mulia. Unsur 'alasan mendesak' atau tuduhan pidana yang dilemparkan Tergugat kepada klien kami adalah basis utama mereka untuk tidak membayarkan hak-hak ketenagakerjaan klien kami. Kami wajib menguraikan alasan ini dalam Posita gugatan untuk membuktikan bahwa pemutusan hubungan kerja ini didasari oleh iktikad buruk dan kesewenang-wenangan. Bagaimana mungkin kami menuntut hak pesangon tanpa membongkar kepalsuan alasan pemecatannya?" Hakim Ketua mengangguk-angguk kecil, memandang Efendi dengan sorot mata memperingatkan. "Keberatan Tergugat ditolak. Argumen Penggugat masih dalam konteks menyusun latar belakang pemecatan. Kuasa Hukum Penggugat, silakan lanjutkan sampai petitum." Grace menyelesaikan pembacaan gugatan dengan lugas, merinci tuntutan materiil berupa pesangon, penghargaan masa kerja, ganti rugi imateriil atas rusaknya nama baik. Begitu Grace duduk kembali di kursinya, Hakim Ketua menatap ke arah meja Tergugat. "Kuasa Hukum Tergugat, apakah Saudara akan langsung memberikan Jawaban atas gugatan Penggugat hari ini?" Efendi berdiri, merapikan jasnya dengan gugup yang berusaha disembunyikan. "Mengingat adanya penajaman argumen dari Kuasa Hukum Penggugat yang baru, kami memohon waktu dua minggu, Yang Mulia, untuk menyusun replik dan jawaban tertulis kami secara komprehensif." Grace langsung mengacungkan tangan tanpa berdiri. "Keberatan atas waktu dua minggu, Yang Mulia. Klien kami sudah satu tahun terkatung-katung tanpa penghasilan dan memikul beban sosial akibat fitnah ini. Kami memohon asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan. Kami usulkan waktu satu minggu saja bagi Tergugat." Ketua Majelis Hakim mengetuk palunya dua kali setelah berdiskusi singkat. "Majelis hakim menilai satu minggu sudah cukup bagi tim hukum Tergugat yang berpengalaman untuk menyusun jawaban. Dengan demikian, sidang hari pertama ini dinyatakan selesai dan ditunda." Hakim Ketua menatap kedua belah pihak dengan tegas. "Sidang akan dilanjutkan satu minggu dari sekarang, pada tanggal 9 Oktober, dengan agenda penyampaian Jawaban dari Tergugat secara tertulis. Sidang hari ini ditutup," Tok! Palu sidang diketuk untuk terakhir kalinya, menandai berakhirnya babak pembuka yang menegangkan itu. Di kursi saksi belakang meja Tergugat, Pak Gunawan merasakan keringat dingin mulai membasahi bagian dalam kemeja sutranya. Ia melirik kertas catatan di depan Efendi, berharap pengacaranya punya senjata instan untuk membungkam Grace. Namun, ia melihat tangan Efendi sendiri mulai sibuk mencoret-coret kertas dengan cepat, dahinya berkerut dalam. Pak Gunawan tahu, dan Grace juga tahu, bahwa hari pertama persidangan ini barulah sebuah ketukan pembuka. Namun, melihat kepanikan yang menjalar di wajah atasannya yang dulu begitu berkuasa, Kevin Anggara berharap bahwa di bawah perlindungan hukum yang tepat, raksasa sekalipun bisa berlutut. --- Pintu ganda Ruang Sidang tertutup dengan suara yang keras di belakang Kevin. Koridor Pengadilan siang itu tampak ramai dan bising. Suara langkah kaki berkejaran dengan gema obrolan para pencari keadilan. Namun bagi Kevin, udara di koridor itu terasa jauh lebih lega daripada atmosfer ruang sidang yang baru saja ditinggalkannya. "Gimana hari ini Pak Kevin?" Tanya Grace tersenyum sambil berjalan di sampingnya. Ia sibuk memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kulitnya tanpa memperlambat langkah. "Terima kasih, Mbak Grace. Saya bahkan tidak tahu harus.." "Kevin!" Sebuah suara berat dan penuh penekanan memotong kalimat Kevin, menghentikan langkah mereka. Dari arah belakang, Pak Gunawan berjalan angkuh, meninggalkan tim pengacaranya yang masih berkumpul di depan pintu sidang, menuju ke arah Kevin. Wajah Direktur Keuangan itu tidak lagi seputih saat di dalam ruangan tadi. Guratan amarah dan ego yang terluka tercetak jelas di dahinya yang berkerut. Pak Gunawan berhenti tepat dua langkah di depan Kevin. Ia mengabaikan keberadaan Grace, matanya yang tajam menatap mantan stafnya itu. "Kamu pikir dengan membawa Grace sebagai pengacara, kamu bisa menang?" Pak Gunawan mendesis rendah, volume suaranya dijaga agar tidak menarik perhatian satpam yang berjaga di ujung koridor. "Kamu itu cuma pion kecil. Kamu lupa siapa yang membesarkan namamu di Pratama Group?" Kevin merasakan otot-otot rahangnya mengencang. Kilasan memori satu tahun lalu, saat ia diusir dari kantor seperti pencuri kembali berputar di kepalanya. Namun, ia tidak mundur selangkah pun. "Saya menghormati Anda sebagai atasan selama tujuh tahun, Pak," jawab Kevin, suaranya terdengar datar dan santai. "Tapi rasa hormat saya hilang saat Bapak menaruh angka dua belas miliar itu di atas pundak saya." Pak Gunawan terkekeh sinis, melangkah maju satu langkah lagi untuk memperkecil jarak intimidasinya. "Dengar baik-baik Kev. Pratama Group itu gurita. Kami punya jaringan, kami punya kuasa, dan kami punya dana untuk memperpanjang kasus ini sampai kamu kehabisan uang dan warasmu hilang. Begitu putusan PHI ini keluar, apa pun hasilnya, laporan pidana kami di Bareskrim sudah menunggu. Kamu mau mendekam di penjara di usia tiga puluh puluhan?" Sebelum Kevin sempat membalas, Grace Jasmine menggeser posisi berdiri, menempatkan tubuhnya sebagai tameng di antara Pak Gunawan dan Kevin. Senyum profesional Grace terpasang, namun matanya sedingin es. "Bapak Gunawan," potong Grace, dengan nada yang sengaja ia tekan berusaha tenang. "Sebagai sesama orang yang paham hukum, saya ingatkan Anda bahwa tindakan Anda saat ini bisa dikategorikan sebagai intimidasi di lingkungan pengadilan. Jika Anda melanjutkan kalimat ancaman Anda, saya tidak akan segan meminta rekaman CCTV koridor ini kepada panitera untuk dijadikan bukti laporan tambahan atas tindakan menghalangi proses peradilan." Pak Gunawan mengalihkan tatapan berangnya kepada Grace. "Jangan ikut campur, Grace. Ini urusan internal perusahaan saya dengan mantan staf yang tidak tahu diri." "Dia klien saya. Dan sejak kami menandatangani surat kuasa, urusannya adalah urusan saya," balas Grace tanpa berkedip. "Jika perusahaan Bapak sekaya dan seberkuasa itu, mengapa Bapak terlihat khawatir di dalam ruang tadi? Simpan energi Bapak untuk sidang pembuktian minggu depan." Efendi, pengacara Pak Gunawan, datang memecah ketegangan. Ia langsung menarik lengan kliennya menjauh. "Pak Gunawan, cukup. Mobil sudah siap di depan. Mari." Pak Gunawan menunjuk Kevin dengan jari telunjuknya, memberikan satu tatapan tajam terakhir yang sarat akan janji balas dendam, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor. Kevin mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan. Tangannya sedikit bergetar, tapi bukan karena takut, melainkan karena dari konfrontasi barusan. Grace menepuk pundak Kevin dengan lembut. "Jangan biarkan dia masuk ke kepala Pak kevin. Itu cuma ancamannya kosong, karena dia tidak punya jalan keluar lagi selain menggertak." "Makasih Mbak Grace." Ucap kevin menatap dalam mata Grace saat merasakan tepukan lembut di pundaknya. Grace buru-buru mengalihkan pandangannya dengan kaku saat mata mereka bertemu. Situasi yang membuatnya salah tingkah membuat Grace kali ini berjalan lebih cepat di depan Kevin, meninggalkan Pengadilan. ----------------------------------------------------- Catatan kaki: Posita (atau disebut juga fundamentum petendi) adalah bagian dari surat gugatan hukum yang berisi uraian tentang fakta-fakta kejadian (duduk perkara) serta dasar hukum yang mendasari suatu tuntutan.

