Login Daftar - Gratis

Episode 1 : The Chosen One

Di publikasikan 12 Oct 2026 oleh ryuuichi

Ruangan itu remang-remang, diterangi cahaya biru tua dari layar-layar hologram yang menampilkan berbagai riset senjata perang modern. Ada model senapan beramunisi listrik yang memancarkan sinar laser setiap kali pelatuknya ditarik, robot militer berlapis baja seberat empat puluh kilogram dengan kode seri “B-40T”, serta rekaman berita dari sepuluh tahun lalu. Dalam rekaman itu, robot raksasa berkaki dua menghancurkan bangunan sipil, lalu menembakkan laser ke arah reporter hingga siaran terputus. Di antara tayangan tersebut, terpampang pula foto seorang ilmuwan jenius yang dinyatakan meninggal akibat bunuh diri dengan pistol kaliber 9 mm. Hex bersandar di kursi rodanya sambil mengamati layar-layar di hadapannya. Pena elektrik berputar-putar di tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengusap dagu. Dahinya berkerut. Ia berusaha memeras otak, berharap menemukan ide cemerlang untuk memecahkan masalah yang sejak tadi mengganggunya. Di belakang kursinya terletak senapan hasil rakitannya. Setelah meneliti berbagai model senjata perang modern, ia berhasil menciptakan senapan runduk berlapis baja dengan aksen emas pada popor dan badan senjata. Amunisinya berupa batu permata kuning yang memancarkan kilau seperti laser setiap kali pelatuk ditarik. Senapan itu berbeda dari senjata modern beramunisi tabung listrik yang hanya menghasilkan sinar biru. “Tuan Hex, bisakah Anda beristirahat sejenak? Anda sudah duduk di depan layar hologram cukup lama. Kemarilah, nikmati teh yang saya siapkan untuk Anda,” ujar robot asistennya. Ia duduk anggun di kursi kecil, di samping meja kayu tempat dua cangkir teh telah disiapkan. Robot itu satu-satunya sosok yang menemani kesunyian Hex. Sejak kakaknya pergi memenuhi panggilan dari sebuah korporasi yang mengelola kompleks laboratorium raksasa di wilayah timur, robot itu selalu berada di sisinya. Rambut pirang berkilau, gaun putih, dan bando senada membuatnya tampak anggun seperti seorang bangsawati. Robot itu merupakan warisan kakak Hex, yang terobsesi pada segala sesuatu yang mewah dan elegan—sama seperti dirinya, yang selalu tampil rapi dengan jas laboratorium putih dan rambut pirang bergaya koma. Tak salah lagi, robot itu merupakan replika dirinya. Hex sering bertanya-tanya mengapa robot asistennya tidak ikut terkorupsi, sementara robot-robot lain di seluruh dunia mengalaminya. Apakah korupsi itu hanya menyerang robot perang? Ia teringat pernah melihat robot dengan seri yang sama seperti milik kakaknya dalam salah satu siaran berita. Setiap robot asisten memiliki kode seri berawalan “A”, seperti “A-10” untuk Assistant generasi kesepuluh. Sementara itu, robot perang menggunakan awalan “B”, singkatan dari Battle. Hex memutar kursi rodanya hingga menghadap meja kecil, lalu mendorong kedua rodanya ke depan untuk menghampiri sang asisten. Aroma teh melati yang harum menarik Hex keluar dari lamunannya. Setiap tegukan teh hangat memberinya sedikit ketenangan. Robot itu tersenyum tipis saat melihatnya menikmati teh. “Anda menyukainya, Tuan?” “Ya. Aku tetap terlihat keren saat minum teh, kan?” celetuk Hex sambil memutar cangkirnya. Robot itu tertawa kecil, lalu menyesap tehnya. “Menurutmu, kakakku bakal senang melihat senapan yang kubuat ini? Aku sudah bekerja keras untuk menyempurnakannya.” Robot itu tersenyum. “Tentu saja, Tuan. Kakak Anda pasti akan bangga.” Hex ikut tersenyum sambil memandangi senapan runduknya yang berkilau. Robot itu mengikuti arah pandangnya. Sejak perang berkecamuk, Hex lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Rumah mereka berada di dalam kompleks yang termasuk zona lingkar militer timur. Kedua orang tua Hex adalah ilmuwan ternama di wilayah itu. Berdasarkan perjanjian kerja sama militer yang memberikan perlindungan kepada para ilmuwan, rumah tersebut ditetapkan sebagai zona aman selama orang tuanya bekerja. Namun, kedua orang tuanya kemudian dinyatakan meninggal setelah operasi militer dari pihak barat mengepung dan menghancurkan laboratorium timur tempat mereka bekerja. Sejak saat itu, Hex semakin kesepian, meskipun robot asistennya selalu menemaninya. Hex berencana meninggalkan rumah dan berkelana bersama robotnya untuk menemui Tatsuya, pendiri Nexon Corporation. Perusahaan itu mengadakan program bagi calon ilmuwan masa depan, termasuk Hex, dan menjanjikan perlindungan serta ruang riset yang lebih luas. Janji itulah yang mendorong Hex untuk menyempurnakan senapan runduknya. Hex meneguk sisa tehnya. Sang robot membawa kedua cangkir ke wastafel dapur, sementara Hex kembali ke meja dan melanjutkan riset. Tiba-tiba, seluruh rumah berguncang hebat. Robot itu terjatuh dan kedua cangkir yang dibawanya pecah menghantam lantai. Dentuman keras terdengar di kejauhan, disusul sirene yang meraung-raung. Para tentara patroli berteriak, memerintahkan seluruh penghuni kompleks untuk mengungsi ke bungker yang telah disediakan. Robot itu segera bergegas kembali ke kamar untuk membantu Hex mengungsi. Namun, setibanya di sana, ia mendapati Hex berdiri tegak dengan sepasang kaki prostetik berlapis baja. Cahaya oranye menyala di sela-sela rangkanya, dengan lingkaran bercahaya di dekat tumit dan lutut. Robot itu menutup mulutnya, matanya membelalak tak percaya melihat Hex berdiri sendiri. Sejak kecil, Hex mengalami kelumpuhan dan selalu menggunakan kursi roda. Dalam program pelatihannya, ia mengembangkan kaki prostetik bertenaga surya untuk meningkatkan kecepatan berjalannya. Ia juga menambahkan pendorong roket pada bagian tumit dan lutut agar dapat melompat jauh. “Nielle, bawa senapan runduk itu. Kita akan pergi jauh dari sini!” Nielle segera mengambil senapan runduk itu, lalu menyusul Hex yang sudah berjalan lebih dulu. Senapan seberat tiga puluh kilogram tersebut terasa ringan baginya—beban yang mungkin sulit dibawa manusia biasa dalam waktu lama. Hex membuka pintu rumah. Di luar, orang-orang berlarian menuju bungker, sementara kawanan robot terkorupsi mengejar mereka. Berbeda dengan Nielle yang berwujud manusia, robot-robot itu menyerupai tengkorak berlapis baja. Cahaya merah menyala dari mata dan sela-sela kerangka tubuh mereka. Korupsi telah merusak sistem hologram yang biasanya membuat mereka tampak seperti manusia; pada beberapa robot, sisa proyeksi itu masih terlihat samar. Hex mengangkat tangan dan membentuk jari-jarinya seperti sedang menembak. Ia mengarahkannya ke senapan runduk, lalu mengayunkan tangannya ke atas seolah menarik pelatuk. Senapan itu langsung bersinar terang. Bagian-bagiannya bergeser dan merenggang, seakan sedang mengaktifkan mekanisme tersembunyi. “NIELLE! AKTIFKAN SENAPANNYA, LALU TEMBAKI ROBOT-ROBOT ITU!” Nielle tertinggal beberapa langkah di belakang. Ia terkejut melihat senapan yang dibawanya berubah bentuk, terlebih ketika mendengar teriakan Hex yang menyuruhnya menembak. Ia panik. Seumur hidupnya, ia belum pernah mengoperasikan senjata. Ia juga tak yakin apakah kode seri “A” pada dirinya membatasi kemampuannya untuk menjalankan tugas yang biasanya dilakukan robot seri “B”. Nielle terpaku di tempat, menggenggam senapan berat itu sambil menghadapi kawanan robot terkorupsi yang jumlahnya tak terhitung.

Metropocalypse

CHAPTER 7

Di publikasikan 06 Oct 2026 oleh _didiable

Di seberang meja kaca dalam ruangan kerja Pak Gunawan, Efendi, kuasa hukum andalannya, sedang memeriksa salinan dokumen yang sempat ditunjukkan Grace pada sidang pertama. Wajah Efendi tampak tegang, kontras dengan Pak Gunawan yang masih berusaha mempertahankan keangkuhannya. "Perempuan itu... Grace Jasmine, dia bukan pengacara sembarangan," ujar Efendi sambil meletakkan berkas. "Dia memegang manifes audit internal yang seharusnya sudah kita bereskan. Kalau dokumen itu sah di mata hakim, tuduhan penggelapan yang kita timpakan ke Kevin bisa berbalik." Pak Gunawan menggebrak meja. "Saya tidak mau tahu, Efendi! Tugas saya bayar mahal kamu adalah untuk menang. Cari celah! Gimana pun caranya." Efendi memperbaiki letak kacamata hitamnya, tersenyum tipis. "Tenang, Pak Gunawan. Di sidang kedua besok, kita akan langsung menyerang kredibilitas bukti mereka sebelum mereka sempat menjelaskannya. Kita buat hakim meragukan asal-usul dokumen itu. Jika bukti Grace ditolak, Kevin tidak punya dasar untuk membela diri." --- Hari yang ditunggu tiba. Suasana ruangan di sidang ke dua  sedingin es. Ketukan palu Hakim Ketua menandai dibukanya persidangan yang akan menjadi penentu nasib Kevin Anggara. Begitu hakim memberikan kesempatan kepada pihak tergugat, Efendi langsung berdiri sambil merapikan letak toganya. "Yang Mulia Majelis Hakim," buka Efendi dengan suara berat yang sengaja dikeraskan. "Sebelum melangkah lebih jauh, kami memohon agar Majelis Hakim menolak dan mengesampingkan seluruh alat bukti elektronik yang diajukan oleh Kuasa Hukum Penggugat pada persidangan lalu. Kami menduga kuat bahwa dokumen audit internal tersebut diperoleh secara ilegal melalui peretasan sistem, atau bahkan merupakan hasil manipulasi digital demi menyudutkan klien kami, Pak Gunawan." Efendi menoleh ke arah Grace, melempar senyum sinis. "Berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, alat bukti elektronik hanya sah jika diperoleh dengan cara yang sah dan dijamin autentisitasnya. Dokumen yang dibawa Saudari Grace ini cacat hukum, unlawful evidence, dan harus dinyatakan tidak dapat diterima!" Pak Gunawan di kursi tergugat mmicingkan bibirnya angkuh. Hakim Ketua beralih menatap pihak penggugat. "Bagaimana tanggapan Kuasa Hukum Penggugat atas keberatan ini?" Grace Jasmine berdiri dengan tenang. Tidak ada keraguan di wajahnya. Ia merapikan beberapa lembar kertas di mejanya sebelum melangkah maju ke tengah ruang sidang. "Terima kasih, Yang Mulia," ucap Grace, suaranya tenang namun memiliki penekanan yang tegas. "Keberatan dari Rekan Efendi sangat bisa dipahami, namun sayangnya keliru dan tidak berdasar. Kami sama sekali tidak melakukan peretasan ataupun manipulasi." Grace membuka sebuah map biru dan mengeluarkan lembaran laporan teknis. "Perlu kami luruskan, klien kami, Kevin Anggara, sebelum dinonaktifkan secara sepihak, menjabat sebagai Manajer Keuangan senior yang memiliki hak akses legal dan sah ke dalam backup server keuangan perusahaan. Dokumen audit ini diunduh secara resmi dalam masa aktif jabatan beliau, jauh sebelum aksesnya diputus." Efendi langsung memotong tanpa menunggu izin hakim. "Keberatan, Yang Mulia! Mengunduh data internal perusahaan untuk kepentingan pribadi di luar operasional tetap merupakan pelanggaran privasi data dan penyalahgunaan wewenang!" "Saya belum selesai berbicara, Rekan Efendi," potong Grace cepat dengan nada dingin yang langsung membungkam lawannya. "Yang Mulia, demi membuktikan integritas alat bukti ini, kami tidak hanya membawa salinan cetak. Kami membawa kode verifikasi digital SHA-256 dari berkas asli server bersama dengan laporan audit dari Ahli Forensik Digital Independen terakreditasi." Grace berjalan mendekati meja Majelis Hakim, menyerahkan dokumen tersebut sembari melanjutkan argumennya. "Sesuai dengan Pasal 5 dan Pasal 6 UU ITE, informasi elektronik dinyatakan sah selama dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kami telah menyertakan chain of custody atau rantai alur bukti yang tidak terputus. Ahli kami siap bersaksi bahwa metadata dalam berkas ini mencatat aliran dana sebesar 5 miliar rupiah ditransfer dari rekening operasional Pratama Group langsung ke rekening PT Artha Global, sebuah perusahaan cangkang yang seluruh sahamnya, berdasarkan data Kemenkumham yang kami lampirkan, dimiliki secara mutlak oleh Saudara Gunawan." Grace berbalik, menatap langsung ke mata Efendi yang mulai khawatir. "Jadi, ini bukan manipulasi. Ini adalah rekam jejak digital yang tidak bisa dihapus. Sifat bukti ini inkontestabel—tidak dapat dibantah. Klien saya tidak menggelapkan uang, dia justru dijebak karena menolak menjadi bagian dari korupsi ini." Efendi terpaku, matanya beralih ke berkas di tangan hakim. Ia menoleh ke arah Pak Gunawan, memberikan gelengan kepala kecil sebagai tanda bahwa pembelaan mereka gagal. Pak Gunawan yang tadinya bersandar angkuh, kini memajukan badannya dengan wajah pucat. Hakim Ketua mengetuk palu satu kali. "Keberatan Tergugat ditolak. Majelis Hakim menyatakan alat bukti elektronik Penggugat sah dan dapat diterima. Sidang kami skors selama satu jam untuk menyusun putusan akhir." Ketukan palu hakim menandai skors satu jam. Suasana ruang sidang seketika berubah menjadi riuh rendah oleh bisikan para pengunjung. Di dalam ruangan yang sama, dua kubu terpisah menunjukkan pemandangan yang sama-sama serius. Di meja tergugat, kekesalan tidak dapat disembunyikan dari wajah Pak Gunawan. Keringat dingin bercucuran hingga membasahi leher kemeja mahalnya. "Efendi! Apa-apaan ini?!" bisik Pak Gunawan dengan suara bergetar yang penuh tekanan. "Kamu bilang bukti mereka lemah dan bisa membatalkan dokumen itu!" "Pak Gunawan, tenang dulu! Anda tidak bilang kalau mereka memegang nilai hash SHA-256 dan chain of custody yang seketat itu! Kalau sudah forensik digital independen yang bicara, hakim tidak akan percaya bualan kita soal peretasan!" Jawab Effendi dengan nada gusar. "Saya tidak mau tahu!" sergah Gunawan, matanya melotot panik. "Lakukan sesuatu! Sogok saksi ahlinya, atau buat skenario lain. Kalau sampai aliran dana ke perusahaan cangkang itu dibahas, saya bisa busuk di penjara!" Efendi menggelengkan kepala, wajahnya tampak frustrasi. "Sudah terlambat, Pak. Buktinya sudah masuk dan disahkan hakim. Kalau saya terus menekan, saya bisa ikut terseret pasal merintangi penyidikan, obstruction of justice. Sekarang pilihan kita hanya dua, pasrah menerima putusan atau bersiap mengajukan banding dengan risiko hukuman yang bisa jadi lebih berat." Mendengar itu, lutut Pak Gunawan terasa lemas. Ia terduduk di kursinya, menatap kosong ke lantai ruang sidang, yang tiba-tiba saja membuat hatinya merasa sempit. Sementara itu, di meja penggugat, Kevin Anggara mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Tangannya yang sempat gemetar kini mulai santai. Ia menoleh ke arah Grace yang sedang merapikan berkas-berkas dengan ekspresi wajah yang tenang, seolah semua ini hanyalah hari biasa di kantor. "Mbak Grace..." panggil Kevin, suaranya agak serak. "Saya sempat berpikir kita akan kalah saat Efendi membawa-bawa UU ITE." Grace menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Kevin sambil tersenyum tipis. "Efendi hanya menggunakan taktik klasik,  menakut-nakuti dengan jargon hukum untuk menutupi kelemahan kliennya. Tapi dalam hukum modern, sains dan validitas data digital tidak bisa dibantah dengan retorika kosong." Kevin tersenyum kecil, ada rasa lega yang luar biasa menjalar di dadanya. "Apakah ini berarti... semuanya akan selesai hari ini?" Grace mengangguk dengan pasti, menepuk lengan kevin dengan lembut. Kevin merasakan kehangatan dari tepukan lembut Grace. Ia tersenyum menatap langit-langit ruang sidang. Beban berat yang menghimpit pundaknya selama ini perlahan-lahan mulai hilang. -- Pintu ruang sidang kembali dibuka. Majelis Hakim memasuki ruangan dengan langkah tegap, membetulkan letak kacamatanya, memegang berkas tebal berlogo Garuda, lalu duduk dan mengetukkan palu sidang. Tok! Tok! Tok! "Skors dicabut. Sidang perkara pidana dan perselisihan hubungan kerja atas nama Kevin Anggara dinyatakan dilanjutkan dan terbuka untuk umum," ujar Hakim Ketua dengan suara berat yang menggema di setiap sudut ruangan. Hakim Ketua melirik ke arah Kevin, lalu ke arah Pak Gunawan yang kini duduk dengan gusar. "Menimbang seluruh fakta persidangan, keterangan saksi ahli forensik digital, serta keabsahan alat bukti elektronik yang diajukan oleh Kuasa Hukum Penggugat, Majelis Hakim telah mencapai keputusan bulat. Kepada Terdakwa Tergugat, Saudara Gunawan, dan Penggugat, Saudara Kevin Anggara, dimohon untuk berdiri mendengarkan amar putusan." Kevin berdiri dengan tegap. Di seberang mereka, Pak Gunawan bangkit berdiri dengan bertumpu lemas pada meja, wajahnya pucat. Hakim Ketua mulai membacakan teks putusan dengan tegas: "MENGADILI:" "Menyatakan Terdakwa Kevin Anggara Tidak Tebukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan sebagaimana yang didakwakan oleh pihak Pratama Group." "Membebaskan Terdakwa Kevin Anggara dari segala dakwaan hukum serta memerintahkan kepada pihak perusahaan untuk memulihkan harkat, martabat, dan nama baik Terdakwa pada keadaan semula." "Menyatakan Saudara Gunawan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Sumpah Palsu dan Keterangan Palsu sebagaimana diatur dalam Pasal 242 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, serta tindak pidana Pengaduan Fitnah sebagaimana diatur dalam Pasal 317 KUHP." "Menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada Saudara Gunawan selama LimamTahun Penjara dikurangi masa penahanan yang telah dijalani, serta membebankan seluruh biaya perkara kepada Terdakwa." Tok! Ketukan palu hakim itu bagaikan petir di siang bolong bagi Pak Gunawan. Pria paruh baya itu langsung terduduk lemas di kursinya, matanya kosong tak percaya. Efendi di sebelahnya hanya bisa menepuk bahu kliennya tanpa sepatah kata pun, rencana mereka telah hancur total. Dua petugas kepolisian yang berjaga di dalam ruang sidang mendekati Pak Gunawan. Suara gemerincing borgol besi mengunci pergelangan tangan Pak Gunawan. "Mari ikut kami, Pak," ujar salah satu petugas dengan tegas sambil menarik pelan lengan Pak Gunawan yang kini tertunduk malu. Di sisi lain ruang sidang, Kevin memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata keharuan setitik menetes dari ujung matanya, lalu menoleh ke arah Grace Jasmine. "Terima kasih, Mbak Grace" bisik Kevin dengan suara bergetar menahan tangis lega. Grace tersenyum bangga dan menjabat tangan Kevin dengan erat. "Ini bukan sepenuhnya karena saya juga, Pak Kevin. Ini karena Pak Kevin memilih untuk bertahan pada kebenaran. Keadilan mungkin datang terlambat, tapi ia tidak pernah lupa jalannya. Seperti air yang selalu mencari tempat terendah, keadilan akan selalu menemukan jalannya kembali ke tempat yang semestinya."

Graces's Cases

CHAPTER 6

Di publikasikan 02 Oct 2026 oleh _didiable

Aroma kayu tua bercampur wangi karbol pembersih lantai tercium dari dalam Ruang Sidang Pengadilan. Di atas meja majelis hakim, tumpukan berkas perkara bersampul merah tertata rapi. Di sisi kiri ruang sidang, Kevin Anggara duduk dengan punggung tegak, tangannya dingin. Grace duduk disampingnya dengan tenang dan percaya diri. Ia memilah lembar demi lembar dokumen bukti tertulis yang telah diberi tanda. Di meja pihak Tergugat, Pak Gunawan sedang berbisik santai dengan tim pengacaranya yang dipimpin oleh Efendi, seorang advokat senior dari Arman Atmaja Law Firm. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang, wajahnya dipasang seangkuh mungkin, berkali-kali melirik jam tangan kronograf emasnya seolah keberadaannya di ruang sidang ini hanyalah buang-buang waktu yang berharga. "Efendi," bisik Pak Gunawan, suaranya mendadak serak, menyenggol lengan pengacaranya. "Kenapa pengacaranya Grace Jasmine? Kamu bilang bocah itu cuma pakai pengacara publik gratisan?" Efendi ikut menoleh. Alisnya bertaut rapat. Ekspresi santainya luruh seketika, berubah tegang. "Tenang, Pak Gunawan. Di berkas gugatan awal yang masuk, tidak ada nama Grace. Dia pasti baru menandatangani surat kuasa khususnya. Tetap tenang, jangan tunjukkan kita panik." Namun, ketenangan adalah kemewahan yang baru saja dirampas dari Pak Gunawan. Dari seberang ruangan, Grace sempat melirik ke arah meja Tergugat. Ia tidak tersenyum. Ia hanya memberikan satu anggukan dingin. Tok! Tok! Tok! "Sidang perkara perselisihan pemutusan hubungan kerja dengan nomor register 412/Pdt.Sus-PHI/2026 atas nama Penggugat Kevin Anggara melawan Pratama Group sebagai Tergugat, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," Hakim Ketua mengetuk palu kayu dengan ketukan yang tegas. Hakim Ketua memeriksa berkas identitas di mejanya. "Baik, dari pihak Penggugat, apakah ada perubahan kuasa hukum? Karena yang tercatat di sini sebelumnya adalah Lembaga Bantuan Hukum." Grace Jasmine berdiri, membungkuk hormat dengan anggun namun berwibawa. "Betul, Yang Mulia. Penggugat telah memberikan Kuasa Khusus Baru kepada kantor kami. Surat Kuasa Khusus asli beserta Kartu Tanda Advokat dan Berita Acara Sumpah saya sudah kami serahkan ke Panitera Pengganti." Efendi langsung berdiri, mencoba merebut kendali ruang sidang sejak menit pertama. "Keberatan, Yang Mulia! Pergantian kuasa hukum di menit-menit terakhir sebelum sidang pembacaan gugatan ini adalah taktik untuk mengulur waktu dan mengaburkan substansi perkara. Kami memohon Majelis Hakim untuk menolak permohonan ini atau setidaknya menunda persidangan!" "Kami tidak meminta penundaan sidang, Yang Mulia," sahut Grace, suaranya jernih dan memotong interupsi Efendi tanpa perlu berteriak. "Kami sudah siap dengan gugatan kami, bahkan kami sudah siap membawa alat bukti tertulis hari ini jika Majelis mengizinkan. Kami tidak mengulur waktu satu detik pun." Hakim Ketua berdiskusi sejenak dengan dua hakim anggota, lalu mengetuk palu. "Keberatan Tergugat ditolak. Pergantian kuasa adalah hak mutlak Penggugat selama surat kuasa sah secara hukum. Silakan Kuasa Hukum Penggugat membacakan poin-poin pokok gugatannya." Grace mengambil dokumen gugatan setebal tiga puluh halaman. Ia tidak membacanya dari balik meja. Ia melangkah ke tengah ruang sidang, berdiri di antara meja Hakim dan barisan kursi Tergugat. "Yang Mulia Majelis Hakim, perkara ini bukan sekadar perselisihan pemecatan biasa," Grace mulai, suaranya penuh penekanan di ruang sidang yang senyap. "Klien kami, Kevin Anggara, mengabdi selama tujuh tahun di Pratama Group dengan rekam jejak tanpa cela. Kehancuran kariernya dimulai bukan karena dia tidak kompeten, melainkan karena dia memiliki integritas yang terlalu tinggi." Grace membalik halaman dokumennya, matanya melirik tajam ke arah Pak Gunawan yang kini mulai gelisah, memegang erat pulpennya. "Pada bulan Oktober tahun lalu, klien kami menemukan adanya ketidaksesuaian masif dalam laporan audit internal. Ketika manajemen—secara spesifik Direktur Keuangan yang duduk di kursi Tergugat hari ini meminta klien kami menandatangani laporan yang telah dimanipulasi tersebut, klien kami menolak dengan tegas. Dua bulan setelah penolakan itu, ia dipecat tanpa pesangon sepeser pun. Dan tiga bulan kemudian, perusahaan menyusun narasi palsu, menuduh klien kami menggelapkan dana dua belas miliar rupiah untuk menutupi lubang yang mereka buat sendiri." "Keberatan, Yang Mulia! Penggugat sudah masuk ke materi pokok perkara pidana yang bukan merupakan kewenangan Pengadilan Hubungan Industrial!" potong Efendi sambil menggebrak meja pelan. Grace membalikkan tubuhnya dengan tenang menghadap Majelis Hakim. "Izin menanggapi, Yang Mulia. Unsur 'alasan mendesak' atau tuduhan pidana yang dilemparkan Tergugat kepada klien kami adalah basis utama mereka untuk tidak membayarkan hak-hak ketenagakerjaan klien kami. Kami wajib menguraikan alasan ini dalam Posita gugatan untuk membuktikan bahwa pemutusan hubungan kerja ini didasari oleh iktikad buruk dan kesewenang-wenangan. Bagaimana mungkin kami menuntut hak pesangon tanpa membongkar kepalsuan alasan pemecatannya?" Hakim Ketua mengangguk-angguk kecil, memandang Efendi dengan sorot mata memperingatkan. "Keberatan Tergugat ditolak. Argumen Penggugat masih dalam konteks menyusun latar belakang pemecatan. Kuasa Hukum Penggugat, silakan lanjutkan sampai petitum." Grace menyelesaikan pembacaan gugatan dengan lugas, merinci tuntutan materiil berupa pesangon, penghargaan masa kerja, ganti rugi imateriil atas rusaknya nama baik. Begitu Grace duduk kembali di kursinya, Hakim Ketua menatap ke arah meja Tergugat. "Kuasa Hukum Tergugat, apakah Saudara akan langsung memberikan Jawaban atas gugatan Penggugat hari ini?" Efendi berdiri, merapikan jasnya dengan gugup yang berusaha disembunyikan. "Mengingat adanya penajaman argumen dari Kuasa Hukum Penggugat yang baru, kami memohon waktu dua minggu, Yang Mulia, untuk menyusun replik dan jawaban tertulis kami secara komprehensif." Grace langsung mengacungkan tangan tanpa berdiri. "Keberatan atas waktu dua minggu, Yang Mulia. Klien kami sudah satu tahun terkatung-katung tanpa penghasilan dan memikul beban sosial akibat fitnah ini. Kami memohon asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan. Kami usulkan waktu satu minggu saja bagi Tergugat." Ketua Majelis Hakim mengetuk palunya dua kali setelah berdiskusi singkat. "Majelis hakim menilai satu minggu sudah cukup bagi tim hukum Tergugat yang berpengalaman untuk menyusun jawaban. Dengan demikian, sidang hari pertama ini dinyatakan selesai dan ditunda." Hakim Ketua menatap kedua belah pihak dengan tegas. "Sidang akan dilanjutkan satu minggu dari sekarang, pada tanggal 9 Oktober, dengan agenda penyampaian Jawaban dari Tergugat secara tertulis. Sidang hari ini ditutup," Tok! Palu sidang diketuk untuk terakhir kalinya, menandai berakhirnya babak pembuka yang menegangkan itu. Di kursi saksi belakang meja Tergugat, Pak Gunawan merasakan keringat dingin mulai membasahi bagian dalam kemeja sutranya. Ia melirik kertas catatan di depan Efendi, berharap pengacaranya punya senjata instan untuk membungkam Grace. Namun, ia melihat tangan Efendi sendiri mulai sibuk mencoret-coret kertas dengan cepat, dahinya berkerut dalam. Pak Gunawan tahu, dan Grace juga tahu, bahwa hari pertama persidangan ini barulah sebuah ketukan pembuka. Namun, melihat kepanikan yang menjalar di wajah atasannya yang dulu begitu berkuasa, Kevin Anggara berharap bahwa di bawah perlindungan hukum yang tepat, raksasa sekalipun bisa berlutut. --- Pintu ganda Ruang Sidang tertutup dengan suara yang keras di belakang Kevin. Koridor Pengadilan siang itu tampak ramai dan bising. Suara langkah kaki berkejaran dengan gema obrolan para pencari keadilan. Namun bagi Kevin, udara di koridor itu terasa jauh lebih lega daripada atmosfer ruang sidang yang baru saja ditinggalkannya. "Gimana hari ini Pak Kevin?" Tanya Grace tersenyum sambil berjalan di sampingnya. Ia sibuk memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kulitnya tanpa memperlambat langkah. "Terima kasih, Mbak Grace. Saya bahkan tidak tahu harus.." "Kevin!" Sebuah suara berat dan penuh penekanan memotong kalimat Kevin, menghentikan langkah mereka. Dari arah belakang, Pak Gunawan berjalan angkuh, meninggalkan tim pengacaranya yang masih berkumpul di depan pintu sidang, menuju ke arah Kevin. Wajah Direktur Keuangan itu tidak lagi seputih saat di dalam ruangan tadi. Guratan amarah dan ego yang terluka tercetak jelas di dahinya yang berkerut. Pak Gunawan berhenti tepat dua langkah di depan Kevin. Ia mengabaikan keberadaan Grace, matanya yang tajam menatap mantan stafnya itu. "Kamu pikir dengan membawa Grace sebagai pengacara, kamu bisa menang?" Pak Gunawan mendesis rendah, volume suaranya dijaga agar tidak menarik perhatian satpam yang berjaga di ujung koridor. "Kamu itu cuma pion kecil. Kamu lupa siapa yang membesarkan namamu di Pratama Group?" Kevin merasakan otot-otot rahangnya mengencang. Kilasan memori satu tahun lalu, saat ia diusir dari kantor seperti pencuri kembali berputar di kepalanya. Namun, ia tidak mundur selangkah pun. "Saya menghormati Anda sebagai atasan selama tujuh tahun, Pak," jawab Kevin, suaranya terdengar datar dan santai. "Tapi rasa hormat saya hilang saat Bapak menaruh angka dua belas miliar itu di atas pundak saya." Pak Gunawan terkekeh sinis, melangkah maju satu langkah lagi untuk memperkecil jarak intimidasinya. "Dengar baik-baik Kev. Pratama Group itu gurita. Kami punya jaringan, kami punya kuasa, dan kami punya dana untuk memperpanjang kasus ini sampai kamu kehabisan uang dan warasmu hilang. Begitu putusan PHI ini keluar, apa pun hasilnya, laporan pidana kami di Bareskrim sudah menunggu. Kamu mau mendekam di penjara di usia tiga puluh puluhan?" Sebelum Kevin sempat membalas, Grace Jasmine menggeser posisi berdiri, menempatkan tubuhnya sebagai tameng di antara Pak Gunawan dan Kevin. Senyum profesional Grace terpasang, namun matanya sedingin es. "Bapak Gunawan," potong Grace, dengan nada yang sengaja ia tekan berusaha tenang. "Sebagai sesama orang yang paham hukum, saya ingatkan Anda bahwa tindakan Anda saat ini bisa dikategorikan sebagai intimidasi di lingkungan pengadilan. Jika Anda melanjutkan kalimat ancaman Anda, saya tidak akan segan meminta rekaman CCTV koridor ini kepada panitera untuk dijadikan bukti laporan tambahan atas tindakan menghalangi proses peradilan." Pak Gunawan mengalihkan tatapan berangnya kepada Grace. "Jangan ikut campur, Grace. Ini urusan internal perusahaan saya dengan mantan staf yang tidak tahu diri." "Dia klien saya. Dan sejak kami menandatangani surat kuasa, urusannya adalah urusan saya," balas Grace tanpa berkedip. "Jika perusahaan Bapak sekaya dan seberkuasa itu, mengapa Bapak terlihat khawatir di dalam ruang tadi? Simpan energi Bapak untuk sidang pembuktian minggu depan." Efendi, pengacara Pak Gunawan, datang memecah ketegangan. Ia langsung menarik lengan kliennya menjauh. "Pak Gunawan, cukup. Mobil sudah siap di depan. Mari." Pak Gunawan menunjuk Kevin dengan jari telunjuknya, memberikan satu tatapan tajam terakhir yang sarat akan janji balas dendam, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor. Kevin mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan. Tangannya sedikit bergetar, tapi bukan karena takut, melainkan karena dari konfrontasi barusan. Grace menepuk pundak Kevin dengan lembut. "Jangan biarkan dia masuk ke kepala Pak kevin. Itu cuma ancamannya kosong, karena dia tidak punya jalan keluar lagi selain menggertak." "Makasih Mbak Grace." Ucap kevin menatap dalam mata Grace saat merasakan tepukan lembut di pundaknya. Grace buru-buru mengalihkan pandangannya dengan kaku saat mata mereka bertemu. Situasi yang membuatnya salah tingkah membuat Grace kali ini berjalan lebih cepat di depan Kevin, meninggalkan Pengadilan. ----------------------------------------------------- Catatan kaki: Posita (atau disebut juga fundamentum petendi) adalah bagian dari surat gugatan hukum yang berisi uraian tentang fakta-fakta kejadian (duduk perkara) serta dasar hukum yang mendasari suatu tuntutan.

