CHAPTER 5
Kevin Anggara tiba pukul 13.30 di kantor Grace. Ia duduk di sofa tamu panjang. Saat itu hanya ada Mira dan Bowo.
"Silahkan kopinya Pak, Mbak Gracenya belum ada. Tapi saya sudah kabari ke Mbak Grace kalo Pak Kevin sudah datang." Ucap Mira sebari meletakkan secangir kopi hangat buatan Bowo.
"Makasih. Iya enggak apa-apa, ini saya yang kecepetan kok datangnya. Tolong sampaikan saja gak perlu buru-buru. Kita memang janjiannya jam dua kok." Kata kevin dengan suaranya yang tenang.
Mira mengangguk dan kembali ke mejanya. Ia mengagumi Kevin dari jauh, terpesona dengan ketampanan dan pembawaannya yang tenang dan santai.
Pukul dua lewat sepuluh Grace datang. Kevin terdiam saat melihat Grace masuk ke ruangan. Entah mengapa, pandangannya berhenti sedikit lebih lama dari seharusnya. Wajahnya cantik tapi bukan cantik yang berlebihan, melainkan jenis kecantikan yang justru membuat orang ingin melihatnya berkali-kali.
Garis wajahnya lembut. Tatapan matanya tenang, seperti sulit ditebak. Hidungnya proporsional, ada lengkung tipis dibibirnya yang membuat ekspresinya terlihat anggun bahkan ketika sedang diam.
"Pak Kevin. Sudah lama nunggu?" Suara lembut Grace menyadarkan Kevin.
"Enggak Kok Mbak, saya memang sengaja menunggu di sini supaya tidak telat." Kevin berusaha menyembunyikan rasa ketertarikan yang baru saja ia rasakan.
Grace duduk di depan Kevin. Ia mengatur nafasnya sebentar dan mulai berbicara.
“Jadi Pak Kevin. Sebelum saya memulai kasus ini, ada satu hal yang harus Pak Kevin tahu,” kata Grace tenang. Ia akhirnya memutuskan untuk memberitahu Kevin tentang apa yang ia khawatirkan.
Kevin menunggu.
“Perusahaan ini, Pratama Group, dulu pernah menjadi klien saya, di kantor sebelumnya. Dan saya juga keluar dari sana, karena tidak ingin mengerjakan kasus ini.” sambung Grace.
Alis Kevin sedikit terangkat karena terkejut. Kevin menatapnya lebih dalam, karena sebenarnya ia sudah tau. Ia pernah melihat nama Grace Jasmine bersandingan dengan Arman Atmaja Law Firm di Partner Database Pratam Group. Hanya saja Kevin terkejut karena ia tidak menyangka bahwa Grace akan menceritakannya lebih awal.
Kevin mengangguk seolah-olah paham dan tidak menjadikannya sebuah masalah. “It's Ok. Apa, kamu tahu sesuatu?”
Grace mengangguk dan cukup terkejut dengan respon singkat dan santai yang ia terima. Ia tidak ingin menceritakan lebih lanjut kejadian malam ia resign, dan langsung mengalihkan pada temuannya di kasus ini.
“Cukup untuk tahu bahwa ini tidak sesederhana yang terlihat.” Grace menuju meja kerjanya mengambil dokumen yang telah ia susun rapi tentang kasus ini.
Mata Kevin megikuti kemana Grace pergi, matanya seakan tidak bisa berpaling untuk memperhatikan hal lain. Mata mereka sempat bertemu sebentar, tapi Grace langsung mengalihkan pandangannya dengan canggung.
Grace kembali duduk di depan Kevin, meletakkan dokumen yang sudah ia print dan susun dari dari flahsdics Kevin kemarin. Ia membuka beberapa halaman, menunjukan pada Kevin bagian-bagian penting yang telah ia tandai, setiap angka, setiap tanggal, dan setiap aliran dana. “Semua transaksi ini mengarah ke Pak Kevin. Tanpa kemungkinan lain.”
Kevin mengangguk pelan. “Itu yang mereka pakai untuk menuduh saya.”
"Menurut Pak Kevin, kenapa mereka begitu terburu-buru memecat Pak Kevin sebelum melaporkannya ke polisi?" tanya Grace, nadanya tenang namun menyelidik yang sudah tahu jawabannya.
"Karena jika saya tetap di sana saat auditor eksternal datang, saya akan menunjukkan di mana mereka menyembunyikan selisihnya," jawab Kevin, ada riak ketegasan yang mendadak muncul di suaranya. "Mereka perlu menyingkirkan saya terlebih dahulu agar mereka bisa mengunci akses saya ke server utama."
Grace mengangguk membenarkan. Matanya terpaku pada sebaris kode transaksi yang berulang di setiap hari Selasa pada laporan keuangan bulan Maret hingga Agustus. Kode itu adalah VND-990-X-OP. Sebuah sub-kode yang sangat spesifik, yang biasanya digunakan untuk pengeluaran darurat atau Over-Payment yang melewati jalur pengawasan reguler.
"Lihat ini," Grace mengetuk jarinya di atas baris angka satu miliar rupiah yang tercetak tebal. "Di sini tertulis akun Pak Kevin yang menginput data pada pukul 13.00. Tapi lihat timestamp otorisasi di kolom sebelahnya. Transaksi ini baru benar-benar lepas dari bank pada pukul 13.08, tepat setelah sistem mencatat akun Pak Kevin keluar secara otomatis karena idle atau tidak ada aktivitas."
Kevin menyipitkan mata, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya tidak pernah memperhatikan jeda waktu itu. Waktu itu, akses saya langsung diputus begitu saya menerima surat pemecatan."
"Di sinilah mereka ceroboh," Grace tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menandakan dia telah menemukan ujung benang kusut ini. "Mereka menduplikasi cara Pak Kevin menginput data saat Pak Kevin sedang tidak berada di meja. Tapi untuk melepaskan dana satu miliar, sistem perbankan korporat Pratama Group membutuhkan token fisik enkripsi tingkat kedua. Siapa yang memegang token untuk kode 'OP' ini, Pak?"
Kevin tertegun. Nama itu tertahan di tenggorokannya sebelum akhirnya terucap pelan, "Pak Gunawan. Direktur Keuangan."
Grace merapihkan kertas-kertas di atas meja, seperti pelajar yang baru saja selesai mengerjakan tugas. Ia menatap Kevin dengan yakin. "Mereka mengira Pak Kevin akan menyerah karena takut dipenjara dan tidak punya cukup nyali untuk membaca ulang jejak digital bank dari dua arah."
Kevin membalas tatapan Grace.
"Ini sudah lebih dari cukup. Kita tidak hanya akan menghadapi tuduhan mereka, kita bisa balik menyerang.
Grace menatap mata Kevin dengan sorot mata yang bersemangat "Kita buat perusahaan itu menyesal karena telah memilih Pak Kevin sebagai korban."
Kevin merasakan secercah harapan dari perkataan Grace. Ia mengangguk pelan dan hampir tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Grace. Kagum karena kepintarannya, pribadinya, dan juga.. ke cantikannya.
Kasih tip buat penulis