Graces's Cases

CHAPTER 5

Di publikasikan 02 Oct 2026 oleh _didiable

Kevin Anggara tiba pukul 13.30 di kantor Grace. Ia duduk di sofa tamu panjang. Saat itu hanya ada Mira dan Bowo.  "Silahkan kopinya Pak, Mbak Gracenya belum ada. Tapi saya sudah kabari ke Mbak Grace kalo Pak Kevin sudah datang." Ucap Mira sebari meletakkan secangir kopi hangat buatan Bowo. "Makasih. Iya enggak apa-apa, ini saya yang kecepetan kok datangnya. Tolong sampaikan saja gak perlu buru-buru. Kita memang janjiannya jam dua kok." Kata kevin dengan suaranya yang tenang. Mira mengangguk dan kembali ke mejanya. Ia mengagumi Kevin dari jauh, terpesona dengan ketampanan dan pembawaannya yang tenang dan santai. Pukul dua lewat sepuluh Grace datang. Kevin terdiam saat melihat Grace masuk ke ruangan. Entah mengapa, pandangannya berhenti sedikit lebih lama dari seharusnya. Wajahnya cantik tapi bukan cantik yang berlebihan, melainkan jenis kecantikan yang justru membuat orang ingin melihatnya berkali-kali. Garis wajahnya lembut. Tatapan matanya tenang, seperti sulit ditebak. Hidungnya proporsional, ada lengkung tipis dibibirnya yang membuat ekspresinya terlihat anggun bahkan ketika sedang diam. "Pak Kevin. Sudah lama nunggu?" Suara lembut Grace menyadarkan Kevin. "Enggak Kok Mbak, saya memang sengaja menunggu di sini supaya tidak telat." Kevin berusaha menyembunyikan rasa ketertarikan yang baru saja ia rasakan. Grace duduk di depan Kevin. Ia mengatur nafasnya sebentar dan mulai berbicara. “Jadi Pak Kevin. Sebelum saya memulai kasus ini, ada satu hal yang harus Pak Kevin tahu,” kata Grace tenang. Ia akhirnya memutuskan untuk memberitahu Kevin tentang apa yang ia khawatirkan. Kevin menunggu. “Perusahaan ini, Pratama Group, dulu pernah menjadi klien saya, di kantor sebelumnya. Dan saya juga keluar dari sana, karena tidak ingin mengerjakan kasus ini.” sambung Grace. Alis Kevin sedikit terangkat karena terkejut. Kevin menatapnya lebih dalam, karena sebenarnya ia sudah tau. Ia pernah melihat nama Grace Jasmine bersandingan dengan Arman Atmaja Law Firm di Partner Database Pratam Group. Hanya saja Kevin terkejut karena ia tidak menyangka bahwa Grace akan menceritakannya lebih awal. Kevin mengangguk seolah-olah paham dan tidak menjadikannya sebuah masalah. “It's Ok. Apa, kamu tahu sesuatu?”  Grace mengangguk dan cukup terkejut dengan respon singkat dan santai yang ia terima. Ia tidak ingin menceritakan lebih lanjut kejadian malam ia resign,  dan langsung mengalihkan pada temuannya di kasus ini. “Cukup untuk tahu bahwa ini tidak sesederhana yang terlihat.” Grace menuju meja kerjanya mengambil dokumen yang telah ia susun rapi tentang kasus ini. Mata Kevin megikuti kemana Grace pergi, matanya seakan tidak bisa berpaling untuk memperhatikan hal lain. Mata mereka sempat bertemu sebentar, tapi Grace langsung mengalihkan pandangannya dengan canggung.  Grace kembali duduk di depan Kevin, meletakkan dokumen yang sudah ia print dan susun dari dari flahsdics Kevin kemarin. Ia membuka beberapa halaman, menunjukan pada Kevin bagian-bagian penting yang telah ia tandai, setiap angka, setiap tanggal, dan setiap aliran dana. “Semua transaksi ini mengarah ke Pak Kevin. Tanpa kemungkinan lain.” Kevin mengangguk pelan. “Itu yang mereka pakai untuk menuduh saya.” "Menurut Pak Kevin, kenapa mereka begitu terburu-buru memecat Pak Kevin sebelum melaporkannya ke polisi?" tanya Grace, nadanya tenang namun menyelidik yang sudah tahu jawabannya. "Karena jika saya tetap di sana saat auditor eksternal datang, saya akan menunjukkan di mana mereka menyembunyikan selisihnya," jawab Kevin, ada riak ketegasan yang mendadak muncul di suaranya. "Mereka perlu menyingkirkan saya terlebih dahulu agar mereka bisa mengunci akses saya ke server utama." Grace mengangguk membenarkan. Matanya terpaku pada sebaris kode transaksi yang berulang di setiap hari Selasa pada laporan keuangan bulan Maret hingga Agustus. Kode itu adalah VND-990-X-OP. Sebuah sub-kode yang sangat spesifik, yang biasanya digunakan untuk pengeluaran darurat atau Over-Payment yang melewati jalur pengawasan reguler. "Lihat ini," Grace mengetuk jarinya di atas baris angka satu miliar rupiah yang tercetak tebal. "Di sini tertulis akun Pak Kevin yang menginput data pada pukul 13.00. Tapi lihat timestamp otorisasi di kolom sebelahnya. Transaksi ini baru benar-benar lepas dari bank pada pukul 13.08, tepat setelah sistem mencatat akun Pak Kevin keluar secara otomatis karena idle atau tidak ada aktivitas." Kevin menyipitkan mata, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya tidak pernah memperhatikan jeda waktu itu. Waktu itu, akses saya langsung diputus begitu saya menerima surat pemecatan." "Di sinilah mereka ceroboh," Grace tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menandakan dia telah menemukan ujung benang kusut ini. "Mereka menduplikasi cara Pak Kevin menginput data saat Pak Kevin sedang tidak berada di meja. Tapi untuk melepaskan dana satu miliar, sistem perbankan korporat Pratama Group membutuhkan token fisik enkripsi tingkat kedua. Siapa yang memegang token untuk kode 'OP' ini, Pak?" Kevin tertegun. Nama itu tertahan di tenggorokannya sebelum akhirnya terucap pelan, "Pak Gunawan. Direktur Keuangan." Grace merapihkan kertas-kertas di atas meja, seperti pelajar yang baru saja selesai mengerjakan tugas. Ia menatap Kevin dengan yakin. "Mereka mengira Pak Kevin akan menyerah karena takut dipenjara dan tidak punya cukup nyali untuk membaca ulang jejak digital bank dari dua arah." Kevin membalas tatapan Grace. "Ini sudah lebih dari cukup. Kita tidak hanya akan menghadapi tuduhan mereka, kita bisa balik menyerang. Grace menatap mata Kevin dengan sorot mata yang bersemangat "Kita buat perusahaan itu menyesal karena telah memilih Pak Kevin sebagai korban." Kevin merasakan secercah harapan dari perkataan Grace. Ia mengangguk pelan dan hampir tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Grace. Kagum karena kepintarannya, pribadinya, dan juga.. ke cantikannya.

Graces's Cases

Bab 20 Stuckenborstel

Di publikasikan 01 Oct 2026 oleh Bengkoang

“Mereka masih di belakang?” “Di depan ada terowongan, Bos. Kita bisa pakai itu buat ngecoh sama—” Segera kuinjak pedal gas dengar saran Wiji, memburu terowongan yang hendak si Jago pakai ‘tuk mengecoh orang-orang Wali Kota Mungli. Bruuum …. *** Tadi sore. “Mi ….” Sesaat sebelum melepas skuad Plester ke misi balas dendam mereka. “Bisa kita ngomong bentar?” Ketika Niki mengajakku ‘tuk bicara empat mata di ujung koridor …. “Soal obrolan kemarin,” sambungnya, tatkala dirasa sudah tak ada orang sekitar kami. “Aku dah pikirin semua mateng-mateng. Kamu bener. Balas dendam emang gak bagus.” Kalian tahu, aku rada berharap sebetulnya, sebulan ini dadaku kembang kempis tiap kali lihat gadis di depanku berlatih. Meski sekilas, kejadian bulan lalu masih suka terbayang-bayang terus gak jarang kebawa mimpi. Kalau saja obrolan sekarang soal kelanjutan hari itu, akh! “Cuma ….” Niki memegang sikut, wajahnya agak tertunduk menghindariku. “Mi, aku tetep gak bisa maafin mereka. Semua yang udah mereka lakuin—gak ke Plester doang!” Mata yang berkaca waktu meneriakkan jerit pelan barusan terasa begitu menusuk. Hatiku seolah ikut tercabik lihat dirinya terisak dengan bahu gemetar begini. Dadaku mendadak sesak. Macam ada bara yang baru saja terpantik di dalam sana. Dan aku tidak tahu kenapa …. “Aku tahu sikap begini salah,” gumam gadis di depanku, ia kembali tertunduk dan menghindari kontak mata langsung. “Se-semoga kamu gak kecewa, Mi. Aku udah berusaha ….” Si kapten skuad kini tersenyum, senyum pahit yang kulihat terakhir kali. “Ah, ya! So—” Wajah Niki sempat terangkat, dan di saat itulah diriku tidak bisa lagi menahan diri. Jika bulan lalu gadis ini mendobrak pertahananku, sekarang gantian. Kini giliranku yang tutup mata melumat bibir lembutnya tanpa aba-aba …. “Niki,” panggilku sesudah adegan singkat tadi putus, “aku gak bisa berhenti mikirin kamu. Kalau kita berdua masih hidup setelah operasi malam ini ….” Kuakui diriku tidak berpikir pas menyatakan perasaan terus janji ‘tuk menikahinya. Namun, nasi kadung jadi bubur, kurasa aku tetap harus bertanggung jawab dan berjuang sekuat tenaga sampai acara kejar-kejaran ini tuntas. Ya, ‘kan? “Bos, terowongan di jalur dua abis tikungan depan ….” *** Agendaku dan semua orang sebenarnya mudah. Malam ini aku dan Wiji akan mengantar dua koper barang bukti di bagasi belakang si Jago ke pihak berwenang sementara Niki dkk. menyerbu Stuckenborstel sebagai pengalihan. Ah! Dua skuad gadis itu sekarang harusnya sudah mulai bikin gaduh, segaduh-gaduhnya. Pembuka sekaligus tanda buat personel Plester Co. yang menunggu ‘tuk bergerak. Langkah berikutnya diriku mampir ke salah satu pangkalan terus ganti mobil lalu meluncur ke titik pertemuan di luar kota. Bung Lame, sehabis itu akan bergabung di tengah operasi serta lanjut mengawal bersama rekan-rekannya menuju kediaman Wali Kota yang merupakan target sekaligus tersangka utama mereka. Di akhir. Jika skenario sekarang sesuai rencana maka kami juga akan mendapati si gendut di salah satu rumah simpanannya lengkap dengan skandal mereka yang masih hangat tengah malam nanti …. “Bos, mereka dah lewat.” Sekali lagi, bila rencana tadi berhasil. Sayangnya tidak pernah ada rencana sempurna. Aku dan Wiji dipaksa sembunyi di terowongan buat membongkar ‘umpan’ sebelum lanjut menyusul ke Stuckenborstel. “Kita gak punya pilihan.” “Masih sisa lima belas menit sebelum mereka puter balik, Bos.” “Buka bagasi si Jago ….” Isi dua koper ini harus kupindahkan sebelum orang-orang Wali Kota sadar dan kembali ke terowongan …. *** Malam berjalan cepat. Keesokan paginya Niki dkk. sudah menunggu dekat gapura Stuckenborstel. Dari jauh kulihat anggota-anggota skuadnya tampak masih mengantuk. Sedang si kapten, ia memaksakan diri ‘tuk memapak begitu sedan hitamku tiba dan mendekap diriku segera. “Niki—” Dekapannya terasa erat di pagi yang dingin itu. “Kamu gak bakal percaya skuad ngapain aja tadi malam,” tutur si gadis, senyum manis sambil melepas pelukan dari tubuhku. “Aku sama temen-temen—” “Bos, gak ada peluru yang kepake!” Kutatap wajahnya pas dengar teriakan si kepala bagian personalia, Niki merapatkan bibir, dan dia mengangguk setuju merespons isi kepalaku. Skuadnya tidak jadi menumpahkan darah di operasi semalam. Tanpa kata, segera kuraih tangan si kapten skuad lalu kutuntun dirinya ‘tuk kembali ke skuad bersama. Perasaanku campur aduk, jujur saja. Aku tidak tahu bagaimana harus kuuntai bahasa di kepala saat tangan kami saling menggenggam dengan jemari yang silih sulam, tapi yang jelas ia yang kini berjalan bersamaku sekali lagi membuat dada ini berdebar-debar girang. “Kerja bagus, Semua!” salutku semringah tatkala menemui skuad, “enggak ada korban di operasi tadi malam, dan kita kumpul lagi di sini dengan hati lapang—” “Personel juga utuh!” teriak salah seorang. Kuulang, “Personel utuh juga.” Aku kemudian tertawa bersama semua orang. “Gak ada dendam,” lanjutku menyambung topik, “gak ada utang. Terus ….” Kutoleh gadis di sebelah lantas kuangkat tangan kami berdua bangga. “Kita kembali ke rumaaah!” “Yaaa ….” Tentu barusan hanyalah kias. Rumah yang kumaksud bukan bangunan fisik dengan segala perabot pengisinya. Melainkan kelompok yang ‘lah banyak makan asam garam hingga suka duka bersama serta kini menjelma jadi elite hasil gemblengan selama setengah tahun terakhir. Skuad Plester. “Jadi ….” Saat retorika tadi usai, Niki mengayun-ayun genggaman tangan kami ringan, menemaniku berjalan melihat suasana pagi sebentar. “Sekarang kita—” “Kapan kamu mau kita nikah?” selaku yang langsung pindah terus jalan mundur di depannya, ingin lihat wajah si gadis yang tengah tersipu. “Kita berdua masih hidup, loh, ini.” Kapten skuad yang biasanya garang itu tiba-tiba saja menjadi kelihatan pemalu. “Kok, kamu tanya aku?” “Ya ….” Aku kembali ke sampingnya. “Siapa tahu, kamu lebih berpengalaman—adaw!” “Sembarangan!” sergahnya usai mencubit pinggangku pelan, “di mana-mana yang inisiatif itu cowok.” Kami berhenti di tepi jalan, lihat mentari terbit di kejauhan, lalu menghalau sedikit kilau sembari menikmati indah cahayanya bersama. “Aku seneng kamu gak lepasin pegangan tangan kita tadi,” akuku, sebaris kejujuran di ruang privat. “Mereka gak tahu kalau kita berdua—” “Ya!” sahut suara dari belakang, “kalau kemarin saya sama Stevan gak ngintip di ujung koridor, kita gak bakal tahu si Bos sama Niki ternyata udah pacaran.” Wiji, yang entah sejak kapan menyusul kami berdua. “Oh, ayolaaah …,” keluhku sembari menjulingi si kepala bagian personalia, “kamu gak lihat kita lagi … awas aja kalau sampai gak penting. Berkas apa ini?” Kuambil dokumen yang ia pakai buat menangkis keluhanku. “Si bos itu rada tukang gombal.” “Wiji,” delikku sebelum lantas geleng membuka berkas dari sang manajer tersebut, “tolong jangan rusak citra saya depan calon bu bos kamu, ya?” “Mumpung belum jadi, ‘kan?” balas Wiji, tidak kuperhatikan lagi bagaimana gestur dengan mimik pas mereka berdua mulai bergosip. “Siapa tahu Bu Bos mau pikir-pikir dulu biar nanti enggak kaget punya suami banyak mau sama rada lupaan ….” Selanjutnya aku ingin fokus pada laporan di tangan. Setengah personel Skuad Plester bakal si kepala bagian personalia bawa ‘tuk menjaga markas di Stuckenborstel sementara sisanya kembali bersama diriku—termasuk Niki, tentu saja. Dan sabotase pengiriman barang hingga penggerebekan Wali Kota Mungli masih akan berlanjut. Jadi setelah ini aku harus meluncur ke titik pertemuan dan menemui Bung Lame …. ***