Graces's Cases

CHAPTER 5

Di publikasikan 02 Oct 2026 oleh _didiable

Kevin Anggara tiba pukul 13.30 di kantor Grace. Ia duduk di sofa tamu panjang. Saat itu hanya ada Mira dan Bowo.  "Silahkan kopinya Pak, Mbak Gracenya belum ada. Tapi saya sudah kabari ke Mbak Grace kalo Pak Kevin sudah datang." Ucap Mira sebari meletakkan secangir kopi hangat buatan Bowo. "Makasih. Iya enggak apa-apa, ini saya yang kecepetan kok datangnya. Tolong sampaikan saja gak perlu buru-buru. Kita memang janjiannya jam dua kok." Kata kevin dengan suaranya yang tenang. Mira mengangguk dan kembali ke mejanya. Ia mengagumi Kevin dari jauh, terpesona dengan ketampanan dan pembawaannya yang tenang dan santai. Pukul dua lewat sepuluh Grace datang. Kevin terdiam saat melihat Grace masuk ke ruangan. Entah mengapa, pandangannya berhenti sedikit lebih lama dari seharusnya. Wajahnya cantik tapi bukan cantik yang berlebihan, melainkan jenis kecantikan yang justru membuat orang ingin melihatnya berkali-kali. Garis wajahnya lembut. Tatapan matanya tenang, seperti sulit ditebak. Hidungnya proporsional, ada lengkung tipis dibibirnya yang membuat ekspresinya terlihat anggun bahkan ketika sedang diam. "Pak Kevin. Sudah lama nunggu?" Suara lembut Grace menyadarkan Kevin. "Enggak Kok Mbak, saya memang sengaja menunggu di sini supaya tidak telat." Kevin berusaha menyembunyikan rasa ketertarikan yang baru saja ia rasakan. Grace duduk di depan Kevin. Ia mengatur nafasnya sebentar dan mulai berbicara. “Jadi Pak Kevin. Sebelum saya memulai kasus ini, ada satu hal yang harus Pak Kevin tahu,” kata Grace tenang. Ia akhirnya memutuskan untuk memberitahu Kevin tentang apa yang ia khawatirkan. Kevin menunggu. “Perusahaan ini, Pratama Group, dulu pernah menjadi klien saya, di kantor sebelumnya. Dan saya juga keluar dari sana, karena tidak ingin mengerjakan kasus ini.” sambung Grace. Alis Kevin sedikit terangkat karena terkejut. Kevin menatapnya lebih dalam, karena sebenarnya ia sudah tau. Ia pernah melihat nama Grace Jasmine bersandingan dengan Arman Atmaja Law Firm di Partner Database Pratam Group. Hanya saja Kevin terkejut karena ia tidak menyangka bahwa Grace akan menceritakannya lebih awal. Kevin mengangguk seolah-olah paham dan tidak menjadikannya sebuah masalah. “It's Ok. Apa, kamu tahu sesuatu?”  Grace mengangguk dan cukup terkejut dengan respon singkat dan santai yang ia terima. Ia tidak ingin menceritakan lebih lanjut kejadian malam ia resign,  dan langsung mengalihkan pada temuannya di kasus ini. “Cukup untuk tahu bahwa ini tidak sesederhana yang terlihat.” Grace menuju meja kerjanya mengambil dokumen yang telah ia susun rapi tentang kasus ini. Mata Kevin megikuti kemana Grace pergi, matanya seakan tidak bisa berpaling untuk memperhatikan hal lain. Mata mereka sempat bertemu sebentar, tapi Grace langsung mengalihkan pandangannya dengan canggung.  Grace kembali duduk di depan Kevin, meletakkan dokumen yang sudah ia print dan susun dari dari flahsdics Kevin kemarin. Ia membuka beberapa halaman, menunjukan pada Kevin bagian-bagian penting yang telah ia tandai, setiap angka, setiap tanggal, dan setiap aliran dana. “Semua transaksi ini mengarah ke Pak Kevin. Tanpa kemungkinan lain.” Kevin mengangguk pelan. “Itu yang mereka pakai untuk menuduh saya.” "Menurut Pak Kevin, kenapa mereka begitu terburu-buru memecat Pak Kevin sebelum melaporkannya ke polisi?" tanya Grace, nadanya tenang namun menyelidik yang sudah tahu jawabannya. "Karena jika saya tetap di sana saat auditor eksternal datang, saya akan menunjukkan di mana mereka menyembunyikan selisihnya," jawab Kevin, ada riak ketegasan yang mendadak muncul di suaranya. "Mereka perlu menyingkirkan saya terlebih dahulu agar mereka bisa mengunci akses saya ke server utama." Grace mengangguk membenarkan. Matanya terpaku pada sebaris kode transaksi yang berulang di setiap hari Selasa pada laporan keuangan bulan Maret hingga Agustus. Kode itu adalah VND-990-X-OP. Sebuah sub-kode yang sangat spesifik, yang biasanya digunakan untuk pengeluaran darurat atau Over-Payment yang melewati jalur pengawasan reguler. "Lihat ini," Grace mengetuk jarinya di atas baris angka satu miliar rupiah yang tercetak tebal. "Di sini tertulis akun Pak Kevin yang menginput data pada pukul 13.00. Tapi lihat timestamp otorisasi di kolom sebelahnya. Transaksi ini baru benar-benar lepas dari bank pada pukul 13.08, tepat setelah sistem mencatat akun Pak Kevin keluar secara otomatis karena idle atau tidak ada aktivitas." Kevin menyipitkan mata, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya tidak pernah memperhatikan jeda waktu itu. Waktu itu, akses saya langsung diputus begitu saya menerima surat pemecatan." "Di sinilah mereka ceroboh," Grace tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menandakan dia telah menemukan ujung benang kusut ini. "Mereka menduplikasi cara Pak Kevin menginput data saat Pak Kevin sedang tidak berada di meja. Tapi untuk melepaskan dana satu miliar, sistem perbankan korporat Pratama Group membutuhkan token fisik enkripsi tingkat kedua. Siapa yang memegang token untuk kode 'OP' ini, Pak?" Kevin tertegun. Nama itu tertahan di tenggorokannya sebelum akhirnya terucap pelan, "Pak Gunawan. Direktur Keuangan." Grace merapihkan kertas-kertas di atas meja, seperti pelajar yang baru saja selesai mengerjakan tugas. Ia menatap Kevin dengan yakin. "Mereka mengira Pak Kevin akan menyerah karena takut dipenjara dan tidak punya cukup nyali untuk membaca ulang jejak digital bank dari dua arah." Kevin membalas tatapan Grace. "Ini sudah lebih dari cukup. Kita tidak hanya akan menghadapi tuduhan mereka, kita bisa balik menyerang. Grace menatap mata Kevin dengan sorot mata yang bersemangat "Kita buat perusahaan itu menyesal karena telah memilih Pak Kevin sebagai korban." Kevin merasakan secercah harapan dari perkataan Grace. Ia mengangguk pelan dan hampir tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Grace. Kagum karena kepintarannya, pribadinya, dan juga.. ke cantikannya.

Graces's Cases

Bab 20 Stuckenborstel

Di publikasikan 01 Oct 2026 oleh Bengkoang

“Mereka masih di belakang?” “Di depan ada terowongan, Bos. Kita bisa pakai itu buat ngecoh sama—” Segera kuinjak pedal gas dengar saran Wiji, memburu terowongan yang hendak si Jago pakai ‘tuk mengecoh orang-orang Wali Kota Mungli. Bruuum …. *** Tadi sore. “Mi ….” Sesaat sebelum melepas skuad Plester ke misi balas dendam mereka. “Bisa kita ngomong bentar?” Ketika Niki mengajakku ‘tuk bicara empat mata di ujung koridor …. “Soal obrolan kemarin,” sambungnya, tatkala dirasa sudah tak ada orang sekitar kami. “Aku dah pikirin semua mateng-mateng. Kamu bener. Balas dendam emang gak bagus.” Kalian tahu, aku rada berharap sebetulnya, sebulan ini dadaku kembang kempis tiap kali lihat gadis di depanku berlatih. Meski sekilas, kejadian bulan lalu masih suka terbayang-bayang terus gak jarang kebawa mimpi. Kalau saja obrolan sekarang soal kelanjutan hari itu, akh! “Cuma ….” Niki memegang sikut, wajahnya agak tertunduk menghindariku. “Mi, aku tetep gak bisa maafin mereka. Semua yang udah mereka lakuin—gak ke Plester doang!” Mata yang berkaca waktu meneriakkan jerit pelan barusan terasa begitu menusuk. Hatiku seolah ikut tercabik lihat dirinya terisak dengan bahu gemetar begini. Dadaku mendadak sesak. Macam ada bara yang baru saja terpantik di dalam sana. Dan aku tidak tahu kenapa …. “Aku tahu sikap begini salah,” gumam gadis di depanku, ia kembali tertunduk dan menghindari kontak mata langsung. “Se-semoga kamu gak kecewa, Mi. Aku udah berusaha ….” Si kapten skuad kini tersenyum, senyum pahit yang kulihat terakhir kali. “Ah, ya! So—” Wajah Niki sempat terangkat, dan di saat itulah diriku tidak bisa lagi menahan diri. Jika bulan lalu gadis ini mendobrak pertahananku, sekarang gantian. Kini giliranku yang tutup mata melumat bibir lembutnya tanpa aba-aba …. “Niki,” panggilku sesudah adegan singkat tadi putus, “aku gak bisa berhenti mikirin kamu. Kalau kita berdua masih hidup setelah operasi malam ini ….” Kuakui diriku tidak berpikir pas menyatakan perasaan terus janji ‘tuk menikahinya. Namun, nasi kadung jadi bubur, kurasa aku tetap harus bertanggung jawab dan berjuang sekuat tenaga sampai acara kejar-kejaran ini tuntas. Ya, ‘kan? “Bos, terowongan di jalur dua abis tikungan depan ….” *** Agendaku dan semua orang sebenarnya mudah. Malam ini aku dan Wiji akan mengantar dua koper barang bukti di bagasi belakang si Jago ke pihak berwenang sementara Niki dkk. menyerbu Stuckenborstel sebagai pengalihan. Ah! Dua skuad gadis itu sekarang harusnya sudah mulai bikin gaduh, segaduh-gaduhnya. Pembuka sekaligus tanda buat personel Plester Co. yang menunggu ‘tuk bergerak. Langkah berikutnya diriku mampir ke salah satu pangkalan terus ganti mobil lalu meluncur ke titik pertemuan di luar kota. Bung Lame, sehabis itu akan bergabung di tengah operasi serta lanjut mengawal bersama rekan-rekannya menuju kediaman Wali Kota yang merupakan target sekaligus tersangka utama mereka. Di akhir. Jika skenario sekarang sesuai rencana maka kami juga akan mendapati si gendut di salah satu rumah simpanannya lengkap dengan skandal mereka yang masih hangat tengah malam nanti …. “Bos, mereka dah lewat.” Sekali lagi, bila rencana tadi berhasil. Sayangnya tidak pernah ada rencana sempurna. Aku dan Wiji dipaksa sembunyi di terowongan buat membongkar ‘umpan’ sebelum lanjut menyusul ke Stuckenborstel. “Kita gak punya pilihan.” “Masih sisa lima belas menit sebelum mereka puter balik, Bos.” “Buka bagasi si Jago ….” Isi dua koper ini harus kupindahkan sebelum orang-orang Wali Kota sadar dan kembali ke terowongan …. *** Malam berjalan cepat. Keesokan paginya Niki dkk. sudah menunggu dekat gapura Stuckenborstel. Dari jauh kulihat anggota-anggota skuadnya tampak masih mengantuk. Sedang si kapten, ia memaksakan diri ‘tuk memapak begitu sedan hitamku tiba dan mendekap diriku segera. “Niki—” Dekapannya terasa erat di pagi yang dingin itu. “Kamu gak bakal percaya skuad ngapain aja tadi malam,” tutur si gadis, senyum manis sambil melepas pelukan dari tubuhku. “Aku sama temen-temen—” “Bos, gak ada peluru yang kepake!” Kutatap wajahnya pas dengar teriakan si kepala bagian personalia, Niki merapatkan bibir, dan dia mengangguk setuju merespons isi kepalaku. Skuadnya tidak jadi menumpahkan darah di operasi semalam. Tanpa kata, segera kuraih tangan si kapten skuad lalu kutuntun dirinya ‘tuk kembali ke skuad bersama. Perasaanku campur aduk, jujur saja. Aku tidak tahu bagaimana harus kuuntai bahasa di kepala saat tangan kami saling menggenggam dengan jemari yang silih sulam, tapi yang jelas ia yang kini berjalan bersamaku sekali lagi membuat dada ini berdebar-debar girang. “Kerja bagus, Semua!” salutku semringah tatkala menemui skuad, “enggak ada korban di operasi tadi malam, dan kita kumpul lagi di sini dengan hati lapang—” “Personel juga utuh!” teriak salah seorang. Kuulang, “Personel utuh juga.” Aku kemudian tertawa bersama semua orang. “Gak ada dendam,” lanjutku menyambung topik, “gak ada utang. Terus ….” Kutoleh gadis di sebelah lantas kuangkat tangan kami berdua bangga. “Kita kembali ke rumaaah!” “Yaaa ….” Tentu barusan hanyalah kias. Rumah yang kumaksud bukan bangunan fisik dengan segala perabot pengisinya. Melainkan kelompok yang ‘lah banyak makan asam garam hingga suka duka bersama serta kini menjelma jadi elite hasil gemblengan selama setengah tahun terakhir. Skuad Plester. “Jadi ….” Saat retorika tadi usai, Niki mengayun-ayun genggaman tangan kami ringan, menemaniku berjalan melihat suasana pagi sebentar. “Sekarang kita—” “Kapan kamu mau kita nikah?” selaku yang langsung pindah terus jalan mundur di depannya, ingin lihat wajah si gadis yang tengah tersipu. “Kita berdua masih hidup, loh, ini.” Kapten skuad yang biasanya garang itu tiba-tiba saja menjadi kelihatan pemalu. “Kok, kamu tanya aku?” “Ya ….” Aku kembali ke sampingnya. “Siapa tahu, kamu lebih berpengalaman—adaw!” “Sembarangan!” sergahnya usai mencubit pinggangku pelan, “di mana-mana yang inisiatif itu cowok.” Kami berhenti di tepi jalan, lihat mentari terbit di kejauhan, lalu menghalau sedikit kilau sembari menikmati indah cahayanya bersama. “Aku seneng kamu gak lepasin pegangan tangan kita tadi,” akuku, sebaris kejujuran di ruang privat. “Mereka gak tahu kalau kita berdua—” “Ya!” sahut suara dari belakang, “kalau kemarin saya sama Stevan gak ngintip di ujung koridor, kita gak bakal tahu si Bos sama Niki ternyata udah pacaran.” Wiji, yang entah sejak kapan menyusul kami berdua. “Oh, ayolaaah …,” keluhku sembari menjulingi si kepala bagian personalia, “kamu gak lihat kita lagi … awas aja kalau sampai gak penting. Berkas apa ini?” Kuambil dokumen yang ia pakai buat menangkis keluhanku. “Si bos itu rada tukang gombal.” “Wiji,” delikku sebelum lantas geleng membuka berkas dari sang manajer tersebut, “tolong jangan rusak citra saya depan calon bu bos kamu, ya?” “Mumpung belum jadi, ‘kan?” balas Wiji, tidak kuperhatikan lagi bagaimana gestur dengan mimik pas mereka berdua mulai bergosip. “Siapa tahu Bu Bos mau pikir-pikir dulu biar nanti enggak kaget punya suami banyak mau sama rada lupaan ….” Selanjutnya aku ingin fokus pada laporan di tangan. Setengah personel Skuad Plester bakal si kepala bagian personalia bawa ‘tuk menjaga markas di Stuckenborstel sementara sisanya kembali bersama diriku—termasuk Niki, tentu saja. Dan sabotase pengiriman barang hingga penggerebekan Wali Kota Mungli masih akan berlanjut. Jadi setelah ini aku harus meluncur ke titik pertemuan dan menemui Bung Lame …. ***

Plester Co.

Bab 19 Dendam dan Pembalasan

Di publikasikan 01 Oct 2026 oleh Bengkoang

“Bos.” Enam bulan latihan elite Plester sekarang akan diuji. Delapan mobil jip terbuka tambah enam belas sepeda motor berbaris menunggui tiga lusin personel di bawah komando Niki bersama tiga rekannya siap ‘tuk menggempur ‘musuh’ lama mereka. Geng Lomen. Kelompok tunawisma Stuckenborstel, alasan si ketua geng keluyuran sampai ke Veres lima tahun terakhir. Kelompok yang juga pernah memburuku gegara minyak cendana di bagian pembuka cerita …. “Sisi sama Stevan sudah kontak semua kantor cabang,” sambung Wiji, melaporkan situasi Plester Co. “Besok gerbang-gerbang markas kita bakal ditutup total. Selain di Mungli, shelter lain statusnya jadi akses terbatas.” “Kalian dengar sendiri, ‘kan?” kataku menyambung laporan si kepala bagian personalia, “habis operasi malam ini markas Plester bakal di-privat. Saya, Wiji, Niki, kalian semua. Skuad Elite Plester. Bukan aset siapa-siapa.” Enam puluh empat personel di depanku pasang wajah datar, hasil gemblengan selama setengah tahun. “Sebelum berangkat saya mau bilang sekali lagi. Kalian sekarang sudah punya rumah, pekerjaan ….” Kulirik senapan di tangan mereka sebelum lanjut bicara. “Juga kekuatan untuk merebut kembali hak-hak yang pernah dirampas. Benar?” “Ya!” “Sekarang kalian bukan lagi gelandangan yang biasa dipandang remeh, dilihat sebelah mata, atau dilirik sinis dan dianggap pengganggu. Bukan! Kalian bukan gelandangan, kalian Skuad Plesteeer!” “Yaaa!” “Karena itu pergi!” Kutunjuk pintu keluar di belakang barisan lalu mengepalkan tangan depan dada. “Pergi! Pergi tuntaskan apa yang kalian cita-citakan, rebut kembali apa yang mau kalian rebut malam ini, dan tunjukkan bahwa kalian—Skuad Plester, sekarang bukan Geng Plester lama yang dulu cuma bisa lariii …!” Niki dkk. serentak mengepalkan tangan depan dada meresponsku. Detik berikutnya. Mereka berhamburan naik ke kendaraan masing-masing, menyalakan mesin, lalu meluncur hendak melunasi apa yang pernah kujanjikan. Membalas mereka-mereka yang ingin dibalas …. *** Satu bulan sebelumnya. “Tadi itu elite yang kamu bilang, Niki?” Ketika dua skuad terbaik Geng Plester sedang menjalani pelatihan terakhir mereka. “Kenapa, kamu ada masalah sama orang-orang pilihan aku, Mi, hah?” “Bukan, bukan hal serius. Heran aja,” akuku yang lantas mengambil dokumen administrasi mereka dari balik mantel lalu mengasongkannya, “di sini kalian hampir setengahnya ditulis bekas tunawisma Stuckeborstel, gak salah?” “Enggaklah!” balas si ketua geng spontan, “salahnya di mana?” “Maksud aku, sasaran balas dendam kalin bukan Geng Codet Veres?” “Bukan!” timpal Niki, jalan ke bangku pinggir lapang terus duduk menungguku. “Kalau mau balas dendam, sasarannya, ya …, bener Geng Lomen.” Mataku mendelik begitu sampai ke pinggir bangku tempat ia duduk, dugaanku tidak cocok dengan jawaban si gadis hari itu. Kukira mereka mau balas dendam kepada orang-orang Veres gegara terpaksa keluar dari liang-liang drainase bawah kota …. “Aku enggak bisa lupa cara kita diusir dari Stuckenborstel lima tahun lalu, Mi,” akunya lantas pasang muka senyum, menyembunyikan pahit yang kutahu benar bersemayam di hati kecilnya. “Jadi daripada Geng Codet, anjing-anjing sialan itu lebih pengen kubasmi biar musnah dari muka bumi. Hehe.” Aku diam sejenak sebelum lanjut menanggapi Niki. “Kamu tahu …,” kataku kemudian, hendak melanjutkan topik dengan peringatan. “Cuma ngebasmi sebagian anggota Geng Lomen gak nyelesein masalah, cabang bahkan mungkin anak-anak geng lain bakal dateng buat isi tempat sama ambil alih usaha-usaha lama mereka. Secara teknis dendam kalian kebayar, tapi penyakit terus kebusukannya masih berlanjut.” Niki menatapku. “Bukan maksud aku mau ngehalang-halangin balas dendam kalian,” tegasku sebelum balas menatap si ketua geng, “tapi coba cari cara yang juga bikin penyakit sama kebusukan mereka bisa berhenti sekali—” Ocehanku terputus. Lembutnya sentuhan dari bibir gadis itu menahan mataku ‘tuk tetap terbelalak menatap wajahnya yang sangat dekat. Terlalu dekat. Aku sampai lupa semua yang baru kukatakan …. “Makasih …,” gumam Niki sambil menghindari mata kami bertemu, sikap yang juga sontak membuat diriku mengalihkan pandangan ke lapang kosong di depan sana. “I-itu pengalaman pertama.” “Oh.” Aku tidak tahu harus merespons bagaimana. “Ha—” “Soal balas dendam,” lanjutnya, terdengar berusaha tenang. “Kupikir kalian para cowok sama aja …, kasar …, egois, terus maunya menang sendiri.” Aku kembali menghadap Niki, reaksi spontan atas gerakan tubuh si gadis. “Cuma ….” Ia menyentuh daun telinga dan lanjut tersipu. “Kuharap kamu be—” Segera diriku mundur waktu dirinya hendak mendekat, dan langsung putar badan. “N-Niki. A-aku baru inget hari ini ada janji sama Wali Kota. Ki-kita bahas balas dendam besok lagi ….” Selain kabur sambil geleng dari lapang latihan elite Plester, bulan lalu itu aku gagal meyakinkan kapten skuad mereka ‘tuk mengurungkan niat balas dendam. Benar, tadinya pikirku ingin langsung mengirim milisi-milisi terlatih ini ke markas cabang dan menjadikan mereka ujung tombak Plester Co. bersama para pegawai. Namun, semua bukan terserah apa mauku. Buktinya sekarang Niki dkk. masih juga kulepas menuju gelanggang pertempuran …. *** “Pidato yang bagus.” Mataku langsung menjuling ke arah kiri, memapak pria gendut yang datang bersama asistennya. “Pantas keluarga dua puluh ribu karyawan perusahaan Anda tak pernah saya dengar mengeluh meski ayah dan suami-suami mereka tidak pernah pulang setelah ekspedisi-ekspedisi gagal selama ini …,” ujar sang wali kota, berhenti tepat sebelah diriku dan Wiji lalu melihat pintu keluar. “Keahlian retorika semacam tadi bukan hasil latihan satu atau dua hari, bukan?” “Tolong langsung katakan saja apa yang sebenarnya mau Bapak katakan, Pak Wali Kota.” “Saya harap operasi besok akan lebih baik daripada ekspedisi kita sebelum-sebelumnya,” ujar si gendut, cekak pinggang menghadapku. “Tuan Mi, semua barang saya atur sesuai recana kita. Jika pengiriman kali i—” “Saya sendiri yang akan mengirim barang Anda, Pak Wali Kota,” timpalku lantas menoleh Wiji, isyarat pada si kepala bagian personalia ‘tuk menyerahkan berkas yang sudah kami siapkan. “Tolong tandatangani berkas acara pengiriman ini dan saya akan langsung berangkat menyusul dua skuad tadi ….” Wali Kota Mungli tidak banyak bicara setelah itu. Beliau memeriksa dokumen tadi sebentar, menandatangi, lalu menyuruh asisten sebelahnya menyerahkan dua koper besar yang harus kuantar paling lambat besok kemudian undur diri. Tidak ada basa-basi atau senyum palsu. Kami lekas berpisah begitu urusan di gedung fasilitas pelatihan unit rahasia tersebut rampung. Aku bersama manajerku membawa si Jago menyusul Niki dkk. sementara si empunya kota berlalu diikuti oleh sang ‘asisten’ pribadi kembali ke ruangan tempat mereka menunggu sesaat lalu …. “Bandot tua,” umpat Wiji begitu sedan hitamku melewati portal keluar area fasilitas rahasia di belakang sana, luapan batin yang sepertinya sudah tertahan selama hampir setengah tahun—kurasa. “Dia gak tahu malam ini bakal jadi momen terakhir mereka.” “Masih ada satu malam,” balasku sambil senyum dan melirik spion sekilas, “kita juga punya satu malam buat lolos dari mobil-mobil di belakang sama ngejinakin dua bom di bagasi ….” ***

Plester Co.

Bab 18 Unit Khusus dan Evolusi Plester

Di publikasikan 01 Oct 2026 oleh Bengkoang

“Anda sepertinya sangat memperhatikan mereka, Tuan Mi.” Aku, Wiji, dan Sisi. Kami bertiga kompak menoleh lalu bebalik dengar suara orang dari belakang. Wali Kota Mungli bersama sang asisten, juga Stevan yang mengekor setelah keduanya. “Tentu,” ujarku lantas senyum, kupapak si empunya kota kemudian duduk menemaninya di sofa. Sedang para manajer Plester Co. dan si asisten, mereka lanjut mengamati latihan Niki dkk. di bawah sana. Kembali, aku dengan orang nomor satu se-Kota Mungli itu rencananya hari ini mau membahas jadwal sama rute ekspedisi ‘pengantaran’ kami berikutnya. “Mereka-mereka itu bakal personel operasi kita, ‘kan, Pak Wali Kota. Tentu saja harus sangat saya perhatikan.” “Anda mengatakan ini bukan kare—ah, sudahlah! Langsung pada alasan kenapa saya repot-repot tetap kemari, sudah sampai mana persiapan operasi kita?” tanyanya, mengganti basa-basi dengan topik utama. “Semoga saja strategi baru Anda benar-benar bekerja, sebab jika tidak saya mungkin harus berinvestasi di tempat lain.” Bukan cuma yang baru, strategi-strategi lamaku juga selalu behasil. Setahun terakhir Lame dan organisasinya sukses membekuk delapan puluh tujuh dengan setengah persen dari total antek-antek si gendut di luar negeri kalau perlu kubilang. Tidakkah itu luar biasa? “Pak Wali Kota, Bapak tahu metodologi perusahaan kami. Plester Co. sekarang punya seratus delapan puluh cabang dengan lebih dari tujuh ratus pangkalan di dalam dan luar negeri. Ditambah mereka yang sedang kita latih di bawah sana, apa barusan Anda pikir saya sedang main-mainkah?” “Bukan saya meragukan keseriusan Anda pada usaha kita …,” kilahnya lalu mencondongkan badan, “tolong jangan salah paham, Tuan Mi. Namun, saya pun tetap harus memastikan bahwa uang anggaran perusahaan-perusahaan beserta dana investor saya tidak menggelembung percuma di bisnis ini, bukan?” Aku senyum dengar jawaban barusan. “Saya paham, Pak Wali Kota.” “Terima kasih kalau begi—” “Ah, ya, Pak!” Jawabanku belum selesai. “Saya mungkin akan merepotkan Bapak lagi.” “Tuan Mi.” Si gendut merapikan duduk. “Anda sudah merepotkan saya dengan membawa ratusan tunawisma kemari, kenapa masih pura-pura sungkan?” Justru gegara itu, biar gak disangka aji mumpung sama dikasih hati minta jantung aku kudu pura-pura sungkan. “Ahaha, si Bapak bisa saja … Pak Wali Kota, para tunawisma ini nanti akan langsung disebar ke kantor-kantor cabang Plester Co. begitu pelatihan di sini selesai. Cuma, Pak, macam yang Bapak tahu … masalah sama geng-geng lain masih—” “Anda mau pinjam orang-orang saya juga?” “Bukaaan …, bukan mau pinjam orang-orang Bapak, tapi cuma senjata apinya saja.” *** Tiga bulan lalu …. “… terus ngebiarin ribuan karyawanku jadi gelandangan tanpa rumah kayak kalian, hah?” Ketika Niki berhasil kuyakinkan. “Apa kamu bilang?!” “Iya!” Kutunjuk muka si ketua geng macam cara ia menunjukku sebelum ini. “Siapa yang mau hidup luntang-lantung di jalanan, makan dari tong sampah sama sisa-sisa orang, enggak bisa bilang apa-apa pas diusir padahal cuma numpang tidur doang. Siapa …, siapa yang tega lihat orang tua makan nasi yang—yang dah kotor terus, terus dia suap sendiri pake tangan gemetaran, yang kadang nasinya juga jatuh-jatuh lagi?!” Kutumpahkan semua kesalku akan pemandangan yang pernah kudapati saat mengikuti mereka. “Niki! Kamu pikir, kamu pikir, kamu pikir kenapa kalian jauh-jauh kudatangin terus kuajak buat kerja?!” *** “Bos?” Aku tersentak, bangun dari lamunan soal Niki dkk. terus balik ke suasana riuh Gedung Pelatihan Unit Khusus dan Rahasia, Kompleks Kantor Wali Kota Mungli. “Seratus enam puluh sembilan kantor kita baru aja kasih laporan balik,” sambung Wiji, alasan kenapa barusan ia memanggil. “Kontrak-kontrak kita resmi ditutup terus semua staf pangkalan dioper ke ladang sama pabrik, pelatihan mereka juga udah pada beres, Bos.” “Truk sama mobil kantor?” “Diganti jip sama motor.” “Bagus.” Aku puas dengar laporan si kepala bagian personalia, Plester Co. sekarang sudah pindah ke koridor yang kumau. “Sisi!” “Ya, Bos?” “Kamu sama Stevan ke bank sekarang, cairin tabungan Plester Co., terus borong sisa barang di list kantor kita kemarin—ah, ya! Jangan lupa balikin juga duit pelanggan yang kadung bayar biaya langganan bulan ini. Besok kita bukan perusahaan jasa kelola limbah rumah tangga sama gorong-gorong bawah kota lagi ….” Hari yang kutunggu semakin dekat. Persiapan sebelum batu-batu mana tiba-tiba lenyap dan Benua Baru beralih ke era tanpa lampu dengan mesin-mesin berbahan bakar batu kutukan juga selesai. Hanya tinggal menghitung tanggal lalu, Bdum! Kehidupan sekali lagi jungkir balik macam telapak tangan yang baru dibalikkan …. *** “Kamu tahu kenapa kita ketemu lagi hari ini ….” Setelah semua hal di atas, agenda sama Wali Kota Mungli terus persiapan Plester Co. di seratus sembilan puluh kantor utama beserta cabang-cabang kami, kini giliran bintang utama jilid sekarang ‘tuk menentukan pilihan antara hilang bersama kericuhan nanti atau bertahan sesuai mauku. Geng Plester. “… Niki?” “Minggu besok seleksi skuad baru buat dikirim ke kantor-kantor cabang sama pangkalan kalian, ‘kan?” tanya gadis rambut pendek berseragam elite seberang mejaku, ruangan yang sama dengan yang kupakai bicara pada Wali Kota Mungli sesaat lalu, kantor pengawas pelatihan lapangan indor di bawah sana. “Kita udah ngelewatin formalitas begini dua bulan, terus aku juga udah lihat kalian beneran kasih anggota-anggota Plester kerjaan.” Aku senang lihat muka cerah gadis itu. “Ngomong-ngomong, Mi ….” Niki selanjutnya beralih ke sofa lantas mengambil mangkuk camilan. “Bukan aku mau ikut campur, tapi kenapa kamu sama Wali Kota Mungli kayak gak akur?” tanyanya, menoleh dari sofa sambil mengulum lolipop. “Kulihat si gendut tadi keknya ngamuk ke kamu sampai nunjuk-nunjuk muka dari bawah. Kalian ada masalah apa?” Cek! Aku mundur dari meja lalu pindah ke sofa menyusulnya. Sedang Wiji, duduk di meja menggantikanku memeriksa berkas laporan Geng Plester bulan ini. “Biasa,” kataku terus senyum, “masalah pelanggan. Hah … aslinya aku manggil kamu bukan cuma buat milih skuad, tapi soal janji ketiga di kesepakatan kita.” Niki sontak terperanjat, ia cabut lolipop dari mulut lalu mendelik. “Maksudnya?” “Selain tempat bernaung sama kerjaan, kemarin aku juga bilang kalau bakal kasih pinjam kalian kekuatan buat balas dendam, ‘kan?” jelasku, merebahkan diri serta coba memejamkan mata di kursi sofa. “Dua yang pertama lunas lewat fasilitas asrama sementara di sini tambah kontrak kerja di dua puluh cabang Plester Co.” “Bacot!” tukas Niki, terdengar tidak sabar. “Gak usah muter-muter, Ege.” “Huh.” Kembali, diriku tersenyum mendengar suara gadis itu. “Besok kamu pilih dua skuad terbaik di Plester, kalian bakal kukasih senapan—pinjam dari si gendut, sih. Cuma biarinlah, yang penting utangku sama kamu tambah anak-anak Plester lunas. Abis seleksi bulan ini, kita bakal misah sama Wali Kota Mungli.” Hening agak lama sebelum sobat lamaku itu lanjut bersuara. “Ke-kenapa cuma dua skuad?” “Aslinya aku minta seratus pucuk buat operasi kalian ….” Kubuka mataku lagi. “Cuma, tiga lusin sisanya mau kukirim pabrik. Gak perlu kujelasin buat apa-apanya juga, ‘kan?” Niki menggeleng dan lepas tangan. Dia lalu menjatuhkan diri ke sandaran sofa. Lenguh yang lantas meletup dari mulut selepas ia mencabut lolipop menyiratkan suatu kepasrahan. Positif. Kurasa dirinya hanya sedang tidak ingin berpikir …. ***

Plester Co.

