CHAPTER 8

Satu bulan telah berlalu sejak kasus Kevin Anggara berakhir. Seperti biasa, Grace sudah di kantor pukul 9, menyarap roti lapis dan es kopi hitam.

Beberapa hari ini Grace cukup sibuk dengan kasus-kasus kecil. Tidak rumit. Kliennya adalah beberapa kenalan lamanya yang membutuhkan pendapat hukum sebelum mengajukan gugatan.

"Sepi banget..." Dari meja di seberangnya, Mira mengangkat kepala. "Mbak Grace?"

"Hm?"

"Nanti mau makan siang apa? Delivery Sei Sapi mau?" Tanya Mira yang perutnya sudah keroncongan di jam 10 pagi.

Grace menoleh. "Boleh tuh, aku ekstra sambal sama ekstra bayam kering ya."

"Yes, oke Mba." Jawab Mira girang. Mira sudah hafal, kalau pesan makan bareng sama Mbak Grace pasti dia tidak akan mengeluarkan uang pribadinya. 

Mira berlari kecil dan bertanya pelan ke arah Bowo. "Elo mau gak?"

Bowo yang sudah mendengar percakapan Grace dan Mira dari pantry langsung mengangguk setuju.

Sudah empat bulan sejak kantor kecil itu berdiri dengan nama yang masih terlalu baru untuk dikenal banyak orang.

Grace Jasmine Law Firm.

Belum banyak klien, belum banyak uang, belum banyak nama besar. Tapi setidaknya Grace merasa bisa tidur lebih nyenyak.

Ia tidak lagi bekerja untuk orang-orang yang menjadikan hukum sebagai alat untuk menang dengan segala cara.

Grace pernah percaya bahwa seorang pengacara hanya bertugas membela klien. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Pengacara memang berhak membela siapa pun. Tapi Grace tidak ingin membela seseorang yang menginjak orang lain hanya karena orang itu kaya raya dan mampu membayar berapapun demi dinyatakan tidak bersalah.

Grace menatap layar laptopnya lagi, sampai suara ketukan pintu terdengar.

Tok.Tok!

Mira menoleh, dan menyapa ramah. "Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" 

Seorang pria jangkung mengenakan kaos polo shirt biru dongker bergaris, dengan celana jeans dan tas punggung kecil. Ia memberikan tangan tegapnya pada Mira untuk berjabat tangan.

"Saya Andika, teman Grace." 

Mira menerima jabatan tangan Andika dengan grogi dan terpesona oleh ketampanan Andika. "Saya Mira, Resepsionis." 

"Mau ketemu Grace bisa? saya belum buat janji sih."

Sebelum Mira menjawab, Grace mengintip dari belakang laptopnya, karena mendengar suara yang familiar.

"Dika!" Seru Grace berdiri dari kursinya, ia cukup terkejut sekaligus senang melihat teman lamanya berkunjung, tepatnya mantan rekannya dulu di Arman Sudibjo & Partners.

"Silahkan duduk Pak Dika. Mau minum apa?" Mira mempersilahkan Andika duduk di sofa tamu panjang dengan canggung. 

"Kopi hitam panas boleh?" 

"Boleh Pak." Jawab Mira sambil berlalu ke pantry.

Andika adalah salah satu dari sedikit orang di kantor lama mereka yang sering berbeda pendapat dengan partner senior. Dan Grace tahu persis kenapa, karena ia sama seperti dirinya tidak tahan melihat hukum dipelintir hanya demi uang.

"Apa kabar Ibu Grace yang hebat?" ledek Andika sambil mengagumi kantor Grace.

"Ih hebat apaan sih. Gue sehat dong. Elo sendiri gimana?"

"Ah, gue kangen banget sama elo. Sedih enggak bisa lihat elo tiap hari dikantor." Andika membalut perasaan aslinya dengan bercanda.

Grace memukul pelan lengan Andika dengan kepalan tangannya. "Jadi apa nih? pasti elo nyari gue karena ada sesuatu kan?" tebak Grace.

