Bab 15 Gorong-Gorong Bawah Kota

“Hampir lima tahun dan mereka masih sama ….”

Aku turun dari mobil lalu mengganti Mantel Ungu dengan Mantel Jerami—masih mantel pertapa, tapi sedikit lebih merakyat ketimbang jubah tetua sekte pertama. Selanjutnya kuketuk kaca pintu si Jago pakai buku jari, isyarat agar sedan hitam satu itu melaju dan mencari tempat buat menepi sendiri.

Urusan di kota ini menuntutku ‘tuk tidak menunjukkan isi dompet ….

***

“Buat apa kamu ke sini?”

Tadinya, kupikir bicara dengan teman akan lebih mudah karena pernah punya pengalaman selingkung.

“Cuma kebetulan mampir terus lihat kalian.” Ternyata enggak juga. “Iseng aja main ke sini ….”

Niki, dengan gaya khasnya, cekak pinggang dan mendongak pas dua anggota Plester membawaku ke kemah sementara mereka dekat mulut terowongan pengendali banjir bawah kota Veres—sangat ‘ramah’ buat ukuran kawan lama. Penampilan si ketua geng juga tidak banyak berubah, cuma ada tambahan pelindung di kedua kaki sampai lutut sama sarung tangan berduri sebelah kanan. Rambutnya masih sependek lima tahun lalu.

“Gimana usaha kamu, Mi?” tanyanya, terdengar mengejek serta sesinis saat ia melihat papan dada hari pertama Plester Co. kumulai. “Masih mulungin sampah di Sebek, ‘kan?”

Aku celingak-celinguk, terus jalan dan duduk di sofa bekas rusak dekat dinding.

“Aku udah gak di Sebek—”

“Bangkrut, ya?!” potong Niki yang juga menyambar kursi lipat kemudian duduk di depanku, “jadi ceritanya sekarang kamu mau minta gabung sama kita lagikah?”

Hem. Aku sudah ingin menyangkal, tapi pas ingat rencana segera kutahan diri terus lanjut rebahan saja.

“Jubah baru kamu emang lebih cocok daripada yang kemarin, Mi.”

“Emang kenapa sama yang kemarin?”

“Kebagusan!” timpal si ketua geng sambil buang muka, “yang sekarang ini baru pas buat gelandangan kayak kita-kita—eh, ya! Jubah itu kamu jual apa gimana?”

“Yang ini dari jerami, aslinya bukan gelandangan doang yang bisa pake. Enggak usah bahas jubah, aku aslinya pengen ajak kalian kerja. Ngehasilin uang sendiri.”

Kalian tahu, atmosfer lembap gorong-gorong setengah gelap itu tiba-tiba jadi mencekam. Bukan karena apa-apa, perubahan aura Niki sama gerakan anggota-anggota Plester di belakang pas dengar tawaranku tadi sontak menghadirkan kesan sunyi ke tengah-tengah kami. Apalagi setelah delikan si ketua geng mencegah anak-anak buahnya tersebut buat berani mendekat.

“Maksudnya ikut jadi pemulung kayak kamu?”

“Bukan.” Kurapikan dudukku sebelum lanjut berkata, “Kerjaan beneran, kalian dibayar terus dapat ma—”

“Pergi!” Yang, sialnya, langsung kena tolak tanpa diberi kesempatan buat dapat pertimbangan. “Gak usah sok baik, baju kamu aja enggak lebih bagus dari yang terakhir kita bareng dulu.”

‘Hem. Padahal yang ganti cuma mantelnya doang,’ batinku lantas coba membujuk Niki. “Serius. Ini aku mau nawarin kerjaan beneran, kalian bakal dibayar buat—”

“Cukup!” Si ketua geng mendelik, aura sekitar dirinya ikut menajam saat itu, dan ia kemudian bangkit. “Pintu keluar ada di sana, gak perlu kuantar, ‘kan?”

Cek! Karena situasi tumbuh ke luar rencana, kukira obrolan kami harus kujeda dulu.

“Aku masih bakal ada di Veres beberapa waktu ini,” ujarku sambil berdiri, “kamu bisa cari—”

“Simpan saja bualan kamu buat kelompok lain ….”

Percobaan pertama gagal.

Diriku tidak tahu kenapa Niki sangat sensitif hari itu, tapi aku juga tidak bertanya. Jadi kusimpan penasaranku lalu pergi dari gorong-gorong pengendali banjir tersebut tanpa memikirkan apa-apa.