Bab 17 Memberi dan Mendapat

Di publikasikan 01 Oct 2026 oleh Bengkoang

“Oi, kalian ….” Spontan mataku terbuka, kapalaku kemudian menoleh ke para tunawisma di bawah. Mereka yang di bagian sebelum ini mengeluhkan dinas dengan aparat ketertiban kota serentak terperanjat lalu buru-buru meraih kayu setengah hangus sedapatnya. Hendak dijadikan pegangan, alat ‘tuk mempertahankan diri, seadanya memapak orang-orang yang baru datang. Kelompok yang juga baru kulihat malam ini …. “Mulai jembatan sini sampai blok pertama pinggir kota sana wilayah kami. Geng Codet.” “Dengar gak kalian, Dungu?” “Lihat tiang itu?” Orang-orang yang baru datang tadi merujuk tiang jembatan di bawahku. “Mulai malam ini, siapa pun yang tidur dekat tiang itu kudu bayar ….” Hem. Aku menjuling singkat. Jelas aku keberatan. “Kalau gak mau—” “Kalau gak mau apa?!” selaku, melompat dari besi jembatan tempatku rebahan dan mendarat di tengah-tengah mereka penuh gaya. Mantel jeramiku bahkan sempat berputar-putar bak baling-baling kapal di udara sebelum akhirnya berkibar sebentar begitu kakiku menginjak tanah. Hehe. Gerakan keren, menurutku. Akrobatik. Juga layak disorot lantaran sering muncul di adegan-adegan heroik. Sayangnya, selera orang zaman ini berbeda. “Ke-kenapa cuma bengong—mana jerit sama tepuk tangannya?” Tidak tampak raut kagum yang kumau. Wajah mereka, orang-orang di depan dan belakangku, semua datar. Hem. “Gak seru!” cicitku lantas cekak pinggang dan berlagak, “kalian, di ujung jembatan ada lubang saluran drainase kota, di sana tempat Geng Plester. Jadi gelandangan solo di Veres udah gak asyik, kalau gabung mereka kalian-kalian enggak usah takut sama berandalan macam gini—” “Oi!” bentak tunawisma di depan, menodongkan pemukul yang sudah dikasih paku. “Kamu pikir kamu itu pahlawan, hah? Kesiangan, tahu gak!” Aku tahu, ini kemalaman malah. “Huh.” Aku mendongak. “Pahlawan tuh masih kebagusan kalau cuma buat ngejitak berandalan kek kalian.” “Kurang ajar—seraaang ….” Sementara para tunawisma di belakang langsung kabur, mereka yang berhamburan dari arah depan ketika itu malah membuat perutku geli. Lucu saja. Muka, bahu, sampai ke cara lari. Semua jelas gak sebanding sama para prajurit terlatih yang pernah kupapak di medan perang dan …. ‘Aku kayak lagi merundung …,’ sesal batinku sebelum lanjut menghindari sabetan, tendangan, juga serangan-serangan liar mereka tanpa perlu membalas. “Cek! Segini doang, nih?” *** Setelah peristiwa pembuka di jembatan separuh jadi di atas, kejadian-kejadian serupa kemudian bermunculan di berbagai tempat. Selain karena petugas ketertiban di siang hari, hal ini juga dipicu oleh lonjakan tunawisma dari kota-kota tetangga yang berbondong-bondong mendatangi Veres. Ingat rumor surga hiburan tanpa malam itu ramah tunawisma? Nah, beginilah efeknya kalau kalian tanya. Angka tunawisma dan gelandangan naik, petugas makin gencar melakukan pembersihan, lalu pertikaian antar kelompok berandal yang ‘semakin dan semakin’—dalam tanda petik: brutal. Kondisi ideal buatku dan Wiji ‘tuk memapak Geng Plester kita di tepi kota beberapa minggu kemudian …. “Bos, yakin mereka bakal mau ikut kita?” Aku tersenyum dengar keraguan si kepala bagian personalia. Kalau ingat kegagalanku pas bicara sama Niki serta keras kepalanya salama kami saling mengenal, satu dari dua puluh kemungkinan Geng Plester akan kembali menolak hari ini. Namun, bukankah dua bulan terakhir kami juga bukan hanya duduk diam. Kita lihat saja bagaimana ketua geng satu itu kutundukkan. “Mereka datang …,” kataku lantas memberi tanda, meminta semua personel supaya bersiap di posisi sebelum diriku bicara pada Niki dkk. “Selamat datang di angkutan menuju rumah.” “Apa-apaan i—” “Oi, Mi! Apa-apaan kamu?!” pekik sang ketua geng begitu melihat sosokku dengan kedua tangan terbuka, ia berhenti menggelayut di bahu salah seorang anak buahnya lalu mendekat tergesa-gesa. “Bajingan, apa maksud semua ini, hah?!” “Apa lagi?” balasku kemudian maju satu langkah, “aku mau kalian ikut ke—” “Anj*ng! Kamu pikir kita ini apa, hah? Mau main ba—” “Tiga hal!” potongku menyela si ketua geng sambil teriak, “kukasih kalian tiga hal kalau mau kerja sama aku!” Lalu kudekati dia selangkah. “Tiga hal!” ulangku sekali lagi, “dan kalian gak perlu kabur kayak anjing buduk gini bahkan bisa balik ngebales orang-orang di belakang sana berkali-kali lipat!” Para tunawisma di belakang Niki mulai ribut. “Dengar! Kukasih kalian semua kesempatan. Ambil tawaranku sekarang terus dapat tempat bernaung, kerjaan jelas buat menuhin kebutuhan hidup, terakhir pinjaman kekuatan biar bisa balas dendam sama mereka—asal!” Kusapu mata semua orang di seberangku sekilas, termasuk Niki yang dadanya lagi kembang kempis. “Kalian naik ke truk di belakang aku sekarang ….” Buat sebagian tukang mikir, tiga tawaran barusan itu ‘kebagusan buat jadi nyata’ sama terlalu mendadak sampai mustahil bila sungguhan ada. Namun, kesampingkan status tunawisma mereka, Niki dkk. benar-benar sudah tidak punya pilihan lain jika ingin menolak. Siang hari petugas ketertiban Veres di belakang menjauhkan dari sumber-sumber penghidupan, sedang pada malamnya kelompok lain terbukti lebih siap ‘tuk berebut wilayah dengan tempat-tempat bermalam ketimbang mereka. “Kapten.” Salah seorang anggota geng menghampiri Niki, berhenti sebelah gadis itu, lantas berbisik ke kuping kiri sang ketua. Dan, menerka reaksi kawan lamaku, kukira ia baru saja memperkeruh suasana. “Tolong jangan bebani saudara-saudara kita ….” Detik berikutnya, usai orang itu memberi isyarat kepala dibarengi lambaian tangan, tunawisma-tunawisma di belakang pelan-pelan melewati mereka berdua kemudian lari dan berebut naik ke truk-truk di belakangku. Aku tidak ingin berkomentar, tapi begitulah hidup. Sampai hanya tersisa dua orang saja di depan sana …. “Sekarang apa?” tanyaku, maju selangkah lagi mendekati Niki. “Kamu tahu dari dulu aku enggak pernah suka basa-basi. Rumah, kerjaan, sama kesempatan buat balas dendam. Apa lagi yang lebih bagus daripada itu?” “Mereka bodoh,” timpal si ketua Geng Plester, mendorong anggota sebelahnya pergi menyusul kawan-kawan lain naik ke truk duluan. “Para gelandangan ini gak tahu kalau kamu kerja buat Wali Kota Mungli.” “Apa salahnya?” tanyaku, melipat tangan depan dada. “Toh, hasilnya jelas—” “Jangan pikir aku gak tahu!” sergah Niki, menunjuk mukaku berani. “Kalian, kalian itu sindikat perdagangan obat terlarang sama penyelundup barang-barang ilegal.” “Terus?” “Hah?” Gadis di depanku melongo. “Kamu, kamu serius gak malu ngaku kerja sama bandar macam dia, Mi?” Kini giliran keningku yang mengernyit. “Mi!” panggil si ketua geng sebelum menghunjamiku pakai telunjuk, “kamu, kamu gak malu ngaku jadi kaki tangan pejabat korup macam dia? Beneran kamu juga enggak masalah gabung ke dunia gelap terus hidup dari uang-uang hasil suap sama laba jualan barang-barang haram, hah … aku, aku gak nyangka kamu—” “Kamu gak lihat truk di belakang aku itu apa?!” Seketika, kami berdua spontan terjerembap pada sebuah suasana senyap. Situasi singkat di mana aku dengan Niki cuma saling melihat, hanya sepersekian detik, tapi cukup ‘tuk mereset pikiran kami agar tidak terus berada di tegangan tinggi. “Ma-maksudnya?” Pembuka sebelum diriku lanjut menggeleng serta mengalihkan pandangan meladeni si ketua geng. “Kamu pikir aku mau kerja sama si gendut cerewet terus gak pernah peduli sama orang-orangku itu, hah?” Aku lantas berbalik, dengan hunjaman telunjuk balasan tentu saja. “Kamu pikir aku betah, gitu? Kamu kira selama ini kepalaku gak sakit maksain sabar dengar ocehan si gendut cuma biar orang-orang yang kerja sama aku tetap bisa makan, hah—jawaaab!” “Ya …, ya, kenapa gak berhenti?” “Terus ngebiarin ribuan karyawanku jadi gelandangan tanpa rumah kayak kaliaaan …?!” ***

Plester Co.

Bab 16 Bagai Gunung Es Terapung

Di publikasikan 01 Sep 2026 oleh Bengkoang

Tahun lalu, di Kantor Wali Kota Mungli. “Kita sudah mencoba banyak cara, tapi kenapa tak satu pun dari dua ratus lebih pangkalan Anda yang berhasil membuka jalur pengiriman barang-barang saya?” Ketika dua kupingku harus sabar mendengarkan keluhan sang empunya kota sambil duduk manis di sofa ruang kerjanya tanpa bisa banyak bicara atau membantah …. “Tuan Mi, tolong. Saya berani mendanai Plester Co. karena yakin barang-barang saya akan lebih cepat sampai ke tangan pelanggan lewat kurir-kurir Anda dan bukan malah sebaliknya, setengah barang-barang saya selalu hilang di hampir setiap ekspedisi—itu semua kenapa?! Jelaskan! Jelaskan apa masalah kita, Tuan Miii?!” Hem. Kudorong ujung tongkat Wali Kota Mungli dari depan mukaku, tersenyum, kemudian baru menjawab. “Dengan segala hormat, Pak Wali Kota, barang-barang ekspedisi ‘kita’ terendus oleh Badan Pengawasan Lalu Lintas Dagang dan Biro Keamanan Internasional. Dua organisasi ini bukan cuma ahli, tetapi juga punya back up yang benar-benar kuat. Jadi saya tidak akan bela diri, kegagalan-kegagalan operasi kita sepanjang tahun-tahun ke belakang sampai bulan lalu hendaknya menjadi bahan evaluasi bersama.” “Saya bukan sedang menyalahkan Anda …,” balas si pria gendut, mimik dengan gestur tubuhnya tidak sinkron sama apa yang baru diucapkan. “Hanya mengeluh, uang saya hampir habis di investasi ini. Anda paham sekrisis apa keuangan saya sekarang, ‘kan, Tuan Mi? Tuan Mi?” Sekali lagi, aku tersenyum sebelum menanggapi. “Maaf bila jawaban saya kurang mengenakkan. Akan tetapi, Pak Wali Kota, dua puluh satu cabang pertama Plester Co. ada di sisi kiri pada peta Anda. Arah barat Mungli.” Pria gendut itu menoleh gambar besar di belakang sekretarisnya dan Sisi, peta provinsi yang menggantung di salah satu dinding ruang kerja tersebut. “Tim saya ….” Kulirik manajer keuanganku sekilas. “Sudah menyarankan kita kenapa tak lebih fokus pa—” “Tiga puluh empat cabang usaha Anda juga ada di kanan peta saya!” Begitu sela si gendut, muka tidak puasnya amat kentara pas menatapku. “Jangan pikir saya tidak tahu …,” lanjutnya, “Anda diam-diam bahkan sudah melebarkan sayap dan mengirim proposal ke delapan puluh sembilan dinas kota—ah, harusnya dua bulan lagi Plester Co. merayakan peresmian cabang keseratus empat puluh tiga, bukan?” Asem. Aku gak bisa bilang apa-apa disekak olehnya macam barusan. “Saya rasa tak terlalu cepat bila kami mengucapi Anda selamat hari ini,” ujar si laki-laki gendut, muka kesalnya beberapa detik lalu kini berubah bangga. Menyebalkan. “Terlebih kemajuan Plester Co. tadi seharusnya juga berarti kemajuan untuk usaha-usaha kita di masa depan. Benar, ‘kan, Tuan Mi?” “Hehe.” Aku gak punya cara selain nyengir menghadapi ‘raja dunia bawah’ satu di hadapanku, apa boleh buat jika dia tahu gerak-gerikku. “Tadinya saya mau bikin kejutan, tapi ternyata Anda sudah tahu duluan jadi apa yang mau dikata. Kembali ke bisnis, Pak Wali Kota, cara lama kita sudah tidak efektif.” “Saya paham metode Anda, Tuan Mi. Separuh modal masih balik ke rumah saya sudah kebilang sangat untung buat Anda dan anak-anak Plester Co.” Pria gendut itu akhirnya mau duduk, sofa kosong yang terus menjagaku dari sabetan ujung tongkatnya tadi pun kini senyum memangku bokong si wali kota. “Namun, bisnis tetaplah bisnis, modal saya hilang di tangan Anda.” Kulihati dirinya tanpa bilang apa-apa, coba menghadirkan suasana sunyi ke tengah-tengah kami sekalian minta dirinya buat menjelaskan maksud kalimat barusan. “Bukan—ah!” Dan berhasil, kontak mata memang efektif. “Ya, saya sedang menyalahkan Anda. Usaha-usaha sampingan saya satu per satu gulung tikar buat menutup modal-modal ekspedisi kita yang sering pulang tanpa hasil. Anda tahu berapa rumah dan mobil koleksi saya yang juga harus ikut dijual karena biaya operasional kita yang gak bisa balik lagi itu, hah, Tuan Mi?!” Kucondongkan badan padanya, hendak mendengar angka yang mau ia sebut. “Kenapa Anda tiba-tiba begitu?” “Mau mendengarkan Anda,” akuku, polos. “Barusan Anda mau memberi tahu saya jumlah mobil dan rumah-rumah yang sudah dijual demi menutup kerugian kita, ‘kan?” “Tuan Mi, Anda sedang mengejek sayakah?” Kupundurkan diriku lagi. “Bukan mengejek, tapi jika rumah-rumah Anda tadi tidak sebanyak jumlah pegawai Plester Co. yang menjadi korban ekspedisi kita maka rasa bersalah saya takkan bertambah ….” Lanjut kurebahkan punggung ke sandaran sofa, abai pada delik orang seberang diriku. “Seratus lebih personel selalu saya kirim untuk mengawal barang Anda, Pak Wali Kota, dan apakah Anda pernah tanya ke mana mereka sekarang?” Itu dia. Wali Kota Mungli yang terus pasang muka garang sejak diriku datang ke kantornya dua jam silam kini meredup, ia tentu paham semahal apa pun barang tidak ada yang seharga dengan nyawa. Huh. Dirinya boleh mengeluh soal uang hangus atau rumah-rumah mewahnya terus berkurang pada setiap ekspedisi kami, tapi hati kecilnya harus tetap waras bahwa dia tidak pernah kehilangan satu orang pun selama ini. Harga yang kebilang murah, bukan? Meskipun, praktiknya tidak seekstrem itu. Aku tadi gertak sambal. Pegawai yang tertangkap saat operasi selalu Bung Lame kembalikan utuh beberapa bulan kemudian, dan mereka langsung kuoper ke kantor cabang baru supaya tidak bertemu lelaki gendut satu di depanku. Jadi secara teknis kerugian ekspedisi kami dia yang tanggung sendiri …. *** “Raziaaa lagi …!” Di mana-mana metodeku selalu sama, teori gunung es. Yang tampak ke permukaan cuma bagian kecil dari apa yang tersembunyi di bawah sana. Hanya menunjukkan puncak. Kemarin obrolanku dengan Niki gagal sampai aku harus menelepon Sisi dan minta bantuan, sekarang lihat apa yang kulakukan bersama para aparat ketertiban Veres ini. Macam lelaki gendut empunya Kota Mungli. Geng Plester mau kubikin tidak punya pilihan kecuali menurut …. “Kenapa hari ini tiba-tiba ada razia lagi?” “Gak tahu. Pokoknya lari dulu. Bicara nanti ….” Aparat ketertiban kota secara alami akan menjadi musuh para gelandangan dan tunawisma jika populasi mereka tidak terkendali, bukan? Dinas setempat tentu takkan membiarkan Niki maupun gengnya berkeliaran, apalagi bila ada laporan para pengamin paham antikemapanan itu nyata ‘lah merusak pemandangan. Bayangkan saja gundukan sampah di pojokan gang. “Sama tadi udah lima kali kita kena razia minggu ini,” keluh salah seorang tunawisma kepada teman-temannya di bawah sana, duduk melingkari dua api unggun dekat salah satu tiang jembatan. “Kalau kayak gini terus yang ada mending kita pindah kota lain aja. Ya, gak?” “Pindah ke mana?” timpal tunawisma lain, mendongak pada tunawisma pertama. “Veres itu udah jadi kiblat sama tujuan banyak gelandangan kayak kita-kita, gak ada yang setoleran di sini.” “Razia lima kali seminggu, itu yang kamu bilang toleran?” sahut tunawisma ketiga, setengah ngotot, ia lanjut pindah duduk ke sebelah tunawisma kedua. “Dulu, iya. Aku nyangkanya gitu. Cuma sekarang Veres kayaknya udah enggak ramah sama kita-kita lagi ….” Bukan gak punya empati. Mendengarkan obrolan para tunawisma sambil pura-pura mengantuk menggantung di besi rangka jembatan belum jadi begini terus pura-pura enggak dengar apa-apa sembari tutup mata. Hanya kondisi yang kumau buat dalih sebelum mengajak mereka ke tempat Wali Kota Mungli belum cukup …. ***

Plester Co.

Bab 15 Gorong-Gorong Bawah Kota

Di publikasikan 01 Sep 2026 oleh Bengkoang

“Hampir lima tahun dan mereka masih sama ….” Aku turun dari mobil lalu mengganti Mantel Ungu dengan Mantel Jerami—masih mantel pertapa, tapi sedikit lebih merakyat ketimbang jubah tetua sekte pertama. Selanjutnya kuketuk kaca pintu si Jago pakai buku jari, isyarat agar sedan hitam satu itu melaju dan mencari tempat buat menepi sendiri. Urusan di kota ini menuntutku ‘tuk tidak menunjukkan isi dompet …. *** “Buat apa kamu ke sini?” Tadinya, kupikir bicara dengan teman akan lebih mudah karena pernah punya pengalaman selingkung. “Cuma kebetulan mampir terus lihat kalian.” Ternyata enggak juga. “Iseng aja main ke sini ….” Niki, dengan gaya khasnya, cekak pinggang dan mendongak pas dua anggota Plester membawaku ke kemah sementara mereka dekat mulut terowongan pengendali banjir bawah kota Veres—sangat ‘ramah’ buat ukuran kawan lama. Penampilan si ketua geng juga tidak banyak berubah, cuma ada tambahan pelindung di kedua kaki sampai lutut sama sarung tangan berduri sebelah kanan. Rambutnya masih sependek lima tahun lalu. “Gimana usaha kamu, Mi?” tanyanya, terdengar mengejek serta sesinis saat ia melihat papan dada hari pertama Plester Co. kumulai. “Masih mulungin sampah di Sebek, ‘kan?” Aku celingak-celinguk, terus jalan dan duduk di sofa bekas rusak dekat dinding. “Aku udah gak di Sebek—” “Bangkrut, ya?!” potong Niki yang juga menyambar kursi lipat kemudian duduk di depanku, “jadi ceritanya sekarang kamu mau minta gabung sama kita lagikah?” Hem. Aku sudah ingin menyangkal, tapi pas ingat rencana segera kutahan diri terus lanjut rebahan saja. “Jubah baru kamu emang lebih cocok daripada yang kemarin, Mi.” “Emang kenapa sama yang kemarin?” “Kebagusan!” timpal si ketua geng sambil buang muka, “yang sekarang ini baru pas buat gelandangan kayak kita-kita—eh, ya! Jubah itu kamu jual apa gimana?” “Yang ini dari jerami, aslinya bukan gelandangan doang yang bisa pake. Enggak usah bahas jubah, aku aslinya pengen ajak kalian kerja. Ngehasilin uang sendiri.” Kalian tahu, atmosfer lembap gorong-gorong setengah gelap itu tiba-tiba jadi mencekam. Bukan karena apa-apa, perubahan aura Niki sama gerakan anggota-anggota Plester di belakang pas dengar tawaranku tadi sontak menghadirkan kesan sunyi ke tengah-tengah kami. Apalagi setelah delikan si ketua geng mencegah anak-anak buahnya tersebut buat berani mendekat. “Maksudnya ikut jadi pemulung kayak kamu?” “Bukan.” Kurapikan dudukku sebelum lanjut berkata, “Kerjaan beneran, kalian dibayar terus dapat ma—” “Pergi!” Yang, sialnya, langsung kena tolak tanpa diberi kesempatan buat dapat pertimbangan. “Gak usah sok baik, baju kamu aja enggak lebih bagus dari yang terakhir kita bareng dulu.” ‘Hem. Padahal yang ganti cuma mantelnya doang,’ batinku lantas coba membujuk Niki. “Serius. Ini aku mau nawarin kerjaan beneran, kalian bakal dibayar buat—” “Cukup!” Si ketua geng mendelik, aura sekitar dirinya ikut menajam saat itu, dan ia kemudian bangkit. “Pintu keluar ada di sana, gak perlu kuantar, ‘kan?” Cek! Karena situasi tumbuh ke luar rencana, kukira obrolan kami harus kujeda dulu. “Aku masih bakal ada di Veres beberapa waktu ini,” ujarku sambil berdiri, “kamu bisa cari—” “Simpan saja bualan kamu buat kelompok lain ….” Percobaan pertama gagal. Diriku tidak tahu kenapa Niki sangat sensitif hari itu, tapi aku juga tidak bertanya. Jadi kusimpan penasaranku lalu pergi dari gorong-gorong pengendali banjir tersebut tanpa memikirkan apa-apa. Namun, kegagalan tadi ibarat sebuah pukulan. Meski tidak keras, tetap terasa menyebalkan. Aku tidak suka …. *** “Hallo?” Belajar dari pengalaman, kali ini aku tidak ingin buru-buru menemui Niki atau anggota-anggota Geng Plester lain. Kuputuskan buat menyelidiki mereka sebelum mencoba kembali di kemudian hari. Supaya kegagalan di atas tidak terulang …. “Hallo, Sisi?” tanyaku, coba memastikan suara di seberang gagang telepon betulan milik si manajer keuangan. “Kamu kenal suara saya?” “Bos?” “Bagus. Saya keknya gak bakal balik Markas cepat-cepat, jadi tolong dengar apa yang mau saya bilang ke kamu sekarang ini baik-baik ….” *** Hem. Sembari menunggu hasil obrolan dengan Sisi, kukira aku bisa keliling kota yang dipanggil surga hiburan tanpa malam ini sebentar. Veres. Sekalian mencari cara biar Geng Plester mau pas nanti kubujuk lagi …. “Permen kapas yang itu berapaan, Pak?” “Lima suth saja.” “Satu.” Ngomong-ngomong. Veres ini jenis kota yang sebelas dua belas sama Mungli, punya citra ganda. Siang di sini cerah, kegiatan orang-orangnya rapi, jadwal mereka jelas serta sebagian besar sangat tertata, terus kesan pertama waktu diriku kemari tiga bulan lalu pun sangat-sangatlah baik. Aku tidak pernah linglung pas mencari alamat. Kalau malamnya, sebaiknya jangan kalian tanya. “Ada raziaaa!” Saking tertatanya Veres juga dikenal dengan julukan: Kota Seratus Hukum. Lantaran menggantungkan ekonomi pada sektor hiburan dan pariwisata, dia terpaksa harus menghadirkan ilusi superaman demi menarik para pelancong supaya terus berdatangan. Hasil akhirnya jelas, sederet perangkat hukum berisi aturan ketat yang menguntungkan segelintir pebisnis di industri terkait. Razia pedagang kaki lima semacam tadi buntutnya menjadi pemandangan lumrah, bukti bahwa surga hiburan tanpa malam itu di satu sisi juga gagal menyediakan ‘ketenteraman’ bagi sebagian penduduk-penduduknya—ini sekaligus bahan buat kalian kalau termasuk jenis pemikir kritis sama ahli-ahli curiga garis keras. Hehe. “Ke-kenapa kamu ikut lari?” Eh? Benar juga. Yang kena razia kan pedagang kaki lima. “Ke-kenapa saya lari, ya?” “Lah, kok, malah tanya?” Aku garuk kepala merespons lirik beserta delik-delik heran mata para pedagang yang berhasil lolos dari kejaran aparat keamanan di taman kota sebelum ini. Sama, diriku pun saat itu tidak tahu kenapa tadi malah ikutan lari. Mungkin kebawa suasana. Saking paniknya sampai lupa diri—entah, tapi. “Kamu itu aslinya apa, tah?” tanya salah seorang pedagang, duduk selonjoran sambil mengistirahatkan badan di trotoar. “Bukan pengamen, ya, ‘kan?” “Dia tadi beli dagangan saya, kok,” timpal pedagang lain, penjual permen kapas sebelumnya. “Uangnya bagus. Masa, ya, hasil ngamen. Gak mungkinlah.” “Eh, bisa aja. Kita, kan, gak tahu.” “Daripada nebak-nebak terus salah, mending tanya o—eh?! Orangnya mana?” “Lah, iya, orangnya barusan mana …?” Banyak hal tidak kupahami. Biasa kulihat, tetapi tidak pernah kupikirkan. Veres termasuk di antaranya. Aku kebilang abai akan realitas sosial di balik apa-apa yang telah kota ini sajikan pada pengalaman pertamaku tiga bulan lalu. Terus terang saja …. Pertanyaan. Jikalau diberi kesempatan berlibur ke surga hiburan macam Veres selama satu atau dua pekan, apa kalian akan menyempatkan diri ‘tuk sedikit menjelajahi jalan seberang hotel buat menambah rasa ‘penasaran’ atau hanya akan tetap menikmati waktu dan jadwal libur kalian? Kita tidak sedang menghakimi, apa pun pilihan kalian nanti hal itu bukan aib. Titik. ***

Plester Co.

Bab 14 Krisis Energi

Di publikasikan 01 Sep 2026 oleh Bengkoang

“Markas Besar Pertamana di depan mata kita.” Aku senyum mendengarkan Lame di sebelah. Kami baru saja tiba ke dekat Markas Pertamana, tembok besar dengan tentara lalu lalang di atasnya seberang bukit tempat sedan hitamku terparkir. “Sekarang apa?” “Tidak ada,” jawabku terus jongkok dan meraba tanah, “kalau tebakanku benar, Bung, tangki bensin mereka seluas daerah yang dikelilingi tembok besar di sana itu.” “Cih!” Lame ikutan jongkok. “Kau tahu volume sebanyak itu masih belum cukup bu—” Kuangkat tangan kiriku, isyarat agar dirinya memberiku kesempatan buat fokus. “Berapa jumlah perusahaan serupa Pertamana di benua?” tanyaku beberapa saat kemudian, ingin memastikan sesuatu sebelum lanjut berdeduksi. “Jika setiap negara punya satu dan cadangan mereka hampir sama sebanyak ini, maka kemunduran kita ke zaman gelap takkan lebih dari lima tahun.” “Apanya yang lima tahun?” “Lima tahun sebelum bensin mereka benar-benar habis—” “Mustahil!” sanggah Lame yang lalu memberiku alasan kenapa, “dengan ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, motor dan mobil yang melaju setiap hari kurasa bisa lebih cepat daripada itu.” “Anggap dirimu benar,” kataku lantas berdiri, “sekarang kita punya gambaran berapa waktu yang bisa dipakai buat siap-siap sebelum semua lampu mana di benua mati total.” “Ngomong-ngomong ….” Lame menahan bahuku sebelum berbalik. “Bung Mi, kau belum memberitahuku apa rencana kalian setelah melihat Markas Pertamana di sini.” “Apa lagi?” Kujulingi pria kekar kita sebentar terus lanjut balik ke mobil. “Aku sama Plester Co. mau siap-siap biar masih bisa hidup pas uang nanti udah pada enggak laku ….” Serius. Mungkin kedengaran gila, tapi ketika peradaban mundur boleh jadi kehidupan akan terjungkir seratus delapan puluh derajat bahkan lebih parah. Harga ‘tuk kebutuhan pokok melejit sampai ke langit dan rasa aman mustahil dibeli cuma pakai lembaran kertas sama kepingan koin berangka yang kita semua panggil uang. Bukan ingin menakut-nakuti. Hanya. Skenario terburuk masihlah benua hancur pascapanik massal beberapa tahun ke depan atau lebih cepat lagi lalu para penyintas saling tidak percaya kemudian terpecah-pecah …. *** “Bos.” “Sisi, tolong nanti kamu ke ruangan saya sama Wiji. Sebelum itu kontak kantor-kantor cabang kita terus suruh mereka ikut rapat via sambungan telepon sore ini ….” Sekembalinya dari Markas Pertamana diriku langsung memeriksa berkas Plester Co: data pegawai, rincian aset, arsip juga hal-hal terkait; serta segera meminta para kepala cabang hingga penyelia merumuskan rencana guna menghadapi berbagai skenario buruk hasil perkiraan akan masa depan Benua Baru setelah batu mana dan batu-batu kutukan menjadi barang langka. Besoknya. Kuajak Sisi dan Wiji mendatangi bank, mencairkan setengah hingga dua pertiga simpanan Plester Co., lalu melunasi sisa cicilan gedung, kendaraan, alat-alat kerja sama lanjut membeli perlengkapan bertahan hidup yang menurut rapat hari sebelumnya akan kami butuhkan pada saat-saat krisis nanti. Satu bulan berselang, gedung-gedung kantor Plester Co. pun mulai berevolusi menuju tempat penampungan sekaligus benteng pertahanan darurat. Melenceng dari niat semula yang hanya ingin lebih siap tatkala Benua Baru mundur ke zaman tanpa energi di masa mendatang. Dua bulan hingga setengah tahun kemudian dan …. “Hem.” Aku elus dagu pas lihat tampilan baru Markas Plester Co. di tahun berikutnya. “Saya gak salah alamat, ‘kan, ya? Ini beneran ….” Kutoleh pegawai kanan kiri. “Stevan, ini bener Markas Plester Co.?” “Bener, kok, Bos. Itu tulisannya masih ada ….” Markas Plester Co. masih berwujud gedung, pencakar langit, terus kinclong bak biasanya. Namun, halaman luas serta sederet tambahan berupa ‘mes pegawai’ dengan ‘lahan parkir’ truk dan kendaraan-kendaraan baru bikin pangling. Terutama saat Mata Perak kupakai ‘tuk mengintip isi dalam mereka juga apa-apa saja yang ada di bunker bawah tanahnya …. *** “Bung Mi.” Ketika persiapan dengan segala kegaduhan di atas selesai lalu keributan-keributan kecil akibat harga BBM dan sumber energi kian meroket mulai sporadis. “Bung.” Kehidupanku sebagai CEO Plester Co. berlanjut. “Bagus kau masuk kantor hari ini. Kemari-kemari. Coba lihat apa yang kutemukan di selokan kalian ….” Aku masih bolak-balik Yotaar sama kota-kota lain di sekitar dan paling jauh masih mengunjungi Xelowa buat gantian menyapa sobat kekar bertatoku, Bung Lame. “Kau gak akan percaya,” lanjutku menjelaskan isi akua bekas di tangan, “air ini punya kandungan bensin.” Pria kekar kita sedikit mencondongkan badan, mengendus, lalu cepat-cepat mundur dan menutupi hidungnya pakai tangan. Gerakan mata dengan perubahan air mukanya pas itu rada bikin geli. Cuma sudahlah, aku lanjut membuang benda di tangan kembali ke selokan. “Kuyakin bukan cuma kita yang sadar kalau masih ada ceceran bensin di selokan dekat pom-pom mini begini, Bung,” tuturku sambil jalan ke halte tak jauh dari tempatku menyinduk air selokan, “dan kita butuh cara buat menjaga ini supaya tetap di antara kita—atau kita monopoli saja! Bagaimana?” “Pikiranmu berlebihan, Bung Mi.” Kutoleh si aparat penegak hukum kemudian duduk di bangku halte. “Kantorku sebelah pom mini sana,” ujar Lame, berdiri dan menyalakan rokok sebelahku. “Kulihat baru kau yang iseng memeriksa selokan macam tadi. Huh ….” “Orang-orang hanya belum tahu cara—” “Aku sudah mendatangi kota-kota di surat yang kaukirim,” sela si aparat penegak hukum, mengangkat topik dengan isu yang sedang kutunggu sejak beberapa bulan lalu. “Huh … seperti katamu, mereka hidup dari sisa-sisa tempat sampah dan bermalam di saluran drainase kota.” Kusenyumi pria kekar kita. “Terima kasih—” “Aku belum selesai …,” potong sobat penjelajah malamku itu, ia buang puntung rokoknya yang masih sangat panjang lantas pindah dan duduk di bangku bersamaku. “Kau mau apa setelah menemukan mereka?” Yang kami bahas saat itu para tunawisma Stuckenborstel. Geng Plester. Kelompok Pareta dan Niki kalau kalian masih ingat. Orang-orang yang suka atau tidak telah membantuku berkompromi dengan gegar budaya pada keasingan Benua Baru zaman ini. “Anggap saja aku punya hutang budi pada mereka, Bung Lame.” Lame mendongak gemas sebelum lanjut tanya. “Kau tidak sedang menggodaku, ‘kan? Bung Mi, kita ini teman lama. Beri tahu saja apa rencana kalian dan kujamin mereka takkan mengganggu usaha-usaha Ples—atau jangan-jangan kau mau merekrut orang-orang tanpa rumah itu buat jadi ujicoba sama penyelundup obat terlarang, ya, hah?!” “Sialan!” Sudut-sudut bibirku spontan naik dengar dugaan liar si aparat penegak hukum. “Kalaupun benar aku punya niat jahat pada mereka, kau harusnya jadi orang pertama yang menangkapku terus naik jabatan, ya, ‘kan. Ada-ada saja. Hahaha ….” Entah niatku ini benar atau salah. Geng Plester mau kurekrut dan kudanai supaya terorganisir, tidak berantakan, serta lebih terarah sama punya tujuan jelas kenapa mereka perlu ada. Soal apa yang kelompok itu lakukan saat niat tadi terlaksana jujur belum kupikirkan sama sekali, mungkin setelah ini. Diriku sekarang hanya ingin mereka supaya bisa bertahan menghadapi krisis energi sama tidak terseret limpasan arus kepanikan massal beberapa waktu mendatang, itu saja. Titik. ***

Plester Co.

