Login Daftar - Gratis

Mengenal Diri Sendiri Lagi

Di publikasikan 12 Feb 2026 oleh _didiable

Ada satu masa dalam hidup ketika aku merasa seperti orang asing bagi diriku sendiri. Aku bangun pagi, mandi, berpakaian rapi, berangkat kerja, menyelesaikan tugas, tertawa dengan orang lain, pulang, makan malam, lalu tidur. Rutinitas berjalan seperti biasa. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Bahkan mungkin terlihat stabil. Tapi di dalam, ada sesuatu yang terasa… jauh. Seperti ada jarak antara aku yang menjalani hari dan aku yang seharusnya merasa hidup. Aku tidak ingat kapan tepatnya itu dimulai. Mungkin perlahan. Mungkin sejak aku terlalu sibuk menjadi seseorang yang dibutuhkan orang lain. Mungkin sejak aku terlalu sering menunda apa yang sebenarnya ingin kurasakan. Atau mungkin sejak aku belajar menyesuaikan diri sampai lupa bentuk asliku. Yang jelas, suatu hari aku sadar: aku tidak benar-benar mengenal diriku lagi. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku tahu apa yang diharapkan dariku. Aku tahu bagaimana harus bersikap. Tapi aku tidak tahu lagi apa yang sebenarnya aku inginkan. Dan itu menakutkan. Bukan karena hidupku buruk. Bukan karena ada tragedi besar. Justru karena semuanya terlihat normal. Stabil. Aman. Tapi di balik semua itu, aku merasa seperti menjalani hidup dengan autopilot. Seperti seseorang yang menjalankan rutinitas tanpa benar-benar hadir di dalamnya. Aku pernah duduk diam di kamar setelah hari yang panjang. Tidak ada masalah besar hari itu. Tidak ada konflik. Tidak ada kejadian dramatis. Tapi aku merasa kosong. Aku membuka ponsel, menutupnya lagi. Aku menyalakan lampu, mematikannya lagi. Aku duduk di tepi tempat tidur dan bertanya dalam hati: “Aku ini sebenarnya siapa sekarang?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi jawabannya tidak mudah. Dulu, aku merasa mengenal diriku. Aku tahu apa yang kusukai. Aku tahu hal-hal yang membuatku bersemangat. Aku punya mimpi-mimpi kecil yang terasa hidup. Tapi seiring waktu, semua itu seperti terkubur di bawah kewajiban, rutinitas, dan harapan-harapan yang datang dari luar. Aku menjadi versi diriku yang fungsional. Versi yang bisa diandalkan. Versi yang terlihat baik-baik saja. Tapi entah kapan aku berhenti menjadi versi yang benar-benar jujur. Ada masa ketika aku terlalu fokus pada peran. Peran sebagai pekerja. Peran sebagai anak. Peran sebagai teman. Peran sebagai orang yang “harus kuat”. Tanpa sadar, aku mengisi hari-hariku dengan memenuhi peran-peran itu sampai lupa menanyakan satu hal penting: Apa yang sebenarnya aku rasakan? Aku terbiasa menjawab, “Aku baik-baik saja,” bahkan ketika aku tidak yakin itu benar. Aku terbiasa berkata, “Tidak apa-apa,” bahkan ketika ada bagian dalam diriku yang lelah. Aku terbiasa menunda mendengarkan diriku sendiri, karena ada hal lain yang lebih mendesak, lebih penting, atau lebih terlihat. Lama-lama, aku jadi tidak terbiasa mendengar diriku. Dan ketika akhirnya aku mencoba mendengarkan, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Mengenal diri sendiri lagi ternyata tidak sesederhana mengingat hal-hal yang kusukai. Ini bukan soal hobi atau warna favorit. Ini tentang berani duduk bersama diri sendiri tanpa distraksi, tanpa peran, tanpa topeng. Ini tentang berani mengakui bahwa ada bagian dari diriku yang berubah. Ada bagian yang tumbuh. Ada bagian yang mungkin terluka. Ada bagian yang mungkin lelah. Dan semuanya perlu dilihat, bukan diabaikan. Awalnya terasa canggung. Seperti bertemu seseorang yang sudah lama tidak kutemui. Aku mencoba bertanya pada diriku: apa yang sebenarnya membuatku lelah akhir-akhir ini? Apa yang membuatku bahagia, walau kecil? Apa yang sering kuhindari? Apa yang sebenarnya ingin kukatakan tapi selalu kutahan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak langsung menghasilkan jawaban. Tapi setidaknya, aku mulai membuka ruang. Ruang untuk jujur. Ruang untuk merasa. Ruang untuk tidak selalu harus tahu. Ada satu malam ketika aku pulang kerja dalam keadaan sangat lelah. Bukan lelah fisik saja, tapi lelah yang terasa sampai ke pikiran. Aku duduk di kursi tanpa menyalakan televisi, tanpa membuka ponsel. Aku hanya duduk. Hening. Dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku tidak mencoba mengalihkan perasaan itu. Aku membiarkannya ada. Aku menyadari bahwa selama ini aku sering mencoba “memperbaiki” diriku terlalu cepat. Begitu merasa tidak enak, aku langsung mencari distraksi. Begitu merasa kosong, aku langsung mengisi waktu dengan sesuatu. Begitu merasa lelah, aku menekan diri untuk tetap produktif. Aku jarang memberi ruang untuk sekadar merasakan tanpa harus segera mengubahnya. Padahal, mungkin yang paling kubutuhkan bukan solusi. Tapi kehadiran. Kehadiran untuk diriku sendiri. Mengenal diri sendiri lagi bukan berarti harus langsung menemukan jawaban besar tentang hidup. Kadang, itu hanya berarti memperhatikan hal-hal kecil: kapan aku merasa tenang, kapan aku merasa tegang, apa yang membuatku merasa pulang, apa yang membuatku merasa jauh. Aku mulai memperhatikan hal-hal sederhana. Bagaimana rasanya berjalan pulang di sore hari. Bagaimana rasanya minum teh hangat setelah hari panjang. Bagaimana rasanya ketika aku tertawa tanpa dibuat-buat. Hal-hal kecil itu seperti petunjuk. Seperti jejak yang mengarah kembali ke diriku. Aku juga mulai belajar mengakui bahwa aku berubah. Bahwa diriku yang sekarang mungkin tidak sama dengan diriku lima tahun lalu. Dan itu tidak salah. Tidak semua perubahan berarti kehilangan. Kadang, perubahan hanya berarti hidup berjalan. Pengalaman bertambah. Luka datang dan sembuh. Cara pandang bergeser. Masalahnya bukan pada perubahan itu. Masalahnya ketika aku tidak memberi waktu untuk mengenali diriku yang baru. Aku pernah merasa bersalah karena tidak lagi menyukai hal-hal yang dulu kusukai. Aku pernah merasa aneh karena kebutuhanku berubah. Aku pernah merasa bingung karena prioritas hidupku tidak lagi sama. Tapi semakin aku memikirkannya, semakin aku sadar: mengenal diri sendiri adalah proses yang terus berjalan. Bukan sesuatu yang sekali selesai. Kita tidak mengenal diri sekali untuk selamanya. Kita mengenal diri berulang kali, di setiap fase hidup. Ada versi diriku yang dulu sangat bersemangat mengejar banyak hal. Ada versi diriku yang sekarang lebih ingin tenang. Ada versi diriku yang dulu takut sendirian. Ada versi diriku yang sekarang justru menemukan ruang bernapas dalam kesendirian. Semua versi itu tetap aku. Tidak ada yang salah. Yang perlu kulakukan hanyalah berhenti memaksa diriku menjadi versi lama yang mungkin sudah tidak cocok lagi. Mengenal diri sendiri lagi juga berarti berani melihat hal-hal yang tidak nyaman. Melihat luka-luka kecil yang selama ini kuabaikan. Melihat kebiasaan-kebiasaan yang ternyata melelahkan. Melihat cara-cara lama yang tidak lagi membantu. Itu tidak mudah. Tapi itu perlu. Karena bagaimana mungkin aku bisa merawat diriku jika aku tidak benar-benar tahu siapa yang sedang kurawat? Ada hari-hari ketika aku masih merasa jauh dari diriku sendiri. Masih ada momen ketika aku kembali ke autopilot. Masih ada saat ketika aku lupa mendengarkan. Tapi setidaknya sekarang aku sadar. Aku tahu bahwa jarak itu ada. Dan kesadaran itu membuatku bisa kembali, pelan-pelan. Aku tidak lagi menuntut diriku untuk selalu jelas. Aku tidak lagi memaksa diriku untuk selalu yakin. Aku belajar menerima bahwa kadang aku hanya perlu duduk bersama diriku tanpa harus langsung memahami semuanya. Kadang, mengenal diri sendiri lagi berarti bertanya dengan lembut: “Apa yang sebenarnya kamu butuhkan hari ini?” Dan membiarkan jawabannya datang perlahan. Aku mulai menyadari bahwa diriku tidak hilang. Ia hanya tertutup oleh banyak hal. Tertutup oleh rutinitas, oleh peran, oleh kebiasaan menunda perasaan. Tapi ketika aku mulai membuka ruang, ketika aku mulai jujur, ketika aku mulai hadir, aku bisa merasakannya lagi. Sedikit demi sedikit. Ada ketenangan yang muncul ketika aku tidak lagi berpura-pura tahu segalanya. Ada kelegaan ketika aku mengakui bahwa aku masih belajar mengenal diriku. Ada rasa hangat ketika aku menyadari bahwa aku tidak harus selalu menjadi versi terbaik. Cukup menjadi versi yang jujur. Mungkin itulah inti dari mengenal diri sendiri lagi: bukan menemukan jawaban yang sempurna, tapi berani kembali mendengarkan. Mendengarkan tanpa menghakimi. Mendengarkan tanpa buru-buru memperbaiki. Mendengarkan tanpa membandingkan. Hanya mendengarkan. Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan benar-benar merasa sepenuhnya mengenal diriku. Mungkin tidak. Mungkin proses ini akan terus berjalan seumur hidup. Tapi sekarang, setidaknya aku tidak lagi merasa sepenuhnya asing. Aku mulai mengenali suaraku sendiri. Aku mulai mengenali batas-batasku. Aku mulai mengenali hal-hal yang membuatku merasa hidup. Dan itu sudah cukup. Aku tidak harus langsung menemukan semua jawaban. Aku hanya perlu terus kembali. Kembali ke diriku.

Pulang ke Diri Sendiri

Overthinking Malam Hari

Di publikasikan 12 Feb 2026 oleh _didiable

Malam selalu punya cara untuk membuat segalanya terasa lebih besar. Di siang hari, aku bisa sibuk. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, percakapan yang harus dijawab, hal-hal yang harus diurus. Waktu berjalan cepat, dan pikiranku ikut bergerak mengikuti ritme itu. Ada distraksi. Ada aktivitas. Ada alasan untuk tidak terlalu memikirkan banyak hal. Tapi malam berbeda. Saat lampu mulai redup dan dunia di luar melambat, pikiranku justru sering menjadi lebih ramai. Hal-hal yang tadi siang terasa biasa saja tiba-tiba terasa penting. Percakapan kecil terulang di kepala. Kesalahan kecil terasa lebih besar. Kekhawatiran yang sempat tertunda muncul satu per satu. Aku berbaring, mencoba tidur. Tapi pikiranku belum selesai. Aku memikirkan apa yang sudah terjadi hari ini. Apa yang mungkin seharusnya kukatakan. Apa yang mungkin salah. Apa yang mungkin akan terjadi besok. Kadang aku memikirkan hal-hal dari masa lalu. Hal-hal yang sebenarnya sudah lewat. Hal-hal yang tidak bisa diubah. Tapi tetap saja muncul. Kadang aku memikirkan masa depan. Hal-hal yang belum tentu terjadi. Kemungkinan-kemungkinan yang belum jelas. Skenario yang bahkan belum tentu nyata. Pikiran berjalan tanpa henti. Dari satu topik ke topik lain. Dari satu kekhawatiran ke kekhawatiran berikutnya. Dan semakin aku mencoba menghentikannya, semakin keras ia berbicara. Overthinking di malam hari terasa berbeda. Ia sunyi tapi bising. Sepi tapi ramai. Tenang tapi gelisah. Aku tahu aku tidak sendirian dalam hal ini. Banyak orang mengalami hal yang sama. Siang hari terasa bisa dilalui. Tapi malam hari menjadi ruang di mana semua pikiran yang tertunda akhirnya muncul. Ada sesuatu tentang malam yang membuat kita lebih jujur. Tidak ada lagi distraksi besar. Tidak ada lagi hal mendesak. Tidak ada lagi peran yang harus dimainkan. Hanya kita dan pikiran kita sendiri. Dan kadang, itu terasa berat. Aku pernah mencoba melawan overthinking dengan berbagai cara. Mengalihkan perhatian dengan ponsel. Menonton sesuatu sampai mengantuk. Mendengarkan musik. Mengisi pikiran dengan hal lain. Kadang berhasil. Kadang tidak. Karena overthinking bukan hanya tentang pikiran yang aktif. Ia sering kali tentang emosi yang belum selesai. Tentang perasaan yang belum sempat dirasakan di siang hari. Tentang kekhawatiran yang tidak diberi ruang. Siang hari kita sibuk berfungsi. Malam hari kita mulai merasakan semuanya. Aku mulai menyadari bahwa overthinking di malam hari sering datang ketika aku terlalu lama menunda mendengarkan diriku sendiri. Ketika siang hari dipenuhi aktivitas, aku tidak memberi ruang untuk memproses apa yang kurasakan. Jadi malam hari menjadi waktu di mana semuanya muncul sekaligus. Pikiran mencoba mengejar semua yang tertunda. Emosi mencoba mendapatkan perhatian. Hati mencoba berbicara. Aku pernah merasa kesal pada diriku sendiri karena tidak bisa “mematikan” pikiran. Kenapa aku tidak bisa langsung tidur? Kenapa aku harus memikirkan semuanya? Kenapa pikiranku tidak bisa tenang? Tapi semakin aku memaksakan diri untuk berhenti berpikir, semakin sulit rasanya. Seperti mencoba memaksa air berhenti mengalir dengan tangan kosong. Lalu aku mulai mencoba pendekatan yang berbeda, bukan menghentikan pikiran, tapi mendengarkannya dengan lebih lembut. Aku mulai memperhatikan apa yang sebenarnya muncul. Apakah aku khawatir tentang sesuatu? Apakah ada hal yang belum selesai? Apakah ada emosi yang belum sempat kurasakan? Kadang jawabannya sederhana: aku hanya lelah. Kadang jawabannya lebih dalam: ada hal yang mengganggu tapi belum kuakui. Overthinking sering kali bukan musuh. Ia sinyal. Sinyal bahwa ada sesuatu yang butuh perhatian. Masalahnya, kita sering mencoba menutup sinyal itu tanpa benar-benar mendengarkan pesannya. Kita ingin cepat tidur. Ingin cepat tenang. Ingin cepat selesai. Tapi pikiran tidak selalu bekerja seperti itu. Aku mulai mencoba memberi ruang kecil sebelum tidur. Bukan ruang untuk memikirkan semua hal. Tapi ruang untuk jujur. Beberapa menit tanpa layar. Beberapa menit untuk bernapas. Beberapa menit untuk bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya kupikirkan?” “Apa yang sebenarnya kurasakan?” Tidak selalu ada jawaban yang jelas. Tapi pertanyaan itu membantu. Aku mulai menyadari bahwa sebagian besar kekhawatiran di malam hari berasal dari keinginan untuk mengontrol. Mengontrol masa depan. Mengontrol kesalahan. Mengontrol bagaimana orang lain melihatku. Mengontrol hal-hal yang sebenarnya di luar kendaliku. Dan itu melelahkan. Kita tidak bisa mengontrol semuanya. Kita tidak bisa memastikan semua berjalan sempurna. Kita tidak bisa menghindari semua kemungkinan buruk. Menerima hal itu tidak selalu mudah. Tapi ada kelegaan kecil ketika kita berhenti mencoba mengendalikan segalanya. Aku mulai berkata pada diriku sendiri, “Tidak semua harus diselesaikan malam ini.” “Tidak semua harus dipikirkan sekarang.” “Tidak semua kekhawatiran adalah kenyataan.” Kadang kalimat-kalimat itu membantu. Kadang tidak. Dan itu tidak apa-apa. Overthinking tidak selalu hilang begitu saja. Tapi kita bisa belajar bersikap lebih lembut pada diri sendiri saat mengalaminya. Daripada marah karena tidak bisa tidur, aku mencoba memahami kenapa pikiranku aktif. Daripada memaksa diri untuk langsung tenang, aku mencoba memberi waktu untuk pelan-pelan turun. Kadang aku hanya duduk sebentar di tempat tidur, menarik napas perlahan, dan membiarkan pikiranku berjalan tanpa menilai. Seperti menonton kereta lewat tanpa harus naik ke semua gerbongnya. Tidak semua pikiran harus diikuti. Tidak semua kekhawatiran harus dipercaya. Tidak semua skenario harus dianalisis. Sebagian hanya lewat. Malam hari memang sering memperbesar hal-hal kecil. Kesalahan kecil terasa besar. Kekhawatiran kecil terasa mendesak. Pikiran kecil terasa penting. Tapi pagi sering membawa perspektif yang berbeda. Hal-hal yang terasa sangat besar di malam hari kadang terasa lebih ringan di siang hari. Itu membuatku belajar untuk tidak selalu mempercayai semua pikiran yang muncul di tengah malam. Bukan berarti mengabaikannya sepenuhnya. Tapi juga tidak harus memperlakukannya sebagai kebenaran mutlak. Aku ingin kamu tahu, jika malam hari sering terasa berat karena pikiran yang tidak berhenti, kamu tidak sendirian. Jika kamu sering berbaring dan memikirkan banyak hal sekaligus, kamu tidak aneh. Jika kamu merasa lelah dengan pikiranmu sendiri, itu manusiawi. Pikiran kita mencoba melindungi. Mencoba mempersiapkan. Mencoba memahami. Tapi kadang, ia terlalu keras bekerja. Dan mungkin yang kita butuhkan bukan mematikannya sepenuhnya, tapi menenangkannya dengan lebih lembut. Mengakui bahwa kita sudah melakukan yang bisa kita lakukan hari ini. Mengakui bahwa tidak semua hal harus diselesaikan sekarang. Mengakui bahwa kita boleh beristirahat meski hidup belum sepenuhnya rapi. Malam tidak harus selalu menjadi ruang kecemasan. Ia bisa menjadi ruang istirahat. Ruang pelan. Ruang untuk menutup hari dengan sedikit lebih lembut. Tidak sempurna. Tidak selalu berhasil. Tapi cukup. Karena kadang, satu-satunya yang benar-benar kita butuhkan sebelum tidur adalah mengingatkan diri sendiri: hari ini sudah cukup.

Pulang ke Diri Sendiri

Kosong di Tengah Ramai

Di publikasikan 12 Feb 2026 oleh _didiable

Ada masa dalam hidupku ketika semuanya terlihat baik-baik saja, tapi di dalam terasa hampa. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada masalah yang bisa dijelaskan panjang lebar. Hari-hari berjalan normal. Aku bekerja, berbicara dengan orang-orang, tertawa di waktu yang tepat, menyelesaikan tanggung jawab. Dari luar, tidak ada yang tampak salah. Tapi di dalam, ada ruang kosong yang sulit dijelaskan. Bukan sedih yang meledak-ledak. Bukan marah yang jelas arahnya. Bukan putus asa yang dramatis. Hanya kosong. Kosong yang membuatku bertanya, “Kenapa rasanya seperti ini?” Kosong yang membuatku merasa datar, bahkan saat seharusnya merasa senang. Kosong yang datang diam-diam dan menetap tanpa suara. Aku pernah berada di tengah keramaian—bersama teman, keluarga, rekan kerja—dan tetap merasa sendirian. Bukan karena mereka tidak peduli. Bukan karena mereka tidak baik. Tapi karena aku sendiri tidak benar-benar hadir di dalam diriku. Aku ada di sana secara fisik. Tapi pikiranku jauh. Perasaanku seperti tertutup lapisan tipis yang membuat semuanya terasa redup. Aku tersenyum. Aku menjawab pertanyaan. Aku ikut tertawa. Tapi di sela-sela semua itu, ada perasaan aneh: seperti sedang menonton hidupku sendiri dari kejauhan. Perasaan kosong ini tidak selalu datang dengan tanda yang jelas. Kadang ia muncul perlahan, seperti kabut tipis. Awalnya tidak terlalu terasa. Tapi lama-lama, ia membuat segala sesuatu tampak samar. Hal-hal yang dulu menyenangkan terasa biasa saja. Hal-hal yang dulu penting terasa datar. Hari-hari terasa seperti berulang tanpa warna. Aku sempat merasa bersalah karena merasakan ini. Karena secara logika, hidupku tidak buruk. Tidak ada tragedi besar. Tidak ada kehilangan besar. Lalu kenapa aku merasa kosong? Aku pikir, mungkin karena aku terlalu lelah. Mungkin karena terlalu sibuk. Mungkin karena kurang istirahat. Semua itu mungkin benar. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam. Kosong tidak selalu berarti kita tidak punya apa-apa. Kadang kosong justru datang saat hidup kita penuh. Penuh aktivitas. Penuh tanggung jawab. Penuh hal yang harus dipikirkan. Terlalu penuh di luar bisa membuat kita kosong di dalam. Ketika hari-hari dipenuhi tugas, kita fokus menyelesaikan. Ketika pikiran dipenuhi kewajiban, kita fokus bertahan. Ketika energi dipakai untuk orang lain, kita lupa menyisakan untuk diri sendiri. Dan pelan-pelan, kita kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Aku mulai menyadari bahwa kosong ini bukan karena hidupku kurang bermakna. Bukan karena aku tidak punya hal-hal baik. Tapi karena aku terlalu lama berjalan tanpa benar-benar berhenti dan bertanya pada diri sendiri: “Aku sebenarnya bagaimana?” Aku terlalu sibuk menjalani. Terlalu sibuk menyesuaikan. Terlalu sibuk berfungsi. Aku jarang memberi ruang untuk merasa. Kita sering berpikir bahwa untuk merasakan sesuatu, harus ada alasan besar. Harus ada kejadian besar. Harus ada momen dramatis. Padahal, perasaan kosong bisa datang tanpa peristiwa khusus. Ia bisa datang dari kelelahan yang menumpuk. Dari emosi yang dipendam terlalu lama. Dari kebutuhan yang tidak pernah benar-benar didengar. Aku mulai mengingat kembali momen-momen kecil ketika aku menunda diriku sendiri. Saat aku ingin istirahat tapi memaksakan bekerja. Saat aku ingin jujur tapi memilih diam. Saat aku ingin menangis tapi menahannya. Saat aku ingin berhenti tapi terus berjalan. Semua itu terasa kecil. Tapi jika terjadi berulang, ia meninggalkan jejak. Kosong bisa menjadi cara tubuh dan hati berkata: “Sudah terlalu lama aku diabaikan.” Aku tidak langsung memahami itu. Butuh waktu. Butuh kejujuran. Butuh keberanian untuk melihat ke dalam. Awalnya aku mencoba mengisi kekosongan itu dengan hal-hal baru. Lebih banyak aktivitas. Lebih banyak distraksi. Lebih banyak rencana. Aku berpikir mungkin aku hanya butuh sesuatu yang menyenangkan. Kadang berhasil sesaat. Tapi setelah itu, rasa kosong itu kembali. Aku mulai sadar bahwa kosong bukan sesuatu yang bisa diisi dari luar. Ia bukan ruang yang bisa ditutup dengan kesibukan. Ia bukan lubang yang bisa diisi dengan distraksi. Kosong sering kali adalah tanda bahwa kita perlu kembali ke dalam. Tapi kembali ke dalam tidak selalu mudah. Karena di dalam, kita mungkin menemukan hal-hal yang selama ini kita hindari. Kelelahan yang belum diakui. Kesedihan yang belum sempat dirasakan. Kemarahan yang belum pernah diberi ruang. Kebutuhan yang belum pernah dipenuhi. Aku mulai mencoba duduk dengan perasaan kosong itu. Tidak langsung menolaknya. Tidak langsung mengalihkan. Hanya duduk dan merasakan. Awalnya terasa tidak nyaman. Seperti duduk di ruangan yang sunyi terlalu lama. Seperti menunggu sesuatu yang tidak jelas. Tapi pelan-pelan, aku mulai mendengar diriku sendiri. Mulai memahami bahwa kosong ini bukan musuh. Kosong ini adalah sinyal. Sinyal bahwa aku butuh jeda. Butuh perhatian. Butuh kembali. Kosong mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu tentang menambah. Kadang hidup justru tentang mengurangi. Mengurangi tekanan. Mengurangi tuntutan yang tidak perlu. Mengurangi kebiasaan memaksa diri. Aku mulai bertanya: Apa yang benar-benar kubutuhkan sekarang? Apa yang selama ini kutunda? Apa yang sebenarnya kurasakan? Tidak selalu ada jawaban yang jelas. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu membuka ruang. Aku mulai memberi diriku waktu tanpa agenda. Waktu untuk tidak melakukan apa-apa. Waktu untuk berjalan tanpa tujuan. Waktu untuk duduk tanpa harus produktif. Hal-hal kecil itu tidak langsung menghilangkan rasa kosong. Tapi mereka membuatku merasa sedikit lebih terhubung dengan diriku sendiri. Kosong tidak selalu hilang dalam semalam. Ia pelan-pelan berubah ketika kita mulai mendengarkan. Aku belajar bahwa tidak apa-apa jika hidup terasa datar sesekali. Tidak apa-apa jika kita tidak selalu bersemangat. Tidak apa-apa jika kita merasa kosong di tengah hari-hari yang terlihat baik. Perasaan itu tidak membuat kita rusak. Tidak membuat kita gagal. Tidak membuat hidup kita tidak bermakna. Perasaan itu hanya bagian dari menjadi manusia. Aku ingin kamu tahu, jika kamu pernah merasa kosong di tengah keramaian, kamu tidak sendirian. Jika kamu pernah merasa hampa tanpa alasan jelas, kamu tidak aneh. Jika kamu pernah bertanya kenapa semuanya terasa datar, kamu tidak salah. Mungkin kamu hanya lelah. Mungkin kamu hanya butuh jeda. Mungkin kamu hanya terlalu lama berjalan tanpa benar-benar kembali ke dirimu sendiri. Kita sering berpikir bahwa hidup harus selalu terasa penuh. Penuh makna. Penuh semangat. Penuh warna. Padahal hidup juga punya ruang sunyi. Ruang datar. Ruang kosong. Dan ruang itu tidak selalu buruk. Kadang, justru dari ruang kosong itulah kita bisa mulai mendengar lagi. Mendengar apa yang benar-benar kita butuhkan. Mendengar apa yang selama ini kita abaikan. Mendengar suara kecil di dalam yang sudah terlalu lama tenggelam oleh kebisingan. Aku tidak lagi melihat kosong sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan. Aku mulai melihatnya sebagai undangan. Undangan untuk berhenti sejenak. Untuk kembali. Untuk merawat diri dengan lebih jujur. Mungkin hidup tidak akan selalu terasa penuh. Mungkin kita tidak akan selalu merasa bersemangat. Mungkin ada hari-hari datar yang datang tanpa alasan. Tapi itu tidak apa-apa. Kita tidak harus selalu merasa “penuh” untuk tetap hidup dengan utuh. Kita hanya perlu tetap hadir. Tetap mendengarkan. Tetap pulang, pelan-pelan, ke dalam diri.

Pulang ke Diri Sendiri

Hidup yang Tidak Pernah Sepi

Di publikasikan 10 Feb 2026 oleh _didiable

Beberapa tahun terakhir, aku sering merasa hidup berjalan sangat cepat. Bukan cepat dalam arti menyenangkan seperti berlari menuju sesuatu yang ditunggu-tunggu, tapi cepat seperti dikejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar terlihat. Hari-hari terasa penuh. Notifikasi datang tanpa henti. Tugas selalu ada. Percakapan terus berjalan. Informasi terus masuk. Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang semakin jarang: sepi. Bukan sepi karena kesepian. Tapi sepi dalam arti sunyi. Sepi yang memberi ruang untuk bernapas. Sepi yang memungkinkan kita mendengar diri sendiri. Aku mulai menyadari bahwa hidup modern hampir tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan saat aku sendirian di kamar, ada ponsel di tangan. Ada layar yang menyala. Ada suara yang terus menemani. Ada hal-hal kecil yang mengisi setiap jeda. Aku terbiasa mengisi waktu. Menunggu sambil membuka media sosial. Makan sambil menonton sesuatu. Berbaring sambil membaca berita. Bahkan sebelum tidur, tanganku sering masih menggenggam ponsel. Awalnya terasa normal. Semua orang melakukannya. Semua orang hidup seperti ini. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang perlu dipertanyakan. Tapi pelan-pelan, aku mulai merasa lelah dengan keramaian yang tidak pernah berhenti. Bukan keramaian orang. Bukan keramaian tempat. Tapi keramaian di dalam kepala. Pikiran terasa penuh. Emosi terasa cepat naik dan turun. Perasaan terasa mudah terpicu. Kadang aku bahkan tidak tahu kenapa aku merasa gelisah. Tidak ada masalah besar. Tidak ada kejadian dramatis. Tapi ada rasa tidak tenang yang datang tanpa alasan jelas. Aku mulai bertanya-tanya: mungkin aku terlalu jarang benar-benar diam. Kita hidup di zaman di mana diam sering terasa canggung. Jika tidak ada suara, kita mencarinya. Jika tidak ada aktivitas, kita mengisinya. Jika tidak ada notifikasi, kita mengeceknya. Seolah-olah kesunyian adalah sesuatu yang harus dihindari. Seolah-olah jika kita berhenti sebentar, kita akan tertinggal. Aku pernah duduk di sebuah kafe, sendirian, tanpa membuka ponsel. Hanya duduk dan melihat sekitar. Awalnya terasa aneh. Tanganku refleks ingin meraih sesuatu. Ingin membuka sesuatu. Ingin mengisi waktu. Beberapa menit pertama terasa panjang. Seperti tidak ada yang terjadi. Seperti aku membuang waktu. Tapi setelah beberapa saat, ada sesuatu yang berubah. Aku mulai menyadari napasku. Menyadari suara di sekitar. Menyadari pikiranku sendiri. Dan di situlah aku sadar: aku jarang sekali benar-benar hadir. Kita sering berada di banyak tempat sekaligus. Tubuh di sini. Pikiran di tempat lain. Hati di masa lalu. Kekhawatiran di masa depan. Kita terus bergerak tanpa benar-benar merasakan langkah. Hidup yang tidak pernah sepi membuat kita terbiasa dengan kebisingan. Dan ketika kebisingan itu menjadi normal, kita mulai kehilangan kemampuan untuk mendengar diri sendiri. Kita tahu apa yang orang lain pikirkan. Kita tahu apa yang sedang terjadi di dunia. Kita tahu tren terbaru. Tapi kita tidak selalu tahu apa yang sedang terjadi di dalam diri. Aku pernah merasa sangat lelah tanpa tahu kenapa. Aku pernah merasa kosong di tengah banyak aktivitas. Aku pernah merasa jenuh meski hari-hariku penuh. Dan baru kemudian aku sadar, mungkin aku terlalu lama hidup tanpa ruang hening. Ruang hening bukan berarti kesepian. Ruang hening adalah ruang untuk kembali. Kembali ke napas. Kembali ke tubuh. Kembali ke perasaan. Tanpa ruang itu, kita mudah kewalahan. Pikiran tidak punya tempat untuk mencerna. Emosi tidak punya tempat untuk turun. Tubuh tidak punya kesempatan untuk benar-benar rileks. Kita terus menerima, menerima, menerima— tanpa pernah benar-benar memproses. Aku mulai memperhatikan kebiasaanku. Setiap kali merasa tidak nyaman, aku langsung mencari distraksi. Membuka ponsel. Menonton sesuatu. Mendengarkan musik. Mengisi waktu dengan apa pun yang bisa mengalihkan perhatian. Awalnya terasa membantu. Tapi lama-lama, aku merasa semakin jauh dari diriku sendiri. Karena setiap distraksi kecil itu membuatku tidak perlu berhadapan dengan apa yang sebenarnya kurasakan. Tidak perlu duduk dengan emosi. Tidak perlu mendengarkan pikiran. Tidak perlu mengakui kelelahan. Aku hanya perlu terus bergerak. Tapi terus bergerak tanpa jeda membuat kita kehilangan arah. Kita berjalan, tapi tidak tahu ke mana. Kita sibuk, tapi tidak tahu untuk apa. Kita hidup, tapi tidak selalu merasa hidup. Aku mulai mencoba hal kecil: memberi diriku ruang sepi. Tidak lama. Tidak dramatis. Hanya beberapa menit. Duduk tanpa melakukan apa-apa. Berjalan tanpa musik. Makan tanpa layar. Menatap langit tanpa distraksi. Awalnya terasa aneh. Kadang terasa membosankan. Kadang pikiranku justru menjadi lebih ramai. Tapi perlahan, ada perubahan. Aku mulai mendengar diriku sendiri. Mulai menyadari apa yang kurasakan. Mulai memahami kelelahan yang selama ini hanya kututup dengan kesibukan. Hidup yang tidak pernah sepi membuat kita mudah lupa bahwa kita punya dunia di dalam. Dunia yang juga butuh perhatian. Dunia yang juga butuh dirawat. Aku menyadari bahwa aku sering berusaha mengisi setiap celah waktu. Seolah-olah waktu kosong adalah sesuatu yang harus dihindari. Seolah-olah jika aku tidak melakukan apa-apa, aku sedang menyia-nyiakan hidup. Padahal, justru di ruang kosong itulah kita bisa bernapas. Di ruang kosong itulah kita bisa mendengar. Di ruang kosong itulah kita bisa kembali. Aku tidak mengatakan bahwa kita harus hidup tanpa distraksi. Kita tetap hidup di dunia yang ramai. Kita tetap bekerja, berkomunikasi, dan menjalani banyak hal. Tapi mungkin kita bisa mulai memberi sedikit ruang untuk sepi. Ruang kecil di antara kesibukan. Ruang kecil di antara percakapan. Ruang kecil di antara hari-hari yang padat. Ruang di mana kita tidak harus menjadi siapa-siapa. Tidak harus produktif. Tidak harus terlihat baik. Hanya menjadi diri sendiri yang sedang bernapas. Aku mulai menyadari bahwa kelelahan yang kurasakan bukan hanya karena pekerjaan atau tanggung jawab. Tapi juga karena aku jarang memberi diriku kesempatan untuk benar-benar diam. Ketika kita tidak pernah diam, kita tidak pernah benar-benar pulih. Kita hanya terus bergerak dengan energi yang semakin menipis. Mungkin itulah sebabnya banyak dari kita merasa lelah bahkan saat tidak melakukan sesuatu yang berat. Karena pikiran kita tidak pernah benar-benar berhenti. Karena emosi kita tidak pernah benar-benar turun. Karena tubuh kita tidak pernah benar-benar merasa aman untuk beristirahat. Hidup yang tidak pernah sepi membuat kita terbiasa dengan kebisingan. Tapi kebisingan yang terus-menerus bisa membuat kita kehilangan arah. Aku tidak ingin hidup yang sepenuhnya sunyi. Aku tetap ingin tawa, percakapan, aktivitas, dan hal-hal yang membuat hidup terasa hidup. Tapi aku juga ingin ruang untuk mendengar diriku sendiri. Ruang untuk jujur. Ruang untuk merasa. Ruang untuk tidak selalu sibuk. Mungkin kita tidak bisa membuat dunia menjadi lebih pelan. Tapi kita bisa membuat langkah kita sedikit lebih pelan. Kita bisa memberi diri kita ruang kecil untuk bernapas di tengah dunia yang ramai. Jika akhir-akhir ini kamu merasa mudah lelah, mudah gelisah, atau mudah kosong, mungkin bukan karena kamu lemah. Mungkin karena hidupmu terlalu penuh tanpa jeda. Mungkin yang kamu butuhkan bukan lebih banyak aktivitas. Bukan lebih banyak distraksi. Tapi sedikit ruang sepi. Tidak perlu lama. Tidak perlu sempurna. Hanya cukup untuk mendengar napas sendiri. Karena di tengah hidup yang tidak pernah benar-benar sepi, kemampuan untuk diam sejenak bisa menjadi bentuk perawatan diri yang paling sederhana—dan paling jujur.

Pulang ke Diri Sendiri

Perempuan yang Terbiasa Kuat

Di publikasikan 10 Feb 2026 oleh _didiable

Aku tidak ingat kapan mulai belajar untuk selalu terlihat kuat. Rasanya seperti sesuatu yang terjadi perlahan, tanpa pernah benar-benar diajarkan secara langsung. Tidak ada yang duduk di hadapanku dan berkata, “Mulai sekarang kamu harus jadi perempuan yang kuat.” Tapi entah bagaimana, pesan itu selalu ada. Terselip dalam percakapan. Dalam harapan orang lain. Dalam cara dunia memperlakukan kita. Perempuan yang baik itu sabar. Perempuan yang dewasa itu mengerti. Perempuan yang bisa diandalkan itu tidak banyak mengeluh. Perempuan yang kuat itu tidak cengeng. Aku tumbuh dengan semua kalimat itu, bahkan ketika tidak diucapkan secara eksplisit. Dan tanpa sadar, aku mulai memakainya sebagai standar hidup. Aku belajar untuk tetap tersenyum saat lelah. Belajar berkata “tidak apa-apa” saat sebenarnya ingin menangis. Belajar menenangkan orang lain meski diriku sendiri belum tenang. Belajar menjadi tempat bersandar, bahkan ketika aku juga ingin bersandar. Ada kebanggaan kecil saat kita dikenal sebagai orang yang kuat. Orang yang bisa diandalkan. Orang yang tidak mudah goyah. Rasanya seperti pencapaian. Seperti identitas yang membuat kita merasa bernilai. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang jarang dibicarakan: menjadi kuat terus-menerus bisa sangat melelahkan. Ada hari-hari ketika aku ingin menjadi orang yang tidak selalu mengerti. Tidak selalu sabar. Tidak selalu menampung semuanya. Ada hari-hari ketika aku ingin berkata, “Aku juga capek.” Tapi kalimat itu sering tertahan di tenggorokan. Karena sudah terlalu lama aku menjadi orang yang kuat. Kuat itu tidak selalu buruk. Kuat itu perlu. Kuat membuat kita bertahan. Kuat membuat kita bisa berjalan meski keadaan tidak mudah. Tapi kuat yang tidak pernah diberi jeda bisa berubah menjadi beban. Kita mulai merasa bahwa kita tidak boleh runtuh. Tidak boleh lemah. Tidak boleh terlihat tidak baik-baik saja. Kita mulai percaya bahwa kalau kita berhenti sebentar, semuanya akan berantakan. Bahwa kalau kita jujur tentang kelelahan, kita akan dianggap tidak mampu. Bahwa kalau kita mengaku rapuh, kita akan mengecewakan orang lain. Dan pelan-pelan, kita belajar memendam. Aku sering melihat perempuan-perempuan di sekelilingku yang luar biasa. Mereka bekerja, mengurus rumah, menjaga hubungan, memikirkan masa depan, membantu orang lain, dan tetap berusaha terlihat baik-baik saja. Mereka menjalani banyak peran sekaligus, sering tanpa ruang untuk benar-benar istirahat. Mereka terlihat kuat. Dan mungkin memang kuat. Tapi aku juga tahu, di balik semua itu, ada kelelahan yang tidak selalu terlihat. Ada malam-malam ketika mereka pulang dan duduk diam lebih lama dari biasanya. Ada napas panjang yang dilepaskan pelan. Ada rasa ingin berhenti sebentar, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Menjadi perempuan dewasa sering kali berarti menjadi penyangga. Penyangga emosi. Penyangga harapan. Penyangga banyak hal yang tidak selalu kita pilih. Kita ingin melakukan semuanya dengan baik. Kita ingin tidak mengecewakan siapa pun. Kita ingin menjadi versi terbaik dari diri. Dan keinginan itu tidak salah. Tapi kadang, kita lupa bertanya: di tengah semua itu, apakah kita masih menjaga diri sendiri? Aku pernah berada di titik di mana aku tidak tahu bagaimana rasanya benar-benar beristirahat tanpa rasa bersalah. Bahkan ketika tubuhku lelah, pikiranku tetap berjalan. Tetap memikirkan apa yang belum selesai. Tetap mengingat tanggung jawab. Tetap merasa harus produktif. Istirahat terasa seperti sesuatu yang harus “layak didapatkan”. Seolah-olah aku harus bekerja keras dulu, baru boleh berhenti. Seolah-olah berhenti tanpa alasan jelas adalah kemewahan. Padahal, tubuh dan hati tidak selalu menunggu izin. Mereka lelah ketika mereka lelah. Mereka butuh ruang ketika mereka butuh ruang. Aku mulai menyadari bahwa menjadi kuat tidak harus berarti menahan semuanya sendirian. Kuat tidak harus berarti selalu terlihat baik-baik saja. Kuat juga bisa berarti berani jujur pada diri sendiri. Berani berkata, “Aku lelah.” Berani mengakui, “Aku butuh istirahat.” Berani menerima, “Aku tidak harus selalu kuat.” Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana. Tapi untuk orang yang sudah terlalu lama terbiasa kuat, mengucapkannya bisa terasa sulit. Ada rasa canggung. Ada rasa takut. Ada suara kecil di kepala yang berkata bahwa kita seharusnya bisa lebih tahan. Aku pernah merasa bersalah hanya karena ingin berhenti sejenak. Merasa bersalah karena tidak selalu punya energi untuk semua orang. Merasa bersalah karena tidak selalu ingin menjadi orang yang mengerti. Padahal, itu semua manusiawi. Kita bukan mesin. Kita bukan robot yang bisa bekerja tanpa henti. Kita manusia dengan batas. Dan batas itu bukan kelemahan. Batas itu penanda bahwa kita hidup. Ada sesuatu yang berubah ketika aku mulai mengizinkan diriku untuk tidak selalu kuat. Bukan berarti aku menjadi lemah. Bukan berarti aku menyerah. Tapi aku mulai memberi ruang untuk menjadi manusia yang utuh—yang bisa kuat dan rapuh di waktu yang berbeda. Aku mulai belajar bahwa aku tidak harus selalu menjadi tempat bersandar. Aku juga boleh bersandar. Aku juga boleh mencari ruang aman. Aku juga boleh jujur tentang apa yang kurasakan. Tidak semua orang akan mengerti. Tidak semua orang akan langsung memahami. Tapi itu tidak apa-apa. Yang penting, aku mulai mengerti diriku sendiri. Menjadi perempuan yang terbiasa kuat sering kali berarti kita sangat mahir menyembunyikan kelelahan. Kita tahu cara tetap tersenyum. Kita tahu cara tetap berfungsi. Kita tahu cara tetap menjalani hari. Tapi di balik semua itu, ada bagian dari diri yang ingin dipeluk. Ingin didengar. Ingin diberi ruang. Aku mulai mencoba melakukan hal kecil: mendengarkan diriku sendiri. Saat tubuhku lelah, aku mencoba tidak langsung memaksanya. Saat pikiranku penuh, aku mencoba tidak langsung mengabaikannya. Saat emosiku berat, aku mencoba tidak langsung menekannya. Tidak selalu berhasil. Kadang aku masih kembali ke kebiasaan lama. Masih memaksakan diri. Masih menahan. Tapi sekarang, setidaknya aku sadar. Dan kesadaran itu membuat perbedaan. Menjadi kuat tidak harus berarti keras pada diri sendiri. Kita bisa kuat sekaligus lembut. Kita bisa bertahan sekaligus beristirahat. Kita bisa berjalan sekaligus berhenti sejenak. Aku menulis bab ini untuk semua perempuan—dan juga siapa pun—yang terbiasa kuat. Yang sudah terlalu lama menjadi orang yang diandalkan. Yang sudah terlalu sering berkata “aku baik-baik saja” meski sebenarnya lelah. Jika kamu salah satunya, aku ingin kamu tahu: kamu tidak harus selalu kuat. Kamu boleh lelah. Kamu boleh berhenti. Kamu boleh jujur. Tidak ada yang runtuh hanya karena kamu memberi dirimu ruang untuk bernapas. Dunia mungkin tidak akan selalu memberi kita jeda. Tapi kita bisa belajar memberikannya pada diri sendiri. Dan mungkin, itu salah satu bentuk kekuatan yang paling jujur.

Pulang ke Diri Sendiri

Kita Semua Sedang Lelah

Di publikasikan 10 Feb 2026 oleh _didiable

Aku tidak ingat kapan terakhir kali benar-benar merasa ringan. Bukan ringan karena libur. Bukan ringan karena pekerjaan selesai. Tapi ringan yang berasal dari dalam—perasaan bahwa hidup ini tidak terlalu berat untuk dijalani. Sebagian besar hari, aku baik-baik saja. Aku bangun pagi, bersiap, menjalani rutinitas, menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, pulang, lalu tidur. Dari luar, semuanya tampak berjalan seperti seharusnya. Tidak ada drama besar. Tidak ada tragedi. Tidak ada cerita yang cukup dramatis untuk disebut “masa sulit”. Tapi di dalam, ada rasa lelah yang sulit dijelaskan. Lelah yang tidak selalu terlihat. Lelah yang tidak selalu bisa diistirahatkan. Lelah yang muncul karena terus berjalan, tanpa benar-benar berhenti. Aku tahu aku tidak sendirian. Banyak dari kita hidup dengan cara seperti ini. Kita tetap berfungsi. Tetap bekerja. Tetap bercakap. Tetap tertawa. Tetap hadir. Tapi di sela-sela semua itu, ada ruang sunyi yang tidak selalu kita akui. Ruang di mana kita ingin duduk sebentar dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku benar-benar baik-baik saja?” Kadang jawabannya tidak jelas. Kadang jawabannya adalah: entahlah. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup harus dijalani dengan kuat. Bahwa menjadi dewasa berarti bisa mengurus semuanya sendiri. Bahwa mengeluh terlalu banyak bukan hal yang baik. Bahwa kita harus bersyukur, karena selalu ada orang yang hidupnya lebih sulit. Dan semua itu tidak salah. Tapi kadang, di tengah usaha untuk menjadi kuat, kita lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang boleh lelah. Kita lupa bahwa kuat bukan berarti tidak pernah goyah. Kita lupa bahwa mampu bukan berarti tidak pernah ingin berhenti. Kita lupa bahwa bertahan terus-menerus juga bisa membuat kita kehabisan napas. Ada hari-hari ketika aku bangun dengan perasaan datar. Tidak sedih, tapi juga tidak benar-benar bahagia. Aku menjalani hari seperti biasa, tapi tanpa rasa antusias. Semua terasa seperti daftar tugas yang harus diselesaikan, bukan hidup yang sedang dinikmati. Aku pernah bertanya-tanya, apakah ini normal? Apakah semua orang dewasa merasa seperti ini? Apakah hidup memang terasa begini setelah kita terlalu lama berjalan? Aku melihat banyak orang di sekelilingku tampak baik-baik saja. Mereka bekerja, berkarya, tertawa, pergi ke berbagai tempat, memposting momen-momen bahagia. Dan mungkin mereka memang bahagia. Tapi aku juga tahu bahwa kehidupan yang terlihat rapi dari luar tidak selalu mencerminkan apa yang terjadi di dalam. Kita hidup di zaman di mana semuanya bergerak cepat. Informasi datang tanpa henti. Tuntutan tidak pernah benar-benar selesai. Dan tanpa sadar, kita terus menyesuaikan diri dengan ritme yang tidak selalu manusiawi. Kita terbiasa sibuk. Kita terbiasa produktif. Kita terbiasa menunda istirahat. Seolah-olah berhenti sejenak adalah kemewahan. Seolah-olah merasa lelah adalah kelemahan. Seolah-olah kita harus selalu bisa. Aku pernah memaksakan diri untuk terus berjalan, bahkan ketika tubuhku meminta berhenti. Aku pernah berkata pada diri sendiri, “Sedikit lagi saja,” berkali-kali, sampai akhirnya aku tidak ingat kapan terakhir kali benar-benar beristirahat. Yang aneh, lelah seperti ini tidak selalu datang dari masalah besar. Kadang ia datang dari hal-hal kecil yang menumpuk. Dari rutinitas yang terlalu padat. Dari ekspektasi yang tidak pernah benar-benar selesai. Dari keinginan untuk melakukan semuanya dengan baik. Aku sering merasa harus menjadi versi terbaik diriku. Di pekerjaan. Di hubungan. Di kehidupan sehari-hari. Dan tanpa sadar, aku menjadi orang yang selalu berusaha. Selalu berusaha cukup baik. Selalu berusaha tidak mengecewakan. Selalu berusaha tetap kuat. Tapi ada harga yang harus dibayar dari usaha yang terus-menerus. Ada hari-hari ketika aku ingin berhenti sejenak dan tidak menjadi siapa-siapa. Tidak menjadi orang yang diandalkan. Tidak menjadi orang yang harus mengerti. Tidak menjadi orang yang harus selalu baik-baik saja. Hanya menjadi manusia yang sedang hidup. Kadang, yang paling melelahkan bukan pekerjaan. Bukan tanggung jawab. Bukan masalah besar. Tapi menjadi orang yang terus bertahan tanpa pernah benar-benar dipeluk oleh dirinya sendiri. Aku mulai menyadari bahwa banyak dari kita menjalani hidup dengan mode bertahan. Kita menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, melewati apa yang harus dilewati, tanpa benar-benar memberi ruang untuk merasakan. Kita menunda istirahat. Menunda menangis. Menunda jujur pada diri sendiri. Sampai suatu hari, kita merasa kosong. Dan tidak tahu kenapa. Kosong yang tidak dramatis. Kosong yang tidak selalu membuat kita menangis. Kosong yang hanya terasa seperti ruang hening di dalam dada. Aku pernah berpikir, mungkin aku hanya perlu liburan. Mungkin aku hanya perlu waktu luang. Mungkin aku hanya perlu tidur lebih lama. Dan semua itu memang membantu. Tapi tidak sepenuhnya. Karena ternyata, yang lelah bukan hanya tubuh. Yang lelah adalah pikiran yang tidak pernah berhenti. Yang lelah adalah hati yang terlalu sering memendam. Yang lelah adalah diri yang terlalu lama berjalan tanpa benar-benar pulang. Aku mulai belajar bahwa merawat diri bukan hanya tentang melakukan hal-hal yang menyenangkan. Bukan hanya tentang memberi hadiah pada diri sendiri setelah bekerja keras. Bukan hanya tentang mencari pelarian sesaat dari rutinitas. Merawat diri adalah keberanian untuk jujur. Keberanian untuk mengakui bahwa kita lelah. Keberanian untuk berkata pada diri sendiri, “Tidak apa-apa jika hari ini aku tidak sekuat biasanya.” Itu terdengar sederhana. Tapi tidak selalu mudah. Karena kita terbiasa menjadi orang yang bisa diandalkan. Kita terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri. Kita terbiasa menyimpan banyak hal di dalam. Kita terbiasa menenangkan orang lain, tapi jarang menenangkan diri sendiri. Aku menulis buku ini bukan karena aku sudah sepenuhnya baik-baik saja. Aku menulis buku ini karena aku sedang belajar. Belajar mendengarkan diri sendiri. Belajar memberi ruang untuk merasa. Belajar pulang ke dalam. Ada banyak hari ketika aku masih merasa lelah. Masih merasa bingung. Masih merasa kosong. Tapi sekarang aku tidak lagi mengabaikan perasaan itu. Aku tidak lagi berpura-pura selalu kuat. Aku tidak lagi menuntut diri untuk selalu baik-baik saja. Aku mulai belajar duduk sebentar dengan diriku sendiri. Mendengarkan napas. Menyadari tubuh. Mengakui emosi. Dan dari situ, pelan-pelan, ada perubahan kecil. Aku mulai menyadari bahwa hidup tidak harus selalu terasa ringan. Tapi hidup juga tidak harus selalu terasa berat. Ada ruang di tengah-tengah, ruang di mana kita bisa berjalan dengan lebih lembut. Ruang di mana kita bisa menjadi manusia yang tidak sempurna, tapi tetap utuh. Tulisan ini bukan tentang menjadi versi terbaik dari diri. Tulisan ini tentang berhenti sejenak dan bertanya: “Aku sebenarnya bagaimana?” Jika kamu membaca ini dan merasa lelah, mungkin kita sedang berada di tempat yang sama. Mungkin kita sama-sama mencoba menjalani hidup dengan sebaik mungkin, sambil sesekali merasa kewalahan. Mungkin kita sama-sama ingin merasa lebih tenang, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Tidak apa-apa. Kita tidak harus langsung menemukan jawabannya. Kita tidak harus langsung sembuh. Kita tidak harus langsung kuat. Kita hanya perlu mulai dengan jujur. Jujur bahwa kita lelah. Jujur bahwa kita manusia. Jujur bahwa kita butuh ruang untuk bernapas. Aku tidak tahu perjalanan hidupmu seperti apa. Aku tidak tahu beban apa yang sedang kamu bawa. Tapi aku tahu satu hal: lelahmu valid. Perasaanmu nyata. Dan kamu tidak sendirian. Di dunia yang terus bergerak cepat, mungkin hal paling berani yang bisa kita lakukan adalah berjalan sedikit lebih pelan. Memberi diri sendiri waktu untuk mengejar napas. Memberi diri sendiri izin untuk tidak selalu kuat. Aku ingin buku ini menjadi ruang yang hangat. Ruang di mana kita bisa duduk sebentar, tanpa harus menjadi siapa-siapa. Ruang di mana kita bisa membaca tanpa merasa dihakimi. Ruang di mana kita bisa merasa dimengerti, bahkan oleh kalimat-kalimat sederhana. Kita mungkin belum sepenuhnya sampai di tempat yang tenang. Tapi setidaknya, kita sedang berjalan ke arah sana. Dan mungkin, itu sudah cukup untuk hari ini.