Plester Co.

Bab 19 Dendam dan Pembalasan

Di publikasikan 01 Oct 2026 oleh Bengkoang

“Bos.” Enam bulan latihan elite Plester sekarang akan diuji. Delapan mobil jip terbuka tambah enam belas sepeda motor berbaris menunggui tiga lusin personel di bawah komando Niki bersama tiga rekannya siap ‘tuk menggempur ‘musuh’ lama mereka. Geng Lomen. Kelompok tunawisma Stuckenborstel, alasan si ketua geng keluyuran sampai ke Veres lima tahun terakhir. Kelompok yang juga pernah memburuku gegara minyak cendana di bagian pembuka cerita …. “Sisi sama Stevan sudah kontak semua kantor cabang,” sambung Wiji, melaporkan situasi Plester Co. “Besok gerbang-gerbang markas kita bakal ditutup total. Selain di Mungli, shelter lain statusnya jadi akses terbatas.” “Kalian dengar sendiri, ‘kan?” kataku menyambung laporan si kepala bagian personalia, “habis operasi malam ini markas Plester bakal di-privat. Saya, Wiji, Niki, kalian semua. Skuad Elite Plester. Bukan aset siapa-siapa.” Enam puluh empat personel di depanku pasang wajah datar, hasil gemblengan selama setengah tahun. “Sebelum berangkat saya mau bilang sekali lagi. Kalian sekarang sudah punya rumah, pekerjaan ….” Kulirik senapan di tangan mereka sebelum lanjut bicara. “Juga kekuatan untuk merebut kembali hak-hak yang pernah dirampas. Benar?” “Ya!” “Sekarang kalian bukan lagi gelandangan yang biasa dipandang remeh, dilihat sebelah mata, atau dilirik sinis dan dianggap pengganggu. Bukan! Kalian bukan gelandangan, kalian Skuad Plesteeer!” “Yaaa!” “Karena itu pergi!” Kutunjuk pintu keluar di belakang barisan lalu mengepalkan tangan depan dada. “Pergi! Pergi tuntaskan apa yang kalian cita-citakan, rebut kembali apa yang mau kalian rebut malam ini, dan tunjukkan bahwa kalian—Skuad Plester, sekarang bukan Geng Plester lama yang dulu cuma bisa lariii …!” Niki dkk. serentak mengepalkan tangan depan dada meresponsku. Detik berikutnya. Mereka berhamburan naik ke kendaraan masing-masing, menyalakan mesin, lalu meluncur hendak melunasi apa yang pernah kujanjikan. Membalas mereka-mereka yang ingin dibalas …. *** Satu bulan sebelumnya. “Tadi itu elite yang kamu bilang, Niki?” Ketika dua skuad terbaik Geng Plester sedang menjalani pelatihan terakhir mereka. “Kenapa, kamu ada masalah sama orang-orang pilihan aku, Mi, hah?” “Bukan, bukan hal serius. Heran aja,” akuku yang lantas mengambil dokumen administrasi mereka dari balik mantel lalu mengasongkannya, “di sini kalian hampir setengahnya ditulis bekas tunawisma Stuckeborstel, gak salah?” “Enggaklah!” balas si ketua geng spontan, “salahnya di mana?” “Maksud aku, sasaran balas dendam kalin bukan Geng Codet Veres?” “Bukan!” timpal Niki, jalan ke bangku pinggir lapang terus duduk menungguku. “Kalau mau balas dendam, sasarannya, ya …, bener Geng Lomen.” Mataku mendelik begitu sampai ke pinggir bangku tempat ia duduk, dugaanku tidak cocok dengan jawaban si gadis hari itu. Kukira mereka mau balas dendam kepada orang-orang Veres gegara terpaksa keluar dari liang-liang drainase bawah kota …. “Aku enggak bisa lupa cara kita diusir dari Stuckenborstel lima tahun lalu, Mi,” akunya lantas pasang muka senyum, menyembunyikan pahit yang kutahu benar bersemayam di hati kecilnya. “Jadi daripada Geng Codet, anjing-anjing sialan itu lebih pengen kubasmi biar musnah dari muka bumi. Hehe.” Aku diam sejenak sebelum lanjut menanggapi Niki. “Kamu tahu …,” kataku kemudian, hendak melanjutkan topik dengan peringatan. “Cuma ngebasmi sebagian anggota Geng Lomen gak nyelesein masalah, cabang bahkan mungkin anak-anak geng lain bakal dateng buat isi tempat sama ambil alih usaha-usaha lama mereka. Secara teknis dendam kalian kebayar, tapi penyakit terus kebusukannya masih berlanjut.” Niki menatapku. “Bukan maksud aku mau ngehalang-halangin balas dendam kalian,” tegasku sebelum balas menatap si ketua geng, “tapi coba cari cara yang juga bikin penyakit sama kebusukan mereka bisa berhenti sekali—” Ocehanku terputus. Lembutnya sentuhan dari bibir gadis itu menahan mataku ‘tuk tetap terbelalak menatap wajahnya yang sangat dekat. Terlalu dekat. Aku sampai lupa semua yang baru kukatakan …. “Makasih …,” gumam Niki sambil menghindari mata kami bertemu, sikap yang juga sontak membuat diriku mengalihkan pandangan ke lapang kosong di depan sana. “I-itu pengalaman pertama.” “Oh.” Aku tidak tahu harus merespons bagaimana. “Ha—” “Soal balas dendam,” lanjutnya, terdengar berusaha tenang. “Kupikir kalian para cowok sama aja …, kasar …, egois, terus maunya menang sendiri.” Aku kembali menghadap Niki, reaksi spontan atas gerakan tubuh si gadis. “Cuma ….” Ia menyentuh daun telinga dan lanjut tersipu. “Kuharap kamu be—” Segera diriku mundur waktu dirinya hendak mendekat, dan langsung putar badan. “N-Niki. A-aku baru inget hari ini ada janji sama Wali Kota. Ki-kita bahas balas dendam besok lagi ….” Selain kabur sambil geleng dari lapang latihan elite Plester, bulan lalu itu aku gagal meyakinkan kapten skuad mereka ‘tuk mengurungkan niat balas dendam. Benar, tadinya pikirku ingin langsung mengirim milisi-milisi terlatih ini ke markas cabang dan menjadikan mereka ujung tombak Plester Co. bersama para pegawai. Namun, semua bukan terserah apa mauku. Buktinya sekarang Niki dkk. masih juga kulepas menuju gelanggang pertempuran …. *** “Pidato yang bagus.” Mataku langsung menjuling ke arah kiri, memapak pria gendut yang datang bersama asistennya. “Pantas keluarga dua puluh ribu karyawan perusahaan Anda tak pernah saya dengar mengeluh meski ayah dan suami-suami mereka tidak pernah pulang setelah ekspedisi-ekspedisi gagal selama ini …,” ujar sang wali kota, berhenti tepat sebelah diriku dan Wiji lalu melihat pintu keluar. “Keahlian retorika semacam tadi bukan hasil latihan satu atau dua hari, bukan?” “Tolong langsung katakan saja apa yang sebenarnya mau Bapak katakan, Pak Wali Kota.” “Saya harap operasi besok akan lebih baik daripada ekspedisi kita sebelum-sebelumnya,” ujar si gendut, cekak pinggang menghadapku. “Tuan Mi, semua barang saya atur sesuai recana kita. Jika pengiriman kali i—” “Saya sendiri yang akan mengirim barang Anda, Pak Wali Kota,” timpalku lantas menoleh Wiji, isyarat pada si kepala bagian personalia ‘tuk menyerahkan berkas yang sudah kami siapkan. “Tolong tandatangani berkas acara pengiriman ini dan saya akan langsung berangkat menyusul dua skuad tadi ….” Wali Kota Mungli tidak banyak bicara setelah itu. Beliau memeriksa dokumen tadi sebentar, menandatangi, lalu menyuruh asisten sebelahnya menyerahkan dua koper besar yang harus kuantar paling lambat besok kemudian undur diri. Tidak ada basa-basi atau senyum palsu. Kami lekas berpisah begitu urusan di gedung fasilitas pelatihan unit rahasia tersebut rampung. Aku bersama manajerku membawa si Jago menyusul Niki dkk. sementara si empunya kota berlalu diikuti oleh sang ‘asisten’ pribadi kembali ke ruangan tempat mereka menunggu sesaat lalu …. “Bandot tua,” umpat Wiji begitu sedan hitamku melewati portal keluar area fasilitas rahasia di belakang sana, luapan batin yang sepertinya sudah tertahan selama hampir setengah tahun—kurasa. “Dia gak tahu malam ini bakal jadi momen terakhir mereka.” “Masih ada satu malam,” balasku sambil senyum dan melirik spion sekilas, “kita juga punya satu malam buat lolos dari mobil-mobil di belakang sama ngejinakin dua bom di bagasi ….” ***

Plester Co.