Bab 13 Mundur?

Di publikasikan 01 Sep 2026 oleh Bengkoang

Dua setengah tahun. Plester Co. sudah jalan dua setengah tahun, punya tiga cabang usaha, pelanggan di lebih dari dua puluh satu kota termasuk di antaranya Mungli, Sebek, Yotaar dan Stuckenborstel. Empat kota pertama yang kujelajahi sembari meraba-raba Benua Baru zaman ini. Dan, aku tidak ingin berhenti. Seandainya saja dua tahun lalu diriku tidak menyadari dunia-dunia lain di atas sana, mungkin Plester Co. sudah kujadikan satu-satunya penyedia jasa kelola limbah kota di tanah ‘asing’ ini. Namun, jangan pernah salah kira, sebab kehidupan yang terbagi siang malam sejak dua tahun silam itu pun tak pernah kusesali. Malah, dia menjadi lebih menarik. “Bos. Area sini sudah kami periksa, gak ada masalah. Kita bisa mulai operasi pembersihan dari blok depan.” Siang hari peranku sebagai CEO Plester Co. memberi tanggung jawab atas sumber penghidupan delapan ratus lebih pekerja di dua puluh satu kantor—utama beserta cabang-cabang—nya yang tak boleh berhenti mengalir. “Lanjut fase dua, Sobet. Atur semua kayak biasa. Saya gak balik kantor lagi habis ini.” “Ah! Rebes, Bos. Tenang saja, semua aman sama saya.” “Bagus ….” Sedang pada malam harinya dunia-dunia kecil di atas sana menjadi hiburanku. “Chloe. Berapa kanal kecil yang masih ada?” [Satu.] Meskipun sekarang adalah malam terakhir mereka …. *** “Pagi, Bos.” “Pagi, Potur. Kalian dah makan?” “Ahaha, ini lagi, Bos.” “Lanjut, ya.” “Pagi, Bos.” “Pa—” “Bung Mi!” Aku berhenti tepat di depan pintu lobi, kemudian berbalik. Respons terhadap panggilan pria kekar berseragam lengkap dengan topi dan kacamata hitam kebiruan yang baru saja memanggil. Bung Lame. “Tumben, pagi-pagi gini udah di si—” “Bung Mi. Kau, sudah lihat, berita?” tanyanya, masih dengan nada dan napas agak tersenggal. “Hah ….” Kubiarkan pria kekar kita itu menstabilkan napas dulu. “Bensin Pertamana hari ini naik lagi—bukan-bukan! Kanal kecil di Lambita tadi malam hilang, kita sekarang sudah gak punya tambang batu kutukan. Kau tahu apa artinya itu, bukan?” Lambita, kota yang kanal kecilnya semalam kumasuki. “Terus?” “Oh, ayolah. Bung Mi, dirimu CEO Plester Co., ‘kan? Pertamana sebentar lagi bangkrut, mesin-mesin truk sampahmu sama mobil patroliku takkan bisa dinyalakan lagi pas mereka gulung tikar.” Hem, aku tidak memikirkannya. “Kurasa kau benar. Kita bicara di dalam ….” Aku benar-benar lupa kalau Benua Baru menggantungkan hidup pada kanal-kanal kecil ini. Beda dari Eldhera yang punya cebakan batu mana dan para monster dengan batu-batu kutukan sebagai bagian pada inti sihir mereka, Benua Baru sedikit lebih normal. Dia tidak memiliki keduanya. Hewan-hewan mistis telah lama punah, tanah gersang aura sihir, manusia di atasnya pun jauh dari istilah ajaib sebab punya teknologi supermaju serta sudah tidak kenal cara merapal mantra. Sialnya lagi aku baru ingat hal itu sekarang …. “Presiden baru mengumumkan krisis energi,” ungkap sobat penjelajahan malamku sejak dua tahun lalu, Bung Lame, sesaat kami duduk di ruanganku. “Dan semua orang sedang panik sekarang, Bung Mi.” “Bung, mungkin diriku salah, tapi tolong jelaskan apa yang terjadi jika kita kehabisan batu mana dengan batu-batu kutukan selain mesin mobil mati. Jujur, aku tidak menemukan masalah jika dua benda ajaib itu hilang.” “Bung, kau tidak lihat kabel sama tiang-tiang besar di depan kantormu sana?” Aku menoleh ke kanan, melihat pemandangan seberang jendela sekilas. “Lampu lalu lintas,” sambung Bung Lame, “lampu-lampu penerangan di trotoar, taman—bahkan gedung dan kantor ini, semua dialiri mana. Jangan lupa, kau juga pakai kompor mana buat dapur kalian, bukan?” “Terus?” “Alat-alat rumah tangga—tidak! Maksudku hampir semua benda di rumah-rumah kita memakai mana sebagai energi. Bayangkan jika tiba-tiba batu-batu mana yang menjadi sumber energi itu lenyap.” “Kita mundur ke era klasik, lilin sama obor?” “Lebih parah!” tukasnya penuh keyakinan, “belum seberapa kalau hanya mundur ke era klasik, tapi bayangkan orang-orang yang kadung terbiasa pada peralatan-peralatan mana ini. Bukankah—” “Bos!” Wiji menjeda kami, ia buru-buru mendekat dari pintu kemudian mengasongkan dua buah berkas dari samping sofa tempatku dan Bung Lame berbincang. File bersampul merah tua dengan hijau lumut. “Kita dapat laporan banyak tunawisma di saluran air Yaokie, mereka gak mau pindah ke tempat penampungan terus tim pembersih enggak bisa lanjut kerja.” “Udah kontak orang dinas?” “Belum ada jawaban, Bos.” “Kalau gitu tunggu aja respons mereka. Para tunawisma juga manusia, gak usah diganggu.” “Satu lagi, Bos. Kurir kita ngeluh BBM naik.” Kulihat Bung Lame dengar laporan Wiji, dan pria kekar kita itu cuma angkat bahu membalas lirikan tersebut. “Saya sudah dengar bensin sekarang jadi barang langka,” kataku lantas senyum, “coba telepon Pertamana terus pesan bensin buat cadangan kantor bulan ini sama bulan depan, enggak apa-apa kalau mereka minta lima kali harga pasar. Kasih saja. Toh, kita memang butuh.” Kuakui diriku ceroboh. Tidak memikirkan Benua Baru bergantung pada sumber daya kanal lain. Bahan bakar mana, angka pengangguran dan tunawisma naik gegara penduduk kanal lain turun kemari, serta kemunduran yang Bung Lame sebagian telah singgung. Semua luput dari perhitungan …. *** “Kita mau ke mana?” Kunyalakan mesin mobil begitu Lame pasang sabuk pengaman. “Bung Lame,” panggilku, jawaban atas pertanyaannya barusan. “Kanal kecil di langit Lambita baru hilang tadi malam, ya, ‘kan? Itu artinya cadangan batu mana sama batu-batu kutukan di Pertamana terus BPSD harusnya sekarang masih ada.” “Nona Wiji bukannya baru …, pesan?” “Bukan mau beli, kok!” selaku yang lantas tancap gas begitu melewati gerbang depan Markas Pertama Plester Co., “tapi mau lihat cadangan mereka aja ….” Kemunduran Benua Baru tidak dapat terhindarkan, apalagi kanal-kanal kecil yang sudah Chloe telan mustahil kukembalikan. Seandainyapun bisa, kurasa hal itu bukan langkah tepat. Terlebih, jembatan kanal baru nanti mungkin saja malah akan jadi sumber petaka lain ‘tuk benua ini. “Kau bilang mau ke Pertamana, kenapa kita—” “Isi bensin dulu,” kataku lekas turun lalu membuka bagasi belakang, membuka tutup-tutup jeriken, kemudian mengisi tangki si Jago sampai penuh setelah mereka semua terisi. Lame, yang waktu itu melihat dari kursi depan mobil, geleng kepala ketika aksiku selesai. Dirinya setelah itu berkomentar, “Harusnya, ya, tadi aku juga bawa satu atau dua jeriken kosong sebelum ke kantormu, Bung Mi. Kau sepertinya berpengalaman di situasi macam sekarang. Tidak panik, tapi langsung main borong banyak liter sekaligus terus—” “Kita gak tahu ke depan bakal gimana …,” timpalku, menaruh moncong selang lalu bayar. “Mumpung masih awal terus orang-orang belum pada sadar, mending gerak duluan. Gak salah, ‘kan?” “Caramu ini, aku benar-benar tidak bisa menyangkalnya.” “Terima kasih, kuanggap itu pujian.” Aku kembali ke mobil. “Cuma, kita beda pikiran. Kau yang masih bisa santai padahal tahu sebentar lagi akan menghadapi krisis juga cukup mengagumkan, Bung.” “Ngomong-ngomong, Bung Mi …, Plester Co. mau kau apakan jika kita benar-benar mundur ke era klasik?” Entahlah. Aku belum memikirkannya. Tabunganku sebagai CEO sampai bulan lalu baru ada seratus delapan puluh ribu empat ratus lima puluh suth, tambah Plester Co. sekitar lima puluh delapan juta sekian ratus ribu. Angka ini mungkin besar. Namun, diriku ragu jumlah segitu akan cukup buat mengamankan diri kami jika kekacauan benar-benar terjadi di kemudian hari terutama saat kepanikan massal sudah mulai menyebar. ***

Plester Co.

Bab 12 Antara Hitam dan Putih

Di publikasikan 03 Aug 2026 oleh Bengkoang

“Bung Mi!” Kulambaikan tangan membalas lambaian lelaki kekar bertato kita di bawah sana, mendekat padanya, kemudian turun dan kembali mengenakan Mantel Ungu sebagai jubah pertapa. “Wah! Bung Mi, aku baru tahu jubahmu ini ternyata pusaka terbang ajaib,” akunya sembari melihati mantel unguku dengan mata penuh binar, “pantas dirimu kelihatan bangga pas memakainya ke mana-mana.” “Berhenti menatap mantelku, Bung Lame. Aku mencarimu ke mana-mana tadi, kau tahu.” “Eh? Benarkah?” Kujulingi dirinya tanpa suara. “Ya, ya, ya.” Lame segera angkat tangan. “Ini juga pengalaman pertamaku mendarat di tempat berbeda dengan orang yang naik ke Roda Bara dari gerbang yang sama, Bung Mi. Padahal kita sama-sama masuk lewat gerbang di hutan Xelowa. Sudahlah, tolong jangan mendelikiku begitu.” Kulambaikan tangan tak peduli lantas balik badan buat melihat lintasan balap di bawah kami. “Terserah. Beri tahu saja apa yang sudah kulewatkan sejauh ini, Bung. Dan, mana jagoanmu?” Lame ikut melihat mobil-mobil di bawah. “Sebenarnya dirimu belum melewatkan apa-apa, Bung Mi,” ujarnya sebelahku, “kau lihat layar besar seberang kita di sana itu, ini masih di perempat babak penentuan nomor urut.” “Belum mulai?!” Kembali, Bung Lame angkat tangan sambil geleng menepis lemparan delik penuh tanyaku. “Kukira seminggu ini kalian sudah punya jawara, Bung. Benar-benar …, kau tahu, mengejutkan.” “Balapan di Roda Bara berlangsung selama dua puluh hari,” terangnya sambil menunjuk layar besar di tengah-tengah arena dengan waktu hitung mundur menyala merah, “pertandingan utama baru akan mulai empat hari lagi. Ah, ya! Bung Mi, masih belum terlambat buatmu kalau mau lihat-lihat sebelum memilih jagoan.” Hem. Aku kadung hilang minat sebetulnya. Sejauh yang kulihat suasana di sini benar-benar cuma riuh. Meja taruhan sesak setiap kali mobil baru melaju secepat kemampuan mesin dengan roda-roda mereka, layar-layar besar di tengah arena silih ganti menampilkan gambar pengundang tawa, dan terakhir sorakan penonton pas jagoan-jagoan di arena balap menyentuh garis finis kadang juga bikin pekak. Ampun. Sayang di antara kemeriahan-kemeriahan tadi tak ada hal istimewa atau menarik perhatian sampai pengalaman pertamaku mengunjungi Roda Bara tersebut usai …. *** “Bos?” Hingga diriku kembali ke kesibukan di Kantor Plester Co. ‘keesokan’ paginya. “Perabot-perabot kantor—” “Mereka saya beli pas main ke Roda Bara tadi malam,” selaku tanpa menoleh dan sambil memeriksa laporan Wiji, “ah, ya! Sisi, di sebelah ada oleh-oleh. Tolong kamu bagi ke pegawai sama tetangga kita, ya?” “Oleh-oleh?” “Ya. Oleh-oleh. Kalian pilih sendiri mau apa, nanti setengah sisanya jadi inventaris kantor aja.” Manajer keuanganku itu mengangguk meski raut bingung belum menghilang dari wajahnya. “Eh, ya, Bos!” Dan, detik berikutnya ia sudah kembali ke mode profesional. Membacakan agendaku di hari itu hingga ‘tuk beberapa waktu ke depan. “Nanti sore ada meeting sama ….” Tidak lama berselang, bahkan belum selesai laporan Sisi ia bacakan, teman-teman sesama manajernya muncul juga dengan berkas di tangan sesaat kemudian. “Bos.” “Ya, Stevan?” “Wali Kota Hua-Vek setuju sama proposal kita.” “Bos.” “Ya, Wiji?” “Sobet katanya punya kabar bagus buat kita.” Kugeser pandangan ke orang di belakang si kepala bagian personalia. “Bos.” “Ya, Sobet?” “Walkot Sebek bikin sayembara buat desain rancangan tata kelola limbah bawah tanah, hadiahnya kontrak kerja lima tahun sama—” “Bentar!” Kutaruh berkas di tangan ke meja. “Coba sini.” Karyawan pertama yang kini sudah jadi salah satu penyeliaku itu mendekat. “Mereka bukan sudah punya tim kelola saluran air sama limbah bawah kota, ya?” tanyaku, menyambung topik soal peluang usaha yang si penyelia bawa. “Kenapa ujug-ujug bisa buka lowongan gitu?” “Perusahaan mereka bangkrut, Bos.” “Hah, kata siapa kamu?” “Ada teman saya dulu karyawan mereka, Bos,” aku pegawai pertamaku, bangga. “Sekarang dia nganggur.” “Hem.” Aku berpikir. “Kalau mereka cuma mau cari ganti, sayembara ini benar kesempatan kita … Sobet.” “Ya, Bos?” “Coba kontak teman-teman kamu yang dulu kerja di perusahaan pengelola saluran limbah bawah kota Sebek, rekrut mereka dulu, nanti diskusi sama Wiji soal rancangan kerja kalian terus anggaran ngobrol sama Sisi. Nah, pas semua siap baru ikut sayembara. Oke?” “Kita mau ambil jasa kelola limbah bawah tanah juga, Bos?” “Plester Co. memang penyedia jasa kelola limbah, ‘kan?” balasku, melihat sambil senyum pada Sisi. “Setelah sampah rumah tangga, gorong-gorong sama saluran air bawah kota juga bakal kita sentuh.” “Bos.” Stevan angkat tangan. “Kenapa kita gak dongkrak dikit harga di proposal ke wali kota-kota lain juga?” “Maksud kamu tambahan buat biaya jasa perawatan saluran air sama limbah bawah kota ini?” “Ya.” Kulihat ia dan teman-temannya sekilas sebelum membuat keputusan. “Biar aman kita coba di Sebek dulu, deh!” pungkasku kemudian lanjut membubarkan mereka, “kalau Sobet sama tim menang sayembara terus keuntungan tahun pertama nanti bagus, kamu sama Wiji saya tunjuk buat bikin tim baru sekalian buka cabang di kota lain.” *** Sesuai obrolan di atas, bulan berikutnya Sobet dan tim ikut sayembara di Kantor Wali Kota Sebek. Dua bulan setelahnya mereka keluar sebagai pemenang lomba dan menandatangani kontrak kerja selama lima tahun sebagai pengelola saluran air dengan limbah bawah tanah tunggal kota tersebut. Pada minggu yang sama, Stevan bersama Wiji juga mulai membahas rancangan kerja ‘tuk kota-kota lain. Alhasil. Setahun kemudian, berbarengan dengan tanggal peresmian kantor cabang baru, Plester Co. pun punya dua cabang usaha tambahan. Jasa kelola beserta perawatan saluran air limbah bawah tanah dan jasa antar barang yang diprakarsai oleh Wali Kota Mungli tempo hari. Ngomong-ngomong, jangan tanya kenapa kerja sama menyebalkan yang kubilang mau kugagalkan kemarin itu tetap terjalin! Plester Co. terpaksa menandatangai kontrak sama si ‘raja dunia bawah’ lantaran enggak punya alasan buat menghindar. Jelas? Cuma, tenang saja, praktiknya enam dari tujuh operasi penyelundupan barang ilegal yang kami lakukan selama periode pertama gagal dan menghanguskan dua pertiga dari total harta si wali kota sendiri. Mantap, ‘kan? Hihi. “Kenapa kau cekikikan begitu, Bung Mi?” “Kerja bagus, Bung Lame!” Kuacungi partner kerja pas rampung menyabotase pengiriman ‘paket’ Wali Kota Mungli samping mobilku jempol. “Kuharap bandar besar barang-barang haram ini akan segera ditangkap ….” Betul. Tebakan kalian benar. Bung Lame seorang aparat penegak hukum, tetapi punya kehidupan ganda. Pada malam-malam tertentu ia adalah pecandu judi balap kronis, dan siangnya atau pada hari-hari biasa dirinya merupakan teladan masyarakat. Mengayomi, serta sangat bisa diandalkan. Juga jeli. Dia mengaku sempat curiga bahwa diriku sebenarnya anggota sindikat obat-obatan terlarang serta blak-blakan bilang juga pernah diam-diam menguntitiku ke Kantor Plester Co. lantaran isu rekening gendut. Cek! Namun, sekian bulan memata-matai tanpa hasil dirinya pun menyerah. Saat itulah kesempatanku, kalau kalian tanya kapan kerja sama kami bermula. Kurekrut ia buat bantu mengganggu operasi-operasi Wali Kota Mungli selama setahun terakhir sampai …. “Apa kata Pak Walkot, Bos?” Usaha ilegalnya vakum gegara kehabisan modal dan dia takut gagal di musim kampanye tahun depan. “Plester Co. balik kerja kek biasa, Sobet. Kalian fokus sama gorong-gorong, sampah rumah tangga, terus jasa antar paket kita cuma terima order siang hari ….” ***

Plester Co.

Bab 11 Belanja

Di publikasikan 03 Aug 2026 oleh Bengkoang

Konon, barang-barang pasar dunia kecil ini punya riwayat perjalanan jauh. Mereka telah melintasi setidaknya dua atau tiga kanal pemeriksa sebelum berakhir tersenyum menyapaku macam sekarang …. “Hem.” “Pe-pelanggan.” Aku bangkit kemudian menoleh, pegawai stan yang menemaniku keliling dan berbelanja lekas mendekat dari arah pintu, dan barang-barangku yang menutupi setengah wajahnya tampak begitu berat ketika itu. “Pe-pelanggan,” panggil si pegawai ‘tuk kedua kali, ia taruh belanjaan di lantai kemudian atur napas sebelum lanjut bicara. “Hah … Pelanggan, a-apa Anda tidak bawa kantung dimensi?” Begitu tanyanya pas membuka topik, menjeda kegiatanku melihat-lihat barang dagang di toko tersebut. “Kantung dimensi.” Ia menjelaskan. “Macam cincin ruang, ornamen giok sihir, atau sabuk mutiara ajaib buat menyimpan barang-barang Anda. Tidak punyakah?” Entah kenapa, tapi satu sudut bibirku tiba-tiba naik mendengarkan ucapannya. “Apa di pasar ini ada yang jual benda ajaib semacam itu?” “Kebetulan toko kami punya koleksi kantung dimensi terbaik se-Roda Bara,” timbrung seseorang, wanita, bergaun indah, kerudung cantik meski tidak menutupi sebagian rambut, serta sangat wangi. Si wanita mendekat diikuti dua perempuan lain dengan stelan lebih sederhana, tapi tetap rapi walau tak sewaw orang yang mereka ikuti. “Maaf barusan tiba-tiba menyela,” ujarnya yang lantas menganggukkan kepala, “saya manajer toko sederhana ini, salam.” “Sa-lam.” Kutoleh orang yang menemaniku, gerakan spontan pas dengar suara sang manajer toko. Dan, kalian tahu apa? Wajahnya tampak berseri-seri menatap si wanita seakan rasa capai yang ia tunjukkan padaku sesaat lalu tidak pernah ada, sirna begitu saja. “Salam,” kataku lekas mengangkat semua belanjaan menghalangi mereka pakai Benang Pandora, “aku butuh tas buat menyimpan kotak-kotak hadiah ini, ada—” “Tentu saja ada!” sambar orang sebelahku antusias, dia bahkan kelihatan lebih semangat daripada manajer sama dua asisten di seberangnya. “Anda harus tahu ini, Pelanggan, toko Nona Wagjun termasuk satu di antara empat belas toko terbaik milik pasar kami.” “Ahaha, Anda terlalu memuji.” “Wagjun?” “Ah.” Si wanita mendekat merespons kebingunganku. “Di mana sopan santun saya,” ucapnya sebelum lanjut mengenalkan diri, “perkenalkan, saya Wagjun, perintis toko sederhana ini.” “Bukanya situ tadi bilang manajer?” “Manajer merangkap pemilik, Pelanggan,” jelas orang di sebelah. Hem. Kalian tahu, aku sempat termenung sebelum menanggapi mereka dengan bilang, “Terserahlah, tolong tunjukkan saja barang koleksi yang Anda singgung tadi, Nona.” Bukan ingin ketus, tapi saat itu diriku sudah mulai dilanda bosan—plus, gak tahu lagi mau ngomong apa. Toko-toko yang kumasuki sebelum kemari, toko wanita yang barusan mengenalkan diri sebagai Wagjun dan katanya masuk jajaran empat belas terbaik ini, juga mengaku barang-barang mereka semua koleksi terbaik dan tidak ada duanya. Namun, pas kulihat toko sebelah ternyata mereka pun menjual ‘koleksi’ serupa. Pendeknya suasana hatiku kadung rusak duluan sama cara para penjual sini berdagang, gitu. *** “Bagaimana, Pelanggan?” “Dua tas ini dari kulit macan kumbang sama macan tutul yang dikasih rajah terus baru dirangkap pakai mantra ruang, ‘kan …?” tanyaku merespons sang ‘pemandu’ selesai melihat-lihat ‘koleksi’ Toko Wagjun, pertanyaan buat si manajer sebetulnya. “Berapa banyak yang bisa mereka tampung?” “Dua tas di tangan Anda merupakan edisi terbatas. Selain desain, performa mereka sudah termasuk terba—” “Berapa?” ulangku, ingin menjaga obrolan agar jangan terlalu berbelit. “Aku hanya akan ambil satu dan desain sama bentuk luar bukan perhatianku di sini, Nona. Tolong.” Kalian tahu, setelah rentetan basa-basi yang lumayan bertele-tele, aku akhirnya tahu kapasitas dua tas tersebut sekitar beberapa belas kilo. Terlalu mahal buat harga seratus neodin yang tetap kubayar di akhir percakapan. “Silakan datang kembali ….” “Itu yang kau bilang toko terbaik?” kataku pada pemandu di sebelah. Pertanyaan yang juga dibalas tanya tambah lirik heran pas kami keluar. “Anda tidak puaskah?” “Sangat,” akuku blak-blakan, “bukan enggak puas lagi ini, tahu. Seratus neodin memang gak mahal, tapi iklan kalian yang seolah mau memberiku barang ‘mewah’ benar-benar bikin mood rusak. Sembilan belas kilo doang mah di tempatku bukan koleksi ….” Pemandu satu sebelahku cuma ketawa garing mendengarkan semua keluhan tersebut sampai kami berhenti di satu restoran buat makan siang. Sesuai janji, kutraktir dia makan lalu kubagi ia beberapa cenderamata sama dua ratus neodin sebelum berpisah. Sehabis itu kulanjut jalan-jalanku sendiri. Dan, aku tidak lagi tertarik pada pasar kanal kecil ini. Jadi diriku terbang ke penanda peta berikutnya …. *** Di jalan, sesaat sebelum tujuan. “Jalan—cepat jalaan!” Kulihat rombongan orang dengan borgol dan rantai melilit leher, pergelangan tangan, serta kaki-kaki mereka tengah dicambuk agar terus berjalan meski sudah terhuyung lesu. Tidak memakai alas kaki, pakaian compang-camping, bahkan ada yang tak berbaju sama sekali. Sedang orang-orang di samping barisan mereka kebalikannya. Duduk di punggung burung mirip burung unta dengan bulu sama cakar kaki lebih tebal dan tajam. Jubah berlapis, memakai penutup wajah yang melindungi dari debu tanah gersang di bawah sana, serta pretelan-pretelan kecil yang malas kusebut satu-satu. Dari arah jalannya, kukira tujuanku dan mereka searah. “Berhentiii!” Beberapa orang sigap menyambar senjata, sebagian menghunus pedang, tombak, serta ada yang menodongkan senapan semi otomatis waktu mantel unguku turun dan melayang ke muka barisan mereka. “Saudara di depan sana!” pekik seseorang, keluar dari barisan dan berhenti usai sekian langkah. “Orang-orang memanggilku Tzoobeno, dari kelompok pengantar budak Kota Lambere. Kenapa menghadang kami?” Aku tidak turun dari Mantel Ungu, tapi kulempar sekotak neodin ke depan orang itu sebagai jawaban. “Harga?!” teriakku kemudian menunjuk ‘dagangan’ mereka, “aku ingin orang-orang yang kalian bawa.” Orang itu menoleh ke belakang, ia dan orang-orangnya bertukar tanda sebelum kembali meladeniku. “Maaf, Saudara, tapi budak-budak ini sudah dipesan untuk arena—” Lung—Bruk! Kulempar lagi enam kotak neodin ke depan sana. “Suasana hatiku sedang buruk …,” kataku yang lalu mengambil Kelabang Merah, mengayunkan kapak perang satu itu ke sembarang arah hingga angin serangannya menghantam tebing ngarai sampai longsor dan menutup jalan di belakangku. “Jadi kutanya sekali lagi, berapa harga dagangan kalian?” Namun, orang di seberang tidak gentar, ia tetap pada jawaban pertama. “Saudara. Sekali lagi maaf, mereka sudah dipesan untuk arena Ceruk Sabung Jala. Tolong jangan mempersulit kami di Ngarai Kuning ini.” Cek! Antara sebal sama kagum. Sebal sebab niat membeli budak-budak di sana buat kubebaskan lagi nanti tak tercapai, sedang terkagum lantaran orang di hadapanku ternyata berani memegang prinsip walau menghadapi ancaman semenakutkan tebasan Kelabang Merah. “Bagus,” gumamku lantas membelah tanah di belakang sekali ayunan, Duash! membuka kembali jalan yang sempat tertutup. “Aku tidak suka bisnis kalian, tapi kau layak dihormati.” Kutarik kembali kotak-kotak neodinku lalu mendekat. “Dari kanal mana mereka ditangkap?” “Ah! Saudara, kau salah paham,” ungkap orang yang tadi mengaku dipanggil Tzoobeno, “mereka terpidana hukuman mati dari putusan pengadilan Lambere, bukan budak hasil tangkapan atau menyerbu kanal lain. Kita tidak punya budaya semacam itu di sini, Saudara.” “Hem.” Untung gak jadi kubeli. “Ternyata mereka penjahat. Baiklah, aku takkan mengganggu kalian kalau begitu ceritanya. Selamat tinggal ….” Tadinya, para pengantar budak itu mau kutebas kalau ternyata mereka juga memburu serta memperjualbelikan orang-orang dari kanal lain. Namun, bila kasusnya hasil sidang di pengadilan dan orang-orang yang Tzoobeno giring tadi memang terbukti pelanggar hukum berat buat apa tanganku bertindak. Menolong orang jahat mendapat kebebasan dari hukuman atas perbuatan jahatnya ‘tuk kembali berbuat jahat sama saja dengan membantu perbuatan jahat itu sendiri. Ya, ‘kan? Aku tidak mau …. ***

Plester Co.

