Bab 18 Unit Khusus dan Evolusi Plester
“Anda sepertinya sangat memperhatikan mereka, Tuan Mi.”
Aku, Wiji, dan Sisi. Kami bertiga kompak menoleh lalu bebalik dengar suara orang dari belakang. Wali Kota Mungli bersama sang asisten, juga Stevan yang mengekor setelah keduanya.
“Tentu,” ujarku lantas senyum, kupapak si empunya kota kemudian duduk menemaninya di sofa.
Sedang para manajer Plester Co. dan si asisten, mereka lanjut mengamati latihan Niki dkk. di bawah sana.
Kembali, aku dengan orang nomor satu se-Kota Mungli itu rencananya hari ini mau membahas jadwal sama rute ekspedisi ‘pengantaran’ kami berikutnya. “Mereka-mereka itu bakal personel operasi kita, ‘kan, Pak Wali Kota. Tentu saja harus sangat saya perhatikan.”
“Anda mengatakan ini bukan kare—ah, sudahlah! Langsung pada alasan kenapa saya repot-repot tetap kemari, sudah sampai mana persiapan operasi kita?” tanyanya, mengganti basa-basi dengan topik utama. “Semoga saja strategi baru Anda benar-benar bekerja, sebab jika tidak saya mungkin harus berinvestasi di tempat lain.”
Bukan cuma yang baru, strategi-strategi lamaku juga selalu behasil. Setahun terakhir Lame dan organisasinya sukses membekuk delapan puluh tujuh dengan setengah persen dari total antek-antek si gendut di luar negeri kalau perlu kubilang. Tidakkah itu luar biasa?
“Pak Wali Kota, Bapak tahu metodologi perusahaan kami. Plester Co. sekarang punya seratus delapan puluh cabang dengan lebih dari tujuh ratus pangkalan di dalam dan luar negeri. Ditambah mereka yang sedang kita latih di bawah sana, apa barusan Anda pikir saya sedang main-mainkah?”
“Bukan saya meragukan keseriusan Anda pada usaha kita …,” kilahnya lalu mencondongkan badan, “tolong jangan salah paham, Tuan Mi. Namun, saya pun tetap harus memastikan bahwa uang anggaran perusahaan-perusahaan beserta dana investor saya tidak menggelembung percuma di bisnis ini, bukan?”
Aku senyum dengar jawaban barusan.
“Saya paham, Pak Wali Kota.”
“Terima kasih kalau begi—”
“Ah, ya, Pak!” Jawabanku belum selesai. “Saya mungkin akan merepotkan Bapak lagi.”
“Tuan Mi.” Si gendut merapikan duduk. “Anda sudah merepotkan saya dengan membawa ratusan tunawisma kemari, kenapa masih pura-pura sungkan?”
Justru gegara itu, biar gak disangka aji mumpung sama dikasih hati minta jantung aku kudu pura-pura sungkan.
“Ahaha, si Bapak bisa saja … Pak Wali Kota, para tunawisma ini nanti akan langsung disebar ke kantor-kantor cabang Plester Co. begitu pelatihan di sini selesai. Cuma, Pak, macam yang Bapak tahu … masalah sama geng-geng lain masih—”
“Anda mau pinjam orang-orang saya juga?”
“Bukaaan …, bukan mau pinjam orang-orang Bapak, tapi cuma senjata apinya saja.”
***
Tiga bulan lalu ….
“… terus ngebiarin ribuan karyawanku jadi gelandangan tanpa rumah kayak kalian, hah?”
Ketika Niki berhasil kuyakinkan.
“Apa kamu bilang?!”
“Iya!” Kutunjuk muka si ketua geng macam cara ia menunjukku sebelum ini. “Siapa yang mau hidup luntang-lantung di jalanan, makan dari tong sampah sama sisa-sisa orang, enggak bisa bilang apa-apa pas diusir padahal cuma numpang tidur doang. Siapa …, siapa yang tega lihat orang tua makan nasi yang—yang dah kotor terus, terus dia suap sendiri pake tangan gemetaran, yang kadang nasinya juga jatuh-jatuh lagi?!”
Kutumpahkan semua kesalku akan pemandangan yang pernah kudapati saat mengikuti mereka.
“Niki! Kamu pikir, kamu pikir, kamu pikir kenapa kalian jauh-jauh kudatangin terus kuajak buat kerja?!”
***
“Bos?”
Aku tersentak, bangun dari lamunan soal Niki dkk. terus balik ke suasana riuh Gedung Pelatihan Unit Khusus dan Rahasia, Kompleks Kantor Wali Kota Mungli.
“Seratus enam puluh sembilan kantor kita baru aja kasih laporan balik,” sambung Wiji, alasan kenapa barusan ia memanggil. “Kontrak-kontrak kita resmi ditutup terus semua staf pangkalan dioper ke ladang sama pabrik, pelatihan mereka juga udah pada beres, Bos.”