Bab 18 Unit Khusus dan Evolusi Plester

Di publikasikan 01 Oct 2026 oleh Bengkoang

“Anda sepertinya sangat memperhatikan mereka, Tuan Mi.” Aku, Wiji, dan Sisi. Kami bertiga kompak menoleh lalu bebalik dengar suara orang dari belakang. Wali Kota Mungli bersama sang asisten, juga Stevan yang mengekor setelah keduanya. “Tentu,” ujarku lantas senyum, kupapak si empunya kota kemudian duduk menemaninya di sofa. Sedang para manajer Plester Co. dan si asisten, mereka lanjut mengamati latihan Niki dkk. di bawah sana. Kembali, aku dengan orang nomor satu se-Kota Mungli itu rencananya hari ini mau membahas jadwal sama rute ekspedisi ‘pengantaran’ kami berikutnya. “Mereka-mereka itu bakal personel operasi kita, ‘kan, Pak Wali Kota. Tentu saja harus sangat saya perhatikan.” “Anda mengatakan ini bukan kare—ah, sudahlah! Langsung pada alasan kenapa saya repot-repot tetap kemari, sudah sampai mana persiapan operasi kita?” tanyanya, mengganti basa-basi dengan topik utama. “Semoga saja strategi baru Anda benar-benar bekerja, sebab jika tidak saya mungkin harus berinvestasi di tempat lain.” Bukan cuma yang baru, strategi-strategi lamaku juga selalu behasil. Setahun terakhir Lame dan organisasinya sukses membekuk delapan puluh tujuh dengan setengah persen dari total antek-antek si gendut di luar negeri kalau perlu kubilang. Tidakkah itu luar biasa? “Pak Wali Kota, Bapak tahu metodologi perusahaan kami. Plester Co. sekarang punya seratus delapan puluh cabang dengan lebih dari tujuh ratus pangkalan di dalam dan luar negeri. Ditambah mereka yang sedang kita latih di bawah sana, apa barusan Anda pikir saya sedang main-mainkah?” “Bukan saya meragukan keseriusan Anda pada usaha kita …,” kilahnya lalu mencondongkan badan, “tolong jangan salah paham, Tuan Mi. Namun, saya pun tetap harus memastikan bahwa uang anggaran perusahaan-perusahaan beserta dana investor saya tidak menggelembung percuma di bisnis ini, bukan?” Aku senyum dengar jawaban barusan. “Saya paham, Pak Wali Kota.” “Terima kasih kalau begi—” “Ah, ya, Pak!” Jawabanku belum selesai. “Saya mungkin akan merepotkan Bapak lagi.” “Tuan Mi.” Si gendut merapikan duduk. “Anda sudah merepotkan saya dengan membawa ratusan tunawisma kemari, kenapa masih pura-pura sungkan?” Justru gegara itu, biar gak disangka aji mumpung sama dikasih hati minta jantung aku kudu pura-pura sungkan. “Ahaha, si Bapak bisa saja … Pak Wali Kota, para tunawisma ini nanti akan langsung disebar ke kantor-kantor cabang Plester Co. begitu pelatihan di sini selesai. Cuma, Pak, macam yang Bapak tahu … masalah sama geng-geng lain masih—” “Anda mau pinjam orang-orang saya juga?” “Bukaaan …, bukan mau pinjam orang-orang Bapak, tapi cuma senjata apinya saja.” *** Tiga bulan lalu …. “… terus ngebiarin ribuan karyawanku jadi gelandangan tanpa rumah kayak kalian, hah?” Ketika Niki berhasil kuyakinkan. “Apa kamu bilang?!” “Iya!” Kutunjuk muka si ketua geng macam cara ia menunjukku sebelum ini. “Siapa yang mau hidup luntang-lantung di jalanan, makan dari tong sampah sama sisa-sisa orang, enggak bisa bilang apa-apa pas diusir padahal cuma numpang tidur doang. Siapa …, siapa yang tega lihat orang tua makan nasi yang—yang dah kotor terus, terus dia suap sendiri pake tangan gemetaran, yang kadang nasinya juga jatuh-jatuh lagi?!” Kutumpahkan semua kesalku akan pemandangan yang pernah kudapati saat mengikuti mereka. “Niki! Kamu pikir, kamu pikir, kamu pikir kenapa kalian jauh-jauh kudatangin terus kuajak buat kerja?!” *** “Bos?” Aku tersentak, bangun dari lamunan soal Niki dkk. terus balik ke suasana riuh Gedung Pelatihan Unit Khusus dan Rahasia, Kompleks Kantor Wali Kota Mungli. “Seratus enam puluh sembilan kantor kita baru aja kasih laporan balik,” sambung Wiji, alasan kenapa barusan ia memanggil. “Kontrak-kontrak kita resmi ditutup terus semua staf pangkalan dioper ke ladang sama pabrik, pelatihan mereka juga udah pada beres, Bos.” “Truk sama mobil kantor?” “Diganti jip sama motor.” “Bagus.” Aku puas dengar laporan si kepala bagian personalia, Plester Co. sekarang sudah pindah ke koridor yang kumau. “Sisi!” “Ya, Bos?” “Kamu sama Stevan ke bank sekarang, cairin tabungan Plester Co., terus borong sisa barang di list kantor kita kemarin—ah, ya! Jangan lupa balikin juga duit pelanggan yang kadung bayar biaya langganan bulan ini. Besok kita bukan perusahaan jasa kelola limbah rumah tangga sama gorong-gorong bawah kota lagi ….” Hari yang kutunggu semakin dekat. Persiapan sebelum batu-batu mana tiba-tiba lenyap dan Benua Baru beralih ke era tanpa lampu dengan mesin-mesin berbahan bakar batu kutukan juga selesai. Hanya tinggal menghitung tanggal lalu, Bdum! Kehidupan sekali lagi jungkir balik macam telapak tangan yang baru dibalikkan …. *** “Kamu tahu kenapa kita ketemu lagi hari ini ….” Setelah semua hal di atas, agenda sama Wali Kota Mungli terus persiapan Plester Co. di seratus sembilan puluh kantor utama beserta cabang-cabang kami, kini giliran bintang utama jilid sekarang ‘tuk menentukan pilihan antara hilang bersama kericuhan nanti atau bertahan sesuai mauku. Geng Plester. “… Niki?” “Minggu besok seleksi skuad baru buat dikirim ke kantor-kantor cabang sama pangkalan kalian, ‘kan?” tanya gadis rambut pendek berseragam elite seberang mejaku, ruangan yang sama dengan yang kupakai bicara pada Wali Kota Mungli sesaat lalu, kantor pengawas pelatihan lapangan indor di bawah sana. “Kita udah ngelewatin formalitas begini dua bulan, terus aku juga udah lihat kalian beneran kasih anggota-anggota Plester kerjaan.” Aku senang lihat muka cerah gadis itu. “Ngomong-ngomong, Mi ….” Niki selanjutnya beralih ke sofa lantas mengambil mangkuk camilan. “Bukan aku mau ikut campur, tapi kenapa kamu sama Wali Kota Mungli kayak gak akur?” tanyanya, menoleh dari sofa sambil mengulum lolipop. “Kulihat si gendut tadi keknya ngamuk ke kamu sampai nunjuk-nunjuk muka dari bawah. Kalian ada masalah apa?” Cek! Aku mundur dari meja lalu pindah ke sofa menyusulnya. Sedang Wiji, duduk di meja menggantikanku memeriksa berkas laporan Geng Plester bulan ini. “Biasa,” kataku terus senyum, “masalah pelanggan. Hah … aslinya aku manggil kamu bukan cuma buat milih skuad, tapi soal janji ketiga di kesepakatan kita.” Niki sontak terperanjat, ia cabut lolipop dari mulut lalu mendelik. “Maksudnya?” “Selain tempat bernaung sama kerjaan, kemarin aku juga bilang kalau bakal kasih pinjam kalian kekuatan buat balas dendam, ‘kan?” jelasku, merebahkan diri serta coba memejamkan mata di kursi sofa. “Dua yang pertama lunas lewat fasilitas asrama sementara di sini tambah kontrak kerja di dua puluh cabang Plester Co.” “Bacot!” tukas Niki, terdengar tidak sabar. “Gak usah muter-muter, Ege.” “Huh.” Kembali, diriku tersenyum mendengar suara gadis itu. “Besok kamu pilih dua skuad terbaik di Plester, kalian bakal kukasih senapan—pinjam dari si gendut, sih. Cuma biarinlah, yang penting utangku sama kamu tambah anak-anak Plester lunas. Abis seleksi bulan ini, kita bakal misah sama Wali Kota Mungli.” Hening agak lama sebelum sobat lamaku itu lanjut bersuara. “Ke-kenapa cuma dua skuad?” “Aslinya aku minta seratus pucuk buat operasi kalian ….” Kubuka mataku lagi. “Cuma, tiga lusin sisanya mau kukirim pabrik. Gak perlu kujelasin buat apa-apanya juga, ‘kan?” Niki menggeleng dan lepas tangan. Dia lalu menjatuhkan diri ke sandaran sofa. Lenguh yang lantas meletup dari mulut selepas ia mencabut lolipop menyiratkan suatu kepasrahan. Positif. Kurasa dirinya hanya sedang tidak ingin berpikir …. ***

Plester Co.