Bab 10 Pribumi

Di publikasikan 03 Aug 2026 oleh Bengkoang

“Kamu bukannya ambil misi nebang kayu buat barak Raja Sheng, ya, Mi?” Aku menoleh, senyum, lalu balik melihati balai pertemuan koloni. “Aku masih penasaran sama orang-orang di dalam,” akuku pada Roxina, merujuk tiga orang yang tadi pagi bikin heboh se-Kemah Tenggara. “Ternyata kita bukan penemu benua ini, tahu.” “Hah?” Saudari seperguruanku dan Doll itu lantas duduk di bangku sebelah. “Kamu ngomongin apa, sih? Ada siapa di sana emang?” Aku menjuling sebelum lantas kembali menoleh. “Kau belum dengar kita baru kedatangan pribumi, ya?” Roxina menggeleng. Jelas sekretaris serikat dagang dan pemburu merangkap juru tulis sama asisten pribadinya Guru itu takkan tahu, tumpukan berkas dengan pekerjaan di tenda logistik pelabuhan jarang memberikannya waktu buat bisa berkeliaran. Hem. “Tadi orang-orang Kemah Tenggara ribut, ada penduduk asli sini. Tiga orang, pakai baju daun. Bawa rumput obat, umbi-umbian, terus lagi diajak ngobrol sama Guru—nah, tuh Raja Sheng baru keluar!” “Kamu mau ke mana, Mi?” “Kepoin Guru-lah, apa lagi?” Cerita soal pribumi datang ke koloni hari itu menjadi trending topic. Hampir tidak ada yang tak tahu kabar ini kecuali mereka yang kebetulan sedang kebagian kerja di luar kemah. Bahkan hingga beberapa hari ke depan semua orang masih akan curi-curi waktu memeriksa area sekitar buat menemukan tanda kemunculan para penduduk asli tersebut lalu melaporkannya lagi …. *** “Bagaimana, Guru?” “Aku tidak paham omongan mereka,” ujar Guru pas kupapak di depan tenda balai pertemuan, “orang-orang itu cuma menunjuk keranjang sama mengayun-ayunkan tangan sambil teriak, kepalaku dan si Sheng pusing melihat tingkah mereka.” “Mereka bukan mau berdagangkah?” “Aku tidak tahu, Bocah. Kasim Uijen sedang mengambil beberapa benda buat ditawarkan pada mereka.” “Guru.” “Ah!” Wajah Guru langsung semringah pas bertemu Roxina. “Kebetulan dirimu di sini, Sayang. Ibu baru saja mau memanggilmu dan Doll ke kemah putri. Tetua Su bilang aula pertama padepokan kita sudah jadi, temani Ibu memeriksa ke sana, ya?” “Murid gak di a—” “Kau kerja sama si Sheng di hutan sama ladang-ladang kita saja sana, Bocah!” Asem, beliau bahkan tak memberiku kesempatan bicara sampai selesai. “Jangan mengeluh,” tambah Guru sebelum pergi, sudah merangkul Roxina dan mau melangkah. “Laki-laki itu tulang punggung keluarga, kau harus berlatih bekerja keras demi ibu dan saudara-saudarimu di sini ….” Begitulah beliau. Tidak perlu kujelaskan lagi. Ngomong-ngomong, hal menarik terjadi di hari itu. Yakni ketika Doll, yang entah habis dari mana, kulihat tengah cekak pinggang mencegat ‘tamu’ koloni tadi di gerbang Kemah Tenggara tempat mereka muncul pertama kali sekian saat kemudian. Dan, kalian tahu, dirinya tampak begitu fasih bicara dalam bahasa tiga penduduk asli tersebut. Aku sampai mendelik terus kucek mata bekali-kali saking gak percayanya …. “Doll. Kau habis bicara sama mereka?” “Mi. Ya.” “Kau ….” Kutunjuk putri kesayangan Guru itu separuh terbelalak, heran serta masih sukar percaya pada apa yang baru saja kulihat. “Bi-bisa bahasa mereka? Penduduk asli benua ini? Serius?” “Mi. Sih, apa?” Kalau kalian percaya, rasa heranku kala itu berubah jadi penasaran, dan dia mendorongku ‘tuk terus mengikuti Doll sepanjang sisa hari tersebut. Hingga keesokan paginya, kudapati lagi ibu kesayangan Miaw di masa depan ini dengan para penduduk Benua Baru itu berbincang di gerbang Kemah Tenggara macam sebelumnya. Tentu kali ini bukan hanya diriku, tetapi banyak dari orang di Kemah Tenggara yang juga turut menyaksikan peristiwa mencengangkan itu secara langsung. Dan dari sinilah semuanya dimulai. Hari-hari supersibukku di Benua Baru sampai aku nekat kabur ke Eldhera dengan menyelinap dan sembunyi di kabin belakang Perahu Terbang Ekspedisi Pertama Perguruan Telapak Besi dan Kerajaan Jian Seng tatkala mereka kembali pada bulan selanjutnya …. *** “Chloe.” [Ya?] “Titik yang ada bulet-bulet ijo ini pasar, ‘kan, ya?” tanyaku merujuk tanda pada peta buah gambar si pengelola kantung ajaib, hasil pindai para tawon waktu menyisir Kanal Kecil, di tangan. “Ayo ke sana ….” Cerita soal bagaimana aku bertemu pribumi pertama kali dan Doll menjadi penerjemah kami selama di Benua Baru membuahkan banyak hal, salah satunya pelabuhan atau bandar udara alias bandara Rumah Permata Biru. Jembatan kedua benua agar bisa saling terhubung selama ratusan tahun di kemudian hari. Juga, tempatku terlibat konflik hingga Telapak Besi Teratai Perak berpisah dari Telapak Besi dan Perkumpulan Bela Diri Benua Baru menolak Persekutuan Bela Diri Benua Timur. Semua orang ingin berdikari saat itu …. “Ini tempatnya?” “Ayo-ayo—” “Dipilih-dipilih—” “Kami punya batu mana kelas menengah, siapa ma—” “Diskon sepuluh perse—” ‘Ramai sekali …,’ gumamku dalam hati, celingak-celinguk melihati deretan stan dengan penjual saling sahut dari kanan kiri jalan. “Hem.” “Pelanggan, Pelanggan!” panggil seseorang, keluar dari stan dagang dan mencegatku. “Kulihat Anda seorang kepala biara. Kuil Anda pasti sangat megah, ya, ‘kan?” Aku bingung harus menanggapi orang itu bagaimana. “Kebetulan, toko kami punya barang-barang ajaib—bisa disebut pusaka! Cocok dengan jubah luar biasa Anda, Pelanggan …,” bisiknya sambil mengedipkan mata, seolah ini hanya antara kami berdua. “Kujamin harganya juga akan sangat terjangkau.” “Haha ….” Kugaruk pipi sambil ketawa garing. “Aku bukan kepala biara, dan niatku ke sini juga cuma baru mau lihat-lihat saja.” “Eh?!” Mata orang itu seketika terbelalak. “Tak ada yang namanya melihat-lihat saja ketika Anda sudah masuk pasar, Pelanggan. Coba beritahu pedagang sederhana ini Anda sedang cari atau butuh apa. Jangankan membeli, tempat menjual barang terbaik serta sangat jujur di sini pun kami tahu.” Hem. Aku suka aura postifnya. “Baiklah,” kataku semringah lantas tanya, “uang apa saja yang laku di sini?” “Uang?” Ia sempat mendelik singkat. “Maksudnya mata uangkah?” Kuanggukkan kepala sekali, membenarkan. “Hem. Sebentar ….” Orang itu segera mengeluarkan lengan dan mulai menghitung. “Kalau batu-batu mana dikecualikan di sini menerima banyak: Uru, Zen dan Zenet, Neodin …, Suth, Perunggu, Ironkod, Batusisik, Perak, Emas, Platinum—ke-kenapa, Pelanggan?” “Ta-tadi.” Kurapikan wajahku segera. “Kau bilang apa tadi?” “Bilang ….” Ia memalingkan muka sejenak, berpikir. “Nama-nama mata uang?” “Ya—ah!” Kutepuk pipi singkat, memaksa diri agar kembali fokus. “Dari kanal mana saja mereka?” “Mata uang tadikah? Kanal-kanal besar seperti Delapan Satu, Dua Enam, Puing Lalika, Tanah Merah—di sini juga terima uang kanal-kanal kecil yang terafiliasi, kok. Jangan khawatir. Jika disebut tentu banyak sekali mata uang yang bisa dipakai, tetapi ….” Orang itu mendekat, hendak berbisik. “Mata uang yang tidak terkenal biasanya diganti batu mana, Pelanggan.” “Oh.” Mulutku membulat. “Aku mengerti,” simpulku sambil mengangguk-anggukkan kepala, penasaranku soal uang di pasar Kanal Kecil ini terjawab. Selanjutnya kuambil dua kotak uang. “Kebetulan aku punya banyak sekali neodin sama batusisik.” Sengaja kubuka di depannya biar dia lihat. “Sayang kalau tidak kubelanjakan,” kataku sambil senyum memamerkan isi kotak-kotak tadi, “berhubung ini benar-benar kali pertamaku di sini, boleh temani diriku berkeliling?” Kuperhatikan air muka orang sebelahku sepintas. “Tenang saja, dirimu juga akan kutraktir nan—” “Asiaaap!” ***

Plester Co.

Bab 9 Pelabuhan Telapak Besi

Di publikasikan 03 Aug 2026 oleh Bengkoang

“Kau lagi apa di sana, Bocah?” Setengah tahun sejak kali pertamaku ke Benua Baru, lusinan perahu terbang berbondong-bondong berlabuh di sudut tanah asing ini. Berburu perawan—ah! Maksudku mencari keberuntungan di tanah hijau yang masih asri dan belum terjamah oleh manusia, begitu. Hadeh. “Kutanya kau lagi apa di sini, Bocah …?” “A a a, sakit, sakit, Guru. Sakit.” Wanita yang menjewer kupingku ini Nyonya Kyongdok, Dewi Telapak Besi Teratai Perak, kepala sekaligus pemimpin ekspedisi pertama Perguruan Telapak Besi ke tanah asing—Benua Baru. Adik Ketua Padepokan Telapak Besi sendiri. Guruku sekaligus ibu angkatnya Doll. “Bagus, ya, Bocah!” ujar beliau, akhirnya mau melepaskan telingaku kendati langsung cekak pinggang sembari melotot. “Kau enak malas-malasan di sini padahal pekerjaan kita di pelabuhan masih segudang, hah?!” Temperamen guruku memang mudah meledak dan ringan tangan macam julukannya: Ratu Seribu Pukulan Kencang. Meskipun hati beliau aslinya baik, kalau sudah kenal dekat. “Hem.” Ngomong-ngomong, segudang kata beliau tadi itu betulan segudang, soalnya pekerjaanku sama para murid Telapak Besi memang membongkar barang-barang muatan dari kapal ke lumbung darurat di pelabuhan yang belum selesai dibangun sekian bulan kami di sini. “Bukannya sekarang hari libur, ya, Guru?” Beliau agak tersentak dengar alasanku. “Libur?” “Betul,” lanjutku merasa ada di posisi yang benar, “Raja Sheng membawa tentaranya buat membabat hutan di timur laut, katanya bakal lahan kemah baru. Dia juga bilang kalau kita harus i—” “Terus kenapa kau malah jongkok di situ tadi, hah …?” sela Guru Kyongdok, melipat tangan dan melirikiku curiga. “Aku baru dengar soal si Sheng mau buka kemah baru, harusnya dia memberitahuku dulu kalau mau membawa murid-murid telapak besi kita, ‘kan?” “Ahaha.” Kugaruk pipi sembari melihat ke arah lain. “Soal itu …, murid—” “Guru!” panggil seseorang, Doll, yang segera menghampiri kami begitu kepalaku dan Guru menoleh. “Guru. Di sini, apa sedang?” Eh, ya! Bicara istriku memang begitu dulu, sudah unik dari sananya, jadi jangan mengeluh kenapa dialognya kutulis kebalik-balik di kolom komentar nanti. Ya? Tolong. “Mi.” “Hai, Doll.” “Oh, aku tahu!” teriak Guru tiba-tiba, “kau barusan sedang mengintipi putriku, ya, hah—dasar bocah nakal.” “Ti-tidak … bu-bukan, Guru. Aku tidak mengintip ….” Aslinya aku memang mengintip Doll yang tadi tengah melatih Tinju Beruang dan seri Pukulan Telapak Besi di halaman tenda putri. Cuma, ya, gak mungkin kuakui depan mereka berdua juga, ‘kan? *** “Kamu kenapa, Mi, pegang kuping gitu?” Aku geleng kepala pas masuk tenda logistik darurat serikat dekat dermaga yang saat itu kebetulan lagi sepi—ah, ya! Ini Roxina. Saudari seperguruanku dan Doll, sesama murid langsung Dewi Telapak Besi Teratai Perak. Dirinya seorang elf, peri hutan, kalau kalian tanya kenapa telinga Roxina ‘agak’ runcing. “Mi, jewer, Guru.” “Kamu bikin ulah lagi?” “Lagi?!” tanyaku dari bangku diriku biasa duduk, agak menyergah, serta menunjuk muka sendiri sambil delik menimpali Roxina ketika itu. “Hei, memang kapan aku pernah sengaja bikin ulah di sini—coba bilang. Guru saja yang memang doyan menjewer kupingku sampai merah begini, huh.” “Ya, Guru juga gak mungkin main jewer kalau kamunya enggak bikin masalah, ‘kan?” balas si peri hutan yang selanjutnya memberiku selembar kertas, daftar barang, entah buat apa. “Salah?” “Mi. Intip.” “Tuh, ‘kan—” “Doll, itu kata Guru!” sanggahku segera, bela diri waktu mengambil kertas dari Roxina. “Sudah kubilang aku kebetulan lewat kemah kalian tadi. Enak saja—eh! Barang-barang ini buat apa?” “Itu pesanan Raja Sheng.” Kulihat papan misi sekilas. “Roxina. Serius Raja Sheng pesan kayu seribu kibik lagi hari ini?” Sejauh ingatanku, ambisi Raja Sheng dan orang-orang Eldhera yang datang ke Benua Baru zaman itu memang benar-benar besar. Sangat besar, malah. Karena ini pulalah perluasan pelabuhan dengan pembukaan lahan ‘tuk membangun koloni di sini menjadi prioritas. Tidak heran, tatkala regu pelopor yang didanai Raja Sheng mengirim laporan ke Benua Lama, beberapa bulan berikutnya kapal-kapal lain pun berdatangan lalu turut mengaitkan jangkar mereka ke kaki dermaga pelabuhan perguruanku hingga sekian dekade awal penemuan Benua Baru tersebut. Dan dalam kurun dua kali setengah tahun …. Eldhera telah memiliki koloni pertama di ‘tanah perawan’ ini: Eldheran. *** Sekarang diriku penasaran, kepikiran lebih pasnya. Jika kolonisasi Eldhera di Benua Baru dulu kupakai untuk mengukur Benua Baru zaman ini, bukankah Roda Bara bisa kuibaratkan Pelabuhan Telapak Besi zaman itu. Semacam pangkalan, koordinat tujuan, titik awal—apa pun sebutannya, buat memulai kolonisasi di sini. Ya, ‘kan? Hanya skalanya lebih besar …. “Hem. Chloe!” [Ya?] “Tolong petakan kanal ini,” pintaku pada si bekas pengelola menara yang kini berdiam di Kantong Hati Naga sembari melepas pengait dan melempar Mantel Duyung Ungu-ku ke udara, mau menjadikannya alas terbang ala karpet ajaib macam kepunyaan salah satu cerita Seribu Satu Malam. “Kukira dia gak sesederhana jembatan penghubung alami.” [Laksanakan ….] *** Balik ke Benua Baru zaman dulu. “Kenapa kalian berkumpul di sini?” Ketika suatu hari diriku dibikin penasaran sama kerumunan orang di salah satu gerbang kemah koloni yang baru jadi. “Sedang a—siapa mereka?” “Kami tidak tahu,” jawab salah seorang dengan zirah dan helm prajurit, “katanya orang-orang ini tiba-tiba saja ada di sini dan bicara pakai bahasa aneh sejak pagi.” “Bahasa aneh?” Jujur, usai memperhatikan tiga orang itu sekian waktu, diriku juga kesulitan menerka apa yang mereka hendak ungkap lewat bahasanya—bahkan saat Mata Perak dan kuping sudah kukerahkan bersama-sama. Selain karena baru pertama kali dengar serta tempo yang kebilang terlalu cepat, suara salah seorang dari mereka pun kerap kesilap sama debur ombak. Maklum tepi pantai. Jadi tidak jelas. Dan ini masalah kedua kami setelah tempat tinggal sementara selesai: bahasa. “Hem.” Namun, dilihat dari barang-barang yang ketiganya bawa. “Kukira mereka mau berdagang.” “Berdagang?” “Ya.” Kukuatkan dugaan tersebut dengan fakta. “Lihat pakaian tiga orang ini, jelas jauh dari kata ‘sederhana’ dibanding baju-baju kita. Isi keranjang di sana juga sebagian besar bahan makanan mentah, ‘kan?” “Oh!” Salah seorang terbelalak. “Mereka punya makanan, kita punya pakaian.” “Itu baru dugaan …,” sambungku lekas meminta seseorang memberi tahu Guru dan Raja Sheng, “tolong beri tahu Kepala soal tiga orang ini. Aku yakin kita akan membutuhkan mereka untuk hubungan jangka panjang.” Teryata pikiranku dan semua orang sama. Karena Eldheran berada di tanah asing yang belum dikenal, sama sekali, tiga orang tadi menjadi harapan kami buat mulai mempelajari Benua Baru. Bagaimana kehidupan di sini, seperti apa penduduknya, ilmu dan budaya pengetahuan mereka apa saja, serta sederet pertanyaan lain di kepala. Pokoknya kami mau menggali tanah perawan ini lewat tiga orang tersebut, titik. Meskipun tantangan pertamanya sangat fundamental. Bahasa …. ***

Plester Co.

Bab 2 — Pemandu Palsu

Di publikasikan 01 Aug 2026 oleh Ahmad Barnash

"Gue nobatkan diri gue sebagai tour guide resmi lo hari ini," kata Bram begitu kaki kami menginjak tegel berbatu di kawasan Kota Tua. Matanya berbinar penuh percaya diri, padahal dari tadi dia cuma modal nekat ngintilin gue dari halte Harmoni. Gue mendengus, membetulkan posisi tali kamera analog gue yang mulai terasa berat di leher. "Pemandu palsu yang ada. Lo bahkan nggak tahu jalan pintas keluar dari stasiun tadi." "Hey, itu namanya mengeksplorasi estetika labirin stasiun, Sari," kilah Bram santai, sama sekali nggak keganggu sama ketus gue. Matahari jam sembilan pagi mulai terasa menyengat di ubun-ubun, membakar aspal dan bangunan tua bergaya kolonial di sekeliling kami. Di depan Museum Fatahillah, keramaian Jakarta yang familier mulai terasa: kepulan asap dari abang-abang kerak telor, tawa anak-anak yang menyewa sepeda ontel warna-warni, dan riuh rendah suara manusia. Gue mengangkat kamera, membidik fasad museum yang megah tapi kusam dimakan waktu. Di dalam kotak penemu fokus, Jakarta kelihatan begitu tenang, seolah waktu bisa berhenti di sana. "Sar," panggil Bram, berdiri tepat di sebelah gue sambil melipat kedua tangan di dada. "Lo percaya nggak kalau cinta itu bisa lahir cuma dalam waktu satu hari?" Gue menurunkan kamera, menatapnya dengan tatapan seriously? yang nggak disembunyikan. "Lo kebanyakan baca buku filsafat fiksi, ya? Mana ada yang kayak gitu. Naif banget." Bram tertawa pelan, nggak tersinggung sama sekali. "Gue serius. Ayah dan ibu gue dulu ketemunya di angkot. Cuma butuh waktu tiga jam perjalanan macet Jakarta, dan bokap gue langsung tahu kalau dia bakal menikahi perempuan itu." Gue terdiam sebentar, memandangi senyum Bram yang kelihatan tulus tanpa beban. Cowok ini romantisnya berlebihan, tipe orang yang bikin gue—si pencinta kontrol yang selalu butuh rencana matang—merasa agak gerah. Tapi anehnya, kaki gue sama sekali nggak bergerak buat jalan ninggalin dia. Ada sesuatu dari caranya melihat dunia yang bikin gue penasaran, meski ego gue menolak mengakuinya. "Terserah lo deh," gumam gue akhirnya, kembali mengarahkan lensa ke tengah lapangan. "Gue ke sini mau motret orang, bukan dengerin teori cinta kilat lo." "Oke, mari kita motret," sahut Bram ceria. Selama satu jam berikutnya, kami larut dalam ritme yang aneh tapi menyenangkan. Gue sibuk membidik interaksi manusia di sekitar Fatahillah—seorang ibu yang menyeka keringat anaknya, atau bapak-bapak yang tertidur di atas becak. Sementara Bram? Setiap kali gue menurunkan kamera setelah memencet tombol rana, gue selalu menangkap basah dia lagi melihat ke arah gue, atau diam-diam memotret gue pakai kamera ponselnya sendiri. "Bram, berhenti motret gue," protes gue, merasa agak risi tapi ada sebersit rasa hangat yang aneh di dada. "Nggak bisa," jawabnya sambil terkekeh, menurunkan ponselnya. "Gue cuma lagi mendokumentasikan fotografer yang terlalu sibuk membingkai dunia sampai lupa kalau dia sendiri bagian dari keindahan kota ini." Gue memutar bola mata, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipi. Bram memperhatikan hal-hal kecil yang biasanya dilewati orang lain—dan jujur, itu mulai mengganggu pertahanan yang sudah gue bangun susah payah sejak tadi pagi.

12 Jam Di Jakarta

Bab 1 — Salah Halte

Di publikasikan 01 Aug 2026 oleh Ahmad Barnash

Kamera ini berat, tapi itu satu-satunya hal yang bikin gue merasa punya kendali. Gue mengintip lewat viewfinder Fujifilm manual kesayangan gue, mengatur fokus ke arah aspal jalanan Harmoni yang mulai memantulkan panas matahari jam tujuh pagi. Bunyi klik mekanisnya selalu menenangkan. Itu cara gue memproses dunia: membingkainya dalam kotak kecil, membekukannya, lalu menyimpannya biar nggak hilang. Dua belas jam lagi. Sisa waktu gue di kota ini sebelum gue diseret naik pesawat ke Belanda bareng nyokap-bokap. Rencana gue hari ini simpel banget: jalan sendiri, motret sudut-sudut Jakarta, dan yang paling penting—nggak usah ngerasain apa-apa. Gue udah latihan berhari-hari buat mati rasa. Anggap aja ini cuma hunting foto biasa. "Anjir," umpat gue lirih waktu menurunkan kamera. Gue melihat papan rute di atas kepala. Saking fokusnya nyari komposisi visual lewat lensa, gue malah naik bus yang salah dan berujung turun di Halte TransJakarta Harmoni. Benar-benar di luar rencana. Gue mendesah jengkel, melirik jam tangan. Sialnya lagi, ada pengumuman lewat speaker kalau bus arah tujuan gue berikutnya bakal telat sekitar empat puluh menit karena ada kendala teknis. Sempurna. Dua belas jam gue yang berharga harus kepotong di halte yang pengap ini. Gue memutuskan duduk di bangku panjang halte, berniat mengabaikan dunia. Tapi ruang kosong di sebelah gue ternyata udah diisi. Ada seorang cowok seumuran gue, penampilannya kasual banget—kaus polos, jaket jins belel, dan sepatu kanvas yang warnanya udah agak pudar. Di tangannya ada sebuah buku fiksi tipis. Gue sempat melirik kavernya waktu dia membalik halaman: Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Hari gini, cowok umur 18 tahun baca ginian di halte bus? Bukan buat tugas sekolah pula, keliatannya. "Bagus ya?" Gue tersentak kecil waktu cowok itu tiba-tiba menoleh dan bersuara. Suaranya agak serak, tapi pembawaannya santai banget. "Apanya?" tanya gue, defensif. Dia menunjuk kamera yang menggantung di leher gue dengan dagunya. "Kameranya. Klasik. Masih pakai analog, kan? Jarang aja lihat anak zaman sekarang yang mau repot-repot beli rol film." Gue membetulkan posisi tali kamera, agak risi karena diajak ngobrol orang asing. "Biasa aja. Hasilnya lebih berasa nyata aja dibanding digital." "Oh ya?" Cowok itu tersenyum tipis, lalu menutup bukunya dan mengulurkan tangan. "Gue Bram." Gue melihat tangannya sebentar sebelum menjabatnya kilat. "Sari." Setelah itu, hening. Jeda empat puluh menit nunggu bus berasa kayak selamanya. Udara Harmoni mulai terasa gerah, berbaur sama bau knalpot yang sesekali masuk lewat celah pintu halte. Diam di antara kami berdua rasanya jauh lebih canggung daripada kalau kami ngobrol. Bram tampaknya juga merasakan hal yang sama, karena nggak lama kemudian dia kembali membuka suara. "Boleh nanya nggak?" tanya Bram, badannya agak menyamping menghadap gue. "Kenapa lo tadi motret halte bus? Maksud gue... dari semua tempat estetik di Jakarta, kenapa halte yang biasa banget gini?" Gue termenung sebentar. Pertanyaannya mendadak menyentuh sesuatu yang dari tadi malam berusaha gue kubur dalam-dalam. Entah karena capek atau karena pertahanannya emang lagi lemah, jawaban itu keluar begitu aja dari mulut gue tanpa sempat disaring. "Supaya aku ingat," kata gue jujur. Begitu kalimat itu lepas, gue langsung merutuki diri sendiri dalam hati. Bodoh banget, Sari. Kenapa lo harus sejujur itu sama orang asing? Kontrol yang seharian ini gue jaga ketat rasanya kayak mulai retak sedikit. Gue memalingkan muka, pura-pura sibuk melihat jalur bus yang masih kosong melompong. Bram nggak langsung merespons ketus atau menganggap gue aneh. Dia cuma mengangguk-angguk paham, matanya memancarkan binar hangat yang skeptis tapi sekaligus optimis. "Mau diingat ya..." Bram bergumam pelan. Dia lalu berdiri, merapikan jaket jinsnya, dan menatap gue dengan senyum lebar yang agak nekat. "Kebetulan gue lagi kosong seharian ini. Gimana kalau gue temenin lo jalan-jalan? Gue jamin Jakarta bakal keliatan beda kalau lo jalannya bareng gue." Gue langsung mengernyitkan dahi. "Nggak, makasih. Gue lebih suka jalan sendiri." "Yakin? Busnya masih lama lho," goda Bram, menunjuk papan pengumuman yang barusan berubah jadi 45 menit. "Gue bukan orang jahat kok. Cuma cowok random yang kebetulan tahu jalan-jalan tikus di kota ini biar nggak bosen." "Tetep nggak," sahut gue ketus sambil berdiri, berniat jalan menjauh ke ujung halte yang lain. Tapi lucunya, takdir hari itu tampaknya emang lagi malas kompromi sama rencana gue. Begitu pintu TransJakarta rute darurat terbuka dan orang-orang mulai merangsek masuk, gue kedorong arus penumpang. Mau nggak mau, gue melangkah masuk ke dalam sasis bus yang padat itu. Dan saat gue menoleh ke samping sambil memegang erat kamera di dada, cowok bernama Bram itu udah berdiri tepat di sebelah gue, memegang pegangan bus yang sama, sambil melemparkan cengiran tanpa dosa. Hari pertama dari dua belas jam terakhir gue di Jakarta resmi dimulai tanpa rencana.

12 Jam Di Jakarta

Jangan engkau lihat apa yang Allah berikan kepadanya karena engkau tidak tau apa yang Allah ambil darinya

Di publikasikan 16 Jul 2026 oleh Bangun

Kutipan indah dari ustadz Firanda Andirja dalam salah satu video beliau hafidzahullah. Ini tentang qona'ah, merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada kita. Tanpa membanding bandingkan nikmat orang lain yang telah Allah berikan kepadanya Setiap nikmat akan ditanya. Jadi janganlah kita merasa iri dengan apa yang di berikan oleh Allah kepada orang lain.

Renungan

Kita ini sebentar

Di publikasikan 16 Jul 2026 oleh Bangun

Seorang yang beriman sudah semestinya memahami bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan kita sekarang di dunia ini. Karena beriman kepada hari akhir ini disebutkan dalam hadits jibril ketika nabi ﷺ ditanya tentang iman. Nabi ﷺ menjawab: (Iman itu adalah) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk. Dan kehidupan kita di dunia ini sangatlah sebentar, dibandingkan kehidupan setelahnya. Berapa banyak kita menyadari bahwa waktu terasa begitu cepat. Dari kita sebagai anak yang baru lahir tau-tau sudah bisa jalan, dari baru bisa jalan tau-tau sudah beranjak dewasa, dari beranjak dewasa tau-tau sudah menikah, dari sudah menikah tau-tau sudah punya anak yang dewasa, dari sudah punya anak yang dewasa tau-tau badan ini terasa lemah tua renta hingga akhirnya kita semua akan meninggal dunia. Dari anak yang baru lahir hingga meninggal dunia ini kurang lebih rata-rata 60-70 tahun, sebagaimana disebutkan oleh Rasul ﷺ dari 1400 tahun yang lalu: أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ  Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, dan sangat sedikit yang melebihi itu Dan setelah kehidupan dunia ini, kita akan masuk kedalam alam barzah atau alam kubur kita menyebutnya, yang berapa lamanya kita tidak tau, bisa 1 hari, bisa 10 tahun, bisa 100 tahun, bisa ribuan tahun atau lebih sampai ditegakkan hari kiamat. Setelah alam barzah, kita akan masuk kedalam alam akhirat yang kata Allah azza wa jalla dalam surat Al Hajj ayat 47: وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu Setelah itu hanya ada 2 tempat yang akan dimasuki oleh manusia, surga atau neraka. Dimana kedua tempat tersebut dalam sebuah hadits bukhari no 6544 disebutkan يَا أَهْلَ النَّارِ لاَ مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لاَ مَوْتَ Wahai penghuni neraka, tidak ada kematian. Wahai penghuni surga, tidak ada kematian. --- Jadi kehidupan kita yang sementara ini, menentukan nasib kita selamanya.

Renungan

Bab 8 Jembatan Kanal

Di publikasikan 01 Jul 2026 oleh Bengkoang

Cukup soal kagetku pada asal-usul Jamia dan gedung-gedung pencakar langit yang menggantung terbalik di atas sana, waktunya kembali ke urusanku dengan lelaki kekar yang masih menungging di tanah ini. “Oi. Oi …, apa dia tadi pingsan?” “Se-sepertinya begitu, Tuan.” “Bisa-bisanya ….” Kutoleh Jamia di sebelah. “Huh.” Kugerakkan kepala sekali. Isyarat yang sontak disahut pakai langkah cepat serta tendangan kaki si kuncen Roda Bara ke permukaan pantat Lame. Duak! “Aaa! Aku tidak melakukan apa-apa, tidak melakukan apa-apaaa …!” Hem. Sebaiknya tidak usah kukatakan apa yang pria kekar kita lakukan pas bangun dari pingsan. Gak bagus—percaya padaku, kalian juga takkan mau melihat cara dia barusan terperanjat. “Bung Mi? Pak Tua Jamia? Ka-kalian …?” “Berhenti menunjuk-tunjukiku dan cepat bayar dua tiket buat kalian naik ke atas—mana?!” ujar Jamia, cekak setengah pinggang sambil menodong Lame dengan tangan tertengadah minta ongkos tol. “Lima neodin.” “Apa?!” sergah pria kekar kita, seolah tak percaya pada pendengarannya. “Ke-kenapa mahal sekali—Pak Tua Jamia, seingatku Tiket Roda Bara bulan kemarin cuma satu neodin per orang ….” Mahal? Hem. Kesampingkan adu tawar Lame dan Jamia sebelah sana. Kalian mungkin lupa atau boleh jadi ada yang belum tahu. Seratus neodin Puing Lalika itu umum buat membeli segenggam batu mana biasa yang dibanderol tujuh ratus perunggu Eldhera, artinya lima neodin tadi cuma tiga puluh lima keping koin paling receh milik benua ini. Mahal dari mananya, coba? “Nih.” Kuberi cucunya John tadi sepuluh neodin lalu mendelik pada pria kekar kita. “Kau keterlaluan kalau masih menawar harga semurah itu, Bung Lame. Dan dia ini orang tua, jangan terlalu kasar.” “Benar, Tuan!” dukung Jamia semangat, “kau harusnya tahu diri. Mana rasa hormatmu, hah—Anak Nakal!” “Bu-bukan begitu!” sanggah pria kekar kita, bela diri sekalian meluruskan informasi. “Bung Mi, dirimu harus tahu satu neodin Pak Tua Jamia itu sepuluh kali neodin biasa. Lima di sini maksudnya lima ratus suth, bukan cuma lima puluh macam di pasar-pasar Roda Bara di atas sana.” “Oh.” Seketika delikanku berpindah arah, dan sekali lagi kutoleh Jamia pakai mata sebal. “Kau ini aslinya mau merampok, hah, Bocah?” “Hehe.” Cucu teman lamaku itu terkekeh dan garuk kepala. “Ha-hanya kebiasaan ….” *** Ini bukan pengalaman pertamaku menyeberang ke kanal lain. Jadi saat Jamia membuka portal Roda Bara di atas sana, kulihati arloji pemberiannya sebentar lalu kulempar cip pelacak sama alat teleportasi sekali pakai itu ke belakang terus terbang menyusul Lame yang langsung terangkat ke udara begitu memakai ‘tiket masuk kanal lain’ tersebut. Buat jaga-jaga. Kulepas penanda koordinat mantra teleportasi satu arah ke bawah sana tepat sebelum melewati selaput gelembung pembatas kanal sampai …. [Radiasi tower tidak terdeteksi.] Chloe memberitahuku separuh omongan Jamia di bawah—sekarang jadi di atas—sana sesaat lalu bukan hanya bualan atau omong kosong belaka, kanal kecil yang kudatangi ini ternyata betulan jembatan alami tanpa satu pun menara penghubung macam di Puing Lalika dan Tanah Merah. Yang, secara teknis, itu juga berarti dia bisa kuakuisisi langsung tanpa perlu repot berebut dengan host lain. “Hem.” Ketika kakiku mendarat di puncak sebuah gedung. “Bocah tadi bilang sebulan di sini satu jam di luar, terus tiap lima hari atau sepuluh menit di Benua Baru kanal kecil ini juga bakal ganti rupa sesuai bentuk kanal-kanal yang tersambung kemari, terakhir lokasi gerbang-gerbang masuknya ikut teracak pas pergantian itu.” Ting! Chloe tanya apakah diriku perlu sesuatu. “Ya, Chloe. Aku butuh Botol Labu Tawon.” Jika ini benar menara kanal versi alam, maka cara kerjanya gak akan jauh beda sama menara-menara di Tanah Merah-ku sama kanal-kanalnya Chloe dulu, bukan? Paling tidak secara teori. [Tandai koordinat kita?] “Enggak usah. Monitor aja para tawon, Chloe. Aku di sini cuma buat ngelihat situasi doang ….” Rencanaku sekarang, setelah datang kemari, cuma memverifikasi keterangan dari Jamia sekalian membuktikan beberapa dugaan soal kanal kecil ini. Selebihnya paling hanya melihat-lihat …. *** Kalau kuingat-ingat. Dulu, dulu sekali. Ketika kakiku benar-benar baru pertama kali menginjak pesisir Benua Baru, entah berapa milenium silam, pemandangan pertamaku juga tidak jauh beda dari apa yang menggantung terbalik di atas sana. Ya. Kurang lebih. Pepohonan, hijau sejauh mata memandang. Butiran pasir, putih menyamai buih selepas ombak berbalik arah serta membentang sangat panjang waktu kutoleh kanan kiri. Lalu birunya langit …. “Hem.” Tidak. Langit Benua Baru kala itu kelabu, sangat, dan lebih baik bila jangan kukatakan sekelabu apa—pokoknya kelabu, titik. “Jadi mereka datang dari sini ….” Pendeknya benua ini masih sangat asing dan jauh dari kata damai meski bentang alamnya menakjubkan. Salak, dengking, dengan pekik saling sahut di kejauhan. Tanah bergetar setiap sekian langkah, disambung oleh deru serta embus debu yang mendorong tubuh berhenti bahkan kerap memaksa diriku berbalik mundur ‘tuk ambil ancang-ancang sebelum mencoba kembali. Kesan pertama yang menantang, harus kuakui. “Jangan harap kalian lolos dari tanganku ….” Ah, ya! Alasanku datang ke tanah asing yang kelak dipanggil Benua Baru ini adalah mereka, makhluk-makhluk berbentuk manusia dengan tambahan sepasang tanduk putih melengkung macam padudan kebalik sama sayap kelelawar yang terbang melintasi laut timur Eldhera satu bulan sebelum diriku nekat menyeberang kemari. Ultrus, kutahu sebutan mereka setelah Doll berbagi gelembung ingatan denganku sekian tahun kemudian—masih lumayan agak lama dari cuplikan saat ini. Doll membutuhkan inti makhluk-makhluk tadi, mutiara biru dengan kemampuan regenerasi tubuh ajaib di kepala mereka, buat melawan penyakit aneh. Kalau kalian tanya untuk apa. Alasan lain, kenapa dulu aku nekat menyeberang ke benua asing, yaitu penjaga tabir benua serupa Yamadi dan ular putih besar di Sarang Naca Putih. Makhluk mitos berwujud tunas bakal pohon raksasa setinggi seperlima benua itu sendiri. Buruanku. “Haha. Aku menemukanmu—hahaha ….” Jangan tanya, aku sendiri tak tahu kenapa diriku mendadak bernafsu ‘tuk memburu monster-monster berskala benua ini setelah menerima warisan Yamadi. Oke? Yang jelas, dulu rasa laparku baru reda ketika mightyguardian dan Jantung Benua di benua keempat kutelan. Itu saja. Selebihnya aku tidak punya penjelasan …. “Huh.” Sekarang semua, hal-hal yang terjadi di masa lalu itu, malah terasa lucu. “Aku terlempar ke dunia lain pas menggali warisan Suku Kara di bawah Reruntuhan Ghori, Gurun Kesik. Terdampar di kanal tanpa penghuni, jadi host terus menerima menara, kehilangan Doll waktu melawan wanita ular di Tanah Merah, lanjut mencari air mata dan berkat naga legenda sambil menyerbu banyak kanal. Berlomba dengan Puing Lalika lantas kembali ke Eldhera. Sekian tahun berikutnya pergi ke Benua Baru demi mencari jejak putriku dan sekali lagi berakhir di kanal kecil yang jelas-jelas sudah dunia lain. Hahaha!” [Anda sedang bicara sendirikah?] Bedanya, kali ini diriku sendirian. “Ya, Chloe. Aku ingin ketawa pas ingat bagaimana hidupku berputar ….” ***

Plester Co.