Pulang ke Diri Sendiri

Bab 1: Mengulik Cara Kerja Agentic Coding

Di publikasikan 08 Feb 2026 oleh Riza Fahmi

Bayangkan teman-teman cukup menulis dan memberi perintah 'Buatkan aplikasi untuk mencatat pengeluaran', lalu tiba-tiba file baru muncul, terminal berjalan sendiri, dan beberapa menit berselang aplikasi sudah siap untuk digunakan. Apakah ini sihir? Bukan, ini *Agentic Coding*. Agentic coding tool seperti Claude Code, Codex, Cursor atau yang lainnya, memang rasanya seperti sihir. Sedikit sulit dipercaya, apalagi yang belum merasakan manfaatnya. Bagi yang belum menggunakan, silakan dicoba dalam jangka beberapa waktu. Cepat atau lambat teman-teman akan merasakan daya magisnya. Tapi di balik layar, semua itu bukanlah sihir. Melainkan sebuah pola yang disebut agentic coding. Di artikel ini, kita tidak hanya akan mengintip ke balik tirai, kita akan belajar bagaimana cara kerjanya dan mempelajari polanya. Paham cara kerjanya tentu akan membantu kita menggunakan agentic coding dengan lebih efektif dan efisien. Semoga setelah membaca tulisan ini teman-teman bisa mendapat gambaran yang lebih jelas tentang apa itu agent dan apa yang membedakan AI agent dengan AI yang bukan agent. Sebelum itu, mari kita lihat bagaimana perjalanan asisten ngoding dari awal hingga sekarang. Dari Tukang Ketik ke Mandor ProyekPerkakas ngoding dengan AI ini telah melewati evolusi yang cukup cepat. Mulai dari chatbot , autocomplete , coding assistant, hingga sekarang kita memasuki eranya agentic coding. Chatbot umumnya menggunakan antarmuka web. Ketika butuh bantuan, kita membuka chatgpt.com, claude.ai, gemini.google, dsb. Bertanya tentang topik pemrograman (atau topik apapun), chatbot kemudian akan memberikan potongan kode yang dibutuhkan. Lalu kita sebagai developer menyalin kode tersebut dan melanjutkan proses pengembangan aplikasi. Dan begitu seterusnya. Chatbot web Berikutnya muncul fitur autocomplete. Diawali oleh munculnya GitHub Copilot yang diusung oleh Visual Studio Code. Biasanya kita mengetik sesuatu di editor kode lalu AI akan mencoba "menebak" kita maunya apa. Atau autocomplete bisa dipantik dengan menulis komentar kita ingin melakukan apa, lalu AI akan memberikan tebakan terbaiknya. Fitur autocomplete Kemudian berkembang lagi. Dengan kemunculan code editor baru, Cursor, asisten ngoding semakin populer. Sederhananya, ini adalah chatbot yang tadinya diakses dengan web browser sekarang ada langsung di editor kode. Dengan tambahan konteks file yang sedang dibuka sehingga kita tidak perlu copas lagi. Dan beberapa fitur menarik lainnya seperti inline chat, hingga fitur yang mampu memahami proyek secara keseluruhan dengan berbagai metodenya seperti indexing code, repomap dan sebagainya. Setiap kode yang ditambahkan, tetap ada peran kita sebagai manusia yang melakukan perubahan. Menyimpan perubahan file misalnya. Meskipun biasanya editor kita set untuk melakukan auto save. File baru pun harus kita yang buat. Coding assistant Terakhir, tibalah kita ke era agentic. Jika menggunakan agen, semuanya serba otomatis. Bikin file baru, baca, tulis dan ubah file, menjalankan perintah terminal dan sebagainya bisa dilakukan oleh LLM. Dimulai dari Cursor dan dipopulerkan oleh Claude Code. Salah satu ciri khas agentic coding ketika diberi perintah, LLM akan merencanakan, membuat langkah demi langkah untuk menyelesaikan perintah terus menerus sampai perintah dianggap sudah selesai. Jadi si agen ini bukan hanya berusaha menyelesaikan perintah tapi seolah ia berpikir, berencana baru mengeksekusi hingga selesai. Agentic coding Cara ini cocok sekali untuk tugas yang kompleks dan sulit dikerjakan dalam sekali tembak. Kok bisa ya tiba-tiba ada LLM yang bisa "mikir", buat rencana lalu eksekusi? Pola AgenticAgent atau Agentic berasal dari kata agency. Agency secara harfiah berarti kemampuan untuk bertindak, bukan cuma berpikir
atau memberi saran. Atau dengan kata lain punya inisiatif. LLM tanpa agen layaknya AI dalam tempurung. Jago ngomong, pengetahuan luas, walaupun terbatas (cut off). Meski pintar menjawab pertanyaan kita, tapi LLM tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa mengingat apapun dan tidak mampu memutuskan jika diberi pilihan. Tidak bisa membaca file, menulis file bahkan tidak tahu tanggal dan jam berapa saat ini. Ilustrasi LLM: AI dalam tempurung LLM adalah mesin prediksi token. Berusaha menyelesaikan teks dengan probabilitas tertinggi. Termasuk juga autocomplete kode, yang adalah teks. Kemampuan dasar LLM adalah menghasilkan teks, tidak dapat mengetahui apa yang terjadi disekitarnya. Tidak tahu tanggal dan jam saat ini, baca dan tulis file, bahkan percakapan terdahulu pun LLM tidak ingat. Kecuali diberi akses untuk mendapatkan informasi tanggal dan jam saat ini, akses untuk baca dan tulis file atau menyertakan percakapan terdahulu. Jadi sebenarnya LLM itu bukan kurang pintar, cuma kurang diberi akses saja. LLM + Tools Jadi gimana caranya supaya LLM punya inisiatif? Persenjatai LLM dengan perkakas atau tools. Mulai dari yang sederhana seperti kasih akses untuk ngecek jam dan tanggal, ngecek kurs atau cuaca hingga memberikan akses untuk baca dan tulis file. LLM dengan perkakas ini, ditambah perkakas untuk menyimpan percakapan dan kemampuan untuk menentukan pilihan perkakas mana yang cocok, dan berjalan terus-menerus hingga tugas selesai itulah yang disebut sebagai AI Agent. Agentic looping Dengan kata lain, LLM disebut sebagai agen atau agentic jika LLM berjalan terus-menerus (loop) yang dapat melakukan observasi apa yang sedang dikerjakan, disediakan perkakas untuk bekerja dan punya kemampuan untuk memutuskan kapan sebuah pekerjaan dinyatakan selesai. TODO: Agentic Looping GIF Tiga Komponen UtamaAda tiga komponen utama dalam Agentic AI, yaitu: perkakas, memori dan reasoning loop. Mari kita bahas satu-per-satu. PerkakasMemberikan kemampuan kepada LLM. Misalnya kemampuan mendapatkan informasi tanggal dan jam saat ini, cuaca di sebuah kota, harga emas terkini, hingga mengoperasikan file seperti baca dan tulis bahkan kita bisa memberikan kemampuan untuk menjalankan perintah bash. MemoriMemberikan daya ingat, jangka panjang ataupun jangka pendek akan membuat LLM semakin terlihat "pintar". LLM bisa paham siapa yang sedang berbicara, tugas apa yang ingin diselesaikan karena setiap percakapan baru ditambahkan ke dalam memori. Mulai dari yang paling sederhana, menambahkan ke struktur data array dan mengirimkan kembali histori percakapan hingga yang canggih seperti database eksternal. Kita bisa saja setiap kali ingin mengirimkan perintah selalu menyertakan percakapan terdahulu. Namun dalam jangka panjang hal ini menjadi melelahkan dan membuat LLM menjadi terlihat "bodoh". Atau bahkan membuat LLM bingung karena kebanyakan konteks. Hal ini terjadi karena LLM memiliki batasan pandangan yang disebut Context Window. Bayangkan context window seperti meja kerja. Memori adalah lemari arsip yang penuh dengan dokumen. Kita tidak bisa menumpuk semua isi lemari ke atas meja sekaligus karena mejanya akan penuh, berantakan, dan kita malah tidak bisa bekerja. Ilustrasi meja yang penuh dokumen. Dibuat oleh AI. Di sinilah Context Engineering berperan. Jika memori adalah tentang apa yang disimpan, maka *context engineering* adalah tentang bagaimana kita memilih dan menyusun informasi tersebut agar LLM tetap fokus. Tanpa pengelolaan konteks yang baik, LLM akan kehilangan arah, bingung lalu mulai mengabaikan instruksi yang berada di tengah-tengah percakapan yang terlalu panjang. Reasoning Loop Dan yang tidak kalah penting adalah kemampuan LLM dalam menentukan dan memilih perkakas yang mana yang cocok digunakan ketika ada permintaan dari pengguna. Misalnya, ketika pengguna bertanya tentang jam berapa, LLM dapat memutuskan untuk menggunakan perkakas jam dan tanggal, bukan malah baca atau tulis file. Dan LLM juga punya kemampuan untuk terus menerus berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hal inilah yang menjadi pembeda. Sebelum model Sonnet versi 3.7, LLM sulit sekali diajak looping. Meskipun sudah diinstruksikan secara eksplisit kadang LLM memutuskan berhenti sebelum tuntas. Proses berpikir ini sering disebut sebagai Chain of Thought. LLM diinstruksikan untuk berpikir dan ngomong sendiri untuk merencanakan langkah-langkah untuk menyelesaikan sebuah tugas. Ketika digabung dengan perkakas lainnya, bisa menjelma menjadi sebuah framework seperti ReAct (Reason + Act) yang lebih powerful. Reasoning loop ini adalah "nyawa" dari agentic coding. Proses berpikir ala LLM Praktek Membuat Agentic Coding ToolMari kita praktekkan langkah demi langkah. Berhubung LLM chatbot saat ini sudah dilengkapi oleh banyak perkakas, kita bisa bertanya tanggal dan jam saat ini dan LLM mampu menjawab dengan akurat. Karena itu kita akan membuat LLM chatbot dari awal dengan menggunakan REST API. Bertanya tentang jam dan tanggal Untuk itu, kita perlu membangun chatbot sederhana. Dengan memanfaatkan REST API, kita bisa memberi instruksi sederhana dalam satu kesempatan (one shot) dan LLM akan mengirimkan respons. Contohnya bisa menggunakan beberapa penyedia jasa LLM seperti Google, Anthropic, OpenAI dan sebagainya. Untuk contoh disini akan menggunakan Google dan Gemini 3 Flash sebagai pilihan modelnya. Silakan ganti URL, model dan variable API_KEY jika ingin menggunakan penyedia jasa LLM lain. PlainBashC++C#CSSDiffElixirHTML/XMLJavaJavaScriptMarkdownPHPPythonRubySQLexport API_KEY=-AI... curl -X POST "https://generativelanguage.googleapis.com/v1beta/models/gemini-3-flash-preview:generateContent?key=${API_KEY}" \ -H "Content-Type: application/json" \ -d '{ "contents": [ { "role": "user", "parts": { "text": "Tanggal dan jam berapa sekarang?" } } ], "generationConfig": { "thinkingConfig": { "thinkingLevel": "LOW" } } }' Dan hasilnya mungkin akan seperti berikut. Karena dengan LLM jawaban bisa berbeda meski pertanyaannya sama. PlainBashC++C#CSSDiffElixirHTML/XMLJavaJavaScriptMarkdownPHPPythonRubySQL{ "candidates": [ { "content": { "parts": [ { "text": "Sekarang adalah hari **Jumat, 24 Mei 2024**.\n\nWaktu saat ini menunjukkan pukul **14:34 WIB** (Waktu Indonesia Barat).", ... }, ] }, } ] } Halu kan?! Saat menulis ini saya berada di tahun 2026. Ini bukanlah trik mesin waktu. Lebih kepada LLM belum diberi akses untuk mendapatkan informasi tanggal dan jam sehingga LLM terpaksa berbohong. Karena memang di desain seperti itu, untuk memastikan tugasnya selesai walaupun keliru. KesimpulanAgentic coding itu bukan sulap. Yang bikin “magis” bukan hanya karena modelnya mendadak jadi lebih pintar, tapi juga karena kita memberikan dia akses (tools), ingatan (memori), dan mekanisme kerja (reasoning loop) supaya bisa mencoba → mengecek → memperbaiki sampai beres. Contoh paling gampang: pertanyaan “jam berapa sekarang?”. Tanpa perkakas waktu, LLM akan tetap menjawab meski jawabannya ngaco. Bukan karena sok tahu, tapi karena tugasnya adalah menghasilkan teks yang terdengar meyakinkan. Dan di sinilah inti agentic: kualitas jawaban itu hasil desain sistem, bukan sekadar “seberapa pintar LLM”. Di bab berikutnya, kita praktik beneran. Kita akan bikin versi minimal “agentic coding tool” dari nol: mulai dari panggilan pertama ke API, lalu kita tambahkan satu kemampuan sederhana: cara memberi perkakas sederhana (misalnya now() untuk mengetahui waktu saat ini). Targetnya sederhana: setelah Bab 2, teman-teman punya fondasi yang bisa di-upgrade jadi agent yang bisa ngoding beneran (baca/tulis file, jalanin command, dll) tanpa bergantung pada “sihir” tool tertentu. Masukan untuk tulisan ini maupun tulisan berikutnya sangat dinanti. ## Referensi - 📺 What Are AI Agents & How Do They Work by ByteByteAI - 🐦 How to work with coding agent by @tyohan - 📺 Ngobrolin Web Episode Agentic AI - 🎶 Syntax.fm Episode Pi - The AI Harness That Powers OpenClaw

Membangun AI Agentic Coding dari Nol: Panduan Praktis Agentic Coding

Cara monetisasi tulisan di Fenulis.com

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Fenulis

Monetisasi di Fenulis bisa melalui 3 cara: 1. Jual Per Bab Klik tombol "Buku Saya"Pilih salah satu buku yang mau kamu monetisasiKlik icon gembok yang berada di samping kiri bab yang ingin kamu jualMasukkan harga yang kamu inginkanKlik tombol Simpan 2. Jual Per Buku - Model "Karya Utuh" Klik tombol "Buku Saya"Pilih salah satu buku yang mau kamu monetisasiKlik icon gembok yang berada di samping kiri judul bukuMasukkan harga yang kamu inginkanKlik tombol Simpan 3. Terima Tip dari Pembaca - Apresiasi Langsung Pembaca baca salah satu tulisan kamuDibagian bawah tulisan akan ada opsi bagi pembaca untuk memberikan rating tulisan kamuSetelah memberikan rating 1-5, pembaca akan diberikan opsi untuk memberikan Tip kepada penulisJika mereka ingin memberikan Tip, pilih salah satu nominal yang ingin diberikanQRIS code akan muncul di layar pembaca

Panduan

6. Strategi Finansial Mahasiswa (Living Cost)

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Bangun

Beasiswa mencakup uang saku bulanan (Mukafaah) yang nilainya kurang lebih setara UMR Jakarta. Cukup untuk hidup, tapi "mepet" jika gaya hidup tinggi atau ingin menabung. Pesan Syeikh Abdurrazzak: Mahasiswa harus belajar skill kehidupan untuk menunjang ekonomi.Sumber Penghasilan Tambahan:Freelance: Desain grafis, penulisan, atau remote working lainnya.Les Privat: Mengajar Bahasa Arab atau Al-Qur'an (online ke murid di Indo atau offline).Bisnis/Jualan: Jastip (Jasa Titip) barang-barang Saudi, atau jualan makanan Indonesia ke sesama mahasiswa/jemaah umrah.

Panduan Lengkap Kuliah di Arab Saudi

5. Persiapan Setelah Dinyatakan Lolos

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Bangun

Euforia diterima harus segera diikuti dengan persiapan matang: Bahasa Arab (Kunci Utama): Jangan menunggu sampai tiba di Saudi. Ikuti kursus intensif (online/offline) di Indonesia. Kemampuan bahasa akan menentukan kemudahan hidup dan kuliah di bulan-bulan pertama.Adaptasi Sosial & Budaya:Pahami budaya lokal Saudi yang berbeda dengan Indonesia.Bergaul dengan komunitas pelajar Internasional (jangan hanya berkumpul dengan sesama orang Indonesia) untuk memperluas wawasan.Manajemen Studi:Jadwal kuliah di sana padat dan sering berubah-ubah.Kuncinya adalah Sabar.Enaknya, mahasiswa bisa memilih sesi kuliah (Pagi/Siang) dan memilih dosen (Masyaikh) yang diinginkan.

Panduan Lengkap Kuliah di Arab Saudi

3. Profil Kampus di Madinah: UIM vs. Taibah

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Bangun

Bagi yang menargetkan kota Nabi (Madinah), ada dua opsi utama yang lokasinya berseberangan: Universitas Islam Madinah (UIM):Fokus: Dominan Ilmu Syar'i, tapi kini sudah memiliki fakultas umum (Engineering/Teknik, Sains, IT).Gender: Kampus fisik khusus Ikhwan (Laki-laki).Akhwat: Tersedia program, namun sangat jarang dibuka, dan umumnya berbasis Online/Distance Learning.Universitas Taibah:Fokus: Lebih banyak jurusan "Duniawi" (Sains, Kedokteran, Teknik, Humaniora).Gender: Menerima Ikhwan dan Akhwat (kampus terpisah).

Panduan Lengkap Kuliah di Arab Saudi

2. Strategi "Jalur Langit" & Pemilihan Kampus

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Bangun

Jangan hanya terpaku pada satu kampus populer. Peluang diterima sangat bergantung pada nilai rata-rata ijazah dan strategi distribusi kuota. Trik Peluang Besar: Cari kampus yang jumlah mahasiswa Indonesianya masih sedikit. Kampus-kampus ini seringkali membutuhkan diversifikasi mahasiswa internasional.Peta Persaingan Berdasarkan Nilai:Tier 1 (Persaingan Ketat - Nilai Wajib 95+):UIM (Universitas Islam Madinah): Favorit utama.Imam Muhammad bin Saud (Riyadh): Induk dari LIPIA. Sangat selektif.Tier 2 (Peluang Menengah - Nilai ~85):Universitas Najran, Universitas Shaqra, Universitas Taif, Universitas Al-Baha.Tier 3 (Peluang Lebih Besar - Nilai <85 masih mungkin):Universitas Hail, Universitas Al-Jouf, Universitas Hafr Al-Batin.

Panduan Lengkap Kuliah di Arab Saudi

1. Transformasi Sistem Pendaftaran (Study in Saudi)

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Bangun

Dulu, pendaftaran dilakukan terpisah di setiap website universitas. Sekarang, Pemerintah Saudi telah menyatukan pintu masuk bagi mahasiswa internasional. Portal Satu Pintu: Semua pendaftaran kini melalui studyinsaudi.moe.gov.sa. Ini adalah platform resmi "Unified Admission" untuk seluruh kampus negeri di Saudi.Dokumen Penting: Selain dokumen standar (Ijazah, Transkrip, Paspor, SKCK, Surat Sehat), ada satu dokumen krusial yang sangat dihargai oleh pihak universitas di sana: Surat Rekomendasi dari MUI (Majelis Ulama Indonesia). Pastikan kamu mengurus ini karena kredibilitas MUI sudah diakui di Saudi.Status Seleksi:Maqbul: Artinya Diterima.Mughuwi (atau Marfud/Mulgha): Artinya Ditolak atau aplikasi dibatalkan.Pasca Diterima: Jika status berubah menjadi diterima, kampus akan menerbitkan Surat Penerimaan Resmi (LoA). Setelah surat ini keluar, segera hubungi PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) untuk panduan keberangkatan dan pengurusan visa.

Panduan Lengkap Kuliah di Arab Saudi

EXTRA PART 5

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Jadi Papanya Gyan beneran sama ngeselin sesuai cerita Gyan dan Tante Anita, dong, Ni?” “Riiill, Buuuu! Aduh udah deh, aku bersyukur banget masih bisa napas selama di sana karena muak. Apalagi cara dia ngasih tau Gyan, pola pikirnya. Mungkin emang budaya tiap rumah beda, sih, tapi kalau yang ini … kayaknya emang nggak seharusnya ada deh. Maksudnya, Om Gino beneran harus banyak bertaubat biar nggak dibenci anaknya sendiri.” “Mungkin dia malah ngerasa Gyan nggak benci dia? Atau dia tau anaknya benci dia, tapi mikirnya bukan karena dia yang mungkin keliru, malah mikir ya karena Gyan yang nggak bisa diarahin?” “Ya juga sih.” Aku meringis. “Kenapa ya, Bu, ada orang tua bisa mentingin dirinya sendiri dibanding anaknya? Orang bilang, kasih sayang orang tua itu yang paling tulus. Seorang ibu bahkan rela melakukan apa pun untuk anaknya, bahkan harus mempertaruhkan nyawa. Aku suka kasian kalau liat Gyan, aku sendiri ngerasa Ayah rela tuker nyawa dia buat bahagia dan Abang. Iya, kan, Bu?” Ibu tersenyum, menganggukkan kepala, tangannya mengelus sisi wajahku. “Tapi Gyan … papanya bahkan nikahi pacarnya. Alur paling gila yang pernah aku lihat langsung.” Aku tertawa miris. “Menurut Ibu, Nini harus gimana ke depannya? Bantu mereka supaya bisa akur dan beresin kesalahpahaman ini atau diem aja ya, Bu? Aku sebenernya pengen liat Gyan sama papanya bisa akur kayak anak-anak lain, tapi di sisi lain, aku seolah paham apa yang Gyan rasain dan ngerasa egois kalau tetep pengen dia dan Om Gino akur.” “Ibu juga bingung, Ni. Mau bantu biar mereka akur, nyatanya Om Gino emang udah sekeras itu, tapi Ibu paham keinginanmu. Mungkin untuk sekarang, biarin aja, ya?” Ibu menganggukkan kepalanya. “Kita nggak pernah beneran tau sesakit apa yang dialami Gyan dan Tante Anita, jadi biarin mereka melakukan ini kalau memang dengan membenci papanya adalah caranya bertahan buat sekarang. Kita sambil berdoa, minta arah yang baik menurut Allah.” Aku menganggukkan kepala. Memeluk Ibu sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Rezeki ini yang mungkin sulit aku sadari dari dulu; memiliki orang tua dan keluarga yang pengertian, baik, dan lembut. Mereka memang bukan tipe yang memanjakanku dengan cara selalu mengiyakan, tetapi cara mereka menyampaikan dan mengarahkan tak pernah membuatku membenci mereka. Aku masih dan akan selalu memberi predikat orang tua terbaik tetap untuk Ayah dan Ibu. Selamanya. Tapi aku juga harus belajar dari pengalaman, bahwa aku tidak bisa melakukan segala hal yang aku inginkan dan aku anggap mampu aku atasi. Seperti prinsip orang lain, sudut pandang orang lain, dan apa pun. Jadi untuk yang satu ini, aku percaya saran Ibu adalah yang paling baik. Aku membiarkan Gyan dan Tante Anita menerima perasaan mereka sendiri dan mungkin masih di fase berjuang untuk melawan. Aku tidak pernah tahu, mungkin di masa depan, momen akan berubah. Aku tidak ingin memaksa Gyan untuk melakukan banyak hal yang menyakitkan untuknya, lagi. Karena mungkin saja, kalau aku mengatakan ini langsung padanya, dia akan berusaha mati-matian untuk mengubah pandangannya terhadap papanya, memperbaiki hubungannya dengan Om Gino dan Mega, bahkan bisa saja meminta Tante Anita untuk melakukan hal yang sama, demi aku—yep, aku sedang merasa besar kepala, tapi entah kenapa aku sangat yakin hal ini. Aku sudah berjanji dan memang ingin memberi kebahagiaan untuk Gyan, kebahagiaan yang banyak, menebus semua kesakitan yang telah aku beri dan memberinya tambahan sebanyak yang aku mampu, dan sebanyak yang dia kayak terima. “Gimana rasanya, Chef Gyan sekte teraneh di peradaban ini?” Aku masih sempat memutar bola mata, meski tertawa karena menggodanya. Harusnya rasa makananku kali ini sebaik dengan kepercayaan diriku dalam menghidangkannya. Aku juga percaya lelaki ini orang paling jujur dan kooper— “Kamu bakalan bete nggak kalau aku jawab jujur?” “Oh no! Ternyata kita sampai di fase ini.” Aku menatapnya horor. Bukan hanya untuk Gyan, tetapi untuk makanan hasil masakanku di piring, di tengah-tengah kami berdua. “Aku kira-kira bakalan ngambek nggak ya, Gy, kalau ternyata ini kamu bilang masakanku nggak enak?” Tawaku tak bisa aku cegah lagi saat melihatnya meringis sambil menggaruk kepala. “Sori, soriii, this is new, for me, for us?” tanyaku tidak yakin masih dengan tawa geli. “Kayaknya aku siap aja sih, Yan. okay, tell me the truth.” Sekarang aku sudah duduk sempurna di seberang kursinya, menatap serius, menanti penilaian. Gyan tertawa, mendongak menatap langit-langit dapur, lalu kembali memberi tatapannya untukku. “Kayaknya aku nggak sanggup. Nggak siap sama dampaknya setelah ini. Oh man! Nggak nyangka ada di fase ini, bener, Ni, ini agak aneh. Ya, kan?” Aku mengangguk-angguk sambil tertawa. “Cepetaaannn!” “Janji nggak marah, yaaa? Nggak down? Nobody’s perfect, Dhara, we all know that. Kamu sempurna di lainnya mungkin, tapi ini bagian kecil doang. Cuma segini.” Dia menunjukkan ukuran fiktif dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya. Aku terkekeh geli. “Gy, dari disclaimer-mu yang sebanyak itu, udah nunjukin separah apa rasanya sih.” “Oya? Anjir, sori, soriiiii.” Aku terbahak-bahak. “Oh nggak sesakit itu ternyata. Easy!” Aku meraih sendoknya, menyuapkan ke mulutku sendiri, dan seketika menahan diri untuk tidak mengeluarkannya detik ini juga. This is bad. Padahal ini bukan nasi goreng pertamaku, tapi tadi aku inisiatif dan kreatif untuk membuatnya berbeda, tapi ternyata malah gagal. “Kita bikin lagi next time, janji lebih baik.” “Sure, Gorgeous. Aku siap nerima semua hasil trial error makananmu dan siap kasih masukan awal kalau kamu butuh. Ini aku tetap akan makan.” “Lho jangaaan! Kalau nggak enak, jangan di—” “Nggak enak dan nggak layak makan itu hal yang beda, Sayangku. Ini masih sangat-sangat mungkin buat dimakan. Santai aja, katamu aku sekte aneh dalam dunia makan-makan, jadi seharusnya ini juga bisa aku handle.” Aku bersedekap, menatapnya geli. “Jadi ini aku sampai mati kayaknya akan nerima permakluman dari kamu?” “Sorry?” “Gyaaan, it’s okay buat marahin aku, negur aku kalau memang salah, bilang aku kurang ini dan itu. Soal reaksiku yang mungkin kecewa dan sakit hati ya nggak pa-pa, tapi aku nggak mau kamu maksa diri buat selalu nerima aku karena kamu pengen nunjukkin kamu sayang aku. I still can feel your love, jadi nggak pa-pa, tegur aja, okay?” Dia tersenyum lebar, menganggukkan kepala. “Thank you, tapi ini tetep mau aku makan.” “Oh kamu beneran laper ya?” Dia terbahak-bahak dan mengiyakan pertanyaanku. Kasihan sekali lelaki ini. Kelaparan, datang ke rumah karena aku menjanjikan hal manis akan masak untuk kami, tapi rasanya mungkin tidak sesuai seharusnya. Well, bukan masalah besar karena kalau kondisi kita kelaparan, maka semua makanan rasanya akan sama; yaitu sama-sama enak. Ketika masuk perut, fungsinya pun tetap sama. Aku sedang menghibur diri, padahal memang sudah seharusnya skill masakku diperbaiki nanti. “Wow! Beneran laper Bapak Gyan ternyata. Super cepat dan abis.” Aku bertepuk tangan, membuatnya terkekeh. “Padahal ya, niatku demi kasih imprei yang baik buat Tante Anita, aku mau undang kalian dinner di rumah, terus mau bilang kalau semuanya aku yang nyiapin.” “Bisa aja dong!” “Jadi, kira-kira, kalau lihat dari rasanya yang ini, menurutmu butuh berapa lama buat aku bisa yakin bikin acara dinner buat keluarga kita?” “Dhara, besok pun, aku dan Mama siap, kamu tahu itu!” Gyan tertawa, sementara aku mencibirnya. “Don’t worry, Sayang, Mama pasti paham sama yang namanya proses. Dia nggak mungkin lahir langsung jago masak, kan? Aku yakin, yang dilihat Mama bukan cuma rasa masakanmu nantinya, tapi usahamu buat jadi yang terbaik.” Aku tersenyum lebar. “Aku suka banget nih sama semangatnya kamu, tanpa batasssss!” Dia tertawa. “Kamu jadi salah satu alasannya, kan?” “Aw, udah makin berani dan luwes buat ngomong bernada gombal sekarang?” “Rasanya kayak gombal, Ra?” “Lebih buruk dari itu.” Gyan tertawa kencang. “I love you.” “Udah nggak pake ‘guess’ lagi sekarang?” Dia yang sekarang memutar bola mata. “So, Gyan, gimana rasanya ada di kehidupan dan hubungan yang bisa bikin kamu terbuka sama dirimu sendiri?” Dia menatapku dalam-dalam, matanya terlihat berkaca-kaca. “It’s beyond words, Dhara.” Dia tersenyum manis sekali. “Aku beneran belum nemu kata-kata yang layak buat gambarin how grateful I am. Buat kondisi sekarang ini. Ada kamu, ada Ibu, ada Abang. Aku bahkan udah nggak pernah komplain tentang keluargaku yang rusak, karena aku ngerasa I got a new one. Aku bahkan udah nggak masalah nggak punya papa, aku ikhlas. Buat semua hal yang terjadi di belakang, aku ikhlas. Yang terpenting sekarang, aku mau berusaha sekuat mungkin, buat nggak bikin kamu ngerasain apa yang dirasa Mama, buat anakku—kalaupun punya, biar nggak ngerasain hancurnya kayak aku. Beneran deh, aku nggak mau nanti anakku ngalamin itu. Thank you, thank you so much for coming into my life. Nggak tahu harus berapa banyak aku bilang makasih.” Aku berdiri setelah merasa dia selesai dengan kalimatnya. Aku pun tidak menemukan kata-kata untuk menjawabnya saat ini, jadi aku memutuskan untuk memberinya pelukan paling tulus dan hangat yang aku rasa aku punya. Juga memberinya kecupan-kecupan kecil di kepalanya. Laki-laki ini harus banyak merasakan kelembutan dari dunia yang keras ini. Aku sendiri yang akan mengusahakannya. Aku janji.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 3

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku tadinya sudah merasa sangat percaya diri ini hanyalah pertemuan casual antara calon menantu dengan calon mertua. Atau kalau itu terdengar terlalu serius, aku bisa menganggapnya sebagai pertemuan basa-basi dengan kenalan baru? Oh ya Tuhan, semoga kalimat penghiburku tadi sungguh-sungguh bisa berdampak positif untuk diriku sendiri. Aku masih berharap sekecil mungkin, meskipun jantungku rasanya seperti mau meletup begitu kami memasuki gerbang perumahan. Kami tidak mungkin melewati gerbang perumahan di jalanan biasa, kan? Maksudku, gerbang ini sudah pasti merupakan perumahan tujuan kami, kan? Aghnia Dhara, Nini, tolong sadar, kembalilah pada dirimu sepenuhnya. Kamu tidak memiliki banyak waktu bahkan untuk kabur dari sini. Jadi, bersiaplah pada kemungkinan terburuk penolakan Om Gino. Aku percaya kamu bisa, tapi banyak hal terjadi di luar kendali kita, dan khawatir dengan yang satu ini. Bismillah. Aku refleks menoleh dan mengerutkan kening ketika mendengar tawa Gyan yang tiba-tiba. Entah apa yang ada di kepalanya sehingga membuatnya tidak mengatakan apa-apa, tetapi tepat ketika mobilnya berhenti di depan sebuah gerbang tinggi, Gyan tertawa. Aku belum sempat bertanya karena sudah melihat satpam menghampiri kami. Saat Gyan menurunkan kaca mobil, mereka saling balas senyum dan salam, aku ikut-ikutan tersenyum sambil mengangguk. “Silakan, Mas Gyan. Lalu gerbang terbuka, aku seketika menahan napas. Tetapi Gyan memang orang yang baik, masih baik, dan akan selalu menjadi orang yang baik. Dia tidak langsung turun dari mobil, tetapi melepaskan sabuk pengaman, dan menyerongkan tubuh menatapku. Tapi aku tidak mau menunggunya berbicara dulu, aku mau aku yang memulai. “Kenapa ketawa tadi?” “Siapa?” “Gyan?” Dia terkekeh. “Aku ngetawain diri sendiri.” “What?!” “Rasanya lucu, lho, Ra. Terakhir aku ngenalin cewek ke dia, cewekku dinikahi. Terus tadi kebayang hal yang sama, dan bayangin sosok kamu dinikahi papa. Kamu gimana kalau ditawarin jadi istri mudanya?” Aku membuka mulut, menatapnya ngeri. “Gyan, please?” Dia tertawa lepas. “Kamu tau, mungkin dia sekarang udah tua, tapi jiwa predatornya pasti masih berfungsi dengan baik dan orang menarik kayak ka—oh kayakanya bukan tipe dia.” Aku mengembuskan napas lelah. Candaan kami ini terasa salah, tetapi anehnya aku juga ikut menikmati karena sekarang sudah tertawa sendiri, tertawa geli. “Kenapa aku bukan tipe dia?” “Karena kamu nggak akan mau sama dia dan nggak akan nurut sama semua omongannya. Kamu nggak mempan ditawarin duit yang banyak. Apalagi rayuan di-provide semuanya. Kamu pasti takut dan kabur. Dia jelas nggak suka.” “Atau gimana kalau kita coba, Gy?” Bola matanya membeliak. “Heh! Nggak boleh dong! Aku bercanda, itu pikiran tololku doang. Kalau kali ini dia berani lirik-lirik kamu bukan sebagai orang tua bau tanah tapi kayak lirikanku, aku nggak akan diem. Aku siap tempur.” Aku memutar bola mata. “Ini lo ngeremehin gue lagi, Ra?” “Enggak, please!” Aku terbahak-bahak. “By the way, emang lirikan lo ke gue gimana, Yan?” Dia menarik-turunkan alisnya, memberi tatapan super jahil dan aku tidak mampu menahan tawa. Tapi obrolan kami terpaksa harus berhenti karena melihat seseorang keluar dari pintu rumahnya, berjalan menghampiri kami. Aku buru-buru ikut turun, menyaksikan sapaan ramah dan hangat mereka. Aku tidak terlalu mendengar apa yang diucapkan perempuan itu, tetapi kini tiba giliranku, dia menyapa sangat ramah sambil membungkukkan sedikit tubuh. “Ini, Mbak, sedikit buah tangan.” Aku menyodorkan buah tangan yang aku bawa untuk mereka. “Terima kasih, Mbak Dhara. Mari masuk, Mbak. Ayo, Mas Gyan.” “Namanya Mbak Irma,” ucap Gyan lirih, sambil meraih tanganku, menggandengku melangkah bersamanya. “Dulu dia nangis mau ikut aku sama Mama, tapi di sisi lain, papa juga baik dan sayang sama dia. Lucu banget dulu, dia yang lebih galau ketimbang aku sebagai anak yang ortunya divorced.” Gyan tertawa pelan. Aku menyamakan langkah dengan Gyan, di belakang Mbak Irma, memasuki rumah yang besar bagiku, dan aku semakin percaya dengan semua kisah Gyan di masa lalu. Seseorang, yang memiliki harta segini banyak, mungkin juga dengan ketampanan yang mencukupi—melihat Gyan semenarik itu fisiknya, aku yakin papanya pun sama di kehidupan nyata—menjadikan modal kuat dia untuk semena-mena pada kehidupan. Aku tidak berusaha mengeneralisir, kasus utama di sini adalah papanya Gyan. “Haiiii!” There she is! Perempuan yang beberapa waktu lalu dengan berani dan tegas memberiku peringatan untuk tidak menyakiti Gyan, padahal tumbuhan mati pun tahu apa yang dia lakukan pada kekasihku. Oh lihatlah siapa yang dia pilih peluk di antara aku dan Gyan. Tentu Gyan! Sementara padaku, dia hanya mengangguk singkat dan memberi senyuman tipis, terlalu tipis. “Macet nggak tadi?” Mungkin ini karena hubunganku dan impresiku dengan Mega memang tidak baik, makanya aku memaknai tatapan, kalimat, dan nada bicaranya seolah istri atau pacar yang sedang bertanya. Aku merasa horor sendiri. Tapi, pasanganku memang bisa diandalkan tanpa perlu aku beritahu apa yang aku ingin dia lakukan, karena dia menoleh padaku, tertawa pelan dan bilang, “Macet udah bukan hal baru, ya, Sayang, ya?” Ow! ‘Sayang’, heh? Ada untungnya juga pertemuan ini, karena membuat dramaku dan Gyan berlanjut. Dulu, kami mencoba berusaha seperti dua orang yang mencoba saling mengenal, sekarang—oh kami tidak sedang berpura-pura, ini sungguhan. Bedanya, mungkin sebelumnya tidak ada atau belum berani menggunakan panggilan sayang. “Papamu tadi udah tau dan inget kok kamu mau ke sini, Gy. Tapi tadi ada telepon dadakan dan penting, makanya dia keluar. Tapi ini tadi udah ngabarin dikit lagi sampe.” Gyan mengangguk. Sudah, itu saja. Sementara aku merasa tidak perlu berbasa-basi untuk membuat percakapan, karena Mega sama sekali tidak melibatkanku. Mungkin dia mau menunjukkan padaku kalau aku bahkan tak terlihat di rumah ini. Seolah tidak ada. Tapi justru itu hal baik untukku, karena aku tidak perlu susah-susah menyusun kalimat. Aku mau menyimak dan diam, menikmati hidangan istimewa yang disiapkan Mbak Irma dan temannya tadi. Aku tidak tahu Mega memiliki berapa banyak bantuan di rumah ini. Benar-benar pilihan yang tepat, Mega, memilih meninggalkan lelaki muda demi menjadi nyonya besar. “Abaaaaaanggggg!!!!” Ini dia hiburanku! Satu-satunya hal baik dari Mega yang bisa aku terima adalah dengan kehadiran Alex. Terima kasih, Mega, sudah melahirkan anak semenggemaskan ini, juga tampan—kalau yang ini, sekali lagi, aku yakin karena gen ayahnya Gyan. Aku tadi sudah melihat lagi foto-foto keluarga Mega dan semakin yakin. “Ini dari mana ini?” Gyan tertawa geli, membantu melepas tas Alex, lalu mencium kepalanya. “Abis main skateboard, ya, Sus?” Yang dipanggil sus mengangguk. “Betul, Mas. Progresnya bagus banget tadi kata pelatihnya, ada videonya di Ibu.” Ibu alias Mega dengan senyum lebar meraih handphone, mencari-cari sesuatu, kemudian menyodorkan pada Gyan dengan senyuman lebar, terlihat sangat bangga. “Liat, Gy, Alex pinter banget, ya?” Tatapan itu, tatapan yang Mega berikan pada Gyan, ketika kekasihku sedang fokus melihat video adiknya. Oh ini yang aku lewatkan kalau aku tetap denial akan perasaanku pada Gyan. “He’s so brave, sama kayak kamu.” Aku mulai tidak tahan mendengar kalimat-kalimat perempuan ini. Entahlah, terdengar sangat janggal dan sedikit disgusting. Karena … Alex, kan, anaknya Om Gino, tetapi kenapa seolah dia sedang menganalisa anak Gyan? Gyan menyerahkan kembali handphone, lalu, menatap adiknya. “Keren banget cowok kecil ini, yaaaa!” Ia mencubit pelan perut adiknya. “Anak siapa iniii keren banget! Anaknya Papa Gino, yaaa?” “Adeknya Abang jugaa!” jawabnya sambil tertawa, laku dia mendadakn menemukan tatapanku. Alex memukul keningnya. “Oh My God! Aku lupa nggak salim Kakak Dhara. Sorriii.” Dia mendekatiku, menyalamiku dan aku memeluknya singkat. “Tadi Kak Dhara hampir nangis nih nggak dikenal Alex.” “Nggak mungkin dong!” Gyan tertawa. “Tadi Abang diem, kasih waktu sampe Alex ngeh sendiri di sebelah ada Kak Dhara. Kalau kelamaan tadi ngenalinnya, waaahhh, Abang nggak mau ketemu Alex lagi ah.” “Kamu berdua mau menikah, ya?” Pertanyaan polos itu, refleks membuatku tergelak, Gyan pun sama, dia mengusap kepala Alex. Sementara Mega terbatuk-batuk. Kenapa, Mega? Apakah pernikahan kami juga tidak akan kamu restui? Kamu menginginkan Gyan menikahi siapa? Menikahimu diam-diam juga kah? Atau tidak usah menikah supaya fokus dengan Alex dan kamu? “Alex tahu menikah itu apa?” tanyaku geli. Apalagi ketika dia menoleh pada Sus-nya, terlihat meminta tolong. “Tahu nggak?” Dia tertawa. Lalu menggelengkan kepala. “Party? Banyak makanan, tempat bagus dan kita nyanyi-nyanyi.” “Kok pinter banget sih?” Aku pura-pura cemberut sambil bersedekap. “Coba tanya sama Abang, menikah itu apa.” ALex menoleh pada Gyan. Gyan tertawa geli, terlihat berpikir keras. “Menikah itu … ketika dua orang dewasa siap buat hidup bareng selama-lamanya. Tinggal di rumah yang sama, saling bantu di rumah, saling sayang.” “I know!!” serunya kencang sambil meninju angin. Lalu ketika dia baru mau membuka mulut kembali, Mega sudah keburu memanggilnya, dan memintanya untuk ke kamar bersama Sus. Aku sah-sah saja, kan, kalau benar-benar mulai membenci Mega? Atau mungkin, dia sudah layak aku panggil nenek lampir? Oh Nini, kamu mulai mengambil peran antagonis.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 4

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Ada komplain apa sejauh ini sama sosok Gyan, Ra?” Aku tidak mengerti kalimat itu sungguh layak disebut sebagai kalimat teraneh dalam pembukaan obrolan ketika kita baru pertama bertemu seseorang. Terlebih, orang-orang itu adalah calon mertua dan menantu kalau memang takdirnya nanti sungguh demikian. Well, aku tidak berniat menggurui atau sok paling paham hanya karena aku pernah mengalami beberapa hal menarik dalam hidup, tapi maksudku … tidakkah ini aneh untuk didengar? Pertanyaan dari papanya Gyan, Om Gino ini sungguh diluar dari perkiraanku, bahkan setelah disadarkan oleh Gyan di dalam mobil tentang kemungkinan aku tidak disukai papanya. Bahkan dalam kemungkinan terburuk, aku masih tidak menyangka pertanyaan itu yang akan beliau utarakan. Aku pikir, akan berupa; “Gimana hubunganmu sama Gyan?” “Kalian keliatan banget dua orang yang berbeda, gimana caranya bisa saling melengkapi dan bikin hubungan ini works?” “Jadi rencananya kapan mau ke jenjang pernikahan?” “Gy, kapan kamu ajak Papa buat ketemu dan ngobrol sama ibunya Dhara, kalau nggak mau langsung obrolan serius, yaa ngobrol-ngobrol ringan dulu lah.” “Kamu yakin bisa jadi orang yang selalu ada di samping Gyan?” “Seberapa kamu yakin kamu dan Gyan bisa saling kerja sama dan nggak gagal kayak hubungan saya dan mamanya Gyan?” Ya, aku sudah menyusun beberapa pilihan yang kemungkinan akan ditanyakan oleh Om Gino, tetapi yang aku terima justru dia ingin tahu apa saja yang sudah aku list dari keburukan Gyan. Seriously, dari sekian banyak kebaikan yang Gyan miliki, sebagai anaknya, dia masih mau mencari-cari komplain dari orang lain, terlebih dari perempuan yang dengan sadar di bawa ke sini sebagai pasangan? Aku rasanya tidak masalah untuk sepenuhnya mengambil peran antagonis—selama aku di rumah ini. Tidak perlu tanggung-tanggung hanya ketika di depan Mega, karena nyatanya, Mega dan Gino memang sungguh pasangan yang serasi. Mereka sama saja. Yang mengenaskan adalah melihat respons Gyan. Tahu apa? Dia tertawa pelan, menggeleng-gelengkan kepala, sambil sibuk menikmati makanan di piringnya. Aku paham sekali, reaksinya ini sungguh normal mengingat dia menghadapi papanya bukan kali pertama ini, melainkan nyaris separuh hidupnya. Jadi, dia pasti sudah terbiasa, terlalu terbiasa. Tapi tidak denganku, jadi, setelah sadar aku mengambil jeda yang lumayan lama untuk menjawab pertanyaannya, aku akan membuat ini semua worth to wait. Om Gino akan puas dengan semua penjabaran yang aku berikan tentang sosok anaknya. Aku tersenyum, menatap Om Gino sopan tanpa melirik Mega—kali ini, aku bahkan bisa menganggapnya tidak ada, kalau aku mau. “Komplain buat ke Gyan, ya Om? Wah banyak banget sampai lama banget aku mikirnya.” Kami semua tertawa pelan, sepertinya. Aku tidak berniat melihat yang lain. “Komplainku bahkan aku utarain ke Gyan, lho, Om, saking aku udah eeeeeghhhh nggak sanggup nahan.” “Oyaa?” Om Gino menganggukkan kepala, sambil tertawa khas bapak-bapak. Tapi tidak peduli bagaimanapun kuatnya pesona atau wibawanya, namanya sudah terlanjur buruk di ingatanku. Jadi, apa pun yang dia lakukan, kesannya juga negatif. Aku tahu aku harus segera mengurus pikiranku ini kalau aku masih mau hidup dengan Gyan. “Wajar banget kok komplainmu itu, kita paham gimana sosok Gyan, jadi kita nggak nyalahin kamu, Ra.” Aku mengangguk. “Aku selalu bilang sama dia buat jangan jadi orang terlalu baik, nanti dimanfaatin orang lain.” List pertamaku bahkan sudah mengubah raut wajah Om Gino dan sekarang aku memutuskan melirik Mega, dia pun sama. “You’re a good father, Om, bisa didik Gyan buat jadi manusia yang mentingin orang lain dibanding dirinya sendiri, terlebih kalau dia sayang sama orang itu. Padahal, jadi baik itu rentah sakit hati, ya, Om?” Om Gino tertawa pelan, tidak mengatakan apa-apa. “Aku juga selalu komplain sama Gyan, kenapa siiii mau capek-capek effort segitunya buat aku, padahal dulu di awal aku jahat lho, Om. Aku manfaatin kebaikan Gyan, karena aku tahu dia baik dan sayang aku. Tapi itu Gyan, tulus dan baiknya nggak kurang-kurang. Dia mau pusing demi bantu orang lain, dia malah seneng in charge buat masalah orang, apalagi orang yang dia sayang. Dia sering ngerelain sesuatu buat orang yang dia sayang, ya, Om? Anak Om ini hebat, cowok hebat. Jago masak.” Aku melihat alisnya mengangkat, informasi ini mungkin akan melukai egonya. “Salah satu kegiatan favorit kami adalah belanja ke supermarket dan masak bareng.” Aku melirik Gyan, menepuk pundak lelaki itu dengan senyuman bangga. “Dia kelihatan hebat ngelakuin apa pun, masak, bantuin Ibu ngurus tanaman, kerja keras, ngurus kafe. Dia bisa jadi anak dan pacar yang hebat. Makasih, ya, Om, udah jadi bagian atas kehadiran Gyan di dunia ini.” “Tapi manusia isinya bukan cuma baik-baik aja, kan, Ra?” Om Gino menatapku, aku tahu ke mana arahnya. “Kita nggak hidup cuma dengan kebaikan. Pernikahan itu nanti akan bikin kita lebih terbuka, dan yang mungkin selama ini nggak kita tau, bisa jadi bikin kita kaget. Nggak sedikit orang yang pacaran lama tapi ketika nikah tetep cerai.” Aku mengangguk. “Betul, Om. Kita emang nggak bisa tahu detail masa depan gimana, tapi mungkin kita bisa bikin gambaran besar, dan siapin beberapa hal dari sekarang. Soal aku dan Gyan atau mungkin sifat-sifat kita yang belum terungkap, aku nggak berani bilang bisa nerima itu seratus persen. Tapi kita ngakalinnya dengan cara sebisa mungkin terbuka dari sekarang, dan berpikir realistis, bukan cuma bayanginnya baiknya aja. Aku mungkin nanti komplain sama beberapa hal tentang Gyan dalam pernikahan, tapi komplainku bukan untuk mengakhiri, aku akan usaha semaksimal mungkin untuk cari cara sama Gyan. aku yakin Gyan pun begitu ke aku. Gyan mungkin nggak sempurna, aku pun sama.” “Om lega dengernya, Ra. Mamanya Gyan nggak bercanda waktu bilang calon menantu kita ini spesial. Bukan cuma cantik dan aura yang positif, tapi cara pikirmu memang dibutuhin sama Gyan.” Beliau menoleh pada anaknya. “Kamu sendiri gimana, Gy? Udah yakin banget sama Dhara?” Gyan mengangguk. That’s it. Tidak ada tambahan kata-kata apa pun, bahkan dia tidak menatap balik papanya. “Papa cuma mau ingetin sekali lagi, cinta itu boleh, tapi kamu tau, kan, apa satu-satunya yang dimiliki laki-laki?” Jujur, aku tidak paham dengan arti dari pertanyaan itu. Tetapi melihat diamnya Gyan, mereka pasti sudah pernah membahas ini. “Beberapa perempuan suka lupa bedain mana sayang dan menghargai. Jadi nggak heran, di luar sana ada banyak yang ngelawan dan nggak menghargai suaminya cuma karena suaminya nunjukin cintanya terlalu berlebihan.” Aku melongo mendengarkan percakapan mereka berdua. “Suami tetep harus bisa didik istri, kendali tetep ada di tangan suami. Kalau suaminya lemah, rumah tangganya bubar, kecuali memang istri yang memang nggak bisa dididik. Padahal niat suami bagus, memastikan semuanya aman dan baik. Kalau istri nurut, rumah tangga pasti damai.” Aku mendengar Gyan tertawa, kali ini mengangkat pandangannya dan menatap papanya. “Thanks, Pa, untuk wejangannya. Tapi kita selalu cari guru yang memang cocok sama prinsip dan cara kerja kita, kan, biar nggak crash?” Gyan mengangguk-anggukkan kepala. “Aku jadiin pendapat Papa sebagai masukan, tapi aku punya konselor sendiri untuk pernikahan. Kalau Papa mau tau perspektif lain tentang gimana jadi suami dan ayah, nanti aku bisa kirim nomernya.” Om Gino tertawa. Aku tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi di sini. Tapi, ketika Om Gino kembali menatapku, entah kenapa rasanya aku begitu terkejut dan gugup. Padahal, tadi sudah biasa saja. “Saya percaya kamu orang yang keren, Ra, berpendidikan, modern atau apa sebutannya untuk anak-anak zaman sekarang. Jadi saya yakin, kamu pasti paham gimana caranya berperan dan beradaptasi di keluarga baru.” Apa itu maksudnya? Saat Om Gino tersenyum dan melanjutkan, “Kamu bisa sering-sering ngobrol sama Mamanya Alex buat belajar.” What?! Jadi, perempuan yang baik dan kerennya menurutnya adalah yang menjadi patung saat ada di sebelah suami? Yang tidak berani berpendapat dan hanya memastikan napasnya masih ada ketika bangun tidur? Aku tidak heran kenapa Gyan sangat membenci lelaki kolot ini. Ya Tuhan, maaf karena aku benar-benar ingin menculik Alex dari rumah ini. Hiburanku dari hari panjang dan buruk itu adalah … ketika sudah kembali berada di dalam mobil, Gyan tertawa terpingkal-pingkal, lalu bilang, “Lo denger tadi omongan panjang orang itu? Kendali ada di tangan suami? Kalau suaminya aja nggak becus kayak dia gimana? Rumah tangganya aja bubar karena kont*l-nya yang nggak bisa nahan diri, sok-sokan nyebut istrinya ngelawan.” Aku memejamkan mata, mendengar kata vulgarnya yang sepertinya ini kali pertama. Tapi aku juga tidak bisa untuk tidak ikut tertawa. “Sori, sori.” Dia sadar sendiri. “Kata-kataku kotor banget, yaaa. Tapi asli, aku tuh sekarang udah ada di fase, tiap dia denger dia ngomong tuh pengen ngetawain. Semuanya nggak ada isinya. Nyokap gue tuh nyokap terbaik dan tersabar sepanjang masa, dia nggak bego buat diem bertahan sama laki modelan dajjal gitu. Yang menurut tuh laki malah sebagai istri yang ngelawan.” “Berarti kamu beneran udah dewasa, Gy.” “Oya?” Aku mengangguk, memberinya ibu jari. “Pengalaman hidupmu tuh beneran berat, dan sekarang liat kamu bisa begini, aku bangga banget! Kamu hebat!” “Ya ampun, Dhara,” lirihnya, lalu memelukku erat. “Kamu harus bantu doain aku buat nggak jadi kayak dia, please please please? Aku beneran kalau bisa tuker apa kek, aku lakuin supaya aku bisa hapus diriku sebagai darah dagingnya.” Ada laki-laki sehebat ini, Mega malah tertarik dengan Om Gino? Why?

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 2

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Kamu beneran udah pikirin ini mateng-mateng, Ra?” Ya Tuhan, aku tidak tahu dia sudah memberiku pertanyaan yang sama berapa kali. Padahal, jawabanku masih juga sama sejak awal, anggukan kepala. “Kamu tau, kan, kami nggak harus ngelakuin ini? Aku nggak mau kamu nyesel nanti atau apa yaaa, ya kamu pasti udah tau konsekuensinya.” “Gyan, please?” Aku tertawa geli, sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tahu, dan aku siap sama apa pun konsekuensinya nanti. Janji, nggak akan nyalahin kamu. I swear.” Dia tertawa pelan. Lalu menganggukkan kepala. Aku tahu, mungkin keputusanku ini adalah keputusan gila. Padahal, mungkin saja, seperti kata Gyan, aku tidak harus melakukan ini. Tidak perlu menemui papa Gyan dan Mega, karena kata Gyan, pernikahan kami pun tidak masalah tidak dihadiri papanya. Tapi bagiku, Om Gino tetap ayahnya Gyan dan dia masih hidup, masih sehat, memiliki keluarga baru. Jadi, ketika aku memutuskan untuk ingin hidup bersama Gyan, artinya aku harus siap juga menerima apa yang dia bawa di belakangnya, bukan? Mungkin nanti, aku dan dia sama-sama tidak bisa menyukai atau memperlakukan Om Gino seperti bagaimana kami ke Tante Anita, tapi aku akan berusaha sesopan mungkin. Sebagaimana mestinya manusia memperlakukan manusia. Kalau bisa, aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi menantunya. Tapi aku tidak janji soal Mega. Gyan paham itu, dia tertawa pelan, mengatakan dia memahami dan mendukungku. Aku mau membela diri. Maksudku dengan berbeda soal Mega adalah … karena dia tidak memposisikan dirinya sebagai ibu sambung Gyan? Well, mungkin aneh rasanya mengingat usia dan latar belakang mereka. Tapi sebagai orang dewasa dan berpikir normal, seharusnya disa bisa, paling tidak, menghargai Gyan sebagai keluarganya, menghargai Om Gino sebagai suaminya. Tapi menurutku tidak. Apa yang Mega berusaha tunjukkan, bagaimana sikapnya di depanku, merupakan sikap dari seseorang yang merasa punya hak atas Gyan sebagai orang spesial. Dia tidak mengajakku ngobrol sebagai calon keluarga atau calon menantu tiri, dia menegurku layaknya aku akan merebut Gyan dari hidupnya. Jadi, aku tidak bisa menjamin aku nanti bisa memperlakukan Mega dengan baik sesuai harapan orang-orang, mungkin. “Ceritain ke aku dong, Gy, first kiss-mu siapa dan gimana?” “Oh nooooo!” Tiba-tiba aku merasa lajunya mobil memelan, aku menatapnya bingung, dan wajahnya kecut langsung. Dia takut ada drama dadakan yang hadir di tengah perjalanan kami. “Next topic!” Aku tak bisa menahan tawa geli. “Eh aku serius! Biar nggak hening nih perjalanan dan mengurangi rasa gugupmu. I knooowww,” Aku mencibirnya. “Kamu nervous abis, kan? Padahal aku yang pertama kali ketemuan sama papamu? Bisa-bisanya kamu nanyain adat nikah padahal diajak ketemu papamu aja belum.” Gyan tergelak. “Ya lagian pendapat dia nggak penting kok, nggak ngaruh. Aku tetep akan sama kamu. Dia nggak sepenting itu di hidup aku, Ra.” Aku meringis. Sebetulnya kadang gatal sekali mulutku untuk menjawab Gyan setiap dia mengeluarkan kalimat kebencian untuk papanya. Tapi aku juga sadar, aku tidak ada di posisinya untuk tahu persis apa yang dia rasakan, dia lalui selama menjadi anak papanya. Jadi semua kalimatku yang hanya akan terkesan menghakimi dan menggurui, aku telan kembali. “Yaudah, makanya cepetan ceritain your first kiss, daripada aku bahas papamu?” Aku tahu aku kejam karena mengancamnya dengan cara murahan, tapi aku benar-benar ingin ngobrol random dengan Gyan. Aku suka mendengar tawanya dan nada antusiasnya setiap bercerita. “Ini bukan jebakan nanti bakalan marah atau gimana kok. Gue nggak cemburuan, yaaaaa! Lagian, kan, first kiss orang bisa aja pas TK, jadi mana mungkin dulu udah ngerti french kiss, dan nggak mungkin aku cemburu sama anak—” “Yaudah coba ceritain dulu pertama kali french kiss kamu, kayaknya paham banget nih.” Ya Tuhan! Aku menutup mulut rapat, karena merasa senjataku tadi memakan diriku sendiri. Niatnya ngobrol random, hasilnya malah kena jebakan sendiri. Akibat terlalu santai sampai tidak memikirkan lagi apa yang diucapkan. French kiss? Memangnya aku pernah melakukan itu di dalam hidupku? Atau cuma tahu-tahu angin lalu dari apa yang aku baca dan aku lihat? Aku menyerongkan tubuh, menatap Gyan sambil meringis. Dia tertawa, terlihat menikmati kekalahanku. “Nggak nyaman, kan?” tanyanya geli. “Kalimat nggak akan marah atau cemburu itu cuma senjata cewek buat dapetin apa yang dia mau, nanti udah dikasih tau, nggak mungkin nggak marah.” Aku tergelak. “Tapi kalau-kalau kamu penasaran banget, ngeri nggak bisa tidur juga ini mah, gue ceritain deh.” Gyan berdeham dua kali. “Namanya Salsa, panggilannya Caca. Kita waktu itu satu sekolah, SD.” Belum lengkap ceritanya, dia sudah tertawa sendiri dan aku jadi tertular tawanya. “Ini bukan apa-apa, yaaa, aku ketawa karena konyol banget kalau diinget-dinget. Jadi, dulu, kan, dia selalu bawa bekel, kan? Nah, makanannya tuh lucu-lucu gitu dan sumpah enak banget, Ra! Gue lupa detail rasanya, jelas, tapi gue inget pokoknya enak. Gue sering minta dong! Lama-lama dia bete kali, yaaa, karena minta mulu nih anak.” Melihat Gyan bercerita dengan ekspresi dan nada yang lucu, aku duduk menyimak sambil menahan senyum geli. “Terus pernah dia nggak mau ngasih tuh. Kamu tau aku offering apa ke dia?” Aku menggigit bibir dalam usaha menahan tawa, sambil menggelengkan kepala. “Kalau dia mau bagi makanannya sama aku, aku mau cium dia. Fuuuuckkk!” Dia mengerang, terlihat frustasi mengingat kelakuannya sendiri. “What did I do????” Aku ikutan tertawa kencang. “Udah ngerasa kayak anaknya Ahmad Dhani yaa, Paaak? Seolah ciumannya diinginkan sama semua or—wait, terus dikasih sama dia?” “Nah itu!” Gyan tertawa geli. “Aku nggak tahu deh, dulu ngerti ciuman itu dari mana dan apa, kenapa si Caca ini jugaaa mau. Makanannya dikasih, terus gue cium pipi dia. Dulu nggak ngeh ada cium bibir.” Aku pura-pura mual. Gyan makin tertawa kencang. “Terus sama dia juga tuh nikah-nikahan, belum cerai sih ini, kamu nggak pa-pa, Ra, sama suami orang?” “Edaaaaaannn!” Aku memukul lengannya kencang. “Tapi aku juga punya tau suami-suami-an dulu. Seru banget ya kayaknya hidup kita dulu??” “Siapa suamimu? Biar aku samperin buat nalak kamu.” Aku memutar bola mata. “Namanya Doni atau Dani gitu, ya ampun agak lupaaaa, nggak lama sih, dia dulu pindah.” “Oh itu mah udah cerai sih kalau menurut agama. Kan, katanya enam bulan berturut-turut nggak dinafkahi lahir-batin sama dengan cerai. Iya nggak, sih?” “Gy?” Aku menatapnya lelah. Kemudian kami terpingkal-pingkal. “Terus first kiss-mu, Ra?” “Ya sama dia ituuuu!” seruku, geli sendiri dengan kehidupan zaman dulu. “Sorry, my first kiss-ku sama suami dong, walaupun setelahnya ditinggal tanpa kabar.” Gyan tertawa. “Soleha banget pacar gue ya Allah.” Ia menggeleng-gelenglan kepala. Tawanya makin lepas saat aku memukul lengannya lagi. “Tapi kamu emang langganan ditinggal sama crush-mu ya, Ni?” “Shiiiiiiitttt!” Aku mengerang sambil memejamkan mata. Gyan terbahak-bahak. “But at least, aku nggak ditinggal nikah sama papaku sendiri.” “Damn! That hurts on so many levels!” Gyan menoleh singkat, memicingkan matanya, kemudian tertawa terpingkal-pingkal. “But at least, aku nggak mati penasaran karena nggak berani confess.” Aku memejamkan mata rapat-rapat, karena kalimatnya tepat di hati. Menyakitkan. “Nice one.” Aku melihat dia terlihat menikmati percakapan ini. “But at least, aku nggak dihantui kecanggungan karena harus manggil mantan atau mama.” Gyan berteriak sambil memukul setir, tawanya lepas. “I’m done,” katanya masih tertawa geli. “Curang ah, serangan soal Mega terus. Ini ada apa sih, sama Mega? Apa yang aku nggak tahu? Kayaknya cemburu berat nih Mbak Dhara sama Mama Mega.” “Ew.” Gyan tergelak. “Well, mungkin agak bener. Bukan cemburu, yaaa, tapi aku bete banget deh sama Mega. Dia tuh sadar nggak sih dia nikahin papamu? Terus kenapa tingkahnya seolah dia masih pacarmu?” “Ohya?” Aku mengangguk. “Nanti biar aku yang—” “Nooooo! Jangan apa-apa langsung disamperin, aku cerita bukan pengen kamu belain aku langsung di depan dia. Nanti dia malah mikir makin jelek soal aku. Aku cuma mau cerita aja. Biarin aku sendiri yang handle.” “My strong woman,” katanya, tersenyum lebar. Aku mengangkat sebelah tangan, berusaha memamerkan otot yang nyatanya memang tidak ada. “Ra,” panggilnya pelan. “Hm?” “Kalau nanti papa bilang dia nggak setuju, kamu gimana? Kalau aku, kan, nggak peduli, tapi kamu sendiri gimana?” Oh … Apakah selama ini aku memang besar kepala dan merasa semua orang akan menyukaiku? Aku benar-benar tidak pernah berpikir kemungkinan kalau Om Gino tidak menyukaiku, mengingat aku saja kontra dengan Gyan di awal-awal, yang merupakan didikan dari sudut pandang Om Gino. Jadi, yang katanya tadi aku siap dengan semua konsekuensi, sebenarnya konsekuensi apa yang aku maksud?

