Bab 19 Dendam dan Pembalasan

“Bos.”

Enam bulan latihan elite Plester sekarang akan diuji.

Delapan mobil jip terbuka tambah enam belas sepeda motor berbaris menunggui tiga lusin personel di bawah komando Niki bersama tiga rekannya siap ‘tuk menggempur ‘musuh’ lama mereka. Geng Lomen. Kelompok tunawisma Stuckenborstel, alasan si ketua geng keluyuran sampai ke Veres lima tahun terakhir.

Kelompok yang juga pernah memburuku gegara minyak cendana di bagian pembuka cerita ….

“Sisi sama Stevan sudah kontak semua kantor cabang,” sambung Wiji, melaporkan situasi Plester Co. “Besok gerbang-gerbang markas kita bakal ditutup total. Selain di Mungli, shelter lain statusnya jadi akses terbatas.”

“Kalian dengar sendiri, ‘kan?” kataku menyambung laporan si kepala bagian personalia, “habis operasi malam ini markas Plester bakal di-privat. Saya, Wiji, Niki, kalian semua. Skuad Elite Plester. Bukan aset siapa-siapa.”

Enam puluh empat personel di depanku pasang wajah datar, hasil gemblengan selama setengah tahun.

“Sebelum berangkat saya mau bilang sekali lagi. Kalian sekarang sudah punya rumah, pekerjaan ….”

Kulirik senapan di tangan mereka sebelum lanjut bicara.

“Juga kekuatan untuk merebut kembali hak-hak yang pernah dirampas. Benar?”

“Ya!”

“Sekarang kalian bukan lagi gelandangan yang biasa dipandang remeh, dilihat sebelah mata, atau dilirik sinis dan dianggap pengganggu. Bukan! Kalian bukan gelandangan, kalian Skuad Plesteeer!”

“Yaaa!”

“Karena itu pergi!”

Kutunjuk pintu keluar di belakang barisan lalu mengepalkan tangan depan dada.

“Pergi! Pergi tuntaskan apa yang kalian cita-citakan, rebut kembali apa yang mau kalian rebut malam ini, dan tunjukkan bahwa kalian—Skuad Plester, sekarang bukan Geng Plester lama yang dulu cuma bisa lariii …!”

Niki dkk. serentak mengepalkan tangan depan dada meresponsku.

Detik berikutnya. Mereka berhamburan naik ke kendaraan masing-masing, menyalakan mesin, lalu meluncur hendak melunasi apa yang pernah kujanjikan.

Membalas mereka-mereka yang ingin dibalas ….

***

Satu bulan sebelumnya.

“Tadi itu elite yang kamu bilang, Niki?”

Ketika dua skuad terbaik Geng Plester sedang menjalani pelatihan terakhir mereka.

“Kenapa, kamu ada masalah sama orang-orang pilihan aku, Mi, hah?”

“Bukan, bukan hal serius. Heran aja,” akuku yang lantas mengambil dokumen administrasi mereka dari balik mantel lalu mengasongkannya, “di sini kalian hampir setengahnya ditulis bekas tunawisma Stuckeborstel, gak salah?”

“Enggaklah!” balas si ketua geng spontan, “salahnya di mana?”

“Maksud aku, sasaran balas dendam kalin bukan Geng Codet Veres?”

“Bukan!” timpal Niki, jalan ke bangku pinggir lapang terus duduk menungguku. “Kalau mau balas dendam, sasarannya, ya …, bener Geng Lomen.”

Mataku mendelik begitu sampai ke pinggir bangku tempat ia duduk, dugaanku tidak cocok dengan jawaban si gadis hari itu. Kukira mereka mau balas dendam kepada orang-orang Veres gegara terpaksa keluar dari liang-liang drainase bawah kota ….

“Aku enggak bisa lupa cara kita diusir dari Stuckenborstel lima tahun lalu, Mi,” akunya lantas pasang muka senyum, menyembunyikan pahit yang kutahu benar bersemayam di hati kecilnya. “Jadi daripada Geng Codet, anjing-anjing sialan itu lebih pengen kubasmi biar musnah dari muka bumi. Hehe.”

Aku diam sejenak sebelum lanjut menanggapi Niki.

“Kamu tahu …,” kataku kemudian, hendak melanjutkan topik dengan peringatan. “Cuma ngebasmi sebagian anggota Geng Lomen gak nyelesein masalah, cabang bahkan mungkin anak-anak geng lain bakal dateng buat isi tempat sama ambil alih usaha-usaha lama mereka. Secara teknis dendam kalian kebayar, tapi penyakit terus kebusukannya masih berlanjut.”