Andika mengangguk, dan wajahnya berubah serius. "Can i be your partner Grace?" Andika yang sudah lama menyimpan rasa sukanya pada Grace sengaja melontarkan pertanyaan terselebung.

Grace melebarkan mata pada Andika, terkejut dan mencoba menerka-menerka maksud pertanyaannya.

Andika mendorong lembut kening Grace dengan jari telunjuknya. "Jadi partner di Grace Jasmine Law Firm, Grace! Mikir apa sih?!" 

Grace masih menatapnya dengan mata sedikit melebar.

"Oh..." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Andika tertawa kecil. "Kenapa? Kaget?"

"Ya iyalah kaget. Gue kira.." Grace menghentikan kalimatnya sendiri.

Andika langsung menyipitkan mata. "Kira apa?"

"Nggak ada." Grace menjawab cepat

"Enggak. Tadi mau ngomong apa?" Andika penasaran,

Grace menggeleng cepat. "Enggak penting, lupain, lupain!"

Andika tersenyum semakin lebar. "Menarik."

"Apanya yang menarik?" Tanya Grace salah tingkah.

"Reaksi elo." Saut Andika yang asik menggoda Grace.

Grace mendengus. "Jangan geer."

"Siapa yang geer?, Elo?" Andika tertawa.

Grace lega ketika Bowo datang membawa kopi untuk Andika.

"Kantor lo bagus, gue suka". Andika melihat sekeliling.

Grace mengangkat alis.

Andika berhenti di dekat sebuah rak yang berisi beberapa buku hukum.

"Dan ternyata elo masih pakai buku-buku yang dulu."

Grace tersenyum. "Masih berguna."

Andika mengambil sebuah buku. "Ini bahkan masih ada coretan elo."

"Balikin."

"Kenapa?"

"Karena itu punya gue."

Andika menyerahkan buku tersebut.

"Masih galak."

"Masih."

Mereka kembali duduk. Kali ini ekspresi Andika berubah lebih serius, menyeruput dalam kopi nya dan terdiam agak lama.

Grace memperhatikannya, ia lalu menyilangkan tangan di depan dada. "Jadi, elo datang ke sini, ngomong mau jadi partner, terus sekarang tiba-tiba diem."

Andika tersenyum kecil. "Memang harus langsung ngomong?"

"Iya."

"Galak."

"Karena gue kenal elo."

Grace menatapnya lekat.

"Gue udah enggak di kantor Arman Grace, gue resign." Senyum Andika perlahan menghilang.

Grace tidak menyela.

"Gue capek, selalu pura-pura nggak lihat."

Grace langsung memahami maksudnya.

"Kasus?"

Andika mengangguk.

"Kasus terakhir yang gue pegang." Andika membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebuah map tebal dan meletakkannya di meja.

Grace menatap map tersebut.

"Ini alasan gue datang ke sini." Ucap Andika.

Grace membuka map berisi dokumen yang tersusun rapi. Surat kepemilikan tanah. Fotokopi identitas warga. Surat somasi. Surat pemberitahuan pengosongan dan beberapa foto.

Grace mengambil foto pertama, sebuah rumah sederhana. Foto kedua, seorang perempuan tua berdiri di depan rumah. Foto ketiga, beberapa warga berkumpul di depan jalan kampung. Foto keempat, membuat Grace berhenti. Sebuah alat berat berdiri beberapa meter dari rumah-rumah warga.

"Ini di mana?"

"Lubuk Hijau." Jawab Andika.

Grace mengangkat wajah."Kasus penggusuran?"

"Iya."

"Klien elo siapa?"

"Warga."

Grace mengernyit. "Warga?"

Andika mengangguk. "Total ada tiga puluh tujuh keluarga yang terdampak langsung."

Grace kembali melihat dokumen. "Tanah mereka mau dibangun apa?"

"Kawasan komersial."

"Perumahan?"

"Bukan cuma perumahan."

Andika menggeser satu dokumen ke hadapan Grace.