Namun, kegagalan tadi ibarat sebuah pukulan.

Meski tidak keras, tetap terasa menyebalkan.

Aku tidak suka ….

***

“Hallo?”

Belajar dari pengalaman, kali ini aku tidak ingin buru-buru menemui Niki atau anggota-anggota Geng Plester lain. Kuputuskan buat menyelidiki mereka sebelum mencoba kembali di kemudian hari.

Supaya kegagalan di atas tidak terulang ….

“Hallo, Sisi?” tanyaku, coba memastikan suara di seberang gagang telepon betulan milik si manajer keuangan. “Kamu kenal suara saya?”

“Bos?”

“Bagus. Saya keknya gak bakal balik Markas cepat-cepat, jadi tolong dengar apa yang mau saya bilang ke kamu sekarang ini baik-baik ….”

***

Hem.

Sembari menunggu hasil obrolan dengan Sisi, kukira aku bisa keliling kota yang dipanggil surga hiburan tanpa malam ini sebentar. Veres.

Sekalian mencari cara biar Geng Plester mau pas nanti kubujuk lagi ….

“Permen kapas yang itu berapaan, Pak?”

“Lima suth saja.”

“Satu.”

Ngomong-ngomong.

Veres ini jenis kota yang sebelas dua belas sama Mungli, punya citra ganda. Siang di sini cerah, kegiatan orang-orangnya rapi, jadwal mereka jelas serta sebagian besar sangat tertata, terus kesan pertama waktu diriku kemari tiga bulan lalu pun sangat-sangatlah baik. Aku tidak pernah linglung pas mencari alamat.

Kalau malamnya, sebaiknya jangan kalian tanya.

“Ada raziaaa!”

Saking tertatanya Veres juga dikenal dengan julukan: Kota Seratus Hukum.

Lantaran menggantungkan ekonomi pada sektor hiburan dan pariwisata, dia terpaksa harus menghadirkan ilusi superaman demi menarik para pelancong supaya terus berdatangan. Hasil akhirnya jelas, sederet perangkat hukum berisi aturan ketat yang menguntungkan segelintir pebisnis di industri terkait.

Razia pedagang kaki lima semacam tadi buntutnya menjadi pemandangan lumrah, bukti bahwa surga hiburan tanpa malam itu di satu sisi juga gagal menyediakan ‘ketenteraman’ bagi sebagian penduduk-penduduknya—ini sekaligus bahan buat kalian kalau termasuk jenis pemikir kritis sama ahli-ahli curiga garis keras. Hehe.

“Ke-kenapa kamu ikut lari?”

Eh? Benar juga. Yang kena razia kan pedagang kaki lima.

“Ke-kenapa saya lari, ya?”

“Lah, kok, malah tanya?”

Aku garuk kepala merespons lirik beserta delik-delik heran mata para pedagang yang berhasil lolos dari kejaran aparat keamanan di taman kota sebelum ini. Sama, diriku pun saat itu tidak tahu kenapa tadi malah ikutan lari.

Mungkin kebawa suasana.

Saking paniknya sampai lupa diri—entah, tapi.

“Kamu itu aslinya apa, tah?” tanya salah seorang pedagang, duduk selonjoran sambil mengistirahatkan badan di trotoar. “Bukan pengamen, ya, ‘kan?”

“Dia tadi beli dagangan saya, kok,” timpal pedagang lain, penjual permen kapas sebelumnya. “Uangnya bagus. Masa, ya, hasil ngamen. Gak mungkinlah.”

“Eh, bisa aja. Kita, kan, gak tahu.”

“Daripada nebak-nebak terus salah, mending tanya o—eh?! Orangnya mana?”

“Lah, iya, orangnya barusan mana …?”

Banyak hal tidak kupahami.

Biasa kulihat, tetapi tidak pernah kupikirkan.

Veres termasuk di antaranya. Aku kebilang abai akan realitas sosial di balik apa-apa yang telah kota ini sajikan pada pengalaman pertamaku tiga bulan lalu. Terus terang saja ….

Pertanyaan. Jikalau diberi kesempatan berlibur ke surga hiburan macam Veres selama satu atau dua pekan, apa kalian akan menyempatkan diri ‘tuk sedikit menjelajahi jalan seberang hotel buat menambah rasa ‘penasaran’ atau hanya akan tetap menikmati waktu dan jadwal libur kalian?

Kita tidak sedang menghakimi, apa pun pilihan kalian nanti hal itu bukan aib. Titik.

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!