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 6

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Aku nggak tahu akan berhasil atau enggak, atau mungkin abis ini, kita akan ngetawain atau saling ngetawain abis-abisan, tapi please please, biarin aku ngelakuin hal-hal—okay, kalau hal-hal terlalu banyak, satu hal aja deh, sekali ngelakuin romantis begini, setelahnya kamu boleh deh mau ngatain aku.” Well, itu ucapan yang aneh dan tentu malah membuatku semakin tertawa geli, tetapi tentu saja aku paham semua kalimat gugupnya itu. Karena aku keluar kamar dengan tampilan yang berbeda dan seniat itu untuk menemuinya dan berdua ke restoran yang sudah Gyan janjikan. Lalu Gyan ikutan tertawa. “Ini mungkin akan aneh dan nggak tahu sampai kapan aku, kita akan terbiasa, tapi kamu malam ini … Oh My God …. You’re so fucking gorgeous, Dhara. I can’t.” “Thank you, Mr. Kurniawan.” “Stop it.” Aku tak bisa menahan tawa kencang. Kemudian masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dia buka, tentu saja Gyan akan totalitas ketika bilang ingin melakukan hal-hal romantis. Entah seperti orang-orang normal pada umumnya atau memang ini merupakan hal yang memang dia inginkan dan selalu dia lakukan pada seseorang yang dia sayang. Oh no, Mega kah? Aku menggelengkan kepala. Tidak ada yang boleh merusak malam ini, apalagi yang merusakan adalah bayangan masa lalu Gyan dan Mega. satu-satunya cara supaya aku bisa tetap pada jalur kebenaran dan tidak cemburu atau insecure pada Mega adalah mengingat seleranya, yaitu orang yang dibenci Gyan; papanya sendiri. Oh anyway, kenapa pula aku perlu insecure dan cemburu pada Mega? Kamu sudah ada di dalam kehidupan yang berda, dengan garis awal dan rintangan yang juga berbeda, jadi mari jalani kehidupan masing-masing. Lagipula, dia tidak akan pernah bisa aku hapus dari kehidupanku ketika aku ingin Gyan ada di hidupku. Benar, kan? Mungkin Gyan memang belum pernah melihatku berdandan seniat ini selama kami saling mengenal, karena ya memang belum ada momen untuk ke arah sana. Jadi, aku bisa memahami, sangat-sangat paham ketika sekarang ini, dalam perjalanan kami pun, dia tidak henti-hentinya melirikku, tetapi memilih menutup rapat mulutnya. Aku memberi jeda waktu untuk membiarkannya sibuk dengan pikirannya atas entah apa pun penilaiannya untukku. Namun, ketika waktu yang aku berikan telah habis, aku pada akhirnya tertawa geli, menyerongkan sedikit tubuh dan menatapnya. Dia sudah paham maksud tindakan, itu kenapa aku yakin dia tertawa sekarang sambil menggosok wajahnya dengan sebelah tangan, lalu tak henti mengatakan maaf. “Makanya kalau mau liat ceweknya dandan kayak gini, harus sering-sering ajak makannya di resto yang cocok dong, lo sukanya makan gultik melulu.” Gyan tergelak. Membungkukkan sedikit tubuhnya dan menjawab, “Aduh, sori banget deh, Mbak, aku yang anak gultik emang lagi berjuang keras nih biar layak semobil sama anak fancy resto.” See? Terlalu banyak hal menarik dari diri Gyan sebenarnya, yang kalau dikulik lebih jauh, akan semakin terpesona. Aku jelas bodoh sekali kalau sampai melepaskan semua ini. Tidak perlu memasang wajah bercanda, memberinya disclaimer bahwa aku bercanda atau aku senang humor, tetapi dia jago dalam memahami kalimat dan konteks kami, lalu mengimbanginya dengan sangat baik. Dia tidak tersinggung, laki-laki ini hanya case-nya yang terlihat rusak, sebenarnya dia indah sekali. “Tapi serius, aku pengen tahu banget,” katanya. “Butuh berapa lama buat selesai siap-siap tampilan sesempurna ini? You know, di luar sana kan, persepsi orang cewek dandannya lama, nah apalagi ini keliatannya level maksimal.” Aku tertawa. “Sebenernya, Gy … eh tapi aku nggak berani bilang semua cewk begini, yaaaa. Jangan aja nanti kamu bilang aku generalisir.” Saat aku lihat dia memutar bola mata sambil menertawakanku, saat itu pula aku memukul lengannya pelan. “Serius, ngambek nih.” “Coba ngambek dong, mau liat.” Aku tergelak. “Payah ah, jadi pokoknya, aku mau kasih bocoran, ini internal kita aja sih. Aku nggak bilang semua perempuan begini. Tapi, dandan itu nggak lama, Gy. Maksudnya, beneran yang dilakuin ya. Misal, mandi dan kawan-kawannya, pake makeup, dan lain-lain, itu bisa diitung pasti waktunya. Yang nggak bisa adalah!!!!” Aku tertawa sendiri sebelum melanjutkan. “Mood buat ngelakuin semuanya, dan mood itu bisa untuk tiap step lho!” “Sorry? Gimana itu maksudnya?” “Nih, misal, dalam sehari ini aku kan ada acara spesial for someone special.” Aku memang berniat menggodanya dan umpanku tentu berhasil, membuatnya tertawa lalu meniupkan ciuman untukku. “Apa aja tuh yang perlu aku siapin? Dress, of course! Terus heels, hand bag, makeup ideas, hairstyle ideas, dan lainnya yang …kok lupa apa lagi, ya?” Aku menggelengkan kepala karena bingung dengan dirinya sendiri. “Nah misalnya, bagian mandi aku udah mood banget nih mau bersihin badan, pake sabun wangi A, blah blah blah, bisa aja pas pake dress-nya mood aku udah berubah dan tiba-tiba ngerasa looks-nya nggak oke. Mood satu itu kadang menentukan buat mood ke step seterusnya, kadang juga enggak, nanti jadi mood lagi pas doing makeup. Gitu lho, Gy. Yang bikin lama ituuuu, karena kita bangun mood, atau tiba-tiba makeup sambil konser, sambil senyum-senyum bikin skenario romantis di kepala. Begitu penjelasannya, Bapak Gyan, kurang lebihnya saya ambil.” Gyan mengangguk-anggukkan kepala, tak lama tawanya pecah, lalu dia meminta maaf. “Tapi aku bersyukur banget, cewek aku normal kayak cewek pada umumnya.” “What?” Gyan terkekeh. “It’s okay, kamu butuh mood lama juga nggak pa-pa, gue tungguin, Ra, serius. Semuanya terbayar kok liat kamu secantik ini, your dress, your heels,” liriknya ke bawah sekilas, lalu memberiku senyum lagi. “Your makeup, your hair, your smell, and of course your smile. Semuanya berhasil dengan baik bikin aku terpesona dari tadi, kamu kalau tau ini di dadaku, pasti penuh bunga.” “Ewwww! Edyaaaan! Agak geli yaaaaa kita sampe di momen ini.” Kami sama-sama terbahak-bahak. “Bunga berduri apa gimana tuh tapiiii?” “Berduri nggak pa-pa dong, beberapa bunga memang harus ada durinya, kan?” “Kamu tuh sibuk dari tadi muji aku malam ini tapi nggak sadar ya kalau kamu juga tuh malam ini oke banget?” “What? No! Don’t do that!” “Masa sukanya muji tapi nggak mau dipuji sih, Mas Gyan.” Gyan terbahak-bahak. “That ‘Mas’ tho. Itu panggilan bagus tau, jangan dipermainkan, nanti Ibu dan Mamaku tau, kamu diceramahi.” Gyan makin senang ketika aku memasang wajah bersalah. “Kenapa, yaa, rasanya tuh selalu aneh kalau dipuji. Kayak … boong lo! Peres lo! Ini pasti cuma basa-basi atau ini cuma mau buat gue seneng.” “Emang!” jawabku cepat. “Niatku muji emang buat bikin kamu seneng. Biar kamu bisa liat dirimu sendiri lebih sering dan dalem lagi buat tau kamu emang layak dapet pujian itu. Kalau orang di luar sana basa-basi atau peres, itu kan niat mereka, kita nggak bisa pastiin juga. Jadiiii, daripada buang energi buat sesuatu yang nggak pasti dan mungkin cuma di kepala kita doang, mending artiin aja secara harfiah. Pujian adalah pujian, terserah niat mereka apa.” Aku memberinya senyuman terbaik. “Dan karena yang muji kamu adalah aku, masa iya niat aku buat basa-basi? Kamu nggak inget ya kamu sempet bukan seleraku, dan ketika aku bilang kamu oke, artinya apa? Beneran oke.” Gyan pura-pura memegang dadanya dan memasang wajah terluka. Aku tertawa. “You’re sooooo fine, Gyan, admit it, c'mon!” “Thank you, thank you so much.” Dia tertawa pelan. “Aku masih butuh adaptasi buat masuk ke dunia menyenangkan yang kamu tawarin. Jangan bosen dan capek sama aku, ya, Ra?” “Kalau capek, aku tinggal istirahat sebentar, kalau bosen, aku akan bilang dan urus bosenku sendiri. Gy, manusia itu penuh limitasi, kita paham, kan? Mungkin kita akan sering salah dan keliru, tapi kita juga nggak kehabisan akal kok buat cari tau cara memperbaiki. Aku makasih banyak karena sabar dan effort-mu nggak abis-abis dari dulu.” “I wanna kiss you right now.” “Heh!” Aku memukul lengannya. Tapi aku sadar satu hal dan memberinya senyuman tengil. “Oh tapi, fyi aja deh, lipstik merahku ini waterproof dan kissproof dan proof proof lain. Anti badai menerjang deh pokoknya.” “Shit,” teriaknya sambil memukul setir. “Kita perlu belok dulu nggak nih, Bu?” Aku tergelak. “Edan! Jangan sampai ada Abang dan Kak Mel jilid 2 ya, Gy? Aku nggak bisa bayangin Ibu akan gimana.” “What?! Ke mana itu pikiranmu barusan? Aku ajak belok karena kebelet BAB.” Dia tertawa puas saat aku mendesah lelah. Berhasil mengerjaiku. “Dhara, Dhara, kok bisa bidadari begini mau sama anak broken home. Mana broken-nya karena alasan menjijikkan lagi.” “Nggak boleh kasih afirmasi negatif, hayoooo!” “Siap salah!” Dia tertawa. “By the way, perut lo kosong, kan? Kita udah mau sampe nih.” “Hah?” “Kita nanti makan banyak. Kamu boleh pesen apa pun yang kamu mau, literally apa pun.” “Woooww, offering-nya oke banget nih kayaknya. Dompetnya lagi tebel, ya?” “Oh Nini, you don’t understand.” DIa menggeleng-gelengkan kepala. “Dompetku selalu tebel, kamu mau apa? Tinggal bilang. You want it, you get it.” Aku tergelak. “Takut banget sama suhu, ampuuuuunn!” Aku teringat satu hal dan mau menggodanya lagi. “Tapi tebelan mana sama Om Gino? Aku lagi nimbang-nimbang sesuatu?” Gyan tertawa kencang. “Gini aja sih, kamu tinggal pilih mana, kepuasan batin dalam jangka waktu panjang dengan kemungkinan bertambahnya ketebalan dompet mengingat umur saya masih sangat OKE, atau yang tebel sekarang ini, tapi nafkah batinmu kayaknya cuma bertahan beberapa taun lagi.” Aku sungguh tidak siap dengan jawaban itu. “Dia nggak akan sekuat itu selamanya, kalau kamu paham konteks yang kita bahas ini.” Gyan terkekeh. “So, Dhara, you decide,” tambahnya. Aku mengangkat tangan, benar-benar menyerah. “Nggak ikutan deh aku, udah berhenti di sini. Menyerah.” Ia tertawa kencang. “Jadi tetep pilih aku, kan?” “Lagian, ya, kalau aku pilih Om Gino, aku harus saingan sama Mega dong?” Aku bergidik ngeri. “Aku beneran nggak mau berurusan sama dia lagi, apa pun itu. Jadi, aku pilih kamu.” “Hei! Kok milih aku karena seolah terpaksa?” Aku tak bisa menahan tawa. “Harusnya gimana jawabnya?” “Kamu remidi, Dhara, aku tagih nanti, harus lebih baik. Tapi sekarang obrolannya harus berakhir, karena kita udah sampai.” Ya Tuhan, akhirnya selesai juga obrolan yang semakin tidak keruan.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 7

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Kamu beneran nggak pa-pa, Gy?” Pertanyaan yang aku sodorkan ketika sudah berhasil duduk di dalam mobil, sambil menutup pintu. Padahal, pertanyaan itu sudah aku tanyakan berkali-kali, puluhan kali mungkin bahkan, lewat pesan, telepon, tapi rasanya tetap merasa bersalah pada Gyan. Jadi, ada masalah di kost-kost-an milik Ibu yang ada di Gading Serpong. Biasanya, memang Ibu yang masih mengurus hal-hal semacam ini. Pertama, karena tentu saja alasan kenapa bukan Abang ya karena Abang bekerja, apalagi sekarang sudah punya kehidupan sendiri. Tapi, karena kejadiannya mendadak dan hari ini Ibu sudah punya jadwal untuk pergi ke Sumatera bersama rombongannya—aku sudah bilang kalau Ibu memiliki kehidupan lebih menyenangkan daripada aku, bukan? Well, Gyan tidak setuju dan tidak terima dengan kalimatku ini—dan keberangkatan mereka dimulai pagi tadi. Ibu bilang, jadwal seharusnya dalam satu minggu tapi kita tidak pernah tahu ada hal-hal lain yang akan datang. Long story short, aku yang datang untuk mengecek ke sana. Ini memang bukan kali pertama, tapi rasanya tetap aneh harus berurusan dengan orang asing … bukan, maksudnya bukan di orang asingnya, tapi momen memperbaiki masalah apa pun ini sebutannya. Aku tidak suka ada di situasi yang nanti harus merasa tidak enak pada orang lain. Kembali ke Gyan, jawaban dia baik lewat handphone maupun nyata adalah; “Apanya tuh maksudnya?” Aku tidak memasang sabuk pengaman dulu, jaga-jaga kalau obrolanku ini mempan untuknya dan aku akan pergi ke sana sendirian. “Waktu liburmu bukan buat nge-date romantis yang proper, tapi malah nemenin aku kunjungan ke kost-kost-an. Asli sih, ini aneh banget.” Aku meringis, ke sekian kali mengatakan kalimat; “Aku serius lho nggak pa-pa sendirian, nggak akan anggap kamu pacar yang nggak pengertian, aku paham, kamu mending is—” Aku mematung sesaat, kemudian setelah sadar, aku refleks menyentuh bibirku dan menatapnya horor. “What?! Gyan, please?” Wajahnya tidak terlihat bersalah sama sekali, tetapi tengil dan merasa sangat puas dengan senyuman tertahan itu. Dia sepertinya merasa belum cukup, karena sekarang menatapku dan mengatakan, “Oh, haruskah aku ngerasa bersalah dan minta maaf nih, Bu?” Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan sembari membuka kembali mataku. “Kita beneran udah sampe di tahap ini,” ucapku lirih, lalu tertawa geli, menertawakan diriku sendiri. “Kecupan dadakan gitu harusnya bikin aku marah atau enggak, Gy?” “Apa yang kamu rasain?” “I don’t know. It felt like—” Shit, dia mengecupku lagi. Sekarang tatapannya serius, wajahnya dekat dengan wajahku, dan dia kembali bertanya, “And now? Udah bisa nentuin rasanya?” Aku memutar bola mata, lalu mendorong tubuhnya menjauh dan memperbaiki dudukku lengkap dengan memasang sabuk pengaman. Karena aku tahu, aku akan tetap datang ke Gading Serpong bersamanya. Dia tidak akan membiarkanku pergi sendirian, meski ini bukan date romantis seperti apa yang aku maksud sejak awal. Aku mendengar Gyan tertawa sambil memasang sabuk pengamannya, lalu dia sibuk menyalakan mobil, dan berbicara, “Nini, aku nggak mau bilang ini berkali-kali atau kalau memang itu tujuanmu, biar nemu blunder dari kalimatku.” Mendengar itu aku refleks tergelak, dari mana ide dia bisa mengatakan kalimat tuduhan itu coba? Padahal, aku benar-benar merasa tidak enak, sama sekali bukan ke arah jebakan seperti apa katanya. “Tapi aku beneran penasaran deh jadinya, definisi pacaran kamu tuh apa sih?” “What?” Gyan terkekeh. “Soalnya kayaknya kamu cuma mau abisin waktu sama aku buat date beneran ya? Yang proper katamu tadi. Itu yang gimana, Cantik?” “Okaaaayy.” Aku mengangkat kedua tangan, menyerah dengan serangannya yang memang terdengar sangat masuk akal. Aku yang memulai topik untuk drama ini, jadi memang aku sendiri yang harus membereskannya—meluruskan semuanya. “Aku yang blunder,” akuku pada akhirnya. Seketika itu juga dia menoleh sekilas, menatapku tak percaya kemudian tertawa lepas. “Pacaran buatku bukan cuma jalan berdua romantis atau apa kayak yang aku bilang tadi. Karena hidup isinya bukan cuma nge-date.” Aku ikutan tertawa. “Jadi, yaaa kadang ada masalah bareng, kayak sekarang. Intinya, pacaran atau nikah, isinya yaa banyak hal yang akan kita lakuin berdua.” “That’s my amazing woman!” lirihnya dengan wajah bangga. “Jadi, harusnya udah selesai rasa nggak enakmu itu, okay? Mau ngelakuin apa pun, pergi ke mana pun, mungkin ini kedengarannya peres buatmu, tapi intinya aku tetep mau lho. Beneran mau, kalau memang waktunya bisa.” Aku memberinya gestur hormat. “Maaf yaaa.” Dia menatap ke depan, tangan sebelah kirinya menyentuh pipinya tanpa mengatakan apa-apa. Tapi tentu saja aku mengerti maksudnya yang sedang mengerjaiku. Well, Gyan, mungkin bukan hanya kehidupan positif—seperti yang dia sendiri klaim—yang perlu adaptasi darimu, tapi kejutan-kejutan seperti ini. Saat aku menerima candannya dan menjadikannya versiku. Bukan meneriakinya atau menoyor bahunya, tetapi aku mengendurkan sedikit sabuk pengamanku dan mencodongkan tubuh, mengecup pipi yang tadi dia tandai. Lihat reaksinya, menoleh dengan kedua matanya membeliak, kemudian dia tertawa lebar. “Dhara, ya Allah, beneran lama-lama aku obsesi sama kamu dan aku tahu orang bilang obsesi itu nggak bagus. What can I do?” Aku ikutan tertawa. “Udah ah! Fokus nyetir, karena nanti sampe sana kita nggak tahu apa yang terjadi. Lagian ini Mbak Risma kenapa sih pake rahasia-rahasiaan segala sama apa yang terjadi.” Aku mulai panik lagi mengingat masalah yang nanti akan aku hadapi. Seharusnya aku memohon pada Ibu untuk menunda perjalanannya. “We’ll get through this together, Sayang, harus tenang, berbaik sangka. Katamu gitu, kan?” Aku mengangkat tangan, tertawa menyerah. “Senjataku sendiri. Well, terima kasih.” Gyan tertawa geli. Lalu aku menyadari dia menyalakan lampu sein dan … oh, dia belok ke coffee shop dan kami mengantri di deretan drive thru. “Iced matcha latte, a refreshing and tasty summer drink,” katanya dengan senyuman lebar. “Katanya matcha juga bisa bikin tenang.” “Oh.” Aku menyentuh dadaku, menatapnya penuh haru. “Kayaknya aku pernah nolong orang yang paling membutuhkan deh di masa lalu, jadi kamu dateng ini sebagai imbalan yang sangat worth it.” Gyan terkekeh, menurunkan kaca mobil saat tiba giliran kami. Dia benar-benar memesankan iced matcha latte untukku dan … iced americano untuknya. Aku rasa dia yang mungkin butuh fokus banyak untuk perjalanan ini. “Mau makanannya?” Aku menggeleng. “Thank you, itu aja cukup.” Begitu sudah berhasil menyesap minuman itu, melewati tenggorokan, aku memejamkan mata untuk menikmatinya. Entah karena sudah sugesti dari kalimat Gyan sebelumnya atau bagaimana, tapi aku merasa benar-benar lebih rileks. Apa pun nanti yang terjadi di sana, maka biarkan nanti. Benar kata Gyan (lagi), kami akan hadapi ini bersama-sama. “Gimana? Lebih rileks, Bu?” Aku tertawa. “How could you know?” Gantian Gyan yang sekarang memutar bola mata. “Nini, kamu kayaknya udah kebanyakan underestimate aku. Jadi sekarang, kataku sih be prepared, yaaa. Pacaran sama aku akan sangat-sangat menyenangkan, just in case kamu kage banget karena sebelumnya cuma bisa cinta sama orang yang bahkan nggak ada di hidupmu.” “Oh that hits me hard!” Dia terbahak-bahak. Kami melanjutkan perjalanan dengan obrolan-obrolan ringan, kadang juga serius ketika Gyan tiba-tiba mengomentari jalan, lalu ke arah pemerintah secara random, dan lainnya. Tapi intinya, menghabiskan waktu bersama Gyan tidak akan pernah membosankan. Aku tidak akan merasa selalu aku yang berusaha mencari topik pembicaraan. Kalaupun mungkin kenyataannya begitu, tapi aku tidak merasa. Jadi, aku pikir semua aman. Yang nyatanya tidak aman adalah … kondisi kost-kost-an ini. Begitu kami selesai memarkirkan mobil, aku mengajak Gyan berjalan bersama—tapi Mbak Risma dan Mas Adri, suaminya menyambut kami lebih dulu. Bukan, bukan itu yang membuatku mulai deg-degan, melainkan ada beberapa orang yang aku tebak mungkin saja itu penghuni kost. “Mbak Nini, ini—” Mbak Risa kebingungan menatap Gyan setelah mereka saling bersalaman dan berkenalan. “Oh, namanya Gyan. Pacarku, Mbak.” “Ohalah, maaf-maaf. Kita masuk dulu aja, Mbak. Saya jelasin di dalam dulu sebelum ketemu mereka.” Mbak Risma meringis. “Tadi Mas Adri udah minta mereka masuk ke kamar masing-masing, tapi kayaknya masih kepo atau belum ngerasa clear. Jadi masih begitu keadaannya.” Ini terdengar semakin serius. Sekarang kami sudah duduk di kamar Mas Adri dan Mbak Risma sebagai penjaga kost ini. Mereka menyuguhkan minuman dan camilan, meminta aku dan Gyan menikmatinya lebih dulu. Tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku ingin segera tahu ada apa di sini. “Total kamar yang rusak ada tiga, Mbak.” Hah, entah kenapa, aku merasa lega mendengar kalimat itu. Kamar rusak, maksudku hal itu biasa, bukan? Renovasi memang tidak bisa dijauhkan dar bangunan, aku pa— “Semua lemarinya hancur, meja jugaa, cermin. Tapi kami berhasil tahan orang-orangnya biar nggak kabur.” “Sebentar, ini rusak dirusak?” Mbak Risma menatap suaminya, lalu yang menjelaskan sekarang jadi Mas Adri. “Jadi gini kronologinya, Mbak. Kamar 5 itu punya pacar, ternyata yang cowok itu selingkuh, nah selingkuhannya ada di kamar 9.” Aku refleks memijat kening, sementara aku mendengar suara Gyan terbatuk-batuk. He must be shocked. “Singkat cerita, ketauan, dan kamar 5 labrak kamar 9, terus kamar 8 ini akrab sama kamar 9, mungkin mau bantu atau gimana, jadi malah nambah berantemnya. Kacau. Kami minta maaf, Mbak. Itu garis besarnya, nanti kita panggil mereka untuk Mbak Nini tau lebih detail.” Well, tahu detail apa? Ya Tuhan, aku merasa berdosa sekali karena tertawa saat ini. Entah kenapa ini terasa sangat lucu. Masalah labrak-melabrak ini selalu lucu di mataku. Mereka—Mbak Risma, Mas Adri, dan Gyan sedang menatapku dengan wajah kebingungan. “Sori, sori. Aku cuma … sori, ini masalah serius, aku nggak seharusnya ketawa. Makasih, Mbak Risma dan Mas Adri karena udah sangat cepat tanggap. Aku minta bantuannya ya karena aku nggak terbiasa ngurusin kayak gini.” Mereka mengangguk. Lalu membawaku dan Gyan untuk menemui ‘para pelaku’ dan aku merasa berdosa menyebutnya begitu. Selama berjalan, Gyan berbisik sambil tertawa, “Aku tau kenapa kamu refleks ketawa, ini memang lucu dan konyol.” “I know right????” Gyan mengangguk-angguk sambil tertawa. “Kejutan dari kamu beneran seru-seru tau.” “Hei, ini bukan dari aku, ya!” Gyan terkekeh. Lalu langkahku terhenti saat melihat ada 4 orang yang diperkenalkan sebagai pelaku di sini. Yang membuatku terdiam adalah … tiga perempuan itu cantik, cantik sekali, sementara lelakinya … ya Tuhan, aku tidak bermaksud untuk menghina atau gimana, tapi, apa kelebihan lelaki ini sampai dia worth it untuk jadi alasan pertengkaran? Okay, kalaupun dia tidak menarik secara fisik, kita bisa mencintai seseorang karena sikap atau pola pikirnya. Tapi pola pikir dan sikap seperti apa yang bisa dibanggakan dari lelaki berselingkuh dengan dua perempuan yang tinggal bertetangga? Aku mendengar bisikan Gyan lagi. “Oh I love this. This is getting interesting.” Wait, sejak kapan dia jadi senang dengan drama?

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 8

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Ada yang bisa bantu jelasin ke saya? Sekarang sih yaaa, karena saya beneran nggak bisa di sini lama, tapi saya tahu ini mungkin akan butuh waktu lama. Sooo, bantu saya mempercepat ini, please?” Kalimat panjang dan padat—setidaknya itu yang aku pikirkan sekarang ini, penilaianku atas diriku sendiri—yang berhasil aku keluarkan setelah keheningan cukup lama di ruangan ini. Just in case kamu seperti Gyan—fakta ini masih tetap lucu untukku, jadi maafkan kalau aku terlihat tetap menertawakan lelaki yang duduk di sebelahku ini—yang menyukai drama tontonan ini, kamu mungkin mau tahu kami sekarang duduk di mana. Jadi, di kost-kost-an milik Ibu ini, ada lorong yang lumayan lebar di tengah-tengah deretan pintu-pintu kamar. Nah, lorong ini tidak dibiarkan kosong begitu saja. Kita semua tahu bagaimana Ibu sangat senang dengan hias-menghias. Jadi, ada taman kecil-kecilan, juga bangku-bangku yang bisa digunakan untuk menyambut tamu dari penghuni kost atau mereka sendiri yang ingin saling ngobrol berkenalan di sini, atau yaaaa ingin bekerja atau mengerjakan tugas. Nah, di situlah sekarang posisi kami, setelah tadi aku berhasil meminta orang-orang yang ‘tidak berkepentingan’ untuk masalah ini masuk ke kamarnya masing-masing. “Adel?” Mbak Risma memanggil salah satunya dengan lirih, tetapi tatapan tajam. “Inge? Kalian tadi punya kalimat yang banyak banget dan berbobot, sekarang harusnya masih ada sisa-sisanya buat dijelasin ke Mbak Dhara.” Masih tidak ada yang merespons. Aku berdeham, menggerakkan tubuh mencari-cari posisi nyaman, nyatanya yang berubah hanya posisi silang kakiku. Tadi yang kiri di bawah, sekarang gantian yang bawah. Tak cukup dengan itu, aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya pelan. “Menurut saya lebih seru kalau Masnya yang cerita sih,” Mas Adri melirik lelaki yang menjadi primadona penghuni kost ini. “Adel sama Inge, kan, tuan rumah nih, Masnya tamu, terus begitu ada Masnya masuk, dramanya ada nih. Jadi, sebagai tamu, Masnya mau kasih penjelasan apa ke kami sebagai tuan rumah?” Aku benar-benar bangga pada Ibu. Dia memilih Mbak Risma dan Mas Adri dengan sangat tepat. Aku yakin, modalnya bukan hanya rasa kasihan, tapi memang mereka berdua ini sangat ahli dalam mengurusi drama-drama printilan dunia per-kost-an. Bukan si lelaki yang menjawab, uniknya, perempuan yang tadi disebut sebagai Adel, yang akhirnya membuka mulut. “Enggak, enggak, eggak. Inge yang harus jelasin semuanya. Kenapa bisa nggak tau malu nerima cowok yang udah punya cewek? Lo serius lo cewek normal, Nge? Lo tau Gyan cowok gue—” Wait, what? Aku nyaris tersedak mendengar nama itu dan saat melirik ke sebelah kanan, Gyan juga sedang menatapku dengan ekspresi horor, lalu menggelengkan kepala. Padahal aku tahu, mereka hanya memiliki kesamaan nama. “Dia sering dateng ke sini! Kita sering papas-papasan, lho, Nge. Are you serious? Gue jahat apa sama lo? Gue nggak pernah ganggu lo, gue selalu belain lo setiap lo disinisin soal parkir motor dan mobil sama Mbak Intan.” Aku memejamkan mata, seketika merasa pening karena nyatanya aku tidak mengenal mereka semua. Sekarang, harus mengurusi drama ini, yang kalau kita lihat, mengurus dramaku sendiri dan keluarga saja rasanya aku sungguh tamat. Adel masih melanjutkan, “Gue bantu lo nemuin nugget lo yang ilang. Gue selalu nerima gofood lo di depan dan gue anterin depan kamar lo. Sekarang apa yang lo lakuin? Lo mau bilang lo nggak tau Gyan cowok gue? Gue akan lebih bisa nerima kalau sekarang lo jelasin lo cewek BO dan Gyan cuma salah satu customer lo.” Lalu Inge tertawa. “Gue beneran kasihan sama lo, Del. Bahkan udah tau sebejat apa laki lo, masih lo belain kayak gini.” “Enggak, gue nggak belain dia. Kalau lo penasaran endingnya ini akan ke mana, oh tentu gue akan mutusin dia. Tapi mutusin doang akan bikin kalian seneng, dan gue nggak akan pernah relain itu. Kalian berdua nggak akan seneng, mark my words.” Aku mendelan ludah. Benar kata Gyan, this is getting interesting. Aku justru penasaran sekali dengan reaksi si Gyan-B. “Del, Del.” Nah, akhirnya! “Ini semua salahku, ini nggak ada hubungannya sama Inge. Dia tau aku punya pacar, dia selalu nolak aku, tapi aku yang jahat dan terus ngejar dia.” “I know,” jawab Adel sambil tersenyum. Aku memandang perempuan itu ngeri. Laut yang tenang menyeramkan bukan? Maksudku, mengingat ada tiga kamar yang hancur berantakan, sepertinya tadi mereka tidak setenang ini, maksudku Adel. jadi, ketika sekarang dia sudah terlihat lelah, artinya ini sedalam itu, bukan? Aku benar-benar turut bersedih untuknya. Tidak bisa sedikitpun aku membayangkan ada di posisinya. “Del, kita bahas ini nanti lagi, berdua, yaaa? Sekarang kita beresin ini dulu—” “Nggak ada nanti, Gyan, kalau cuma buat penjelasan. Sekarang gini aja, kamu dan Inge, kan, yang main gila nih. Kerusakan ini ada karena kalian berdua. Jadi, orang normal mana yang membebankan ini ke aku juga?” Adel tertawa, aku tahu tawanya itu bermakna apa, jelas bukan kebahagiaan pada normalnya. “Jadi, Mbak Risma,” katanya, menatap Mbak Risma lalu kami bergantian. “Mas Adri, Mbak Dhara, dan Mas—” Dia terdiam saat sampai pada giliran Gyan-utama. Aku tersenyum kikuk, lalu mewakili Gyan yang mungkin tercengang-canggung-atau apa pun, dia hanya diam. “Dia Gyan, Mbak Adel,” kataku pelan. “Namanya Gyan, sama kayak pacar Mbak Adel.” “Oh. Maaf Mbak Dhara, mulai hari ini saya single, dan … aduh sayang banget namanya harus Gyan. Tapi semoga Gyannya Mbak Dhara nggak malu-maluin kayak gini, ya? Jujur, daripada sakitnya, hari ini lebih kerasa malunya. Tapi tadi sakit banget sih makanya saya udah nggak berpikir jernih. Maaf, Mbak.” “No, it’s okay.” Aku menggelengkan kepala. “Maksudnya, aku tau ini nggak mudah, dan nggak ada orang yang dengan sengaja tiba-tiba merusak fasilitas kost.” Dia mengangguk. “Jadi, kalian bisa minta pertanggung-jawaban Inge dan Gyan. Saya akan keluar dari sini nanti malam, Mbak.” “Del, kita ngobrol dulu, Del. Kamu harus tau semuanya, aku mau jelasin semuanya, nggak di sini.” “Di sini aja kalau memang kamu punya pembelaan biar nggak tanggung jawab sama semua ini, Yan.” “Aku nggak peduli sama uang gantinya!” teriaknya mengejutkan. Wow. “Aku akan ganti berapa pun, aku janji. Tapi aku perlu ngobrol sama kamu dulu, please? Kamu tau aku sayang banget sama ka—” “Aduh, Gyan, please? Aku beneran muak denger itu. Kamu mau bilang kalau ke aku sayang, tapi ke Inge nafsu, kan? Kenapa? Malu? Bilang aja sama mereka, siapa tau ada diskon khusus untuk orang-orang yang nggak bisa nahan nafsu.” Adel melirik Inge, menatap perempuan itu beberapa detik. “Kamu akan ngalamin ini suatu saat nanti, Nge, entah dirimu sendiri atau orang terdekatmu. Dan saat itu, kamu akan tau apa yang aku rasain ini bukan cuma sekedar belain pacar bejatku kayak apa yang kamu pikir. Lebih dari itu, aku cuma berusaha buat nahan biar diriku nggak malu dan hancur.” Adel menatap kami semua, berdiri, menganggukkan kepala. “Sekali lagi, maaf semuanya, aku ke kamar dulu mau mulai packing.” “Del, Adel!” Gyan-B bangkit dan berusaha mengejar Adel, tetapi perempuan itu menolak dengan sekuat tenaga. Mereka ribut kecil, saling tarik-dorong hingga akhirnya Adel berhasil lari dan masuk ke kamarnya. Lalu Gyan-B kembali berjalan dengan lesu ke kursinya. “Jadi totalnya berapa, Mbak?” What?! Aku tentu saja kebingungan mendengarnya yang begitu terus terang. “Wait, wait, easy, Bro.” Kali ini Gyanku baru bersuara, dia menatap kembarannya. “Nggak gitu cara mainnya. Semua ini memang tentang uang, perbaikan, semuanya butuh uang. Tapi lo jelas tau ini bukan cuma tentang uang, right? Where’s your apology, Man? I don’t care what you did to your girlfriends, okay, gue jelas berduka buat cewek-cewek lo, tapi itu urusan lo, yang ini enggak.” “Mas, gue beneran minta maaf dan gue janji akan bertanggung jawab apa pun, gimana pun nanti. Tapi please, buat sekarang ini gue nggak punya waktu banyak, gue harus jelasin ke Adel. I can’t lose her, please? Gue butuh dia, gue sayang banget sama dia.” Aku menganga, sementara aku mendengar Gyan tertawa. Kamu mau tahu bagaimana dengan Mbak Risma dan Mas Adri? Mereka berdua benar-benar tidak bersuara. Aku yakin, drama ini terlalu anak muda untuk mereka yang biasanya mengurus drama pembayaran uang kost bulanan atau barang hilang dari anak kost. “Are you kidding?” Gyan tergelak. “Bro, lo dengan sadar selingkuh, mana sama temen kost cewek lo lagi. So, congratulations, you lost her! Jadi, sekarang mending tanggung jawab sama apa yang lo lakuin. Lo orang luar yang bikin kost ini hura-hara.” “Mas, gue janji gue akan tanggung jawab, gue minta waktu sebentar, please? Kalian boleh minta jaminan dulu biar gue nggak kabur? Apa pun.” “Lo—” Aku akhirnya mengangkat tangan, menganggukkan kepala pada Gyan, memintanya berhenti mencoba. Biarkan kali ini giliranku, karena sungguh kepalaku sudah pening dan aku juga sedang memikirkan satu hal lainnya. Jadi, aku menatap Gyan-B tajam. “Aku nggak berharap Adel maafin kamu sebagai perempuan, tapi aku tau mungkin kamu punya hak buat jelasin. Jadi silakan jelasin, aku minta KTP dan SIM atau apa pun.” “Right.” Gyan-B berdiri, dengan panik merogoh-rogoh kantungnya, lalu mengeluarkan dompet dan menyerahkan semua yang kuminta tadi. Nanti kalau ditilang tanpa SIM gimana? “Ini, Mbak. Aku janji akan balik buat tanggung jawab, tapi please, kasih aku izin buat nemuin Adel.” Aku mengangguk. Aku tahu Adel pasti tahu yang terbaik untuknya. Jadi, sekarang, fokusku ada pada Inge yang sejak tadi banyak diam. “Hai, Nge.” Kepalanya mendongak, dan menatapku. “It must be so hard to fall in love with someone who has a girlfriend.” Matanya membeliak, lalu aku melihatnya berkaca-kaca. Aku juga tahu Gyan menatapku dan aku tidak berusaha membalas tatapannya. Entah kenapa, sejak tadi aku merasa perempuan ini juga perlu perhatian kami. Oh bukan berarti aku tidak berpihak pada Adel. Aku juga tidak menyalahkan Adel atas tindakannya dan mendukungnya 100% untuk menghukum Gyan, tetapi Inge … entahlah, semoga ini hanya perasaanku saja. Ingga menggelengkan kepala, tersenyum tipis. “Aku minta maaf, Mbak Dhara buat semuanya. Aku akan ganti semuanya sampai beres dan aku janji nggak akan ada drama kayak gini lagi.” Aku mengangguk. “I know.” Lalu memberinya senyuman. “Kamu udah makan siang belum?” Dia tidak menjawab, malah tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. “I know,” lirihnya terbata-bata. “I am stupid, aku harusnya bisa nolak dari awal, aku harusnya bisa kuatin benteng, bukan malah murahan cuma karena perhatiannya. Padahal aku tau, Mbak, I’m just a backburner. My life is spent waiting for his text, his call.” See? Feeling-ku tidak salah. Perempuan ini juga perlu pertolongan sama dengan Adel.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 9

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Hai, Ibu Kost! What’s wrong?” Aku mengangkat kepala, menatapnya dan tak bisa menahan tawa. Dia sedang berusaha menghibur, aku tahu itu dengan jelas. Aku akui dia berhasil, well … kapan dia pernah tidak berhasil dalam memberiku kenyamanan dan kebahagiaan? Yang ada hanya aku tidak ingin menerima dengan cara yang sama seperti yang dia mau—dulu. Sekarang aku sudah tidak bodoh lagi, aku akan menerima semua pemberiannya dengan tangan terbuka lebar, juga rasa bahagia yang penuh. Soal panggilan ibu kost-nya ini … tidak kalah lucu. Hanya karena tadi aku berperan menjadi ibu kost dalam waktu beberapa jam—yep, ini seriusan. Aku bahkan mengajak Inge makan dulu, menemaninya ngobrol dan aku benar-benar merasa kasihan padanya. Entah aku terkena sindrom apa tapi aku merasa kalau dia juga korban—mungkin lebih tepatnya disebut pelaku sekaligus korban. Dia memang salah karena sudah tahu Gyan-B memiliki pacar dan demi Tuhan, mereka satu kost dan saling mengenal, tapi kenapa dia tidak membentengi hatinya dan membiarkan dirinya kalah. Tapi di sisi lain, aku juga tahu perasaan kadang sulit dikendalikan. Intinya, aku sangat membenci Gyan-B dan aku berharap dia tidak mendapatkan kesempatan apa pun dari Adel dan mendapat hukuman dari Tuhan langsung di muka bumi ini. Kalau hukuman terdengar terlalu berat dan judgemental, teguran juga tidak masalah. Supaya dia lekas sadar dan tobat, benar-benar tidak megulangi perbuatannya lagi. Aku juga berdoa agar Adel menemukan tempat kost baru yang lebih nyaman, kehidupan pekerjaan yang baik, dan tentu saja percintaan yang terbaik. Dia berhak mendapatkan itu daripada Gyan yang tidak ganteng juga. Okay, kali ini aku tidak masalah menjadi orang jahat karena dia benar-benar tidak tampan tapi kelakuannya juga lebih-lebih. Parah. Aku megembuskan napas kasar! Menatap ke jalanan. “Gue ngerasa—astaghfirullah.” Aku menoleh dan menatap memelas pada Gyan tetapi berikutnya tertawa geli. “Sori, benerna keceplosan.” “Kayaknya emang di alam bawah sadar kamu, kita belum sedalam itu, Dhara,” katanya memicingkan mata, sambil sebelah tangan kiri menyentuh dadanya. Aku benar-benar tak bisa untuk tidak menaikkan volume tawa. “Kita emang kayaknya belum satu keyakinan. Aku yakin banget sama kamu, tapi kamu enggak.” “Gyan, please?” Aku masih terbahak-bahak sampai mataku berair. “Jangan kambuh ngawurnya, suka ke mana-mana tuh variabel.” Dia tergelak. “Aku tuh ngerasa ikutan capek tau nggak. Maksudnya apa yaaa, aku lama banget ada di fase yang bikin bingung, sebenernya selama itu tuh aku emang masih suka sama Angkasa atau cuma efek bayang-bayang aja dan aku sendiri yang belum siap sama orang baru.” Aku menoleh, menemukan tatapannya yang mulai serius tetapi tetap teduh dan jenaka, lalu dia menatap ke depan lagi, dia harus fokus menyetir. “Nah, terus, liat masalah ini tadi, aku jadi kayak … oh aku bukannya mau sepelein rasanya jadi Adel yaaa, dia pasti sakit hati dan berat banget. Noone deserves to be cheated, kan? Tapi, zaman sekarang ini, saking banyaknya orang yang diselingkuhi, sampai kasus itu nutupin nasib orang-orang kayak Inge. Maksudku, kita tuh sekurang yakin dan bahagia apa sama diri kita sendiri sampai kita rela jadi second choice atau selingkuhan? Apalagi kita tau, yang kita lakuin itu nyakitin orang lain. Kalau soal Gyan, yaa demi Allah aku nggak peduli, go to hell, please!” Aku mendengar Gyan tertawa pelan. “Aku jahat nggak menurutmu kalau kasian juga sama Inge?” Kepalanya seketika menggeleng, dia menatapku sekilas, tapi aku bisa melihat raut bingung di wajahnya. “Kalau salah enggaknya sih enggak yaaa. Maksudku ….” Dia tertawa kikuk, entah kenapa. “Mungkin aku belum pernah denger sudut pandang yang beneran sudut ini.” Aku tertawa, mengangkat tangan, meminta penjelasannya lebih detail. “Mungkin karena aku juga kurang merhatiin detail sekitar atau masalah kayak gini, jadi fokusku biasanya kalau ada kasus perselingkuhan ya cuma ke pelaku. Dan pelaku menurutku ada dua. That’s it.” Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Tapi pikiran kamu nggak salah, aku jadi tau hal lain, dan kalau dipikir-pikir emang bener sih. Ada sesuatu yang salah sama manusia karena milih tetep nabrak batasan padahal jalan lain masih banyak. Cowoknya juga kacau banget, bisa-bisanya selingkuh sama satu tempat. Beneran otaknya cuma di kon—oh!” Gyan menoleh, mengerutkan kening, kemudian memukul bibirnya sendiri. “Otaknya di dengkul, aku yakin.” Aku tersenyum geli karena sudah tahu kata apa yang tadinya ingin dia ucapkan. Entah kenapa dia merasa perlu merevisi padahal … ya memang kotor sih kata itu. Mungkin lebih baik menggunakan bahasa biologi, terkesan tidak vulgar dan jorok. Anyway, sekarang aku mulai kepikiran dengan perbaikan di kost nanti. Bagaimana caranya memberitahu Ibu meski tadi Mbak Risma dan Mas Adri menyanggupi untuk menjadi juru bicara, tapi aku tidak tega menumpahkan semua beban pada mereka. Lagipula, di rumah nanti, Ibu pasti tetap akan mengajakku berbicara tentang ini, kan? Tidak mungkin hanya diam seolah aku tidak hadir ke kost tadi. Jadi, aku tetap harus punya kalimat, satu-dua di depannya nanti. “Kalau nanti beli barang-barang barunya nggak online, kabari aku ya, Ni. Sama aku perginya.” “Mending online atau langsung aja menurutmu, Gy?” “Mending ijab kabul dulu sih kalau aku kata aku mah.” Aku menganga, karena benar-benar tidak siap dengan jawabannya yang di luar prediksi itu. Bahkan dia ikut tertawa saat pada akhirnya aku terbahak-bahak. Aku beneran penasaran dengan cara kerja otak Gyan yang bisa menghubungkan satu hal ke hal lainnya dengan begitu cepat. Herannya, berhasil juga. “Tarik napas, Buuuuuu!” serunya masih dengan sisa tawa. “Sori, soriiiii. Serius sekarang. Menurutku mendingan langsung, karena—” “Biar ada kesempatan kamu ketemu aku.” Dia tergelak. “Alright, itu yang pertama. Alasan lain ini logis kok, supaya bisa liat langsung, bisa bandingin a b c d dan menghindari penyesalan tadi kenapa ini itu. Anyway, mau beli sesuatu dulu sebelum pulang ke rumah?” “Martabak telur, please?” Gyan tertawa. “Serius?” “Iyaaa! Kenapaaa?” “Nggak pa-pa, tanya ajaaa. Takutnya nanti nyesel kenapa belinya martabak telur, kalorinya banyak banget. Kenapa tadi nggak chicken salad aja, yaaaaa.” “Stoooppp!” Gyan terbahak-bahak. “Sebenernya ya, Gy, daripada mikirin beli online atau langsung, sekarang ini aku lebih kepikiran gimana caranya cerita ke Ibu.” “Lho, kenapa? Kalau diceritain sama kayak yang terjadi, susah kah buatmu?” “Soalnya aku punya rencana mereka nggak perlu ganti.” “Oh.” Aku meringis. “Gimana menurutmu?” “Kayaknya itu lumayan akan bikin syok Ibu, kayak responku tadi. Tapi mungkin kalau alasannya masuk akal nggak masalah. Tell me, please?” “Karena terjadi di luar kontrol mereka? Penuh emosi dan siapa yang nggak akan marah kalau ada di posisi Adel? Ya nggak sih?” “Justru karena itu, ini biar bisa jadi pelajaran. Kalau emosi yang nggak kekontrol, bukan cuma merugikan orang lain, tapi diri kita sendiri, entah sekarang atau suatu nanti.” Gyan menoleh, tersenyum lebar. “Dan kalau kamu tanya, siapa yang nggak akan ngelakuin kayak apa yang dilakuin Adel tadi, jawabannya aku.” Mendengar itu aku seketika meringis, karena melupakan kisah hidup Gyan yang kelam. “Ini nggak mau compare masalah manusia beratan yang mana, cuma aku boleh dong kasih tanggapan sebagai orang yang juga pernah diselingkuhi? Sama bapak sendiri nih bossss.” Gyan terkekeh. Terlihat sedikit menenangkan melihatnya bisa begini dalam menceritakan kehidupannya yang pahit itu. “Tapi waktu itu yang ada di otak aku cuma satu; aku nggak mau kayak dia yang nyakitin banyak orang.” “I’m so proud of you,” lirihku, menatapnya penuh haru. Aku sungguh-sungguh. “You know that, right?” Kepalanya mengangguk sambil tersenyum lebar. “I love you,” tambahku lagi. “Oh damn!” serunya. “Coba liat dulu di maps ini kita bisa minggir dadakan nggak, Ni? Mau cium sampai mampus nih.” “Edyaaaan!” Aku mendorong lengannya, lalu membenarkan posisi dan mengembuskan napas panjang. Mungkin Gyan benar. Rasa simpati dan empatiku memang tidak masalah, tetapi bukan berarti aku jadi memudahkan orang lain dan membuat mereka merasa tindakan mereka tidak salah. Mereka juga perlu belajar dari masalah ini. Termasuk bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat. Disengaja ataupun karena kecelakaan kecil. Mobil kami berhenti di ruko-ruko yang depannya terdapat banyak orang-orang jualan. Tapi syukurnya, tidak sulit mencari tempat parkir. Aku baru saja mau membuka pintu, tetapi mendengar suara Gyan. “Biar aku aja, Sayang.” Oh nice, sapaan itu sungguh masih jarang kami gunakan, karena … well, mungkin dia menghargaiku untuk tidak terburu-buru. “Kamu di sini aja dulu, koleksi kata-kata buat cerita ke ibu tentang drama menarik di kost tadi.” Tawanya terasa sangat menyebalkan. “Mau berapa telur, Ibu Kost?” Aku tergelak. “Satu karpet boleh tuh, Pak RT.” Mendengar itu dia gantian tertawa, lalu benar-benar menutup pintu mobil. Selama Gyan sedang melaksanakan tugas, aku menuruti ucapannya karena mencoba menyusun beberapa penjelasan di dalam kepala. Aku cari kalimat yang paling seru tapi realistis untuk diceritakan pada Ibu. Soalnya ngeri juga, takut sudut pandang Ibu sebagai perempuan yang sudah tua malah berbeda dan menyakitkan nanti. Ide-ide di kepalaku terhenti saat Gyan sudah kembali dengan ekspresi suka cita sambil memamerkan box martabak. “Heh, kok banyak banget? Gyan, kamu tau, kan, Ibu pergi?” “Tau. Buat kita berdua. Begadang. “Jangan konyol. Nggak mungkin kita abis sebanyak itu.” “Nanti aku bagi ke satpam komplek.” Aku tertawa, menyerah. Dan dia benar-benar membaginya dengan satu satpam yang dengan wajah semringah menerimanya dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Bahkan, saking friendly-nya Gyan dna entah apa yang diobrolkan mereka—aku padahal mendengarkannya—dia sampai ditawari untuk main catur di pos satpam nanti malam. Oh, sepertinya aku tahu ini ide dari mana? Jangan bilang Ibu sudah memberi briefing pada satpam di sini jaga-jaga kalau Gyan menginap di rumah? Gyan masih dengan tawanya begitu mobil berhenti di depan rumahku. “Kamu tau nggak? Aku tuh suka banget ngobrol sama satpam komplek, apalagi yang ramah begini.” Mendengrnya saja membuatku tertawa geli. “Mereka tuh ceritanya seru-seru tau, mulai dari drama sampai horor.” “Mana ada horor di kompleks padat gini.” “Eh jangan salah! Coba aja tanya sama mereka—” “Ini senjata kamu, kan, biar aku minta temenin tidur? Oh aku meski jomblo lama, tapi aku tetap bisa mencium kalau buaya mulai mau buka mulut, Gyan.” Dia terbahak-bahak sambil melepas sabuk pengamannya, kini menatapku. “Aku semesum itu kah di matamu?” “Oh menurutmu enggak?” “Kamu tau?” katanya, tanyanya, aku tidak yakin. “Aku udah naksir berat sama kamu, bertepuk sebelah tangan lama, dan sekarang udah berbalas, tapi aku bahkan belum hafal rasa bibirmu gimana, Dhara. Saking apa? Saking nggak pernah dicium atau nyium. How dare you, bilang aku mesum, hm?” Aku tertawa sampai sakit perut dan berusaha masih dalam kontrol. Kalimatnya sangat vulgar tetapi semuanya fakta dan aku menangkapnya sangat lucu. Yang mendadak menjadi tidak lucu adalah, ketika aku melihat wajahnya berubah ekspresi menjadi serius menatapku. “So now, aku mau terima dan ambil tuduhanmu. Call me mesum, whatever, I wanna kiss you so bad.” Lalu dia mencondongkan wajahnya, menarik kepalaku mendekat dan menciumku. Ya Tuhan, semoga tidak ada yang melihat ini meskipun diriku sendiri nanti.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 10

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku tidak terlalu yakin, tetapi mungkin benar, bahwa mencium pasangan sama seperti meminum suplemen tubuh—well, ini aku sungguh mengarang bebas karena sejak tadi merasa sangat geli melihat Gyan begitu bahagia. Kalau bahagianya ini karena martabak telor yang kami makan di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi ini … sedikit mustahil, kan? Atau memang memakan martabak telor bisa sangat membuatnya bahagia? Tapi apa pun itu alasannya, aku tak mau menginterupsi kebahagiaannya, dan memilih menyimpan semua rasa geli untuk diriku sendiri sambil menikmati martabak telor ini. Juga menyeruput jus jeruk bikinan Gyan dengan bangga. “Ibu pulang kapan, Ni?” “Seminggu apa yaaa, aku lupa deh kemarin dia bilang pastinya kapan. Kenapa tuh?” “Ya nggak pa-pa. Ibu telepon aku tau.” Aku menatapnya bingung. Gyan tertawa. “Sumpah, kamu boleh make sure deh ke Ibu.” “Ngomong apa dia?” “Nitip kamu.” Tentu saja aku refleks memutar bola mata. Menitipkan aku? Memangnya aku barang? Atau … kalaupun tetap dipandang sebagai manusia, apakah aku terlihat seperti balita yang belum mampu mengurus diri sendiri? Well, yang aku maksud adalah, ini bukan kali pertama aku ditinggalkan seorang diri di rumah. Sejak Ayah meninggal, Ibu juga pernah ke luar kota dan bertepatan dengan Abang yang juga tidak di rumah. Jadi, aku sudah pasti sendirian. Dulu, Ibu cuma memastikan apakah aku akan baik-baik saja dan ketika aku mengatakan iya, maka Ibu sudah merasa tenang meninggalkanku seorang diri. Sekarang …. Ketika ada Gyan hadir di kehidupan kami, tiba-tiba Ibu merasa ragu dan khawatir meninggalkanku sendirian dan meminta Gyan menjagaku. Ini lucu, aku tak bisa menahan tawa geli meskipun tadi aku memutar bola mata untuk Gyan. Mungkin, hal-hal semaca, inilah yang selalu Ibu harapkan terjadi dalam kehidupanku. Ketika dia bilang dia menginginkan ada seseorang yang bersamaku, menjagaku, seperti yang mungkin dia lihat Ayah dan Abang lakukan. Aku tahu, Ayah dan Abang tidak akan tergantikan. Ayahku, selamanya akan menjadi sosok hero terbaik dalam hidupku, meski semuanya ada di masa lampau. Abang … juga sama dan meski di masa mendatang, tindakannya akan terbatas karena dia memiliki kehidupannya sendiri. Aku paham pemikiran Ibu kurang lebih seperti itu dan dia melihat Gyan sangat baik. Aku paham Ibu dan aku mungkin memiliki sudut pandang yang sama, bahwa rasa sayang Gyan padaku begitu besar. Bahkan kadang aku merasa sedikit tidak enak padanya karena seolah … rasa sayangnya padaku lebih besar dari rasa sayang yang mampu aku tunjukkan padanya. Tapi aku sudah berjanji dan akan selalu berusaha menepati, bahwa aku akan membuka pintu kehidupanku selebar mungkin, mempersilakan Gyan masuk tanpa memberinya syarat-syarat yang rumit , dan mengajaknya menjalani kehidupan bersama, melewati segala rintangan dan menikmati keindahannya. “Halo, Bu?” Mataku melotot ketika menyadari Gyan benar-benar membuktikan omongannya dengan menelepon Ibu! Reaksiku tadi bukan karena tidak mempercayainya, tetapi untuk kalimat ‘nitip kamu’. Aku tidak memintanya membuktikan diri dengan menelepon Ibu saat ini juga, di depanku. Sekarang, aku mulai deg-degan menunggu percakapan mereka. Oh good, Gyan sekarang sudah menyalakan pengeras suara di hapdphone-nye. Lengkap dengan ekspresi yang seolah bilang; “Aku nggak pernah bohong.” “Ibu apa kabar di sana?” “Baik, Sayang, baikkk.” Ya Tuhan, manisnyaaaa bersama calon menantu. Aku menutup mulut karena sudah siap tertawa. “Kenapa, Nak?” Sepanjang ingatanku, aku sepertinya belum mendengar Ibu memanggilku ‘Nak’ atau ‘Sayang’. “Nggak pa-pa, mau tau kabar Ibu aja di sana.” Gyan masih sambil menatapku, kami seolah mau perang pembuktian. “Seru perjalanannnya?” “Seruuu, cuma Ibu pusing nih banyak yang mabok, ya ampuuun.” Gyan tertawa. “Emang nggak minum obat anti mabuk dulu?” “Nggak tau deh tuh. Maksudnya, yang kenal diri sendiri kan ya kita yaa, jadi harusnya tau kalau memang mabuk tuh yaa siapin obat sebelum berangkat. Kalau mabuk di dalam mobil tuh kan yang lain ikutan mual. Kepala Ibu sampe pening nih.” “Udah minum teh anget, Ibu?” “Udaaah, Ibu selalu bawa tolak angin jugaaa.” Ibu tertawa. “Kamu ini di mana, Gy? Sama Nini nggak?” “Iyaa, ini lagi makan martabak telor.” “Wah enaknyaaa. Makasih yaaa udah nemenin Nini. Tadi Pak Anwar telepon Ibu minta izin mau ajak kamu main catur di pos, lho.” Percakapan macam apa ini? Gyan bahkan bukan hanya kesayangan dan kebanggaan Ibu, tetapi juga menjadi incaran satpam. Apakah aku harus mulai merasa terancam karena memiliki banyak saingan? Aku menahan tawa dan Gyan terlihat memahami itu karena dia jadi salah tingkah, menggaruk belakang kepala sambil terkekeh. “Kalau nanti Gyan main catur di pos, Nini sendirian dong, Bu?” “Iya sih, tapi nggak pa-pa, Gya. Buat kenalan doang biar akrab sama mereka, biar kalau mau main ke rumah makin mulus. Jangan lama-lama. Nanti pulang ke rumah.” Rumah manna maksud Ibu? Rumah Gyan, kan? “Tapi tidurnya jangan di kamar Nini, yaaa. Ibu percaya kamu tapi Ibu tau kalau kalian bohong.” Aku mengembuskan napa, ternyata rumah yang dimaksud adalah rumahku. Rumahku adalah rumah Gyan kah? “Yaudah nanti Gyan jalan ke pos sambil bawain kopi.” “Kalau beli kelamaan, bikin aja di dapur, ada tuh kopi. Minta tolong Nini bikini.” Aku tidak tahan untuk tidak nimbrung dalam obrolan seru ini, jadi aku bilang; “Ibuuuuu, Gyan nggak pa-pa ke pos sampai pagi nemenin satpam ronda, aku di rumah sendiri. Biasanya juga aku sendirian siiih.” “Ih jangaaaan, kita nggak pernah tau ada masalah apa.” Aku memutar bola mata. “Nggak adaaa, selama ini baik-baik aja. Rumah kita aman. Ibuuuu, kita baik-baik aja sebelum ada Gyan.” “Ya justru ituuu, ini, kan udah ada Gyan. Jangan disamain sama sebelumnya dong. Udah sih, Ni, Gyan aja nggak masalah kok nemenin kamu. Dia malah happy tuh.” Mendengar kalimat panjang Ibu, Gyan terlihat sangat sombong dan bangga menatapku. Aku cuma bisa meringis. “Atau kamu tuh nggak happy ya deket-deket Gyan? Kamu beneran udah sayang Gyan belum sih?” Ya Tuhan! Aku benar-benar tidak siap dengan dengan pertanyaan Ibu barusan, mataku meloto, lalu aku tertawa kencang. Sementara Gyan mengangkat alisnya, terlihat menantang, dan seolah meminta jawaban dari pertanyaan Ibu barusan. Aku benar-benar merasa terjebak. “Coba mana Gyan,” kata Ibu lagi. “Dia harus denger nih jawaban kamu, kamu jawab sekarang, kamu beneran sayang Gyan nggak? Kok aneh, ditemenin pacarnya malah diusir.” “Bukan gitu, Ibuuuuu.” Aku nyaris frustasi dan mungkin Ibu butuh jawaban ini supaya mau mengalah dan paham. “Kalau nanti Gyan nginep sini dan terjadi hal-hal menyenangkan, Ibu gimana? Siap?” “Astagfirullah, Nini, itu ancaman? Mau kayak Abang?” Aku tertawa. “Ya makanya ini aku berusaha menghindar itu, Ibuuu. Malah Ibu kok yang nyuruh-nyuruh nih.” “Kan Gyan tidur terpisah. Lagian Ibu percaya sama Gyan kok.” “Sama Nini?” “Ya percaya jugaaaa! Aneh sih, pertanyaannya. Kalau nggak percaya, kamu udah Ibu seret ikut Ibu ke mana-mana. Udah doong, Niiii. Kasih Gyan kesempatan, lagian dia aja udah buktiin banyak hal lho, kamu ini gimana sih.” Aku melihat Gyan tertawa tanpa suara, terlihat sangat menikmati percakapan yang menyudutkanku ini. Jadi, sepertinya aku memang harus mengeluarkan senjata terakhirku karena … mau bagaimana pun sepertinya aku tidak akan menang di sini. Aku sudah sepatutnya membela diriku sendiri, kan? So, yeah, aku akhirnya bilang, “Ibuuuu.” “Hm.” “Nini sama sekali nggak khawatir sama Gyan, Bu.” Aku tersenyum melihat ekspresi Gyan yang terlihat mulai waspada. Memang seharusnya dia begitu. “Nini tau banget, Ibu bukan tanpa alasan sayang sama Gyan. Nini juga bisa lihat gimana baiknya Gyan dan Nini happy banget karena hal itu. Tapi Ibu tau nggak? Justru Nini takut sama diri sendiri.” “Takut kenapa, Ni?” “Takut Nini yang minta Gyan hamilin Nini kalau malam ini Gyan tetep tidur di sini.” “Astagfirullah, Nini! Heiiiii!” Aku bisa mendengar paniknya Ibu di sana. Begitu pun di sebelahku, Gyan sudah terbatuk-batuk dan menatapku horor. “Istighfar, Ni. Kamu jangan macem-macem, Ni. Gyan tidur di kamar Abang.” “Kan Nini bisa nyamperin,” jawabku masih meyakinkan. “Gyan tidur di dapur pun, Nini bisa nyamperin. Ya, kan?” “Ya Allah, kamu jangan gila. Mana Gyan. Gy? Ibu mau ngomong sama dia.” Aku memberi Gyan ekspresi menantang, mempersilakan Gyan untuk ngobrol dengan Ibu lagi. Sementara aku kembali menikmati martabak dan jus jeruk nikmat ini. Oh indahnya mengerjai dua orang yang disayang. Aku tidak menyimak obrolan selanjutnya Gyan dengan Ibu sampai akhirnya aku melihat Gyan bergerak mendekatiku dan handphone sudah di atas meja. Aku memicingkan mata. “Kenapa nih?” Ekspresi baru Gyan yang sekarang ini benar-benar membuatku waspada karena dia tersenyum iblis dan mengatakan, “Kamu mau kerja sama nggak?” “Kerja sama apa?” “Kamu tadi bilang sama Ibu takut kamu yang minta buat aku hamilin, kan? Aku mau bantu tanpa perlu ketahuan Ibu. Gimana?” Aku tak bisa berkata-kata. Edyaaan!

