Bab 16 Bagai Gunung Es Terapung
Tahun lalu, di Kantor Wali Kota Mungli.
“Kita sudah mencoba banyak cara, tapi kenapa tak satu pun dari dua ratus lebih pangkalan Anda yang berhasil membuka jalur pengiriman barang-barang saya?”
Ketika dua kupingku harus sabar mendengarkan keluhan sang empunya kota sambil duduk manis di sofa ruang kerjanya tanpa bisa banyak bicara atau membantah ….
“Tuan Mi, tolong. Saya berani mendanai Plester Co. karena yakin barang-barang saya akan lebih cepat sampai ke tangan pelanggan lewat kurir-kurir Anda dan bukan malah sebaliknya, setengah barang-barang saya selalu hilang di hampir setiap ekspedisi—itu semua kenapa?! Jelaskan! Jelaskan apa masalah kita, Tuan Miii?!”
Hem. Kudorong ujung tongkat Wali Kota Mungli dari depan mukaku, tersenyum, kemudian baru menjawab.
“Dengan segala hormat, Pak Wali Kota, barang-barang ekspedisi ‘kita’ terendus oleh Badan Pengawasan Lalu Lintas Dagang dan Biro Keamanan Internasional. Dua organisasi ini bukan cuma ahli, tetapi juga punya back up yang benar-benar kuat. Jadi saya tidak akan bela diri, kegagalan-kegagalan operasi kita sepanjang tahun-tahun ke belakang sampai bulan lalu hendaknya menjadi bahan evaluasi bersama.”
“Saya bukan sedang menyalahkan Anda …,” balas si pria gendut, mimik dengan gestur tubuhnya tidak sinkron sama apa yang baru diucapkan. “Hanya mengeluh, uang saya hampir habis di investasi ini. Anda paham sekrisis apa keuangan saya sekarang, ‘kan, Tuan Mi? Tuan Mi?”
Sekali lagi, aku tersenyum sebelum menanggapi.
“Maaf bila jawaban saya kurang mengenakkan. Akan tetapi, Pak Wali Kota, dua puluh satu cabang pertama Plester Co. ada di sisi kiri pada peta Anda. Arah barat Mungli.”
Pria gendut itu menoleh gambar besar di belakang sekretarisnya dan Sisi, peta provinsi yang menggantung di salah satu dinding ruang kerja tersebut.
“Tim saya ….” Kulirik manajer keuanganku sekilas. “Sudah menyarankan kita kenapa tak lebih fokus pa—”
“Tiga puluh empat cabang usaha Anda juga ada di kanan peta saya!”
Begitu sela si gendut, muka tidak puasnya amat kentara pas menatapku.
“Jangan pikir saya tidak tahu …,” lanjutnya, “Anda diam-diam bahkan sudah melebarkan sayap dan mengirim proposal ke delapan puluh sembilan dinas kota—ah, harusnya dua bulan lagi Plester Co. merayakan peresmian cabang keseratus empat puluh tiga, bukan?”
Asem. Aku gak bisa bilang apa-apa disekak olehnya macam barusan.
“Saya rasa tak terlalu cepat bila kami mengucapi Anda selamat hari ini,” ujar si laki-laki gendut, muka kesalnya beberapa detik lalu kini berubah bangga. Menyebalkan. “Terlebih kemajuan Plester Co. tadi seharusnya juga berarti kemajuan untuk usaha-usaha kita di masa depan. Benar, ‘kan, Tuan Mi?”
“Hehe.” Aku gak punya cara selain nyengir menghadapi ‘raja dunia bawah’ satu di hadapanku, apa boleh buat jika dia tahu gerak-gerikku. “Tadinya saya mau bikin kejutan, tapi ternyata Anda sudah tahu duluan jadi apa yang mau dikata. Kembali ke bisnis, Pak Wali Kota, cara lama kita sudah tidak efektif.”
“Saya paham metode Anda, Tuan Mi. Separuh modal masih balik ke rumah saya sudah kebilang sangat untung buat Anda dan anak-anak Plester Co.” Pria gendut itu akhirnya mau duduk, sofa kosong yang terus menjagaku dari sabetan ujung tongkatnya tadi pun kini senyum memangku bokong si wali kota. “Namun, bisnis tetaplah bisnis, modal saya hilang di tangan Anda.”
Kulihati dirinya tanpa bilang apa-apa, coba menghadirkan suasana sunyi ke tengah-tengah kami sekalian minta dirinya buat menjelaskan maksud kalimat barusan.