Bab 17 Memberi dan Mendapat

Di publikasikan 01 Oct 2026 oleh Bengkoang

“Oi, kalian ….” Spontan mataku terbuka, kapalaku kemudian menoleh ke para tunawisma di bawah. Mereka yang di bagian sebelum ini mengeluhkan dinas dengan aparat ketertiban kota serentak terperanjat lalu buru-buru meraih kayu setengah hangus sedapatnya. Hendak dijadikan pegangan, alat ‘tuk mempertahankan diri, seadanya memapak orang-orang yang baru datang. Kelompok yang juga baru kulihat malam ini …. “Mulai jembatan sini sampai blok pertama pinggir kota sana wilayah kami. Geng Codet.” “Dengar gak kalian, Dungu?” “Lihat tiang itu?” Orang-orang yang baru datang tadi merujuk tiang jembatan di bawahku. “Mulai malam ini, siapa pun yang tidur dekat tiang itu kudu bayar ….” Hem. Aku menjuling singkat. Jelas aku keberatan. “Kalau gak mau—” “Kalau gak mau apa?!” selaku, melompat dari besi jembatan tempatku rebahan dan mendarat di tengah-tengah mereka penuh gaya. Mantel jeramiku bahkan sempat berputar-putar bak baling-baling kapal di udara sebelum akhirnya berkibar sebentar begitu kakiku menginjak tanah. Hehe. Gerakan keren, menurutku. Akrobatik. Juga layak disorot lantaran sering muncul di adegan-adegan heroik. Sayangnya, selera orang zaman ini berbeda. “Ke-kenapa cuma bengong—mana jerit sama tepuk tangannya?” Tidak tampak raut kagum yang kumau. Wajah mereka, orang-orang di depan dan belakangku, semua datar. Hem. “Gak seru!” cicitku lantas cekak pinggang dan berlagak, “kalian, di ujung jembatan ada lubang saluran drainase kota, di sana tempat Geng Plester. Jadi gelandangan solo di Veres udah gak asyik, kalau gabung mereka kalian-kalian enggak usah takut sama berandalan macam gini—” “Oi!” bentak tunawisma di depan, menodongkan pemukul yang sudah dikasih paku. “Kamu pikir kamu itu pahlawan, hah? Kesiangan, tahu gak!” Aku tahu, ini kemalaman malah. “Huh.” Aku mendongak. “Pahlawan tuh masih kebagusan kalau cuma buat ngejitak berandalan kek kalian.” “Kurang ajar—seraaang ….” Sementara para tunawisma di belakang langsung kabur, mereka yang berhamburan dari arah depan ketika itu malah membuat perutku geli. Lucu saja. Muka, bahu, sampai ke cara lari. Semua jelas gak sebanding sama para prajurit terlatih yang pernah kupapak di medan perang dan …. ‘Aku kayak lagi merundung …,’ sesal batinku sebelum lanjut menghindari sabetan, tendangan, juga serangan-serangan liar mereka tanpa perlu membalas. “Cek! Segini doang, nih?” *** Setelah peristiwa pembuka di jembatan separuh jadi di atas, kejadian-kejadian serupa kemudian bermunculan di berbagai tempat. Selain karena petugas ketertiban di siang hari, hal ini juga dipicu oleh lonjakan tunawisma dari kota-kota tetangga yang berbondong-bondong mendatangi Veres. Ingat rumor surga hiburan tanpa malam itu ramah tunawisma? Nah, beginilah efeknya kalau kalian tanya. Angka tunawisma dan gelandangan naik, petugas makin gencar melakukan pembersihan, lalu pertikaian antar kelompok berandal yang ‘semakin dan semakin’—dalam tanda petik: brutal. Kondisi ideal buatku dan Wiji ‘tuk memapak Geng Plester kita di tepi kota beberapa minggu kemudian …. “Bos, yakin mereka bakal mau ikut kita?” Aku tersenyum dengar keraguan si kepala bagian personalia. Kalau ingat kegagalanku pas bicara sama Niki serta keras kepalanya salama kami saling mengenal, satu dari dua puluh kemungkinan Geng Plester akan kembali menolak hari ini. Namun, bukankah dua bulan terakhir kami juga bukan hanya duduk diam. Kita lihat saja bagaimana ketua geng satu itu kutundukkan. “Mereka datang …,” kataku lantas memberi tanda, meminta semua personel supaya bersiap di posisi sebelum diriku bicara pada Niki dkk. “Selamat datang di angkutan menuju rumah.” “Apa-apaan i—” “Oi, Mi! Apa-apaan kamu?!” pekik sang ketua geng begitu melihat sosokku dengan kedua tangan terbuka, ia berhenti menggelayut di bahu salah seorang anak buahnya lalu mendekat tergesa-gesa. “Bajingan, apa maksud semua ini, hah?!” “Apa lagi?” balasku kemudian maju satu langkah, “aku mau kalian ikut ke—” “Anj*ng! Kamu pikir kita ini apa, hah? Mau main ba—” “Tiga hal!” potongku menyela si ketua geng sambil teriak, “kukasih kalian tiga hal kalau mau kerja sama aku!” Lalu kudekati dia selangkah. “Tiga hal!” ulangku sekali lagi, “dan kalian gak perlu kabur kayak anjing buduk gini bahkan bisa balik ngebales orang-orang di belakang sana berkali-kali lipat!” Para tunawisma di belakang Niki mulai ribut. “Dengar! Kukasih kalian semua kesempatan. Ambil tawaranku sekarang terus dapat tempat bernaung, kerjaan jelas buat menuhin kebutuhan hidup, terakhir pinjaman kekuatan biar bisa balas dendam sama mereka—asal!” Kusapu mata semua orang di seberangku sekilas, termasuk Niki yang dadanya lagi kembang kempis. “Kalian naik ke truk di belakang aku sekarang ….” Buat sebagian tukang mikir, tiga tawaran barusan itu ‘kebagusan buat jadi nyata’ sama terlalu mendadak sampai mustahil bila sungguhan ada. Namun, kesampingkan status tunawisma mereka, Niki dkk. benar-benar sudah tidak punya pilihan lain jika ingin menolak. Siang hari petugas ketertiban Veres di belakang menjauhkan dari sumber-sumber penghidupan, sedang pada malamnya kelompok lain terbukti lebih siap ‘tuk berebut wilayah dengan tempat-tempat bermalam ketimbang mereka. “Kapten.” Salah seorang anggota geng menghampiri Niki, berhenti sebelah gadis itu, lantas berbisik ke kuping kiri sang ketua. Dan, menerka reaksi kawan lamaku, kukira ia baru saja memperkeruh suasana. “Tolong jangan bebani saudara-saudara kita ….” Detik berikutnya, usai orang itu memberi isyarat kepala dibarengi lambaian tangan, tunawisma-tunawisma di belakang pelan-pelan melewati mereka berdua kemudian lari dan berebut naik ke truk-truk di belakangku. Aku tidak ingin berkomentar, tapi begitulah hidup. Sampai hanya tersisa dua orang saja di depan sana …. “Sekarang apa?” tanyaku, maju selangkah lagi mendekati Niki. “Kamu tahu dari dulu aku enggak pernah suka basa-basi. Rumah, kerjaan, sama kesempatan buat balas dendam. Apa lagi yang lebih bagus daripada itu?” “Mereka bodoh,” timpal si ketua Geng Plester, mendorong anggota sebelahnya pergi menyusul kawan-kawan lain naik ke truk duluan. “Para gelandangan ini gak tahu kalau kamu kerja buat Wali Kota Mungli.” “Apa salahnya?” tanyaku, melipat tangan depan dada. “Toh, hasilnya jelas—” “Jangan pikir aku gak tahu!” sergah Niki, menunjuk mukaku berani. “Kalian, kalian itu sindikat perdagangan obat terlarang sama penyelundup barang-barang ilegal.” “Terus?” “Hah?” Gadis di depanku melongo. “Kamu, kamu serius gak malu ngaku kerja sama bandar macam dia, Mi?” Kini giliran keningku yang mengernyit. “Mi!” panggil si ketua geng sebelum menghunjamiku pakai telunjuk, “kamu, kamu gak malu ngaku jadi kaki tangan pejabat korup macam dia? Beneran kamu juga enggak masalah gabung ke dunia gelap terus hidup dari uang-uang hasil suap sama laba jualan barang-barang haram, hah … aku, aku gak nyangka kamu—” “Kamu gak lihat truk di belakang aku itu apa?!” Seketika, kami berdua spontan terjerembap pada sebuah suasana senyap. Situasi singkat di mana aku dengan Niki cuma saling melihat, hanya sepersekian detik, tapi cukup ‘tuk mereset pikiran kami agar tidak terus berada di tegangan tinggi. “Ma-maksudnya?” Pembuka sebelum diriku lanjut menggeleng serta mengalihkan pandangan meladeni si ketua geng. “Kamu pikir aku mau kerja sama si gendut cerewet terus gak pernah peduli sama orang-orangku itu, hah?” Aku lantas berbalik, dengan hunjaman telunjuk balasan tentu saja. “Kamu pikir aku betah, gitu? Kamu kira selama ini kepalaku gak sakit maksain sabar dengar ocehan si gendut cuma biar orang-orang yang kerja sama aku tetap bisa makan, hah—jawaaab!” “Ya …, ya, kenapa gak berhenti?” “Terus ngebiarin ribuan karyawanku jadi gelandangan tanpa rumah kayak kaliaaan …?!” ***

Plester Co.