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 11

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Sejak kepergian Ayah, aku merasa tidak pernah ada lagi masalah dalam hidup yang akan membuatku overthinking atau … merasakan perasaan negatif lain. Karena bagiku, momen-momen setelah kepergian Ayah adalah yang terburuk yang pernah aku alami—memang benar sampai sekarang, tapi bukan berarti tidak ada hal lain yang juga membuatku ambruk. Bukti nyata pertama adalah drama yang disebabkan oleh tingkah Abang. Lalu yang kedua … penyebabnya diriku sendiri. Sebenarnya aku bingung untuk masalah yang satu ini, karena bukan aku satu-satunya yang memulai, bukan? Tapi Ibu dan Tante Anita. Itu kenapa aku jadi mengenal Gyan hingga sekarang. Masalahnya tentu bukan soal Gyan dan aku, kami sudah melewati drama panjang tentang menyamkana perasaan dan aku mengakui aku yang membuatnya panjang. Tapi permasalahannya sekarang adalah … kenyataan yang tak akan pernah bisa aku ubah atau aku abaikan bahwa jika memilih hidup bersama Gyan, maka selamanya, aku akan berurusan dengan Mega dan Om Gino. Itu lah maksudku. Kali ini tentang Mega. Aku benar-benar sulit memahami dan mencerna apakah perlu mengiyakan ajakannya atau terang-terangan menutup akses berhubungan dengannya. Satu yang pasti, pilihan kedua jelas tidak mungkin aku lakukan. Mengingat Tante Anita terlihat begitu baik berhubungan dengan Mega. maksudku, kalau Tante Anita sebagai orang yang seharusnya merasa sakit hati saja bisa berhubungan baik dengan Mega, lalu kenapa aku menjadi yang paling arogan? Masalahnya adalah … aku jujur aku tidak siap dan tidak mau siap menjalani drama baru di dalam hidupku. Aku hanya ingin menikmati momen sekarang bersama orang-orang yang aku sayang dan menyayangiku. Mega tidak mungkin menyayangiku, kan? Aku tertawa pelan mengingat dan membayangkan ke depan akan gimana hubunganku dengan Mega. Kalaupun dia tiba-tiba berubah menjadi baik layaknya sebagai ibuku juga—terlihat aneh memang—mungkin semua tetap akan terasa berbeda. Aku tidak bisa membayangkan diriku sendiri selembut dan seramah saat dengan Tante Anita atau mungkin mendadak mengubah panggilanku untuk Mega menjadi ‘ibu’ juga? Walaupun memang akan mustahil kalau dilihat dari apa yang terjadi saat ini. Ketika dia mengirimiku pesan untuk main berdua denganku—lagi—sebagai sesama perempuan yang akan menjadi satu keluarga. Itu kata-katanya. Yang aku pahami maknanya untuk tidak melibatkan Gyan di sini. Tidak dengan memberi tahu lelaki itu apalagi mengajaknya datang. Dari sini saja, aku asumsikan dia mungkin benar-benar ingin menyingkirkanku. Aku tidak tahu kalau mungkin juga aku yang berlebihan dalam berpikir kali ini. Kita akan tahu, sebentar lagi, karena sekarang mobilku sudah akan memasuki perumahannya. Ketika satpam itu menyapaku dan bertanya; “Halo, Mbak, mau ke mana?” “Ke rumah Pak Gino, Pak. Sama istri mudanya, namanya Kak Mega.” Aku tersenyum. “Untuk keperluan apa?” ”Bapak Gino papanya pacar saya.” “Oh iya sebentar.” Satpam tersenyum, lalu menoleh ke teman satunya yang duduk di post. “Telepon coba.” Dia kembali menoleh menatapku. “Meganya aja yang ditelepon, Pak. Kayaknya Om Ginonya udah pergi dan nggak tahu kalau saya mau datang.” “Iya, Mbak, sebentar, yaaa.” Aku memberi senyuman lagi, lalu menatap ke depan sambil melamun, menunggu proses screening ini selesai. Perumahan ini jelas lebih hebat dan komplek rumahku. Karena kalau satpam di komplek rumahku tidak akan memberhentikan orang yang akan masuk seperti ini, lebih bebas. Tapi alhamdulillah, tetap aman. Di sini, mungkin sesuai dengan bayaran satpamnya, harga rumahnya, kekayaan orang-orang yang menghuninya. Anyway, aku sudah pernah datang ke sini, dan waktu itu, seingatku Gyan tidak diperlakukan seperti ini. Jelas saja, mungkin mereka sudah mengenal Gyan sebagai anak dari salah satu warga sini, sementara aku … aku juga yakin satpamnya yang jaga kali ini berbeda. “Boleh KTP-nya Mbak? Atau tanda pengenal lain?” Aku mengangguk. “Tentu, sebentar, Pak.” Aku buru-buru mengambil tas untuk menemukan card holder dan mengambil KTP, lalu menyerahkan padanya, dan dia memberiku akses. “Makasih, Pak.” “Sama-sama, Mbak, silakan. Mau saya antar ke rumahnya atau sudah tahu?” “Sudah, Pak, terima kasih.” Aku memarkirkan mobil di pinggir jalanan depan rumah besar yang konsepnya terbuka tanpa pagar melingkari ini. Jadi aku bisa melihat ada satu mobil di luar, waktu itu datang ke sini garasinya tertutup rapat. Ketika aku keluar dari mobil dan berjalan menuju rumahnya, aku melihat seseorang keluar dari pintu, yang aku ingat sebagai salah satu ART di rumah ini. Senyumannya ramah sekali dan terasa sangat tulus, berbanding terbalik dengan sang pemilik, yang aku maksud sudah pasti Mega. Well, entah memang berbanding terbalik atau sesimpel karena hubunganku dengannya tidak begitu baik, jadi di mataku, Mega selalu tidak pernah baik dan tulus padaku. Padahal bisa saja memang aku yang mengasumsikan sendiri, kan? “Terima kasih, Mbak Dara,” katanya, menerima buah tangan yang aku bawa. “Kalau butuh apa-apa selama di sini, jangan sungkan untuk minta ke saya, ya?” Aku menatapnya penuh haru. Oh, kenapa justru aku disambut dan diterima dengan baik bukan oleh pemilik rumah ini yang katanya akan menjadi keluargaku? “Terima kasih, Mbak. Mbak baik banget.” Aku mengeluh lengannya dan tersenyum. Kemudian mengingat tujuan kedatanganku ke sini bukan untuk Mbak— “Maaf, Mbak, aku lupa, Mbak namanya siapa?” “Romi.” “Okay, Mbak Romi. Terima kasih, yaaa.” Dia mengangguk, lalu berbisik pelan. “Mungkin satu-satunya orang di rumah ini yang bisa Mbak Dara andelin cuma saya.” Dia tertawa pelan banget. “Saya selalu di pihaknya Mas Gyan, dan Mas Gyan juga tadi bilang buat bantuan Mbak di sini.” “O-kaaayy.” Aku tersenyum geli. “Kesannya jadi kayak mau perang, padahal aku cuma main. Udah, Mbak, nggak pa-pa. Aku dan Mega baik-baik aja. Sekali lagi makasih, yaaa, udah peduli sama saya.” Kepalanya mengangguk. “Mari, Mbak, Ibu sudah nunggu di dalem.” “Oh, ternyata beneran lumayan deg-degan.” Kami tertawa, lalu mulai melangkah memasuki rumahnya. Aku dibawa ke ruang tamu, berbeda dengan saat pertama kali datang ke sini bersama Gyan. Mega sudah duduk di sana, sedang menyilangkan kaki dan bermain handphone, lalu menoleh menatapku. “Hai,” sapaku berusaha tersenyum ramah. Dia mempersilakanku duduk dengan tangannya, kemudian kembali fokus pada handphone-nya sambil mengatakan, “Bentar, ya. Bikinin minum dan keluarin makanan, Mbak Rom.” Aku melirik Mbak Romi, dia tersenyum padaku, lalu pamit undur diri. Oh Mega, aku tahu kamu jelas perempuan hebat itu kenapa Om Gino memilih menghabiskan hidupnya denganmu dibanding hanya menjadikanmu cinta satu malam—mengingat cerita Gyan bahwa Mega hanya salah satu perempuan di list Om Gino. Tapi kehebatan Mega tetap tidak membenarkan sikapnya barusan, bukan? Aku ingin sedikit menggodanya dengan tetap berdiri, menunggunya sampai selesai atas kesibukannya bersama benda di tangannya itu. Mungkin sekitar satu menit, kurang lebihnya aku tidak yakin, dia akhirnya meletakkan handphone di sebelah tubuhnya dan sedikit terkejut melihatku masih berdiri. “Tadi bukannya aku udah mempersilakan kamu duduk, ya?” “Oh I’m sorry, aku nggak denger, Mega.” Aku tersenyum. “Tadi aku cuma liat kamu liat aku, dan minta Mbak Romi bikin minum.” Aku melihat keningnya berkerut tepat ketika aku menyebut nama salah satu pegawainya. Mungkin dia bertanya-tanya, dari mana aku bisa tahu dan terlihat sok akrab. “Kalau ternyata aku sudah dipersilakan duduk, aku akan duduk.” Aku mendaratkan bokong di sofa berbeda sebelahnya. “Tadi lama nggak, Dhar, dihadang satpam di depan?” Aku refleks tertawa. “Iyaa, lumayan, untungnya di belakang nggak ada mobil.” “Kalau belakangmu ada mobil lain, kamu pasti suruh maju buat nunggu prosesnya selesai.” Aku mengangguk. “Nggak pa-pa, sih, paham kok mereka ngelakuin ini demi keamanan.” “Dan kenyamanan,” jawabnya, ada senyum tipis di wajahnya saat menatapku. “Mereka mau mastiin yang datang itu memang yang diharapkan sama tuan rumah.” Mendengar kalimat itu aku tentu saja mengangguk, menyetujuinya. Menerima tamu tanpa diundang memang tidak nyaman. “Tapi sekaligus ngasih paham ke tamunya, kalau meskipun diundang, mereka tetap bukan inti keluarga yang bisa dipercaya dan diterima gitu aja. Itu kenapa ada yang diminta tanda pengenal. Waktu Gyan ke sini, nggak perlu, kan?” Aku berusaha mencerna kalimatnya dengan baik. Lalu terdistraksi dengan kedatangan Mbak Romi yang membawa minuman untuk kami berdua dan ada beberapa makanan juga. Aku mengucapkan terima kasih ketika dia mempersilakanku menikmati. Setelah Mbak Romi pamit, aku kembali menatap Mega dan mengulang kata-katanya di kepala. Rasanya memang sulit untuk berpikiran positif dengan perempuan ini. Bahkan meski berusaha tetap berpikir bahwa semua kalimatnya hanya sebuah cerita dan informasi untukku sebagai tamu, tapi aku justru merasa dia sedang menegaskan posisiku di sini. Sebagai hanya tamu karena dia menerimaku di ruang tamu dan tamu yang tak begitu penting karena perlu melewati proses screening di depan satpam tadi. “Anyway,” ucapku pelan, tersenyum pada Mega. “Nyetir ke sini lumayan capek, sih buat aku, jadi memang kayaknya nggak akan lagi deh aku ke sini nyetir sendiri. Ada untungnya juga punya pacar yang maunya sebagai provider.” Ekspresi wajahnya seketika berubah. Dia bisa saja memasang wajah aslinya yang tidak ramah itu untukku, tapi aku dia juga sedang berusaha kuat untuk terlihat santai dan baik hati. “Dulu waktu kamu masih pacaran sama Gyan, rumahnya Om Gino yang ini, Ga?” “Menurutmu sopan kah nanyain hal itu, Dhara? I’ve heard a lot about you dan semuanya hal baik, lho.” “Oh my bad.” Aku menggelengkan kepala. “Nggak akan terulang lagi pertanyaan itu. Jadi mari langsung pada intinya, kamu mau ngomong apa dengan undang aku ke sini sebagai sesama perempuan dan Gyan nggak boleh tau?” “Aku cuma berusaha memperbaiki karena kita berdua tau, sebenci apa pun Gyan sama papanya dan aku, kita selamanya tetap akan terhubung.” “Contohnya?” “Apa maksudmu dengan contohnya?” Aku tersenyum lebar. “Ya contohnya selamanya akan terhubung itu apa? Karena kalau ngomongin nikah, kayaknya cowok nggak perlu wali nikah deh, sementara aku masih punya Abang. Terus biaya hidup, seingatku Gyan udah lama nggak bergantung sama papanya. Jadi, kalaupun kalian mau ancem dengan ambil apa yang udah kalian kasih, dia masih bisa hidup juga.” Aku menatapnya serius, dia juga sama. “Oh ngomong-ngomong soal apa yang kalian kasih ke Gyan yang aku maksud tadi adalah bayaran transaksi barter antara Om Gino dan Gyan soal kamu.” Aku jelas merasa bersalah dan aku meminta maaf pada Tuhan dan teman-teman perempuanku di luar sana. Aku tidak pernah suka menjadikan perempuan sebagai objek apa pun yang mengarah ke keburukan, tapi demi Tuhan, dengan Mega ini, aku merasa benar-benar perlu melindungi diriku. Aku tidak bisa bersikap bak malaikat dengan meminta Tuhan yang membalasnya nanti di akhirat. Aku perlu mengerahkan seluruh kemampuan yang diberikan Tuhan padaku di dunia ini untuk menghadapinya. Dia terlihat sangat marah. “Maksudmu apa?” “Kamu udah tahu, kan, kalau Gyan lepasin kamu dan dapet imbalan banyak materi dari Om Gino? Itu hargamu, Mega. Jadi kalau mau kamu ambil lagi, artinya kamu udah nggak punya harga sama sekali di mata Gyan.” “Aku kasih kamu kesempatan buat minta maaf, Dhara.” “Aku juga kasih kamu kesempatan untuk bersikap normal sebagai ibu tiri Gyan dan berhenti bersikap seolah kamu dan Gyan masih punya hubungan spesial. Detik kamu ninggalin dia dan milih papanya, detik itu juga kamu harusnya sadar nggak ada lagi urusanmu dengan Gyan.” Aku menambahkan. “Satu lagi, Mega, aku yakin kayaknya kamu memang perlu tau ini. Alasan Gyan masih mau berhubungan sama Om Gino itu cuma karena Alex. Tapi buatku itu nggak susah, aku bisa dengan mudah bikin Gyan lebih milih aku daripada Alex.” Kali ini senyumku lebar. “Untuk literasi kamu deh, Gyan selalu bilang dia happy ada di tengah keluargaku. Dia nggak pernah butuh kamu dan Om Gino. Jadi, bersikaplah baik sama aku kalau kamu masih mau liat muka Gyan di rumah ini dan nggak mau Alex kehilangan sosok Abang. Mark my words.” Aku menyeruput minuman demi membasahi tenggorokan. Rasanya … seolah aku sudah menjadi orang paling jahat. Padahal, aku berani menjamin, aku juga menyayangi Alex dan tidak pernah menganggapnya sebelah mata hanya karena dia anaknya Mega.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 12

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Aku punya cerita menarik banget, Ra. Punya waktu buat dengerin?” “Seriously, Man?” Dia tergelak, tubuhnya sekarang berdiri tegak sambil memeluk tiang mop, dan sekarang sudah kembali menatapku, masih dengan ekspresi menahan tawa geli. Cerita apa lagi sekarang yang akan dia bawa di tengah-tengah proses pembersihan rumah ini, hm? Aku benar-benar merasa Gyan sedang mengeluarkan semua hal yang ada di dalam dirinya, bahkan sama sekali tidak berpikir untuk mengeluarkannya satu-satu. Memangnya dia nggak berpikir aku akan syok atau tidak menerima dirinya sepenuhnya? Secara terbuka? Satu-satu seharusnya bisa. Ini tidak, dia bisa memberiku kejutan dua kali dalam satu waktu; seperti hari ini. Belum cukup dengan kejutan bahwa dia tidak tahu makanan bernama seblak, sekarang dia mengejutkanku dengan sisi lain dirinya yang ‘oh aku adalah orang yang seneng cerita random di tengah napas ngos-ngosan dan keringat di pelipis’ alias, kami bahkan sedang gotong-royong. “Yaudah deh, kalau nggak mau dengerin.” “Excuse me?” Dia terbahak-bahak, sekarang sudah mulai kembali menggosok-gosok kain pel ke lantai dengan sangat kaku. Anyway, jangan menyalahkanku atas apa yang dia kerjakan hari ini. Aku sudah melarangnya tentu saja, karena … ya ini rumah aku dan Ibu, Gyan belum menjadi suamiku. Tapi Gyan mungkin sudah terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan, jadi dengan muka jenaka andalannya yang memang sangat disukai Ibu, dia merayu dengan kalimat; “Ibu bilang, ayahnya Nini suka ngelakuin hal-hal kayak gini, tapi kelaminnya nggak berubah, jadi Gyan juga mau, Bu. Mau latihan biar nanti terbiasa.” Aku tahu, banyak variabel tidak masuk akal di dalam kalimat rayuan Gyan. Hal yang sama dirasakan oleh Ibu, aku berani jamin karena aku mengenalnya seumur hidupku. Kalau itu aku, mungkin Ibu akan dengan mudah mengatakan, “Masalahnya bukan soal kamu nanti terbiasa atau enggak kok, Ni, tapi kan kamu sekarang ini belum secara resmi jadi bagian keluarga? Jadi nggak ada kewajiban buat bantuin hal-hal kayak gini.” Tapi yang terjadi di lapangan adalah, Ibu jelas tidak akan tega mengatakan itu pada calon menantu kesayangannya. Apalagi melihat ekspresi Gyan yang memelas, Ibu mengangguk dan mengelus lengan Gyan sambil bilang, “Boleh, Nak. Boleh, gih berdua sama Nini.” So, here we are! Aku tadi yang menyapu sementara Gyan bagian mengepel. Aku bukan tipe anak perempuan serajin itu sebenarnya. Yang aku maksud adalah … ibu membayar orang untuk membersihkan rumah meski tidak setiap hari, jadi kadang-kadang aku memang menyapu kalau diperlukan. Sisanya ya Ibu, karena dia memang jauh lebih bersih dan merasa puas. Masalahnya, Mbak yang biasa bantu bersih sekali-kali itu, mendadak tidak bisa, sementara kondisi rumah sudah perlu dibersihkan—menurut pandangan Ibu sepulangnya dari jalan-jalan. Lucunya, tadi aku sempat terpikirkan ide yang benar-benar konyol; kalau gini mendingan aku nikah sama Gyan aja sekarang dan pindah ke rumah sendiri. Jadi mau rumah kotor pun nggak peduli kalau memang nggak mau bersihin. Seketika aku buang ide itu jauh-jauh. Bukan karena Gyan-nya, tentu sekarang permasalahannya bukan lagi soal Gyan dengan prinsip hidupnya, melainkan diriku sendiri yang menurutku … well, aku yakin aku belum siap. “Anjrit!” Aku menoleh mendengar teriakan Gyan dan terpingkal-pingkal ketika melihat pantatnya sudah mendarat di lantai yang basah. Mukanya meringis kesakitan, tapi dia masih bisa ikut tertawa kencang. Lalu yang dia lakukan sekarang adalah meluruskan kaki pasrah, dan mengurut pahanya. Aku berjalan mendekat, setelah meletakkan kain pel ke wadahnya, aku berjongkok di dekatnya. “Do you need help, my little man?” “Stop.” “Gimana rasanya terjun ke dunia yang berbeda? Is it really fun? Wort it kah, Bang?” Aku mendengar Gyan terkekeh lalu mengerucutkan bibirnya, sepertinya dia menahan diri untuk tidak mengaku kalah dengan tertawa lagi. Karena apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran. No, banyak kebenaran. “Piye, Mas? Lebih enak di jamanmu dan Om Gino toh? Mana ada laki-laki turun tangan megang pel-pelan dan berakibat jatuh gini?” “Aku cium beneran kalau kamu nggak mau berhenti.” “Ibu bisa liat kita dari dapur sana, I bet.” “It'll be more interesting tho.” Gyan tersenyum lebar. “Dinikahin langsung pasti.” “Aku suka banget nih sama pedenya Bang Gyan. Padahal, bisa aja Ibu malah nyuruh putus.” Dia berdecak. “Ya jangan dong doanya.” Seketika tatapannya berubah memelas. “Ini kapan selesainya? Masih harus ruangan mana lagi yang dipel, Ni?” “Tangga belum, lantai atas belum, ada kamar-kamar. Terus abis ini nyuci baju, nyetrika baju yang udah kering sebelumnya, terus bersihin taman, baru deh nanti makan siang.” Aku melihat dia menelan ludah, tetapi masih berusaha memasang senyum di wajahnya. “Apakah sudah menyerah sampai di sini, Pak?” “Boleh nggak menyerah tanpa diputus restu?” Aku tergelak. “Tanya Ibu.” “Gengsiku masih ada, Ra, belum yang hilang total gitu.” Ya Tuhan, dia ternyata memang lucu sekali untuk beberapa hal. Saking lucunya, aku sampai kehilangan kendali dan secara refleks menarik kepalanya dan mendekapnya kencang. “Aku nggak tahu ngasih kesempatan diriku sendiri buat jalanin ini sama kamu ternyata seindah ini, Gy. I love you.” “Oh my God!” lirihnya, menarik diri dan menatapku horor. “Ini kerasukan atau beneran Nini cuma efek capek aja?” Aku mengedikkan bahu. “Anggap aja ini efek keringat.” Lalu aku berdiri setelah menepuk punggungnya. “Ayo cepetan rampungin, mau upah makan atau enggak?” “What?! Hey, ini kok kayak perbudakan?” “Lho, emang menurutmu apa?” Gyan terbahak-bahak. “Oh how I love this woman.” Kami melanjutkan lagi yang tersisa—dan sebenarnya tidak terlalu banyak sih. Aku memang hanya iseng saja mengerjai Gyan, karena ternyata sangat menyenangkan. Aku jadi lega membayangkan nanti di kehidupan kami berdua, setidaknya sudah ada gambaran membahagiakan ini. Walaupun aku paham, tidak akan semudah itu, hidup tidak melulu bahagia, pasti lengkap isinya. Beres semuanya, aku dan Gyan membersihkan tangan dan sekarang duduk di kursi meja makan dengan memperhatikan Ibu yang yang menyiapkan makanan dengan ekspresi suka cita. Mungkin yang dia pikirkan adalah … beginilah bayangan kehidupan kami nanti, selalu ada Gyan di rumah ini dan itulah doa Ibu, harapan Ibu untuk terwujud di hidupku. “Capek, Gy?” “Enggak kok, Bu, seru seru. Kalau kata Nini, bersihin rumah tuh seru kalau nggak disuruh.” Aku menoleh. “Berarti hari ini nggak seru dong, Ni?” tanya Ibu sambil tersenyum geli. “Kan, Ibu suruh.” Aku meringis. “Seru kok, Bu.” Aku merasa Gyan menatapku, dan aku melihatnya. Mukanya terlihat bersalah. “Gyan juga seneng banget, mana nggak kenal capek, malah bilang mana lagi yang mau dibersihin, terus katanya, nggak usah bayar orang, dia mau bantuin bersih-bersih. Katanya bisa jadi alternatif nge-date sama aku, versi aman di bawah pengawasan orang tua.” Aku pura-pura tidak melihat Gyan, tidak tahu bagaimana ekspresinya, dia juga tidak mengatakan apa pun. Tapi Ibu tentu saja tidak akan mengiyakan kalimatku tadi, karena mana mungkin dia bersedia menyusahkan calon menantu kesayangannya. Ibu menjawab, “Nggak usah lah, ini sesekali aja. Yang Ibu maksud ayahnya Nini nggak berubah kelamin itu bukan berarti dia ngerjain semuanya, Gy. Tapi maksudnya, dia nggak anti sama hal itu, gitu. Kalau udah kerja capek, pulang harus ngerjain semua sendiri, setiap hari, ya kasihan. Selagi mampu bayar orang, ya nggak pa-pa, toh mereka juga seneng dapat rezeki dari hasil keringat mereka. Tapi, kalau sesekali bareng istri bersih-bersih rumah, juga boleh karena nyenengin lho.” Gyan tertawa. “Iya, Bu.” “Dah, sekarang makan dulu. Yang banyak makannya, biar sehat.” Aku tergelak, lalu menatap mereka mereka berdua karena memberiku tatapan horor. “What?” “Kenapa kamu ketawa?” tanya Ibu. “Biar badan sehat?” “Ya emang iya, kan? Emang harusnya apa?” Aku menelan ludah. “Bener, biar badan sehat.” Aku menoleh pada Gyan, menepuk pundaknya. “Kasihan Gyan, keliatan nggak sehat dan kecapekan, makan yang banyak ya, Sayang, yaaa? Biar badannya gemuk dan sehat.” Gyan melongo. Aku mendengar Ibu tertawa. “Jadi, kalian udah mulai mikirin kira-kira kapan mau nikahnya?” Aku dan Gyan sama-sama tersedak pertanyaan mengerikan itu. Besok? Itu, kan, jawaban yang Ibu mau?

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 13

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Ini serius, ya, nggak bisa dibatalin?” “Udah telat, Nini. Kita udah separuh perjalanan.” “Ya nggak masalah, kalau memang bisa dan mungkin dibatalin, aku bisa turun di sini, pesen taksi, ojek online, apa pun, Gy. Yang penting dengan catatan kamu nggak drama setelah ini.” “Seriously? Siapa yang seharusnya dikasih warning kayak gitu? Kamu dong. Kalau kamu turun di sini, yakin nggak drama setelahnya dengan bilang; aku nggak peka, aku nggak paham meski kamu selalu bilang bisa tanpa aku tapi cewek mana yang nggak bete beneran diturunin di pinggir jalan.” “Ya lebih bete kalau diturunin di tengah jalan sih, ngeri ditabrak truk.” “Nini!” Gyan terbahak-bahak sambil memukul setir, sesekali menoleh singkat dan aku hanya memberinya tatapan sombong karena merasa sangat lucu, jago menghiburnya. “Sudah cukup lucu untuk menjadi pasanganmu, Mas Gyan? Menemanimu hidup di zaman serba ruwet ini?” Tawanya makin lepas. “Lo bener-bener … what? Lo?” Gyan memukul keningnya sendiri. “What is this? Hubungan macam apa ini? Kenapa begitu santai pake gue-elo aku-kamu tiba-tiba. Oh my God, I never felt this before.” “Ooh how lucky I am! Bisa denger langsung suara buaya beberapa kali. Aku belum ngerasain ini sebelumnya. Kenapa ya, sama kamu tuh nyaman banget. Susah banget nyari cewek yang sefrekuensi di zaman sekarang.” “Stop there.” Gyan terlihat tak terima, tapi masih sibuk dengan tawanya. “Aku nggak gitu, ya. Aku nggak pernah bilang kamu serba yang pertama, ya karena memang bukan. C’mon! Hidup udah kacau, ngapain malah sibuk bangun delusi. Anyways, aku belum jadi cerita ke kamu, kan, waktu aku bilang aku punya cerita seru?” “Apa tuh?” Aku memilih membuka snack yang tadi sempat kami beli, mengicipnya duluan untuk memastikan rasa. Ini bukan jajanan yang biasa aku beli, makanya aku juga tidak yakin dengan rasanya. Tadi hanya … well, menebak-nebak. Ketika merasa ini diterima lidah—lidahku maksudnya, karena aku tidak bisa menjamin selera kami sama, tapi aku mau coba memberinya pada Gyan. “Mau?” “Itu kentang, ya?” “Ketela.” “Aaaa.” Dia menoleh sambil matanya terlihat kesulitan melirik-lirik ke depan. Aku memasukkan satu keping ke dalam mulutnya. “Buset, ini spicy?” “Yup, emang pedes banget?” “Enggak sih, tapi kaget aja pertama kali tadi. Enak, enak. Mau lagi, Sayang.” Aku menyuapinya lagi, kesekian kali, sebanyak dia bilang ‘aaa’ sambil membuka mulut. “Tadi apa ceritanya, Gy?” “Oh! Gini, gini.” Dia menelan ketela di mulutnya, tentu saja setelah dia kunyah dengan baik. “Kamu pernah denger, nggak cerita anak sama ibu tirinya tuh bahkan seumuran?” Aku mengangguk. “Kalau orang deket sih nggak pernah, yaa, tapi aku pernah baca gitu di sosmed atau denger cerita dari temen gitu. Jadi, aku percaya aja sih.” Aku memperhatikan bungkus snack untuk tahu informasi kadar cabai di makanan ini. Kenapa lama-lama aku merasa lidahku seperti terbakar? Padahal kelihatannya ini snack normal, bukan kematian dengan gambar api dan cabai merah yang sebesar baliho. “Pedes, ya, Sayang?” tanyaku memastikan pada Gyan. Bukan bertanya, lebih tepatnya mengkonfirmasi kalimatnya tadi. “Tuh, iya emang pedes. Tadi beli minum nggak?” “Beli kok. Mau?” “Mau dong.” Aku membuka botol minum, lalu membantu memastikan air itu bisa masuk ke mulutnya dengan selamat. Setelah berhasil, aku melihat Gyan senyum-senyum sendiri sambil melirikku. “Kenapa?” “Nggak pa-pa. Aku cuma ngerasa … ini tuh namanya karma atau namanya kenikmatan menjilat ludah sendiri?” “Sorry?” “Ternyata diemong kayak gini rasanya nyenengin banget.” Aku mengernyitkan kening. “Diemong? Oh my goodness!” Aku terbahak-bahak. “Ya ampun, Gyan, kasian banget. Belum pernah ada yang bukain tutup botol, ya? Biasanya selalu yang bukain sih, yaaa?” Dia tertawa, aku melanjutkan. “MAu dipuk-puk sekalian nggak?” “Di sini?” “Edaaan!” Aku memukul lengannya. “Lanjutin ceritanya tadi gimana, kamu tuh nggak pernah terima kalau aku bilang kamu kalimatnya ke mana-mana. Nih lihat buktinya.” “Iya deh.” Dia memasang wajah sinis. Aku cuma tertawa geli. “Nah, jadi ada nih orang punya mama tiri yang seusia dia kan, Ni. Nih anak cowok ya by the way. Terus cowok ini punya pacar.” Selama dia bercerita, aku manggut-manggut, berusaha menyimak dengan baik karena ceritanya terdengar lumayan rumit. Tapi aku juga sambil mengunyah snack yang tadi, sayang kalau tidak dihabiskan. “Nah, pacarnya ini luar biasa sempurna deh. Nggak cuma cantik, tapi beneran baikkkk, positif banget orangnya.” “Wow,” seruku refleks, aku ikutan menatap Gyan antusias. “Pasti si cowok juga keren banget tuh, bisa sama-sama beruntung saling dapetin.” Gyan meringis. “Yang cowok sih menurutku enggak banget.” “Gyan, please?” Aku tak bisa menahan tawa meski aku juga merasa ikut bersalah atas kalimat kurang ajarnya barusan pada orang lain. “Serius, Ra, cowoknya ya gitu deh. Nah si mama tiri cowok ini, kayaknya emang nggak suka gitu sama pacarnya anak tirinya ini. Si cewek ini, pacarnya si cowok, sadar sih kalau calon mertua tirinya itu nggak suka. Ya dia juga sama sih, nggak yang suka banget gitu, tapi karena dia memang baik anaknya, dia berusaha hargai, dan tetep baik. Terus suatu ketika, entah ada ide gila darimana, si mama tiri ini tiba-tiba undang nih cewek main ke rumahnya dan minta buat si anak cowok nggak tau.” “What? Kok mirip drama-drama layar kaca.” “I know right?” Gyan terkekeh. “Datenglah nih cewek, dia mah baik, kan. Jadi ya dateng aja gitu. Ternyata, undangan itu tuh emang niatnya buruk. Si mama tiri tuh mau nunjukkin kalau posisi nih cewek sebagai apa dan nggak pernah beneran diterima di keluarga itu.” Tunggu sebentar, kenapa alurnya terasa dejavu? “Si cewek ini lama-lama enek juga, kan? Terus sisi baiknya mendadak hilang dan muncul sisi kejam dia, dia lawan tuh mama tiri pacarnya sambil bilang kalau dia bisa aja lho bikin pacarnya nggak mau nemui—” “GYAN!” Aku melotot dan setelanya menyentuh dadaku sambil terbahak-bahak. Bisa-bisanya aku tidak menyadari dari awal kalau yang sedang dia ceritakan adalah aku! “Bener-bener kamu, ya!” Sudah bisa dipastikan, Gyan terlihat sangat menikmati hiburan yang dia buat sendiri hari ini. “Kok bisa sih lama nyadarnya?” “Demi Allah.” Aku masih dengan sisa tawaku, kemudian memilih menjilati bumbu snack yang menempel di jari. “Aku pikir kayak … oh ini dunia luas, ada banyak kisah menarik di luar sana. Aku lupa kalau kisah sinetron itu terjadi di kamu juga. Demi apa, aku harusnya sadar dari awal, aku dikerjain. Sialan kamu, ya.” Dia tergelak. “Ngomong sialan aja merdu dan anggun, ya, Buuuu.” “Harusnya sambil melotot marah, yaaa?” Aku diam, tiba-tiba teringat sesuatu. “Kok kamu bisa tau?” “Rahasia.” “Ih, Gyaaan. Itu rahasia tau, aku nggak cerita sama siapa-siapa. Nggak peduli gimana nyebelinnya Mega, tapi dari awal aku udah janji sama dia itu cuma jadi urusan kami berdua. Jadi, dari mana kamu tau, hm?” “Dhara, biar gimana pun, mereka tuh keluargaku. Orang-orang yang sama Papa, terutama Mbak Romi. she’s my best friend.” Aku menganga. “Jadi, segala hal yang terjadi di sana, aku akan tahu. Cuma, yang nggak penting buatku yaudah biarin, tapi yang kemarin ini beda dong. Aku udah minta tolong dia buat bantuin karena aku nggak bisa di sana, was-was juga kalau Mega nekat ngelakuin sesuatu dan kamu diem ngalah. Oh ternyata, there’s another side that I don’t know.” Gyan tertawa, aku ikut-ikutan. “Kalau inget gimana Mbak Romi ceritainnya, aku bangga banget sama kamu. Lebih bangga karena kamu sebaik ini, nggak cerita atau ngadu ke aku. Kenapa, Ra?” Aku mengedikkan bahu. “Karena mungkin aku masih berharap Mega berubah dan nerima keadaan?” “Detail, please?” “Nggak tahu, ya, mungkin aku salah. Aku cuma ngerasa, mungkin dia bukan masih cinta kamu, tapi dia cuma belum bisa nerima ada cewek lain sama kamu. Menurutku sih itu dua hal yang beda. Gimana menurutmu?” “Tapi outcome-nya sama aja, kan? Sama-sama ngeselin ke kamu. Aku nggak peduli perasaan Mega gimana, dia udah dapetin yang dia mau lebih banyak, jadi dia nggak seharusnya masih intip-intip apa yang dia tinggalin di belakang, Ra. Dan kamu, aku bangga kamu baik dan bijak, tapi aku juga bersedia bantuin kamu, apa pun, kamu tau itu, kan?” Aku tersenyum, mengangguk. “Aku bisa pasang badan buat kamu. Aku nggak peduli siapa yang aku hadapin. Apalagi cuma Mega dan Papa. Mereka nggak terlibat apa-apa di hidupku selain ngasih trauma.” Ya Tuhan, aku berkaca-kaca. Bukan, bukan aku merasa sangat bangga karena dicintai lelaki sebesar ini sampai rela bermasalah dengan papanya. Justru aku merasa sedih karena dia masih memiliki rasa benci itu di hatinya, yang pasti sangat menyiksa. Aku tidak bisa melakukan banyak hal untuk membuang perasaan kotor itu, supaya dia lebih bebas bernapas. Jadi mungkin, yang bisa aku lakukan saat ini hanya ini, menemaninya gathering tim kantornya. “Anyway, Gy, ini nanti kita beneran nginep?” “Serius, Ni? Kita udah bawah koper di belakang. Walaupun cuma nginep semalam.” “Puncak dingin, tau.” Aku tertawa. “Lagian, siapa sih yang ngide suruh bawa pasangan buat game kantor coba. Mana pasangan belum halal.” Gyan tergelak. “Malah ada yang parah, bawa fwb tau.” “Serius?!” “Serius. Atau kalau kamu nggak yakin, kita akad dulu nih sebelum lanjut jalan?” Aku memasang wajah lelah. Menjawab pertanyaan Ibu soal kapan menyiapkan pernikahan aja seadanya, ini lagi ajakan nikah dadakan. Segampang itu mungkin menikah di mata Gyan, padahal dia yang sebelumnya bilang sepertinya tidak akan menikah. “Nanti malem nggak pa-pa ya tidur sama cewek-cewek kenalan baru?” Aku menatapnya bingung. “Daripada tidur sama aku? Di puncak? Sedingin itu dengan vibes puncak yang … you know. Aku sih mau banget, yaa, tapi, kan, nggak mungkin.” “Emang bisa, yaa, seks tanpa sadar?” “Maksudnya?” “Ya kalau kamu sadar, pasti bisa nahan diri dong.” “Bisa, siapa yang bilang nggak bisa. Aku cuma minta bantuan, supaya tekanannya nggak terlalu banyak.” Gantian aku yang memutar bola mata. Gyan tertawa.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 21

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Jujur sama gue, Yan, lo tuh sebenernya meskipun nggak kerja tetep bisa hidup, hidupin gue, dan anak-anak kita nanti, kan?” “A a a.” Tangan kanannya terangkat, dia menatapku dengan ekspresi seperti dosen super serius yang sedang berusaha mengoreksi kesalahanku. Laptop dipangkuannya yang tadinya terbuka sekarang tertutup. “Sadar dulu kalau ada yang salah sama kalimatmu, baru kita lanjut obrolannya.” “What? Soal duit? Maksudnya bahas duit? Normal dong, suami-istri bahas duit, kecuali emang lo masih awkward karena semalam atau—” “Bukan, try again.” “Apa sih, Gyan!” Aku tertawa geli, menjatuhkan tubuhku di sampingnya. “Nggak seru tahu! Katanya ini honeymoon, malah bawa laptop. Kok bisa sih aku kecolongan nggak periksa dulu bawaanmu, tahu gitu aku buang tuh barang di airport.” Dia tergelak. “Ooohhh, I love it.” Mendengar itu aku juga tertawa sambil memandangnya serius. “Apa yang salah dari kalimatku tadi?” “Gue, elo, apa itu?” tanyanya dengan wajah masam dan tawaku akhirnya meledak. “Aku baru denger kosa kata itu di dalam bahasa pernikahan dan barusan aku searching, kayaknya artinya juga nggak bagus. Nggak sesuai penempatan lah kalau di sini, kalau buat kita.” Aku bersedekap sambil menyandarkan punggung di sofa, menatapnya geli. “Jadi gimana seharusnya bahasa pernikahan yang bisa saya pakai, Baginda Gyan?” Dia meletakkan laptop di meja kecil di depan kami, kemudian menatapku serius dan terus bergerak maju. Dia berhenti ketika wajah kami sudah berdekatan. Tangannya terulur, menyentuh rambutku, memainkannya lembut. “Rambutmu basah karena aku atau karena kamu yang kegilaan sama kolam renang?” Aku memutar bola mata. “Kamu lihat ini jam berapa, mana sempat aku ke kolam renang.” Dia nyengir lebar. “Kamu tahu nggak kalau kamu tuh cantik banget rambut basah gini.” “What?!” Aku tertawa kencang, tak siap dengan kalimatnya yang meskipun itu pujian, tetapi terdengar aneh menurutku. Dia mengangkat alis dengan wajah serius, terlihat begitu tersinggung akan reaksiku, jadi aku berusaha melanjutkan. “Nggak cowok yang muji cewek cantik dengan rambut kayak gini, Gyan. Rambut basah, rambut lepek. Cowok tuh akan muji ketika rambut kita badai, wangi, warna baru yang kebetulan cocok di mata si cowok, atau style yang disukai banget sama si cowok. Seenggaknya itu kasusku.” Dia mengangguk. “Aku selama ini selalu lihat kamu dalam kondisi rambut kering—” “Bentar, bentar, rambut kering?” “I-iya, kering?” “Maksudmu rambutku selama ini rusak?” “Lho, kering, Ra!” Dia kebingungan, aku pun sama bingungnya mencoba memahami kalimatnya. “Antonim dari basah apa? Kering, kan? Maksudku, aku selama ini nggak pernah lihat rambutmu basah.” “Ohalah! Ngomong dong! Bikin panik aja. Kata kering di kamus rambut perempuan itu serem, tau. Kering, lepek, rusak, semua itu serem.” “Oh gitu, ya.” Gyan tertawa pelan. “Sori, sori, aku pikir ya kering, kayak sekarang rambutku ini, kan udah kering. Gitu. Kan selama ini kalau ketemu kamu posisinya kita mau jalan, jadi rambutmu selalu dalam keadaan TIDAK BASAH. Okay?” Aku tergelak mendengar usahanya dalam memilih kata. “Terus lihat rambutmu basah pertama kali dan kamu biarin dia kering dengan sendirinya, maksudnya, TIDAK BASAH dengan sendirinya, bantuan angin alami, aku ngelihat kamu jadi cantik luar biasa. Kayak fresh banget, kayak orang lagi bahagia.” “Ya emang aku bahagia! Edan lo, ya! Kamu!” Ralatku cepat-cepat sebelum dia kembali mengoreksi kalimatku. “Lebih cepet aku.” Dia terkekeh. “Jadi aku berhasil bikin kamu bahagia, Ni?” “Ihh ini apa sih? Kayak bukan Gyan banget!” Aku menyentuh kedua pipinya dan menatap matanya serius. “Mending jujur sekarang, ini villa sebenernya horor, kan? Suka ada orang kerasukan kalau stay di sini, hm? Siapa yang berani rasukin Gyan? Cepetan keluar. Gyan yang aku kenal itu percaya diri, seru, dan lucu, bukan sibuk mikirin hal-hal kayak gitu.” Bibirnya terlihat menahan senyum. “Kayak gitu apa?” Aku yang sekarang tertawa. “Look at me!” ucapku sebelum akhirnya berdiri. “Kamu perhatiin aku baik-baik. Aku menunjuk diriku sendiri dari atas kepala sampai bawah, berdiri di hadapannya langsung. Aku mengenakan tanktop berwarna oranye dan white flowy short. Jadi dia seharusnya bisa melihat dengan jelas. “Aku baik-baik aja, kan? Bisa lihat nggak nih, Bapak Gyan? Apakah ada yang hilang dari badanku setelah semalam? Apakah ada yang luka?” Aku meringis. “Oh okay! Aku nggak mau keliatan nggak manusiawi nenangin kamunya, let me be honest. Cuma ada kendala sedikit. Sedikiiiiit banget.” Aku memberinya gestur kecil lewat jari, supaya dia lebih yakin dan paham. “Ada yang aneh di tengah pahaku dan aku udah perhatiin jalanku di depan kaca tadi … kayak gini.” Aku mencoba berjalan di depannya dan meringis, lalu kembali berdiri menghadapnya dengan senyuman lebar. “Sisanya fine! I’m fine, Gyan! Kalau kamu tanya gimana perasaanku … jujur rasanya aneh dari semalam, tapi hari ini kamu haru tahu aku di kamar mandi liatin mukaku di kaca wastafel, cengar-cengir. Tahu ketika orang-orang pada muji sesama cewek glowing? Nah itu aku.” Aku menunduk dan memeluknya, menenggelamkan kepalanya di dadaku. “Aku bahagia, super super bahagia. Thank you so much. Nah sekarang coba balik aku yang tanya, kamu gimana?” Tangannya menuntunku agar aku menurunkan tubuh dan kepala kami sejajar. Dia tersenyum dan mengecupku berkali-kali, lalu sekarang kedua tanganya di pipiku. “Mungkin kamu bisa kayak gini terus kalau tetep tinggal di sini? Glowing kayak kamu bilang tadi?” Aku tertawa kecil. “Terus ini nggak disewain lagi?” Kepalanya menggeleng. “Buat kamu.” Aku memutar bola mata. “Rasanya kayak nikahin anak yang punya negara.” Giginya terlihat karena tawanya muncul. “Emang negara ada yang punya? Kan bareng-bareng, punyaku, punyamu, punya kita semua.” “Tapi yang beneran nikmatin cuma segelintir orang aja.” “Ra?” Gyan tertawa lagi. “Tapi serius, kalau kamu memang suka sama suasana di sini, kita bisa cari rumah di Bali. Duit Papa banyak, kamu nggak usah khawatir, cuma itu yang bisa aku banggain dari dia. Aku nggak akan nolak harta yang dia kasih cuma karena aku benci dia. Kalau bisa, justru aku ambil semua, biar dia nggak punya apa-apa.” “Wow. Nggak nyangka aku malah jadi pemeran utama sinetron anak dan papa rebutan harta.” Gyan tergelak dan mencium pipiku sekali lagi, kemudian dia mengangkat tubuhku sampai aku duduk kembali di sebelahnya. “Kalau soal kerja nggak kerja … pertama, aku suka pekerjaanku, Ni, aku suka banget waktu kami berhasil ubah ide ke dalam bentuk media. Diskusi sama tim tentang ide atau jenis font, warna, layout, apa pun itu yang berhubungan sama pekerjaan, aku suka. Meski kadang-kadang harus buka laptop kayak gini karena ada revisi layout di projek yang lagi digarap, aku juga seneng. Ya walaupun kamu bener, soal uang, mungkin ini nggak ada apa-apanya, dibanding apa yang aku dapet dari Papa. Dari cafe itu, pembagian hasil dari vila-vila Papa, pembagian dari bisnis perhiasan Mama, mungkin nanti … kalau aku beneran usah ngerasa puas sama dunia karyawan ini … aku freelance aja buat ngobatin kangen sama pekerjaan ini, aku akan serius berbisnis bareng Mama, kamu kalau kamu mau bantu aku. TAPI.” “Tapi?” “Kalau cita-cita kamu berubah dan kamu pengen di rumah. Sama anak-anak kita. Dekor-dekor rumah karena lihat barang lucu dan mau ganti, sibuk bikin kue atau coba resep baru sama anak-anak, dan nyiapin liburan di weekend atau akhir bulan, aku akan dengan senang hati bekerja sama.” Senyumku merekah. “Kamu tahu nggak apa yang aku pikirin?” “Apa?” “Kalau dipikir-pikir … Om Gino tuh—” Gyan tertawa. “Kenapa?” “Sebenci-bencinya aku sama dia, dari dulu aku tetep panggil dia Papa, Ra. Kamu benci banget sama Papaku, ya?” Senyum gelinya muncul. Aku tertawa kencang. “Sori, sori, ya Allah, kebiasaan manggilnya Am-Om mulu nih. Okay, Papa Gino.” Aku menarik napas dan mengembuskannya pelan. “Maksudku … dia tuh meski sejahat itu ke kamu, tapi beneran kalau soal duit jor-joran, ya? Padahal bisa aja kan dari awal, dia ambil pacarmu, terus usir kamu dan Mamamu, tanpa dikasih uang sepeserpun.” “Ya karena yang dia punya cuma uang, Ra. Papa nggak punya harga diri atau lainnya sebagai laki-laki, ayah, dan suami, jadi cuma itu yang bisa dia kasih ke anak dan istrinya, mantan istri. Semoga sih dia bisa berubah buat Mega dan Alex, ya.” Aku tersenyum bangga. “Aku tuh bangga banget sama kamu, Yan.” “Aku?” “Iya, aku nggak akan pernah bisa bayangin rasanya jadi kamu tiap lihat Mega, Papamu, dan Alex. Tapi kamu lihat, masih bisa berdoa buat kebaikan mereka. Kamu tuh jangan selalu mikir kamu buruk terus! Aku tuh bahkan banyak dapet perspektif baru dari kamu, aku kagum sama kamu. Aku nggak takut lagi nanti anak-anakku akan gimana, karena mereka akan punya ayah yang hebat. Okay?” “Aduh, Ni,” lirihnya kemudian menarikku ke dalam pelukannya. “Aku tuh beneran sayang banget sama kamu, semua perasaan baik dan indah yang ada di dunia ini kayaknya ada di aku buat kamu.” Aku tersenyum geli dan mengelus-elus punggungnya. Lalu bisikan darinya terdengar lagi. “Menurutmu kamu perlu istirahat sama rasa anehnya di tengah pahamu hilang atau udah bisa langsung lagi?” “Edyaaaan!”