"Hotel, apartemen, pusat perbelanjaan kecil, dan kawasan kuliner." Grace membaca cepat.

"Siapa developernya?"

"Baja Caraka." Andika menyebut sebuah nama perusahaan.

Grace terdiam sebentar, ia pernah mendengar nama itu.

"Pemiliknya..."

Andika mengangguk.

"Orang yang sama."

"Orang kaya yang punya beberapa proyek besar di kota ini?"

"Betul."

Grace bersandar dan sudah bisa menebak. "Arman Pengacaranya."

Andika tertawa hambar. "Mereka salah satu klien terbesarnya"

Grace menutup map sebentar. "Dan elo diminta menangani kasusnya."

"Awalnya iya, awalnya gue pikir cuma sengketa tanah biasa."

Grace kembali membuka map.

"Ternyata?"

"Ternyata warga punya bukti kepemilikan."

Grace membaca lebih teliti.

"SHM?"

"Sebagian."

"Sebagian?"

"Sebagian punya sertifikat hak milik. Sebagian lagi punya surat waris dan dokumen lama yang menunjukkan penguasaan tanah turun-temurun."

Grace mengangguk. "Berarti tidak sesederhana perusahaan datang membawa sertifikat lalu warga dianggap ilegal."

"Justru itu." Andika menarik napas.

"Yang bikin aneh, ada beberapa dokumen yang berubah."

Grace langsung berhenti membaca. "Berubah bagaimana?"

"Data batas tanah."

"Perubahan resmi?"

"Nah, itu yang harus kita cari."

Grace menatapnya. "Arman?"

Andika tertawa kecil. "Mereka nggak tertarik mencari."

Grace sudah bisa menebak. "Mereka cuma mau menang."

"Exactly." Andika menyandarkan tubuhnya.

"Partner gue bilang, 'Dik, tugas kita bukan mencari siapa yang benar. Tugas kita memastikan klien kita menang.'"

Grace diam, ia teringat kata-kata yang sama dari masa lalunya. Ia masih ingat bagaimana seorang partner senior pernah menyuruhnya mencari celah hukum untuk memenangkan klien yang jelas-jelas bersalah. Ia masih ingat bagaimana saat ia menolak, ia justru dianggap tidak profesional.

Grace mengangkat wajah. "Jadi elo resign."

Andika mengangguk. "Besoknya."

Grace tersenyum kecil. "Lo memang keras kepala."

Andika menatapnya. "Makanya kita cocok."

Grace berdeham salah tingkah tingkah.

"Maksud gue... cocok kerja." Andika tersenyum.

"I know."

"Jangan macam-macam."

"Gue nggak ngomong apa-apa."

"Tapi muka elo ngomong."

Andika tertawa dan kemudian kembali serius. "Gue datang bukan cuma buat minta pekerjaan, Grace."

Grace menatapnya.

"Gue mau bantu elo membangun kantor ini, sebagai partner." Ucap Andika penuh harap.

"Elo yakin?" Ada sedikit rasa senang di hati Grace, tapi ia tidak mau teman lamanya itu kecewa suatu saat.

"Yakin."

"Lo tahu kantor ini belum menghasilkan banyak."

"Tahu."

"Belum punya banyak klien."

"Tahu."

"Belum punya associate."

Andika melihat ke sekeliling. "Makanya gue datang."

Grace mengernyit. "Maksudnya?"

Andika menunjuk ruangan."Elo sendirian di sini."

Grace tidak menjawab.

"Mira resepsionis sekaligus admin."

Mira yang mendengar namanya langsung menoleh.

"Betul."

Andika menunjuk ke arah pantry.

"Bowo office boy."

Dari dalam pantry terdengar suara gelas diletakkan.

Andika melanjutkan. "Dan elo, satu-satunya pengacara"

Grace yang sudah tau arah pembicaraan ini, hanya terdiam setuju.

"Menurut gue, elo butuh partner."

Grace menatapnya lama. "Tapi kenapa lo pilih kantor ini?"

Andika tidak langsung menjawab, ia menatap Grace sejenak.