Bab 16 Bagai Gunung Es Terapung

Di publikasikan 01 Sep 2026 oleh Bengkoang

Tahun lalu, di Kantor Wali Kota Mungli. “Kita sudah mencoba banyak cara, tapi kenapa tak satu pun dari dua ratus lebih pangkalan Anda yang berhasil membuka jalur pengiriman barang-barang saya?” Ketika dua kupingku harus sabar mendengarkan keluhan sang empunya kota sambil duduk manis di sofa ruang kerjanya tanpa bisa banyak bicara atau membantah …. “Tuan Mi, tolong. Saya berani mendanai Plester Co. karena yakin barang-barang saya akan lebih cepat sampai ke tangan pelanggan lewat kurir-kurir Anda dan bukan malah sebaliknya, setengah barang-barang saya selalu hilang di hampir setiap ekspedisi—itu semua kenapa?! Jelaskan! Jelaskan apa masalah kita, Tuan Miii?!” Hem. Kudorong ujung tongkat Wali Kota Mungli dari depan mukaku, tersenyum, kemudian baru menjawab. “Dengan segala hormat, Pak Wali Kota, barang-barang ekspedisi ‘kita’ terendus oleh Badan Pengawasan Lalu Lintas Dagang dan Biro Keamanan Internasional. Dua organisasi ini bukan cuma ahli, tetapi juga punya back up yang benar-benar kuat. Jadi saya tidak akan bela diri, kegagalan-kegagalan operasi kita sepanjang tahun-tahun ke belakang sampai bulan lalu hendaknya menjadi bahan evaluasi bersama.” “Saya bukan sedang menyalahkan Anda …,” balas si pria gendut, mimik dengan gestur tubuhnya tidak sinkron sama apa yang baru diucapkan. “Hanya mengeluh, uang saya hampir habis di investasi ini. Anda paham sekrisis apa keuangan saya sekarang, ‘kan, Tuan Mi? Tuan Mi?” Sekali lagi, aku tersenyum sebelum menanggapi. “Maaf bila jawaban saya kurang mengenakkan. Akan tetapi, Pak Wali Kota, dua puluh satu cabang pertama Plester Co. ada di sisi kiri pada peta Anda. Arah barat Mungli.” Pria gendut itu menoleh gambar besar di belakang sekretarisnya dan Sisi, peta provinsi yang menggantung di salah satu dinding ruang kerja tersebut. “Tim saya ….” Kulirik manajer keuanganku sekilas. “Sudah menyarankan kita kenapa tak lebih fokus pa—” “Tiga puluh empat cabang usaha Anda juga ada di kanan peta saya!” Begitu sela si gendut, muka tidak puasnya amat kentara pas menatapku. “Jangan pikir saya tidak tahu …,” lanjutnya, “Anda diam-diam bahkan sudah melebarkan sayap dan mengirim proposal ke delapan puluh sembilan dinas kota—ah, harusnya dua bulan lagi Plester Co. merayakan peresmian cabang keseratus empat puluh tiga, bukan?” Asem. Aku gak bisa bilang apa-apa disekak olehnya macam barusan. “Saya rasa tak terlalu cepat bila kami mengucapi Anda selamat hari ini,” ujar si laki-laki gendut, muka kesalnya beberapa detik lalu kini berubah bangga. Menyebalkan. “Terlebih kemajuan Plester Co. tadi seharusnya juga berarti kemajuan untuk usaha-usaha kita di masa depan. Benar, ‘kan, Tuan Mi?” “Hehe.” Aku gak punya cara selain nyengir menghadapi ‘raja dunia bawah’ satu di hadapanku, apa boleh buat jika dia tahu gerak-gerikku. “Tadinya saya mau bikin kejutan, tapi ternyata Anda sudah tahu duluan jadi apa yang mau dikata. Kembali ke bisnis, Pak Wali Kota, cara lama kita sudah tidak efektif.” “Saya paham metode Anda, Tuan Mi. Separuh modal masih balik ke rumah saya sudah kebilang sangat untung buat Anda dan anak-anak Plester Co.” Pria gendut itu akhirnya mau duduk, sofa kosong yang terus menjagaku dari sabetan ujung tongkatnya tadi pun kini senyum memangku bokong si wali kota. “Namun, bisnis tetaplah bisnis, modal saya hilang di tangan Anda.” Kulihati dirinya tanpa bilang apa-apa, coba menghadirkan suasana sunyi ke tengah-tengah kami sekalian minta dirinya buat menjelaskan maksud kalimat barusan. “Bukan—ah!” Dan berhasil, kontak mata memang efektif. “Ya, saya sedang menyalahkan Anda. Usaha-usaha sampingan saya satu per satu gulung tikar buat menutup modal-modal ekspedisi kita yang sering pulang tanpa hasil. Anda tahu berapa rumah dan mobil koleksi saya yang juga harus ikut dijual karena biaya operasional kita yang gak bisa balik lagi itu, hah, Tuan Mi?!” Kucondongkan badan padanya, hendak mendengar angka yang mau ia sebut. “Kenapa Anda tiba-tiba begitu?” “Mau mendengarkan Anda,” akuku, polos. “Barusan Anda mau memberi tahu saya jumlah mobil dan rumah-rumah yang sudah dijual demi menutup kerugian kita, ‘kan?” “Tuan Mi, Anda sedang mengejek sayakah?” Kupundurkan diriku lagi. “Bukan mengejek, tapi jika rumah-rumah Anda tadi tidak sebanyak jumlah pegawai Plester Co. yang menjadi korban ekspedisi kita maka rasa bersalah saya takkan bertambah ….” Lanjut kurebahkan punggung ke sandaran sofa, abai pada delik orang seberang diriku. “Seratus lebih personel selalu saya kirim untuk mengawal barang Anda, Pak Wali Kota, dan apakah Anda pernah tanya ke mana mereka sekarang?” Itu dia. Wali Kota Mungli yang terus pasang muka garang sejak diriku datang ke kantornya dua jam silam kini meredup, ia tentu paham semahal apa pun barang tidak ada yang seharga dengan nyawa. Huh. Dirinya boleh mengeluh soal uang hangus atau rumah-rumah mewahnya terus berkurang pada setiap ekspedisi kami, tapi hati kecilnya harus tetap waras bahwa dia tidak pernah kehilangan satu orang pun selama ini. Harga yang kebilang murah, bukan? Meskipun, praktiknya tidak seekstrem itu. Aku tadi gertak sambal. Pegawai yang tertangkap saat operasi selalu Bung Lame kembalikan utuh beberapa bulan kemudian, dan mereka langsung kuoper ke kantor cabang baru supaya tidak bertemu lelaki gendut satu di depanku. Jadi secara teknis kerugian ekspedisi kami dia yang tanggung sendiri …. *** “Raziaaa lagi …!” Di mana-mana metodeku selalu sama, teori gunung es. Yang tampak ke permukaan cuma bagian kecil dari apa yang tersembunyi di bawah sana. Hanya menunjukkan puncak. Kemarin obrolanku dengan Niki gagal sampai aku harus menelepon Sisi dan minta bantuan, sekarang lihat apa yang kulakukan bersama para aparat ketertiban Veres ini. Macam lelaki gendut empunya Kota Mungli. Geng Plester mau kubikin tidak punya pilihan kecuali menurut …. “Kenapa hari ini tiba-tiba ada razia lagi?” “Gak tahu. Pokoknya lari dulu. Bicara nanti ….” Aparat ketertiban kota secara alami akan menjadi musuh para gelandangan dan tunawisma jika populasi mereka tidak terkendali, bukan? Dinas setempat tentu takkan membiarkan Niki maupun gengnya berkeliaran, apalagi bila ada laporan para pengamin paham antikemapanan itu nyata ‘lah merusak pemandangan. Bayangkan saja gundukan sampah di pojokan gang. “Sama tadi udah lima kali kita kena razia minggu ini,” keluh salah seorang tunawisma kepada teman-temannya di bawah sana, duduk melingkari dua api unggun dekat salah satu tiang jembatan. “Kalau kayak gini terus yang ada mending kita pindah kota lain aja. Ya, gak?” “Pindah ke mana?” timpal tunawisma lain, mendongak pada tunawisma pertama. “Veres itu udah jadi kiblat sama tujuan banyak gelandangan kayak kita-kita, gak ada yang setoleran di sini.” “Razia lima kali seminggu, itu yang kamu bilang toleran?” sahut tunawisma ketiga, setengah ngotot, ia lanjut pindah duduk ke sebelah tunawisma kedua. “Dulu, iya. Aku nyangkanya gitu. Cuma sekarang Veres kayaknya udah enggak ramah sama kita-kita lagi ….” Bukan gak punya empati. Mendengarkan obrolan para tunawisma sambil pura-pura mengantuk menggantung di besi rangka jembatan belum jadi begini terus pura-pura enggak dengar apa-apa sembari tutup mata. Hanya kondisi yang kumau buat dalih sebelum mengajak mereka ke tempat Wali Kota Mungli belum cukup …. ***

Plester Co.

Bab 15 Gorong-Gorong Bawah Kota

Di publikasikan 01 Sep 2026 oleh Bengkoang

“Hampir lima tahun dan mereka masih sama ….” Aku turun dari mobil lalu mengganti Mantel Ungu dengan Mantel Jerami—masih mantel pertapa, tapi sedikit lebih merakyat ketimbang jubah tetua sekte pertama. Selanjutnya kuketuk kaca pintu si Jago pakai buku jari, isyarat agar sedan hitam satu itu melaju dan mencari tempat buat menepi sendiri. Urusan di kota ini menuntutku ‘tuk tidak menunjukkan isi dompet …. *** “Buat apa kamu ke sini?” Tadinya, kupikir bicara dengan teman akan lebih mudah karena pernah punya pengalaman selingkung. “Cuma kebetulan mampir terus lihat kalian.” Ternyata enggak juga. “Iseng aja main ke sini ….” Niki, dengan gaya khasnya, cekak pinggang dan mendongak pas dua anggota Plester membawaku ke kemah sementara mereka dekat mulut terowongan pengendali banjir bawah kota Veres—sangat ‘ramah’ buat ukuran kawan lama. Penampilan si ketua geng juga tidak banyak berubah, cuma ada tambahan pelindung di kedua kaki sampai lutut sama sarung tangan berduri sebelah kanan. Rambutnya masih sependek lima tahun lalu. “Gimana usaha kamu, Mi?” tanyanya, terdengar mengejek serta sesinis saat ia melihat papan dada hari pertama Plester Co. kumulai. “Masih mulungin sampah di Sebek, ‘kan?” Aku celingak-celinguk, terus jalan dan duduk di sofa bekas rusak dekat dinding. “Aku udah gak di Sebek—” “Bangkrut, ya?!” potong Niki yang juga menyambar kursi lipat kemudian duduk di depanku, “jadi ceritanya sekarang kamu mau minta gabung sama kita lagikah?” Hem. Aku sudah ingin menyangkal, tapi pas ingat rencana segera kutahan diri terus lanjut rebahan saja. “Jubah baru kamu emang lebih cocok daripada yang kemarin, Mi.” “Emang kenapa sama yang kemarin?” “Kebagusan!” timpal si ketua geng sambil buang muka, “yang sekarang ini baru pas buat gelandangan kayak kita-kita—eh, ya! Jubah itu kamu jual apa gimana?” “Yang ini dari jerami, aslinya bukan gelandangan doang yang bisa pake. Enggak usah bahas jubah, aku aslinya pengen ajak kalian kerja. Ngehasilin uang sendiri.” Kalian tahu, atmosfer lembap gorong-gorong setengah gelap itu tiba-tiba jadi mencekam. Bukan karena apa-apa, perubahan aura Niki sama gerakan anggota-anggota Plester di belakang pas dengar tawaranku tadi sontak menghadirkan kesan sunyi ke tengah-tengah kami. Apalagi setelah delikan si ketua geng mencegah anak-anak buahnya tersebut buat berani mendekat. “Maksudnya ikut jadi pemulung kayak kamu?” “Bukan.” Kurapikan dudukku sebelum lanjut berkata, “Kerjaan beneran, kalian dibayar terus dapat ma—” “Pergi!” Yang, sialnya, langsung kena tolak tanpa diberi kesempatan buat dapat pertimbangan. “Gak usah sok baik, baju kamu aja enggak lebih bagus dari yang terakhir kita bareng dulu.” ‘Hem. Padahal yang ganti cuma mantelnya doang,’ batinku lantas coba membujuk Niki. “Serius. Ini aku mau nawarin kerjaan beneran, kalian bakal dibayar buat—” “Cukup!” Si ketua geng mendelik, aura sekitar dirinya ikut menajam saat itu, dan ia kemudian bangkit. “Pintu keluar ada di sana, gak perlu kuantar, ‘kan?” Cek! Karena situasi tumbuh ke luar rencana, kukira obrolan kami harus kujeda dulu. “Aku masih bakal ada di Veres beberapa waktu ini,” ujarku sambil berdiri, “kamu bisa cari—” “Simpan saja bualan kamu buat kelompok lain ….” Percobaan pertama gagal. Diriku tidak tahu kenapa Niki sangat sensitif hari itu, tapi aku juga tidak bertanya. Jadi kusimpan penasaranku lalu pergi dari gorong-gorong pengendali banjir tersebut tanpa memikirkan apa-apa. Namun, kegagalan tadi ibarat sebuah pukulan. Meski tidak keras, tetap terasa menyebalkan. Aku tidak suka …. *** “Hallo?” Belajar dari pengalaman, kali ini aku tidak ingin buru-buru menemui Niki atau anggota-anggota Geng Plester lain. Kuputuskan buat menyelidiki mereka sebelum mencoba kembali di kemudian hari. Supaya kegagalan di atas tidak terulang …. “Hallo, Sisi?” tanyaku, coba memastikan suara di seberang gagang telepon betulan milik si manajer keuangan. “Kamu kenal suara saya?” “Bos?” “Bagus. Saya keknya gak bakal balik Markas cepat-cepat, jadi tolong dengar apa yang mau saya bilang ke kamu sekarang ini baik-baik ….” *** Hem. Sembari menunggu hasil obrolan dengan Sisi, kukira aku bisa keliling kota yang dipanggil surga hiburan tanpa malam ini sebentar. Veres. Sekalian mencari cara biar Geng Plester mau pas nanti kubujuk lagi …. “Permen kapas yang itu berapaan, Pak?” “Lima suth saja.” “Satu.” Ngomong-ngomong. Veres ini jenis kota yang sebelas dua belas sama Mungli, punya citra ganda. Siang di sini cerah, kegiatan orang-orangnya rapi, jadwal mereka jelas serta sebagian besar sangat tertata, terus kesan pertama waktu diriku kemari tiga bulan lalu pun sangat-sangatlah baik. Aku tidak pernah linglung pas mencari alamat. Kalau malamnya, sebaiknya jangan kalian tanya. “Ada raziaaa!” Saking tertatanya Veres juga dikenal dengan julukan: Kota Seratus Hukum. Lantaran menggantungkan ekonomi pada sektor hiburan dan pariwisata, dia terpaksa harus menghadirkan ilusi superaman demi menarik para pelancong supaya terus berdatangan. Hasil akhirnya jelas, sederet perangkat hukum berisi aturan ketat yang menguntungkan segelintir pebisnis di industri terkait. Razia pedagang kaki lima semacam tadi buntutnya menjadi pemandangan lumrah, bukti bahwa surga hiburan tanpa malam itu di satu sisi juga gagal menyediakan ‘ketenteraman’ bagi sebagian penduduk-penduduknya—ini sekaligus bahan buat kalian kalau termasuk jenis pemikir kritis sama ahli-ahli curiga garis keras. Hehe. “Ke-kenapa kamu ikut lari?” Eh? Benar juga. Yang kena razia kan pedagang kaki lima. “Ke-kenapa saya lari, ya?” “Lah, kok, malah tanya?” Aku garuk kepala merespons lirik beserta delik-delik heran mata para pedagang yang berhasil lolos dari kejaran aparat keamanan di taman kota sebelum ini. Sama, diriku pun saat itu tidak tahu kenapa tadi malah ikutan lari. Mungkin kebawa suasana. Saking paniknya sampai lupa diri—entah, tapi. “Kamu itu aslinya apa, tah?” tanya salah seorang pedagang, duduk selonjoran sambil mengistirahatkan badan di trotoar. “Bukan pengamen, ya, ‘kan?” “Dia tadi beli dagangan saya, kok,” timpal pedagang lain, penjual permen kapas sebelumnya. “Uangnya bagus. Masa, ya, hasil ngamen. Gak mungkinlah.” “Eh, bisa aja. Kita, kan, gak tahu.” “Daripada nebak-nebak terus salah, mending tanya o—eh?! Orangnya mana?” “Lah, iya, orangnya barusan mana …?” Banyak hal tidak kupahami. Biasa kulihat, tetapi tidak pernah kupikirkan. Veres termasuk di antaranya. Aku kebilang abai akan realitas sosial di balik apa-apa yang telah kota ini sajikan pada pengalaman pertamaku tiga bulan lalu. Terus terang saja …. Pertanyaan. Jikalau diberi kesempatan berlibur ke surga hiburan macam Veres selama satu atau dua pekan, apa kalian akan menyempatkan diri ‘tuk sedikit menjelajahi jalan seberang hotel buat menambah rasa ‘penasaran’ atau hanya akan tetap menikmati waktu dan jadwal libur kalian? Kita tidak sedang menghakimi, apa pun pilihan kalian nanti hal itu bukan aib. Titik. ***