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 20

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Saya terima nikah dan kawinnya Aghnia Dhara binti Ramzi Ramadan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” “Bagaimana saksi?” “SAH!” “SAH!” Napas yang sejak tadi aku tahan dan hampir membuatku kehilangan kesadaran diri kini bisa aku hembuskan dengan penuh kelegaan. Aku sempat melirik semua orang untuk melihat wajah mereka yang berseri dengan kebahagiaan hari ini, tetapi seketika menyesal karena aku tak melihat itu di wajah Mega. Bahkan sekelas Om Gino yang merupakan manusia paling jahat di kamusku dan Gyan pun tersenyum, meski aku sendiri tidak tahu pasti apa yang ada di pikiran dan hatinya. Entah dia hanya berusaha terlihat sebagai manusia normal yang ikut berbahagia dengan pernikahan anaknya atau dia benar-benar merasakan itu. Tapi aku tidak peduli. Hari ini adalah hariku dengan Gyan. Tidak ada satu orang pun yang boleh merusaknya, terutama orang-orang yang tak kami sayang. Aku bukannya ikut mengompori Gyan agar terus membenci ayahnya dan juga Mega. Tapi aku bukan siapa-siapa untuk mendikte hatinya agar sembuh dan melupakan apa yang dia rasa dan lalui selama ini. Lagipula, baik Om Gino dan Mega tidak terlihat ingin bekerja sama denganku. Alih-alih mengajakku menjadi tim untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Gyan, mereka malah berusaha mendorongku menjauh dari Gyan. Jadi aku sudah memutuskan, sebagaimana Gyan tidak memusingkan apa yang Om Gino dan Mega pikirkan, begitu pun aku. Bahkan kehadiran dua orang itu di pernikahan sederhana kami ini bukan karena aku atau Gyan yang mengabari, melainkan Tante Anita. Menurut informasi dari Gyan, Tante Anita dan Gyan memerlukan obrolan yang Panjang dan alot untuk memutuskan ini. Gyan sama sekali tidak ingin pernikahannya melibatkan Om Gino mau pun Mega, hanya Alex yang masuk ke dalam pikirannya. Tetapi entah gimana, Tante Anita tentu mampu meyakinkan Gyan bahwa semua ini terjadi dan semua tetap akan baik-baik saja. Aku juga tidak melihat Gyan gimana-gimana. Artinya dia tidak terpengaruh atau terganggu dengan kehadiran papanya dan Mega. Bahagiaku benar-benar sempurna karena acara sakral ini berjalan seperti yang aku dan Gyan harapkan; tidak terlalu ramai, indah, dan yang pasti kami mengenal semua orang yang ada di sini. Kalaupun aku agak lupa, Gyan akan menjelaskan tentang orang yang dia kenal tersebut, begitu sebaliknya. Intinya, di antara kami berdua, pasti ada yang mengenal. Orang-orang yang hadir juga terlihat bahagia, mulai dari menikmati suasana outdoor ini, hingga makanan yang dihidangkan. Bahkan ketika malam, aku pun tidak merasa Lelah seperti yang orang-orang gambarkan itu. Yang membedakan hanyalah perasaan lega dan Bahagia karena kami melewati perjalanan yang panjang sekali dan akhirnya sekarang ada di posisi ini. Untuk acara tadi, tidak melelahkan karena kami tidak berdiri berjam-jam dan menyalami ratusan tamu yang tak kami kenal. Saking tenaga dan waktu kami masih terjaga, aku dan Gyan juga bisa pindah tempat alias kota, dari Jakarta ke Bali, seperti rencana. Well, Gyan tentu saja ngotot di awal-awal dengan banyak pertanyaan kenapa harus Bali padahal ini momen special kami? Menurutnya, tidak harus menunggu menikah untuk menikmati indahnya Bali, mengingat dia juga pasti sering ke sana, karena di punya tempat di sana warisan Om Gino. Tapi aku berhasil meyakinkannya dengan iming-iming, yang dekat-dekat dulu, yang familiar dulu, baru nanti mencoba yang baru. Ternyata Gyan tidak berbohong ketika bilang kalau baginya, berada di Bali tidak membuatnya merasa berbeda. Sekarang dia duduk bersila di atas kasur, tangan bersedekap, sendirian, dan menatap kosong ke kaca besar yang tembus bisa melihat private pool. Aku meringis melihat ekspresinya yang tak ada rasa kagum sementara aku begitu tiba di sini, sudah berlebihan menghirup udara, memandangi tiap sudut dengan mata berbinar. Bahkan ketika melihat kolam renang itu, aku sudah cengar-cengir dan berjanji dalam hati akan menenggelamkan tubuhku di sana berjam-jam, bersama kelopak-kelopak bunga itu. Aku sengaja berdeham untuk membuatnya kembali ke realita. Semuanya seketika berubah. Senyumnya langsung merekah dan dia menatap kolam dan aku bergantian lalu berkata, “Indah banget tuh, kamu suka air, kan, Ra? Mau berenang sekarang?” Dalam hati aku meringis lagi, menyadari dia berusaha banyak hal, terutama ikut merasakan bahagiaku meski sesuatu itu mungkin tak begitu berarti untuknya. Salah satunya vila miliknya ini. Dia jelas mungkin sudah merasa ini seperti rumahnya. Jadi, berada di sini meski dengan status pernikahan, rasanya seperti berada di dalam rumahnya. Lucu, aku pada akhirnya tertawa dan membuatnya menatapku bingung. “What?” tanyanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu tahu?” “Apa?” “Kamu tuh pengantin paling aneh.” “What does it mean?” “Aku bisa aja lho sakit hati karena kamu nggak kelihatan Bahagia. Seolah nyesel abis nikah.” Bukannya tersinggung juga, Gyan malah terbahak-bahak dan sekarang menopang tubuhnya dengan kedua tangan di belakang. “Orang keliatan happy abis nikah tuh yang gimana sih menurutmu? Coba aku juga penasaran.” Aku ikutan tertawa. Berjalan mendekat dan ikut naik ke atas kasur, duduk bersila di sampingnya dan menatap ke depan, ke kolam renang itu. “Mungkin yang … senyum-senyum terus nggak berhenti? Atau yang … ngucap syukur terus nggak berhenti karena akhirnya bisa nikahin orang yang dia impikan? Atau … mungkin yang ….” Aku menjeda, dan meliriknya. Dia pun menatapku, tetapi aku hanya tersenyum, kemudian mengedikkan bahu. Memilih untuk tidak melanjutkan kalimat, aku kembali turun dari kasur dan berjalan ke pintu arah kolam renang. Menoleh sekali lagi pada Gyan, aku membuka bath robe, menyisakan bikini, dan berjalan cepat untuk lompat ke air. Begitu mengangkat kepala, aku mengusap wajah, lalu mendongakkan kepala dan memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskannya. Terima kasih, ya Tuhan, untuk semua ini. Mataku kembali terbuka ketika merasa cipratan air dari loncatan Gyan. Dia berenang ke ujung berlawanan, membuat kami seperti musuh. Pakaian atasnya sudah hilang, tentu saja, keseluruhan tubuhnya juga sudah basah, kami saling lempar senyum dan tawa, kemudian dia mengeluarkan suara lebih dulu. “Kenapa nggak diawali mandi berdua aja, Ra? Biar kerasa semangat dan happy-nya sebagai pengantin.” Aku memutar bola mata sambil tetap tergelak tawa. “Kamu katanya jago tapi masa iya harus diajarin step by step-nya, Gy?” “Sorry?” “Berenang itu permulaan yang bagus tahu. Setelah ini baru mandi berdua.” “Damn!” Gyan tertawa lepas. “Berapa lama belajar tentang kayak gini?” “Oh kamu harus belajar dulu ya kayak gini tuh?” “Aghnia Dhara.” Aku terbahak-bahak, lalu menyipratkan air ke arahnya. Sekarang aku mulai berenang menuju tempatnya berdiri, dan memangku tangan di pinggiran kolam. Kami saling tatap dan tawaku masih belum bisa hilang sepenuhnya. “Kamu tahu nggak? Aku kepikiran terus, kalau tau villa-mu senyaman ini, aku mau ke sini dari dulu.” Gyan memutar bola mata. “Kamu, kan, nggak pernah percaya aku.” “Bukan nggak percaya, tapi kan dulu bukan siapa-siapa.” “Sekarang siapa?” Aku mendengus kencang. “Anyway, kita jahat nggak sih, Yan? Nggak berhubungan baik sama orangnya, tapi menikmati hartanya.” Melihat keningnya berkerut, aku tertawa dan menjelaskan. “Papamu.” “Justru karena cuma harta doang yang bisa dinikmati dari dia.” Aku menelan ludah, tetapi tertawa pelan. “Ra, kita nanti beneran satu kamar?” Aku menatapnya terheran-heran. “Seriously?” Dia mengangguk. “Kamu mau tidur di kamar terpisah?” Kepalanya menggeleng, lalu dia tertawa pelan. “Jujur aku kepikiran ini.” “Apa?” “Kita.” “Gyan, lo ngomongin apa, sih?” Dia menggaruk kepalanya, menatapku sambil meringis. “Gue … malu dan ragu?” Gyan mengedikkan bahu. “Kayak … gimana, yaaaa. Kamu tahu, kan, I don’t just love you, but I adore you so much?” Mendengar itu aku mengangguk. “Nah karena itu, aku kepikiran aku bisa nggak ya, akan ngelakuin kesalahan nggak ya? Nilaiku nanti berapa? Gimana kalau kamu nanti ngetawain aku? Gimana kalau ternyata aku nggak OKE? Gimana kalau setelahnya, kita malah jadi awkward?” Aku sebenarnya ingin terbahak-bahak, tetapi aku tahu dia sedang sungguh-sungguh menceritakan kegelisahannya. Betapa jahatnya aku yang menertawakan apa yang dia rasakan sekarang. Meski aku pun sama gugupnya, tetapi sepertinya rasa gugup Gyan jauh tidak terkontrol seperti apa yang aku rasa. Untuk itu, aku memilih menjadi baik hati dan sebagai penenang. Mendekati posisinya, aku memeluk Gyan dan berbisik. “Nggak usah khawatir, nggak usah dipaksa, nggak harus dipikirkan. Katanya, kayak gitu nggak perlu direncanain harus sekarang besok atau nanti. Kita nikmati aja waktu kayak biasanya, nanti akan terbiasa sendiri dan … katanya kebawa suasana. Kamu juga nggak perlu khawatir OKE enggaknya nanti, aku bantu bimbing.” “What?!” Gyan melepas pelukan, menatapku sebentar kemudian terbahak-bahak sampai mendongakkan kepalanya. Aku ikut tertawa dan saat dia melihatku lagi, aku mengedikkan bahu sambil menatapnya sombong. Padahal aku juga tidak tahu apa-apa. “Mungkin nanti kita bisa mulai dengan nonton romance movie?” tanyanya terdengar tak yakin. “Porn maksudmu?” “Dhara!” Kami sama-sama tertawa kencang. Apa pun lah nanti pemancingnya, yang jelas aku yakin, cepat atau lambat, kami berdua akan sampai ke sana.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 19

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Ni? Tumben?” Ibu mengernyitkan kening ketika muncul di dapur di saat aku sedang berkutat dengan proses memasak. “Jam berapa ini? Masak buat siapa? Ada angin apa?” Rentetan pertanyaan itu tentu saja membuatku tertawa dan menghentikan aktivitas sejenak dari mengupas wortel. Sambil mengusap kening dengan lengan, aku menatap Ibu geli. “Ibu pasti seneng dan bangga kalau tau jawabannya.” Tawaku lepas melihat Ibu mencibir sambil mendekat, berkacak pinggang menilai semua alat dan bahan di meja dapur ini. “Aku mau masakin calon suamiku dong, Bu. Mau masakain calon menantu kesayangan Ibu. The one and only, Gyan.” “Kak Mel juga menantu kesayangan.” “Ck! Yaiyaaa, tapi kan suami dari aku ya cuma satu.” “Kayak gitu dulu susah banget sih mau sama Gyan.” “Ini bisa nggak sih lihat ke depan dan nggak usah ungkit ke belakang?” Ibu tertawa. “Ini beneran mau masakin buat Gyan?” “Yap.” “Dia bukannya kerja? Emang cukup waktunya istirahat buat makan di sini?” Aku yang gantian tertawa dengan pertanyaan itu. “Ya jelas nggak cukup, Bu.” “Terus? Kamu kirim ojek?” “Ya kenapa nggak Nini aja yang anterin coba?” Melihat muka Ibu yang terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, aku tak bisa menahan tawa geli. “Kenapa sih? Kayak hal aneh aja.” “Emang aneh. Kamu tuh kadang kayak nggak mau, tapi bisa juga kelihatan mau banget. Semoga Gyan nggak bingung.” Aku tergelak. “Dia udah bingung dari awal, Bu. Ih udah sanaaa, jangan dilihatin, nanti aku gerogi masaknya.” Aku mendengar Ibu berdecak. “Ini Ibu mau nggak masakanku?” “Buat Gyan dulu aja deh, penasaran juga nilai dari dia nanti gimana.” “Kok gitu?” Aku melihat Ibu melenggang meninggalkan dapur. “Bu, maksudnya selama ini masakan Nini kenapa? Ibuuuu!” Aku mendesah kencang sambil meratapi bahan-bahan di hadapanku. Menggelengkan kepala, aku bertekad ini akan menjadi makanan yang paling enak yang pernah Gyan makan. Jangan menyerah, Ni. Dia sudah melakukan banyak hal di luar batasnya bahkan, sekarang giliranmu. Memasak makanan tak perlu mempertaruhkan nyawa. Aku tidak boleh menghancurkan rencana indah hari ini yang sudah aku susun dengan baik. Maka dari itu, setelah menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, mengembuskannya pelan, aku berusaha memasang senyum pada semua bahan di hadapanku demi memberi afirmasi positif agar hasilnya juga baik. Sesuai yang diharapkan. Jadi, kalau ternyata nanti masih tetap tidak sesuai—ya Tuhan, semoga sesuai untuk kali ini. Seharusnya ini tak perlu sesulit itu, juga tak memerlukan waktu yang lama. Karena aku hanya akan memasak daging-brokoli lada hitam dan sapo tahu. Ditambah nanti nasi, well, yang satu ini jelas tak perlu masuk ke list, karena tinggal ambil di rice cooker hasil masak Ibu. Okay, yang ini nanti saja mencucinya setelah semua selesai, yang paling penting adalah bolak-balik mencuci tangan setelah memegang apa pun. Dalam sekali masak, tidak tahu berapa puluh kali mengguyur jari dengan air mengalir dari kran wastafel itu. Sekarang aku sedang terbatuk-batuk saat mengoseng bumbu dan memasukkan dagingnya. Solusinya aman, siram air sedikit. Setelah yakin dagingnya sudah empuk, barulah aku memasukkan brokoli, karena tidak mungkin membiarkannya lembek. Rasanya akan aneh dan warnanya tidak lagi mena—shit, aku lupa irisan bawang bombay-ku! Aku sempat terdiam menatap teflon, ragu apakah memasukkannya begitu saja atau lebih baik tidak usah sama sekali. Mana pilihan yang paling masuk akal? Apakah kalau bawang bombay di makan masih dalam kondisi agak mentah, lidah Gyan akan menerimanya? Aku yakin iya, jadi aku tetap memasukkannya saja, mengaduk rata sambil berdoa semoga hasilnya tidak fail—agak mungkin, tetapi seharusnya masih bisa diterima. Beres dengan daging dan brokoli, aku beralih pada sapo tahu dan sebelumnya tentu saja melihat resep internet ke sekian kalinya hari ini. Masih saja nggak kunjung hafal, baik bahan maupun step by step. Memasak memang tidak mempertaruhkan nyawa, tapi tidak pernah ada yang bilang mudah. Termasuk aku. Tapi setidaknya, sapo tahuku tidak ada kendala atau drama. Alhamdulillah. Aku masih bisa tersenyum lebar ketika mematikan kompor. Namun, tepat ketika mataku melirik wastafel, senyumku sirna digantikan migrain menyerang. Ini bagian yang mengerikan, melihat kekacauan setelah perang di dapur. Semua peralatan tidak sadar semuanya keluar dan kotor. Pikiran dicuci nanti yang justru membuat semua menumpuk secara bersamaan justru bikin sesak napas. Tapi rasanya terlalu kurang ajar kalau aku meminta bantuan Ibu untuk membereskan ini sementara Ibu bahkan tidak mengicip hasil makanannya. Lagipula, ini, kan, ideku sendiri. Aku mengembuskan napas, memindahkan hasil masakan ke dalam wadah sebelum nanti menyusunnya. Lalu sekarang menatap nanar pada tumpukan barang kotor. Aku janji, setelah menikah nanti, aku akan membeli mesin cuci piring, karena kalau di rumah Ibu, kalimatnya selalu sama; kamu mau ciptaan sempurnanya Allah, semuanya kamu ganti pakai mesin dan robot? Padahal, selagi bermanfaat, seharusnya tidak masalah, kan? Bukan ditujukan untuk hal-hal keburukan, kok. Setelah berpuluh-puluh kali mengembuskan napas lelah, akhirnya beres juga semua peralatan sisa masak tadi. Sekarang aku kembali berseri-seri menatap—oh tunggu dulu! Aku melupakan satu lagi! Aku sudah membeli dimsum frozen dan tinggal mengukusnya. Sementara aku menyiapkan makan siang Gyan di dalam wadah yang proper. Ternyata menyenangkan juga melakukan hal ini sambil membayangkan reaksi Gyan nanti yang pasti akan menertawakanku. Dia … sedang apa, ya? Aku sudah janjian dengannya untuk bertemu di taman yang tak terlalu jauh dari gedung kantornya di jam makan siang. Berkali-kali dia memastikan apakah aku salah tempat atau gimana, padahal aku tahu maksudku. Dia merekomendasikan restoran favorit anak-anak kantornya, tetapi aku bilang percaya sama aku, cukup datang ke taman itu dengan tangan kosong. Terakhir kali, balasan dia adalah; your wish is my command, my lady. Tipikial Gyan. Jadi, sudah bisa ditebak bagaimana nanti reaksinya atas semua ini? Setelah beres dengan semua makanan juga minuman—aku membuat dua opsi untuk minumannya; jus jeruk dan air putih—, aku memutuskan untuk segera membersihkan diri dan bersiap, karena jangan pernah meremehkan jalanan di Jakarta, meski nini bukan jam-jam rawan. Tetap harus punya rasa khawatir supaya selamat. “Ibu, Nini berangkat, assalamualaikum!” “Ati-ati, Ni!” Menatap sekali lagi pada tas makanan yang aku tenteng, aku mengangguk yakin. Sekarang aku mengintip diriku sendiri di cermin—kamera handphone—sebelum tersenyum sambil masuk ke dalam taksi. Ini adalah pilihan yang tepat dibanding harus mencari tempat parkir yang akan bikin sakit kepala. Semoga Gyan menyukai hal-hal kecil yang aku usahakan untuknya. Semoga dia bisa merasakan kesungguhanku dalam memenuhi janji untuk menjadi bagian kebahagiaan di dunia ini untuknya. Semoga dia bisa menerima dan merasakannya. Bismillah. Aku melihat ada beberapa orang yang sudah memenuhi taman ini, memang tidak banyak, karena ya mau ngapain juga orang-orang Jakarta di taman tengah hari. Tapi padahal, hari ini tak terlalu terik, malah cukup untuk bisa dibilang lumayan mendung. Jadi, syukurku bertambah karena kami tidak akan merasakan panas yang menggila. Aku sudah duduk agak jauh dari gerombolan anak-anak muda perempuan yang sepertinya sedang piknik ala-ala. Berkali-kali melihat jam, aku masih belum melihat tanda-tanda kedatangan Gyan. Mengecek handphone pun sama, dia tidak mengabari apa pun selain tadi yang katanya pekerjaannya sedikit lagi selesai. “Sumpa, gue panik banget coy! Lu bayangin lagi angkat kaki makan snack, tuh alarm bunyi, gimana nggak jantungan.” Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang yang lewat. “Mana harus turun dari lantai 14 gilaaak!” Aku mengernyitkan kening. Alarm apa? Lantai 14? Aku menggelengkan kepala. Di sekitar sini ada banyak gedung perkantoran, jadi bukan hanya Gyan yang bekerja di sekitar sini. Kalau pun kenapa-napa, aku pasti tahu. Tapi … gimana kalau aku tidak sempat tahu? Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku berusaha menghubungi Tante Anita. “Halo, Ni, kenapa, Sayang?” Tapi dia terlihat sangat santai. “Tante, aku lupa deh, Gyan kerjanya di lantai berapa, ya?” “Lho, kenapa?” “Aku … lagi itu, nggak sengaja kenalan sama orang yang kayaknya sekantor sama Gyan.” “Ohalah. Dia di lantai 15 deh 14, di lantai 14 seinget, Tante.” “Oh bener berarti, yaudah, Tante, makasih, yaaa.” “Tapi kamu nggak pa-pa? Kok aneh?” “Nggak pa-pa, Tan.” Aku berusaha tertawa, di dalam hati sudah tidak karuan. “Aku tutup dulu, Tante, dia mau pamitan. Assalamualaikum.” Napasku lolos dan kerja jantungku seketika tidak wajar. Aku juga melihat mulai ada banyak orang yang datang, yang … aku baru tahu orang-orang juga senang datang ke sini. Tapi … kenapa wajah mereka tertawa-tawa? Kalau memang ada gedung yang terjadi sesuatu—mataku melotot saat melihat siapa yang sedang berjalan dan tersenyum lebar ketika matanya menemukanku. Tangannya melambai, aku membalasnya. Aku belum pernah merasa selega ini melihat Gyan selain saat ingin mengakui perasaan waktu itu. Tapi leganya berbedda. Ini seolah … seolah dia selamat dari maut yang mungkin bahkan hanya ada di kepalaku. Saat dia berhasil duduk di depanku, di atas kain gemas yang aku bawa, aku menatapnya berkaca-kaca dan meraih tangannya, menggenggamnya erat. Aku ingin sekali memeluknya tapi malu dan takut ditangkap satpol PP. “Ra? Kamu kenapa?” “Kamu nggak pa-pa?” “Kok aku?” “Kamu di lantai berapa sih? 14 ya?” “Oh!” Gyan tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kok kamu tahu? Soal alarm, ya?” Aku mengangguk. “Tadi nggak sengaja denger obrolan orang, aku takut banget, Gy.” “Parah sih. Pada panik, lantai setinggi itu, ternyata simulasi. Damn.” Aku menghela napas lega. “Ya bagus deh simulasi. Kalau beneran gimana coba.” “Dulu pernah waktu gempa di mana itu yaaa, aduh, orang pada kebirit-birit sampai napas mau putus rasanya. Ternyata kalau jarak kematian terasa depan mata tuh, yang ada di kepala cuma orang yang kita sayang tau, Ra. Dulu aku cuma kayak … Mama, Mama belum bahagia, gitu.” Dia selalu memikirkan orang lain. Bagaimana mungkin aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan laki-laki ini? “Wah apa iniiii?” tanyanya terlihat berbinar-binar menatap kotak makanan. “Aku masakin buat kamu, sampa Ibu nggak mau cicip, lho, Yan, karena khusus buat kamu.” “Aw!” Dia menyentuh dadanya sambil tersenyum lebar. “Ini ada angin apa, yaa? Jujur ini saya agak takut ya, Bu Dhara. Piknik tiba-tiba di tengah Jakarta, tatapan kayak sayang banget gitu atau kasihan itu tadi?” Tawanya muncul. “Jadi nggak mau? Aku balik lagi aja nih?” “Ck, nggak boleh ngambekan, nanti jodohnya jelek.” “Kamu jelek dong?” Dia tertawa lebar. “Aku nggak sabar mau makan, boleh sekarang?” Aku mengangguk. Memperhatikan dia yang dengan semangat membuka tutup makanan itu, lalu botol jus dan menenggaknya dengan ekspresi bahagia. “Gy, nanti malam, enggak, pulang ini nanti, aku mau langsung cari-cari referensi buat pernikahan intimate-private-apalah itu namanya.” Dia terbatuk-batuk, lalu menatapku horor. “Di sini banget?” Matanya melihat sekeliling. “Dhara, are you okay?” Aku mengangguk. “Nggak usah deal deal-an, kita langsung urus mulai hari ini semuanya. Kalaupun beres seminggu, kita langsung nikah seminggu itu, ya?” Aku tertawa melihat mulutnya melongo. “Kamu mau nggak nikah sama aku?” “Ya menurutmu? Tapi kenapa? Kamu kenapa segugup dan sepanik ini?” “Takut kamu keburu sadar dan ninggalin aku.” “Ya Allah.” Aku tertawa karena jelas bukan itu alasanku dan aku tahu Gyan juga tahu, itu kenapa dia terlihat sudah lelah menghadapi keanehan ini. Aku hanya tidak mau terus menunda hal-hal baik, sementara aku tidak tahu berapa lama lagi waktu yang diberikan untuk bisa kami berdua nikmati bersama. Aku mau menikmati tiap detik bersama Gyan dengan sangat baik. “Lo mau, kan, Gy?” “Dhara,” lirihnya, menatapku dengan kening berkerut. Kemudian tersenyum lebar. “Ya gas lah, menurut lo?” Aku tertawa. Tentu dia juga

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 18

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Nini, ini kamu ngirit karena mikir pacarmu ini, calon suamimu ini duitnya sedikit atau emang kamu tuh nggak cinta banget sama makanan? Hm? Yang mana ini alasannya?” Ya Tuhan, aku benar-benar akan menyesal seumur hidup jika saja aku tidak memaksa diri untuk berani menghampiri Gyan, detik setelah aku menerima pesan dari Dinda. Aku tidak akan bisa melihat sisi konyol Gyan yang satu ini, yang ternyata begitu menarik dan membahagiakan. Tawaku masih sesekali terus ada sejak kami tadi masuk ke toko perhiasan dan pada akhirnya, aku dan dia memiliki cincin yang katanya menjadi simbol hubungan kami. Aku tidak tahu, apa nanti setelah kami menikah, perlu ada revisi pada cincin ini atau biar ini menjadi pertama dan terakhir untuk kami. Anyway, tahu bagian apa yang menarik dari hari ini? Ternyata yang ribet itu tidak selalu perempuan seperti apa kata orang-orang di luar sana. Gyan, dalam kasus kami ini, justru menjadi yang paling lama dalam keputusan final pemilihan cincin kami berdua. Bukan hanya untuknya yang menurutnya tidak cocok di jarinya, tetapi bahkan untukku pun dia masih sempat komentar; “Nanti kalau Ibu dan Abang liat ini, kamu yakin mereka nggak akan sedih, Ra?” Aku tentu saja bingung dan bertanya, “Sedih kenapa?” “Kok kayaknya anaknya kasihan banget dikasih cincinnya ini.” Benar-benar di luar akal sehat, apalagi mengingat paham-paham hidup yang dia bawa selama ini—yang menjadi alasan kenapa dia sempat tidak menarik untukku, walaupun aku sudah tahu itu hanya apa yang dipelajari dan terima dari papanya. Dia begitu rumit, padahal aku melihat cincin tadi sudah sangat cantik, tak perlu custom abcd dan memerlukan waktu panjang dan biaya yang tidak sedikit. Pada akhirnya, dia tetap mengangguk dan mengatakan, “Kalau lo happy, gue nggak punya alasan lain buat komplain. Gue ikutan happy, apa pun ternyata tetep cantik kalau kamu yang pakai.” Dia mengatakan itu di depan karyawan yang dengan senyum ramah membantu kami. Oh Gyan, nyatanya dia juga bisa membuatku merasa malu karena tingkah tidak kerennya. Lalu sekarang, permasalahan kedua yang kami hadapi belum ada jarak berjam-jam dari scene soal cincin adalah di depan kasir bioskop. Kami sudah mencetak tiket yang dibeli Gyan secara online, sekarang tinggal memesan makanan dan minuman. Aku heran dan masih tetap heran kenapa dia senang sekali makan dan minum banyak selama menonton. Sementara aku tim yang ketika nonton, harus fokus menatap layar, kalau terlalu banyak distraksi ambil makanan dan minuman, pikiranku buyar. Di bioskop tidak bisa kita pause dan ulang, itu kenapa aku sebetulnya lebih suka menonton di rumah, di platform menonton online. “Lo tau gue suka makan, kan, Yan?” bisikku sudah mulai lelah. “Tapi lo juga tahu kalau nonton, gue nggak bisa multitasking sehebat itu. Kalau gue ketinggalan dialog, gue nggak bisa ulang.” “Kata siapa?” Dia tertawa geli, ikutan berbisik. “Gue bisa request ke mereka, kita sewa satu gedung, dan kalau lo masih nggak paham atau ketinggalan, kita replay.” Aku memutar bola mata. “Kenapa aku bisa nggak tahu kalau Gyan Janadarna Kurniawan bisa sesombong ini, hm? Darah Om Gino kayaknya emang bisa lepas dari kamu, yaaa.” Aku tahu, tahu sekali kalimatku ini akan menyinggungnya berlapis-lapis. Pertama, menyebut nama belakangnya yang tak pernah dia suka. Kedua, menghubungkannya terang-terangan dengan orang yang masih dia benci. Tapi ini Gyan, dia masih selalu punya tawa, lalu mengangguk-angguk sambil mengangkat kedua tangan. “Okay, Mbak, yang itu tadi aja.” “Udah semua ya, Kak?” “Yup.” “Jadi, totalnya seratus tujuh puluh lima ribu sembilan ratus, Kak.” “Pakai ini.” Dia menyodorkan debit yang diterima kasir dengan senyum ramah yang tak pernah pudar. Setelah proses selesai dan debit dikembalikan, “Silakan menunggu pesanannya ya, Kak, nanti diambil di sebelah sana.” Gyan tersenyum dan mengangguk. “Makasih, Mbak.” Tak menunggu terlalu lama, pesanan kami sudah bisa diambil dan begitu saja, kami berdua langsung berjalan menuju teater seperti yang tertera di tiket karena memang waktunya hanya tinggal beberapa menit lagi. Gyan dengan prinsip hidupnya, dengan gerakan cepat dan tanpa bicara mengambil selimut untukku. Aku menatapnya sambil tersenyum geli. “What?” “Kirain bete karena berantem soal makanan.” “Excuse me?” Gyan menoleh ke sekitar sebelum dia tertawa. Jangan sampai tawa kami tak terkontrol, tawanya maksudku. “Kayaknya aku perlu ada rombak besar-besaran deh, Ra.” “Tentang?” tanyaku sambil mulai menyamankan posisi. Di sebelahku, Gyan pun sama. “Tentang nama baikku. Kayaknya di kepalaku aku tuh masih buruk banget. Ya nggak sih?” Aku tertawa pelan, berusaha sepelan mungkin sambil geleng-geleng kepala. “Karena apa?” “Karena kamu selalu mikir buruk, kamu ngira aku marah, karena apa emang aku marah? Berantem? Menurutmu tadi tuh kita berantem? Menurutku malah enggak. Asal kamu tau, semua hal yang terjadi ini tuh apa yang aku mau. Aku selalu bayangin debat kecil sama kamu, liat kamu butuh aku, kayak gitu.” Dia sendiri terkekeh geli akan kalimatku. “Kalau debat besar tetap mau?” “Mulaaaii.” Gyan melirikku sebal sambil menyelimuti tubuhnya. “Kenapa sih, ya, harus ada selimut. Ini kenapa juga dibatesin laci. Bukannya gunanya pake soft cushion gini pas nonton biar bisa nyaman? Kalau pasangan, kan, nyamannya nonton ya sambil cuddling nggak sih, Ni?” Mataku melotot. “Gyan, please? Cuci dulu otakmu.” Dia tertawa. “Tadi harusnya nonton horor aja, Ra.” “Biar kalau aku takut bisa mepet-mepet dan kamu dapet kesempatan? Naskah lama, Yan, ganti gih.” Dia nyengir sambil menggosok hidungnya dengan tangan. “Lagian aku nggak takut tau nonton horor.” “Oyaa?” Aku menatapnya sombong. “Mau taruhan? Jangan-jangan kamu nih yang penakut.” “Oh Dhara, jangan selalu remehin aku. Ayo kita taruhan, aku yang pilih filmnya.” “Horor tapi ya, bukan thriller.” “Oh kalau thriller takut?” Dia kasih aku senyum smirk. Laki-laki ini sungguh sudah belajar banyak dalam menghadapiku. Aku memutar bola mata, ke sekian kali. “Orang yang berani dan anteng nonton thriller tuh harusnya dipertanyakan empatinya. Kamu psikopat kah tega liat innocent people disiksa?” “C’mon! Ini film, Ra. Kamu tuh seneng banget deh labelin orang.” Ya Tuhan, dia benar. “Sorry.” Aku tertawa pelan. “Intinya aku nggak sanggup kalau thriller, kalau horor kita deal.” “Deal.” Dia tersenyum lebar. “Hadiah dan hukumannya apa nih? Nggak seru tanpa itu.” “Kalau kamu kalah, aku nggak suka deh dikasih hadiah, tapi aku mau lihat langsung dan terlibat di satu hari penuh kamu sama Om Gino selayaknya anak dan papa beneran.” “Sebuah kemustahilan, Ra.” Dia tertawa mengejek. “Ganti yang lain.” “Nggak mau.” Dia sudah tahu aku bisa menjadi begitu keras kepala, kan? Kalau hukuman itu mudah untuknya, lalu apa esensi dari hukuman itu sendiri? “Deal atau nggak?” “Detailnya apa itu maksudnya seharian jadi anak-papa.” “Ya kalian ngapain gitu.” Aku tersenyum lebar. “Olahraga, masak berdua, apa.” Beberapa orang sudah mulai ramai berdatangan, waktu kami bisa berbisik-bisik mungkin tidak banyak lagi. “Okaaayy. Terus kalau kamu kalah?” “Kamu minta apa?” “Nikah dalam waktu dekat.” “What? Persiapan nikah nggak semudah itu, Gy.” “Serahin ke aku, kalau aku bisa bikin jadi semudah itu sesuai pernikahan yang kamu mau, kita nikah langsung. Deal?” “Edyaaan. Gue nggak yakin.” “Deal aja dulu?” Aku mengembuskan napas lalu mengangguk. Rasanya mustahil bisa mewujudkan pernikahan hanya dalam hitungan jari. Jadi, walaupun nanti dia menang, aku tidak perlu setakut itu akan hukumannya—tunggu sebentar, kenapa aku perlu takut akan menikah dengannya? Aku juga mau itu. Dia hanya tidak tahu atau belum yakin. Jadi yang harusnya terjadi nanti adalah aku yang menang, melihat Gyan dan papanya bisa seperti hubungan anak dan papa lainnya. Soal menikah dengannya, menang atau kalah, aku tetap akan mau menikah dengannya. Yang masih menjadi pertimbanganku adalah … apa yang akan aku lakukan setelah menikah dengannya? Diam menikmati apa yang dia berikan dari hasil kerja kerasnya? Sementara aku tidak melakukan apa-apa. Setelah apa yang aku lakukan padanya, setelah apa yang aku tahu terjadi pada hidupnya, aku merasa … Gyan sudah tidak layak mendapat kejahatan dan kesulitan di dalam hidupnya. Meski dia selalu bilang, tindakan apa pun, usaha apa pun yang dia lakukan untukku tidak pernah membuatnya kehilangan energi atau lelah, dia justru semakin bahagia dan semangat menjalani hari-harinya, semangat bekerja, karena dia tahu ada aku. Dia tahu ada aku yang akan ada di sebelahnya. Bodohnya, aku nyaris kehilangan laki-laki sebaik, sehebat, dan setampan ini. Yang bahkan sekarang terlihat sedang serius menonton film genre romantis pilihanku. Dia tidak terlihat bosan karena mulutnya tak pernah diam, selalu mengunyah. Aku penasaran setelah ini akan bertanya tentang film yang kami tonton, apakah dia sungguh memahami alurnya atau hanya berusaha menghargaiku. Ya, dia harus mulai terbiasa dengan keisengan yang dilakukan perempuan pada laki-laki, pertanyaan-pertanyaan jebakan. Karena bagaimana pun, aku perempuan pada umumnya.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 17

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku sedang menunggu Gyan di sebuah kafe––yang jelas bukan miliknya––sementara dia berkali-kali meyakinkan tak butuh waktu terlalu lama dia bisa sampai di sini. Karena hari ini, jadwal kami lumayan Panjang. Jadwal buatan Gyan yang menurutku malah menyusahkannya sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab pekerjaan 9 to 5. Berbeda denganku, yang memiliki pekerjaan rutin dan tak memakan waktu banyak. Aku live hanya sekali dalam sehari, selama kurang lebih 2 jam. Aku tidak sanggup untuk menambahnya lagi. Meski penghasilannya mungkin tak besar, tapi aku memang tidak berharap atau butuh lebih banyak lagi. Justru sekarang aku jadi mulai memikirkan tindakanku yang tiba-tiba membahas pernikahan. Aku bahkan belum membicarakan aku akan melakukan apa setelah menikah nanti, bersama Gyan. Apa aku ingin tetap di rumah atau aku memutuskan untuk berwirausaha atau mewakili Gyan mengurus Maladewa Café. “Hei, Mbak, sorry, aku boleh duduk di sini nggak?” Lamunanku seketika buyar mendengar suara yang ternyata memang bukan Gyan. Laki-laki yang sedang menenteng tas laptop dan menatapku seperti merasa sangat tidak enak. “Cuma sebentar, Kak, akua da revisi dan harus kirim file, butuh colokan itu, sih.” Dia menunjuk bawah kursi tempatku duduk. Aku tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Silakan, Mas. Di depan nggak ada colokan, sih, ya?” “Iyaaa, di sana ada kursi kosong tadi dua, tapi nggak bisa charging, laptop aku mati. Semoga cuma sebentar kok, Mbak. Sekali lagi maaf, ya?” “Iyaa nggak pa-pa, silakan.” Aku memperhatikan dia yang mulai duduk, membuka tas laptop dan mengeluarkan charger, membungkukkan badan untuk menyolokkannya ke listrik, lalu menyambungkan ke port di laptopnya dan dia mengangkat pandagan ke arahku. “Bisa nyala?” tanyaku penasaran. “Bisa, Mbak. Alhamdullillah.” Aku tersenyum dan mengangguk. Tiba-tiba jadi random berpikir, seberapa banyak pekerjaan lelaki ini sampai laptop yang menurutku ini harusnya awet batreinya sudah habis? Atau seberapa padat dan dinamisnya system kerjanya sehingga membuatnya harus membuka laptop dan mengirim file di mana pun dia bera––wait, apakah dia bisa fokus kalau aku tetap di sini. “Sorry, Mas, Masnya keganggu nggak kalau tete pada aku di sini? Aku nggak pa-pa sih pindah sebentar ke smoking room sana.” “Oh jangan, Mbak. Nggak pa-pa kok, justru harusnya tadi saya yang tanya kenyamanan Mbaknya.” “Saya nggak pa-pa.” Aku mengangguk sekali lagi. Kemudian lelaki ini berdiri, mengangguk sambil tersenyum dan mengatakan, “Sebentar, ya, Mbak.” Aku tidak paham sebentar untuk apa maksudnya. Memilih untuk tidak memikirkan itu, aku kembali bermain handphone sampai kemudian dia kembali membawa potongan cake dan minuman … untukku? “Mbak, aku beliin beberapa untuk ucapan terima kasih karena udah baik.” “Lho, Mas, nggak perlu. Ini, kan, meja umum, buat semua pengunjung di sini. Jadi beneran, ini nggak perlu. Buat Masnya aja, serius.” “Nggak pa-pa.” Dia tersenyum lebar, sudah duduk kembali di depanku. “Saya makasih banyak, please, diterima, yaaa?” Aku masih merasa tidak pantas menerima ini karena aku sungguh tidak melakukan kebaikan apa pun. Kami datang sama-sama sebagai pengunjung dan sudah seharusnya aku memberikan kursi kosong untuk dia yang memang membutuhkan. Mungkin dia memberi lebih banyak pemasukan daripada aku untuk kafe ini. Mungkin dia pelanggan lebih sering daripada aku, kan? “Please?” Tapi pada akhirnya aku menganggukkan kepala. “Aduh, sayangnya yang jadi nggak enak nih, Mas.” “Don’t be,” ucapnya sambil tertawa. “jadi orang baik emang mungkin harusnya bare minimum, ya, Mbak? Tapi realitanya nggak semua orang bisa kok.” Aku tersenyum. “Sekali lagi makasih, yaaaa.” Setelah melihat dia kembali fokus menatap layar laptop, aku berusaha sepelan mungkin dalam tiap Gerakan. Entah itu menarik minuman dan menyedotnya, mengecilkan volume handpone ketika scrolling media social atau mengetik balasan untuk Gyan … dia sudah di parkiran! Aku melirik kiri-kanan dan tak menemukan lagi kursi lain selain yang aku dan lelaki di depanku ini gunakan. Aku belum menemukan solusi apakah aku harus ke depan langsung dan meminta Gyan menunggu di sana atau kalau dia ternyata mau memesan sesuatu …. “Sayang?” Terlambat. Suaranya sudah ada di belakangku. Aku melihat Mas di depanku mendongak menatap sumber suara dengan bibir terbuka dan ketika aku menoleh ke belakang, aku memahami kebingungan lelaki asing tadi. Dia jelas panik karena dipanggil ‘sayang’ oleh orang asing, terlebih dia laki-laki pula. Gyan memanggil sayang dengan tatapan ke lelaki di depanku. Siapa yang tidak akan salah paham, padahal aku tentu memahami maksudnya. Aku belum sempat memberitahunya bahwa kursi di depanku dipinjam oleh orang lain dulu sementara. “Gy? Kamu mau pesen sesuatu atau langsung?” “Yang itu punya siapa?” tanya menunjuk pesanan … pesanan Mas di depanku untuk dirinya dan untukku. “Punyamu atau punya … Masnya? Temenmu?” “Oh! Masnya tadi butuh charging laptopnya dan harus kirim kerjaan, nggak ada tempat lain, jadi dia di sini.” Aku tertawa, Mas di depanku mengangguk pada Gyan sambil tersenyum. “Terus dia beliin aku ini sebagai ucapan makasih katanya, padahal aku udah bilang nggak perlu.” Gyan tertawa pelan, lalu mengelus kepalaku. “Nggak pa-pa dong, itu ucapan syukur Masnya karena berhasil nemuin orang baik dan keren, nggak selfish di tengah dunia yang jahat ini.” Ia menatap lelaki di depan. “Ya, Mas, ya?” Ucapannya similar denga napa yang lelaki tadi ucapkan. “Betul. Ini kalau Masnya mau ambil aja punya saya yang ini, belum saya minum kok, Mas.” “Oh nggak usah nggak pa-pa, nanti take away aja.” Gyan menatapku, mengangguk, dan aku paham ajakannya pulang. Lalu aku membenahi barang-barang, dan tiba-tiba dia bilang, “Sini biar aku bantu bawain minuman dan cake-nya ini. Nanti minta bungkusin kasirnya aja. Mas, makasih yaaa udah traktir pacar saya.” “Oh sama-sama, Mas, Mbak, makasih sekali lagi udah jadi orang baik.” Aku mengangguk dan berjalan bersama Gyan untuk ke kasir. Memesan apa yang ingin Gyan pesan sembari meminta kasirnya untuk membungkus sekalian apa yang tadi aku punya. Maksudku, pemberian masnya tadi. Selama menunggu itu, aku sesekali memperhatikan wajah Gyan, berusaha mencari-cari apakah dia sedang acting atau dia memang sesantai ini. Aku pernah penasaran sekali dia bisa marah padaku atau tidak dan masih penasaran sampai sekarang, ini nanti aku juga ingin membuktikannya lagi. Mungkin dia akan meluapkannya di dalam mobil. Tapi anehnya, setelah selesai memasang seat belt, Gyan meminum minumannya dan menoleh padaku. “Kayak gitu, Ra, kalau kerja sama orang, dalam kondisi apa pun harus ready.” Aku meringis. “Kasihan, yaa?” Kepalanya mengangguk. “Tapi kamu baik banget, aku nggak pernah nggak bangga sama kamu, Ra.” “Serius?” “Apanya?” “Kamu bangga dan nggak marah?” “Marah kenapa?” “Aku duduk sama cowok lain di kafe.” Gyan tergelak. “Kalau kalian janjian dating di belakang aku, baru aku tonjok mukanya. Lah ini, kan, dia butuh pertolongan dan kamu baik banget mau bantu dia tanpa genit atau apa. Masnya juga nggak genit, biasa aja. Aku nggak marah lah, justru bangga banget sama kamu dan makin yakin, kalau nanti generasiku yang dididik kamu bisa seenggaknya jadi salah satu kebaikan dari semua kerusakan orang-orang di bumi ini.” Aku memutar bola mata. Tawa Gyan makin kencang. Dia kemudian mulai menjalankan mobil. “Ini jadi, kan, nontonnya?” “Kalau kamu berubah pikiran dan mau istirahat––“ “Stop di sana, ayo kita nonton. Aku udah lama banget nggak nonton midnight tau, Ni.” “Besok kamu kerja kayak zombie. Kenapa sih nggak ambil weekend aja?” “Justru itu momennya. Kangen sama momen jadi zombie karena nonton sama pacar.” “Gyan, please?” Aku yang sekarang tertawa kencang. “Tadi harus banget yaa nyebut ‘pacarku’ di depan orang asing?” Gyan melirikku, lalu tertawa. “Harus dong! Aku bilang dia nggak genit bukan berarti bebas asumsi atau nanti bayangin kebaikanmu dan jadi berharap ketemu lagi.” “Seriously?” tanyaku sambil menahan tawa geli. Kepalanya mengangguk. “Aku bukan orang yang gampang marah-marah atau cemburu, Ni. Kalau kamu emang penasaran banget liat aku marah, kamu masih keliru hari ini, kayak gini bukan momennya.” Tawanya makin kencang ketika aku mendengus. “Tapi aku juga nggak akan biarin orang lain bayangin kamu cuma karena mereka nggak tahu statusmu.” “What does It mean?” “Aku suka mereka semua tau how amazing you are, aku malah mau dunia tahu itu, tapi aku juga mau dunia tahu kamu udah nggak bisa diinginkan apalagi dimiliki.” Ia mengembuskan napas Panjang. “Jadi sebelum tukar tiket dan nonton, ayo kita cari dulu sesuatu biar semua orang yang nantinya ketemu kamu, tahu kalau kamu udah melibatkan diri dalam hubungan.” Aku melongo. Gyan tertawa. “Kenapaaa?” “Nggak suka marah tapi langsung nandain?” Dia mengedikkan bahu. “Jadi … kamu keberatan kalau pakai cincin yang nantinya orang lain akan tahu kamu udah nggak bisa dideketin lagi?” Aku tertawa geli. “Jadi alasan tukar cincinnya harus kayak gini, ya?” “Konyol tapi anggap aja ini justru pacuan yang bagus. Kamu suka tipe yang gimana sih, Ra?” “Yang harganya minimal 3 milyar, Gy. Gimana tuh?” “Damn, kayaknya aku harus rampok Papa dulu deh. Mau nemenin nggak? “Wah boleh banget, Gy. Ayo memperkaya diri bersama!”Gyan terbahak-bahak. Aku tidak tahu, ini kabar baik atau gimana. Dia masih tetap jenaka dan bahagia, tetapi bergerak cepat untuk antisipasi entah apa maksudnya.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 16

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“GYAAAN!!! Gy! Look what I got!” sambil berteriak heboh dengan senyum lebar dari telinga kiri ke kanan, aku berlari sekuat tenaga menuruni tangga, terus keluar rumah hingga berdiri di teras dengan napas terengah-engah. Baik Ibu dan Gyan yang sedang memegang alat kebun dan berdiri di tengah-tengah taman kecil Ibu, keduanya menoleh dan menatapku dengan kebingungan. Aku melambaikan tangan memanggil Gyan untuk mendekat sementara aku pun melangkahkan kaki. “Liat ini. Kamu harus lihat ini.” “Apa sih, Niiii.” “Aduh, Ibuuu, nanti duluuu. Aku mau nunjukin ini ke Gyan.” “Apa emangnya?” “Jangan kepo deh.” “Jangan kepo deh tapi kamu aja hebohnya selangit kayak gitu, kalau nggak mau orang lain kepo yang jangan heboh di depan orang lain.” Mendengar omelannya, aku dan Gyan tertawa. “Bikin orang panik aja.” “Nanti Nini kasih tauuu.” Aku menyodorkan handphone ke Gyan, tersenyum lebar menunggu reaksinya setelah membaca apa yang aku tunjukan. Matanya melebar, dia menatapku seolah tak percaya in a happy way, tentu saja. “I know right?” Aku menarik handphone-ku kembali. “Dinda nggak marah dan kayaknya emang nggak pernah marah sama kita, Yan. Dia emang tulis dan mau kita bersatu. Dia ngeblok bukan karena marah tapi mau semuanya baik-baik aja, dan sekarang, mungkin dia udah sembuh dan udah bisa damai, dia buka blokiran di IG dan komen kayak gitu. Aku tahu dia sebaik itu.” Gyan menganggukkan kepala berkali-kali. Kemudian tiba-tiba memelukku dan seketika melepasnya lagi mendengar teriakan Ibu. Ibu mengacungkan gunting tumbuhan, “Udah lamaran bukan berarti bebas tebar kemesraan di depan umum, ya? Yang udah nikah aja tetep harus tahu malu kok.” “Maaf, Bu.” Gyan mengatupkan tangan di dada, aku hanya tertawa geli. Dia kembali menatapku dan tersenyum. “Akhirnya napasku kayak lolos banget, nggak bahagia di atas rasa sakit orang lain. Jujur, aku takut banget, Ra, takut dia sedendam itu dan doain aku dan kamu yang buruk, takut doa orang sebaik dia yang tersakiti dikabulin sama Allah dan kamu jadi menderita hidup sama ak—” “Hei!” Aku tertawa pelan, mengelus lengannya. “Dinda nggak mungkin doain yang jelek, dia udah bilang di chat itu, kan? Kalaupun iya, itu karena dia sakit hati banget, tugas kita adalah minta ampun sama Allah biar diampuni, Tapi intinya sekarang, komen dia ini nunjukin dia bahagia kok sama step yang kita ambil ini, Gy.” “Iyaaa. Terharu deh.” “Semoga, dia juga bisa mendapatkan kehidupan yang baik, lebih baik, dan bahagia.” “Aamiin!” Bukan hanya Gyan yang menjawab, tetapi Ibu pun sama malah lebih kencang, lalu menambahkan. “Nanti dulu deh itu, Ni, tolong Gyan bantu Ibu dulu angkat pot yang ini dipindah ke situ.” Ya Tuhan, sepertinya memang Gyan tidak sepenuhnya milikku. Bukan berbagi dengan masa lalunya seperti Mega misalnya, aku malah membagi waktu dan perhatian Gyan dengan ibuku sendiri. Bahkan ini belum resmi menjadi menantu di sini, kami baru menyelenggarakan tunangan. Tapi aku sudah bisa membayangkan betapa hangat dan kembali ramainya rumah ini. Tuhan benar-benar maha adil, Abang ikut Kak Mel, dan Gyan bersedia untuk tinggal di sini … ya, keputusan kami belum mutlak karena beberapa hal, semuanya masih bisa direvisi suatu saat nanti. Untuk saat ini, aku dan Gyan akan bergantian, nanti menginap di rumahku, nanti juga di rumah Gyan dan Tante Anita. Meskipun dengan begitu artinya aku setuju ketika Gyan berada di rumah, artinya waktu dia akan lebih banyak untuk menolong Ibu; banyak hal. Bahkan aku merasa, hormatnya dan sayangnya Gyan terhadap Ibu sudah sama dengan mamanya. Dia terlihat benar-benar menyayangi perempuan, dengan caranya dan porsinya. Sesuatu yang harus aku syukuri atas semua masalah yang dia alami akibat kelakuan papanya di masa lalu. “Kamu malu nggak, Gy, kalau temen-temenmu yang gagah dan ganteng liat kamu di rumah gimana? Bantuin Ibu di dapur, diajak di taman melulu, bahkan bikin kue sama Nini, bersih-bersih rumah.” Sekarang aku sedang menyimak obrolan mereka di tengah aktivitas kami yang sedang menyiapkan makan siang. Gyan hari ini libur karena memang weekend. Dia datang pagi-pagi karena mau membantu Ibu dengan tanamannya. Sementara nanti jam makan siang, dia akan pulang untuk menjemput Tante Anita, makan siang di sini. “Malu kenapa, Bu?” “Ya digodain, kan banyak tuh laki-laki yang suka godain laki-laki lain kalau ngelakuin hal-hal manusiawi kayak gini. Makanya banyak laki-laki yang malu, akhirnya jadi nggak mau nyentuh pekerjaan ini, jadi kotak-kotakin pekerjaan.” Gyan tertawa. “Kalau cuma soal digodain, Gyan udah nggak pernah masalah, Bu, udah kenyang. Dari dulu udah sering, mau level mana pun pernah. Dari hal-hal pekerjaan rumah kayak gini, tentang orang tua, punya papa yang sinting, mantan diambil papa, banyak.” Tawanya makin lepas. “Jadi, nggak masalah, belum ada sih yang bikin malu lagi sekarang.” “Itu kenapa Ibu selalu bangga dan sayang sama kamu.” Aku meringis. Mereka terlihat benar-benar saling jatuh cinta tapi dengan jenis cinta yang berbeda dari cintaku bersama Gyan. “Guys!” sapaku karena merasa dianaktirikan. “Ini bisa nggak ya acara podcastnya agak ditunda dan cepetan beresin masak? Aku capek nih, kepengen cepetan mandi.” Ibu berdecak. “Mending kamu sekarang mandi, gantian. Nanti, kan, kamu temenin Gyan jemput Tante Anita.” “Lho ngapain, Bu?” “Kok ngapain? Ya jemput, Ni.” Aku mendesah kesal. “Ya maksudnya ngapainnn? Kan, Gyan bisa, aku bantu Ibu siapin di sini.” “Udah siap juga nanti. Kasihan lah Gyan nyetir sendirian, kalau ada temennya, kan, nggak ngantuk. Sambil nanti kamu mampir beli bolu kukus, yaaa.” Aku melirik Gyan yang sedang mengangkat kedua tangan, seolah dia memang tak tahu apa-apa tetapi begitu dibela. Nasibku benar-benar seperti anak tiri yang tidak disayang. Kalau anak tirinya seperti Alex di mata Tante Anita sih bagus, ya. Disayang, diperlakukan sama, padahal kalau aku jadi Tante Anita pun belum tentu bisa selapang dada dan sebijak itu. Salut dengan calon mertuaku. Karena memang tidak bisa membantah Ibu dengan alasan logis, sekarang aku sudah duduk di kursi penumpang dengan Gyan yang menyetir. Kondisiku sudah segar dan wangi, sementara Gyan tentu belum, dia mau mandi di rumahnya. “Bismillah semoga nggak ada apa-apa karena yang nemenin kelihatan nggak ikhlas.” Aku tak mampu menahan tawa mendengar kalimat pelannya itu, saat aku lirik, Gyan juga sedang tertawa sambil memasang sabuk pengaman. “Kamu ngerasa enggak sih, Ibu tuh sayang kamu banget?” “Bukannya itu kabar baik?” “Ya emang, tapi buat beberapa kondisi bikin aku sulit. Kayak sekarang.” “Sesulit apa sih, Sayang, duduk di sebelahku, nemenin aku jemput calon mertuamu? Hm?” Aku memutar bola mata, menahan senyum geli. Gyan tertawa lepas. “Kayaknya nanti kalau kita udah nikah, Gy, kamu bakalan sering disandera Ibu deh. Aku curiga dia bakalan culik kamu buat ikut ke gengnya, sibuk mau mamerin menanti kesayangan yang banyak skill.” “Foto dan video-in mereka maksudmu?” Aku mengangguk. Gyan meringis, lalu mobil mulai berjalan setelah dia menyalakan musik dengan volume pelan. “Kok ngeri, yaa,” katanya sambil tertawa. “Tapi kelihatan seru juga. Ngobrol sama ibu-ibu tuh kadang seru tahu.” “Dengan catatan kamu udah nikah, ganteng, ramah, nurut, dan sejuta kebaikan lain.” Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Kalau enggak, ya tamat.” “Emang kamu pernah jadi korban?” Gyan tertawa geli. “Pernah, yaa nggak korban banget sih, tapi Ibu tuh suka jujur banget kadang sama temen-temennya. Bilang aku belum move on lah, nggak mau pacaran dan nikah lah, nggak mau coba buka hati ke kamu lah. Jadinya aku kenyang sama nasehat temen-temen ibu.” “Bagus dong dinasehatin.” Aku meliriknya tajam. Gyan terbahak-bahak. “Iyaa, iyaaa, maaf. Nggak enak emang kalau dikeroyok kayak gitu. Tadi Ibu nitip apa, Ni?” “Bolu kukus, beli sekarang aja, nggak enak sama Mamamu kalau nanti dia lihat.” “Kenapa?” “Nanti dibayarin lagi.” Aku tertawa. “Keluarga tunangan aku, kan, seneng banget biayain hidup orang.” “Damn, untung ada kata ‘tunangan aku’ di sana, kalau enggak, aku bakal tersinggung banget.” Kami sama-sama tertawa lebar. “Lo tuh nggak pernah marah ya, Gy?” “Mau coba?” “How?” Dia menoleh dan melotot. “How apaaa? Jangan sinting kamu.” Aku tergelak. “Ya katanya mau coba, aku penasaran banget kamu marah selain soal papamu. Marah sama aku misal, gimana marahmu. Orang bilang tuh sebelum nikah, pastiin udah liat dia dalam kondisi marah, separah apa. Kamu aku tungguin marah, nggak marah-marah deh kayaknya.” Aku makin tertawa melihat mulutnya terbuka lebar seolah tidak mampu berbicara. “Serius, Gy.” “Nggak habis pikir gue, nggak tahu siapa yang sebenernya yang mau gue nikahi ini. Are you really human, Dhara? Kayaknya alien deh.” Aku memukul lengannya kencang. “Orang tuh males liat orang lain marah, ini malah pengen.” “Yaa soalnya jaga-jaga, kala parah banget marahmu dan aku nggak bisa handle, aku nggak mau nikah sih.” “What?” Gyan terbahak-bahak sambil memukul setir. “Speechless. Dari semua kesempurnaanmu, emang tetep ada keanehan. Tapi nggak pa-pa deh, tetep sayang. Kalau emang penasaran banget mau liat aku marah, coba bikin aku cemburu.” Dia mengedipkan mata genit! Ya Tuhan! “Tapi aku tahu, Aghnia Dhara nggak akan level ngelakuin hal kayak gitu.” “Oya?” “Apa maksudnya ‘oya’?” Aku tersenyum licik. Padahal tidak tahu juga apa tujuanku.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 15