Niki menatapku.

“Bukan maksud aku mau ngehalang-halangin balas dendam kalian,” tegasku sebelum balas menatap si ketua geng, “tapi coba cari cara yang juga bikin penyakit sama kebusukan mereka bisa berhenti sekali—”

Ocehanku terputus. Lembutnya sentuhan dari bibir gadis itu menahan mataku ‘tuk tetap terbelalak menatap wajahnya yang sangat dekat. Terlalu dekat.

Aku sampai lupa semua yang baru kukatakan ….

“Makasih …,” gumam Niki sambil menghindari mata kami bertemu, sikap yang juga sontak membuat diriku mengalihkan pandangan ke lapang kosong di depan sana. “I-itu pengalaman pertama.”

“Oh.” Aku tidak tahu harus merespons bagaimana. “Ha—”

“Soal balas dendam,” lanjutnya, terdengar berusaha tenang. “Kupikir kalian para cowok sama aja …, kasar …, egois, terus maunya menang sendiri.”

Aku kembali menghadap Niki, reaksi spontan atas gerakan tubuh si gadis.

“Cuma ….” Ia menyentuh daun telinga dan lanjut tersipu. “Kuharap kamu be—”

Segera diriku mundur waktu dirinya hendak mendekat, dan langsung putar badan.

“N-Niki. A-aku baru inget hari ini ada janji sama Wali Kota. Ki-kita bahas balas dendam besok lagi ….”

Selain kabur sambil geleng dari lapang latihan elite Plester, bulan lalu itu aku gagal meyakinkan kapten skuad mereka ‘tuk mengurungkan niat balas dendam. Benar, tadinya pikirku ingin langsung mengirim milisi-milisi terlatih ini ke markas cabang dan menjadikan mereka ujung tombak Plester Co. bersama para pegawai.

Namun, semua bukan terserah apa mauku.

Buktinya sekarang Niki dkk. masih juga kulepas menuju gelanggang pertempuran ….

***

“Pidato yang bagus.”

Mataku langsung menjuling ke arah kiri, memapak pria gendut yang datang bersama asistennya.

“Pantas keluarga dua puluh ribu karyawan perusahaan Anda tak pernah saya dengar mengeluh meski ayah dan suami-suami mereka tidak pernah pulang setelah ekspedisi-ekspedisi gagal selama ini …,” ujar sang wali kota, berhenti tepat sebelah diriku dan Wiji lalu melihat pintu keluar. “Keahlian retorika semacam tadi bukan hasil latihan satu atau dua hari, bukan?”

“Tolong langsung katakan saja apa yang sebenarnya mau Bapak katakan, Pak Wali Kota.”

“Saya harap operasi besok akan lebih baik daripada ekspedisi kita sebelum-sebelumnya,” ujar si gendut, cekak pinggang menghadapku. “Tuan Mi, semua barang saya atur sesuai recana kita. Jika pengiriman kali i—”

“Saya sendiri yang akan mengirim barang Anda, Pak Wali Kota,” timpalku lantas menoleh Wiji, isyarat pada si kepala bagian personalia ‘tuk menyerahkan berkas yang sudah kami siapkan. “Tolong tandatangani berkas acara pengiriman ini dan saya akan langsung berangkat menyusul dua skuad tadi ….”

Wali Kota Mungli tidak banyak bicara setelah itu.

Beliau memeriksa dokumen tadi sebentar, menandatangi, lalu menyuruh asisten sebelahnya menyerahkan dua koper besar yang harus kuantar paling lambat besok kemudian undur diri.

Tidak ada basa-basi atau senyum palsu.

Kami lekas berpisah begitu urusan di gedung fasilitas pelatihan unit rahasia tersebut rampung.

Aku bersama manajerku membawa si Jago menyusul Niki dkk. sementara si empunya kota berlalu diikuti oleh sang ‘asisten’ pribadi kembali ke ruangan tempat mereka menunggu sesaat lalu ….

“Bandot tua,” umpat Wiji begitu sedan hitamku melewati portal keluar area fasilitas rahasia di belakang sana, luapan batin yang sepertinya sudah tertahan selama hampir setengah tahun—kurasa. “Dia gak tahu malam ini bakal jadi momen terakhir mereka.”

“Masih ada satu malam,” balasku sambil senyum dan melirik spion sekilas, “kita juga punya satu malam buat lolos dari mobil-mobil di belakang sama ngejinakin dua bom di bagasi ….”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!