"Karena gue tahu cara kerja elo. Gue tahu elo nggak akan mengambil kasus cuma karena bayarannya besar."

Andika berhenti.

"Gue tahu elo masih percaya bahwa hukum itu harus punya batas. Dan gue juga tahu elo nggak takut bilang tidak."

Grace tersenyum kecil. "Kadang itu justru bikin gue kehilangan klien."

"Ya." Andika mengangkat bahu. "Tapi mungkin suatu hari justru itu yang bikin orang datang."

Grace menatapnya, kalimat sederhana yang sepertinya benar.

Andika mengambil map kasus tadi.

"Grace, orang di belakang perusahaan itu punya uang, punya koneksi, punya pengacara."

Grace mengangguk.

Andika menatapnya. "Mereka sudah mulai menekan warga."

Grace membuka kembali dokumen."Diancam?" tebaknya.

"Belum secara terang-terangan." Andika menunjuk beberapa surat.

"Tapi beberapa warga ditawari uang jauh di bawah nilai tanah."

Grace mengerutkan dahi. "Yang menerima?"

"Beberapa."

"Yang menolak?"

"Mereka mulai diberi surat peringatan."

Grace terdiam.

Andika kemudian mengeluarkan sebuah foto, seorang ibu tua duduk di depan rumahnya. Wajahnya terlihat lelah.

"Namanya Bu Marni."

Grace melihat foto tersebut.

"Usianya?"

"Enam puluh tujuh."

"Tanahnya?"

"Warisan dari orang tuanya."

"Dia tinggal sendirian?"

"Iya."

"Anaknya?"

"Merantau."

Grace memperhatikan foto itu.

Andika berkata pelan, "Dia bilang ke gue, 'Mas, kalau saya pergi dari sini, saya harus pulang ke mana?'"

Grace diam.

Andika menatapnya. "Gue nggak bisa jawab."

Grace perlahan menutup map. "Besok kita ke sana."

Andika mengangguk. "Serius?"

"Serius."

"Padahal elo belum setuju gue jadi partner."

Grace menatapnya. "Kalau gue nggak setuju, gue udah potong semua omongan elo dari tadi."

Andika tersenyum. "Berarti..."

Grace berdiri. "Besok jam sembilan."

"Jam sembilan?" Tanya Andika.

Grace mengangguk."Kalau elo mau jadi partner gue, biasakan datang tepat waktu."

Andika ikut berdiri. "Siap, Ibu Grace."

Grace memukul lengannya. "Jangan panggil gue Ibu."

Andika tertawa, lalu tersenyum. "Thanks."

"Untuk?"

"Masih mau percaya sama gue."

Grace menatapnya beberapa detik dan membalas senyumannya.

"Sei sapi datang!" Suara ceria Mira memenuhi ruangan. Ia memesan satu porsi lebih, jaga-jaga kalau Grace akan menawari tamunya ikutan makan siang bersama. Dan yang ternyata feelingnya benar.

"Sebagai karyawan baru, elo harus ikutan makan siang bareng kita ya sekarang." Paksa Grace, merangkul lengan Andika tanpa ia sadar.

Jantung Andika berdegup. Ia tidak pernah merasa sedekat ini dengan Grace sebelumnya. 

"Wah..beneran nih?" Andika melemaskan tubuhnya, membiarkan Grace membawanya ke pantry.

"Mir, pesen satu porsi lagi buat Dika ya." 

"Sudah beres Mbak Grace, aku pesen satu porsi tambahan tadi, hehe" Jawab Mira, bangga pada dirinya sendiri.

"You're the best!" Puji Grace, mengancungkan jempolnya.

"Wah, enak banget nih keliatannya." Andika lebih mendekatkan dirinya ke tubuh Grace.

Wajah Grace memerah, ia tersadar dan langsung melepaskan rangkulannya dari lengan Andika dengan salah tingkah. 

"Selamat datang di Grace Jasmine Law Firm, Pak Andika." Ucap Mira & Bowo.

---

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!