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Dulu, setiap melihat ada anak kecil, entah asyik bermain sendirian, bersama orang tuanya, atau bersama teman-temannya, aku biasanya hanya fokus tersenyum. Ikut berbahagia menyaksikan itu dan berdoa semoga bahagianya bertahan lama. Sama sekali tidak pernah tiba-tiba pikiran random muncul di kepala. Atau apa pikiran random itu? Membayangkan anak kecil sedang menari dan tertawa, memegang tangan seorang lelaki yang merupakan ayahnya, dan itu Gyan. Aku tahu kepalaku sudah kacau. Entah karena terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Gyan atau sudah terpengaruh sebanyak ini, tapi yang jelas, aku merasa semakin hari, perasaanku padanya bertambah kuat. Waktu yang aku habiskan dengannya tak pernah terasa berat atau lambat, aku menikmati semua obrolannya, aku mengagumi kesabarannya menungguku siap, menyukai usahanya mencari celah untuk mengajakku hidup bersama. Ketulusannya untuk ingin hidup bersamaku bukan sebagai pasangan menghasilkan anak, tetapi benar-benar ingin menikmati sisa hidup berdua. Gyan bilang, ada dan tanpa anak, dia tetap ingin bersamaku. I know, dia memang begitu manis. Laki-laki jenaka yang katanya malu dan geli untuk dicintai, nyatanya sekarang selalu bahagia dan mengucapkan terima kasih setiap kata-kata atau tindakanku—yang bahkan aku sendiri tidak menyadarinya—membuatnya merasa sangat dicintai. Padahal, aku merasa yang aku lakukan adalah hal wajar sebagai manusia; menanyakan kabarnya, harinya, perasaannya, mengelus rambutnya, memeluknya, memberinya hiburan terbaru, informasi terkini, hal-hal standar lain. Tapi, ternyata aku terlalu tutup mata, hal yang kita anggap biasa bisa jadi sebuah keajaiban untuk orang lain. Terutama Gyan dengan background seperti itu, yang aku sendiri mungkin tidak akan sanggup menjalaninya. Aku tidak akan sanggup menjadi dia. Itu kenapa, setiap melihat Gyan dan Tante Anita, rasa kagumku melimpah. Dua manusia hebat dan kuat. Yang keduanya sekarang sedang duduk di depanku, dibatasi meja. Sementara aku di sebelah Ibu. Kami sedang makan siang di luar berempat, entah tujuannya untuk apa selain mempererat hubungan dan … apalagi selain ditanya kapan menentukan tanggal, minimal pertunangan. Aku sudah menduga itu, tetapi masih dengan tenang menjalani ide ini, karena mungkin, mungkin saja, aku sebenarnya sudah siap dan ingin. Tapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikan pada Gyan, karena dia tidak pernah menyinggung soal itu lagi. Ya Tuhan, hidupku sepertinya habis hanya untuk berpikir hal-hal yang seharusnya mudah, tetapi jadi rumit dikarenakan ulahku sendiri. Aku masih memandangi mereka bertiga yang sedang fokus dengan suapan dan piring di makanannya. Tentu saja kami juga sempat ngobrol, ini hanya sedikit momen hening untuk menikmati rasa dari makanan yang dipesan. Karena tidak mau dijeda oleh obrolan lain dan nantinya nyaliku kembali ciut, aku memanggil mereka bertiga pelan. Ketiganya serentak menatapku. Kenapa rasanya seperti akan mengakui kesalahan besar, ya? Apa ini yang dirasakan Abang dan Kak Mel waktu itu? Masalahnya, aku tidak sedang hamil. Gimana mau hamil, buatnya pun belum. Oh my goodness! “Ini masih seandainya sih, tapi kalau misalnya Nini dan Gyan nikah di tahun ini, atau maksimal awal taun depan, boleh nggak kalau Nini request pernikahan private?” Aku tertawa pelan melihat ekspresi mereka bertiga yang sama-sama melongo. “Apa sih namanya, kalau nggak perlu resepsi undang semua orang yang dikenal, bahkan cuma tau nama doang. Kayak … cuma temen deketku, temen deket Gyan, keluarga inti. Boleh?” “Nini …” Suara Gyan dengan tatapan masih belum sepenuhnya menyatu dengan sausana, tetapi aku keburu memberinya kode lewat mata untuk diam dulu. Dia mengangguk. Sekarang Ibu yang bertanya, “Ini kamu … maksudnya gimana? Sekarang? Di restoran, Ni? Kok tiba-tiba banget? Kamu dan Gyan nggak—” “Ibuuuu.” Aku merengut karena paham meski kalimatnya belum selesai. Mungkin saking traumanya dia dengan rasa kecewa terhadap Abang dan dirinya sendiri, Ibu sudah takut duluan aku dan Gyan mengulang hal yang sama. “Aku nggak hamil,” lirihku sedikit kesal. “Ngapa-ngapain aja enggak, jangan aneh-aneh deh.” Dia mengembuskan napas lega. “Kirain. Ibu udah panik banget. Masih nggak siap tiap denger pengakuan dadakan gini.” Ibu menoleh pada Tante Anita dan meringis. “Gimana, Ta? Kalau aku sih jujur nggak masalah sama resepsi atau KUA atau apa terserah mereka. Yang terpenting adalah kehidupan setelahnya. Aku beneran mau Nini bahagia, Gyan juga bisa bahagia memilih Nini.” Tante Anita mengangguk, lalu menatapku sambil tersenyum. “Ini maksudnya bukan resepsi heboh, kan? Tapi tetep ada resepsi untuk orang-orang terdekat?” Aku mengangguk. “Aku tetep mau bikin dekor dan printilannya, Tante. Cuma mungkin nggak banyak. Nanti sewa tempatnya yang kecil, outdoor gitu. Bener-bener yang dateng orang yang kita kenal dan sayang.” “Boleeeh, Tante mau aja. Nanti kalau butuh apa-apa, minta bantuan kita ya, Ni, yaa? Jangan dipaksa sendirian. Kalau Gyan mungkin agak susah sama hal-hal kayak gitu. Eh atau kamu punya dream wedding juga, Gy, ternyata?” “Hah?” Gyan menggelengkan kepala. Aku tertawa saat dia menoleh ke arahku, lalu kembali menatap Mamanya. “Enggak, Ma. Nanti kalaupun ada, aku diskusi sama Nini.” “Good, inget jangan berantem. Cobaannya pasti banyak, tapi harus inget tujuan awal, okay?” Aku mengangguk. Tante Anita mencondongkan kepala dan tersenyum geli. “Cincin kamu mana, Ni, coba lihat pilihan Gyan?” Lalu Ibu tentu saja ikut-ikutan. “Iya, mana lihat.” Ya Tuhan! Aku tidak memikirkan sampai hal ini! Barulah sekarang aku merasa perlu bantuan Gyan di saat sejak awal aku perang sendiri bahkan tak memberinya informasi apa pun. Gyan terlihat gusar, tetapi dia tetap tertawa. Anehnya, dia juga tidak mengatakan apa-apa dan melirikku, mungkin menungguku yang mengklarifikasi semua ini, karena toh aku juga yang memulai. Well, I’ll do it. Aku meringis sambil menggaruk kepala. “Maaf, Bu, Tante, sebenernya ini tadi pikiran Nini sendiri, Gyan nggak tau apa-apa.” Mereka berdua melongo, aku melanjutkan sampai jelas. “Setiap Gyan singgung soal pernikahan, aku selalu ngerasa belum siap, Gyan paham makanya udah nggak pernah bahas itu lagi. Tapi, aku ngerasa akhir-akhir ini kayak … aku mau dan mungkin sebenernya udah siap. Aku nggak tahu sih kita bisa bilang siap tuh kalau gimana, yaa? Cuma tadi … aku penasaran pendapat Ibu sama Tante supaya aku bisa lega kalaupun nanti aku yang lamar Gyan.” Semua tertawa. Gyan menunjukku dengan telunjuk. “Don’t you dare. Itu aku yang akan lakuin. Jangan sampai kamu curi start.” Aku tertawa lebar. Jiwa-jiwa provider-nya masih sisa banyak dan aku yakin dia akan merasa terluka sekali ketika aku mewujudkan apa yang aku katakan tadi. Dia hanya tidak tahu, aku mungkin berani mengatakannya, tetap untuk melakukan dalam aksi, aku nol besar. Kalau dipikir-pikir, laki-laki itu hebat, kreatif, dan pemberani. Aku mungkin tidak pemalu, tapi aku jelas mati gaya kalau harus berlutut dan menyodorkan cincin sambil mengucapkan kata-kata manis untuk meminta pasangan hidup bersama denganku. Saking panik dan stres bahkan hanya membayangkan, tentu saja aku akan memberikan tugas itu pada Gyan. Oh Nini, kamu menjadi orang dengan standar ganda sekarang! Perlukah aku bangga dengan sikap baruku ini? Kejadian selanjutkan yang sudah bisa aku tebak adalah komplain Gyan tentang tindakan gegabahku tadi, seorang diri, di hadapan Ibu dan mamanya. “Seenggaknya kamu bisa kasih tau aku duluan, Ra, supaya aku nggak kayak orang tolol yang nggak ngerti harus belain pacarnya gimana di hadapan ortu kita. Ini nggak cuma soal ini aja, aku yakin ke depannya kamu mungkin akan ngerasa ini wajar. Oh aku tau banget kamu bisa, sangat bisa dan mampu menghadapi apa pun, tapi aku nggak mau kalau sampai skenario terburuk, kamu hadapin mamaku atau ibumu sendirian.” Aku tidak marah sama sekali atau tersinggung, aku justru tersenyum bangga dan penuh haru menatapnya. Sepertinya aku belum pernah mendengar Gyan mengomeliku seperti ini dan ternyata diomeli oleh lelaki yang kita mau itu justru membuat merasa dicintai. Seperti dia sungguh mencintaiku dan peduli terhadapku. “Dhara? Serioulsy?” Aku tertawa. Lalu melepas sabuk pengaman untuk mengecup pipinya. “Jangan marah-marah, cepet tua, kamu belum dipanggil papa apalagi kakek.” Mulutnya rapat, aku tahu dia kesal sungguhan. “Aku minta maaf, tapi tadi aku nggak jebak atau cuma godain kamu, Gyan. Aku serius.” “Serius bagian mana?” “Mau nikah sama kamu.” “Kapan?” “Kayak yang tadi aku bilang. Tahun ini juga boleh.” “Sedadakan ini?” “Jadi maksudnya nggak mau?” “Nini, please?” Gyan tertawa. “Kamu nggak bisa posisiin aku kayak orang hopeless kayak gini. Aku tau kamu nggak mau resepsi kayak anak pejabat, tapi bukan berarti tiba-tiba detik ini kita cari penghulu atau ikut nikah masal, kan? Tetap ada banyak yang diurus, for God’s sake, bahkan cincin aja aku belum beli!” Gyan melotot, tapi sama sekali tidak terlihat menakutkan. “Aku mau yang terbaik buat kamu, buat kita. Aku nggak mau asal pilih cincin, aku mau mikir ribuan kali dan mempertimbangkan dari sekian banyak yang bagus, dan milih yang terbaik, terindah, dan cocok buat kamu.” Aku memutar bola mata. “Artinya yaaa … cost a huge amount of money.” “Oh kamu pikir aku nggak mampu, Dhara?” Aku membelalakkan mata sambil tersenyum geli campur aduk dengan syok. Menyentuh dada, aku menjawab, “Ya Allah, aku lupa, kalau pasanganku punya papa yang kaya raya dan dikasih uang banyak buat bekel hidup.” Gantian dia yang sekarang memutar bola mata. Aku meraih tangannya untuk aku genggam. “Listen, aku beneran nggak butuh berlian sebesar dunia atau semua keindahan yang harus ngeluarin uang sebanyak itu, Gy. Kalau soal suka, aku pasti akan suka, tapi kita tau nggak semua hidup ini tentang itu, kan? Aku tetep akan nerima dan paham cinta dan sayangmu sebesar apa, nggak harus diinterpretasiin sama berlian. Bahkan kalau sekarang kita mampir mal dan beli apa yang ada di sana, itu tetap akan jadi cincin yang indah. Atau tanpa cincin pun hubungan kita tetep ada.” “Tapi aku nggak berdosa, kan, kalau aku mau kasih yang terbaik buat kamu sementara aku memang mampu?” Bahuku merosot. Aku mengangkat tangan. “Silakan, Mas Gyan. Pilih yang terbaik dan aku akan pakai dengan cantik dan anggun.” Dia tersenyum lebar, lalu mencuri kecupan. “I love you.” “I know.” Dia mengangguk-anggukkan kepala. “Aku baru tahu ada kalimat lain buat ngungkapin ‘I love you too’.” Tawaku lepas.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 14

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Dulu, setiap melihat ada anak kecil, entah asyik bermain sendirian, bersama orang tuanya, atau bersama teman-temannya, aku biasanya hanya fokus tersenyum. Ikut berbahagia menyaksikan itu dan berdoa semoga bahagianya bertahan lama. Sama sekali tidak pernah tiba-tiba pikiran random muncul di kepala. Atau apa pikiran random itu? Membayangkan anak kecil sedang menari dan tertawa, memegang tangan seorang lelaki yang merupakan ayahnya, dan itu Gyan. Aku tahu kepalaku sudah kacau. Entah karena terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Gyan atau sudah terpengaruh sebanyak ini, tapi yang jelas, aku merasa semakin hari, perasaanku padanya bertambah kuat. Waktu yang aku habiskan dengannya tak pernah terasa berat atau lambat, aku menikmati semua obrolannya, aku mengagumi kesabarannya menungguku siap, menyukai usahanya mencari celah untuk mengajakku hidup bersama. Ketulusannya untuk ingin hidup bersamaku bukan sebagai pasangan menghasilkan anak, tetapi benar-benar ingin menikmati sisa hidup berdua. Gyan bilang, ada dan tanpa anak, dia tetap ingin bersamaku. I know, dia memang begitu manis. Laki-laki jenaka yang katanya malu dan geli untuk dicintai, nyatanya sekarang selalu bahagia dan mengucapkan terima kasih setiap kata-kata atau tindakanku—yang bahkan aku sendiri tidak menyadarinya—membuatnya merasa sangat dicintai. Padahal, aku merasa yang aku lakukan adalah hal wajar sebagai manusia; menanyakan kabarnya, harinya, perasaannya, mengelus rambutnya, memeluknya, memberinya hiburan terbaru, informasi terkini, hal-hal standar lain. Tapi, ternyata aku terlalu tutup mata, hal yang kita anggap biasa bisa jadi sebuah keajaiban untuk orang lain. Terutama Gyan dengan background seperti itu, yang aku sendiri mungkin tidak akan sanggup menjalaninya. Aku tidak akan sanggup menjadi dia. Itu kenapa, setiap melihat Gyan dan Tante Anita, rasa kagumku melimpah. Dua manusia hebat dan kuat. Yang keduanya sekarang sedang duduk di depanku, dibatasi meja. Sementara aku di sebelah Ibu. Kami sedang makan siang di luar berempat, entah tujuannya untuk apa selain mempererat hubungan dan … apalagi selain ditanya kapan menentukan tanggal, minimal pertunangan. Aku sudah menduga itu, tetapi masih dengan tenang menjalani ide ini, karena mungkin, mungkin saja, aku sebenarnya sudah siap dan ingin. Tapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikan pada Gyan, karena dia tidak pernah menyinggung soal itu lagi. Ya Tuhan, hidupku sepertinya habis hanya untuk berpikir hal-hal yang seharusnya mudah, tetapi jadi rumit dikarenakan ulahku sendiri. Aku masih memandangi mereka bertiga yang sedang fokus dengan suapan dan piring di makanannya. Tentu saja kami juga sempat ngobrol, ini hanya sedikit momen hening untuk menikmati rasa dari makanan yang dipesan. Karena tidak mau dijeda oleh obrolan lain dan nantinya nyaliku kembali ciut, aku memanggil mereka bertiga pelan. Ketiganya serentak menatapku. Kenapa rasanya seperti akan mengakui kesalahan besar, ya? Apa ini yang dirasakan Abang dan Kak Mel waktu itu? Masalahnya, aku tidak sedang hamil. Gimana mau hamil, buatnya pun belum. Oh my goodness! “Ini masih seandainya sih, tapi kalau misalnya Nini dan Gyan nikah di tahun ini, atau maksimal awal taun depan, boleh nggak kalau Nini request pernikahan private?” Aku tertawa pelan melihat ekspresi mereka bertiga yang sama-sama melongo. “Apa sih namanya, kalau nggak perlu resepsi undang semua orang yang dikenal, bahkan cuma tau nama doang. Kayak … cuma temen deketku, temen deket Gyan, keluarga inti. Boleh?” “Nini …” Suara Gyan dengan tatapan masih belum sepenuhnya menyatu dengan sausana, tetapi aku keburu memberinya kode lewat mata untuk diam dulu. Dia mengangguk. Sekarang Ibu yang bertanya, “Ini kamu … maksudnya gimana? Sekarang? Di restoran, Ni? Kok tiba-tiba banget? Kamu dan Gyan nggak—” “Ibuuuu.” Aku merengut karena paham meski kalimatnya belum selesai. Mungkin saking traumanya dia dengan rasa kecewa terhadap Abang dan dirinya sendiri, Ibu sudah takut duluan aku dan Gyan mengulang hal yang sama. “Aku nggak hamil,” lirihku sedikit kesal. “Ngapa-ngapain aja enggak, jangan aneh-aneh deh.” Dia mengembuskan napas lega. “Kirain. Ibu udah panik banget. Masih nggak siap tiap denger pengakuan dadakan gini.” Ibu menoleh pada Tante Anita dan meringis. “Gimana, Ta? Kalau aku sih jujur nggak masalah sama resepsi atau KUA atau apa terserah mereka. Yang terpenting adalah kehidupan setelahnya. Aku beneran mau Nini bahagia, Gyan juga bisa bahagia memilih Nini.” Tante Anita mengangguk, lalu menatapku sambil tersenyum. “Ini maksudnya bukan resepsi heboh, kan? Tapi tetep ada resepsi untuk orang-orang terdekat?” Aku mengangguk. “Aku tetep mau bikin dekor dan printilannya, Tante. Cuma mungkin nggak banyak. Nanti sewa tempatnya yang kecil, outdoor gitu. Bener-bener yang dateng orang yang kita kenal dan sayang.” “Boleeeh, Tante mau aja. Nanti kalau butuh apa-apa, minta bantuan kita ya, Ni, yaa? Jangan dipaksa sendirian. Kalau Gyan mungkin agak susah sama hal-hal kayak gitu. Eh atau kamu punya dream wedding juga, Gy, ternyata?” “Hah?” Gyan menggelengkan kepala. Aku tertawa saat dia menoleh ke arahku, lalu kembali menatap Mamanya. “Enggak, Ma. Nanti kalaupun ada, aku diskusi sama Nini.” “Good, inget jangan berantem. Cobaannya pasti banyak, tapi harus inget tujuan awal, okay?” Aku mengangguk. Tante Anita mencondongkan kepala dan tersenyum geli. “Cincin kamu mana, Ni, coba lihat pilihan Gyan?” Lalu Ibu tentu saja ikut-ikutan. “Iya, mana lihat.” Ya Tuhan! Aku tidak memikirkan sampai hal ini! Barulah sekarang aku merasa perlu bantuan Gyan di saat sejak awal aku perang sendiri bahkan tak memberinya informasi apa pun. Gyan terlihat gusar, tetapi dia tetap tertawa. Anehnya, dia juga tidak mengatakan apa-apa dan melirikku, mungkin menungguku yang mengklarifikasi semua ini, karena toh aku juga yang memulai. Well, I’ll do it. Aku meringis sambil menggaruk kepala. “Maaf, Bu, Tante, sebenernya ini tadi pikiran Nini sendiri, Gyan nggak tau apa-apa.” Mereka berdua melongo, aku melanjutkan sampai jelas. “Setiap Gyan singgung soal pernikahan, aku selalu ngerasa belum siap, Gyan paham makanya udah nggak pernah bahas itu lagi. Tapi, aku ngerasa akhir-akhir ini kayak … aku mau dan mungkin sebenernya udah siap. Aku nggak tahu sih kita bisa bilang siap tuh kalau gimana, yaa? Cuma tadi … aku penasaran pendapat Ibu sama Tante supaya aku bisa lega kalaupun nanti aku yang lamar Gyan.” Semua tertawa. Gyan menunjukku dengan telunjuk. “Don’t you dare. Itu aku yang akan lakuin. Jangan sampai kamu curi start.” Aku tertawa lebar. Jiwa-jiwa provider-nya masih sisa banyak dan aku yakin dia akan merasa terluka sekali ketika aku mewujudkan apa yang aku katakan tadi. Dia hanya tidak tahu, aku mungkin berani mengatakannya, tetap untuk melakukan dalam aksi, aku nol besar. Kalau dipikir-pikir, laki-laki itu hebat, kreatif, dan pemberani. Aku mungkin tidak pemalu, tapi aku jelas mati gaya kalau harus berlutut dan menyodorkan cincin sambil mengucapkan kata-kata manis untuk meminta pasangan hidup bersama denganku. Saking panik dan stres bahkan hanya membayangkan, tentu saja aku akan memberikan tugas itu pada Gyan. Oh Nini, kamu menjadi orang dengan standar ganda sekarang! Perlukah aku bangga dengan sikap baruku ini? Kejadian selanjutkan yang sudah bisa aku tebak adalah komplain Gyan tentang tindakan gegabahku tadi, seorang diri, di hadapan Ibu dan mamanya. “Seenggaknya kamu bisa kasih tau aku duluan, Ra, supaya aku nggak kayak orang tolol yang nggak ngerti harus belain pacarnya gimana di hadapan ortu kita. Ini nggak cuma soal ini aja, aku yakin ke depannya kamu mungkin akan ngerasa ini wajar. Oh aku tau banget kamu bisa, sangat bisa dan mampu menghadapi apa pun, tapi aku nggak mau kalau sampai skenario terburuk, kamu hadapin mamaku atau ibumu sendirian.” Aku tidak marah sama sekali atau tersinggung, aku justru tersenyum bangga dan penuh haru menatapnya. Sepertinya aku belum pernah mendengar Gyan mengomeliku seperti ini dan ternyata diomeli oleh lelaki yang kita mau itu justru membuat merasa dicintai. Seperti dia sungguh mencintaiku dan peduli terhadapku. “Dhara? Serioulsy?” Aku tertawa. Lalu melepas sabuk pengaman untuk mengecup pipinya. “Jangan marah-marah, cepet tua, kamu belum dipanggil papa apalagi kakek.” Mulutnya rapat, aku tahu dia kesal sungguhan. “Aku minta maaf, tapi tadi aku nggak jebak atau cuma godain kamu, Gyan. Aku serius.” “Serius bagian mana?” “Mau nikah sama kamu.” “Kapan?” “Kayak yang tadi aku bilang. Tahun ini juga boleh.” “Sedadakan ini?” “Jadi maksudnya nggak mau?” “Nini, please?” Gyan tertawa. “Kamu nggak bisa posisiin aku kayak orang hopeless kayak gini. Aku tau kamu nggak mau resepsi kayak anak pejabat, tapi bukan berarti tiba-tiba detik ini kita cari penghulu atau ikut nikah masal, kan? Tetap ada banyak yang diurus, for God’s sake, bahkan cincin aja aku belum beli!” Gyan melotot, tapi sama sekali tidak terlihat menakutkan. “Aku mau yang terbaik buat kamu, buat kita. Aku nggak mau asal pilih cincin, aku mau mikir ribuan kali dan mempertimbangkan dari sekian banyak yang bagus, dan milih yang terbaik, terindah, dan cocok buat kamu.” Aku memutar bola mata. “Artinya yaaa … cost a huge amount of money.” “Oh kamu pikir aku nggak mampu, Dhara?” Aku membelalakkan mata sambil tersenyum geli campur aduk dengan syok. Menyentuh dada, aku menjawab, “Ya Allah, aku lupa, kalau pasanganku punya papa yang kaya raya dan dikasih uang banyak buat bekel hidup.” Gantian dia yang sekarang memutar bola mata. Aku meraih tangannya untuk aku genggam. “Listen, aku beneran nggak butuh berlian sebesar dunia atau semua keindahan yang harus ngeluarin uang sebanyak itu, Gy. Kalau soal suka, aku pasti akan suka, tapi kita tau nggak semua hidup ini tentang itu, kan? Aku tetep akan nerima dan paham cinta dan sayangmu sebesar apa, nggak harus diinterpretasiin sama berlian. Bahkan kalau sekarang kita mampir mal dan beli apa yang ada di sana, itu tetap akan jadi cincin yang indah. Atau tanpa cincin pun hubungan kita tetep ada.” “Tapi aku nggak berdosa, kan, kalau aku mau kasih yang terbaik buat kamu sementara aku memang mampu?” Bahuku merosot. Aku mengangkat tangan. “Silakan, Mas Gyan. Pilih yang terbaik dan aku akan pakai dengan cantik dan anggun.” Dia tersenyum lebar, lalu mencuri kecupan. “I love you.” “I know.” Dia mengangguk-anggukkan kepala. “Aku baru tahu ada kalimat lain buat ngungkapin ‘I love you too’.” Tawaku lepas.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 1

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Karena pertemuan pertama kita waktu isinya adalah negosiasi dan kerja sama—well…” Gyan tertawa geli, bertepuk tangan sekali, membenarkan posisi duduknya. Manusia ini terlihat serius mengerjakan secret project-nya ini. “Yang berjalan dengan baik.” Ia mengangkat telunjuk. “Gue nggak bilang kita nggak melewati masalah sama sekali selama perjalanan itu, but it really works! We are here, Ni! Tapi memang perlu rombakan kecil-kecilan.” Aku dari tadi memangku dagu, menatapnya lekat sambil berusaha menahan tawa geli. “Firstly,” Gyan sekarang sudah bersedekap, aku tidak tahu seberapa lama lagi aku bisa menahan diri untuk tidak terbahak-bahak. Betapa kontolnya lelaki ini … in a good way, dan aku sudah menyadarinya dari dulu, sebenarnya. “Hubungan kita ini serius, kan? Gue emang nggak punya bukti konkret berupa rekaman percakapan kita waktu itu. Jadi kalau sekarang, lo tiba-tiba lupa ingatan dan nggak mengakui semua yang lo bilang waktu itu, gue bisa apa?” Ia mengangkat kedua tangan di udara. “Sooo, hubungan kita serius?” Aku mengangguk. “Okay, that’s enough. Yang kedua, I really don’t like this idea.” “What idea?” “Saling panggil pake gue-elo. Bestian kah kita ini, Manis?” Ya Tuhan, sekarang aku menyerah. Sudah tidak mampu lagi menahan diri untuk tetap diam. Aku cuma bisa berdoa, tawaku tidak sebegitunya sampai terdengar di rumah tetangga. Paling parah, aku dilaporkan ke satpam kompleks, lalu Pak RT, lalu diarak warga karena terlalu sering memasukkan Gyan ke rumah, di saat Ibu dan Abang tidak ada. Harusnya ide itu yang tak disukai Gyan, bukan malah persoalan panggilan kita satu sama lain. Well, tapi aku berusaha paham. Memahami bagaimana perasaannya, sudut pandangnya. Dia menantikan ini sudah lama. Jelas tidak mudah menjalin hubungan teman sementara kamu setiap hari menahan diri karena menyukainya. Jadi, saat waktunya tiba, perasaanmu terbalas, bukankah rasanya ingin memberitahu dunia? Kadang kala, sering bertanya-tanya; apakah ini nyata? “Itu gampang banget buat gue, Gy.” Aku tertawa pelan. “Aku bisa fleksibel seratus persen buat yang satu ini. I can call you ‘Gyan’, ‘kamu’, or ‘mine’.” “Shhhhhiiiiiiitttt!” Gyan memukul angin sambil tertawa kencang. Lalu dia memejamkan mata dengan cengiran lebar di wajahnya. Aku bisa melihat betapa bahagianya lelaki ini karena hal-hal simpel. Dulu aku kira dia adalah orang paling kaku hidupnya dengan semua doktrin tidak manusiawi dari papanya. “Jadi, kamu mau dipanggil apa, Gyan?” tanyaku selembut sutra, mengedipkan mata penuh rayuan. “Stop there!” Dia menutup mukanya, masih dengan tawa. “I can be flirting, tapi ternyata nggak siap kalau itu elo dengan kondisi yang sekarang. Sebelumnya enak aja ya saling lempar. Cinta emang bikin lemah.” Aku tertawa kencang. “Okay, kembali ke laptop, jangan pake gue-elo lagi walaupun cuma ngomong berdua.” “Okay.” “Mungkin awalnya kita akan awkward, tapi gue—aku yakin, kita pasti terbiasa.” “Sure. Selain sapaan gue-elo, kamu mau aku panggil kamu dengan sebutan apa, Gy? Gyan kayak biasa, atau punya panggilan impian yang ngerasa … disayang dan dihargai dalam satu waktu?” Gyan meringis. “I can’t.” “Apa?” “Situasi ini.” Gyan tertawa pelan. “Rasanya dadaku penuh banget sama perasaan bahagia, haru, you name it. Satu-satu bisa nggak? Jangan dateng gerudukan, gue takut mati.” Aku melongo, tapi sedetik kemudian tertawa geli. “Mau gue kasih beberapa rekomendasi?” Gyan meringis. “Tell me.” Belum aku membuka mulut untuk menjabarkan apa saja, dia sudah memejamkan mata lengkap dengan ekspresi tidak siap mendengar apa yang akan aku katakan. “How about ‘Papi’?” See? Dia teriak kemudian menutup kedua telinganya, menggeleng kuat. “Abang?” Gyan tergelak. “Abang Dewa?” “Oiya!” Aku menolak itu juga dengan tegas. Panggilan Abang sudah lekat untuk kakak kandung yang terkadang menyebalkan. Jadi, aku tidak mungkin memanggil Gyan demikian kalau tidak mau isinya adalah kecanggungan dan tawa geli. “Mas?” “Mas buat orang Jawa nggak sih?” “Betul! Oh kamu bukan orang Jawa, yaaa! Ngggg, I know!” teriakku antusias. “Lo pasti suka banget yang ini.” “Apa?” “Suami.” “Dhara!” Gyan melotot tajam, sementara aku tertawa sendirian. Ternyata lucu juga perjalanan mengubah hubungan kami ini. Dulu bisa saling lempar candaan, sekarang Gyan bawaannya canggung. Aku juga sebenarnya canggung, tapi canggungnya Gyan ternyata jauh lebih menonjol, jadi canggungku bisa tertutupi. Mungkin karena di matanya, aku memang ceria dan pandai menyembunyikan sesuatu? Aku mengangkat tangan, menyerah. “Untuk sementara, panggilan cukup pakai nama aja. Yang penting enggak pake lo-gue. Takut kelepasan nanti di depan bokap dan nyokap lo, mereka pingsan.” Kami tertawa pelan. “Sisanya, boleh deh kamu aja yang mikirin sampe fix, nanti kasih tau aku. Aku beneran bebas pake panggilan apa aja.” “Yakin?” Aku menatapnya sombong. “Jangan remehin gue, Gy.” “Berarti nggak keberatan dong kalau aku panggil ‘istri’?” “Edyaaaannn!” Aku tertawa kencang, refleks mendekatinya untuk memukul lengannya, sama kencangnya dengan tawaku. Aku tidak siap dengan tembakan balik yang dia lakukan ini. Meski kami sering melakukannya, tapi seperti yang aku bilang tadi, situasi ini bikin kami berdua sama-sama canggung. Sudah mirip seperti pasangan hasil perjodohan semalam. “Nice shot, Gy.” Gyan masih dengan tawa gelinya. “Kamu mau ngapain setelah ini, Ra?” Aku terdiam, berpikir sebentar. Pertanyaannya ini sebetulnya bukan hal yang tidak terpikirkan. Aku sudah memikirkan ini sejak yakin keluargaku sudah baik-baik saja. Abang sudah bersama Kak Mel dan semoga bisa membawa hubungannya lebih baik. Ibu sudah terlihat menerima semuanya dengan baik, tidak pernah bertanya padaku kapan menikah dengan Gyan atau apa. Jadi, hal yang tersisa untuk aku pikirkan adalah … aku mau ngapain untuk melanjutkan hidupku? Jawabannya tentu harus bergerak untuk tetap hidup. Pertanyaannya, apa? Kalau bekerja kantoran, aku merasa belum siap dengan semua sisa tenaga yang aku punya. Tapi kalau diam begini terus-menerus, aku merasa lama-lama hidupku lemah, diriku menjadi lemah dengan rutinitas monoton. Well, aku tahu bekerja juga monoton karena melakukan pekerjaan yang sama, tapi setidaknya aku bertemu orang lain, di jalan aku melihat hal-hal yang mungkin baru. “Nggak harus kamu putusin sekarang, sih, Ra. Kalau memang masih mau nikmatin waktu sama Ibu, kamu boleh aja.” “Kamu nggak malu punya pacar yang nggak ngapa-ngapain, Gy? Kegiatanku harian akan sama, bangun tidur, sarapan, work out dikit kalau mau, rebahan, mandi, chat kamu, jajan, gitu lagi.” Gyan tertawa. “What?” “Itu nguntungin aku,” lirihnya. Jelas membuatku mengerutkan kening. “Karena nggak takut kamu aneh-aneh, udah tau jadwalmu ngapain aja. Orang ayak aku gini, kalau kamu tanya malu apa nggak kamu nggak kerja misal? Aku akan dengan senang hati dan bangga bilang kalau aku malah bahagiaaaaa banget nget nget. Aku akan jadi provider paling semangat dan ikhlas sedunia, Ni. Asal lo tahu.” Aku menatapnya horor, tetapi tetap kemudian tertawa geli. “Tapiiiiii, karena aku tau Aghnia Dhara mana mau dprovide semuanya sama cowok, makanya aku berusaha keras buat hargai keputusanmu. Kamu mau kerja, aku dukung, kamu mau lanjut kuliah, aku dukung, kamu mau coba bisnis … aku bantu. Atau mau bantu urun Maladewa juga boleh banget.” “Gini yaaa rasanya dicintai lebih banyak.” Aku menatapnya serius. “Gue mau minta maaf ya, Gy, mungkin kalau ditimbang, cintanya kamu lebih banyak dari aku. Tapi I’ll try my best supaya seimbang, nggak pa-pa dengan perbedaan isi.” “Tapi masih banyak yang lebih suka mencintai daripada dicintai, mungkin aku salah satunya.” Gyan tertawa. “Sebenernya sih maunya dua-duanya, yaaa. Tapi bisa mencintai kamu, bareng sama kamu, apalagi sekarang ternyata berbalas, aduh, I couldn’t wish for anything more.” Aku merentangkan tangan lebar-lebar, berharap dia mau langsung menyambut pelukannya. Dia memang melakukannya tanpa perlu menunggu. “Makasih udah sabar, ya, Gy? Sama perasaanku, sama masalah hidupku, sama masalahmu. Sekarang, ayo isi hari-hari kita lebih banyak bahagianya. Mungkin nggak akan mudah, tapi ayo jadi partner yang baik.” Aku merasakan Gyan mengangguk, mengeratkan pelukannya, dan mengelus naik-turun punggungku. Mungkin memang sudah waktunya, kesabaran Gyan mendapatkan hasil yang menyenangkan. Giliranku untuk berhenti memberi cobaan lagi di hidupnya, tetapi memberikan semua hasil panen, atau minimal yang memang pantas dia dapatkan. Aku mungkin tidak bisa menjadi pasangan yang sempurna, tetapi aku berjanji, dengan sabarnya Gyan dan cintanya yang besar, aku tidak akan lagi semena-mena, aku akan berusaha untuk membalasnya. Secara penuh. Lalu tiba-tiba, lamunan haruku musnah, digantikan dengan desahan lelah saat mendengar pertanyaan Gyan: “Lo kalau nikah mau pake adat apa, Ra?” “Seriously, Gy?” “What?” Dia nyengir, menarik diri dan menatapku, terlihat sama sekali tidak berdosa. “I’m just asking.” Aku memutar bola mata. “Lo ngebet banget nikah, ya?” “Emang lo nggak?” “Edaaan, enggak laaah!” Gyan tergelak. “Right, gue doang yang ngebet. Amaaan, udah biasa bertepuk sebelah tangan.” Aku memukul lengannya. “Mulaaaiiii.”

My Forever Favorite Person

Bab 40

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Saya terima nikah dan kawinnya …..” Mendengar kalimat tegas, yakin, dan dalam satu tarikan napas itu membuatku masih menahan napas, sampai akhirnya suara para aksi mengatakan pernikahan ini sah. Napasku seketika lolos lega dan aku tak mampu menahan tetesan air mata ke pipi. Aku tahu, ini bukan akhir dari kehidupan. Pernikahan bukanlah happy ending, tapi justru awal untuk membuka kehidupan baru, dengan peran baru. Tapi, aku yakin aku tetap perlu merayakan ini dan mendoakan semoga kehidupan baru yang Abang dan Kak Mel pilih ini, bisa mereka jalani dengan baik. Sebaik-baiknya kemampuan mereka. Dengan sukacita. Mampu menghadapi bagian buruknya. Aku benar-benar ingin Abang bisa bahagia. Bersama perempuan pilihannya. Aku menoleh saat merasa tanganku digenggam, Gyan sedang tersenyum menatapku, kemudian menganggukkan kepalanya. Aku membalas senyumannya tanpa jeda, lalu gantian balas menepuk-nepuk tangannya lembut. Laki-laki ini ternyata sungguh-sungguh membuktikan ucapannya; menemaniku menghadapi semua ini. Dia ada di awal masalah Abang datag, sampai hari ini Abang berhasil melakukan pernikahan sah. Gyan masih setia di sampingku. Yang membuatku sangat bahagia adalah … aku tahu kalau perasaannya pasti berbunga. Saat menemaniku dulu, dia hanya mendapatkan tangisku juga rasa kasihanku. Sekarang, dia menemaniku dalam keadaan aku yang penuh perasaan untuknya. Siapa yang akan menyangka? Setelah semua acara beres, kami kembali ke rumah. Beberapa orang yang tadi diminta untuk datang ke kantor KUA—termasuk keluarga—sekarang sedang menikmati hidangan yang sudah keluargaku persiapkan. Meski tidak ada pesta meriah, tetapi aku tetap bisa merasakan kebahagiaan pernikahan ini dengan hadirnya keluarga, juga orang terdekat Abang dan Kak Mel. Ibu sedang ngobrol di dalam bersama keluarga—keluarga Kak Mel dan keluargaku tentu saja, sementara Abang dengan sahabatnya, Kak Mel tadi aku lihat juga bersama dua sahabatnya. Aku … sedang bersama Gyan dan Emma. sahabatku itu juga membantuku mengurus ini-itu, kami membantu Ibu supaya tidak benar-benar sendirian. “Terus nanti Abang sama Kak Mel tinggal di sini, Ni?” Emma bertanya sambil mengunyah potongan kue. Aku mengangguk. “Eh enggak deh, sori, sori. Dia di sini cuma beberapa hari, nanti ke rumah Kak Mel.” “Oh tinggal di sana?” Aku mengangguk. “Keren juga Abang. Biasanya cowok mana mau tinggal di rumah keluarga ceweknya, gengsi, ego, entah apa lagi nyebutnya.” Gyan tertawa pelan. Emma refleks menoleh, memicingkan mata menatap lelaki itu. Aku tahu pasti alasan Gyan tertawa. Karena pembahasan tentang ego dan gengsi lelaki sudah terlalu banyak Gyan dengar dariku. Jadi, sekarang kalau dia mendengar tentang itu, dia pasti tertawa, katanya sih menertawakan dirinya sendiri. Geli. “Kenapa tuh ketawa, Bapak Gyan? Merasa jadi salah satunya, ya?” tanya Emma, memasang wajah serius. Gyan mengangguk-angguk. “Dulu.” Dia tertawa pelan. “Sekarang enggak, kalaupun nanti Dhara maunya tinggal di sini sama Ibu, gue nggak masalah. Tapi ya jangan diungkit-ungkit. Nggak ada orang yang suka diungkit apalagi dengan kata numpang whatever.” Emma bertepuk tangan. “Jadi kapa nih?” Ia menatapku dan Gyan bergantian. “Apanya sih?” Aku yang mengibaskan tangan, mulai malas dengan kalimat Emma jika ini diteruskan. “Kenapa nggak sekalian aja, Ni, hari ini? Ibu pasti happy banget tuh.” “Ha!” tawaku hambar. “Nikah nggak bisa disamain kayak sunat masal ya, Emm, please. Nggak semata-maya syaratnya cuma ada pasangan dan mas kawin. Tapi juga kesiapan yang harus matang. Gue belum ngerti apa-apa tentang pernikahan. Lagian, Gyan juga gue yakin pasti belum siap. Iya, kan, Gy?” “Siap sih kalau mau sekarang,” jawabnya tanpa merasa bersalah, sibuk memilih makanan di piring. Emma sudah terbahak, sementara bahuku merosot sambil menghembuskan napas lelah. Inilah sulitnya menjalin hubungan dengan orang yang tadinya kamu kira akan menjadi temanmu, teman dekatmu, teman bertengkarmu. Jadinya begini, penuh keisengan. “Tapi gue setuju banget gilaaaa sama sahabat gue.” Emma tersenyum lebar, melingkarkan tangannya di lenganku, lalu menyandarkan kepalanya. “Nikah tuh nggak ada simpel-simpelnya. OKE lo boleh bilang pernikahan ko sederhana atau apa pun, tapi pernikahannya, kehidupan pernikahannya, mana ada sederhana. Semuanya kompleks, butuh solusi serius, walau mungkin isinya kadang penuh candaan. Jadi, nikah nggak melulu soal nemu pasangan yang tepat. Orang suka lupa diri nggak sih? Ngerasa ketemu orang yang tepat tuh sama dengan nggak ada masalah. Ada masalah dikit, cerai ini mah, i deserve better, you deserve to be happy. Padahal, selagi masih ada napas, pasti ada masalah, kan? Sendirian aja ada masalah, tiba-tiba kepentok meja, tiba-tiba lupa hape di kafe, apalagi ada partner. Jadi, pasangan tepat itu menurut gue sih bukan yang bikin hidup nggak ada masalah, tapi yang selalu mau kompromi dan diskusi buat menghadapi dan menyelesaikan masalah.” “Edaaan, sahabat gue emang paling terbaik.” Aku memeluk Emma erat. “Gue setuju dan gue sayang banget sama lo, Emm. Tapi lo inget enggak dulu lo nyuruh kakak sepupu lo cerai waktu dia cerita suaminya cuek?” Emma meringis. “Justru itu, itu gue tolol banget sih asli. Gue menyesal, tobat seriusan, gue udah minta maap banget tuh sama mereka. Sejak itu, gue kalau ada orang curhat, gue dengerin aja serius deh, kecuali kalau dia minta pendapat, baru tapi ya gue paitin atau gue minta dia buat konsul ke profesional. Solusi masalah dalam pernikahan, kan, bukan melulu cerai, yaaa. Katanya, cerai malah harusnya dijadiin solusi paling akhir, kalau lo beneran udah mentok. Tapi ya nggak tahu juga sih batesan orang gimana.” Aku menganggukkan kepala. “Atau mungkin … pada akhirnya, nggak ada template untuk pernikahan, kali, ya. Jadi, kata I deserve to be happy, I deserve better tuh ya disesuaikan sama diri kita sendiri. Mungkin ada masalah orang yang mang nggak ada solusi lain selain cerai, tapi ternyata kita masih bisa diperbaiki. Itu kenapa perlu banget mengenal diri sendiri dan pasangan dengan baik.” Aku melirik Gyan bingung. “Kok lo diem-dime aja, Gy? Senyum-senyum lagi?” “Lagi takjub banget sama lingkungan kalian berdua, bagus banget didik kalian. Dan gue yakin, Tuhan pengen gue happy dan lebih baik lagi dengan nemuin kita.” Gyan tertawa pelan. “Kalian cewek-cewek hebat, jadi kalaupun dapetnya yang agak kurang, kayak gue gini …. Emm?” Gyan terkekeh sendiri, melirik Emma geli. “Nggak pa-pa, bagi-bagi ke kaum kami?” “Gemblung lo, ya!” Emma terbahak. “Lo nggak boleh insecure sama Nini, Gy, sini gue kasih bocoran sebagai orang dalem.” Setelah Emma mengatakan itu, Gyan dengan penuh drama buru-buru memasang telinga sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. “Mungkin dia agak ngeyel kalau dia nggak suka cowok yang a b c d, ya lo pasti udah kenyang lah denger dia gimana, kan?” Sambil terlihat menahan senyum, Gyan mengangguk yakin, lalu melirikku entah dengan tujuan apa. “Tapi lo harus tau, dia tuh … selama ini cuma karena nggak ada cowok yang bisa ngeluarin sisi feminin dia. Percaya sama gue.” Kalimat Emma barusan membuatku menyipitkan mata, menyangsikan apa yang dia ucapkan. Sementara Gyan mendengarkan dengan wajah serius. “Sejak bokapnya meninggal, mana ada tempat dia menye-menye lagi. Ke Ibu? Nggak mungkin, dia tau Ibu juga lagi berusaha berdiri kuat karena gandengannya ilang. Ke Abang? Elaah, dia memang lumayan deket ke Abangnya tapi bukan tipe yang berani ngerengek kalau PMS di depan Abang. Manja ke ayang? Ya lo tau sendiri, kan, Angkasa aja nggak tau masih idup atau beneran udah di angkasa. Jadiiiiii, waktu lo dateng bawa semuaaaa itu, nyerahin diri lo sebagai provider sejati, ya dia tantrum dikit lah pasti.” “Emm???” Emma mengibaskan tangan, seolah memintaku diam selama dia berpidato. Tatapannya hanya fokus pada Gyan, padahal tokoh pertama dalam script-nya itu adalah aku dan keluargaku. “Jadi, meski dia nolak-nolak lo sampe kayak orang gila, dia suka. Dia suka lo traktir makan, dia suka lo peluk, dia suka lo kasih tatapan sayang kayak tadi, dai suka lo ngomong ke dia lembut, dia suka lo anter-jemput, dia suka lo tetep ngeyel ada di deketnya padahal dia ngusir lo.” Lalu Emma menoleh, menatapku. “Gue udah bilang dari awal, lo akan terjebak, kan? Lo mungkin nggak tau karena udah lupa apa aja macam-macam gejala orang jatuh cinta, Ni. Nggak melulu harus berdebar-debar mau ketemuan, tapi gue yang liat aja tau lo mau Gyan, lo suka ada Gyan, dari cara lo nyeritain dia, nyebut nama dia.” Aku melongo. Benar-benar tidak siap mendengar semua kalimat tamparan ini. “Jadiiiiii, kalau kalian akhirnya sama-sama sadar dan mau memulai hubungan, gue doain semoga bisa saling kompromi. Soooo yeaaah, kapan nikah dan bikin anak yang banyaaakkk????” Gyan terbahak. Aku mendorong tubuh Emma. “Lo mau punya anak berapa, Ra?” Gyan menatapku masih dengan sisa tawa. “Gyan, please?” Aku mulai lelah dengan semua keisengan ini. “Serius, gue kayaknya belum pernah nanya.” Aku melirik Emma yang terlihat sedang menunggu jawabanku juga. Lalu aku terpaksa memberi mereka jawaban lewat jari. “Satu???” teriak mereka berbarengan. Gyan menggelengkan kepala. “Okay, kita harus dikusi masalah ini serius. Lo tau gue sendirian, kan, Ra? Lo nggak berusaha tanya pros and cons-nya ke gue dulu sebelum kita mutusin mau punya anak berapa?” “Okay guys! Gue kasih waktu kalian diskusi, gue mau mau caper dulu di depan orang-orang. Byeee!” Emma sudah pergi, tapi Gyan masih menatapku serius. Semua iseng dan tawa jenakanya hilang, obrolan kami sungguh berubah jadi rapat. “Dhara,” lirihnya. “Jadi anak tunggal bagian enaknya mungkin satu, nerima semuanya secara utuh, nggak terbagi. Oh sama, latihan menghadapi kesendirian, okay bisa diterima. Tapi sisanya?” Dia meringis. “Kamu bisa bayangin, nggak ada temen debat di rumah, nggak ada temen berantem rebutan mainan, nggak ada temen kongkalikong bohongin mama, nggak ada—” “Gue bahkan nggak tau gue bisa jadi ibu yang baik atau enggak, Gy.” Aku menunduk lesu. “Gue nggak tahu kalau gue nanti jadi ibu, terus pasangan gue meninggal duluan, gue bisa atau enggak ngurus diri gue sendiri dan anak. Gue …” Kami sama-sama terdiam. “Gue liat Ibu keliatan banget kesusahan, mungkin itu kenapa dia bikin kesalahan dengan syarat yang konyol buat Abang. Tapi pernah nggak sih kepikiran, Ibu tuh juga baru pertama jadi seorang ibu. Apa yaaaa.” Aku mengangkat pandangan, supaya bisa menahan air mata. “Mungkin dia juga berusaha banget, tapi jatohnya tetep trial error, dan karena kehidupan tuh live, nggak bisa diedit, jadi kalau eror dikit, ya jadi masalah. Tapi Ibu buat gue udah keren banget. Sementara gue … gue nggak tau gue bisa atau enggak.” Gyan berpindah duduknya menjadi di sebelahku, menarik tanganku untuk diletakkan di atas pahanya, dielusnya pelan. “Gue nggak bisa bilang kalau lo akan jadi Ibu yang baik buat nenangin lo, karena gue jelas nggak tau yang lo rasain dan lo tanggung di dalam diri lo nanti. Tapi yang gue tau, selama gue masih ada, Ra, gue akan berusaha jadi orang terbaik yang bisa lo gandeng. Gue bantu siapin bekel, jadi kalau-kalau gue pergi duluan, seenggaknya lo punya bekel yang cukup. Dan kalau lo tanya lo pasangan yang baik atau bukan, gue bisa jawab dengan yakin, you are. Tapi gue juga tau, jadi pasangan yang baik belum tentu bisa bikin kita jadi orang tua yang baik. Jadi, lo nggak perlu maksa diri buat punya anak. Gue nggak pa-pa.” Aku menoleh, menatapnya dalam-dalam. “Kalaupun nanti lo ngerasa yakin dan mulai berani, kita bisa edit rencana.” Senyumnya muncul, dia memelukku lembut. “Lo boleh ngeluarin sisi maskulin dan feminin di depan gue. Jangan takut atau malu, itu yang elo contohin ke gue juga. Gue tau lo bisa buka pintu mobil sendiri, gue tau semua anggota tubuh lo berfungsi dengan baik, tapi kalau memang lo suka gue bukain pintu mobil, nikmati. Kalau emang lo lagi ngambek atau bete meski nggak jelas, keluarin. Gue tau lo ceria, banyak bisanya, tapi gue juga mau dan seneng dengerin lo ngerengek atau bukain tutup botol.” Aku tertawa pelan. “Janji lebih terbuka lagi di depan gue, ya, Ra?” Belum sempat aku menjawab, dia sudah meralatnya sendiri. “Terbuka perasan dan emosi, bukan yang lain.” Tawanya ikutan muncul setelah aku. “Tapi kalau mau terbuka yang lain … baju misalnya, boleh juga, ayo ke KUA sekarang.” Aku memukul punggungnya pelan. Gyan tertawa. Betapa lucunya manusia, ya. Aku yang sempat kasihan dengan Gyan karena hidup dengan penuh kepura-puraan, tidak lepas, tidak bebas berekspresi. Tapi kenyataannya, aku seharusnya lebih banyak kasihan pada diriku sendiri. Karena ternyata, aku hanya melampiaskan rasa kasihan itu pada orang lain karena terlalu takut untuk memberikannya pada diriku. Aku benar-benar ingin manusia ini, lelaki ini, mendapatkan kebahagiaan yang banyak sekali dari dunia. Aku akan berusaha menjadi salah satunya. TAMAT

My Forever Favorite Person

Bab 39

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Gyan, menurut gue, lo harus fokus lihatin jalan sih. Please?” “Gue takut pas noleh, ternyata lo nggak ada, dan semua yang terjadi tadi, semua kalimat surga lo tadi hilang juga. Gue nggak siap kalau semua itu cuma mimpi.” Kepalanya menggeleng-geleng pelan, ia masih tetap terlihat berusaha keras membagi fokusnya pada jalanan di depan kami dan … diriku. “I don’t know how to convince myself everything is real.” “Oh My God,” lirihku, sudah nyaris frustasi. Karena aku sudah kehabisakan kata-kata untuk membuatnya yakin dan percaya aku ini manusia beneran, bukan hantu apalagi objek di dalam daydream-nya. Semua kalimat sudah aku coba anyway. “Yaudah tersera lo.” Aku bersedekap, menyandarkan tubuh, mengembuskan napas kencang, dan menatap kosong kendaraan di depanku sana. Tiba-tiba aku mendengar sebuah tawa pelan, tentu saja pelakunya dalah lelaki di sebelahku. “Kalau gitu gue percaya sekarang lo manusia beneran.” “Seriously, Gy?” tanyaku lelah. Dia mengangguk. “Karena kalau ini mimpi, nggak mungkin lo ada kekurangan, barusan lo keliatan manusiawi banget, bisa bete juga.” Alasan macam apa itu? “Ya Allah, jadi harus lewatin sepanjang itu buat bisa ngerasain perasaan ini?” “Worth it nggak tapi?” tantaku iseng, sambil menahan geli. “Ya lumayan lah.” “Gyan, please!” Aku tak bisa lagi menahan tawa, dia pun sama. Tertawa kencang. Padahal nanti dia harus pulang dengan memesan taksi online, karena tadi ngeyel mau mengantarku. Aku sudah bilang, aku bukan pemula dalam berkendara, mau malam hari rasanya tidak masalah juga. “Lo yakin mau ngomong sama Ibu sekarang, Gy? Nggak mendadak banget gitu?” “Apanya?” “Ngomong kalau kita berhasil memperbaiki.” “Lho, kirain mau bilang kalau kita mau nikah.” “What?!” Telingaku sepertinya salah mendengar, dan aku tidak suka kejutan seperti ini. “Gyan, yang bener aja dong!” “Tadi bukannya lo yang bilang mau nikahin lo kapan?” “Ya nggak besok juga, Gyyyy!” Dia tertawa kencang. “Iya, yaaa. Ngebet amat nih Gyan.” Kekehannya terdengar menyebalkan, dia melirikku sambil tersenyum sangat manis, senyum … ya Tuhan, senyum yang sangat menarik dan menenangkan. “Gue takut lo besok berubah pikiran dan kabur ke luar negeri, Ra. Sumpah.” “Gue bukan koruptor, please.” “Banyak kok yang bukan koruptor tapi tetep pindah kewarganegaraan ke sebelah.” Aku meringis. “Kita, kan, nggak tau mereka kabur dari apa. Dari sistem yang buruk di sini, dari cinta, dari orang-orang jahat.” “Lo mau ikutan pindah?” tanyaku geli. “Lo mau?” “Edaaaann lo!” Aku terbahak-bahak. “Enggak lah, gue nggak kepikiran pindah negara, adaptasi sama semuanya. Kuliah aja bolehnya di area sini, boro-boro mau pindah negara, Gy.” “Kan, statusnya beda. Ikut suami.” Tawaku benar-benar lepas. Gyan pun sama. “Ada yang beneran udah terbang ke angkasa nih!” “Lo beneran sayang sama gue atau kasihan karena lihat gue ditinggal sama Dinda, Ra?” Ya Tuhan … pertanyaannya, tak disangka-sangka. “Ngeri juga hidup gue, abis ditinggal Mega, coba kenalan sama lo malah naksir, eh ditolak, kenalan lagi sama Dinda, ditinggal pergi anjir. Lo cuma kasihan ya sama gue?” “Enak aja!” jawabku tidak terima. “Lo lihat deh nanti gimana, gue yakin lo pinter cuma buat bedain perlakuan gue ke elo tuh karena kasihan atau sayang. Lo pinter, kan?” Dia tertawa pelan. “Can hardly wait!” Begitu memasuki area perumahanku, seketika kami sama-sama terdiam. Tidak ada tawa atau suara, seolah masing-masing dari kami mempersiapkan diri untuk menghadapi Ibu. Padahal, kalau dipikir-pikir, kabar yang akan kami bawa justru kabar bahagia yang memang paling dinantikan Ibu. Tapi, anehnya, entah kenapa ini malah menjadi yang paling mendebarkan, dan … menakutkan. Setidaknya, untukku. Aku tidak tahu bagaiaman dengan Gyan. melihat wajahnya, dia sepertinya juga mengalami perasaan yang sama. Mungkin bedanya … tidak ada bedanya. Hanya memang aku tidak bisa melihat dan merasakan emosinya secacara nyata. Mobil sudah terparkir sempurna, mesin mobil sudah mati, tapi kami berdua belum ada yang membuka sabuk pengaman, apalagi keluar dari sini. Aku tidak berani melirik Gyan, karena sedang fokus pada perasaan gugupku sendiri. Sibuk memegang dadaku, mengelusnya pelan agar detak jantungku lebih tenang. Pikiranku harus tenang. Aku tidak mau ada salah kata atau tindakan nanti di depan Ibu dan memperburuk semuanya. Aku tidak mau mengulang semuanya dari nol lagi. “Ready?” Aku menoleh, menatap Gyan sedih, takut, atau apa perasaan ini, aku tidak paham. Terlalu banyak yang aku rasakan akhir-akhir ini. “Ini seharusnya lebih mudah daripada waktu lo bilang kalai kita lagi ada masalah, Ra. Kalau yang itu aja lo bisa beresin, ini pasti akan lebih gampang lagi. We’ll do it together. We have each other.” Aku mengangguk. “Minggu besok, kan, nikahnya?” Aku menatapnya lelah. Gyan tertawa, dan pada akhirnya aku juga ikut tertawa. Aku tahu, dia akan berusaha semaksimal mungkin membuatku merasa tenang. Dia akan berusaha menyingkirkan apa pun yang ada di depan—semua hal bukan selalu tentang benda, jika itu mengangguku, bahkan meski hal yang selama ini dia sukai. Entah ini bentuk effort atau sacrifice atau justru bentuk keegoisanku. Aku membatu begitu masuk ke rumah dan melihat Ibu duduk di sofa ruang tamu … menungguku kah? Saat dia sadar kehadiranku, ekspresi leganya muncul, dan dia berjalan cepat menghampiriku, memelukku erat. Semua persiapan yang tadi aku kumpulkan di perjalanan, terutama di dalam mobil, mendadakn musnah, digantikan rasa bingung melihat Ibu. “Bu?” “Kamu nggak perlu maksa diri kamu harus selalu nurutin Ibu, Ni. Ibu minta maaf karena selalu maksa kamu buat ini dan itu, harusnya Ibu tau perasaan nggak pernah bisa dipaksa. Hidup bukan melulu tentang mencari pasangan, ada banyak sumber kebahagiaan lain.” “Bu, aku—” “Kita percayain semuanya ke Allah aja ya, Ni, sambil jalanin hidup yang ada. Kita sama-sama berusaha bahagia dan nikmati waktu kita. Nanti Abang akan hidup sama keluarga barunya, tinggal kita. Harusnya Ibu manfaatin waktu sama kamu, bukan malah sibuk maksa kamu harus cepetan nikah.” “Ibu, sebentar, Nini. Gini-gini.” Aku melepas pelukan kami, menatap Ibu sedih karena dia terlihat habis menangis. Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan malam ini? Dia pasti tadi panik sekali ketika aku pergi dan menungguku di—wait, Abang juga menungguku? Aku melihat dia keluar dari arah dapur dan membawa 2 mug di tangannya. “Ibu sama Abang nungguin Nini?” Kepalanya mereka mengangguk. Ibu mengelus lenganku, lalu melirik Gyan yang berdiri di belakang. “Ibu udah cerita sama Abang, Ibu minta maaf dan nggak akan marahin kalian berdua kok. Kalian berhak hidup sama orang yang kalian cintai dan kalian mau, bukan karena paksaan.” Ibu tersenyum pada Gyan yang sudah bergerak maju, berdiri di sebalahku. “Ibu nggak marah kalau Nak Gyan udah dapet yang baru.” “Ibu nggak ada yang dapet orang baru di sini.” Aku mengembuskan napas. “Tadi aku ke rumah Gyan buat beresin semuanya, dan sekarang aku sama Gyan mau ngomong sama Ibu.” Ibu terdiam, lalu kembali duduk. Begitu pun aku, Gyan, dan Abang, ikut duduk dan ini jadi seperti sidang keluarga sungguhan. Aku tidak ingat kalau ada kemungkinan Abang juga belum tidur dan menungguku. Kalau nanti, dia memberi pertanyaan sulit dan jebakan untukku dan Gyan, tamatlah riwayatku. Tapi aku tidak peduli, itu akan aku pikirkan nanti. “Ni?” Ibu menyadarkanku kembali. Aku menggeleng pelan. “Selama ini, yang bikin semuanya sulit itu Nini, Bu.” Aku tahu, Gyan menatapku, dia pasti tidak setuju dengan kalimatku. Tapi aku bicara fakta, aku yang menyulitkan Gyan dan hubungan ini karena keegoisanku, karena rasa sombongku. “Nini yang nggak mau coba buka hati ke Gyan. Gyan udah maksimal, Gyan luar biasa. Dan Nini beruntung banget, Nini sadarnya belum terlambat, Bu, Nini berani ungkapin perasaan Nini ke Gyan, nggak ngulangin masa lalu kedua kali. Nini berani bergerak, Bu.” Ibu menutup wajahnya, aku mendengar isak pelannya. Mungkin dia juga sama tidak menyangkanya denganku, bahwa aku akan ada di tahap ini, berani melakukan hal ini. Aku pasti sudah belajar banyak dalam kehidupanku. “Nini sama Gyan berhasil perbaiki semuanya, Bu. Kita berdua …” Aku menelan ludah, mulai bingung mencari kata-kata untuk menjelaskan hubungan kami. “Kita berdua ….” “Ibu dan Mama berhasil bikin kita berdua kembali percaya sama hubungan.” Gyan yang melanjutkan dengan lancar. Aku melihatnya tersenyum menatap Ibu yang sekarang menatap Gyan sambil berkaca-kaca. “Terima kasih banyak karena udah melahirkan Nini dan didik Nini jadi perempuan hebat yang bisa buka pikiran Gyan, bikin Gyan kembali percaya sama hubungan yang baik dan pernikahan. Terima kasih banyak karena udah sabar nemenin Nini melewati patah hatinya, dia tadi dengan keren dan berani ngungkapin perasaannya ke Gyan. Pasti susah banget buat Nini, ya, Bu? Tapi tadi Nini hebat, ngomong banyak dan semuanya bikin Gyan speechless.” Ya Tuhan … yang dia lakukan sekarang pun sama, membuatku tak bisa berkata-kata. Apalagi saat dia menatap Abang dan Ibu bergantian, lalu kembali berbicara. “Abang, Ibu, aku mungkin terlahir dan besar di keluarga yang nggak bisa dibanggain—papaku.” Gyan tersenyum … getir, aku tahu perasaannya. “Tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik buat Nini. Aku udah tahu gimana terlukanya Mamaku sendiri, jadi aku akan belajar banyak dari itu. Tolong restui kami.” Ibu membuka tangannya lebar, menangis sambil bilang, “Sini. Sini, Nak.” Lalu Gyan menyambut pelukan itu, dan mereka berpelukan, terlihat mengharukan di mataku. “Kamu harus tahu, sejak awal Ibu udah suka sama kamu, kan? Perasaan itu nggak berubah, dan Ibu percaya kamu akan melakukan yang terbaik buat Nini.” “Terima kasih banyak, Ibu.” Ibu melepas pelukan Gyan, lalu bergantian memelukku, menciumi wajah dan kepalaku sambil terus meminta maaf. Aku juga melihat Abang dan Gyan berpelukan. Abang memang tidak mengatakan kalimat yang gimana-gimana, dia hanya bilang, “Sebejat apa pun seorang Abang, Gy, kamu tau, kan, kalau dia nggak akan pernah mau adeknya disakitin sama cowok bejat juga?” Aku melihat Gyan menganggukkan kepala. Jadi … ini lah hasil dari pertemuan aku dengan so called ‘Mas Gyan’ di kafe itu? Yang aku pikir di awal memang menarik secara fisik, tetapi aku merasa aku tidak menyukai kepribadian dan prinsip hidupnya. Yang ternyata, malah jadi orang yang paling sering hadir di setiap detik hidupku. Yang menjadi bagian garda terdepan untuk membantuku menghadapi masalah. Yang menemukanku meski aku mencoba sembunyi. Sadar akan kehadiranku, meski aku tidak mengumumkan apa-apa. Mungkin seharusnya, memang dia yang menjadi manusia favoritku, bukan laki-laki yang bahkan tidak tahu aku berbagi oksigen dengannya. Tapi mungkin juga, tanpa kisah sebelah tanganku dengan Angkasa, tidak akan ada kisah utuh antara aku dan Gyan. Jadi, aku akan mensyukuri keduanya, sebagai bagian dari hidupku. Aku hanya … perlu membagi porsinya; lebih banyak untuk yang ada di hari ini, esok, dan selamanya. Ketimbang yang hanya berdiri di masa lalu. Gyan … Thank you for coming into my life. Sebagai orang yang tidak aku sangka akan menjadi alasan aku berani mengungkapkan perasaan. Membuatku terbangun dari kebiasaan memendam soal cinta.

