Bab 17 Memberi dan Mendapat
“Oi, kalian ….”
Spontan mataku terbuka, kapalaku kemudian menoleh ke para tunawisma di bawah.
Mereka yang di bagian sebelum ini mengeluhkan dinas dengan aparat ketertiban kota serentak terperanjat lalu buru-buru meraih kayu setengah hangus sedapatnya. Hendak dijadikan pegangan, alat ‘tuk mempertahankan diri, seadanya memapak orang-orang yang baru datang.
Kelompok yang juga baru kulihat malam ini ….
“Mulai jembatan sini sampai blok pertama pinggir kota sana wilayah kami. Geng Codet.”
“Dengar gak kalian, Dungu?”
“Lihat tiang itu?”
Orang-orang yang baru datang tadi merujuk tiang jembatan di bawahku.
“Mulai malam ini, siapa pun yang tidur dekat tiang itu kudu bayar ….”
Hem. Aku menjuling singkat. Jelas aku keberatan.
“Kalau gak mau—”
“Kalau gak mau apa?!” selaku, melompat dari besi jembatan tempatku rebahan dan mendarat di tengah-tengah mereka penuh gaya. Mantel jeramiku bahkan sempat berputar-putar bak baling-baling kapal di udara sebelum akhirnya berkibar sebentar begitu kakiku menginjak tanah. Hehe.
Gerakan keren, menurutku. Akrobatik. Juga layak disorot lantaran sering muncul di adegan-adegan heroik.
Sayangnya, selera orang zaman ini berbeda. “Ke-kenapa cuma bengong—mana jerit sama tepuk tangannya?”
Tidak tampak raut kagum yang kumau.
Wajah mereka, orang-orang di depan dan belakangku, semua datar. Hem.
“Gak seru!” cicitku lantas cekak pinggang dan berlagak, “kalian, di ujung jembatan ada lubang saluran drainase kota, di sana tempat Geng Plester. Jadi gelandangan solo di Veres udah gak asyik, kalau gabung mereka kalian-kalian enggak usah takut sama berandalan macam gini—”
“Oi!” bentak tunawisma di depan, menodongkan pemukul yang sudah dikasih paku. “Kamu pikir kamu itu pahlawan, hah? Kesiangan, tahu gak!”
Aku tahu, ini kemalaman malah.
“Huh.” Aku mendongak. “Pahlawan tuh masih kebagusan kalau cuma buat ngejitak berandalan kek kalian.”
“Kurang ajar—seraaang ….”
Sementara para tunawisma di belakang langsung kabur, mereka yang berhamburan dari arah depan ketika itu malah membuat perutku geli. Lucu saja.
Muka, bahu, sampai ke cara lari.
Semua jelas gak sebanding sama para prajurit terlatih yang pernah kupapak di medan perang dan ….
‘Aku kayak lagi merundung …,’ sesal batinku sebelum lanjut menghindari sabetan, tendangan, juga serangan-serangan liar mereka tanpa perlu membalas. “Cek! Segini doang, nih?”
***
Setelah peristiwa pembuka di jembatan separuh jadi di atas, kejadian-kejadian serupa kemudian bermunculan di berbagai tempat. Selain karena petugas ketertiban di siang hari, hal ini juga dipicu oleh lonjakan tunawisma dari kota-kota tetangga yang berbondong-bondong mendatangi Veres.
Ingat rumor surga hiburan tanpa malam itu ramah tunawisma? Nah, beginilah efeknya kalau kalian tanya.
Angka tunawisma dan gelandangan naik, petugas makin gencar melakukan pembersihan, lalu pertikaian antar kelompok berandal yang ‘semakin dan semakin’—dalam tanda petik: brutal.
Kondisi ideal buatku dan Wiji ‘tuk memapak Geng Plester kita di tepi kota beberapa minggu kemudian ….
“Bos, yakin mereka bakal mau ikut kita?”
Aku tersenyum dengar keraguan si kepala bagian personalia.
Kalau ingat kegagalanku pas bicara sama Niki serta keras kepalanya salama kami saling mengenal, satu dari dua puluh kemungkinan Geng Plester akan kembali menolak hari ini. Namun, bukankah dua bulan terakhir kami juga bukan hanya duduk diam. Kita lihat saja bagaimana ketua geng satu itu kutundukkan.
“Mereka datang …,” kataku lantas memberi tanda, meminta semua personel supaya bersiap di posisi sebelum diriku bicara pada Niki dkk. “Selamat datang di angkutan menuju rumah.”
“Apa-apaan i—”
“Oi, Mi! Apa-apaan kamu?!” pekik sang ketua geng begitu melihat sosokku dengan kedua tangan terbuka, ia berhenti menggelayut di bahu salah seorang anak buahnya lalu mendekat tergesa-gesa. “Bajingan, apa maksud semua ini, hah?!”