Plester Co.

Bab 14 Krisis Energi

Di publikasikan 01 Sep 2026 oleh Bengkoang

“Markas Besar Pertamana di depan mata kita.” Aku senyum mendengarkan Lame di sebelah. Kami baru saja tiba ke dekat Markas Pertamana, tembok besar dengan tentara lalu lalang di atasnya seberang bukit tempat sedan hitamku terparkir. “Sekarang apa?” “Tidak ada,” jawabku terus jongkok dan meraba tanah, “kalau tebakanku benar, Bung, tangki bensin mereka seluas daerah yang dikelilingi tembok besar di sana itu.” “Cih!” Lame ikutan jongkok. “Kau tahu volume sebanyak itu masih belum cukup bu—” Kuangkat tangan kiriku, isyarat agar dirinya memberiku kesempatan buat fokus. “Berapa jumlah perusahaan serupa Pertamana di benua?” tanyaku beberapa saat kemudian, ingin memastikan sesuatu sebelum lanjut berdeduksi. “Jika setiap negara punya satu dan cadangan mereka hampir sama sebanyak ini, maka kemunduran kita ke zaman gelap takkan lebih dari lima tahun.” “Apanya yang lima tahun?” “Lima tahun sebelum bensin mereka benar-benar habis—” “Mustahil!” sanggah Lame yang lalu memberiku alasan kenapa, “dengan ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, motor dan mobil yang melaju setiap hari kurasa bisa lebih cepat daripada itu.” “Anggap dirimu benar,” kataku lantas berdiri, “sekarang kita punya gambaran berapa waktu yang bisa dipakai buat siap-siap sebelum semua lampu mana di benua mati total.” “Ngomong-ngomong ….” Lame menahan bahuku sebelum berbalik. “Bung Mi, kau belum memberitahuku apa rencana kalian setelah melihat Markas Pertamana di sini.” “Apa lagi?” Kujulingi pria kekar kita sebentar terus lanjut balik ke mobil. “Aku sama Plester Co. mau siap-siap biar masih bisa hidup pas uang nanti udah pada enggak laku ….” Serius. Mungkin kedengaran gila, tapi ketika peradaban mundur boleh jadi kehidupan akan terjungkir seratus delapan puluh derajat bahkan lebih parah. Harga ‘tuk kebutuhan pokok melejit sampai ke langit dan rasa aman mustahil dibeli cuma pakai lembaran kertas sama kepingan koin berangka yang kita semua panggil uang. Bukan ingin menakut-nakuti. Hanya. Skenario terburuk masihlah benua hancur pascapanik massal beberapa tahun ke depan atau lebih cepat lagi lalu para penyintas saling tidak percaya kemudian terpecah-pecah …. *** “Bos.” “Sisi, tolong nanti kamu ke ruangan saya sama Wiji. Sebelum itu kontak kantor-kantor cabang kita terus suruh mereka ikut rapat via sambungan telepon sore ini ….” Sekembalinya dari Markas Pertamana diriku langsung memeriksa berkas Plester Co: data pegawai, rincian aset, arsip juga hal-hal terkait; serta segera meminta para kepala cabang hingga penyelia merumuskan rencana guna menghadapi berbagai skenario buruk hasil perkiraan akan masa depan Benua Baru setelah batu mana dan batu-batu kutukan menjadi barang langka. Besoknya. Kuajak Sisi dan Wiji mendatangi bank, mencairkan setengah hingga dua pertiga simpanan Plester Co., lalu melunasi sisa cicilan gedung, kendaraan, alat-alat kerja sama lanjut membeli perlengkapan bertahan hidup yang menurut rapat hari sebelumnya akan kami butuhkan pada saat-saat krisis nanti. Satu bulan berselang, gedung-gedung kantor Plester Co. pun mulai berevolusi menuju tempat penampungan sekaligus benteng pertahanan darurat. Melenceng dari niat semula yang hanya ingin lebih siap tatkala Benua Baru mundur ke zaman tanpa energi di masa mendatang. Dua bulan hingga setengah tahun kemudian dan …. “Hem.” Aku elus dagu pas lihat tampilan baru Markas Plester Co. di tahun berikutnya. “Saya gak salah alamat, ‘kan, ya? Ini beneran ….” Kutoleh pegawai kanan kiri. “Stevan, ini bener Markas Plester Co.?” “Bener, kok, Bos. Itu tulisannya masih ada ….” Markas Plester Co. masih berwujud gedung, pencakar langit, terus kinclong bak biasanya. Namun, halaman luas serta sederet tambahan berupa ‘mes pegawai’ dengan ‘lahan parkir’ truk dan kendaraan-kendaraan baru bikin pangling. Terutama saat Mata Perak kupakai ‘tuk mengintip isi dalam mereka juga apa-apa saja yang ada di bunker bawah tanahnya …. *** “Bung Mi.” Ketika persiapan dengan segala kegaduhan di atas selesai lalu keributan-keributan kecil akibat harga BBM dan sumber energi kian meroket mulai sporadis. “Bung.” Kehidupanku sebagai CEO Plester Co. berlanjut. “Bagus kau masuk kantor hari ini. Kemari-kemari. Coba lihat apa yang kutemukan di selokan kalian ….” Aku masih bolak-balik Yotaar sama kota-kota lain di sekitar dan paling jauh masih mengunjungi Xelowa buat gantian menyapa sobat kekar bertatoku, Bung Lame. “Kau gak akan percaya,” lanjutku menjelaskan isi akua bekas di tangan, “air ini punya kandungan bensin.” Pria kekar kita sedikit mencondongkan badan, mengendus, lalu cepat-cepat mundur dan menutupi hidungnya pakai tangan. Gerakan mata dengan perubahan air mukanya pas itu rada bikin geli. Cuma sudahlah, aku lanjut membuang benda di tangan kembali ke selokan. “Kuyakin bukan cuma kita yang sadar kalau masih ada ceceran bensin di selokan dekat pom-pom mini begini, Bung,” tuturku sambil jalan ke halte tak jauh dari tempatku menyinduk air selokan, “dan kita butuh cara buat menjaga ini supaya tetap di antara kita—atau kita monopoli saja! Bagaimana?” “Pikiranmu berlebihan, Bung Mi.” Kutoleh si aparat penegak hukum kemudian duduk di bangku halte. “Kantorku sebelah pom mini sana,” ujar Lame, berdiri dan menyalakan rokok sebelahku. “Kulihat baru kau yang iseng memeriksa selokan macam tadi. Huh ….” “Orang-orang hanya belum tahu cara—” “Aku sudah mendatangi kota-kota di surat yang kaukirim,” sela si aparat penegak hukum, mengangkat topik dengan isu yang sedang kutunggu sejak beberapa bulan lalu. “Huh … seperti katamu, mereka hidup dari sisa-sisa tempat sampah dan bermalam di saluran drainase kota.” Kusenyumi pria kekar kita. “Terima kasih—” “Aku belum selesai …,” potong sobat penjelajah malamku itu, ia buang puntung rokoknya yang masih sangat panjang lantas pindah dan duduk di bangku bersamaku. “Kau mau apa setelah menemukan mereka?” Yang kami bahas saat itu para tunawisma Stuckenborstel. Geng Plester. Kelompok Pareta dan Niki kalau kalian masih ingat. Orang-orang yang suka atau tidak telah membantuku berkompromi dengan gegar budaya pada keasingan Benua Baru zaman ini. “Anggap saja aku punya hutang budi pada mereka, Bung Lame.” Lame mendongak gemas sebelum lanjut tanya. “Kau tidak sedang menggodaku, ‘kan? Bung Mi, kita ini teman lama. Beri tahu saja apa rencana kalian dan kujamin mereka takkan mengganggu usaha-usaha Ples—atau jangan-jangan kau mau merekrut orang-orang tanpa rumah itu buat jadi ujicoba sama penyelundup obat terlarang, ya, hah?!” “Sialan!” Sudut-sudut bibirku spontan naik dengar dugaan liar si aparat penegak hukum. “Kalaupun benar aku punya niat jahat pada mereka, kau harusnya jadi orang pertama yang menangkapku terus naik jabatan, ya, ‘kan. Ada-ada saja. Hahaha ….” Entah niatku ini benar atau salah. Geng Plester mau kurekrut dan kudanai supaya terorganisir, tidak berantakan, serta lebih terarah sama punya tujuan jelas kenapa mereka perlu ada. Soal apa yang kelompok itu lakukan saat niat tadi terlaksana jujur belum kupikirkan sama sekali, mungkin setelah ini. Diriku sekarang hanya ingin mereka supaya bisa bertahan menghadapi krisis energi sama tidak terseret limpasan arus kepanikan massal beberapa waktu mendatang, itu saja. Titik. ***