My Forever Favorite Person

Bab 38

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku tidak mau membuat kenang-kenangan terakhirku dengan Dinda akan menjadi kenangan buruk. Aku tidak ingin perjuangannya menjadi sia-sia. Aku tidak mau mengorbankan banyak hal lagi, dan yang paling penting aku tidak ingin menjadi pengecut lebih lama lagi. Semua yang dikatakan Dinda benar, aku tidak seharusnya ketakutan pada hal yang belum terjadi. Aku tidak seharusnya membuat Gyan mencari yang baru sementara perasaannya padaku saja belum resmi berakhir. Aku tidak mau Gyan terpaksa menjalani hubungan dengan orang lain dan membuat perempuan itu akan terluka. Karena jika aku yang menjadi Dinda atau Dinda berikutnya, aku juga pasti tidak akan mau. Jadi, malam itu, setelah membaca pesan panjang dari Dinda, aku tidak lagi menunggu esok hari, aku tidak mau menyiakan lagi sedetik pun, aku langsung menghubungi Gyan dan meminta alamat rumahnya. Tentu dia panik dan bilang biar dia yang ke sini kalau ada kepentingan berdua, tetapi aku tidak mau selalu dia yang berusaha dan berkorban. Aku tidak mau diam, tidak melakukan apa-apa. Biarkan aku bergerak, menghampiri cintaku kali ini, mengungkapkan perasaanku. Aku tidak mau mengalami cinta tak terucap kedua kalinya. Tidak mau. “Nini, mau ke mana? Ini udah malem.” Aku berjalan terburu-buru sambil membenarkan cardigan dan mencari-cari kunci mobil. “Ibu, Nini ada urusan penting. Nini akan baik-baik aja.” “Biar dianter Abang—” “Nini bisa sendiri. Nini pergi dulu.” “Tapi—” “Assalamualaikum, Bu!” Setelah beres memasang sabuk pengaman, aku diam sebentar untuk mengatur napas, kembali melihat handphone untuk membuka maps, mengikuti lokasi yang dikirim Gyan. aku mengabaikan teleponnya, pesannya, karena aku sudah bisa menebak isinya adalah rasa khawatir. Aku akan membuktikan padanya aku bisa sampai di sana dengan baik-baik saja, kalau bisa juga dengan cepat. Semua keahlian dan pengalamanku dalam berkendara harus aku kerahkan malam ini. Harus. Ya Tuhan, semoga jalanan benar-benar mendukung, aku mohon. Aku sedang sangat waras atau mungkin justru tidak, jadi aku tidak ingin satu detik kembali membuatku membatalkan melakukan ini. Aku tidak ingin menyesali entah yang mana nantinya. Karena penyesalan, mau apapun bentuknya, rasanya tetap menyiksa. Aku sudah tahu. Dan demi menghibur diri, aku menyalakan musik menyenangkan selama perjalanan. Aku tidak tahu, sungguh jarak rumahku dan Gyan memang sejauh itu atau memang karena perasaan panik dan gugup yang membuat semuanya terasa sangat lama. Aku ingin cepat sampai, aku ingin segera mengungkapkan semuanya. Aku tidak mau menundanya lagi. Aku mungkin sudah menyakiti Dinda meski dia bilang dia tidak membenciku dan Gyan, tapi dia pasti merasa kecewa atau mungkin selama kami berteman, aku terlalu kentara menyukai Gyan meski tak terucap. Jadi, aku tidak ingin menyakiti banyak orang lagi dengan gengsiku. Dia di sana. Aku benar-benar kacau, karena tersenyum tetapi sambil berkaca-kaca melihat Gyan berdiri di pinggir jalan, di depan rumahnya. Terlihat mondar-mandir, wajahnya panik dan melihat layar handphone-nya sebelum dia sadar mobilku datang. Senyumnya langsung lebar ketika aku turun dari mobil dan menghampirinya. “Gy.” “Ya Allah, Ni, gue panik banget. Sini masuk dulu.” Dia menuntunku, tetapi aku menahannya hanya sampai di depan pintu rumahnya. Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku berdiri menatapnya dan dia menatapku kebingungan. “Kalau gue mau sama lo, lo mau nikahin gue kapan, Gy?” “Hah?!” Mukanya terlihat sangat bodoh. Aku tak bisa menahan tawa pelan. “Lo udah siap nikah atau masih mau jalanin … what do we call it? Pacaran atau apa?” “Ni, are you okay?” “No, I’m not.” Aku menggeleng tegas. “Gue nggak akan pernah okay kalau nggak sama lo. Mulai dari kita kenal, lo udah jadi bagian penting buat hidup gue. Gue mungkin udah bahagia walaupun sendirian, tapi sama lo, bahagianya jadi sempurna. Gue mungkin haha-hihi bantuin lo sama Dinda, and I was soooo stupid, naive, apa pun. Gue sebenernya cemburu banget, Gy. Banget.” Aku tertawa sambil menangis sedikit, lalu mengembuskan napas lelah. Ekspresi Gyan masih sama, syok berat. Bibirnya saja masih terbuka, tapi dia belum mengeluarkan kata apa pun. Hanya matanya yang berkedip, jadi aku yakin dia masih sadar, secara penuh. “Gue kena tulah, karma, atau apa ini ya nyebutnya, Yan?” Aku mengusap mataku dengan lengan dan kembali menatapnya serius, berusaha menatap matanya. Aku tidak mau dia menganggapku bercanda atau akting atau lebih buruk lagi prank murahan. “Gue ngerasa selama ini gue tuh keren banget, gue adalah orang paling adil di dunia. Gue nggak diskriminasi gender, gue menghargai setiap emosi manusia, cewek atau cowok, gue nggak suka ajaran patriarki—oh kalau ini sampai sekarang.” Aku meringis. “Tapi gue nggak sadar kalau gue juga di waktu yang sama judgmental banget, terutama ke lo. Gue buta sama kondisi lo, sebab-akibat yang terjadi di hidup lo, gue kesampingkan semua kebaikan dan kerennya lo cuma karena satu hal buruk tadi, yang sebenernya bukan salah lo. Gue sok asik dan sok keren banget, karena ngurung lo dalam rasa kasihan. Ternyata yang perlu dikasihi tuh gue sendiri, Gy. Bukan gue yang bisa buka hidup lo dan kasih perspektif baru, bikin lo bisa terbuka sama diri lo sendiri, tapi elo yang lakuin semua itu ke gue.” Bibirnya bergerak, tertutup rapat lagi, terbuka tetapi tak mengeluarkan apa pun. Mungkin dia mengira aku sedang kerusakan setan di jalan menuju ke sini. It’s okay, aku akan tetap mengungkapkan semuanya dulu, baru nanti aku pikirkan bagaimana menyadarkannya Kembali ke bumi. “Gue nggak pernah berani jujur sama perasaan gue sendiri. Gue nggak berani ngejar cinta gue, nggak heran, semuanya cuma akan jadi orang favorit gue berupa kenangan. Dan gue nggak mau lo masuk ke list itu juga.” Aku menelan ludah, menarik napas dulu, dan mengembuskannya pelan. “Gue mau usaha yang kali ini, gue nggak mau ngalahnya Dinda sia-sia, dan gue mau lo jadi orang favorit gue secara nyata, di kehidupan nyata. Gue mau berani buat ngungkapin perasaan gue, berhenti jadi pengecut. Gyan, … I’m in love with you.” Napasku lolos lega. Aku menundukkan kepala beberapa detik, lalu menatapnya lagi dan menahannya ketika dia terlihat akan bicara. “Lo inget apa yang lo bilang ke gue waktu itu? ‘I guess, I’m in love with you, Ra’.” Aku tersenyum lebar. “Lo tau ada lagu dengan judul yang sama? Lagunya Clinton Kane, dan gue mau minjem kalimatnya juga, sama lo tuh … gue punya harapan lagi soal cinta. Gue yang selama ini suka remehin dunia yang kayaknya nggak punya cowok buat gantiin posisi Angkasa buat gue. Who the fuck is he anyway? Elo nggak perlu gantiin dia, elo dating bawa diri lo sendiri dan bikin gue sekarang di sini, berani buat ngaku salah dan gue minta maaf atas semua kejahatan yang gue buat ke elo, dan ngungkapin perasaan gue. Lo udah boleh ngomong, Gy.” Tapi Gyan tak menggunakan kesempatan berbicara yang aku berikan, dia masih tetap diam, menatapku benar-benar dalam diam. Apakah artinya … semua sudah terlambat? Atau dia tidak mempercayai semua kalimatku barusan? Atau ada kata-kataku yang tidak masuk akal dan menyinggungnya? Atau seharusnya aku–– Dia menarikku ke dalam pelukannya, pelukan yang erat. Aku sempat bingung dan ragu, tetapi pada akhirnya juga membalas memeluknya. Pelukan yang sejak awal aku rasakan sudah terasa menenangkan, tetapi aku terlalu mati rasa untuk merasakannya waktu itu. Padahal pelukan inilah yang akum aku rasakan di setiap harinya, di hidupnya ke depannya. Orang inilah yang aku mau selalu memelukku. Wangi tubuh laki-laki ini yang mau aku hirup sedekat ini, seterusnya. Gyan … sejak awal sudah sangat menarik. Seharusnya aku tahu, dia memang datang bukan untuk sebagai teman, tetapi lebih dari itu. Dia akan menjadi manusia favoritku, selamanya. Aku tidak mau bodoh lagi. “Gue nggak tahu harus ngomong apa,” lirihnya, masih memelukku. “Lo nggak perlu ngomong apa-apa, Gy.” “Tapi semua kalimat panjang lo itu butuh balasan yang setimpal. Gue bahkan waktu itu cemen, ngomong cuma satu kalimat. Lo hari ini ngomongnya banyak.” Aku tertawa pelan. “Mungkin karena gue lebih cerewet dibanding elo?” Gyan ikut tertawa. “Gue … gue belum nemu kata yang gue rasa cukup buat gambarin gimana perasaan gue sekarang, Ra. Gue …” Dia melepas pelukan kami, menatapku lekat sambal memegang kuat kedua lenganku. “I love you. I love you.” Aku mengangguk-anggukkan kepala, tersenyum lebar. “Gue minta maaf ka––“ Kepalanya menggeleng, lalu dia mengecup keningku. “Thank you,” lirihnya, kali ini mengurung wajahku dengan kedua tangannya. “Thank you for coming into my life. Bullshit banget mungkin kedengarannya, tapi gue beneran bersyukur lo hadir di hidup gue, dan bikin gue sadar banyak hal. Thank you for making me happy. Gue …” Dia terdiam sesaat. “Gue juga mungkin akan ketemu banyak orang yang ceria, yang lucu, positive vibes, tapi mereka jelas bukan elo. Dia bukan Aghnia Dhara, dan gue maunya cuma sama lo. Gue mau terus berusaha jadi cowok baik, supaya gue layak sama lo, Ra.” Aku menggelengkan kepala. “Lo sangat sangat layak.” “Am I?” Aku menganggukkan kepala. Lalu tertawa mengingat Kembali isi pesan Dinda. “Dinda bilang, gue orang favorit lo, ya, Gy?” “Masa sih?” Aku menyikut lengannya. Kemudian berlari ke mobil untuk mengambil handphone dan menyerahkannya pada Gyan. Dia harus melihat isi pesan Dinda supaya dia tidak merasa terus bertanya-tanya kenapa Dinda meninggalkannya. Ekspresinya sudah bisa aku tebak, dia meringis, menggaruk belakang kepala. “Gue jahat banget, ya, sama Dinda?” Aku mengangguk. “Gue juga.” “Gue perlu minta maaf, kan, ya?” “Betul!” Aku sangat setuju. “Kalau lo belum diblok.” Wajah Gyan kebingungan. “Lo diblok, Ra?” Mau bagaimana lagi, aku juga kalau jadi Dinda pasti malas berurusan dengan dua manusia bodoh yang tidak juga bisa saling mengungkapkan perasaannya. Malah sembunyi-sembunyi. Tapi … sepertinya yang begitu cuma aku, karena Gyan tidak.

My Forever Favorite Person

Bab 37

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku merasa kalimat Gyan barusan adalah tanda yang jelas bahwa dia tidak mau aku menyinggung tentang Dinda … atau mungkin sesimpel aku tidak perlu ikut campur. Tak peduli sedekat apa hubunganku dengan dia dan juga Dinda—aku meringis dalam hati, sudah bisa kah aku dan Dinda disebut dekat? “Gimana kabar ibu, Ra?” Aku harus kembali ke realita. Tersenyum lebar, aku mengangguk pada Gyan. “Sebenernya baik, kalau yang ditanya fisik, Ibu baik-baik aja, sih. Cuma … gue ngajak lo ketemu buat …” Aku bingung perlu melanjutkan ini atau tidak. Tujuan utamu mengobrol dengannya ini, kan, untuk membahas hubungan kami, Ibu, dan Tante Anita. Tentu saja akan melibatkan Dinda. Tapi, tadi dia bilang kalau jangan membahas— “Buat? Nini, you okay?” “Oh!” Aku mengangguk-angguk. “Kalau lo lagi nggak enak pikiran atau badan, we can take a rain check, Gy, nanti kabarin—” “Oh sorry sebentar, ini ada hubungannya sama Dinda?” Aku mengangguk ragu. Gyan mengacak rambutnya sambil tertawa pelan. “Astaga begoo, sori, sori, Ra. Gue blank tadi. Nggak pa-pa kita lanjut.” Kepalanya mengangguk. “Lo yakin?” “Ya! Gimana gimana tadi?” “Okaay.” Aku menelan ludah, menarik napas pelan dan dalam, lalu aku embuskan sepelan mungkin. “Ini disclaimer dulu, ya, Yan, by the way, gue nggak nyalahin lo atau Dinda, demi apa pun I’m sooo happy for both of you.” Aku tertawa pelan melihat wajah bingung Gyan. “Gue cuma coba ceritain detail kronologinya aja, biar bisa lo bayangin. Jadi, akhir-akhir ini, kan, kita nggak ketemu, nggak main bareng atau ya apa pun kayak yang biasa kita lakuin. Lo nggak ke rumah gue, yang manaaaa gue senang karena gue tau lo udah nemu kebahagiaan lo. Sumpah, gue lega karena lo bisa nemuin itu. Tapi lo tau, kan, kalau Ibu tuh berharap banyak sama kita?” Kepalanya mengangguk, wajahnya kelihatan ragu, mungkin sangat bingung. “Nah, dia jelas notis itu, terus dia tanya kabar lo, kabar hubungan kita. Nah, karena gue ngerasa bingung. Maksudnya, di sisi lain gue nggak mau duluin atau sendirian buat langsung billang ke Ibu kalau hubungan kita nggak berhasil dan lo udah nemu orang yang cocok sama lo. Tapi, gue juga nggak mungkin bilang ktia baik-baik aja, sementara gue tau progres lo dan Dinda oke banget. Takutnya, nanti durasi dari hari itu ke hari kita pamitan terlalu nggak masuk akal buat Ibu. Sampai sini dulu paham nggak, Gy?” “Paham, paham. Go on.” Aku mengangguk. “Jadi, gue berusaha cari aman, for us, gue bilang kalau kita lagi ngalamin sesuatu, tapi kita coba perbaiki. Dan kayaknya Ibu paham ke mana arahnya sih, jadi yaa dia lumayan sedih, tapi gue yakin, sampai nanti saat kita bilang semuanya—kecuali ngaku kalau kita boong selama ini yaa. Gue yakin dia akan baik-baik aja kok, Gy. Jangan terlalu di—Gy? Lo beneran baik-baik aja?” Aku melihat ekspresinya terlihat sangat bingung, ia juga menundukkan kepalanya. “Gyan?” “Kalau misalnya kita ngaku sekarang, tapi nanti Ibu tanya nyokap gue soal cewek baru gue, terus nyokap bilang nggak ada cewek baru, anjir, kayaknya bakalan runyam ya, Ra.” “Sori?” Aku benar-benar tidak bisa memahami kalimat panjangnya itu. Informasi dalam kalimatnya terasa memusingkan. “Maksudnya, lo nggak berniat ngenalin Dinda ke nyokap lo?” Dia meringis. “Gue malu mau bilang.” Lalu tertawa bilang. “Gyan, please? Kita harus komunikasi yang bener kalau mau satu suara dan ini semua berhasil, mengurangi drama.” “Dinda ngilang. Udah berapa hari yaaa….” “What?!” Aku mendongak, mengembuskan napas lelah. Lalu kembali menatap Gyan yang sekarang sedang menggosok-gosok wajahnya. “Sorry that happened to you. Tapi dia bilang sesuatu nggak sebelumnya?” Ya Tuhan, aku menggelengkan kepala cepat-cepat. “Astaga, sorry, sorry that was a strange thing to ask.” Kepalanya menggeleng. “Dia nggak bilang apa-apa sih. Cuma gue ingetnya, abis kita jalan malem itu, gue anter dia balik. Pas jalan sih baik-baik aja. Dia masih haha-hihi, sampe gue anter pulang juga masih OKE.” Gyan terlihat berpikir sangat keras, mungkin mengingat kejadian yang mereka lalui. “Terus … dia ngirim chat, nanya gitu seinget gue. Kayak … pendapa gue tentang orang yang jadiin orang lain pelampiasan. I mean, oh dia kirim video gitu yang isinya cerita orang yang dideketin cowok dan akhirnya dia tau kalau cowok itu masih cinta sama orang lain.” Aku menelan ludah. “Jawaban lo?” Dia meringis. “Sebentar.” Gyan meraih handphone-nya dan mengutak-atiknya sesaat, lalu kembali menatapku dan tertawa pelan. “Kayaknya gue salah jawab deh, Ra.” “God …” lirihku sudah ngeri duluan bahkan sebelum dia menyebutkan apa jawabannya. “Gue bilang ya tergantung kondisi. Gimana kalau emang cewek baru itu dateng di perjalanan proses dia move on. Dia emang nggak jawaban apa-apa sih, tapi iya kayaknya itu deh, dia ilfeel kali sama gue.” Aku memijat kening karena … semua benar-benar terjadi di luar kontrol. Lalu kami harus gimana sekarang? Apa … kita tetap nekat mengatakan pada Ibu cuma minusnya tidak menyebutkan bahwa Gyan sudah mendapatkan perempuan yang cocok dengannya? Aku menggelengkan kepala. “Lo galau banget Dinda ngilang?” “Enggak sih,” katanya serius. “Di awal ya sempet bertanya-tanya kenapa, tapi kayaknya ya emang nggak cocok aja. Mungkin dia ngerasa nggak sefrekuensi? Atau jawaban gue salah ya/ apa perlu gue minta maaf? Menurut lo gimana?” “Seharusnya sih kalau dia rasa ada yang keliru, lebih baik dia ngomong ya. Tapi balik lagi, kita kan nggak tau cara komunikasi orang gimana, jadi menurut gue ngga ada salahnya kalau lo mau coba ajak dia ngomong, siapa tau cuma salah paham dan bisa diperbaiki?” Dia tertawa pelan. “Apa? Kenapa ketawa?” tanyaku bingung. “Lo tuh … emang nggak ada rasa sedikit pun sama gue ya, Ra?” “What?” “Lega kek, Dinda ngilang, ini malah nyaranin gue ngajak ngomong Dinda.” Aku tertawa, tapi dalam hati tersentil. Sebagus itu kah sikap pura-pura gue selama ini, Gy? Nggak kelihatan kah kalau gue penuh penyesalan karena selama ini isinya denial? Sibuk ngasihanin lo, padahal yang sebenarnya perlu dikasihani ya diri gue sendiri. “Nanti gue coba chat Dinda, tapi gue nggak bisa jamin kalau dia masih mau ya sama gue. Jadi, kita coba ambil worst case deh, dia nggak mau, kita bakalan gimana ke Ibu?” “Mungkin bilang kita nggak berhasil tanpa perlu sebut lo udah dapet yang baru atau belum?” Dia mengangguk. “Kita cukup bilang kalau emang kita nggak bisa aja gitu?” “Betul.” “Okay. “ “Lo mau gue bantu ngomong sama Dinda, Gy?” “Enggak lah!” Dia tergelak. “Gue tau lo temenan sama dia sekarang, dan kalaupun nanti gue sama dia nggak jadi, dan misalnya dia mau kontek elo, nggak apa-apa, ya, Ra, jangan karena gue atau apa lo jadi kehilangan temen.” Tapi karena aku … dia kehilangan banyak hal. Aku tersenyum lebar, menganggukkan kepala. Di perjalanan pulang ke rumah, rasa penyesalan menghampiri lagi. Menyesal karena kenapa tadi tidak mencoba bilang ke Gyan tentang perasaanku. Tapi rasanya aku benar-benar tidak punya empati pada hubungan dia dan Dinda. Karena detik tahu Dinda pergi, aku mau langsung confess. Itu pasti kejam. Entah kenapa, setelah kenal Gyan, sepertinya separuh dari diriku adalah penyesalan. Begitu sampai di rumah, aku buru-buru ke kamar mandi untuk menyiram seluruh tubuh termasuk kepala dengan air hangat. Berharap, bisa sedikit menenangkan pikiranku yang kalut. Aku tidak tahu mana yang aku inginkan atau harapkan terjadi setelah ini. Apakah Dinda mau menerima Gyan kembali sehingga alasan ke Ibu lebih masuk akal? Atau justru Dinda tidak kembali lagi, jadi aku punya kesempatan bersama Gyan—itu pun kalau aku punya nyali. Mungkin sekitar 30 menit, aku akhirnya selesai membersihkan diri, bergegas untuk berganti pakaian tidur, memakai skincare dan langsung ke atas kasur. Walaupun belum siap untuk tidur, setidaknya aku ingin duduk bersandar di atas kasurku, lebih nyaman untuk bermain hand—Dinda? Aku melihat notifikasi pesan dari Dinda. Di WhatsApp. Dinda Hai, Dhar! Gue cuma mau bilang, kenal sama lo tuh nyenengin bangeettt. Lo orang yang apa yaaa positive vibes kalau kata orang-orang hahaha. Dan itu beneran, lo cantik, ramah, welcome banget dan seru abis. Nggak heran deh lo jadi orang fav-nya Gyan lol. Lo juga jadi salah satu orang fav gue, cuma mungkin bakalan jadi kenangan fav sih. Gue nggak bisa nerapin konsep temenan sama mantan, atau mantan gebetan atau apa … so gue harap lo paham maksud gue. Gue nggak bisa sama Gyan, Dhar, i’m sorry. Mungkin Gyan udah ngasih tau lo atau akan? Idk. tapi gue punya pengalaman nggak baik sama orang yang belum selesai sama masa lalunya, jadi gue nggak mau terulang, sembuhnya lama wkwkwk. Dhar, gue nggak mau sok jadi orang bijak atau apa sih, tapi kayaknya kalian perlu coba dobrak gengsi atau ketakutan kalian. Cinta dan sayang lebih dari temen itu boleh, dan kalaupun nantinya nggak jadi selamanya, itu emang resiko yang harus diambil gasih? Setidaknya, kita nggak nyesel karena nggak coba. Nama lo nggak pernah absen dari mulut Gyan, ke mana pun kita pergi tau hahaha. Gue bisa liat dia sayang sama lo udah gatau deh lebih dari temen atau apalagi. Tapi itu cuma pendapat gue, sisanya terserah kalian. Gue cuma berharap, pertemuan singkat kita ini semoga kasih kesan baik buat lo. Semoga gue sepositif elo di ingatan gue. I don’t hate you atau Gyan, sama sekali enggak, semua orang berhak menjalani proses buat sembuh dan bahagia, kan? Cuma, mungkin harus cari yang sama-sama bisa nerima. May your future be as bright as your smile! Ya Tuhan, bukan cuma napasku yang terasa berat, tapi air mataku juga banjir. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan setelah membaca pesan panjangnya Dinda. Yang jelas, aku merasa bersalah untuknya. Tapi begitu mau meneleponnya langsung karena ingin mencoba menjelaskan, aku tidak bisa. Aku mencoba menjawab pesannya, tapi hanya centang satu. Foto profilnya pun menghilang. Dia sudah memblokirku. Yang paling menyedihkan adalah karena perpisahan ini bukan karena saling membenci. Dia baik dan menyenangkan, begitu pula dia menyebutku.

My Forever Favorite Person

Bab 36

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku memang tidak suka ide telat datang ke pertemuan dengan seseorang, siapa pun. Tapi menurutku, datang jauuuhh sebelum jam yang disepakati, juga bukanlah ide yang lucu. Well, ini lucu karena menunjukkan betapa pengecutnya aku. Aku baru sadar aku memang sepengecut ini. Tidak heran seharusnya, kenapa cintaku pada Angkasa dulu tak pernah terucap. Karena yang jelas orangnya di depan mata pun, aku juga tetap kehilangan kepercayaan diri. Sebetulnya bukan tidak percaya diri, tapi aku hanya … merasa ini adalah hukuman untukku dan aku yang membuat semuanya menjadi terlambat. Kehilangan semuanya. Oh anyway, aku memutuskan untuk datang ke kafe ini lebih dulu, jauh sebelum jam janjian dengan Gyan karena … karena aku mau mempersiapkan diri lebih banyak. Aku tidak bisa membayangkan ketika dia yang datang lebih dulu, lalu aku memasuki kafe, melihatnya melambaikan tangan dengan senyuman lebar. Pasti sangat canggung, untukku, aku takut tidak bisa bersikap sebaik yang aku mau. Jadi, dengan datang lebih dulu, aku harap aku bisa menetralkan diri lebih dulu. “Kirian mau balik kerja sini lagi.” Amanda nyengir lebar, sambil meletakkan pesananku, kemudian duduk di kursi depanku. “Apa kabar lo?” “Ini bisa lebih sweet nggak ya ke customer? Gue sampein ke Pak Bos lo nanti.” Bola matanya memutar. “Mungkin dia malah suka dan bilang gue perlu nambahin garemnya.” Aku tergelak. “Gue kabar baik, kalian gimana?” Dia mengedikkan bahu. “Lo nggak tahu, kan, kalau gue udah jalan sama temennya Gyan?” “What?! Serius????” “Tapi pemain kayaknya.” “Sama-sama pemain mah aman lah ya.” “Sial. Dah ah, selamat menikmati, gue lanjut dulu.” Aku memberinya senyuman manis dan support penuh. “Semangaaatttt!” Aku mulai menikmati minuman dan makanan yang aku pesan sambil kembali melamun, memikirkan nanti apa saja yang akan aku katakan pada Gyan. Update terbaru apa tentang kehidupan dia dan Dinda yang akan dia ceritakan dengan muka bahagia. Keputusan apa yang akan kami ambil tentang Ibu dan Tante Anita, lalu— “Hai, boleh gabung?” Pikiranku sempat blank sesaat melihat siapa yang sekarang di hadapanku, meminta kursi di depanku ini. Bukan, bukan semata karena perpindahan cepat dari lamunan ke realita, tapi juga dipengaruhi karena siapa orangnya. Aku takut pikiranku kacau dan membuat kemampuanku mengingat atau mengenali orang lain menurun, tapi aku yakin tidak. Aku yakin ingatanku tidak salah. Ketika dia tersenyum, aku tahu dia sungguh Mega. Mega. Pacar—maksudnya, mantan pacar Gyan, istri papanya Gyan yang sekarang, yang artinya mama tiri Gyan. Ya Tuhan, apa yang dilakukan perempuan ini di sini? Di hadapanku? Aku menggeleng pelan, mungkin dia juga sebetulnya tidak mengingatku. Jangan kepedean, Ni, dia mungkin ingin bergabung karena melihatku begitu menyedihkan, ekspres melamunku mungkin seperti orang butuh pertolongan. “Kamu Dhara, kan? Aku nggak salah orang?” “Oh!” Dia beneran mengenalku. Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. “Bener kok, Kak. Silakan, silakan duduk.” “Nggak ganggu, kan? Atau lagi nunggu seseorang?” Ya, tapi aku menggeleng. “Janjian sama orangnya masih nanti, jadi aman kalau Kakak mau duduk di sini.” Dia mengangguk, duduk di hadapanku beserta minumannya dan tasnya … oh dia pangku. “Kita belum pernah bener-bener kenalan, ya, Dhar?” Aku jadi tahu sekarang, Panggilan ‘Ra’ dari Gyan ternyata spesial. Orang-orang biasanya memenggal namaku dengan ‘Dhar’ atau yaa yang tahu panggilan rumahku akan ‘Nini’. Mega mengulurkan tangan. “Aku Mega.” Tentu aku menjabat tangannya. “Dhara.” Mungkin ini hanya perasaanku dan aku yakin benar hanya perasaan, karena aku akhir-akhir ini tidak bisa berpikir jernih, semua pikiranku semrawut, segala yang mudah aku buat sulit. Jadi sebetulnya aku yakin ini hanya pertemuan ringan yang tidak ada intensi aneh-aneh. “Tadi aku lagi duduk di pojok sana, terus aku liat kamu sendirian.” Aku tersenyum lebar, menganggukkan kepala. “Iya, soalnya kebetulan bisa duluan sih. Sekalian tadi pengen nongkrong aja. Kak Mega sendiri? Alex nggak ikut?” “Dia lagi keluar sama papanya.” “Boys time!” seruku, dijawab anggukan olehnya. “Aku sebenernya cuma mau sebentar sih, Dhar, mau ngobrol sama kamu.” Oh no, pembukaan kalimat yang sebetulnya tidak terlalu aku suka. Karena seringkali berakhir tidak baik, entah untuk perasaanku atau kami berdua. Ya Tuhan, semoga nasib buruk tidak menghampiriku secepat ini, aku masih punya agenda dengan Gyan nanti. “Kamu bisa?” “Ngomong aja, Kak.” Aku masih berusaha memberi senyum ramah. “Mungkin ada yang bisa aku bantu?” “Aku cuma penasaran, kamu sama Gyan tuh gimana, ya?” “Sorry, Kak?” Firasatku sepertinya benar. Ini akan berakhir tidak—kurang baik dan kurang menyenangkan. Padahal aku tidak ingin hubunganku dan Mega, kesanku dan Mega adalah buruk untuk kami satu sama lain. Walaupun mungkin sudah. “Iya, yang aku tahu dari Mbak Anita, kalian kan dikenalin, terus coba saling mengenal, coba cari kemistri. Betul?” Aku mengangguk. “Ya, bener.” “Apa di perjalanan kalian coba saling kenal itu, kalian bolehin salah satu atau kalian berdua buat deket sama orang lain?” Mulutku sempat menganga, aku mulai tidak nyaman dengan pembahasan ini karena sepertinya aku paham ke mana arah Mega. Aku juga tahu apa yang sudah dia tahu. “Aku liat Gyan jalan sama cewek lain. Kenapa, Dhar?” “Oya?” Aku berusaha sangat keras untuk tetap tenang, masih memberinya senyuman terbaikku. “Mungkin Kak Mega salah lihat?” “Enggak. Aku kenal Gyan dengan baik, aku hafal semuanya.” Uuuh, menarik. Mantan pacar yang sedang berusaha memberi tahu dunia kalau dia sudah pernah menjalani hubungan bersama Gyan dengan sangat harmonis. “Jadi aku cuma mau tanya, kalian ini gimana?” “Kak Mega disuruh sama Tante Anita kah?” “Oh enggak, aku sendiri. Mbak Anita nggak tahu itu, malah.” Lalu ini lah waktuku untuk memberi tahu Mega, kalau masanya sudah berakhir. Tapi sebisa mungkin aku tidak ingin menyakitinya. Walaupun mungkin mustahil, tetapi setidaknya tidak terlalu menyakiti. Aku akan mencobanya. “Well, Kak Mega, aku nggak bermaksud gimana-gimana, tapi aku cuma mau bilang, hubungan orang nggak ada yang mulus seratus persen, kan?” Aku melihat kepalanya mengangguk. “Mungkin Kakak salah lihat Gyan atau mungkin bener dia jalan sama cewek, tapi bisa jadi itu temennya? Yang jelas, apa pun nanti hasil yang aku dan Gyan putuskan, yang paling berhak kasih tahu ke Tante Anita dan Ibuku adalah … aku dan Gyan sendiri. Dan, orang eksternal yang memang berhak tahu soal kemajuan hubungan aku dan Gyan … ya Ibuku dan Tante Anita. Ya nggak sih, Kak?” Sepertinya semua kalimatku masuk ke kepala dan hatinya dengan tepat. Karena semua keramahannya tadi menghilang, digantikan tatapan tajam untukku. Aku bukan tidak bisa mengamuk dan menjambak seseorang, tapi aku terlalu lelah karena kehidupanku terlalu butuh banyak energi. Jadi, yang satu ini aku rasa tidak perlu dimasukkan ke dalam list. “Aku cuma mau bilang, kalau kalian emang nggak bisa beneran, stop bohongin Mbak Anita dan Mas Gino.” Siapa Gino? Ya Tuhan, dia papanya Gyan. Bisa-bisanya aku melupakan nama itu seolah aku membencinya seperti Gyan membenci papanya. “Atau kalau memang kamu nggak mau sama Gyan, kamu bilang dari awal, bilang baik-baik sama keluarga Gyan, jangan sakitin dia, Dhar.” “Kak Mega pernah liat aku juga jalan sama cowok lain?” Dia diam. “Yang Kakak lihat jalan itu … Gyan, kan? Sama cewek lain? Jadi, bukannya kebalik ya, Kak?” Aku tertawa pelan, menyeruput minumanku sebelum melanjutkan. “Gyan yang mungkin aja nyakitin aku dan harusnya dia yang ngomong baik-baik ke aku dan Ibuku.” “Gyan udah terlalu banyak luka di hidupnya, Dhar. Aku cuma pengen kamu tahu itu, jadi jangan terlalu keras ke dia.” “Aku tahu.” Aku menatap Kak Mega sama serius dengan ekspresinya. Mungkin kami memang tidak diciptakan untuk saling lempar senyum dan berbagi keceriaan, momen kami ada hanya untuk saling lempar peringatan. Well, aku tidak masalah. “Dilahirin dari keluarga yang kaya, tapi papanya cuma bisa kasih materi. Dia tumbuh jadi anak yang dendam dan benci sama papanya sendiri, dan lucunyaaaa, pacar yang dia cintai malah nikah sama papanya yang dibenci itu.” Napas Mega memburu, aku tahu dari gerak dadanya yang cepat, tatapannya tiga kali lipat tajamnya dengan sebelumnya. Tapi dia tidak menjawab apa pun. Jadi, aku melanjutkan. “Terus apa yang akan dia raisin kalau tau mantan pacarnya, ibu tirinya, tiba-tiba datengin cewek yang deket sama dia dan kasih peringatan banyak banget? Apa itu nggak bikin dia sakit juga, Kak?” Dia tak menjawab. “Aku bukan kamu, Kak Mega. Jadi, kalaupun aku nggak bisa kasih Gyan cinta yang dia mau atau jadi pasangan hidup dia, paling tidak aku nggak nikahin bapaknya. Paling tidak aku temenin dia sampai dia nemu gebetan barunya, dan cewek itu yang kamu lihat.” Aku mungkin memang tidak akan bisa berhubungan baik dengan Mega, tidak akan bisa. “Lagipula, jadi atau enggaknya hubuganku sama Gyan, aku yakin Gyan nggak ngerasa perlu kasih kabar atau minta izin ke kamu dan suamimu itu.” Aku akhiri dengan senyuman. Dia terlihat sangat marah, mengambil tasnya kasar dan berdiri. “Kamu nggak tau apa-apa soal aku dan masa lalu kami. Jadi tutup mulutmu itu, Dhara.” Lalu pergi meninggalkanku. Aku mengembuskan napas kasar. Aku menyadari sesuatu, dari kalimatku sendiri untuk Mega. Bahwa aku bukan dia. Benarkah? Atau justru sebenarnya … aku tidak berbeda dengan Mega? Sama-sama menyakiti Gyan, hanya mungkin caranya berbeda. Mega dengan menikahi papanya Gyan, aku dengan memenjarakan Gyan pada rasa kasihanku dan memanfaatkan kebaikan Gyan. Nini, kamu ternyata memang penjahat. Penjahat yang kemudian memaksa senyuman lebar, lambaian tangan, karena melihat kehadiran Gyan. Dia terlihat kebingungan menoleh sana-sini sambil membenarkan lengan kemejanya yang sudah tergulung di siku. Saat menemukanku, senyumannya lebar, dia juga melambaikan tangannya. Adegan yang tadi aku bayangkan benar-benar terjadi, kan? Mega, coba kamu lihat, bukan hanya hafal bagaimana postur tubuh Gyan, aku bahkan bisa prediksi apa yang akan dia lakukan. “Semangat banget mau ketemuan gue, Ra?” Aku memutar bola mata. Dia makin tergelak. Melihat bekas pesananku yang belum dirapikan oleh teman-temanku di sini. “Kangen menu di sini, ya, lo?” “Asliiiii. Apa kabar, Yan?” Dia mengangkat kedua tangannya, ekspresinya tengil banget. Aku mencibir. “Gaya banget lo mentang-mentang lagi kasmaran—wait, lo kenapa?” Wajahnya seketika berubah, tetapi kemudian dia memberiku senyuman lebar lagi. Tapi aku tahu perubahan ekspresi tadi ada ketika aku bilang dia kasmaran. “Lo sama Dinda baik-baik aja, kan?” “Itu kita bahas nanti, sekarang bahas soal Ibu dan nyokap gue aja.” Mereka … bertengkar kah?

My Forever Favorite Person

Bab 35

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Biarin di situ aja, Kak Mel. Nanti biar aku yang bawa ke belakang.” Kak Mel cemberut. “Ih aku kan bukan sakit, Ni, cuma hamil. Nyuci piring dikit doang ini, lho, bekas makan sendiri juga, kan” Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. “I knooow, tapi hati-hati ya geraknya. Aku memang belum pernah hamil, tapi sok tahunya aku bayangin itu agak tricky, jadi please, Kak Mel hati-hati, ponakanku dan mamanya harus baik-baik saja.” Kak Mel tergelak. “Siap, Aunty.” “Gimana ngurusin berkasnya?” “Ribet sih, karena ini pengalaman pertama aku dan Abang.” Ia tertawa geli, karena aku memberinya tatapan lelah. Tentu saja pertama, karena mereka sama-sama belum pernah menikah sebelumnya. “Kalau nikah secara agamanya, kan, prosesnya sama aja, ya, sama pernikahan pada umumnya. Cuma …” Ekspresinya seketika sedih, aku sepertinya tahu ke mana arah topiknya. “Katanya kalau … kalau hamil di luar pernikahan, ada beberapa konsekuensi nantinya.” Aku tidak tahu harus merespon bagaimana karena tidak punya kalimat penenang atau menyangkal ketakutannya. Kak Mel dan Abang jelas tahu apa yang mereka lakukan dan pikirkan, atau takutkan sekarang ini. “Maksudnya, kalau konsekuensinya buat aku dan Abang nggak pa-pa, karena kami yang salah. Tapi kalau buat dia?” lirihnya sambil menunduk, melihat perutnya. “Gimana kalau nanti waktu dia mau nikah dan nggak diwaliin bapaknya? Gimana perasaannya?” “Mungkin satu-satunya tindakan preventif yang bisa Kakak dan Abang lakuin adalah ajak dia ngobrol nanti kalau dia udah paham. Kasih pengertian sedikit demi sedikit. Mungkin dia bakalan ngerasa sedih di awal, atau ngerasa berbeda dari yang lain, tapi aku yakin dia akan paham dan nggak akan ngubah rasa sayang dia ke kalian.” Kak Mel mengangguk. “Aku dan Abang udah janji, akan nebus kesalahan kami, akan merawat dan membesarkan dia dengan baik, dan siap sama semua resikonya nanti. Thanks ya, Ni, udah jadi adik yang baik dan calon aunty yang penyayang.” Mataku berkaca-kaca. Hanya mendengar itu, aku merasa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keponakanku. Bagaimana pun prosesnya hadir ke dunia, dengan drama yang bagaimana, dia tetap bayi suci dan aku akan menyayanginya dengan sangat. “Kamu sama Gyan lagi ada masalah, ya, Dek?” “Hm?” Aku mendadak loading karena pergeseran topik yang begitu cepat dan aku tidak menyiapkan apa-apa. Maksudnya, semua bekalku sudah habis tadi malam ketika aku berusaha menjelaskan pada Ibu. Meski hanya; “Gyan sama Nini lagi ngalamin sesuatu, Bu, tapi kita coba buat perbaiki.” Hanya itu yang bisa aku temukan. Aku kira, dengan mengatakan itu, setidaknya Ibu sudah mendapat warning kalau-kalau hubunganku dan Gyan tidak berhasil—maksudnya, memang tidak, tapi kan Ibu tahunya kami baik-baik saja. Jadi, ketika nanti aku dan Gyan datang pada Ibu dan meminta maaf atas semuanya, Ibu tidak terlalu terkejut. Itu rencanaku. Tapi aku belum tahu banyak pendapat Gyan. Karena kami baru akan ngobrol lagi nanti malam, setelah dia pulang kerja. Kami janjian untuk ngobrol di kafenya. Aku menggaruk belakang kepala, meringis saat Kak Mel terlihat sangat menanti jawabanku. Dia pasti habis ngobrol dengan Ibu. Kalau melihat kalimatnya barusan, artinya pesanku pada Ibu tersampaikan dengan baik,. Ibu menganggap aku dan Gyan sedang bermasalah. Aku bahkan tidak tahu itu hal baik atau malah buruk. “Lagi ada sesuatu, Kak,” jawabku pada akhirnya, semampuku. Benar-benar hanya mampu sebesar itu. “Mau cerita kenapanya?” Aku terdiam sesaat. Menimbang-nimbang perlukah aku menceritakan semuanya pada Kak Mel? Aku tahu, mungkin inilah salah satu keuntungan memiliki kakak perempuan, yaitu bisa berbagi cerita dan perasaan sejujur-jujurnya. Karena mau bagaimana pun, hanya sesama perempuan yang bisa saling memahami satu sama lain, kan? Tapi, aku juga tahu kalau ceritaku terlalu pribadi, itu justru malah akan menjadikan hubungan kami tidak sebaik ini lagi. Ya Tuhan, tapi aku tidak punya pilihan. Aku butuh pendapat orang lain, perempuan khususnya—well, aku memang punya Emma, tetapi semua pendapatnya sudah membuatku masuk jurang alias dia benar. Semua yang dikatakan dan diasumsikan Emma adalah fakta dan aku kalah. Jadi, siapa tahu aku mendapat cahaya baru dari Kak Mel. “Kak Mel bisa jaga rahasiaku?” Aku tahu, yang aku katakan adalah kalimat terburuk sebagai pembukaan. Yang sudah pasti akan membuatnya kebingungan. Rahasia apa memangnya, Nini? Kamu pengedar narkoba kah? Ck! “Sori.” Aku meringis. “Jadi sebenernya, aku selama ini pembohong. Terutama ke Ibu dan Abang. Aku nggak pernah beneran nyoba jalin hubungan sama Gyan—please, dengerin aku dulu!” seruku ikutan panik karena melihat Kak Mel yang begitu syok. Tidak terbayang gimana respons Ibu. “O kay,” lirihnya, lalu mengembuskan napas sedikit kencang. “He’s NOT my type, Kak.” Aku memejamkan mata, lalu mengembuskan napas lelah. “He wasn’t,” lirihku lesu, karena sadar menceritaka ini sekarang artinya membuka luka penyesalan yang sudah mulai aku perbaiki sebetulnya, dengan cara mengenal Dinda yang baik hati dan memastikan Gyan-Dinda benar-benar bahagia dan cocok satu sama lain. “Dari dulu aku tuh nggak suka sama cowok yang sok hero gitu, lho, yang apa-apa ‘itu kan harusnya cewek, itu kan harusnya cowok’ gitu. Apalagi sejak ayah nggak ada, aku … nggak suka ide cowok nggak boleh nangis, karena aku udah liat sendiri gimana Abang terluka dan berdarah-darah buat kelihatan strong di depan semua orang. Padahal dia boleh sedih, marah, nangis, kan? Nah, Gyan tuh kebetulan kayak gitu.” Kak Mel mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Apa … aku berhenti di sini karena takutnya malah memberinya tekanan di saat dia saja sedang hamil? “Lanjutin, Ni, aku mau dengerin.” Well … dia sepertinya bisa membaca kekhawatiranku. “Mana ada di kamus Gyan tuh nangis di depan cewek, dibayarin cewek, dijemput cewek, sedih, pake warna cerah. Itu semua buat cewek. Sementara cowok itu ya provider, pokoknya subjek aja deh, selalu yang ngelakuin.” “Okay ….” “Aku ilfeel berat, aku anti banget sama yang kayak gitu.” “Kakak paham.” Aku mengangguk. “Nah karena Gyan juga ternyata memang nggak mau nikah katanya, aku ngerasa aman. Jadi, kita buat negosiasi, kerja sama buat orang tua kita. Kita iyain dan pura-pura jalanin, terus nanti bilang kalau hubungan kita nggak berhasil.” Aku melihat Kak Mel menutup mulutnya, dia pasti berpikir aku dan Gyan adalah dua manusia kejam. Aku tahu. “Selama itu kita jadi temen, bukan yang coba buat hubungan romantis. Aku jadi tau alesan dia kenapa jadi pribadi kayak gitu dan kenapa nggak mau nikah. Papanya jahat banget, Kak, didik Gyan bukan buat jadi manusia, tapi robot. Emang bukan soal kerja fisik, tapi soal emosi dia sebagai manusia.” “Ya Allah ….” “Selain patriarki level tinggi, papanya juga berengsek karena main perempuan, terus malah nikah sama pacarnya Gyan. Sinetron banget, ya?” Aku tertawa sementara Kak Mel tidak berhenti istighfar sambil mengelus-elus perutnya. “Makanya Gyan takut nikah, takut dia seberengsek papanya.” “Tapi dia bukan papanya.” “I know! Aku udah ribuan kali bilang ke dia kayak gitu. Gyan baik dan seru abis, aku suka temanan sama dia. Tapi ternyata … dia duluan yang suka sama aku.” “Ya Allah, Nini. Kisahnya rumit banget.” “Yes.” Aku meringis. “Dia bilang dia suka aku karena aku dan Ibu kasih pandangan berbeda tentang emosi, bikin dia mau lebih terbuka dan bikin dia mau jadi dirinya apa adanya, nggak sok-sok jadi sekuat baja. Tapi aku tolol banget, aku malah marah dan kecewa banget sama dia. Karena ngerasa dikhianati gitu temenan kita.” Aku tertawa, mencemooh diriku sendiri. “Tapi Gyan super super baikkkk, dia tetep mau bantu aku lewatin masa-masa kemarin.” “Maaf banget ya, Ni—” “No, no, hey, it’s okay! Dia nggak peduli sama perasaannya dan tetep mau baik ke aku, aku cuma bisa kasih dia perasaan kasihan. Menurutku begitu, sampai akhirnya aku ngerasa … Ya Allah, aku kok kayaknya mau kehilangan Gyan, yaaaa. Aku kok nggak siap, yaaa. Aku kira wajar perasaan itu karena kan kami temen, tapi … temen harusnya nggak cemburu, kan, Kak, kalau liat dia berhasil move on dan dapetin gebetan baru?” Kak Mel mengangguk. “Tapi aku cemburu. Aku sedih. Dan rasanya campur aduk, sesek, sedih, marah, nano-nano deh. Aku ngerasa jahat dan egois banget ke Gyan.” “Oh Nini.” Kak Mel bangun dari kursi dan berjalan menghampiriku, menarikku untuk bersandar di dadanya. “Kakak sedih banget dengernya, I’m sorry. Cinta datang terlambat emang nyakitin banget.” “Dulu aku sih yes banget kalau Gyan dapet cewek baru dan gampang bilangnya ke Ibu dan mamanya Gyan kalau kita nggak cocok. Sekarang, rasanya aku nggak siap bilang ke Ibu. bukan cuma takut ngecewain Ibu, tapi nggak siap juga buat diriku sendiri, karena artinya, hubunganku dan Gyan beneran berakhir.” “Kamu nggak coba bilang ke Gyan dulu perasaan? Siapa tahu belum terlambat.” “Dinda orang yang baik, Kak. Baikkkkk banget dan sama sekali nggak berhak perlakuin sejahat itu. Gyan juga kelihatan udah tertarik banget sama Dinda dan mereka cocok satu sama lain. Mereka keliatan happy.” Aku tertawa pelan. “Nggak pa-pa, aku akan tanggung jawab sendiri sama ini semua. Aku nggak mau rusak kebahagiaan orang.” “Kakak di sini kalau kamu butuh bantuan, ya, Ni.” “Thank you. Sebenernya aku butuh bantuan buat Kakak gantiin aku nanti ketemu sama Gyan. Karena aku ngerasa nggak sanggup.” Kami sama-sama tertawa. “Padahal Gyan ganteng, ya, Ni?” “Banget. Kalau liat dia ketawa tuh kayak nggak ada yang namanya sedih di dunia ini. Jenaka pollll. Baik banget lagi, perhatian, kalau sayang sama orang, effort-nya edaaaan.” Aku mendengar Kak Mel tertawa pelan. Kebodohanku ini memang layak ditertawakan. “Aku yang sok-sok keren ini, sekarang baru ngerasa nyesel. Ha ha.” “Semoga nanti dapet yang lebih baik lagi.” “Ada nggak ya, Kak?” “Hey, waktu keteu Gyan, pasti kamu ngerasa Gyan nggak lebih baik dari Angkasa, kan? Tapi ternyata?” Aku mengangguk dalam pelukannya. Kak Mel benar. Mungkin aku cuma perlu waktu sekali lagi untuk sembuh dari cinta tak terbalas kedua kalinya. Oh mungkin ini kasusnya berbeda. Bukan tidak terbalas, tetapi tak bisa terucap. Miris sekali. Zaman sudah secanggih ini, tetapi masih harus memendam perasaan. “Terus mau ketemu Gyan lagi kapan?” “Ya Allah, nanti malem lagi! Aku beneran nggak siaaapppp!”