Bab 7 Kanal Kecil dan Roda Bara

Di publikasikan 01 Jul 2026 oleh Bengkoang

“Kita sampai ….” Hem. Bagaimana aku mengatakan ini? Roda Bara, yang kukira tongkrongan superramai dengan mobil juga motor-motor hasil modifikasi, ternyata sebuah gerbang pinggir kota. Segitu saja. Benar-benar gerbang antara deretan pagar sekian belas kaki berkawat duri pembelah barisan pohon di kanan kiriku sama sisi seberang sana. Bahkan setelah kupakai Mata Perak buat mengintip ke dalam, penampakan yang kudapat sesuai kemasan luar. “Kabin kayu sama seorang penghuni …,” gumamku sebelum menggeser si Jago ke dekat Lame dan pria yang tengah ia ajak bicara, “Bung Lame, candaanmu ini sungguh tidak lucu.” “Eh, ada apa, Bung Mi?” “Kukira dirimu baik hati,” kataku lekas turun dari mobil dan menenteng Kelabang Merah, kapak perangku, menghampiri mereka. “Mau menemaniku melihat Roda Bara—” “Wow, wow, wow!” Ia sigap menjaga jarak sembari mengacungkan tangan, sedang pria yang tadi bicara dengannya segera menarik pistol dari pinggang kemudian menodongkannya ke arahku. Isyarat agar diriku jangan buru-buru mendekat. “Bung Mi, Bung Mi, apa barusan diriku tidak sengaja menyinggungmukah?” “Tuan, saya tidak tahu ada apa, tapi tolong letakkan kapak dari bahu Anda itu di tanah.” “Huh.” Aku mendengkus. “Tidak ada yang bisa memerintahku di medan perang.” “Wow, Bung Mi—Bung Miii … Bung Mi.” Lame semakin menjaga jarak. “Sepertinya kita ada salah paham di sini. Tolong beritahu kami dulu, kenapa kau bisa sampai semarah ini, oke?” “Tuan, tolong tenang.” “Kukira kesepakatanmu dan diriku adalah datang ke Roda Bara buat menonton jagoan-jagoan yang kaubilang sebelum kita sepakat pergi bersama berlaga. Benar begitu, ‘kan, Bung Lame?” “Be-benar, benar! Itu Benar. Kau dan aku akan melihat penampilan L-269 milik Lucy di arena!” “Lantas kenapa kau malah membawaku ke hutan pinggir kota begini, hah?!” Lame dan orang sebelahnya sontak silih lirik sebelum keduanya kompak tertawa berbarengan. “Hahaha … Bung Mi—” Kutodongkan Kelabang Merah pas Lame mau mendekat, membuat ia segera mundur kembali terus berbalik arah dan sembunyi di bahu orang yang sedari tadi menodongiku pistol. “Tuan, mungkin Anda salah paham. Roda Bara, me-memang di sini.” Aku celingak-celinguk, sekali lagi memeriksa sekeliling pakai Mata Perak. “Bohong!” bentakku kemudian, mendekat selangkah dengan kapak perang siap diayun. “Cuma ada kabin tua di depan, dan tidak ada orang lagi selain pak tua yang sekarang sedang membakar daging apalah di sana. Jangan coba-coba menipuku, Kaliaaan—” “Tungguuu!” teriak Lame, ia melompat dan mengacungkan tangan menahanku. “Tunggu, Bung Mi, tunggu … kau salah paham. Salah paham, oke?” “Apanya yang salah?!” “Roda Bara, di atas sanaaa ….” Pria kekar kita kembali berteriak, kali ini sembari memejamkan mata dan menunjuk langit di kejauhan. Menunjukkanku penampakan Roda Bara. Yang, kalian tahu, ternyata menggantung terbalik di atas hutan dan kabin kayu tua di bawahnya. Hem …. *** Sebelumnya, di perjalanan menuju lokasi Roda Bara. “Bung Mi?!” “Apa?!” “Aku tahu ini kali pertama kita pergi bersama!” ujar Lame sebelah sedanku, agak teriak biar gak kalah kencang sama deru motor tunggangannya. “Nanti di Roda Bara kau ikut rombonganku saja. Bagaimana?!” “Ya, ya, aturlah, Bung. Ini benar-benar pengalaman pertamaku!” “Bagus. Percayakan semua padaku. Hahaha …!” Kukira waktu ia bilang percayakan semua padanya tadi berarti aku sudah tak perlu salah paham macam barusan. “Bung Mi?” Tahunya …. “Apa?” “Boleh turunkan kapakmu sekarang?” tanya pria kekar kita, menoleh ke kiri sambil tertawa garing. “Kita akan menemui penjaga portal masuk, gak enak kalau kapak besar—” “Buktikan dulu kita benar-benar akan naik ke sana,” bantahku lalu memutar gagang Kelabang Merah, tanda agar Lame jangan banyak bicara lagi. “Atau tunjukkan saja omonganmu tadi bukan dusta, Bung.” “Haha ….” Ia tertawa lesu. “Kurasa aku tidak bisa menawar—” Lame berhenti, kami kini tiba di halaman kabin kayu yang kuintip pakai Mata Perak dari luar hutan. “Ho. Kau telat lagi, Bung Lame. L-269 kesukaanmu sudah menang dua babak di a—hem … kau bawa teman rupanya. Mari masuk, tidak bagus bicara di luar.” Kalian tahu, adegan selanjutnya rada bikin geli. Pria tua dengan jubah hitam di depan sana berbalik, seakan ia mau membukakan pintu kabin buat kami. Tanpa ada gestur atau gerakan apa pun yang mecurigakan. Namun, pas langkah kedua dari api unggun tempat si pak tua tadi memanggang makan malam, dia tiba-tiba saja melompat ke kegelapan sekitar lalu muncul sebelahku dengan arit mengayun menyasar leher. Sat—Tang! Walaupun, ya, kalian tahu sendiri. Lempeng tipis macam itu langsung patah pas membentur kulitku …. “Kau barusan mau apa?” tanyaku, senyum sinis melirik sang lelaki tua. “Menggarukkan leherkukah?” Kuangkat Kelabang Merah dari bahu Lame. Gerakan yang sontak membuat pria kekar kita menyungkur dan menutupi kepala di tanah. Huh. “Ka-kau bukan pendudu—huek!” “Gak usah bacot …,” gumamku setelah menendang ‘pelan’ perut si pak tua, “simpan saja bualan baumu buat memberitahuku di mana markas kalian, sayang aku kemari kalau cuma memukuli dua orang. Ya, ‘kan?” “A-apa maksudmu?” Wajah heran pak tua di depanku kelihatan menyebalkan, setelah sok dia mau pura-pura bingung. “A-apa, a-apa kau, apa kau penyeberang kanal yang dikirim untuk membuat kacau di sini?” tanyanya pakai bahasa asing, bahasa yang seketika menjeda langkah dan membelalakkan mataku sekejap. “Hah …, kau, kau seorang penyeberang, hah?!” Sekarang gantian, malah diriku yang pasang roman bingung—tambah sedikit tidak peracaya. Bingung sebab kenapa bisa pak tua itu bicara dalam bahasa Puing Lalika yang notabene kanal lain, tidak percaya karena kutahu ini Benua Baru dan tak ada satu pun menara tiga tahun setengahku berkeliaran di sini. Jadi bagaimana mungkin? “Pak Tua,” balasku pakai bahasa yang sama, “siapa kau?” “Huh.” Ia mendengkus. “Bagus, sekarang kau takut pada—akh!” “Jawab saja pertanyaanku, Orang Tua!” “Ba-baik …, baik …, baiiik.” Selanjutnya kulepas ‘cekikan’ dari lehernya, kutarik kursi kayu bekas ia duduk menunggui daging bakar pakai Benang Pandora, lalu kupasang kuping sambil duduk depan si pak tua. Menyediakan diri ‘tuk mendengarkan penjelasan atas kebingunganku pada saat itu. “Sekarang ceritakan apa hubunganmu dengan Puing Lalika dan kenapa kau bisa ada di sini ….” *** Hem. Kalian mungkin gak akan percaya ini. Pak tua yang lagi duduk sopan di hadapanku ternyata salah seorang cucunya John. John, penduduk Puing Lalika yang juga merupakan teman lamaku pas dulu berkeliaran di sana. Jamia putra Jobu alias John Jr. putra pertama John. Siapa sangka. Soal bagaimana dirinya kemari …. “Biar kurangkum dulu. Dirimu diusir dari apartemen tempat kalian tinggal terus ambil sampingan pemandu tur ke kanal lain lalu naik jabatan jadi penjaga salah satu pangkalan kanal di sini setelah seratus tahun?” “Be-benar.” Aku berdecak selesai mendengarkan riwayat pak tua yang ternyata cucu teman lamaku tersebut. “Roda Bara?” “Ro-roda Bara …, oh, maksud Anda kanal kecil di atas sanakah?” tanya Jamia, menunjuk sambil mendongak sekali sebelum lanjut bicara. “Di-dia serupa—tower! Serupa tower, Tuan. Jembatan penghubung kanal alami. Menghubungkan Puing Lalika, Kanal Delapan Satu, dan kanal-kanal besar lain ke tempat ini.” “Jamia, berapa lama kau bertugas di sini?” “Se-sekarang ….” Pak tua itu mengangkat tangan dan mulai menghitung. “Tahun kelima puluhku, Tuan.” Barusan dia bilang dirinya sempat bekerja seratus tahun di Puing Lalika sebelum dilempar kemari, bukan? Jika cerita lima puluh tahun silam tadi benar artinya satu juta tahunku di sini sekitar dua abad Puing Lalika atau kurang, betul? Berarti selisih antara Chloria dan Mirandi kalau pakai perkiraan ini sekitar delapan puluh sampai sembilan puluh ribu tahun saja paling lama. Hah. Akhirnya aku punya kotretan kasar soal waktu hilangku dari Eldhera …. ***

Plester Co.

Bab 6 Kantor Cabang

Di publikasikan 01 Jul 2026 oleh Bengkoang

“Gimana, Bos?” Semingguku kembali berlalu di Benua Baru. Cepat, juga monoton. Aku hampir tak merasakan apa-apa sampai mobil-mobil yang pegawaiku usulkan di perjalanan ke acara makan malam minggu lalu sudah menyambutku di halaman kantor pagi ini begitu saja. “Hem.” Kulirik Stevan dan empat mobil sebelahnya. “Mana yang punya saya?” “Ah! Bos yang ini ….” Selera si kepala bagian humas dan manajer pemasaran itu boleh juga. “Saya gak ada masalah sama tampilan luar …,” ujarku mengangguk dua kali, menyetujui sedan hitam dengan ornamen berbentuk kepala kuda pada ujung penutup mesin bak cula pada hidung badak di depanku. “Cuma, tolong ganti kepala kuda ini sama tanduk banteng atau bulan sabit.” “Ah, si Bos gak suka kuda?” “Bukan,” kataku sambil menoleh, “kepala kuda terlalu biasa buat saya, jadi bosen.” “Oh!” Stevan lekas memanggil orang dealer yang ternyata juga masih di sana ‘tuk memenuhi permintaan kecil barusan, dan beruntungnya mereka punya ornamen lain buat ganti kepala kuda tadi. “Gimana, Bos?” “Hem.” Meski bukan persis yang kumau. “Kepala ayam lagi dongak, tapi macem cula badak,” kataku sebelum kembali menoleh Stevan dan pegawai dealer di sebelah, “gak apa-apalah, daripada enggak banget.” “Hehe. Syukur deh kalau si Bos oke.” “Tolong buka kap mesinnya sebentar, saya mau lihat ….” Aku bukan ahli mobil, tidak paham lebih gamblangnya, dan ini pun pengalaman keduaku dengan sedan setelah dari dealer kemarin lusa. Namun, aku takkan mengakui itu di depan semua orang. Jadi mari lanjutkan aktingku waktu memeriksa ‘pretelan’ mobil hitam tersebut sampai selesai …. “Sekarang.” Setelah tanda terima empat sedan kutandatangani dan semua orang kembali ke kesibukan masing-masing. Diriku, laki-laki bercepol dengan jumsuit di dalam sedan hitam. Usai puas mengusap-usap setir, kaca, dasbor, sebagian kursi hingga ke langit-langit mobil baru. Tengah merapal mantra boneka sembari memegang Mutiara Samudra dan menggantung botol tawon di kaca dasbor. “Dengan nama-Nya Yang Menggenggam Awal, Dia Yang Tak Berawal Maupun Terawali ….” Coba membawa keajaiban Eldhera dengan menanam inti berisi kesadaran bangsa Ultrus ke kendaraan baru. Tid-tid! Lampu sedan itu berkedip dan klakson berbunyi dua kali begitu manik ajaibku berhasil merasuk serta melebur bersama botol tawon tadi. “Bagus! Kau kemudi kendaraan-kendaraanku—” Spontan, kulihat kepala ayam di seberang. “Namamu, Jago!” Segera, tatkala si Jago mendengarku, ia sontak menderu lalu berlari mengejar tiga sedan lain yang sudah duluan melaju membawa Sisi, Stevan, juga Wiji di depan sana. Brum—Swuuush! Sekencang yang empat rodanya bisa …. *** Minggu lalu, di Kediaman Wali Kota Mungli. “... saya rasa Saudara Mi paham maksud asisten pribadi saya, ini sekalian bentuk iktikad baik kota kami dalam menyambut usaha dengan perusahaan jasa angkut barang seperti milik Anda.” Ketika satu sudut bibirku naik dengar omongan pria gendut dan asisten wanita di meja sebelah sana. “Benar,” sambungku dari sofa ruang sebelah aula tempat acara makan malam sebelumnya dilaksanakan, tepat seberang halaman di mana tiga manajerku kini tengah berbincang bersama tamu-tamu lain. “Saya juga paham kerja sama yang Anda singgung bukan sekadar menyediakan keleluasaan gerak, tapi jaminan bahwa perusahaan sayalah satu-satunya pemonopoli usaha sejenis di Mungli, bukan?” “Jadi Anda setuju?” “Belum.” “Loh, kenapa tak bersedia?” tanya si orang nomor satu se-Kota Mungli agak tersentak, lantas silih toleh singkat bersama asisten sebelahnya. “Bukankah Anda sendiri tadi bilang kerja sama kita memberikan perusahaan Anda jaminan monopoli, apanya yang kurang dari itu?” “Bukan tidak, tapi belum. Tolong cermati jawaban saya, Pak Wali Kota.” Pria gemuk tersebut terdiam sejenak. “Kenapa belum?” Jika boleh mengatakan tidak, tentu aku akan bilang tidak. Namun, kata tidak berarti boikot untuk Plester Co. di kota ini. Jadi aku tidak bisa mengatakannya blak-blakan meskipun ingin. “Sebab cara kerja saya by researce,” alasanku pada mereka, “Plester Co. memang berniat membuka cabang di sini, kota Anda, tapi itu dua sampai tiga tahun lagi—setelah tim kami selesai memetakan demografi Mungli!” Kujeda ia pakai telunjuk supaya jangan dulu menyela. “Bisa dipercepat,” lanjutku lantas bergeser ke ujung sofa mendekati si wali kota, “tapi tetap butuh satu sampai setengah tahun dari rancangan dengan peta kerja pascadisetujui.” “Apa Yotaar dan Sebek—” “Sama,” selaku lantas merebah ke sandaran sofa, “bukankah Anda sudah menyelidiki Plester Co. diambil dari nama kelompok tunawisma di sekitaran Stuckenborstel?” “Hem.” Si pria gendut melihat asistennya. “Saya takkan memaksa.” “Namun, Pak Wali Kota.” Aku sadar menolak orang ini terang-terangan dampaknya masih terlalu signifikan buatku dan Plester Co. “Bila Anda percaya, bagaimana kalau kita lakukan percobaan kecil sebelum ….” Alhasil, inti obrolan dengan si gendut pada malam itu ialah kami sepakat diriku akan mengaturkan orang-orangnya ‘tuk mendirikan pangkalan sementara di semua distrik Mungli. Menjual nama perusahaanku sebagai pemrakarsa acara, melakukan uji coba sekaligus pemetaan wilayah kerja selama setahun atau kurang, kemudian menandatangani kerja sama yang ia tawarkan setelah Plester Co. cabang Mungli-ku tadi siap tahun depan. Hal yang entah bagaimana pokoknya harus kugagalkan sekuat tenaga, titik. *** Kembali ke hari ini, satu minggu kemudian, saat di mana mobil pertamaku di Benua Baru melaju sekian puluh mare—ratusan kilometer pakai satuan jarak kalian—ke kota yang entah apa namanya. Ckiiit—Brum! “Oi, Jago. Kau membawaku ke mana ini, hah?” Mobil baruku membunyikan klakson singkat sebagai jawaban, sepertinya dia juga tidak tahu. Hem. “Kau ini ….” Aku lekas turun dari mobil, melihat jalanan sekitar stasuin pengisian bahan bakar umum alias pom bensin—jangan bayangkan bensin hasil sulingan minyak bumi, di sini bensinnya agak beda. Dia gerusan batu kutukan, residu batu mana yang entah bagaimana sudah berbentuk cair dan jadi bahan bakar kendaraan—sepi sekilas, lalu mengambil selang buat memberi si Jago minum. “Kuharap pom sini menerima kartu kredit.” “Tentu saja mereka menerima kartu kredit,” sahut seseorang, pria kekar dengan wajah seorang wanita ikal di lengan kanan berotot yang sempat membuatku terkejut, dari sebelah. Rompi kulitnya keren juga. “Hai, Bung. Sedan itu model paling baru sama keluaran terbatas, ‘kan?” Kulihat si Jago sambil senyum dengar ucapan si pria kekar bertato. “Aku baru lihat sedan ini di jalanan Xelowa,” sambungnya, selesai isi bahan bakar motor gede lalu membayar pakai kartu kredit mencontohkanku. “Lame, tidak ada yang belum mengenalku di sekitaran sini, Raja Malam dari Xelowa Barat.” Kuangguki jempol pria itu sembari lanjut mengisi bensin si Jago. “Entahlah. Pegawaiku yang memilihkan mobil ini … Mi, dari Yotaar.” “Yotaar?! Dirimu jauh-jauh kemari buat menonton Roda Bara-kah?” tanya Lame kemudian, menyempatkan diri ‘tuk mengintip interior si Jago lewat kaca-kaca gelap mobil itu sejenak. “Huh, benar-benar gelap. Takkan ada yang tahu kalau kau menyembunyikan wanita di dalam sana, Bung Mi.” Kepalaku memiring lihat tingkahnya, ia menyisir rambut dan merapikan kerah rompi kulit samping sedanku seolah di depan cermin tanpa malu-malu. “Baiklah, baiklah. Mobilmu, gayamu.” Kutaruh moncong selang bensin lalu membayar pakai kartu kredit mengikuti cara si pria kekar tadi. “Ngomong-ngomong, Bung Mi, kau betulan mau menonton Roda Bara malam ini?” “Kuyakin aku tidak harus menjawabnya, bukan?” kataku sembari meniru postur berdirinya, menaruh lengan kiri di atap si Jago. “Apa yang harus kutahu sebelum kita berdua pergi ke sana, Bung Lame?” Jujur aku baru dengar istilah Roda Bara saat itu. Namun, jika tebakanku benar, ini mungkin ajang balapan liar atau sejenis di kota tersebut. Dan itu kesempatanku buat melihat dunia malam Benua Baru zaman ini …. ***

Plester Co.

Bab 5 Mobil Kantor

Di publikasikan 01 Jul 2026 oleh Bengkoang

“Udah siap semua?!” “Serius gak mau ganti ke tuksedo aja, Bos?” tanya Wiji begitu lihat busanaku ‘tuk acara malam ini, makan malam di Rumah Wali Kota Mungli, delik dan gerak kepalanya bak menyiratkan kecewa. “Acara Wali Kota, loh. Semiformal.” Hariku sebagai CEO Plester Co. berlanjut. Laporan dan jadwal acara silih ganti menyapa meja kerja di siang hari, sedang pada malamnya diriku masih dipaksa ikut acara yang sebetulnya, kalau boleh kubilang terus terang, tidak ingin kudatangi sehabis capek lembur macam sekarang. Meskipun gak tiap hari ada, acara sosial demi bisnis modelan begini buatku menyebalkan. Balik ke busana …. “Memang kenapa sama pakaian saya?” tanyaku merespons mata orang-orang kantor sebelum berangkat ke acara malam itu, “rapi, kok. Sopan juga. Apanya yang salah?” “Bos.” Sisi mendekat. “Bukan maksud apa-apa, tapi kostum pertapa Anda mungkin bisa dicopot dulu—khusus malam ini, tolong. Kita mau ke tempat Wali Kota, betul kata Wiji. Acara semiformal.” Hah?! Memang apa yang salah dengan jubah pertapa. Toh, diriku benar seorang pertapa walau bukan garis keras lantaran pernah menikah dan punya anak. Mataku mulai mendelik di sini. Heran. Jika masalahnya adat, ya, kebiasaan berpakaianku sebagai orang Eldhera Timur mungkin kurang elok bagi standar penduduk Benua Baru zaman ini. Terlebih, sekarang orang sudah tidak lagi punya batas kelompok atau marginalisasi kian pudar sampai semua hal dituntut harus sama. Diriku sadar. Hanya, aku menolak ‘tuk tunduk pada norma semacam itu. Titik. “Gak. Jubah, jumsuit, mantel, sandal, sama cepol saya udah bagus. Enggak ada, ya, tuksedo-tuksedoan.” “Tapi, Bos—” “Saya kira gak apa-apa kalau si Bos pengen pake baju dia,” ucap Stevan, Kepala Bagian Humas dan Manajer Pemasaran Plester Co.-ku dari arah sofa. “Toh, sehari-hari juga penampilannya begitu, ‘kan?” “Nah!” Telunjukku spontan mencuat pada si lelaki klimis, merasa dapat dukungan. “Kalau ganti dandanan gegara ini acara sama pejabat, itu namanya tumben. Sesama laki-laki, paham pikiran laki-laki!” “Beda, ya, cara pikir penjilat mah.” Begitu celetuk Wiji sambil melihat ke teman sesama manajernya dan Sisi tersebut. Namun, tidak berdampak apa-apa sebab kami tetap berangkat dengan dandananku yang ala biasa. Jubah Bukit Muara dirangkap jumsuit, celana kodok, berbahan kulit beruang asli dan Mantel Duyung Ungu sebagai tambahan luar. Kebanggaanku sebagai penduduk Eldhera lintas zaman. Gak lupa, rambut cepol dibalut sutra putih dan ikat bandul marjan kenang-kenangan Guru Kyongdok sama sandal alas mitril. Hehe. *** Menurut kabar, Wali Kota Mungli mengundang banyak artis dan selebritas di acara malam ini. Konon, mereka-mereka sengaja ‘dipelihara’ sedari muda khusus ‘tuk merayu tamu yang menurut si kepala daerah tingkat dua patut atau layak dijadikan kawan pada acara-acara model sekarang. Gamblangnya makan malam nanti merupakan jaring buat memilah antara sekutu sama bukan—dugaanku saja, sih. Pasalnya, aku pernah dengar cerita bahwa Mungli ini punya peran ganda di luaran sana. Selain kota terpadat yang menggantungkan hidup pada aliran limbah kota lain, ia juga merupakan ibu kota dan pusat kegiatan gelap. Jadi, tolong garis bawahi, berurusan sama mereka serupa artinya dengan kita masuk ke gorong-gorong bawah tanah menurut perumpamaan. Cuma, terserahlah. Gak aneh. Toh, bukan kali pertamaku juga. “Bos?” “Ya, Stevan?” “Soal obrolan kita kemarin sore …?” Kulihat Wiji dan Sisi sekilas, dari raut wajah mereka kutahu barusan diriku melamun terlalu lama. “Yang soal mobil inventaris kantor itu?” “Ah, betul. Bos, kita ini pendatang baru yang lagi naik daun. Masa, ya, ke acara-acara formal begini sewa mobil rental terus ….” Mataku mengerling dengar omongan Stevan soal mobil kantor. Topik ini berulang kali ia angkat tiap kali ada kesempatan. Benar-benar tiap kali ada kesempatan, tahu?! Ketika rapat, sehabis bertemu pemodal, sampai di perjalanan ke acara luar kantor macam sekarang. Sang kepala bagian humas dan pemasaranku itu sangat gigih, kuakui. No debate. Kadang, persistensinya ini mengingatkanku pada Roxina. “Saya, kan, udah pernah bilang, ‘Kalau kamu berhasil ngelobi pemkot Yotaar sama kota-kota sekitar Sebek supaya pake jasa kita, baru kantor punya anggaran buat beli mobil inventaris sendiri.’ Tinggal tunggu hasil kerja kamu aja sebenarnya, Stevan. Ya, ‘kan?” “Gak usah yang mahal-mahal,” balas si laki-laki klimis, tak menyerah meski jawabanku sangat jelas. “Sedan kecil dulu aja, Bos—itung-itung mobil pribadinya si Bos. Ya, gak?” “Hem.” Aku beralih pada Sisi. “Si, berapa perkiraan profit kita bulan depan?” “Sebentar.” Manajer keuangan sebelahku lekas ambil tablet dan membuka sebuah aplikasi. “Kalau semua proposal kita tembus tender, Plester Co. akan punya sekitar tiga puluh ribu pelanggan bulan depan. Total keuntungan bersihnya kira-kira satu setengah juta suth, Bos.” “Harga mobil?” “Sedan bekas dua puluh sampai lima puluh ribuan!” sambar Stevan semangat, “itu juga udah bagus buat awal-awal kita mah, Bos. Gimana?” “Hem.” Kulihat wajah para manajerku, satu per satu, berpikir sekalian menambah jumlah kata. “Saya lebih pengen buka kantor cabang, sih, Stevan. Cuma, ide kamu ini keknya gak buruk. Oke, deh.” “Yes!” sambut Stevan semangat, mengajak Wiji sebelahnya tos. “Ini baru bos kita—Bener, ya, Bos. Nanti biar saya yang pilihin model sama atur semuanya. Bos tinggal terima beres, deh.” Satu sudut bibirku naik. Tadinya, kupikir tahun pertama Plester Co. inventaris cukup truk tambah serba-serbi kantor. Toh, dua itu paling dibutuhkan buat modal selain tenaga sama karyawan. Namun, dari alasan-alasan si kepala humas waktu membujukku supaya mau beli mobil, ternyata pretelan penunjang gengsi juga masuk daftar yang perlu didahulukan. Manajer pemasaran satu itu pernah bilang, merujuk pengalamannya melobi banyak orang, investor jarang lihat seberapa bagus rekam jejak pekerjaan kami saat menghadapi pelanggan. Baik atau buruk tak penting di situasi ini. Sebab penilaian mereka cenderung terpengaruh oleh kesan pertama. Dia minta mobil jadi masuk akal kalau pakai teori tersebut. Ilusi perusahaan sehat dengan risiko rendah muncul lewat dandanan luar tadi …. “Saya gak mau bekas,” tambahku sebelum topik mobil kantor ditutup, “kayaknya sedan di bawah seratus mapuluh ada kemarin saya lihat, beli itu aja dua atau empat.” “Dua, Bos?” “Buat saya satu,” terangku sambil senyum, “kamu emang mau nunggu saya nganggur dulu baru bisa pake mobil kantor buat jalan, Stevan?” “Ah, si Bos, nih. Bisa aja. Itu kan mobil buat kerja.” “Saya gak lagi bercanda, kok,” kataku lalu mengedipkan mata, “kepala cabang kita sama manajer itu muka-mukanya Plester Co. di masa depan, depan belakang, jadi kayaknya kalian bertiga emang butuh mobil biar kelihatan ‘garang’ terus gak diremehin orang.” Setelah topik kantor cabang dan mobil inventaris, obrolan dilanjut ke hal-hal teknis seputar acara makan malam di Rumah Wali Kota Mungli. Yang, ternyata lebih ketat ketimbang acara formal di kantor dinasnya sendiri. Aku sampai berkali-kali mendelik dan geleng kepala dengar apa-apa yang boleh serta tak boleh kulakukan sebelum sama sesudah acara utama selesai …. ***

Plester Co.