Plester Co.

Bab 13 Mundur?

Di publikasikan 01 Sep 2026 oleh Bengkoang

Dua setengah tahun. Plester Co. sudah jalan dua setengah tahun, punya tiga cabang usaha, pelanggan di lebih dari dua puluh satu kota termasuk di antaranya Mungli, Sebek, Yotaar dan Stuckenborstel. Empat kota pertama yang kujelajahi sembari meraba-raba Benua Baru zaman ini. Dan, aku tidak ingin berhenti. Seandainya saja dua tahun lalu diriku tidak menyadari dunia-dunia lain di atas sana, mungkin Plester Co. sudah kujadikan satu-satunya penyedia jasa kelola limbah kota di tanah ‘asing’ ini. Namun, jangan pernah salah kira, sebab kehidupan yang terbagi siang malam sejak dua tahun silam itu pun tak pernah kusesali. Malah, dia menjadi lebih menarik. “Bos. Area sini sudah kami periksa, gak ada masalah. Kita bisa mulai operasi pembersihan dari blok depan.” Siang hari peranku sebagai CEO Plester Co. memberi tanggung jawab atas sumber penghidupan delapan ratus lebih pekerja di dua puluh satu kantor—utama beserta cabang-cabang—nya yang tak boleh berhenti mengalir. “Lanjut fase dua, Sobet. Atur semua kayak biasa. Saya gak balik kantor lagi habis ini.” “Ah! Rebes, Bos. Tenang saja, semua aman sama saya.” “Bagus ….” Sedang pada malam harinya dunia-dunia kecil di atas sana menjadi hiburanku. “Chloe. Berapa kanal kecil yang masih ada?” [Satu.] Meskipun sekarang adalah malam terakhir mereka …. *** “Pagi, Bos.” “Pagi, Potur. Kalian dah makan?” “Ahaha, ini lagi, Bos.” “Lanjut, ya.” “Pagi, Bos.” “Pa—” “Bung Mi!” Aku berhenti tepat di depan pintu lobi, kemudian berbalik. Respons terhadap panggilan pria kekar berseragam lengkap dengan topi dan kacamata hitam kebiruan yang baru saja memanggil. Bung Lame. “Tumben, pagi-pagi gini udah di si—” “Bung Mi. Kau, sudah lihat, berita?” tanyanya, masih dengan nada dan napas agak tersenggal. “Hah ….” Kubiarkan pria kekar kita itu menstabilkan napas dulu. “Bensin Pertamana hari ini naik lagi—bukan-bukan! Kanal kecil di Lambita tadi malam hilang, kita sekarang sudah gak punya tambang batu kutukan. Kau tahu apa artinya itu, bukan?” Lambita, kota yang kanal kecilnya semalam kumasuki. “Terus?” “Oh, ayolah. Bung Mi, dirimu CEO Plester Co., ‘kan? Pertamana sebentar lagi bangkrut, mesin-mesin truk sampahmu sama mobil patroliku takkan bisa dinyalakan lagi pas mereka gulung tikar.” Hem, aku tidak memikirkannya. “Kurasa kau benar. Kita bicara di dalam ….” Aku benar-benar lupa kalau Benua Baru menggantungkan hidup pada kanal-kanal kecil ini. Beda dari Eldhera yang punya cebakan batu mana dan para monster dengan batu-batu kutukan sebagai bagian pada inti sihir mereka, Benua Baru sedikit lebih normal. Dia tidak memiliki keduanya. Hewan-hewan mistis telah lama punah, tanah gersang aura sihir, manusia di atasnya pun jauh dari istilah ajaib sebab punya teknologi supermaju serta sudah tidak kenal cara merapal mantra. Sialnya lagi aku baru ingat hal itu sekarang …. “Presiden baru mengumumkan krisis energi,” ungkap sobat penjelajahan malamku sejak dua tahun lalu, Bung Lame, sesaat kami duduk di ruanganku. “Dan semua orang sedang panik sekarang, Bung Mi.” “Bung, mungkin diriku salah, tapi tolong jelaskan apa yang terjadi jika kita kehabisan batu mana dengan batu-batu kutukan selain mesin mobil mati. Jujur, aku tidak menemukan masalah jika dua benda ajaib itu hilang.” “Bung, kau tidak lihat kabel sama tiang-tiang besar di depan kantormu sana?” Aku menoleh ke kanan, melihat pemandangan seberang jendela sekilas. “Lampu lalu lintas,” sambung Bung Lame, “lampu-lampu penerangan di trotoar, taman—bahkan gedung dan kantor ini, semua dialiri mana. Jangan lupa, kau juga pakai kompor mana buat dapur kalian, bukan?” “Terus?” “Alat-alat rumah tangga—tidak! Maksudku hampir semua benda di rumah-rumah kita memakai mana sebagai energi. Bayangkan jika tiba-tiba batu-batu mana yang menjadi sumber energi itu lenyap.” “Kita mundur ke era klasik, lilin sama obor?” “Lebih parah!” tukasnya penuh keyakinan, “belum seberapa kalau hanya mundur ke era klasik, tapi bayangkan orang-orang yang kadung terbiasa pada peralatan-peralatan mana ini. Bukankah—” “Bos!” Wiji menjeda kami, ia buru-buru mendekat dari pintu kemudian mengasongkan dua buah berkas dari samping sofa tempatku dan Bung Lame berbincang. File bersampul merah tua dengan hijau lumut. “Kita dapat laporan banyak tunawisma di saluran air Yaokie, mereka gak mau pindah ke tempat penampungan terus tim pembersih enggak bisa lanjut kerja.” “Udah kontak orang dinas?” “Belum ada jawaban, Bos.” “Kalau gitu tunggu aja respons mereka. Para tunawisma juga manusia, gak usah diganggu.” “Satu lagi, Bos. Kurir kita ngeluh BBM naik.” Kulihat Bung Lame dengar laporan Wiji, dan pria kekar kita itu cuma angkat bahu membalas lirikan tersebut. “Saya sudah dengar bensin sekarang jadi barang langka,” kataku lantas senyum, “coba telepon Pertamana terus pesan bensin buat cadangan kantor bulan ini sama bulan depan, enggak apa-apa kalau mereka minta lima kali harga pasar. Kasih saja. Toh, kita memang butuh.” Kuakui diriku ceroboh. Tidak memikirkan Benua Baru bergantung pada sumber daya kanal lain. Bahan bakar mana, angka pengangguran dan tunawisma naik gegara penduduk kanal lain turun kemari, serta kemunduran yang Bung Lame sebagian telah singgung. Semua luput dari perhitungan …. *** “Kita mau ke mana?” Kunyalakan mesin mobil begitu Lame pasang sabuk pengaman. “Bung Lame,” panggilku, jawaban atas pertanyaannya barusan. “Kanal kecil di langit Lambita baru hilang tadi malam, ya, ‘kan? Itu artinya cadangan batu mana sama batu-batu kutukan di Pertamana terus BPSD harusnya sekarang masih ada.” “Nona Wiji bukannya baru …, pesan?” “Bukan mau beli, kok!” selaku yang lantas tancap gas begitu melewati gerbang depan Markas Pertama Plester Co., “tapi mau lihat cadangan mereka aja ….” Kemunduran Benua Baru tidak dapat terhindarkan, apalagi kanal-kanal kecil yang sudah Chloe telan mustahil kukembalikan. Seandainyapun bisa, kurasa hal itu bukan langkah tepat. Terlebih, jembatan kanal baru nanti mungkin saja malah akan jadi sumber petaka lain ‘tuk benua ini. “Kau bilang mau ke Pertamana, kenapa kita—” “Isi bensin dulu,” kataku lekas turun lalu membuka bagasi belakang, membuka tutup-tutup jeriken, kemudian mengisi tangki si Jago sampai penuh setelah mereka semua terisi. Lame, yang waktu itu melihat dari kursi depan mobil, geleng kepala ketika aksiku selesai. Dirinya setelah itu berkomentar, “Harusnya, ya, tadi aku juga bawa satu atau dua jeriken kosong sebelum ke kantormu, Bung Mi. Kau sepertinya berpengalaman di situasi macam sekarang. Tidak panik, tapi langsung main borong banyak liter sekaligus terus—” “Kita gak tahu ke depan bakal gimana …,” timpalku, menaruh moncong selang lalu bayar. “Mumpung masih awal terus orang-orang belum pada sadar, mending gerak duluan. Gak salah, ‘kan?” “Caramu ini, aku benar-benar tidak bisa menyangkalnya.” “Terima kasih, kuanggap itu pujian.” Aku kembali ke mobil. “Cuma, kita beda pikiran. Kau yang masih bisa santai padahal tahu sebentar lagi akan menghadapi krisis juga cukup mengagumkan, Bung.” “Ngomong-ngomong, Bung Mi …, Plester Co. mau kau apakan jika kita benar-benar mundur ke era klasik?” Entahlah. Aku belum memikirkannya. Tabunganku sebagai CEO sampai bulan lalu baru ada seratus delapan puluh ribu empat ratus lima puluh suth, tambah Plester Co. sekitar lima puluh delapan juta sekian ratus ribu. Angka ini mungkin besar. Namun, diriku ragu jumlah segitu akan cukup buat mengamankan diri kami jika kekacauan benar-benar terjadi di kemudian hari terutama saat kepanikan massal sudah mulai menyebar. ***

Plester Co.