My Forever Favorite Person

Bab 34

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku tidak tahu cemburu bisa semenyakitkan ini. Aku juga tidak tahu proses manusia jatuh cinta bisa setertutup ini atau mungkin aku yang memaksa diriku sendiri buta terhadap perasaanku. Semuanya jadi terkesan terlambat. Cintaku datang terlambat. Oh mungkin bukan cintanya, tapi kesadaranku untuk mengakuinya. Sekarang, melihat Dinda bolak-balik mengecek handphone dengan senyum di wajah, membuatku merasa kesulitan bernapas. Mungkin sedikit berlebihan, tetapi rasanya memang sesak dan aku takut mood-ku terpengaruh, lalu momenku bersama Dinda malah akan kacau. Kami jadi awkward, aku juga pasti akan merasa tidak enak dengan Gyan kalau sampai dia mengetahuinya nanti. Aku refleks nyengir lebar, ketika Dinda kembali mematikan layar handphone dan membalik posisi benda itu di atas meja, di sebelah coto makassarnya. “Urgent kah?” tanyaku pada akhirnya, berharap itu tindakan baik untuk memangkas kecanggungan di wajahku tadi. Dinda tertawa pelan sambil menggeleng. “Gyan nggak percaya gue makan kuah.” Kalimatnya membuatku mengerutkan kening. Bukan soal Gyan, tetapi aku lebih tertarik pada variabel keduanya, soal Dinda dan makanan kuah. Ia sepertinya sadar dan tawanya makin lepas. “Gue nggak suka makanan kuah, sebenernya.” “Terus gultik kemarin????” Oh no, jangan sampai— “I know, I know!” serunya sambil sibuk melambaikan tangan dan tertawa. “Itu gue penasaran banget karena Gyan nyeritain itu nggak abis-abis, demi apa pun. Dia muji gultik tempat lo itu seolah nggak ada lagi gultik di dunia ini.” “Astaga, Dindaaaa!” Aku kehabisan kata-kata juga tenaga. Aku menatapnya tajam dengan memicingkan mata, tapi sekaligus rasa bersalahku sudah menumpuk. Pundakku sampai lemas memandai mangkuk di hadapan kami. “Liat, ini mangkuk kita isinya kuah. How stupid I am!” Aku tertawa. “Soriiii, gue pede banget lagi tadi nawarin makan siang coto makassar. Gue kira lo bakalan suka soalnya kita abis makan gultik waktu itu.” “Hey, it’s okaaaayy!” Dinda terlihat bingung juga. “Serius, nggak pa-pa, ini bisa dinikmati. Gue bukan yang alergi atau anti banget, cuma memang preferensi makanan gue bukan berkuah-kuah.” Aku melongo. “Gimana sama makanan ternikmat duniawi kayak bakso?” Dia nyengir. “Gue lebih suka pesen mi ayam sih, kalau mau ya tambah bakso.” My jaw dropped. “Kalaupun kepepet beli bakso, gue racik sekentel mungkin, atau minta kuah dikit banget terus pakein saos dan kecap yang banyak.” Aku masih tidak tahu harus merespons seperti apa. Karena … dia pesan bakso kalau kepepet? Makan bakso kalau kepepet? Aku … kalau memang itu makanan sehat dan direkomendasikan oleh profesional kesehatan, sudah pasti aku makan setiap hari. Oh Dinda bukan hanya menarik Gyan dengan kecantikan, kebaikan, dan keceriaannya, tetapi dia memang unik. Sungguh manusia langka, in a good way. “Gue nggak masalah, Dhar, serius. Kan dari tadi juga kita makan rekomendasi gue, jadi ini gantian elo dong.” “Ya tapi bukan hal yang lo nggak suka dong, Din.” “Gue bisa makan!” belanya tak terima. Dia melotot sambil menunjuk mangkuk di depannya. “See? Tinggal sedikit lagi. Gue bisa, sekali lagi, cuma masalah mana yang lebih suka dari yang lain.” “Terus mi kuah gimana?” tanyaku mulai lemas. Dinda tertawa geli. “Gue lebih suka mi goreng.” Aku refleks menutup wajahku dengan lengan sambil menggeleng kepala. “Enggak, enggak, you’re not human, Din. Gue yakin lo alien entah dari mana.” “What???? Noooo!” Dinda tertawa kencang. “Kenapa siiiii orang-orang pada heboh? Mi goreng emang lebih oke dari mi kuah kaliiiiii. Respon lo sama persis kayak Gyan, no wonder kalian cocok temenan.” Ha! Aku ikut tertawa, tapi dalam hati tawaku berubah menjadi tawa miris. Kembali mengulang kalimatnya berkali-kali. No wonder aku cocok temenan dengan Gyan? Berteman dengan Gyan? Ha ha ha. Ya, memang berteman, apalagi, Ni, yang kamu harapkan keluar dari mulut Dinda? We are a match made in heaven, gitu? Tapi untung aktingku nggak buruk, nasibku sedang sangat baik, aku bisa mengimbangi obrolan Dinda, terutama tentang Gyan. Karena kalau di luar itu, aku dan Dinda sangat nyambung, jadi tidak perlu usaha yang gimana-gimana. Apalagi sampai menyebutnya dengan akting. Kami menikmati makanan dengan baik—yang satu ini aku tidak tahu, mungkin Dinda yang akting karena dia ternyata memang tidak terlalu suka makanan kuah, aku benar-benar merasa bersalah. “Terus rencana lo nanti kelar S2 mau gimana, Din?” tanyaku setelah berhasil memasang helm. Membantu Dinda yang ternyata sedang kesulitan dengan helmnya. Aku tidak bisa menahan tawa saat melihat kepalanya tertekan. “Ini helmnya kecil, atau kepala lo yang agak gede sih, Din.” “Anjir,” serunya, sambil tertawa juga. “Pala gue emang kayaknya kelebihan dikit deh. Ini emang paling males naik motor tuh ya soal helm, tapi kalau mau cari makanan bawa mobil tuh nggak bebas. Banyak hidden gem yang masuuuuuk ke gang gitu, daripada parkir jauh dan jalan kaki lama, kan?” “Betuulll. Tapi biar sehat tauuuuu, dan kadang seru juga jalan kaki.” Dinda tergelak. “Kayak yang pernah lo lakuin jalan kaki random sama Gyan, kan?” Ya Tuhan … dia pun tahu hal itu? Seberapa banyak Gyan menceritakan tentangku pada anak ini? Tidakkah ini mulai berlebihan? Tapi anehnya, kenapa Dinda mengatakan itu dengan santai dan seolah tidak ada tanda keberatan? Atau dia akting seolah dia biasa saja? “Dia bilang lo ngeluh tapi seneng. Katanya cewek susah dimengerti, hell! Cowok jauh lebih susah keleeessss.” “Setujuuuuuu! Mereka yang paling sulit dipahami, to be honest.” Dinda berhasil memasang helm dengan baik, tentu saja atas bantuanku juga. Lalu kami bersiap untuk kembali berkelana. Maksudnya, mencari masjid dulu untuk ibadah dan istirahat sejenak. Setelah menemukan masjid, kami langsung belok dan mencari tempat parkir motor. Lalu tiba-tiba Dinda bilang, “Rencananya gue abis wisuda ya mau daftar jadi dosen, pekerjaan impian bokap gue tuh. Kayaknya keluarga gue emang demennya ngajarin anak orang.” “Keren tauuuu! Mencerdaskan bangsa.” “Mencerdaskan sih mencerdaskan, tapi banyak tau hak dosen atau guru, pokoknya pengajar tuh kasian. Kerjaannya membantu membangun negeri, tapi gajinya kayak nggak menutupi. Lo liat, kan, di berita gitu suka ada guru honorer yang gajinya … ya Allah, dahlah nggak kuat nginget dan bahasnya.” Aku mengangguk, ikutan merasa galau tiba-tiba. Aaahh rasanya segar maksimal setelah membasuh wajah dengan air. Seolah mataku kembali terbuka lebar setelah tadi panas-panasan. Tapi ada kerjaan tambahan setelah ini, harus reapply sunscreen kalau tidak mau kulit wajah nanti gosong. Sinar matahari benar-benar tidak pernah bisa diajak negosiasi. Kebetulan aku selesai solat lebih dulu, sementara Dinda sepertinya melakukan sholat sunah tambahan. Jadi, aku memperhatikan sekitar. Lumayan ramai orang-orang yang ibadah di sini, terutama yang laki-laki tadi. Kalau perempuannya … ya lumayan juga. Mukenahnya pun tidak semengerikan yang kadang aku temukan di tempat ibadah umum. Aku kadang memilih membawa milik pribadi, kadang juga tidak, dan ini tadi nasibku beneran baik karena mukenahnya harum. Aku tersenyum ramah pada perempuan di sebelahku yang baru datang, wajahnya masih basah karena air wudhu. Lalu, mataku melihat tasku sendiri dan aku jadi gatal untuk mengecek handphone. Aku tadi tidak banyak cek handphone memang. Aku menemukan salah satu chat dari Gyan dan bingung untuk bereaksi. Haruskah ikut tertawa atau malah meringis? Gyan Cie yang makin akrab sama Dinda. Jangan lo rebut dia, Niii. nanti plot twist lo nggak mau sama gue cuma alesan aja, padahal lo ….🤪🤪🤪 Suka sesama jenis, kan, maksudnya? Ck, Gy, Gy, ini kalau memungkinkan, gue pasti langsung terbang dan nyamperin lo di kantor, terus bilang; “Gue masih punya kesempatan, kan?” Tapi yang mampu aku lakukan hanya membalasnya dengan satu emoji yang sama dengan yang dia kirim. Lalu, aku dan Dinda melanjutkan hunting makanan kami, kali ini memilih yang lucu dan manis-manis. Kadang rekomendasi Dinda, kadang aku, dan seringkali dari media sosial. Satu hal yang aku sadari, perut kami berdua kenapa bisa menampung makanan sebanyak itu, ya? Dan terlepas dari apa pun perasaan cemburuku pada Dinda dan Gyan, aku tetap sangat menikmati momenku bersama Dinda. Sudah lama aku tidak mencari teman baru, berkenalan dan saling mengenal. Yang aku tahu hanya Emma. Jadi, bertemu Dinda yang sama serunya membuatku sungguh happy. Tapi ternyata rumor itu benar, kalau harimu berjalan begitu baik dan mulus, kamu memang harus waspada, karena bisa saja ada kejutan yang tak mengenakan. Kejutanku adalah ini, saat turun ke bawah untuk makan malam bersama Ibu—Abang izin tidak pulang karena mau makan malam di rumah Kak Mel—dan diberi pertanyaan berupa; “Gyan apa kabar, Ni? Kok udah lama nggak main ke sini? Kalian baik-baik aja, kan?” Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

My Forever Favorite Person

Bab 33

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku mulai menyesali keputusanku untuk membawa mobil sendiri dan tidak memilih menggunakan jasa transportasi online. Karena sekarang pikiranku benar-benar sudah berantakan, ditambah melihat deretan kendaraan di depanku yang sama sekali tidak bergerak … kepalaku rasanya mendidih. Aku ingin berusaha tenang, berpikir positif bahwa chat Abang tadi tidak bermakna apa-apa. Mungkin Kak Mel hanya kelelahan dan Abang khawatir jadi memutuskan membawanya ke rumah sakit, memberi vitamin atau setidaknya pelayanan yang layak dari profesional. Semua akan lebih cepat dan aman jika dilakukan oleh ahlinya, bukan? Tapi, aku juga tidak bisa membohongi diri sendiri kalau aku ingin cepat sampai di sana, bagaimanapun caranya. Aku ingin mengajak Ibu keluar dari mobil dan terbang ke rumah sakit sekarang. Tapi semua itu hanya ada di kepalaku. Yang terjadi sebenarnya adalah aku tetap di kursi pengemudi, jariku menekan kuat setir, dan saat melirik Ibu di sebelah, dia benar-benar terdiam. Tatapannya ke depan, tanpa suara apa pun. Aku mau bertanya apa yang dia pikirkan dan rasakan, tetapi aku sendiri pun tak mampu bersuara dari mulut. Mulutku sungguh terkatup rapat. Aku cuma berharap Ibu tidak semakin membenci Abang dan Kak Mel, dan yang lebih parah malah akan semakin menyalahkan dirinya sendiri. Jangan, jangan lagi ke fase itu. Sembuhnya tidak mudah dan aku tidak sanggup melihat Ibu terluka di fase itu nanti. Tidak sanggup lagi setelah banyaknya hal terjadi di dalam hidupku akhir-akhir ini. Aku mohon ya, Tuhan, aku mohon. Bagaimanapun solusi yang dibutuhkan, aku akan berusaha mendapatkannya, dan tetap menggandeng tangan Ibu untuk menghadapi semua. Aku yakin aku masih bisa, asal jangan kembali ke fase terendah Ibu. Dunia sungguh ikut hancur jika Ibu terluka. Setelah merasa menemukan ide brilian untuk memutar lagu di radio mobil, aku memaksa diri untuk menyingkirkan semua pikiran negatif di kepalaku dan menggantinya dengan mengingat lirik lagu tersebut. “Matiin aja, Ni, Ibu nggak sanggup.” “Iya, Bu.” Tidak salah lagi, Ibu jelas sama kacaunya denganku. Bedanya, aku mungkin ingin kabur dari kalutnya pikiranku sendiri, tapi Ibu mau menikmati itu, diam dan mengikuti ke mana pikiran akan membawanya. Tapi alhamdulillah napasku lolos lega saat melihat kendaraan di depan mulai bergerak lagi. Terima kasih ya, Tuhan, semoga tidak ada lagi kemacetan di depan sana nanti, hingga kami sampai di rumah sakit. Setelah melewati perjalanan yang terasa sangat panjang dan melelahkan, aku akhirnya bisa memarkirkan mobilku di halaman parkir rumah sakit. Kemudian menuntun Ibu sedikit lebih cepat untuk menghampiri resepsionis dan menanyakan ruangan sesuai informasi Abang. Meski aku gugup bukan main selama perjalanan ke kamar Kak Mel, tapi aku sedikit lega karena kamar inap yang kami tuju menunjukkan bahwa Kak Mel baik-baik saja, kan? Oh napasku lolos lega, bahuku terasa kendur melihat Kak Mel terlentang di ranjang dengan sadar, dan sedang mengobrol pelan dengan Abang. Mereka menyadari kehadiran kami, sama-sama menoleh, dan Abang langsung berjalan menghampiri, menyalami Ibu dan memelukku singkat. “Gimana keadaannya, Mel?” tanya Ibu pelan, berdiri di sebelah ranjang, tangannya mengelus kepala Kak Mel. Kak Mel hanya mengangguk dan menangis lagi. “Aku … aku min—” “Iya, iyaa.” Suara Ibu terdengar bergetar, mengangguk-anggukkan kepala sambil terus mengelus kepala Kak Mel. “Sekarang nggak usah pikirin apa-apa dulu. Fokus sama kesembuhan kamu—” “Dan dia,” lirih Kak Mel sambil menatap dan mengelus perutnya sendiri. “Dia baik-baik aja, Bu.” “Alhamdulillah ya Allah.” Air mata Ibu akhirnya turun, dia menutup wajahnya beberapa detik, kemudian mengusap matanya dan tersenyum pada Kak Mel. “Maafin Ibu, ya, Mel. Harusnya nggak kasih kalian syarat sesusah itu. Ibu kecewa sama apa yang kalian perbuat, tapi Ibu lebih kecewa sama diri Ibu sendiri dan pengen makin kecewa kalau sesuatu terjadi sama kamu, Abang, dan cucu Ibu.” Kak Mel tidak mengatakan apa-apa, sudah tersedu-sedu sementara aku … terdiam mendengar semua kalimat Ibu. Jadi, selama perjalanan kami tadi ke sini—setelah aku bilang Ibu kalau Abang memintaku ke rumah sakit karena Kak Mel di sana—Ibu sungguh ada di fase menyalahkan dirinya sendiri. Tapi apa pun itu, aku bersyukur karena fase itu tidak lama dan mungkin sudah luruh kembali di ruangan ini. “Kita urus nanti apa pun syarat pernikahan kalian sesuai negara dan agama. Nggak usah takut dan malu di mata manusia, yang perlu kita lakuin adalah minta maaf sama Allah, malu di hadapan Dia.” Aku melirik Abang yang sedang mengusap matanya. Lalu menggerakkan tanganku untuk menepuk pundaknya pelan. Tak lama, orang tua Kak Mel datang dan saling bergantian memeluk Ibu, saling melempar kata maaf, dan dilanjutkan dengan obrolan yang hangat. Setidaknya, kami sudah kembali menjadi satu tim, satu keluarga, dan siap untuk menjalani hidup lebih baik lagi. Aku sadar tidak ada manusia yang sempurna, begitupun Ibu sebagai sosok orang tua. Jadi, apa pun kesalahan Ibu, Abang, Kak Mel, dan aku sebelumnya, semoga kami bisa menjadikannya sebagai pelajaran berharga dan siap menjadi pribadi yang lebih baik. Memang tidak semua luka bisa hilang beserta bekasnya, tetapi aku percaya, waktu mampu membuat kita terbiasa untuk merasakannya dan pada akhirnya akan menerima dan hidup dengan itu. Aku izin untuk keluar sebentar, ingin menghirup udara dan melihat-lihat sekitar, tetapi yang sebenarnya aku butuhkan adalah waktu sendiri dan kafein. Sekarang aku duduk sambil memegang cup kopi, yang kemudian handphone-ku bergetar. Aku buru-buru melihatnya karena khawatir ini tentang Kak Mel atau Ibu, tetapi yang aku temukan justru notifikasi follower baru di Instagram. Dinda. Akunku memang tidak aku kunci, jadi dia bisa mudah melihat isi Instagramku dan sekarang mengikuti, oh dia juga mengirimiku pesan. Dinda: Hai, Dhaaaarrr!!! It’s me, lol! Boleh kan follow lo di Ig? Me: Of course! Hahaha, pasti liat dari following Gyan, yaaa? Dinda: Valiiiidddd. Btw, lo suka hunting kuliner nggak siiii??? Me: Suka-suka ajaaaa. Whyyy? Dinda: Soalnya gue liat lo suka makan jugaa. Gue suka cari-cari makanan enak gituuu apalagi yang di dalem gang gang gituu. Seruu abiss. Mau kapan-kapan kita hunting bareng? Aku terpaku sejenak. Seharusnya tidak ada yang salah dengan tindakan Dinda dan semua kalimatnya ini. Dia memang ramah dan terlihat sangat baik, jadi ajakan ini sudah pasti tulus dan aku bisa merasakannya. Tapi, aku justru takut dengan diriku sendiri. Takut dengan perasaanku pada Dinda. Takut bagaimana aku memandang Dinda dengan berbeda. Benarkan aku aku mau berteman dengan Dinda? Atau karena aku merasa itu diperlukan demi Gyan? Apakah aku bisa menjamin aku tidak akan memberi Dinda energi negatif hanya karena perasaan cemburuku? Cemburu? Aku menggelengkan kepala, buru-buru mengetik balasan untuk Dinda. Me: Boleeeeeehh! Kaaapaaaan??? Dinda: Nanti gue kabarin yaaaaa. Kalau kita tukeran WA boleh ngggaaaak? Aku tersenyum. Me: Boleh dooong. Lalu mengiriminya nomor WhatsApp-ku. Aku seharusnya begitu bersyukur untuk banyak hal. Untuk Gyan yang tidak akan merasa tersakiti lagi atas perasaannya padaku. Untuk Gyan yang sudah berhasil bertemu dengan Dinda. Untuk Dinda yang ternyata adalah perempuan cantik, baik, dan menyenangkan. Untuk hubunganku dan Dinda yang tidak terasa aneh. Untuk Kak Mel dan bayinya yang baik-baik saja. Untuk Abang yang sudah bisa tersenyum lega. Untuk Ibu yang sudah menyingkirkan rasa kecewa dan bencinya pada Abang, Kak Mel dan dirinya sendiri. Untuk semuanya. Terlalu banyak kebaikan yang terjadi untukku beberapa hari ini dan rasanya aku terlalu buta kalau masih memiliki keinginan mengeluh. Yang paling penting untuk saat ini adalah semua sudah terkendali aman, perasaanku tidak terlalu penting. Bukan, aku bukan mengajarkan untuk tidak menghargai dan menyayangi diri sendiri, sama sekali tidak. Tapi, semua ini adalah pilihanku sendiri, termasuk salah satu resiko yang memang harus aku tanggung. Karena aku sendiri yang memilih untuk hanya menganggap Gyan sebagai teman dan cuma mampu memberinya rasa kasihan. Jadi, apa pun perubahan perasaanku sekarang padanya, di mana dia sudah berusaha move on dan terlihat sedang di perjalanannya, aku tidak seharusnya mengacaukan itu, kan? Hanya untuk egoku sendiri. Aku tidak mau membuat Gyan kesulitan, berkali-kali. Aku sungguh ingin melihatnya bahagia. Dia pantas mendapatkan itu.

My Forever Favorite Person

Bab 32

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Ni, Nini, sebentar, ini tolong kasih ke Abang. Orangnya ngapain sih di kamar mulu nggak keluar. Nggak takut lengket apa tuh kulit sama kasur.” Ibu mungkin marah-marah, tetapi aku justru senyum geli dan bahagia mendengarnya. Aku rindu sekali momen ini. Ibu marah ke Abang dan aku, artinya Ibu baik-baik saja, menganggap kami sungguh anaknya. Setelah drama Abang terjadi, Ibu bahkan seolah tidak menganggap ada Abang di rumah ini. Mau Abang makan di rumah, di luar, telat duduk di meja makan, Ibu akan tetap makan duluan atau mengajaknya. Tidak pernah komplain juga ketika Abang tidak keluar dari kamarnya sama sekali, atau hanya keluar saat butuh. Tapi sore ini sepertinya berbeda. Entah maksud Ibu apa kali ini dengan memberi Abang segelas di tengah kondisi marahnya, tetapi aku akan menganggap itu sebagai tanda kebaikan. Karena Ibu tidak mungkin, kan, tega meracuni Abang? “Ini apa sih, Bu?” “Kunyit asem, kesukaannya Abangmu itu, kamu kalau mau coba, ada di kulkas tadi.” “Hueeekkk,” jawabku spontan yang tentu mendapat cibiran dari Ibu. Aku buru-buru menaiki tangga dan berjalan cepat menuju kamar Abang. Dalam ketukan sekali, dia tidak bersuara, tapi aku mendengar suara dari dalam. Aku ketuk lagi, barulah dia mempersilakanku masuk. Ternyata Abang sedang menelepon seseorang, tapi entah kenapa terlihat sangat panik dan tidak tenang. Aku meletakkan gelas jamu itu di atas nakas samping kasur, lalu duduk di pinggir ranjang, memperhatikan Abang yang mondar-mandir. “Demi Allah, Mel, aku juga sama pusingnya sama kamu. Aku udah bilang kita jangan bebanin salah satunya, kita hadepin bareng-bareng—Mel! Aku khawatir sama kamu!” Mendengar teriakan itu tubuhku berjengit, apa aku harus keluar dari kamar ini sekarang? Atau tetap di sini jaga-jaga sesuatu yang buruk terjadi pada Abang—pada mereka. “Aku nggak ngerti di kondisi kayak gini kamu masih bisa mikir aku cuma peduli sama bayi itu, padahal kamu jelas tahu siapa prioritasku. Aku mau kalian berdua, secara utuh dan sehat, aku akan usahain sebaik mungkin. Kalau kamu nekat, kamu nggak cuma bunuh bayi itu, tapi kamu juga bisa aja bunuh diri ka—Mel, ya Allah, jangan kayak gini.” Ya Tuhan … Apa yang mereka sedang diperdebatkan? Apakah sama dengan yang ada di kepalaku saat ini? Aku sama gelisahnya dengan Abang yang sekarang sudah duduk di pinggiran ranjang, di depanku. Kedua sikunya di atas paha, dia menundukkan kepala masih dengan handphone di tangan kanan. “I love you. Nggak ada yang bilang aku akan milih ibu daripada kamu atau kamu daripada Ibu.” Ya Tuhan, Kak Mel … perdebatan mereka sampai di level itu? “Kalian berdua sama-sama perempuan yang aku sayang dan aku mau ada di hidupku. Kamu jelas tau kalian punya peran masing-masing, dan nggak bisa pilih satu buat gantiin peran satunya. Ibu cuma perlu waktu, kita perlu waktu.” Aku mungkin sama kecewanya dengan Ibu pada Abang, tetapi kali ini, aku setuju dengan semua kalimat Abang untuk Kak Mel. Tidak seharusnya ada kondisi harus memilih antara orang tua atau pasangan. Semua sudah memiliki perannya masing-masing. Kak Mel … aku ikut sedih membayangkan posisinya dan mungkin dia kehilangan arah, tak bisa berpikir jernih saking penuhnya kepalanya. Hingga dia bisa berpikiran hal itu. “....” “Aku tetep mau kamu dan bayi kita, Ibu juga tetap akan mau cucunya. Kita cuma perlu waktu dikit lagi, sabar dikit lagi, Sayang. Kamu butuh temen, aku tahu, so please, kasih tau aku kamu di mana, aku temenin di sana.” “...” “Nggak harus pulang sekarang, Mami dan Papimu ngggak marah, kamu nggak harus pulang sekarang, aku temenin di sana.” “...” “I promise. I love you, aku tunggu location-nya ya, Sayang. See you.” Aku mendengar napas lega Abang, kemudian dia mengurung wajahnya dengan kedua tangan beberapa detik, sebelum akhirnya menolehkan kepala untuk menatapku. “Gimana, Ni?” Aku menunjuk gelas jamu. “Dari Ibu. Abang nggak salah waktu bilang ke Ka Mel tadi kalau kalian cuma perlu sabar dikit lagi.” Aku melihat senyumannya keluar, lalu bergera maju untuk memeluknya. “Tadi Kak Mel, ya?” Kepalanya mengangguk. “Dia udah mau pulang?” “Belum, kayaknya dia masih takut sama ortunya, sama Ibu, sama semua. Tapi nggak pa-pa, dia mau hubungi aku dan tadi janji bakalan share location.” “Alhamdulillah, progress, Bang. Pelan-pelan.” “Iya. Kamu gimana? Are you okay?” Aku tertawa pelan, menganggukkan kepala. Aku juga tidak tahu kalau mau menjawab tidak baik, bagian mana yang tidak baik. Apakah karena tidurku yang kurang karena sibuk memikirkan nasibku dan Gyan? Sibuk menyesal dan semenit kemudian tidak. Atau bagian bahwa aku harusnya senang seperti kata Emma kalau Gyan benar-benar sudah bisa move on dan memiliki kekasih baru—well, sepertinya belum sejauh itu. “Gyan gimana?” “Nanti mau makan gultik depan.” “Ketagihan, uh?” Aku tergelak. “Bener.” “Atau cuma alesan aja bair ketemu terus kali.” “Ck!” Gantian Abang yang tertawa. “Abang seneng kamu udah bisa move on dari Angkasa atau Refal Hady itu, dan Gyan jauh lebih baik dari mereka. Ibu juga suka dia, dan kamu harus bersyukur karena kalaupun mau nikah besok sama Gyan, kamu bisa karena Ibu nggak kasih syarat konyol.” Kami sama-sama tertawa. Bedanya, mungkin abang menertawakan kisahnya, aku pun sama, menertawakan kisahku sendiri. Apanya yang nikah besok, justru nanti malam, aku akan menemani orang yang sedang PDKT makan gultik. Bagian menariknya, orang itu adalah Gyan. Gyan dan gebetan barunya. *** “Gue Dinda.” “Dhara.” “Wah nama kita mirip-mirip, sama-sama awalan D.” Dia tertawa, menoleh pada Gyan, yang laki-laki itu berikan padaku adalah ekspresi ‘see? I told you’. Sekarang aku paham kenapa Gyan menyukai Dinda. She is beautiful and nice. Nasib kami sepertinya memang baik, karena berhasil mendapatkan duduk untuk kami bertiga di tengah keramaian taman jajan ini. Aku juga tidak melihat Dinda kesulitan atau tak nyaman, jadi asumsiku dia terbiasa makan di tempat ramai. Itu poin penting karena suasa tidak akan awkward ke depannya. Sekarang, kami sedang menunggu pesanan datang sambil ngobrol santai. “Tapi gue masih ngerasa aneh dan lucu tau, Dhar.” Dinda tertawa, menggelengkan kepala sebelum menyedot minuman dari gelas. “Maksudnya, kisah kalian tuh kayak fiksi, harusnya kalian akan saling jatuh cinta, eventually. Tapi karena ini dunia nyata, jadi ya nggak seindah itu.” Bersamaan dengan kalimat Dinda, aku melirik dan laki-laki tertawa, terlihat menikmati mendengarkan cerita Dinda. Jadi aku merasa lega, kami akan menganggap perasaan Gyan untukku seolah tak pernah ada—lega kah aku? “Jatuh cinta, kan, nggak gampang, Din,” jawabku sambil tertawa juga. “Agreeeed!” serunya. “Nggak peduli ya tuh orang mau ganteng atau cantik kayak apa pun, kadang ya klik atau cinta nggak dateng segampang itu.” Aku menyetujui kalimatnya. “Gue lega aja sih, Dhar, bisa temenan sama lo gini dan nggak ada drama.” “Of course!” Aku tersenyum lebar, lalu menatap Gyan. “Gue bahkan sama Gyan dari awal udah clear kok karena menghindari drama juga. Tapi mungkin nanti lo akan terlibat sedikit sih ke drama gue dan Gyan.” Aku meringis. “Misalnya, waktu nanti kalian udah fix, terus gue bilang ke nyokap, mungkin dia akan butuh statement langsung dari Gyan. Sori kalau nanti misal lo terlibat.” “Santaiiii.” Dinda mengibaskan tangannya. “Gue pasti bantuin nanti.” “Thanks, Din.” “Waaah makanan kita dateeeng!” Gyan akhirnya bersuara, menyambut bapak-bapak penjual yang mengantarkan pesanan kami bergantian. “Makasih, ya, Pak. Ini tadi belum dikasih sambel, kan?” “Belum, Mas. Sambelnya dikasih masing-masing, sebentar, ya.” “Iya nggak pa-pa, Pak. Soalnya dia nggak terlalu suka pedes.” Tak lama, Gyan menerima mangkuk sambal dari Bapak penjual dan kembali mengucapkan terima kasih. Kalimatnya tadi membuatku tersenyum karena Gyan masih ingat—dia menyodorkan mangkuk sambel untukku. “Oh astaga, lupa! Lo juga nggak terlalu suka pedes.” Aku tertawa. Dalam hati menertawakan diriku sendiri. Jadi, ‘dia’ yang dia maksud tadi adalah Dinda yang tidak terlalu suka pedas? Wah, Dinda benar, dan bukan hanya kita memiliki awalan huruf yang sama untuk nama, tetapi kita juga memiliki kemiripan lain soal selera makan. “Makan pedes emang nggak baik kalau berlebihan, Dhar.” Dinda tertawa. “Kita satu tim.” “Setuju.” Aku tertawa. “Gyan,” panggilku pelan sambil melirik Gyan dengan songong. “I’m sorry, tapi lo harus tau kan ada istilah ‘women support women’ di sini?” Gyan tergelak, dia mengangkat kedua tangannya. “I know, girls! Janji nggak akan neko-neko. Jangan bikin seolah-olah ini perdebatan dua istri gitu dong, Ni.” Aku melotot, dia makin tergelak. Jadi, sekarang benar-benar ada detail-detail lain yang harus lo ingat selain tentang gue ya, Gy? Atau mungkin, detail tentang gue beneran udah lo hapus dari list?

My Forever Favorite Person

Bab 31

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Kalau menurut KBBI, ‘cie’ adalah kata seru untuk memuji atau menggoda seseorang sampai dia tersipu-sipu. Tapi aku pribadi, apalagi untuk kondisi sekarang, lebih memilih masuk ke tim yang bilang ‘cie’ merupakan kepanjangan dari Cause I’m Envy. Aku mencoba menjelaskan kenapa. Pertama, aku reply story Instagram Gyan dengan kata ‘cie’ jelas bukan bermaksud memuji atau menggodanya agar dia tersipu. Ya karena memang tidak sesuai konteks. Story Gyan isinya adalah hasil repost dari story Dinda—perempuan yang dikenalkan ke Gyan oleh temannya itu. Isinya memang bukan mereka, tapi ini justru terasa semakin nyata. Dalam story itu, video beberapa detik, objeknya adalah radio mobil yang sedang memainkan lagu I Found You dari Benny Blanco. Sekali lagi, I Found You dari Benny Blanco. Yang kedua, situasi hubungan kami yang memang mendukung sekali akan nasib burukku ini. Aku menuruti saran Emma—walaupun sekarang agak menyesal karena mungkin itu ide yang buruk—untuk mengambil jeda dari Gyan. fokus terhadap diriku sendiri dan mencari apa yang sebenarnya aku mau untuk hubungan kami. Awalnya semua terasa masih seperti keyakinanku. Aku masih bisa menertawakan kekonyolan ide dan asumsi Emma akan perasaanku pada Gyan. Aku menjalani hari dengan baik bersama Ibu dan Abang. Ya walaupun hubungan Abang dan Ibu belum bisa kembali seperti semula, tapi setidaknya, Ibu tidak terlalu kentara menghindari Abang. Ibu terlihat kembali mau mengakui keberadaan Abang di rumah. Lalu, hubunganku dan Gyan pun masih baik-baik saja. Meski kami tidak bertemu secara langsung karena aku selalu ada alasan kegiatan apa pun, tapi kami masih bertukar pesan, sesekali telepon membahas Ibu, Abang, Alex dan kerjaannya. Apa pun. Bahkan di telepon pun, Gyan menceritakan tentang Dinda dan aku tentu saja menjawabnya dengan sangat baik, memberi saran sebagaimana teman seharusnya. Ditambah, dengan adanya Dinda, seharusnya aku akan aman dan terbebas dari keharusan menjalin hubungan bersama Gyan. Tak perlu mati-matian mencari alasan untuk Ibu dan Tante Anita tentang gagalnya usahaku dan Gyan. Tapi, ternyata rasanya berbeda ketika melihat sendiri—meski masih lewat handphone, apalagi nanti kalau langsung?—Gyan bersama Dinda. Story hanya radio, atau bayangan postur, atau hanya tanga, atau apa pun kemisteriusan yang terjadi dalam momen PDKT, itu terasa sangat menantang dan pasti menyenangkan. Itu kenapa, mungkin dampaknya di aku adalah tamparan. Yang masih tidak bisa aku temukan dari diriku sendiri adalah … kenapa aku perlu merasa tertinggal dan terkhianati di sini? Padahal jelas, aku dan Gyan tidak dalam hubungan romantis. Aku meminta Gyan melupakan perasaannya padaku. Itu sama saja dengan mengizinkan dia mencari yang baru, bukan? Tapi kenapa? Kenapa aku menjadi sangat egois di sini sementara hari-hari biasanya, aku sibuk berkoar kalau Gyan bukan tipe lelaki yang akan aku jadikan teman seumur hidup. Seolah keseluruhan Gyan adalah red flag yang harus aku hindari. Nyatanya, aku sendiri yang demikian. Atau lebih kejamnya lagi, ternyata perasaanku ini bukan karena aku menyukai Gyan, tetapi karena perasaan sombong dan tidak rela kalau dia berhenti menyukaiku? Berpindah ke perempuan lain? Aku tidak ingin rasa kasihanku ke Gyan di awal malah berubah menjadi perasaan antagonis yang ingin mengekangnya dalam hidupku begini. Ya Tuhan, aku tidak sejahat itu, kan? Seen just know. Mataku melotot melihat status reply-anku tadi ke story Gyan, dan sekarang dia sudah typing. Jantungku mulai berdegup kencang menanti apa balasannya. Kalau dia tertawa, berarti fix, dia mengiyakan atau memberi clue kalau dia dan Dinda beneran mulai berhasil satu sama lain. Gyan: Cie tuh kepanjangan coz i’m envy lho, Ni. tau kan? Lol Aku tertawa. Dia ada di tim bersamaku ternyata. Aku buru-buru Googling mencari informasi dari KBBI yang bilang CIE artinya memuji atau menggoda orang lain, lalu mengirimkannya pada Gyan. Gyan; HAHAHA. Masa iyaaa artinya berubah gitu? Me: komplen sono. First date ke mana tuuhhh??? Gyan: bukan first date sih sebenernya. Night ride doang, sambil drive thru makanan dan minum. Orangnya demen ngobrol dan nggak rame gitu, kayak lo. Jadi aku tidak sespesial itu, ya, Gy? Karena banyak orang sepertiku dan semuanya bisa kamu dapatkan dengan mudah, dan kamu menjalani dengan begitu gampang padahal kita night ride juga belum lama-lama banget. Dasar laki-laki. Me: oyaaa??? Seru banget past orangnyaaaa. Gyan: she is! banyak insight baru soal budaya korea gue tiba-tiba hahaha. Tentang makeup di sana, budaya di sana. Anaknya kalau suka sesuatu, dalem banget nguliknya, saluuuuttt. Aku mencibir layar handphone. Bukannya memang semua orang akan begitu? Ketika kita menyukai sesuatu, maka kita akan memberi fokus lebih pada hal itu. Jadi, bukan cuma Dinda aja, kan? Gyan pun sama. Aku, kamu, dan kita semua. Aku yakin. Aku mengembuskan napas, mencoba tidak menghancurkan kebahagiaannya sekarang. Dia terlihat sedang berbunga dan seolah baru bertemu dengan orang yang sefrekuensi atau setidaknya, yang seru untuk dia. Jadi, sebagai temannya, aku seharusnya ikut senang. Seharusnya. Me: terus lo ngenalin ke dia apa dooooong? Gyan: elo hahaha. Aku termenung sejenak. Belum sempat mengetik balasan satu kata pun, Gyan sudah typing lagi dan aku lebih memilih untuk menunggu lanjutan darinya ketimbang buru-buru mengetik balasan. Aku ingin lihat lebih banyak penjelasannya. Gyan: gue bilang sih ke dia tentang kita kecuali soal perasaan gue ke elo ya hahaha, daripada nanti dia tau dari orang dan malah aneh. Gue udah siap kalau dia emang masalahin itu. Tapi dia aman banget anaknya, Ra. dia paham dan malah pengen main bareng sama lo. Gue bilang ke dia kalau lo seru banget dan pasti bisa temenan sama dia. Aku? Seru banget? Bisa temenan dengan Dinda? Yang adalah PDKT-an Gyan? Aku sudah mau mengetik, tapi gagal karena tidak menemukan satu kata pun untuk membalas kalimat panjangnya itu. Apa yang harus aku kirim ke Gyan? Ucapan selamat? Sanggahan akan pernyataannya tentang aku akan menjadi teman yang seru untuk Dinda? Atau … atau apa? Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya sepelan mungkin. Lalu memejamkan mata beberapa detik untuk menenangkan diri. Kalau aku tidak mau menjadi orang jahat, kalau aku sungguh-sungguh kasihan dengan Gyan, kalau aku memang tidak ingin Gyan semakin terluka, seharusnya aku tahu apa yang aku lakukan, hanya ada dua hal; membalas perasaannya atau membiarkan dia mencari kebahagiaan lain. Jadi, aku memutuskan untuk memberinya ucapan selamat. Me: gue happy banget baca cerita lo ini, Gy! Finally, congraaatttsssss! Boleh banget Dinda kalau mau temenan sama gue hahaha. Nanti kita main bertigaaa. Gyan: yoiiiii. Gue pastiin kan ke dia, masalah ga karena gue punya temen cewek (elo maksudnya) dan dia nggak pa-pa. Me: she is really coooollll! Gyan: hahaha. Lo gimana? Sibuk bener kayaknya sekarang? Nggak kangen sama gue lo? Kabar Abang sama Ibu gimanaaa?? Gue pengen gultik tempat lo itu deh, Ni. Mungkin aku sedang PMS, mungkin mood-ku sedang tidak baik-baik saja. Karena membaca deretan kalimat Gyan itu justru membuatku merasa sedih, terharu dan entah kenapa merasa bersalah juga takut kehilangan. Orang sebaik itu, memang seharusnya mendapatkan hal baik dan kebahagiaan, kan? Bukan malah terjebak bersamaku dengan drama hidupku. Semoga keputusanku ini benar. Semoga aku tidak akan menyesalinya. Jadi, biarkan masalah Abang dan Ibu menjadi urusanku, karena memang mereka keluargaku. Gyan sudah lebih dari cukup membantuku melewati ini, menemanki menjalani sehingga rasanya tidak terlalu berat karena aku merasa aku tidak sendirian. Gyan membelikanku makanan enak, mengajakku main, menghiburku dengan pertengkaran kami, apa pun. Usahanya sudah lebih dari yang mampu aku minta. Me: ajak Dinda siniiii makan gultikkkk, gue traktir. Gyan: demen banget traktir orang sihhhh lo gemesss. Yaudah nanti gue kabari Dindanya bisanya kapan yaaa. Tapi lo beneran nggak pa-pa sama Dinda? Me: ya ga papa dooong, Gyaaan. Plisss deh. Gyan: hahaha ok mantaapppp! Masamu bersama Gyan mungkin sudah berakhir, Ni. Walaupun kalian masih berteman, tetapi rasanya dan faktanya nanti akan beda saat dia dan Dinda beneran sudah jadi pasangan.

My Forever Favorite Person

Bab 30

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Haaaaaah!” desah Emma panjang dan tidak terdengar seperti sahabat yang punya semangat dan excitement untuk bertemu dengan sahabatnya. Aku sudah siap untuk menutup kembali pintu rumahku, dan dia buru-buru menahannya sambil bilang. “Jangan kambuh deh gelo-nya.” Aku membuka pintu rumah lebar-lebar, mempersilakan dia masuk. Perkenalkan, dia Emma, sahabatku yang sudah terasa saudara—yang mungkin bahkan tahu hal-hal yang membuatku malu atau takut untuk cerita pada Ibu dan Abang—dan manusia aneh ini tak pernah berubah. Setidaknya, sampai saat ini. Dia menginap di rumahku, rumah sahabatnya sendiri, yang dia bisa dengan mudah memakai barang-barangku kalau dia mau—tentu aku mengizinkannya. Tapi tidak bagi Emma, dia membawa semuanya sendiri. Dulu aku mungkin akan tersinggung saat awal-awal kami kenal, tetapi aku sudah memahaminya, jadi kalaupun kesal aku biasanya langsung konfrontasi. Aku tidak yakin dia mau menginap di sini lebih dari semalam, karena dia harus kerja walaupun bisa saja kerja dari rumahku. Tapi dia membawa tas sebesar bawaanku yang akan liburan beberapa hari. Padahal, dia tidak perlu membawa apa-apa kecuali barang pribadi seperti gosok gigi yang tidak mungkin bergantian, dan celana dalam. Untuk baju, dia bisa memakai punyaku, skincare basic pun kami sama. Sabun? Tidak masalah, kan, pakai punyaku? Tapi sudahlah, ini Emma. Dia akhirnya menyusulku duduk di atas kasur setelah meletakkan tasnya di sofa dekat jendela kamarku itu. “Gimana ini, saayyy? Apa yang terjadi?” Aku tertawa mendengar pertanyaannya. To the point sekali. “Lo nggak pengen kita Gofood atau nonton atau—” “Itu bisa nanti atau kapan kek, sekarang lebih penting masalah lo nggak sih? Yakin bakalan selesai dalam itungan jam gue di sini? Besok gue balik, ya?” “Pulang kerja ke sini aja, sih.” “Pala lo.” Aku meringis. “Buruan, Niniiiiii!” “Okay.” Aku mengembuskan napas kasar, berharap aku bisa memberi tahu Emma semuanya tanpa perlu menjelaskan apa pun. Membayangkannya saja sudah lelah. Tapi kami manusia biasa, cuma komunikasi yang bisa membuat kami memahami satu sama lain. Jadi, mari kumpulkan tenaga sebanyak mungkin lewat tarikan napas. “Info dulu, tadi gue makan gultik sama dia di taman jajan depan tuh, yang waktu itu gue pernah ajak lo.” “Yang gue mau dikenalin sama anaknya bapak-bapak yang lagi makan di sana?” “Ya itu pacar lo sekarang, ya!” Emma terbahak. Memang benar, manusia bertemu pasangan dengan berbagai cara. Contohnya ya Emma ini. Kami sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba ada satu pelanggan juga, bapak-bapak yang menghampiri kami dan mengajak ngobrol. Ujungnya, dia bertanya apakah Emma sudah punya kekasih atau belum. Karena kami dua manusia single, maka Emma mengiyakan. PDKT mereka sih cukup lama, tapi happy ending, kok. Cuma, sekarang agak berbeda karena mereka harus menjalani hubungan LDR. “Terus, terus? Apa cepetan lanjut.” Emma memasang wajah sangat serius. “Yaudah, tadi sih berjalan lancar. Maksudnya, ya lo tau Gyan jago bawa suasana seru. Walaupun dia udah confess perasaannya, tapi bisa kok nggak canggung.” Aku mulai ragu untuk menceritakan kejadian sebelum makan gultik, di taman Ibu depan rumah. “Ng … mungkin lo akan marah sih ini, Emm.” Aku melihat keningnya berkerut. “Iya gue tau gue jahat atau apa yaaaa, mungkin kesannya gue permainin dia, keep dia tapi nggak kasih kepastian apa-apa, tapi kalang kabut kalau dia keliatan mau pergi.” “Ni?” “I kissed him.” “WHAT?” matanya melotot heboh, sudah bisa diprediksi. Emma sampai berdiri di atas kasur, membuang muka, mondar-mandir terlihat gelisah. Lihat, kan? Dia yang tidak menjalaninya saja stres, gimana tadi aku nggak kalang kabut? “Were you out of your mind, Ni?” “I know,” lirihku, tak punya pembelaan apa pun. Karena kalau aku tanya dengan diriku sendiri pun, aku juga tidak punya jawabannya. Aku tidak tahu kenapa aku mencium Gyan, aku hanya … mungkin terbawa suasana? Entahlah. “Elo jahat banget, Ni,” nilai Emma pelan. Ia sudah kembali duduk di depanku, menatapku dengan sedih. Gue tahu, Emm, gue tahu. “Inget yang gue bilang waktu itu, kan? Lo bisa aja kejebak sama rasa kasihan. Dan beneran. Lo pasti nggak mau dia jauh, tapi lo nggak bisa kasih dia cinta, tapi lo juga kasihan sama dia. Complicated banget.” Hening. Aku tak punya bantahan apa pun untuk Emma, sementara Emma mungkin sudah tak menemukan kata-kata yang pas untuk diucapkan. Tapi aku menikmati diam ini, setidaknya untuk berpikir sebentar apa kemauanku sebenar— “Tapi lo bisa aja kok bebasin dia, Ni,” ucapnya pelan. “Dengan Gyan punya hidup baru, lo bisa bebas semuanya sebenernya. Pertama, lo nggak akan disalahin sama Ibu dan nyokapnya Gyan, toh emang kalian nggak bisa bareng. Kedua, lo nggak perlu ngerasa bersalah sama perasaan Gyan lagi, kan? Toh dia mau coba hidup baru. Ya paling sisanya, kita urus Ibu dan Abang lo atau kita cari cowok baru yang OKE buat lo, supaya Ibu nggak galau-galau amat, karena dapet pengganti.” Aku diam, memperhatikan Emma. “Iya, kan?” tanyanya memastikan. “Iya,” lirihku, kebingungan. Seharusnya memang iya. Semua yang dikatakan Emma adalah skenario terbaik dan paling aman untuk kami semua. Tapi, anehnya aku sedikit tidak rela Gyan secepat itu mau mencoba memindahkan hatinya. Sementara dia belum lama bilang menyukainya, dan siap untuk membantuku menghadapi semua ini. Kalau dia kenalan dengan perempuan baru, apakah dia masih akan bersamaku? Bagaimana kalau perempuan itu tidak rela dan Gyan lebih memilih dia? Maka aku akan sendirian. Lagi. Aku akan sendirian menghadapi masalah Ibu-Abang-Kak Mel. Tidak ada yang memberi senyuman manis, rangkulan hangat, hiburan lewat kalimat-kalimat random-nya, dan tingkahnya. Semuanya. Tidak akan ada lagi yang aku jaili soal dirinya yang suka ngaco tentang menggabungkan variabel dalam satu kalimat. “Ya kecuali lo emang udah ada rasa ke Gyan, tapi terlalu gengsi dan keras kepala buat ngaku.” “What?!” Aku tertawa geli, mendorong tubuh Emma sampai dia oleng. “Edyaaan, jangan aneh-aneh kalau ngomong deh, Emm. Lo tahu pasti gimana selera gue dan kenapa gue nggak mau sama Gyan. Lo sendiri juga yang bilang perasaan gue ke dia pasti cuma kasihan karena dia suka gue dan gue nggak bisa bales.” “Iyaaaaa,” ucapnya panjang. “Tapi ini dia udah ada niat buat move on dan coba buat deket sama cewek lain. Berarti harusnya rasa kasihan lo bisa sembuh dong? Tapi kok masih tetep galau berat, Sis? Kenapa tuh? Kok kayaknya nggak mau lepasin Gyan nih?” Ya Tuhan. Mungkin ideku mengajak Emma menginap adalah sebuah kesalahan. Karena terlihat jelas dia ada di pihak siapa. Aku menatapnya tajam, Emma membalasnya dengan tak kalah tajam. “Gini, deh!” katanya. “Lo coba ambil waktu dulu, jangan ketemuan sama Gyan. Lo throwback deh tuh, pikirin baik-baik sebenernya perasaan lo ke dia gimana. Kalau emang lo tetep nggak mau sama dia, harusnya hasilnya sama; lo akan seneng dan izinin dia deket sama cewek lain. Dan kalian masih bisa temenan kayak sekarang. Nggak malah lo kasih watermark dengan cium dia.” Aku meringis. “Tapi, kalau ternyata bukan itu perasaannya, dan lo masih denial-denial kayak gini, yaudah fix lo suka balik, tapi bebal aja, jadi jangan nangis begitu lo sadar dan nyesel nanti, Gyan udah bisa seratus persen move on dan jalin hubungan sama cewek baru itu.” Terdengar seperti ancaman mengerikan. Sepertinya, keduanya pun sama-sama tidak baik hasilnya. Aku … tidak yakin dengan apa pun kesimpulan dari semua ini. Terlebih, aku tidak yakin untuk mengambil jarak dengan Gyan karena … apa yang akan aku katakan padanya? Meminta waktu untuk apa? Toh kami baik-baik saja. Bahkan setelah menciumnya, kami masih bisa haha-hihi. Kalau aku meminta waktu, dia malah akan curiga dan berpikir aneh-aneh. Terlebih lagi, aku ngeri kalau dia berpikir perasaannya terbalas, dan ternyata nanti hasilnya tidak, lalu aku akan semakin merasa bersalah. Aku memegang kepalaku karena rasanya benar-benar pening. “Masalah orang dewasa emang banyak dan ngeselin, ya, Ni?” Emma dengan tawa menyebalkan. “Ditambah, masalah modelan begini nggak bisa dibantu pihak luar, gue cuma perlu ngasih arahan dikit, yang ngerasain ya lo doang. Good luck!” “Lo happy, ya, Emm? Lo dukung siapa?” Dia memutar bola mata. “Lo mau makan apa? Gue pesenin. Mikir banyak pingsan nanti lo.” Aku bahkan tidak ingat kalau aku harus makan.

My Forever Favorite Person

Bab 29

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku tahu hubunganku dan Gyan setelah ini mungkin tidak akan sama lagi. Jangankan untuk sama, menghadapi hari ini pun rasanya sudah stressful untuk kami berdua—minimal, yang sudah bisa aku pastikan dari pihakku sendiri. Setelah adegan tak senonoh yang aku buat itu, kami tak mengucapkan sepatah kata pun. Tentu aku tahu dan sangat memahami Gyan pasti tidak menemukan apa yang harus dia katakan atau lakukan, karena pure, dia di sini adalah korban. Dia tidak tahu apa-apa. Seharusnya aku yang menyelesaikannya, mengubah suasana yang awkward tadi menjadi normal kembali. Tapi aku belum sepandai itu, nasibku di sini belum sebaik itu, yang hanya mampu aku ucapkan alih-alih maaf dengan kalimat panjang yang manis dan menjanjikan, aku malah bilang, “Sori, sori, gue bersih-bersih badan dulu.” Nini, kamu beneran jahat sekali. Lalu sekarang, setelah aku selesai membersihkan diri, mengganti pakaian dengan yang bersih, santai, dan harum, memoles sedikit liptint agar tidak terlalu pucat, menyemprot parfum, aku turun kembali, dan berjalan keluar rumah. Di sana, aku masih melihat Gyan duduk di tempat kami tadi. Masih sama di posisinya juga, tak bergeser sedikit pun, sepertinya. Yang sedikit berubah, dia menyerongkan tubuh, memandangi tumbuhan Ibu, dan mungkin tak menyadari kehadiranku di sini. Dia … melamun selama itu? Tanpa bantuan distraksi dari handphone atau apa? Apa yang dia pikirkan? Apakah dia marah dan menyesali apa yang terjadi tadi? Apa sekarang perspektifnya tentang aku sudah berubah 180 derajat? Apa di matanya sekarang, aku bukan lagi Nini atau Dhara yang menyenangkan, ceria, baik, dan apa pun pujian membahagiakan yang selalu dia berikan, tapi berubah menjadi perempuan gila yang tiba-tiba menciumnya, tanpa memikirkan perasaannya. “Hei, udah beres?” Aku terkesiap saat tiba-tiba dia menoleh dan menemukanku, lalu bertanya lebih dulu dengan wajah jenaka seolah … tidak ada yang terjadi di antara kami hitungan menit tadi—aku yakin belum ada satu jam, karena aku tadi mandi tidak selama itu. Aku hanya mampu membalasnya dengan senyuman lebar dan anggukan kepala. Kalau Gyan saja bisa menghadapi ini seolah tidak ada hal buruk yang barusan terjadi, maka seharusnya ini lebih mudah. Ketakutanku di awal tadi kalau kami tidak akan bisa sama lagi mungkin tak perlu lagi ada di kepalaku. He’s the best. Dia benar-benar mewujudkan ucapannya, untuk tidak menempatkanku pada posisi sulit atau tidak nyaman akan perasaannya. Bahkan untuk kondisi yang akulah sebagai pelakunya. I’m sorry, Gy. Sorry banget. Aku juga terlalu cupu untuk mengatakan itu langsung di depan wajahnya. “Gue izin bersih-bersih dikit doang, ya, Ni, mau sholat ashar.” “Masya Allah.” Aku tertawa geli. “Siapa sangka.” Dia berjalan melewatiku sambil menoyor kepalaku pelan. Aku membawanya ke kamar kosong yang biasanya dipakai kalau ada saudara menginap, memberitahu Gyan ke mana arah kiblat, sekaligus menawarinya pakaian bersih milik Abang yang tentu dia tolak. “Jangan lupa titip tambahan doa buat Abang dan Ibu ya, Gy?” Dia tertawa pelan, memberi jempolnya. “Nggak jamin dikabulin, ya, gue kadang insecure duluan kalau mau minta-minta sama Allah tau, Ni.” Gyan tergelak sendiri. “Tapi nggak pa-pa, sebejat apa pun hidup, harus inget sama yang ngasih napas, kita rayu Allah dulu. Tutup pintu, please?” “Gue mau liat lo solat masa nggak boleh?” “Itu kurang ajar namanya nggak sih?” Tawanya lepas. “Nanti doa gue ketauan dong.” “Dalam hati lah!” Dia tertawa. “Emang mau doa apa sih, Gy? Rahasia banget.” “Kan yang boleh tahu cuma kita sama Tuhan aja, masa dikasih tau ke manusia lain. Hush sanaa!” Aku memutar bola mata. Tetapi kali ini benar-benar memberi Gyan ruang untuk dirinya sendiri. Aku yakin, kita semua tahu urusan manusia dengan Tuhan itu sungguh tidak bisa dinilai dengan parameter yang ada. Kalau dipikir-pikir, kadang ada orang yang dilihat dari kacamata moral itu banyak menyimpang, di sisi lain, dia juga melakukan banyak kebaikan dan melakukan kewajibannya pada Tuhannya. Sambil menunggu Gyan selesai ibadah—yang sepertinya lumayan lama mengingat sholatku bisa cepat. Aku kadang merasa sudah berusaha khusyuk, tenang, dan tidak terburu-buru, tapi Ibu bilang aku cepat sekali solatnya. Sepertinya aku harus meminta tips dari Gyan biar bisa tenang dan lumayan lama. Aku duduk di sofa ruang keluarga, kirim chat untuk Abang dan bertanya harinya, dia cuma bilang doakan aja, nanti Abang cerita. Okay kalau begitu, sekarang aku chat Ibu dan bilang kalau aku mau beli gultik di depan dan bertanya apakah nanti dia mau itu untuk makan malam. Ibu cepat-cepat menjawab; Ibu nginep, Ni, ini tadi bablas ke Sentul. Kamu kala takut di rumah sendirian, misal Abangmu nggak pulang, minta temenin Gyan aja ya. Gyan aja, ya? Kenapa tidak ada Emma di sana? Ibu tahu Emma sahabatku. Daripada bersama Gyan yang mengundah hal-hal buruk mungkin saja terjadi, bukankah lebih aman bersama Emma? Lagipula, sudah lama juga aku tidak menginap bersama Emma. Jadi, aku mengabari Abang dan bertanya nanti malam dia pulang atau tidak. Tebak jawabannya? Kayaknya nggak, minta Emma nemenin kamu dulu ya. Aku mengembuskan napas dan mengirim screenshot chat Abang ke Emma. Jaga-jaga kalau manusia itu tidak percaya. Belum sempat melihat balasan Emma, aku melihat Gyan berjalan mendekatiku dan mengambil duduk di sofa yang berbeda. “Khusyuk bener, Pak?” Dia tertawa. “Lama, ya? Kan, lo nitip doanya banyak bener, Ra.” “Oiya! Thank you, udah didoain anak baik, anak soleh.” Dia memutar bola mata, sambil terkekeh pelan. “Tapi katanya, doa anak broken home cepet dikabulin sih, semoga aja, ya.” “Kata siapaaa????” Kami sama-sama tertawa kencang. Yang ada katanya doa anak yatim, bukan? Berarti doaku, dong? Tapi buktinya, banyak permintaanku yang belum dikabulkan. Nah, kalau ngomongin soal doa yang dikabulkan dan tidak, malah akan membawa pikiran kita ke arah buruk, seolah Allah tidak mau mengabulkan doa hambaNya. Padahal, ilmu kita cetek, dan mungkin cara kerjanya tidak selalu sama plek dengan yang kita mau. Karena kita cenderung itung-itungan dengan permintaan yang belum terwujud, tetapi seketika lupa ingatan pada kebaikan dan kebahagiaan yang datang pada hidup. “Lo tadi nggak percaya, kan, waktu gue bilang hidup Ibu lebih seru, Yan?” Alisnya mengerut, aku menyeringai. “Dia barusan WA, katanya malah ke Sentul sama temen-temennya dan mau nginep. See?” Gyan tertawa. “Okay, bener seru. Alhamdulillah sih, ya, semoga makin bahagia nyokap lo, makin terbuka lebar pintu maafnya buat Abang.” “Aamiiinn! Mau keluar sekarang atau nanti aja abis magrib sekalian, Gy?” “Bebas sih gue mah, lo mau kapan?” “Lo tuh beneran nggak dicariin nyokap lo ya kalau pun nggak pulang?” Gyan tergelak. “Kayak anak linglung, ya?” “Enggak gitu, please?” “Dicariin lah kalau seharian nggak ada kabar, tapi kalau udah tau mau ke mana, ya enggak sih. Nyokap orangnya santai dan dia percaya gue.” Aku mengangguk-angguk. Perbincangan kami selesai karena handphone Gyan berdering. Aku tidak tahu siapa peneleponnya, tapi wajahnya terlihat tidak senang? Entahlah aku tidak terlalu yakin. Dia meletakkan kembali benda itu di atas meja dan menatapku, tapi handphone-nya berdenting. Kali ini mungkin chat. “Kenapa, Gy? Urgent kah? Kalau mau balik nggak pa-pa, lho.” “Bukan, bukan.” Ekspresinya terlihat sangat gusar, dia kenapa? “Ini temen kantor, gue nggak nyaman sih.” “Tanya kerjaan?” Dia tidak nyaman karena mungkin karena dia pun sedang di luar jam kerja atau gimana? Kepalanya menggeleng. “Lo pernah nggak mau dikenalin sama temen lo gitu?” Aku mengernyitkan kening. “Maksud lo, temen gue ngenalin gue ke temen cowok dia?” Melihat kepalanya mengangguk, aku jadi bingung. Di sisi lain mau tertawa, tapi di sisi lain merasa aneh dengan situasi ini. “Belum sih, dikenalin Ibu sama anak temennya pernah.” Gyan berdecak, aku tertawa. “Bukan kita, yang lain maksudnya, Dhara.” “Belum, belum,” jawabku sambil tertawa geli. “Lo mau dijodohin sama temen lo?” “Iya, gue udah bilang gue belum siap buat berhubungan apa kek itu namanya. Tapi dia kekeh dan malah bilang gue demen laki.” Selalu, selalu begitu tuduhannya. “Terus sekarang ceweknya udah follow IG gue.” Gyan meringis. “Lo suka sama orangnya?” Tatapan Gyan seolah ‘menurut lo?’. “Gue nggak kenal orangnya, Ra.” “Fotonya? Maksudnya, dia tipe lo bukan?” “Gue nggak bisa sih bilang tipe dari foto.” “Cantik atau nggak menurut lo?” “Cantik.” Bahkan jawabannya pun tak perlu dipikir sedetik, dia menjawab langsung dengan nada yakin. “Yaudah coba aja nggak sih?” “Menurut lo gitu?” Aku mengangguk. Memperhatikan Gyan yang sedang fokus mengotak-atik handphone-nya, lalu tiba-tiba melihat dia tertawa pelan. “Lo ngapain, Gy?” “Ha?” Dia menunjukkan layar handphone sekilas yang aku tak sempat melihat apa pun. “Dia ngirim video tolol gitu, kayaknya anaknya random banget humornya. Bagus sih, biar nggak awkward kalaupun nanti nggak jadi.” Aku tertawa, mengangguk. Lalu ikut-ikutan sibuk memainkan handphone milikku. Yang aku lakukan adalah membuka WhatsApp, chat room aku dan Emma. Aku tidak peduli balasan Emma tadi apa, karena aku langsung mengetik: Me: Gyan lagi PDKT sama cewek lain! Kenapa gue ngerasa diselingkuhiiiiiiiiin! Aku tahu aku egois, sangat egois bahkan di saat aku sendiri tidak tahu bagaimana dengan perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak ingin hidup selamanya dengan Gyan mengingat bagaimana prinsip hidupnya atau didikan yang dia dapat dari papanya. Tapi, tahu kalau Gyan mau kenalan dengan perempuan baru, apalagi dia mengakui perempuan itu cantik dan ‘lucu’, membuat aku merasa tak terima. Kenapa aku tidak terima? Kenapa aku menjadi sangat jahat dan egois begini? Nini, wake up! Emma: Aduh drama baru nih. Gue nginep deh Oh, tadi jawaban Emma adalah dia tidak mau menginap di rumahku, tidak bisa. Ternyata. Jadi, harus ada drama dulu di hidup gue baru lo mau nginep di rumah gue ya, Emm? Aku akan mencubit pahanya kencang begitu dia sampai nanti. Tapi sekarang, aku sedang melirik Gyan, dan laki-laki itu sedang nyengir pada layar handphone-nya. Dia mungkin sudah mulai tidak waras, Ni, santai saja.

My Forever Favorite Person