Bab 14 Krisis Energi

“Markas Besar Pertamana di depan mata kita.”

Aku senyum mendengarkan Lame di sebelah. Kami baru saja tiba ke dekat Markas Pertamana, tembok besar dengan tentara lalu lalang di atasnya seberang bukit tempat sedan hitamku terparkir.

“Sekarang apa?”

“Tidak ada,” jawabku terus jongkok dan meraba tanah, “kalau tebakanku benar, Bung, tangki bensin mereka seluas daerah yang dikelilingi tembok besar di sana itu.”

“Cih!” Lame ikutan jongkok. “Kau tahu volume sebanyak itu masih belum cukup bu—”

Kuangkat tangan kiriku, isyarat agar dirinya memberiku kesempatan buat fokus.

“Berapa jumlah perusahaan serupa Pertamana di benua?” tanyaku beberapa saat kemudian, ingin memastikan sesuatu sebelum lanjut berdeduksi. “Jika setiap negara punya satu dan cadangan mereka hampir sama sebanyak ini, maka kemunduran kita ke zaman gelap takkan lebih dari lima tahun.”

“Apanya yang lima tahun?”

“Lima tahun sebelum bensin mereka benar-benar habis—”

“Mustahil!” sanggah Lame yang lalu memberiku alasan kenapa, “dengan ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, motor dan mobil yang melaju setiap hari kurasa bisa lebih cepat daripada itu.”

“Anggap dirimu benar,” kataku lantas berdiri, “sekarang kita punya gambaran berapa waktu yang bisa dipakai buat siap-siap sebelum semua lampu mana di benua mati total.”

“Ngomong-ngomong ….” Lame menahan bahuku sebelum berbalik. “Bung Mi, kau belum memberitahuku apa rencana kalian setelah melihat Markas Pertamana di sini.”

“Apa lagi?” Kujulingi pria kekar kita sebentar terus lanjut balik ke mobil. “Aku sama Plester Co. mau siap-siap biar masih bisa hidup pas uang nanti udah pada enggak laku ….”

Serius. Mungkin kedengaran gila, tapi ketika peradaban mundur boleh jadi kehidupan akan terjungkir seratus delapan puluh derajat bahkan lebih parah. Harga ‘tuk kebutuhan pokok melejit sampai ke langit dan rasa aman mustahil dibeli cuma pakai lembaran kertas sama kepingan koin berangka yang kita semua panggil uang.

Bukan ingin menakut-nakuti.

Hanya. Skenario terburuk masihlah benua hancur pascapanik massal beberapa tahun ke depan atau lebih cepat lagi lalu para penyintas saling tidak percaya kemudian terpecah-pecah ….

***

“Bos.”

“Sisi, tolong nanti kamu ke ruangan saya sama Wiji. Sebelum itu kontak kantor-kantor cabang kita terus suruh mereka ikut rapat via sambungan telepon sore ini ….”

Sekembalinya dari Markas Pertamana diriku langsung memeriksa berkas Plester Co: data pegawai, rincian aset, arsip juga hal-hal terkait; serta segera meminta para kepala cabang hingga penyelia merumuskan rencana guna menghadapi berbagai skenario buruk hasil perkiraan akan masa depan Benua Baru setelah batu mana dan batu-batu kutukan menjadi barang langka.

Besoknya. Kuajak Sisi dan Wiji mendatangi bank, mencairkan setengah hingga dua pertiga simpanan Plester Co., lalu melunasi sisa cicilan gedung, kendaraan, alat-alat kerja sama lanjut membeli perlengkapan bertahan hidup yang menurut rapat hari sebelumnya akan kami butuhkan pada saat-saat krisis nanti.

Satu bulan berselang, gedung-gedung kantor Plester Co. pun mulai berevolusi menuju tempat penampungan sekaligus benteng pertahanan darurat. Melenceng dari niat semula yang hanya ingin lebih siap tatkala Benua Baru mundur ke zaman tanpa energi di masa mendatang.

Dua bulan hingga setengah tahun kemudian dan ….

“Hem.” Aku elus dagu pas lihat tampilan baru Markas Plester Co. di tahun berikutnya. “Saya gak salah alamat, ‘kan, ya? Ini beneran ….”

Kutoleh pegawai kanan kiri.

“Stevan, ini bener Markas Plester Co.?”

“Bener, kok, Bos. Itu tulisannya masih ada ….”

Markas Plester Co. masih berwujud gedung, pencakar langit, terus kinclong bak biasanya.