Bab 12

Di publikasikan 26 Jun 2026 oleh MUFARA`

Jarak Pukul lima pagi. Suara alarm berbunyi di seluruh asrama. "Hnggg..." Kevin menarik selimutnya. Lalu menutup kepala. "Aku tidak mau jadi atlet lagi." "Bangun." Rian melempar bantal. "Terlalu pagi." "Ini jam lima." "Itu maksudku." Sementara itu. Di luar asrama. Arka sudah bangun sejak empat puluh menit lalu. Seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Udara pagi masih dingin. Lapangan masih sepi. Dan di tangannya terdapat buku catatan kecil. Catatan pertandingan kemarin. Kekalahannya melawan Farhan. Ia membaca setiap langkah. Setiap kesalahan. Setiap keputusan. Satu per satu. Tidak ada rasa malu. Tidak ada alasan. Hanya fakta. Ia kalah. Dan ia ingin tahu kenapa. "Sudah kuduga." Suara itu muncul dari belakang. Arka menoleh. Naila. Membawa botol air. "Kamu di sini lagi." "Kamu juga." "Aku jogging." "Lalu kenapa berhenti?" Naila menatap buku catatan di tangan Arka. "Karena aku tahu kamu pasti sedang menganalisis pertandingan kemarin." Sunyi. "Kamu menyeramkan." "Itu pujian?" "Tidak." Untuk pertama kalinya pagi itu. Mereka tertawa. "Apa yang kamu lihat?" Naila duduk di bangku sebelahnya. Arka membuka catatan. "Langkah dua puluh tiga." "Hm?" "Farhan mengorbankan pion." Naila melihat posisi yang digambar Arka. Kemudian matanya sedikit membesar. "Oh." "Kamu baru sadar?" "Tidak." Naila menunjuk posisi lain. "Aku baru sadar ini." Arka membeku. Ada variasi lain. Variasi yang bahkan belum ia lihat. Sunyi. Kemudian. Arka tersenyum. "Kamu hebat." Naila langsung memalingkan wajah. "..." "Hm?" "Tidak apa-apa." Namun telinganya sedikit merah. Untung Arka terlalu fokus pada papan untuk menyadarinya. Latihan pagi dimulai. Hari ini berbeda. Coach Aditya membagi mereka ke dalam kelompok. Latihan strategi tim. Bukan pertandingan individu. "Mulai sekarang." Pelatih berdiri di depan papan besar. "Kalian harus belajar satu hal." Semua memperhatikan. "Catur tim bukan tentang siapa yang paling kuat." Tatapan Coach Aditya berkeliling ruangan. "Melainkan bagaimana empat orang menjadi lebih kuat bersama." Arka sedikit mengernyit. Ia masih belum terbiasa dengan konsep itu. Selama bertahun-tahun. Ia bermain untuk dirinya sendiri. Bukan untuk tim. Sesi latihan berlangsung hampir tiga jam. Dan hasilnya... Berantakan. Sangat berantakan. "Kenapa kamu melakukan itu?!" Kevin menunjuk papan. "Itu langkah terbaik." Jawab Arka. "Iya buat kamu!" "Lalu?" "Kita satu tim!" "Hm?" "Kalau kamu menang tapi strategi tim hancur, kita tetap kalah!" Sunyi. Untuk pertama kalinya. Arka tidak punya jawaban. Sore hari. Latihan selesai. Semua pemain terlihat lelah. Bahkan Kevin sudah rebahan di lantai. "Aku mati." "Kamu masih bicara." "Itu refleks." Rian tertawa. Sementara Arka duduk diam. Memikirkan sesuatu. Ia teringat kata-kata Kevin tadi. Dan juga kata-kata pelatih. "Catur tim bukan tentang siapa yang paling kuat." Kalimat itu terus terngiang. Karena selama ini. Ia selalu berpikir bahwa jika dirinya cukup kuat... Maka semuanya akan baik-baik saja. Namun sekarang. Ia mulai menyadari sesuatu. Mungkin... Menjadi pemain terbaik bukan satu-satunya cara untuk menang. Malam hari. Sebelum tidur. Arka kembali membuka catatannya. Di halaman terakhir. Ia menulis sesuatu. Bukan target baru. Bukan ranking baru. Melainkan sebuah pertanyaan. Bagaimana cara menjadi pemain yang dibutuhkan tim? Ia menatap tulisan itu. Lama. Kemudian menutup buku. Besok. Ia akan mulai mencari jawabannya. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 11

Di publikasikan 25 Jun 2026 oleh MUFARA`

Orang-Orang yang Lebih Kuat Senin pagi. Bus tim nasional melaju meninggalkan kota. Di dalamnya terdapat dua belas pemain yang baru lolos seleksi. Beberapa terlihat bersemangat. Beberapa gugup. Kevin sedang tidur. Rian sedang mendengarkan musik. Naila membaca buku. Dan Arka... Menganalisis partai catur. Tentu saja. "Aku sudah tidak terkejut lagi." Rian melirik layar tablet Arka. "Kamu bahkan latihan di bus." "Perjalanan empat jam." "Iya." "Itu maksudku." Kevin yang baru bangun ikut menoleh. "Dia memang tidak punya obat." "Aku dengar." "Bagus." Empat jam kemudian. Mereka tiba. Pusat Pelatihan Nasional. Gedungnya jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Arka. Lapangan olahraga. Asrama. Ruang kelas. Perpustakaan. Dan sebuah gedung khusus. Gedung Catur Nasional. "Wow." Bahkan Kevin terlihat terkesan. Coach Aditya berdiri di depan mereka. "Selamat datang." Beberapa pemain langsung menegakkan badan. "Mulai hari ini." "Kalian akan tinggal di sini." "Belajar di sini." "Berlatih di sini." "Dan mungkin menderita di sini." Sunyi. "..." "..." "..." "Bagian terakhir bercanda kan?" Kevin bertanya. Coach Aditya tersenyum. "Itu bukan bagian yang bercanda." "OH TIDAK." Satu jam kemudian. Para pemain berkumpul di aula utama. Di depan mereka terdapat layar besar. Coach Aditya menyalakan proyektor. Muncul foto-foto pemain catur dunia. Grandmaster. Juara dunia. Legenda. Arka langsung mengenali sebagian besar nama itu. "Mulai sekarang." Coach Aditya berbicara. "Kalian tidak lagi bersaing di tingkat nasional." Slide berikutnya muncul. Turnamen Asia. Turnamen Dunia. Ranking internasional. "Kalian akan menghadapi pemain dari seluruh dunia." Tatapan para peserta mulai berubah serius. Kemudian slide kembali berganti. Kali ini muncul logo Pelatnas Junior. Di bawahnya tertulis: KEJUARAAN NASIONAL ANTAR TIM JUNIOR Beberapa peserta langsung memperhatikannya. "Target pertama kalian adalah turnamen ini." Coach Aditya menunjuk layar. "Kalian akan menghadapi tim-tim terbaik dari seluruh Indonesia." "Bukan sebagai individu." "Tapi sebagai satu tim." Ruangan menjadi sunyi. Karena untuk pertama kalinya. Sebagian besar dari mereka benar-benar memahami tujuan pelatnas ini. "Empat pemain utama nantinya akan mewakili tim Pelatnas Indonesia." "Yang lain tetap menjadi bagian penting dari tim." "Tidak ada yang datang ke sini sendirian." Arka sedikit mengernyit. Masih terasa asing. Karena selama ini. Catur selalu terasa seperti perjalanan seorang diri. "Dan saya akan jujur." Coach Aditya mematikan proyektor. Lalu menatap mereka satu per satu. "Saat ini..." "Kalian belum cukup kuat." Sunyi. Sangat sunyi. Beberapa pemain langsung menegang. Termasuk Arka. "Tapi aku pemain nomor satu nasional..." Seseorang berbisik. Coach Aditya mendengarnya. "Lalu?" Ruangan langsung membeku. "Saya tidak peduli." Tatapannya tajam. "Nomor satu nasional hanyalah titik awal." "Bukan tujuan." Arka merasakan dadanya berdebar. Karena jauh di dalam dirinya... Ia tahu pelatih benar. Masih ada dunia yang belum ia lihat. Masih ada pemain yang lebih kuat. Masih ada puncak yang lebih tinggi. Dan entah kenapa. Ia menyukai perasaan itu. Sore hari. Latihan pertama dimulai. Para pemain dibagi menjadi beberapa meja. Sesi simulasi pertandingan. Arka duduk berhadapan dengan salah satu pemain senior tim nasional junior. Namanya Farhan. Peringkat internasional junior. Pengalaman tiga tahun lebih banyak daripada Arka. Pertandingan dimulai. Sepuluh langkah. Dua puluh langkah. Tiga puluh langkah. Arka fokus. Sangat fokus. Namun semakin lama. Posisinya semakin sulit. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Ia merasa tertinggal. Bukan karena blunder. Bukan karena gugup. Melainkan karena lawannya melihat lebih banyak. Jauh lebih banyak. Satu jam kemudian. "Checkmate." Sunyi. Pertandingan selesai. Arka kalah. Ia menatap papan. Lama. Sangat lama. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan kembali muncul. Kagum. Frustrasi. Dan sedikit kegembiraan. Karena sekali lagi. Ia menemukan sesuatu yang belum bisa ia lakukan. Sesuatu yang bisa ia pelajari. "Bagus." Suara Coach Aditya terdengar dari belakang. Arka menoleh. "Aku kalah." "Iya." "Lalu kenapa bagus?" Pelatih menyilangkan tangan. Karena untuk pertama kalinya hari itu... Arka terlihat hidup. "Bukankah ini yang kamu cari?" "Hm?" "Orang yang lebih kuat darimu." Sunyi. Arka kembali melihat papan. Kemudian tersenyum tipis. Sangat tipis. Tapi tulus. "...iya." Di kejauhan. Naila sedang berlatih. Rian sedang bertanding. Kevin sedang panik karena waktu di jam caturnya hampir habis. Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi pemain nomor satu nasional... Arka merasa menjadi murid lagi. Dan itu terasa menyenangkan. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 10

Di publikasikan 24 Jun 2026 oleh MUFARA`

Janji di Bawah Langit Malam Hari terakhir liburan. Besok mereka harus kembali. Kembali ke latihan. Kembali ke jadwal padat. Kembali mengejar mimpi masing-masing. Namun malam itu. Tidak ada yang langsung masuk kamar. Mereka berkumpul di pantai. Angin malam terasa sejuk. Ombak datang silih berganti. Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu. Tidak ada yang membicarakan catur. Setidaknya selama lima menit. "Lalu?" Kevin membuka pembicaraan. "Apa target kalian?" "Target?" "Iya." Rian berpikir sejenak. "Lolos ke kejuaraan dunia." "Bagus." Kevin mengangguk. "Naila?" Gadis itu menatap laut. "Menjadi pemain yang lebih baik." Jawaban sederhana. Namun Arka tidak terkejut. Itu memang terdengar seperti Naila. "Lalu kamu?" Naila menunjuk ke arah kevin. "Aku?" "Iya." Kevin tertawa kecil. "Aku ingin tetap menikmati catur." Sunyi. Arka langsung tahu. Jawaban itu sangat Kevin. "Kalau kamu?" Kini semua mata tertuju pada Arka. Untuk beberapa detik. Ia hanya melihat ombak. Kemudian menjawab. "Aku ingin menjadi pemain terbaik di dunia." Sunyi. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang mengejek. Karena mereka tahu. Arka serius. Sangat serius. Bahkan mungkin lebih serius daripada siapa pun di sini. Kevin tersenyum. "Memang kamu banget." Rian mengangguk. "Aku juga tidak terkejut." Naila hanya memperhatikan wajah Arka. Lama. Seolah mencoba memahami sesuatu. Malam semakin larut. Percakapan mulai berpindah ke topik-topik lain. Makanan. Film. Hal-hal biasa. Namun Arka tidak terlalu ikut. Karena pikirannya masih tertinggal pada pertanyaan Kevin tadi. Target. Tujuan. Mimpi. Sejak kecil jawabannya selalu sama. Menjadi yang terbaik. Menjadi nomor satu. Menjadi juara dunia. Namun entah kenapa. Malam ini. Untuk pertama kalinya. Jawaban itu terasa sedikit berbeda. "Nih." Sesuatu mendarat di kepalanya. Arka menoleh. Kaleng minuman. Naila. Lagi. "Kamu sering melakukan itu." "Apa?" "Memberi minuman tanpa bilang apa-apa." "Itu masalah?" "Tidak." Naila duduk di sampingnya. Beberapa saat. Mereka hanya melihat laut. Lalu Naila berkata. "Aku rasa tujuanmu keren." Arka berkedip. "Hm?" "Menjadi pemain terbaik dunia." "..." "Tapi." Nah. Ada kata itu lagi. "Tapi?" Naila menatap bintang-bintang. "Jangan sampai kamu lupa menikmati perjalanan ke sana." Sunyi. Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana. Namun entah kenapa. Ia teringat Kevin. Ia teringat pertandingan melawan Naila. Ia teringat dirinya sendiri lima tahun lalu. Saat pertama kali kalah. Saat pertama kali merasa kagum pada permainan ini. Bukan pada trofi. Bukan pada gelar. Melainkan pada permainan itu sendiri. Malam semakin larut. Satu per satu mereka kembali ke penginapan. Kevin paling dulu. Rian menyusul. Naila berdiri. Lalu berhenti. "Arka." "Hm?" "Jangan kalah dulu sebelum kita main di dunia." Untuk pertama kalinya. Arka tertawa. "Itu terdengar seperti tantangan." "Mungkin." Lalu Naila pergi. Meninggalkan Arka sendirian. Ia tetap duduk di sana. Melihat laut. Melihat bintang. Dan memikirkan perjalanan panjang yang menunggunya. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 9

Di publikasikan 22 Jun 2026 oleh MUFARA`

Hal-Hal yang Tidak Ada di Papan Catur Pagi hari. Langit cerah. Suara ombak terdengar dari luar penginapan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Arka dibangunkan bukan oleh alarm. Melainkan oleh Kevin. "Bangun!" BRAK! Pintu kamar terbuka. Arka langsung terbangun. "Apa yang kamu lakukan?!" "Sudah jam tujuh." "Itu bukan alasan untuk mendobrak pintu." "Aku mengetuk." "Kapan?" "Tiga detik yang lalu." "..." Arka mulai mempertimbangkan tindakan kriminal. Satu jam kemudian. Mereka sudah berada di pantai. Kevin entah dari mana membawa bola voli. "Tim!" "Tidak." "Itu bukan pertanyaan." "Kevin." "Kita main." "Kenapa?" "Karena liburan." "Itu tetap bukan alasan." Namun lima menit kemudian. Mereka tetap bermain. Karena ternyata Kevin memiliki bakat supernatural dalam memaksa orang ikut bersenang-senang. Tim pertama: KevinNailaTim kedua: ArkaRian"Kenapa aku satu tim sama dia?" Rian menunjuk Arka. "Aku tidak bisa main voli." "Aku juga." "Justru itu masalahnya." Pertandingan dimulai. Kevin melakukan servis. Bolanya meluncur sempurna. Arka gagal menerimanya. Poin. "Hah." Kevin tersenyum. "Menarik." "Apa?" "Ada olahraga yang kamu tidak jago." "Itu bukan informasi baru." "Tapi menyenangkan melihatnya." Sepuluh menit kemudian. Arka berkeringat. Dan mulai kesal. Karena mereka kalah telak. Sangat telak. Kevin tertawa setiap kali mendapat poin. Rian meminta maaf setiap kali gagal menerima bola. Dan Naila... Naila ternyata sangat kompetitif. "Jangan kasih mereka kesempatan." "Siap." Kevin langsung mengikuti. Arka berkedip. "Hah." "Apa?" "Kamu ternyata suka menang juga." Naila menatapnya. Seolah baru saja mendengar sesuatu yang bodoh. "Tentu saja." "Loh?" "Aku suka memahami catur." "Hm." "Itu tidak berarti aku suka kalah." Untuk pertama kalinya. Arka tidak bisa membantah. Setelah pertandingan selesai. Mereka duduk di bawah payung pantai. Kevin membeli es kelapa. Rian langsung memesan dua. Dan entah bagaimana. Arka akhirnya menikmati suasana. Tidak ada tekanan. Tidak ada lawan. Tidak ada jam catur. Hanya angin laut. Dan teman-temannya. Teman. Kata itu terasa aneh. Karena selama bertahun-tahun. Sebagian besar waktunya dihabiskan sendirian. Berlatih. Belajar. Bertanding. Namun sekarang... Ada orang-orang yang berjalan di sampingnya. Dan tanpa sadar. Ia menyukai itu. Menjelang sore. Mereka berjalan di sepanjang pantai. Kevin dan Rian berjalan di depan. Entah sedang membahas makanan atau hal tidak penting lainnya. Sementara Arka dan Naila tertinggal beberapa langkah. Untuk beberapa saat. Mereka hanya berjalan. Tanpa bicara. Namun anehnya. Tidak terasa canggung. "Aku punya pertanyaan." Naila akhirnya berbicara. "Hm?" "Kamu pernah takut kalah?" Arka terdiam. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba. "Pernah." Jawabannya lebih cepat dari yang ia duga. Naila sedikit terkejut. "Kukira kamu akan bilang tidak." "Aku bukan robot." "Itu masih diperdebatkan." Arka memutar bola matanya. Membuat Naila tertawa kecil. "Lalu?" "Apa?" "Kenapa takut?" Arka melihat laut. Ombak datang. Ombak pergi. Kemudian menjawab. "Karena kalau kalah..." Ia berhenti. Mencari kata-kata yang tepat. "Rasanya seperti semua usahaku tidak cukup." Angin berembus pelan. Dan untuk pertama kalinya. Naila melihat sisi Arka yang jarang diperlihatkan. Bukan pemain nomor satu. Bukan kandidat tim nasional. Bukan orang yang selalu menang. Melainkan seseorang yang juga takut. Sama seperti orang lain. Malam hari. Mereka kembali ke penginapan. Kevin langsung tertidur. Rian tidak jauh berbeda. Namun Arka masih terjaga. Entah kenapa ia tidak bisa tidur. Mungkin karena terlalu banyak hal yang sedang dipikirkannya. Akhirnya ia turun ke lobi penginapan. Suasana sudah sepi. Hanya terdengar suara ombak dari kejauhan. Arka duduk di salah satu meja dekat jendela. Memandangi laut yang gelap. Beberapa menit berlalu. Lalu seseorang menarik kursi di depannya. Naila. Di tangannya ada dua kaleng minuman. Tanpa berkata apa-apa. Ia meletakkan salah satunya di depan Arka. "Terima kasih." "Hm." Mereka duduk berhadapan. Diam. Mendengarkan suara ombak yang masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Lalu Naila berkata pelan. "Kalau suatu hari nanti kamu kalah..." Arka menoleh. Naila tetap melihat laut. "...jangan pernah menganggap semua usahamu sia-sia." Sunyi. Tidak ada jawaban. Karena untuk pertama kalinya. Arka tidak tahu harus menjawab apa. Dan jauh di dalam dirinya. Entah kenapa. Kalimat itu terus tertinggal. Seolah suatu hari nanti... Ia akan membutuhkannya. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 8

Di publikasikan 21 Jun 2026 oleh MUFARA`

Liburan yang Tidak Benar-Benar Libur Beberapa hari setelah seleksi berakhir. Sebuah grup chat baru terbentuk. Tim Nasional Junior. Awalnya hanya berisi informasi latihan dari Coach Aditya. Namun dalam waktu kurang dari satu jam... Grup itu berubah menjadi tempat Kevin mengirim meme, Rian mengeluh soal liburan yang membosankan, dan Naila sesekali mengirim foto langit tanpa penjelasan apa pun. Di tengah kekacauan itu. Muncul satu pesan baru. Kevin: Liburan. Kevin: Pantai. Kevin: Tidak menerima penolakan. Dan entah bagaimana. Kurang dari satu hari kemudian. Mereka sudah saling bertukar nomor telepon, alamat penjemputan, dan rencana keberangkatan. Seminggu kemudian. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan. Tidak ada pertandingan. Tidak ada seleksi. Tidak ada peringkat. Dan itu membuat Arka merasa aneh. Sangat aneh. Pukul enam pagi. Ia sudah duduk di depan papan catur. Sendirian. Seperti biasa. Tangannya memindahkan bidak. Menganalisis posisi. Mencatat variasi. Lalu ponselnya bergetar. Kevin Arka langsung curiga. Biasanya kalau Kevin menghubunginya pagi-pagi... Tidak ada hal baik yang akan terjadi. Ia membuka pesan itu. Bangun.Arka membalas. Sudah.Beberapa detik kemudian. Keluar rumah.Kenapa?Keluar aja dulu.Tidak mau.Aku di depan rumahmu.Sunyi. Arka berjalan ke jendela. Dan benar saja. Kevin berdiri di depan gerbang. Bersama Rian. Dan... Naila. "Hah?" Sepuluh menit kemudian. Arka sudah berada di dalam mobil. Masih bingung. "Jadi." "Kita mau ke mana?" Kevin tersenyum lebar. "Liburan." "Itu bukan jawaban." "Pantai." "Oh." Arka kembali diam. Lalu membuka tasnya. Dan mengeluarkan buku catatan catur. "JANGAN." Kevin langsung merebutnya. "Oi." "Kamu liburan." "Aku bisa membaca sambil duduk." "Tidak." "Aku bahkan belum membuka—" "TIDAK." Rian tertawa sampai hampir tersedak minuman. Sementara Naila memalingkan wajahnya. Tapi bahunya sedikit bergetar. Dia sedang menahan tawa. Dua jam kemudian. Mereka sampai. Pantai tidak terlalu ramai. Angin laut berembus pelan. Suara ombak memenuhi udara. Untuk beberapa saat. Tidak ada yang berbicara. Karena pemandangannya terlalu indah. Kevin langsung berlari ke laut. Rian ikut mengejar. Meninggalkan jejak kaki di pasir. Dan dalam waktu kurang dari satu menit... Mereka berdua jatuh. "Hahaha!" "Idiot." Untuk pertama kalinya hari itu. Arka tertawa cukup keras. Lalu tiba-tiba. Klik. Ia menoleh. Naila sedang memegang kamera. "Kamu motret?" "Hm." Sejak kapan? "Sudah lama." Naila melihat hasil fotonya. Lalu berkata pelan. "Aku suka menyimpan momen." "Momen?" "Karena semuanya cepat berlalu." Angin kembali berembus. Untuk beberapa saat. Mereka hanya melihat laut. Tanpa sadar. Suasana terasa nyaman. Tidak canggung. Tidak perlu banyak kata. Sore hari. Mereka duduk di tepi pantai. Kevin membeli terlalu banyak makanan. Rian mengeluh. Naila memotret langit senja. Dan Arka... Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Tidak memikirkan pertandingan. Setidaknya sampai... Ia melihat sesuatu. Di kejauhan. Ada meja kecil milik kafe pantai. Dan di atas meja itu. Sebuah papan catur. "..." Naila langsung menyadarinya. "Jangan." "Aku belum bilang apa-apa." "Jangan." "Aku cuma melihat." "Arka." "Aku cuma penasaran." "Arka." "Hanya lima menit." "Arka." Kevin dan Rian langsung tertawa. Karena mereka tahu. Pertarungan ini sudah dimenangkan Naila sejak awal. Malam hari. Mereka menginap di penginapan dekat pantai. Semua orang sudah tidur. Lampu koridor redup. Penginapan terasa jauh lebih sunyi dibanding siang tadi. Hanya terdengar suara ombak dari kejauhan. Arka duduk di salah satu meja dekat jendela. Memandangi laut yang gelap. Dan mulai menganalisis pertandingan. Satu posisi. Dua posisi. Tiga posisi. Waktu berlalu. Tanpa ia sadari. Seseorang duduk di seberangnya. Naila. "..." "..." Mereka saling menatap. Lalu Naila menghela napas. "Aku sudah menduga." "Apa?" "Kamu pasti tetap latihan." Arka menggaruk pipinya. Sedikit bersalah. "Maaf." Yang mengejutkan. Naila justru mengeluarkan notebook miliknya. Lalu meletakkannya di meja. "Aku juga." Sunyi. Arka berkedip. "Hah?" Naila membuka catatan partai. "Liburan memang penting." Katanya pelan. "Tapi kita tetap punya tujuan yang sama." Untuk pertama kalinya malam itu. Arka tersenyum. Bukan karena catur. Bukan karena latihan. Tapi karena menyadari sesuatu. Ia tidak sendirian. Dan mungkin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Perjalanan menuju puncak tidak terasa terlalu sepi. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 7

Di publikasikan 20 Jun 2026 oleh MUFARA`

Nama-Nama yang Terpilih Ruang konferensi terasa lebih sunyi dari biasanya. Dua belas kursi berjajar rapi. Dua belas pemain terbaik yang berhasil lolos seleksi nasional. Arka duduk di barisan tengah. Di sebelahnya Rian. Di depan mereka Kevin. Dan di seberang ruangan Naila. Aneh. Beberapa hari yang lalu mereka masih saling mengalahkan. Sekarang mereka duduk memakai jaket yang sama. Jaket tim nasional. "Masih terasa aneh." Rian memegang bagian lengan jaketnya. "Aku benar-benar lolos." Kevin mengangguk. "Aku juga." Naila melirik mereka. "Kalian terdengar seperti tidak percaya diri." "Karena memang tidak percaya." "Jujur sekali." Rian tertawa. Di sisi lain. Arka memperhatikan lambang negara yang terpasang di dada jaketnya. Tidak besar. Tapi cukup membuat dadanya terasa hangat. Lima tahun lalu. Ia hanya seorang anak yang kalah di turnamen lokal. Sekarang. Ia duduk di ruangan yang sama dengan pemain-pemain terbaik di negaranya. Dan untuk pertama kalinya. Ia benar-benar merasa telah melangkah jauh. Pintu ruangan terbuka. Coach Aditya masuk. Seluruh peserta langsung tenang. Pelatih meletakkan beberapa dokumen di atas meja. Lalu melihat satu per satu wajah para pemain. "Saya ucapkan selamat." Tidak ada tepuk tangan. Karena semua orang menunggu kelanjutannya. "Tapi jangan terlalu senang." Beberapa pemain langsung menghela napas. "Tentu saja." Kevin berbisik. Coach Aditya melanjutkan. "Kalian belum menjadi tim nasional." Ruangan langsung sunyi. Beberapa pemain saling berpandangan. "Hah?" "Kalian baru lolos seleksi." Pelatih menyilangkan tangan. "Menjadi pemain hebat itu satu hal." "Menjadi tim adalah hal lain." Tatapan Coach Aditya berkeliling ruangan. "Saya sudah melihat banyak pemain berbakat." "Banyak jenius." "Banyak juara nasional." "Tapi mereka gagal ketika harus bermain untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri." Arka tanpa sadar memperhatikan setiap kata. Karena kalimat itu terasa ditujukan padanya. "Mulai minggu depan." Coach Aditya menunjuk layar proyektor. "Program pemusatan latihan nasional dimulai." Beberapa pemain langsung menegakkan badan. "Selama satu tahun." "Kalian akan berlatih bersama." "Bertanding bersama." "Menang bersama." "Dan kalah bersama." Kalimat terakhir terasa lebih berat. Namun sebelum suasana menjadi terlalu serius. Coach Aditya menghela napas. "Lalu setelah itu." Semua menunggu. "Libur satu minggu." Sunyi. "..." "..." "..." Kevin berdiri paling dulu. "LIBUR?!" Ruangan langsung pecah. Beberapa pemain tertawa. Bahkan pelatih sampai memijat pelipisnya. "Sit down." "Maaf." Kevin langsung duduk lagi. Namun senyum di wajahnya tidak hilang. Setelah pertemuan selesai. Keempat orang itu berjalan keluar gedung bersama. Matahari sore mulai turun. Untuk pertama kalinya. Mereka tidak lagi memikirkan pertandingan. Tidak ada papan catur. Tidak ada jam pertandingan. Tidak ada lawan. Hanya jalan pulang. "Jadi..." Kevin memecah keheningan. "Liburan." "Hm." "Kalian mau ngapain?" Rian mengangkat bahu. "Tidur." "Wah cita-cita yang sederhana." "Kamu?" Kevin tersenyum lebar. "Makan." "Itu bukan kegiatan." "Itu gaya hidup." Mereka tertawa. Naila menggeleng pelan. "Kalian ini..." Namun bahkan dia terlihat sedikit lebih santai dari biasanya. Lalu Kevin menoleh ke Arka. "Kamu?" "Hm?" "Mau ngapain selama liburan?" Semua langsung menunggu jawabannya. Arka berpikir sebentar. Kemudian menjawab dengan sangat serius. "Latihan." Sunyi. "..." "..." "..." "Tentu saja." Kevin menepuk dahinya. Rian tertawa terbahak-bahak. Bahkan Naila sampai menahan senyum. Dan untuk pertama kalinya. Arka tidak mengerti kenapa mereka semua tertawa. Malam itu. Saat semua orang mulai merencanakan liburan mereka. Arka kembali membuka catatan pertandingannya. Posisi demi posisi. Langkah demi langkah. Ia masih melihat kesalahan-kesalahannya selama seleksi. Masih menemukan hal-hal yang bisa diperbaiki. Masih menemukan celah untuk berkembang. Di luar jendela. Langit malam terlihat tenang. Dan di atas meja. Sebuah catatan baru mulai terisi. Target berikutnya. Menjadi pemain utama tim nasional. Arka menatap tulisan itu. Lalu tersenyum tipis. Perjalanannya belum selesai. Justru baru dimulai. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 6

Di publikasikan 19 Jun 2026 oleh MUFARA`

Orang yang Tidak Menyukai Kompetisi Hari terakhir seleksi. Hasil akhir diumumkan sore ini. Sejak pagi, suasana gedung terasa berbeda. Lebih tegang. Lebih sunyi. Tidak ada lagi peserta yang mengobrol santai. Tidak ada lagi candaan berlebihan. Karena semua orang tahu. Hari ini beberapa mimpi akan berlanjut. Dan beberapa lainnya akan berhenti di sini. Arka baru saja menyelesaikan pertandingan terakhirnya. Menang. Tidak sempurna. Tapi cukup untuk memastikan posisinya aman. Ia berjalan keluar ruangan. Dan menemukan Kevin duduk sendirian di dekat mesin minuman. Tidak tersenyum. Tidak bercanda. Tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa?" Kevin mengangkat kepala. "Oh." "Hasilmu bagaimana?" "Aman." "Bagus." Lalu sunyi lagi. Arka duduk di sampingnya. Mungkin untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu. Kevin terlihat murung. Beberapa saat kemudian. Suara tangisan terdengar dari ujung koridor. Arka menoleh. Seorang peserta perempuan berjalan keluar sambil menutupi wajahnya. Di belakangnya. Seorang pelatih mencoba menenangkannya. "Tahun depan masih ada kesempatan." Namun gadis itu tetap menangis. Karena mereka semua tahu. Kesempatan tidak selalu datang dua kali. Kevin memperhatikan pemandangan itu. Lama. Sangat lama. Kemudian berkata pelan. "Aku tidak suka melihat itu." "Hm?" "Orang menangis." Arka kembali melihat koridor. "Oh." Kevin tersenyum kecil. Namun kali ini senyumnya terasa sedih. "Aku tahu ini aneh." "Apa?" "Aku sebenarnya tidak terlalu suka kompetisi." Untuk pertama kalinya. Arka benar-benar terkejut. "Hah?" "Itu ekspresi yang sering kudapat." "Tapi kamu pemain turnamen." "Iya." "Kamu ikut seleksi nasional." "Iya." "Lalu kenapa tidak suka kompetisi?" Kevin menatap langit-langit. Seolah mencari jawaban di sana. "Aku suka catur." "Hm." "Aku suka bertanding." "Hm." "Tapi aku tidak suka bagian setelahnya." Arka mengernyit. "Bagian setelahnya?" Kevin mengangguk. "Kamu menang." "Hm." "Orang lain kalah." "..." "Orang tua kecewa." "..." "Pelatih sedih." "..." "Teman-teman menangis." Kevin tersenyum pahit. "Kadang aku berpikir." "Akan lebih baik kalau semua orang bisa menang." Sunyi. Arka tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya. Ia mendengar seseorang melihat kompetisi dari sudut pandang seperti itu. "Kalau semua orang menang..." Kevin menoleh. "Ya?" "Berarti tidak ada yang menang." Jawaban Arka keluar begitu saja. Kevin tertawa kecil. "Nah, itu dia masalahnya." "?" "Aku tahu kamu benar." Dia melihat ke arah aula pertandingan. "Aku tahu kompetisi itu perlu." "Aku tahu orang berkembang karena ada persaingan." "Aku tahu semua itu." "Lalu?" Kevin menunduk. Kemudian berkata pelan. "Tetap saja aku membencinya." Angin sore berembus melalui jendela koridor. Untuk beberapa saat. Tidak ada yang berbicara. "Aku tidak mengerti." Akhirnya Arka berkata jujur. Kevin tersenyum. "Aku juga tidak berharap kamu mengerti." "Hah?" "Kamu tipe orang yang ingin menang." "Tentu saja." "Kamu ingin jadi yang terbaik." "Iya." Kevin mengangguk. "Lalu aku senang ada orang seperti kamu." Arka berkedip. "Kenapa?" "Karena kalau semua orang sepertiku..." Kevin tertawa kecil. "...dunia kompetisi bakal bubar." Untuk pertama kalinya hari itu. Arka ikut tertawa. Sore hari. Pengumuman hasil seleksi dimulai. Puluhan peserta berdiri di depan layar besar. Tidak ada suara. Tidak ada candaan. Hanya ketegangan. Nama demi nama muncul. Peserta yang lolos. Peserta yang gagal. Arka melihat. Arka Pratama. Lolos. Naila Putri. Lolos. Rian Saputra. Lolos. Kevin Wijaya. Lolos. Mereka berhasil. Namun saat Arka menoleh ke belakang. Ia melihat beberapa peserta lain menundukkan kepala. Ada yang menangis. Ada yang diam membeku. Ada yang langsung pergi. Dan untuk pertama kalinya. Ia sedikit memahami apa yang dimaksud Kevin. Kemenangan seseorang. Kadang dibangun di atas kekecewaan orang lain. Malam itu. Saat semua orang pulang. Arka berdiri sendirian di depan gedung. Langit sudah gelap. Namun kata-kata Kevin masih terngiang di kepalanya. "Aku tahu kompetisi itu perlu.""Tetap saja aku membencinya."Arka tidak setuju. Baginya kompetisi adalah sesuatu yang penting. Tanpa kompetisi. Ia tidak akan sampai sejauh ini. Tanpa kompetisi. Ia tidak akan menjadi lebih kuat. Namun entah kenapa. Untuk pertama kalinya. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri. Dan akhirnya ia mulai memahami mengapa Kevin tidak pernah benar-benar tersenyum setelah sebuah kemenangan. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 5