“Apa lagi?” balasku kemudian maju satu langkah, “aku mau kalian ikut ke—”
“Anj*ng! Kamu pikir kita ini apa, hah? Mau main ba—”
“Tiga hal!” potongku menyela si ketua geng sambil teriak, “kukasih kalian tiga hal kalau mau kerja sama aku!”
Lalu kudekati dia selangkah.
“Tiga hal!” ulangku sekali lagi, “dan kalian gak perlu kabur kayak anjing buduk gini bahkan bisa balik ngebales orang-orang di belakang sana berkali-kali lipat!”
Para tunawisma di belakang Niki mulai ribut.
“Dengar! Kukasih kalian semua kesempatan. Ambil tawaranku sekarang terus dapat tempat bernaung, kerjaan jelas buat menuhin kebutuhan hidup, terakhir pinjaman kekuatan biar bisa balas dendam sama mereka—asal!”
Kusapu mata semua orang di seberangku sekilas, termasuk Niki yang dadanya lagi kembang kempis.
“Kalian naik ke truk di belakang aku sekarang ….”
Buat sebagian tukang mikir, tiga tawaran barusan itu ‘kebagusan buat jadi nyata’ sama terlalu mendadak sampai mustahil bila sungguhan ada. Namun, kesampingkan status tunawisma mereka, Niki dkk. benar-benar sudah tidak punya pilihan lain jika ingin menolak. Siang hari petugas ketertiban Veres di belakang menjauhkan dari sumber-sumber penghidupan, sedang pada malamnya kelompok lain terbukti lebih siap ‘tuk berebut wilayah dengan tempat-tempat bermalam ketimbang mereka.
“Kapten.” Salah seorang anggota geng menghampiri Niki, berhenti sebelah gadis itu, lantas berbisik ke kuping kiri sang ketua. Dan, menerka reaksi kawan lamaku, kukira ia baru saja memperkeruh suasana. “Tolong jangan bebani saudara-saudara kita ….”
Detik berikutnya, usai orang itu memberi isyarat kepala dibarengi lambaian tangan, tunawisma-tunawisma di belakang pelan-pelan melewati mereka berdua kemudian lari dan berebut naik ke truk-truk di belakangku.
Aku tidak ingin berkomentar, tapi begitulah hidup.
Sampai hanya tersisa dua orang saja di depan sana ….
“Sekarang apa?” tanyaku, maju selangkah lagi mendekati Niki. “Kamu tahu dari dulu aku enggak pernah suka basa-basi. Rumah, kerjaan, sama kesempatan buat balas dendam. Apa lagi yang lebih bagus daripada itu?”
“Mereka bodoh,” timpal si ketua Geng Plester, mendorong anggota sebelahnya pergi menyusul kawan-kawan lain naik ke truk duluan. “Para gelandangan ini gak tahu kalau kamu kerja buat Wali Kota Mungli.”
“Apa salahnya?” tanyaku, melipat tangan depan dada. “Toh, hasilnya jelas—”
“Jangan pikir aku gak tahu!” sergah Niki, menunjuk mukaku berani. “Kalian, kalian itu sindikat perdagangan obat terlarang sama penyelundup barang-barang ilegal.”
“Terus?”
“Hah?” Gadis di depanku melongo. “Kamu, kamu serius gak malu ngaku kerja sama bandar macam dia, Mi?”
Kini giliran keningku yang mengernyit.
“Mi!” panggil si ketua geng sebelum menghunjamiku pakai telunjuk, “kamu, kamu gak malu ngaku jadi kaki tangan pejabat korup macam dia? Beneran kamu juga enggak masalah gabung ke dunia gelap terus hidup dari uang-uang hasil suap sama laba jualan barang-barang haram, hah … aku, aku gak nyangka kamu—”
“Kamu gak lihat truk di belakang aku itu apa?!”
Seketika, kami berdua spontan terjerembap pada sebuah suasana senyap.
Situasi singkat di mana aku dengan Niki cuma saling melihat, hanya sepersekian detik, tapi cukup ‘tuk mereset pikiran kami agar tidak terus berada di tegangan tinggi.
“Ma-maksudnya?”
Pembuka sebelum diriku lanjut menggeleng serta mengalihkan pandangan meladeni si ketua geng.
“Kamu pikir aku mau kerja sama si gendut cerewet terus gak pernah peduli sama orang-orangku itu, hah?”
Aku lantas berbalik, dengan hunjaman telunjuk balasan tentu saja.
“Kamu pikir aku betah, gitu? Kamu kira selama ini kepalaku gak sakit maksain sabar dengar ocehan si gendut cuma biar orang-orang yang kerja sama aku tetap bisa makan, hah—jawaaab!”
“Ya …, ya, kenapa gak berhenti?”
“Terus ngebiarin ribuan karyawanku jadi gelandangan tanpa rumah kayak kaliaaan …?!”
***
Kasih tip buat penulis