Namun, halaman luas serta sederet tambahan berupa ‘mes pegawai’ dengan ‘lahan parkir’ truk dan kendaraan-kendaraan baru bikin pangling. Terutama saat Mata Perak kupakai ‘tuk mengintip isi dalam mereka juga apa-apa saja yang ada di bunker bawah tanahnya ….

***

“Bung Mi.”

Ketika persiapan dengan segala kegaduhan di atas selesai lalu keributan-keributan kecil akibat harga BBM dan sumber energi kian meroket mulai sporadis.

“Bung.” Kehidupanku sebagai CEO Plester Co. berlanjut. “Bagus kau masuk kantor hari ini. Kemari-kemari. Coba lihat apa yang kutemukan di selokan kalian ….”

Aku masih bolak-balik Yotaar sama kota-kota lain di sekitar dan paling jauh masih mengunjungi Xelowa buat gantian menyapa sobat kekar bertatoku, Bung Lame.

“Kau gak akan percaya,” lanjutku menjelaskan isi akua bekas di tangan, “air ini punya kandungan bensin.”

Pria kekar kita sedikit mencondongkan badan, mengendus, lalu cepat-cepat mundur dan menutupi hidungnya pakai tangan. Gerakan mata dengan perubahan air mukanya pas itu rada bikin geli. Cuma sudahlah, aku lanjut membuang benda di tangan kembali ke selokan.

“Kuyakin bukan cuma kita yang sadar kalau masih ada ceceran bensin di selokan dekat pom-pom mini begini, Bung,” tuturku sambil jalan ke halte tak jauh dari tempatku menyinduk air selokan, “dan kita butuh cara buat menjaga ini supaya tetap di antara kita—atau kita monopoli saja! Bagaimana?”

“Pikiranmu berlebihan, Bung Mi.”

Kutoleh si aparat penegak hukum kemudian duduk di bangku halte.

“Kantorku sebelah pom mini sana,” ujar Lame, berdiri dan menyalakan rokok sebelahku. “Kulihat baru kau yang iseng memeriksa selokan macam tadi. Huh ….”

“Orang-orang hanya belum tahu cara—”

“Aku sudah mendatangi kota-kota di surat yang kaukirim,” sela si aparat penegak hukum, mengangkat topik dengan isu yang sedang kutunggu sejak beberapa bulan lalu. “Huh … seperti katamu, mereka hidup dari sisa-sisa tempat sampah dan bermalam di saluran drainase kota.”

Kusenyumi pria kekar kita.

“Terima kasih—”

“Aku belum selesai …,” potong sobat penjelajah malamku itu, ia buang puntung rokoknya yang masih sangat panjang lantas pindah dan duduk di bangku bersamaku. “Kau mau apa setelah menemukan mereka?”

Yang kami bahas saat itu para tunawisma Stuckenborstel.

Geng Plester. Kelompok Pareta dan Niki kalau kalian masih ingat. Orang-orang yang suka atau tidak telah membantuku berkompromi dengan gegar budaya pada keasingan Benua Baru zaman ini.

“Anggap saja aku punya hutang budi pada mereka, Bung Lame.”

Lame mendongak gemas sebelum lanjut tanya.

“Kau tidak sedang menggodaku, ‘kan? Bung Mi, kita ini teman lama. Beri tahu saja apa rencana kalian dan kujamin mereka takkan mengganggu usaha-usaha Ples—atau jangan-jangan kau mau merekrut orang-orang tanpa rumah itu buat jadi ujicoba sama penyelundup obat terlarang, ya, hah?!”

“Sialan!” Sudut-sudut bibirku spontan naik dengar dugaan liar si aparat penegak hukum. “Kalaupun benar aku punya niat jahat pada mereka, kau harusnya jadi orang pertama yang menangkapku terus naik jabatan, ya, ‘kan. Ada-ada saja. Hahaha ….”

Entah niatku ini benar atau salah.

Geng Plester mau kurekrut dan kudanai supaya terorganisir, tidak berantakan, serta lebih terarah sama punya tujuan jelas kenapa mereka perlu ada. Soal apa yang kelompok itu lakukan saat niat tadi terlaksana jujur belum kupikirkan sama sekali, mungkin setelah ini.

Diriku sekarang hanya ingin mereka supaya bisa bertahan menghadapi krisis energi sama tidak terseret limpasan arus kepanikan massal beberapa waktu mendatang, itu saja. Titik.

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!