“Bukan—ah!” Dan berhasil, kontak mata memang efektif. “Ya, saya sedang menyalahkan Anda. Usaha-usaha sampingan saya satu per satu gulung tikar buat menutup modal-modal ekspedisi kita yang sering pulang tanpa hasil. Anda tahu berapa rumah dan mobil koleksi saya yang juga harus ikut dijual karena biaya operasional kita yang gak bisa balik lagi itu, hah, Tuan Mi?!”
Kucondongkan badan padanya, hendak mendengar angka yang mau ia sebut.
“Kenapa Anda tiba-tiba begitu?”
“Mau mendengarkan Anda,” akuku, polos. “Barusan Anda mau memberi tahu saya jumlah mobil dan rumah-rumah yang sudah dijual demi menutup kerugian kita, ‘kan?”
“Tuan Mi, Anda sedang mengejek sayakah?”
Kupundurkan diriku lagi.
“Bukan mengejek, tapi jika rumah-rumah Anda tadi tidak sebanyak jumlah pegawai Plester Co. yang menjadi korban ekspedisi kita maka rasa bersalah saya takkan bertambah ….” Lanjut kurebahkan punggung ke sandaran sofa, abai pada delik orang seberang diriku. “Seratus lebih personel selalu saya kirim untuk mengawal barang Anda, Pak Wali Kota, dan apakah Anda pernah tanya ke mana mereka sekarang?”
Itu dia. Wali Kota Mungli yang terus pasang muka garang sejak diriku datang ke kantornya dua jam silam kini meredup, ia tentu paham semahal apa pun barang tidak ada yang seharga dengan nyawa. Huh.
Dirinya boleh mengeluh soal uang hangus atau rumah-rumah mewahnya terus berkurang pada setiap ekspedisi kami, tapi hati kecilnya harus tetap waras bahwa dia tidak pernah kehilangan satu orang pun selama ini.
Harga yang kebilang murah, bukan?
Meskipun, praktiknya tidak seekstrem itu. Aku tadi gertak sambal. Pegawai yang tertangkap saat operasi selalu Bung Lame kembalikan utuh beberapa bulan kemudian, dan mereka langsung kuoper ke kantor cabang baru supaya tidak bertemu lelaki gendut satu di depanku.
Jadi secara teknis kerugian ekspedisi kami dia yang tanggung sendiri ….
***
“Raziaaa lagi …!”
Di mana-mana metodeku selalu sama, teori gunung es.
Yang tampak ke permukaan cuma bagian kecil dari apa yang tersembunyi di bawah sana. Hanya menunjukkan puncak. Kemarin obrolanku dengan Niki gagal sampai aku harus menelepon Sisi dan minta bantuan, sekarang lihat apa yang kulakukan bersama para aparat ketertiban Veres ini.
Macam lelaki gendut empunya Kota Mungli.
Geng Plester mau kubikin tidak punya pilihan kecuali menurut ….
“Kenapa hari ini tiba-tiba ada razia lagi?”
“Gak tahu. Pokoknya lari dulu. Bicara nanti ….”
Aparat ketertiban kota secara alami akan menjadi musuh para gelandangan dan tunawisma jika populasi mereka tidak terkendali, bukan? Dinas setempat tentu takkan membiarkan Niki maupun gengnya berkeliaran, apalagi bila ada laporan para pengamin paham antikemapanan itu nyata ‘lah merusak pemandangan.
Bayangkan saja gundukan sampah di pojokan gang.
“Sama tadi udah lima kali kita kena razia minggu ini,” keluh salah seorang tunawisma kepada teman-temannya di bawah sana, duduk melingkari dua api unggun dekat salah satu tiang jembatan. “Kalau kayak gini terus yang ada mending kita pindah kota lain aja. Ya, gak?”
“Pindah ke mana?” timpal tunawisma lain, mendongak pada tunawisma pertama. “Veres itu udah jadi kiblat sama tujuan banyak gelandangan kayak kita-kita, gak ada yang setoleran di sini.”
“Razia lima kali seminggu, itu yang kamu bilang toleran?” sahut tunawisma ketiga, setengah ngotot, ia lanjut pindah duduk ke sebelah tunawisma kedua. “Dulu, iya. Aku nyangkanya gitu. Cuma sekarang Veres kayaknya udah enggak ramah sama kita-kita lagi ….”
Bukan gak punya empati. Mendengarkan obrolan para tunawisma sambil pura-pura mengantuk menggantung di besi rangka jembatan belum jadi begini terus pura-pura enggak dengar apa-apa sembari tutup mata. Hanya kondisi yang kumau buat dalih sebelum mengajak mereka ke tempat Wali Kota Mungli belum cukup ….
***
Kasih tip buat penulis