“Truk sama mobil kantor?”
“Diganti jip sama motor.”
“Bagus.” Aku puas dengar laporan si kepala bagian personalia, Plester Co. sekarang sudah pindah ke koridor yang kumau. “Sisi!”
“Ya, Bos?”
“Kamu sama Stevan ke bank sekarang, cairin tabungan Plester Co., terus borong sisa barang di list kantor kita kemarin—ah, ya! Jangan lupa balikin juga duit pelanggan yang kadung bayar biaya langganan bulan ini. Besok kita bukan perusahaan jasa kelola limbah rumah tangga sama gorong-gorong bawah kota lagi ….”
Hari yang kutunggu semakin dekat.
Persiapan sebelum batu-batu mana tiba-tiba lenyap dan Benua Baru beralih ke era tanpa lampu dengan mesin-mesin berbahan bakar batu kutukan juga selesai.
Hanya tinggal menghitung tanggal lalu, Bdum! Kehidupan sekali lagi jungkir balik macam telapak tangan yang baru dibalikkan ….
***
“Kamu tahu kenapa kita ketemu lagi hari ini ….”
Setelah semua hal di atas, agenda sama Wali Kota Mungli terus persiapan Plester Co. di seratus sembilan puluh kantor utama beserta cabang-cabang kami, kini giliran bintang utama jilid sekarang ‘tuk menentukan pilihan antara hilang bersama kericuhan nanti atau bertahan sesuai mauku. Geng Plester.
“… Niki?”
“Minggu besok seleksi skuad baru buat dikirim ke kantor-kantor cabang sama pangkalan kalian, ‘kan?” tanya gadis rambut pendek berseragam elite seberang mejaku, ruangan yang sama dengan yang kupakai bicara pada Wali Kota Mungli sesaat lalu, kantor pengawas pelatihan lapangan indor di bawah sana. “Kita udah ngelewatin formalitas begini dua bulan, terus aku juga udah lihat kalian beneran kasih anggota-anggota Plester kerjaan.”
Aku senang lihat muka cerah gadis itu.
“Ngomong-ngomong, Mi ….”
Niki selanjutnya beralih ke sofa lantas mengambil mangkuk camilan.
“Bukan aku mau ikut campur, tapi kenapa kamu sama Wali Kota Mungli kayak gak akur?” tanyanya, menoleh dari sofa sambil mengulum lolipop. “Kulihat si gendut tadi keknya ngamuk ke kamu sampai nunjuk-nunjuk muka dari bawah. Kalian ada masalah apa?”
Cek! Aku mundur dari meja lalu pindah ke sofa menyusulnya. Sedang Wiji, duduk di meja menggantikanku memeriksa berkas laporan Geng Plester bulan ini.
“Biasa,” kataku terus senyum, “masalah pelanggan. Hah … aslinya aku manggil kamu bukan cuma buat milih skuad, tapi soal janji ketiga di kesepakatan kita.”
Niki sontak terperanjat, ia cabut lolipop dari mulut lalu mendelik.
“Maksudnya?”
“Selain tempat bernaung sama kerjaan, kemarin aku juga bilang kalau bakal kasih pinjam kalian kekuatan buat balas dendam, ‘kan?” jelasku, merebahkan diri serta coba memejamkan mata di kursi sofa. “Dua yang pertama lunas lewat fasilitas asrama sementara di sini tambah kontrak kerja di dua puluh cabang Plester Co.”
“Bacot!” tukas Niki, terdengar tidak sabar. “Gak usah muter-muter, Ege.”
“Huh.” Kembali, diriku tersenyum mendengar suara gadis itu. “Besok kamu pilih dua skuad terbaik di Plester, kalian bakal kukasih senapan—pinjam dari si gendut, sih. Cuma biarinlah, yang penting utangku sama kamu tambah anak-anak Plester lunas. Abis seleksi bulan ini, kita bakal misah sama Wali Kota Mungli.”
Hening agak lama sebelum sobat lamaku itu lanjut bersuara.
“Ke-kenapa cuma dua skuad?”
“Aslinya aku minta seratus pucuk buat operasi kalian ….” Kubuka mataku lagi. “Cuma, tiga lusin sisanya mau kukirim pabrik. Gak perlu kujelasin buat apa-apanya juga, ‘kan?”
Niki menggeleng dan lepas tangan. Dia lalu menjatuhkan diri ke sandaran sofa. Lenguh yang lantas meletup dari mulut selepas ia mencabut lolipop menyiratkan suatu kepasrahan.
Positif. Kurasa dirinya hanya sedang tidak ingin berpikir ….
***
Kasih tip buat penulis