Di publikasikan 18 Jun 2026 oleh MUFARA`

Orang yang Ingin Menang Hari kedua seleksi. Ruangan terasa lebih hidup dibanding kemarin. Jika hari pertama dipenuhi ketegangan dan rasa gugup... Hari ini berbeda. Semua orang sudah merasakan pertandingan pertama mereka. Tidak ada lagi peserta yang sibuk menyembunyikan kecemasan. Yang tersisa hanyalah pemain-pemain yang ingin menang. Di salah satu sudut ruangan, beberapa peserta sedang membahas pertandingan kemarin. Di sudut lain, ada yang sibuk mempelajari catatan partai mereka. Sementara layar besar di depan ruangan menampilkan klasemen sementara hasil ronde pertama. Arka melihat namanya berada di posisi teratas. Namun perhatiannya segera tertarik pada daftar pertandingan berikutnya. Meja 1. Arka Pratama vs Naila Putri. "Hm." Untuk pertama kalinya sejak seleksi dimulai. Ia merasa sedikit bersemangat. Di sisi lain ruangan. Naila juga sedang melihat daftar yang sama. Mata mereka bertemu. Naila tersenyum tipis. "Jangan mengecewakanku." "Kamu juga." Lima belas menit kemudian. Pertandingan dimulai. Pion putih maju dua langkah. Arka membuka permainan dengan agresif. Naila menjawab dengan tenang. Sepuluh langkah pertama berlalu tanpa kejutan. Dua puluh langkah. Tiga puluh langkah. Posisi mulai rumit. Dan untuk pertama kalinya. Arka merasa ditekan. Bukan karena kalah posisi. Melainkan karena Naila tidak bermain seperti kebanyakan lawannya. Biasanya orang mencari kemenangan. Naila tidak. Dia mencari pemahaman. Setiap langkahnya terasa seperti pertanyaan. "Kalau aku bergerak ke sini, apa yang akan kamu lakukan?" "Kalau posisi berubah seperti ini, apa yang kamu lihat?" Bukan serangan. Bukan jebakan. Melainkan percakapan. Dan Arka membencinya. Karena ia tidak terbiasa dengan itu. Baginya catur adalah medan perang. Bagi Naila... seolah-olah catur adalah bahasa. 15 menit berlalu. Posisi semakin sempit. Tidak ada yang unggul jauh. Naila memindahkan kudanya. Arka langsung mengernyit. Langkah aneh. Tidak menyerang. Tidak bertahan. Seolah hanya memperbaiki posisi. Namun setelah berpikir beberapa menit... Arka menyadari sesuatu. Langkah itu luar biasa. Sangat sederhana. Tapi membuka kemungkinan yang tidak ia lihat sebelumnya. Dadanya berdebar. Ia suka perasaan ini. Perasaan ketika menemukan sesuatu yang baru. Perasaan ketika melihat dunia yang lebih luas. "Masih banyak yang belum aku tahu..." Entah kenapa. Ia teringat kalimat pelatih lamanya. 25 menit kemudian. Pertandingan mencapai akhir permainan. Dan akhirnya... Arka menemukan celah. Kecil. Sangat kecil. Tapi cukup. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Naila terdiam. Untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai. Ia tersenyum. "Luar biasa." Lalu menjulurkan tangannya. "Aku menyerah." Ruangan menjadi sunyi. Pertandingan meja satu selesai. Arka menang. Namun anehnya. Ia tidak merasakan kepuasan seperti biasanya. Karena kemenangan ini tidak terasa seperti mengalahkan seseorang. Melainkan seperti mempelajari sesuatu. Setelah pertandingan. Mereka bertemu di area istirahat. Naila sedang membaca catatan partai mereka. Arka duduk di sampingnya. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Naila bertanya. "Kenapa kamu bermain catur?" Pertanyaan mendadak. Arka berpikir sebentar. "Karena aku ingin menjadi lebih kuat." Naila mengangguk. "Dan setelah itu?" "Hm?" "Setelah kamu menjadi kuat." "..." "Apa tujuanmu?" Arka menatap langit-langit. Kemudian menjawab. "Menjadi yang terbaik." Jawabannya keluar tanpa ragu. Naila tersenyum tipis. "Aku sudah menduga." "Lalu kamu?" Naila menutup buku catatannya. "Aku suka memahami sesuatu." "Apa maksudnya?" "Catur." Dia menunjuk papan analisis di dekat mereka. "Setiap pertandingan mengajarkanku cara berpikir yang berbeda." "Meskipun kalah?" "Meskipun kalah." Arka terdiam. Jawaban itu terdengar aneh. Sangat aneh. Namun entah kenapa. Ia tidak bisa menertawakannya. Karena selama pertandingan tadi... Ia juga merasakan hal yang sama. Sore hari. Seleksi berakhir. Para peserta berjalan keluar dari gedung. Langit mulai berubah jingga. Di depan pintu keluar. Kevin sedang duduk di bangku sambil memakan es krim. "Kalian selesai?" "Iya." "Siapa menang?" "Arka." Kevin mengangguk. Lalu memakan sesendok es krim lagi. "Kasihan." Arka berkedip. "Hah?" "Yang kalah pasti sedih." Sunyi. Naila menatap Kevin. Arka menatap Kevin. Kevin menatap mereka balik. "Apa?" "Kamu memang aneh." "Itu pujian atau hinaan?" "Aku juga tidak tahu." Mereka bertiga tertawa kecil. End... 

Beyond the Board : Book One

Bab 4

Di publikasikan 17 Jun 2026 oleh MUFARA`

Orang yang Tidak Cocok Jadi Pemain Catur "Seleksi berlangsung selama tiga hari." "Setiap peserta akan memainkan lima pertandingan." "Peringkat ditentukan berdasarkan total poin." Begitu kata Coach Aditya... "Babak pertama dimulai dalam lima menit." Suara panitia menggema di seluruh ruangan. Puluhan peserta mulai menuju meja masing-masing. Beberapa terlihat tenang. Beberapa lainnya jelas gugup. Arka melihat daftar pertandingan yang ditempel di papan pengumuman. Meja 7 Arka Pratama vs Kevin Wijaya "Kevin..." Nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. "Semoga aku tidak bikin kamu susah." Arka menoleh. Seorang anak laki-laki dengan senyum lebar berdiri di sampingnya. Rambutnya sedikit berantakan. Ekspresinya terlalu santai untuk ukuran seleksi tim nasional. "Kamu Kevin?" "Yup." Kevin mengulurkan tangan. "Senang bertemu dengan pemain nomor satu nasional." Arka menjabat tangannya. "Duduk saja dulu." "Hah?" "Pertandingannya sebentar lagi." Kevin berkedip. Kemudian tertawa. "Kamu memang tidak suka basa-basi ya." Arka tidak menjawab. Kevin kembali tertawa. "Aku suka orang jujur." Dan entah kenapa... Arka langsung merasa lelah. Lima menit kemudian. Pertandingan dimulai. Jam catur ditekan. Bidak pertama bergerak. Arka memilih pembukaan favoritnya. Kevin merespon dengan tenang. Satu langkah. Dua langkah. Lima langkah. Sepuluh langkah. Lalu Arka mulai menyadari sesuatu. Lawan di depannya kuat. Sangat kuat. Tidak sekuat Naila. Belum. Tapi jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan. Kevin mungkin tidak masuk sepuluh besar nasional. Namun pemahaman posisinya luar biasa. Menit demi menit berlalu. Posisi papan semakin rumit. Kevin terus tersenyum. Sementara Arka mulai berpikir serius. "Kenapa kamu tersenyum terus?" Kevin tertawa kecil. "Hah?" "Kita sedang bertanding." "Iya." "Lalu kenapa terlihat senang?" Kevin memandang papan catur. Karena baginya pertanyaan itu terdengar aneh. "Lah memang aku senang." "..." "Aku suka main catur." Jawaban sederhana. Terlalu sederhana. Namun untuk beberapa alasan... Arka tidak tahu harus menjawab apa. Dua puluh menit kemudian. Kevin mulai terdesak. Bentengnya hilang. Posisinya memburuk. Dan akhirnya... "Checkmate." Kevin menatap papan. Diam beberapa detik. Kemudian menghela napas panjang. "Wah." Arka menunggu. "Mengagumkan." "Hm?" "Kamu benar-benar kuat." Tidak ada kekesalan. Tidak ada frustrasi. Hanya kekaguman tulus. Kevin mengulurkan tangan. "Selamat." Arka menjabatnya. "Terima kasih." Biasanya setelah menang. Lawan akan menunjukkan berbagai ekspresi. Kesal. Kecewa. Sedih. Namun Kevin malah terlihat bahagia. Aneh. Sangat aneh. Saat makan siang. Arka kembali bertemu Kevin. Dan sayangnya... Kevin langsung duduk di sebelahnya. "Yo." "..." "Kamu makan apa?" "..." "Kenapa diam?" "Aku sedang makan." "Oh." Sepuluh detik berlalu. Kevin kembali bicara. "Arka." "Apa?" "Kamu menikmati catur nggak?" Pertanyaan itu membuat Arka berhenti mengunyah. Menikmati? Apa maksudnya? Bukankah tujuan bermain adalah menang? Bukankah tujuan latihan adalah menjadi lebih kuat? Menikmati? Ia tidak pernah memikirkannya. "Aku tidak tahu." Kevin tampak terkejut. "Kamu tidak tahu?" "Aku ingin menjadi pemain terbaik." "Itu bukan jawaban." Arka terdiam. Kevin meminum jusnya. Kemudian tersenyum. "Kalau suatu hari nanti kamu jadi pemain terbaik dunia..." "Hm." "Lalu apa?" "..." "Kamu akan berhenti bermain?" Untuk pertama kalinya. Arka tidak punya jawaban. Sore hari. Hasil sementara seleksi diumumkan. Nama-nama peserta terpampang di layar besar. Arka melihat namanya. Naila juga ada. Rian masih bertahan. Dan sedikit di bawah mereka... Kevin Wijaya. "Syukurlah." Rian menghela napas lega. Naila hanya mengangguk pelan. Sementara Kevin... Kevin malah tersenyum lebar seperti baru memenangkan undian. "Kamu senang sekali." Arka akhirnya mengucapkan apa yang sejak pagi ingin ia tanyakan. Kevin berkedip. "Lah?" "Kamu kalah." "Iya." "Tapi kamu tetap tersenyum." Kevin berpikir sebentar. Lalu menatap papan pengumuman. "Aku cuma senang masih bisa main besok." Arka terdiam. Karena untuk pertama kalinya... ia bertemu seseorang yang memainkan catur bukan untuk menang. Melainkan karena ia benar-benar menyukainya. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 3

Di publikasikan 16 Jun 2026 oleh MUFARA`

Seleksi Satu bulan kemudian. Arka berdiri di depan gerbang sebuah gedung olahraga nasional. Di tangannya terdapat surat pemanggilan seleksi. Di dalam tasnya terdapat papan catur lipat yang sudah menemaninya selama lima tahun. Dan di dalam dadanya... Ada sedikit gugup. Ia tidak suka mengakuinya. Tapi ini berbeda. Turnamen nasional adalah satu hal. Namun tempat ini adalah gerbang menuju tim nasional junior. Tempat berkumpulnya pemain-pemain terbaik dari seluruh negeri. "Jadi orang hebat juga bisa gugup ya." Arka menoleh. Rian berdiri di sampingnya sambil tersenyum. "Kamu ikut juga?" "Tentu saja." Rian mengangkat surat seleksinya. "Aku memang tidak sekuat kamu, tapi aku masih masuk peringkat dua puluh besar." Arka mengangguk. "Bagus." "Hanya 'bagus'?" "Kamu maunya apa?" "Sedikit semangat kek, sedikit." "Semangat." "Terlalu datar." "Kalau begitu jangan lolos." "OI!" Untuk pertama kalinya pagi itu, Arka tersenyum tipis. Mereka masuk ke dalam gedung. Ruangan seleksi sudah dipenuhi peserta. Sekitar lima puluh orang. Mungkin lebih. Ada yang sedang mempelajari notasi pertandingan. Ada yang membuka laptop. Ada yang berlatih pembukaan catur bersama pelatih pribadi. Suasana tegang. Arka memperhatikan sekeliling. Banyak wajah asing. Banyak nama yang pernah ia lihat di peringkat nasional. Namun satu suara tiba-tiba menarik perhatiannya. "Kamu Arka, kan?" Seorang gadis berdiri di depannya. Rambut hitam panjang diikat sederhana. Sorot matanya tajam. Arka mengangguk. "Kamu siapa?" "Aku Naila." Nama itu terdengar familiar. Lalu Arka ingat. Peringkat tiga nasional. Pemain yang terkenal karena gaya bermain defensif yang hampir mustahil ditembus. Naila menyilangkan tangan. "Aku pernah melihat pertandinganmu." "Oh." "Oh saja?" "Mestinya bagaimana?" Naila menghela napas. "Kamu benar-benar sulit diajak bicara ya." "Aku sering dengar itu." Rian yang melihat percakapan mereka langsung mundur beberapa langkah. "Aku tidak ikut campur." "Kamu kenapa?" tanya Arka. "Insting bertahan hidup." "?" Naila mengabaikan mereka. "Aku cuma ingin bilang satu hal." Arka menunggu. Naila menatap lurus ke matanya. "Aku ingin mengalahkanmu." Sunyi. Beberapa peserta di sekitar mereka ikut menoleh. Rian langsung memegang kepalanya. "Ah, mulai deh." Namun yang mengejutkan... Arka tidak tersinggung. Sebaliknya. Ia tersenyum. Tipis. Sangat tipis. Tapi cukup untuk membuat Naila menyadarinya. "Kenapa kamu tersenyum?" "Karena aku juga ingin mengalahkanmu." Untuk pertama kalinya sejak datang ke gedung itu... Arka merasa bersemangat. Bukan karena seleksi. Bukan karena tim nasional. Melainkan karena menemukan seseorang yang menantangnya secara langsung. Saat itulah suara pelatih terdengar dari depan ruangan. "Semua peserta, harap duduk." Ruangan langsung tenang. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di depan. Wajahnya tegas. Tatapannya tajam. Pelatih kepala tim nasional junior. Coach Aditya. "Saya tidak peduli dengan peringkat kalian." Kalimat pertamanya langsung membuat ruangan membeku. "Saya tidak peduli siapa juara nasional." Beberapa peserta saling melirik. "Saya juga tidak peduli siapa yang dianggap jenius." Tatapan Coach Aditya berkeliling ruangan. "Karena catur tim berbeda dengan catur individu." Arka sedikit mengernyit. Catur tim? Coach Aditya melanjutkan. "Sebagian besar dari kalian datang ke sini karena hasil turnamen nasional individu." "Dan itu memang alasan kalian dipanggil." Beberapa peserta mulai memperhatikan lebih serius. "Tapi turnamen individu hanya menunjukkan seberapa kuat kalian sebagai pemain." Pelatih menyilangkan tangan. "Sementara di tingkat yang lebih tinggi, kalian tidak selalu bertanding sendirian." Sebuah slide muncul di layar proyektor. Logo Tim Nasional Junior Indonesia. Di bawahnya tertulis: PROGRAM PEMUSATAN LATIHAN NASIONAL KEJUARAAN NASIONAL ANTAR TIM JUNIOR Ruangan menjadi semakin sunyi. "Kalian dipanggil ke sini untuk membentuk tim nasional junior." "Target pertama kalian adalah Kejuaraan Nasional Antar Tim Junior." "Di sana kalian akan menghadapi tim-tim terbaik dari seluruh Indonesia." "Bukan sebagai individu." "Tapi sebagai satu tim." Beberapa peserta saling berpandangan. Karena untuk pertama kalinya mereka benar-benar memahami tujuan seleksi ini. "Kalian boleh menjadi pemain hebat." "Tapi jika tidak bisa bekerja sebagai tim..." Coach Aditya menatap mereka satu per satu. "...kalian tidak akan bertahan lama di sini." Kalimat itu terus terngiang di kepala Arka. Karena sejujurnya... Ia belum pernah memikirkan catur seperti itu. Selama ini. Papan. Lawan. Dan kemenangan. Hanya itu yang ada dalam pikirannya. Tim? Ia tidak tahu. Namun untuk pertama kalinya... Arka mulai merasa bahwa dunia yang akan ia masuki mungkin jauh berbeda dari yang ia bayangkan. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 2

Di publikasikan 15 Jun 2026 oleh MUFARA`

Talenta Muda Lima tahun kemudian. "Checkmate." Suara jam catur berhenti. Lawan di seberang meja menatap papan dengan wajah tidak percaya. Beberapa detik lalu posisinya masih terlihat seimbang. Namun sekarang rajanya terjebak. Tidak ada jalan keluar. "A-Aku menyerah." Arka mengangguk pelan. Lalu menjabat tangan lawannya. "Pertandingan selesai!" Tepuk tangan terdengar dari beberapa penonton. Tidak terlalu ramai. Tapi cukup untuk membuat lawannya semakin tertunduk. "Juara kategori U-15 tahun ini adalah..." Panitia melihat kertas di tangannya. "...Arka Pratama!" Tepuk tangan kembali terdengar. Kali ini lebih meriah. Namun Arka hanya berdiri dari kursinya. Mengambil tas. Lalu berjalan menuju pintu keluar. "Oi! Tunggu!" Seseorang memanggilnya dari belakang. Arka bahkan tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu siapa itu. Rian. Seorang anak laki-laki dengan rambut sedikit berantakan berlari menghampirinya sambil membawa dua botol minuman. "Kamu nggak mau foto juara dulu?" "Nanti saja." "Nanti saja, nanti saja. Kamu selalu bilang begitu." Arka menerima minuman yang disodorkan. "Terima kasih." Rian mendesah. "Kadang aku heran." "Apa?" "Kamu baru saja juara." "Lalu?" "Lalu kenapa mukamu seperti habis kalah?" Arka terdiam. Karena sebenarnya... Ia memang tidak terlalu memikirkan trofi itu. Yang memenuhi pikirannya justru pertandingan semifinal tadi. Ada satu posisi yang belum bisa ia pecahkan. Satu langkah yang terasa kurang efisien. Satu kesempatan yang terlewat. Rian melihat ekspresi sahabatnya lalu langsung mengerti. "Kamu mikirin pertandingan lagi ya?" "..." "Kamu ini benar-benar aneh." "Kenapa?" "Kebanyakan orang senang karena menang." Rian menunjuk kepala Arka. "Sedangkan kamu malah sibuk memikirkan langkah yang salah." Arka berpikir sejenak. "Mungkin karena aku masih belum cukup kuat." Rian langsung memegang dahinya. "Tuh kan." "Apa?" "Tidak ada obatnya." Untuk pertama kalinya hari itu, Arka tertawa kecil. Mereka berjalan keluar gedung turnamen. Di luar. Langit sore mulai berubah jingga. Beberapa peserta lain sedang berfoto bersama keluarga mereka. Ada yang menang. Ada yang kalah. Ada yang menangis. Ada yang tertawa. Namun perhatian Arka tertarik pada satu papan pengumuman. Daftar peringkat nasional junior. Ia berjalan mendekat. Matanya langsung menemukan namanya. 1. Arka Pratama Tepat di posisi paling atas. Lima tahun lalu, ia bahkan tidak tahu cara bermain dengan benar. Sekarang. Ia adalah pemain junior terbaik di negaranya. Seharusnya ia bangga. Tapi anehnya... Perasaannya biasa saja. Karena begitu melihat peringkat itu. Yang muncul di kepalanya bukan rasa puas. Melainkan pertanyaan: "Lalu setelah ini?" Nasional sudah tercapai. Apa langkah berikutnya? Saat itulah matanya menangkap sebuah poster di samping papan pengumuman. PROGRAM PEMUSATAN LATIHAN NASIONALTIM JUNIOR INDONESIASELEKSI BULAN DEPANArka berhenti membaca. Tim nasional. Level berikutnya. Dunia yang lebih besar. Lawan yang lebih kuat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Rian yang berdiri di sampingnya ikut membaca poster itu. Lalu tersenyum. "Oh." "Apa?" "Matamu." "Hah?" "Kamu lagi bersemangat." Arka mengalihkan pandangan. "Tidak." "Pembohong." Rian tertawa. Karena ia mengenal Arka lebih baik daripada siapa pun. Ekspresi itu selalu muncul setiap kali Arka menemukan tantangan baru. Ekspresi seorang anak yang melihat gunung lebih tinggi untuk didaki. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Arka merasakan sesuatu yang belum ia rasakan sejak kecil. Kegembiraan. Bukan karena menang. Melainkan karena menyadari masih ada tempat untuk menjadi lebih baik. Di kejauhan. Poster tim nasional bergoyang pelan tertiup angin. Dan tanpa Arka sadari. Keputusan yang akan ia ambil bulan depan akan mengubah seluruh hidupnya. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 1

Di publikasikan 14 Jun 2026 oleh MUFARA`

Dunia di Atas Enam Puluh Empat Kotak Satu minggu setelah turnamen. Arka kembali kalah. "Checkmate." Dua hari kemudian. Dia kalah lagi. "Kamu terlalu cepat menyerang." Tiga hari setelahnya. Kalah. "Rajamu terlalu terbuka." Empat hari. Lima hari. Enam hari. Kalah. Kalah. Kalah. "Kenapa sih?!" Arka menjatuhkan bidaknya ke meja. Pelatih sekolah dasar tempatnya berlatih hanya menghela napas. "Kamu marah karena kalah?" "Tentu saja!" "Bagus." Arka berkedip. "Hah?" Pelatih itu mengambil pion putih dan meletakkannya di tengah papan. "Anak-anak yang berhenti berkembang biasanya bukan yang kalah." "Lalu?" "Yang menang terlalu sering." Arka tidak mengerti. Bukankah menang itu tujuan bermain? Pelatih melanjutkan. "Orang yang menang terus merasa dirinya sudah cukup kuat." "Tapi orang yang kalah..." Pria itu mengetuk papan catur. "...selalu dipaksa melihat apa yang belum bisa ia lakukan." Arka menunduk. Ia teringat langkah terakhir di turnamen minggu lalu. Langkah yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Langkah yang masih terus menghantuinya hingga sekarang. "Ayo lagi." Hari itu Arka pulang paling akhir. Seperti biasa. Matahari mulai tenggelam saat ia keluar dari ruang klub. Tas sekolah menggantung di bahunya. Sementara sebuah papan catur lipat berada di tangannya. "Kamu bawa lagi?" Ibunya yang menjemput tertawa kecil. Arka mengangguk. "Memangnya mau dipakai di rumah?" "Iya." "Besok juga latihan." "Iya." "Arka." "Apa?" "Kamu kecanduan ya?" Anak itu berpikir sejenak. Kemudian menjawab dengan sangat serius. "Mungkin." Ibunya tertawa. Sementara Arka kembali melihat papan catur di tangannya. Belakangan ini ada satu hal yang terus mengganggunya. Bukan kekalahan. Bukan trofi. Bukan turnamen. Melainkan pertanyaan sederhana. "Apa lagi yang belum aku tahu?" Semakin banyak ia belajar. Semakin ia sadar betapa luas dunia catur. Ada pembukaan. Ada strategi. Ada pengorbanan bidak. Ada perangkap. Ada akhir permainan. Ada ribuan pola yang bahkan belum pernah ia lihat. Dan setiap kali menemukan sesuatu yang baru... Dadanya selalu berdebar. Seolah-olah ada dunia lain yang menunggunya. Malam itu. Setelah makan malam. Setelah mengerjakan PR. Setelah semua orang tidur. Lampu kamar Arka masih menyala. Di atas meja belajar. Puluhan bidak catur tersusun rapi. Ia sedang mencoba mengulang pertandingan final minggu lalu. Langkah demi langkah. Satu per satu. Putih bergerak. Hitam membalas. Putih menyerang. Hitam bertahan. Sampai akhirnya... Ia menemukan langkah itu lagi. Langkah yang membuatnya kalah. Arka membeku. "Oh..." Untuk pertama kalinya. Ia benar-benar memahami kenapa langkah itu kuat. Bukan karena lawannya beruntung. Bukan karena dirinya ceroboh. Melainkan karena lawannya melihat sesuatu yang tidak bisa ia lihat. Dan entah kenapa... Alih-alih kesal. Arka justru tersenyum. "Hebat..." Kata itu keluar begitu saja. Kemudian ia mengambil buku catatan. Dan menulis sebuah kalimat. Target. Menjadi pemain catur terkuat di Indonesia. Ia menatap tulisan itu. Lama. Lalu menambahkan satu kalimat lagi di bawahnya. Aku akan menjadi lebih baik setiap hari. End...

Beyond the Board : Book One

Prolog

Di publikasikan 13 Jun 2026 oleh MUFARA`

Langkah Pertama Suara bidak catur yang bergesekan dengan papan terdengar memenuhi ruangan. "Skak." Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun membeku di kursinya. Matanya terpaku pada papan di hadapannya. Raja hitamnya tidak memiliki jalan keluar. Benteng lawan mengunci satu sisi. Menteri lawan mengawasi sisi lainnya. Dan pion-pion yang tersisa hanya menjadi penonton atas kekalahannya. Wasit mendekat. "Checkmate." Ruangan yang sebelumnya terasa begitu ramai tiba-tiba menjadi sunyi. Anak itu menundukkan kepala. Tangannya masih menggenggam bidak kuda yang tidak sempat dimainkan. Pertandingan selesai. Dia kalah. "Arka!" Suara ibunya terdengar dari kejauhan. "Sudah selesai?" Arka tidak menjawab. Dia masih menatap papan catur. Bagaimana bisa? Beberapa langkah lalu dia merasa unggul. Bahkan pelatih sekolahnya bilang posisi itu menguntungkan. Tapi sekarang... dia kalah. Lawan di depannya mulai membereskan bidak. Anak laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda. Wajahnya biasa saja. Tidak terlihat seperti monster. Tidak terlihat seperti jenius. Tapi entah bagaimana dia menemukan langkah yang tidak dilihat Arka. "Kamu hebat." Suara lawannya membuat Arka mengangkat kepala. "Aku hampir kalah." Arka mengerutkan kening. Kalimat itu terdengar seperti ejekan. "Hampir kalah tetap saja kalah." Lawan itu hanya tertawa kecil. "Mungkin." Kemudian dia berdiri dan pergi. Meninggalkan Arka sendirian bersama papan catur yang masih dipenuhi bidak. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Arka masih duduk di sana. Kenapa belum pulang?" Seorang pria tua menghampiri meja. Panitia turnamen. Mungkin juga pelatih salah satu peserta. Arka tidak tahu. "Pak..." Pria itu menoleh. "Ya?" Arka menunjuk posisi terakhir di papan. "Langkah apa yang membuatku kalah?" Pria itu tersenyum tipis. Kemudian duduk di kursi lawan. "Kamu benar-benar ingin tahu?" Arka mengangguk. Pria itu memindahkan sebuah menteri. Hanya satu langkah. Satu langkah sederhana. Begitu sederhana hingga membuat Arka terdiam. "Kalau dia memainkan ini..." "Posisimu runtuh." Arka menatap papan. Lalu menatap lagi. Dan lagi. Dadanya terasa sesak. Bukan karena sedih. Bukan karena marah. Melainkan karena kagum. Ada dunia yang belum bisa ia lihat. Ada langkah yang tidak mampu ia bayangkan. Ada pemain yang lebih kuat darinya. Jauh lebih kuat. Pria tua itu berdiri. "Masih banyak yang harus dipelajari." Arka mengepalkan kedua tangannya. Matanya tidak lagi tertuju pada kekalahannya. Melainkan pada kemungkinan yang terbentang di depannya. Jika ada langkah yang tidak bisa ia lihat hari ini... Maka suatu hari nanti ia akan melihatnya. Jika ada pemain yang lebih kuat hari ini... Maka suatu hari nanti ia akan menyusulnya. Untuk pertama kalinya sejak mengenal catur, Arka menyadari sesuatu. Bukan kemenangan yang membuat permainan ini menarik. Melainkan fakta bahwa selalu ada tempat untuk menjadi lebih baik. Ia menatap papan catur untuk terakhir kalinya. Lalu tersenyum. Senyum kecil. Namun penuh tekad. Aku ingin menjadi lebih baik. Aku ingin lebih kuat. Aku ingin melihat dunia yang belum bisa kulihat hari ini. End...

Beyond the Board : Book One

CHAPTER 4

Di publikasikan 12 Jun 2026 oleh _didiable

Hari kedua dari tiga hari yang ia minta. Grace membaca ulang kronologi yang Kevin tulis, rapi, detail, dengan referensi silang ke setiap dokumen pendukung, dan merasakan sesuatu yang menyakitkan. Kevin Anggara menulis kronologi ini seperti orang yang terbiasa membuat laporan yang tidak akan dipertanyakan oleh siapa pun. Gaya penulisan yang sama, ketelitian yang sama, kebiasaan profesional yang sama. Hanya saja kali ini, laporan itu bukan tentang angka perusahaan, melainkan tentang kehancurannya sendiri. Di salah satu halaman Kevin menulis, "Saya tidak pernah memiliki akses otorisasi level 3 untuk transfer internasional. Bukti: lampiran F, email penolakan akses dari IT Security, tertanggal 12 Maret 2024." Grace berhenti membaca. Ia tahu ini benar. Bukan karena ia baru membacanya sekarang, melainkan karena satu tahun yang lalu, ia sudah menemukan fakta yang sama di data yang ia gali sendiri. Email yang sama, tanggal yang sama, bukti yang sama. Kevin Anggara menghabiskan berbulan-bulan menyusun pembelaan yang Grace sudah punya jawabannya. Ada sesuatu yang kejam dalam ironi itu. --- Malam harinya, Dinda datang kerumah Grace tanpa diundang, yang berarti ia memang sedang khawatir. "Gue bawa bakso Pak Kumis!" kata Dinda dari depan pintu rumah, mengangkat kantong plastik merah seperti bendera perdamaian. "Yang pake tulang sumsum. Jangan bilang elo udah makan karena gue tau elo belum." Grace membuka pintu lebih lebar. "Dari mana elo tau?" "Karena elo cuma makan teratur kalau lagi nggak mikirin sesuatu, dan dari suara elo di telepon tadi siang, elo lagi mikirin sesuatu yang berat banget." Mereka duduk di lantai ruang tamu dengan mangkuk bakso di pangkuan dan tisu di antara mereka. "Oke," kata Dinda setelah mangkuknya separuh kosong. "Cerita! Gue tau elo nggak ngajak gue ke sini cuma buat makan bakso. Well, gue yang dateng sendiri sih. Tapi intinya sama." "Gak ada apa-apa Din. Gue cuma lagi mumet aja mikirin kasus yang akan datang." Jawab Grace singkat. "So is it hard, or is it dangerous?" Tanya Dinda polos. "Ya gak sebahaya itu sih. Ini kasus Pratama Group, yang bikin gue resign dulu." Ucap Grace tenang sambil menyeruput kuah bakso lalu menghabiskan sisa baksonya. "Wah..berat tuh." Balas Dinda.  "Yes, dan orangnya kemarin dateng sendiri ke kantor. Menurut elo gue harus ambil?" Dinda menatapnya, benar-benar menatap menatap wajah Grace seperti orang yang sedang membaca buku. "Menurut gue, elo udah tau jawabannya pas dia datang ke kantor elo kemaren." Jawab Dinda singkat. Dinda berdiri, mengumpulkan mangkuk-mangkuk kosong. "Itu bukan sesuatu yang bisa gue jawab buat elo. Tapi gue bisa cuciin mangkok ini buat elo." Grace tertawa, candaan receh yang akhirnya mengendurkan simpul setelah berhari-hari ditarik terlalu kencang. "Thanks ya, Din." "Thanks for what? Gue cuma bawa bakso." "Thanks udah gak bawel." Canda Grace Dinda berhenti di dapur, dan mulai mengoceh sambil mencuci piring. "Grace, elo udah pergi dari tempat itu, dan elo nggak ikut menghancurkan siapa pun. Terus sekarang orang yang elo khawatirkan datang sendiri ke pintu elo, minta tolong. Kalau itu bukan kesempatan buat memperbaiki sesuatu, gue nggak tau apa namanya." Grace terdiam oleh ocehan Dinda yang menancap di dadanya. Dinda benar.   *** Hari ketiga. Grace datang ke kantor jam tujuh pagi. Setelah ia membuat kopinya sendiri, ia langsung membuka laptop untuk mengerjakan kasus Kevin. Di layar, ia membuat folder baru, Kevin Anggara v. Pratama Group. Ia belum menelepon Kevin. Belum mengirimnya pesan. Ia langsung terhanyut meninjau lagi kasus itu. Mira datang pukul delapan lewat tiga puluh menit. "Selamat pagi, Mbak Grace!" Suaranya riang seperti biasa. Grace menahan ucapannya saat melihat wajah serius Grace. Pukul sepuluh lewat tiga menit, ponsel Grace bergetar. Pesan dari nomor Kevin Anggara. Singkat, seperti semua komunikasinya: Kevin Anggara : Selamat pagi, Mbak Grace. Saya harap saya tidak mengganggu. Saya mengerti kalau Mbak butuh waktu lebih dari tiga hari. No Pressure." Grace menatap pesan itu selama empat puluh tujuh detik, ia tahu karena matanya sempat melirik jam di sudut layar laptop, terhitung sejak ia membaca kata pertama sampai jarinya mulai mengetik balasan. Empat puluh tujuh detik. Waktu yang cukup untuk menimbang satu keputusan yang akan mengubah semuanya,  Grace Jasmine : Selamat pagi, Pak Kevin. Bisakah kita bertemu hari ini, pukul 2 siang di kantor saya? Ada beberapa hal yang perlu saya bahas. Balasan datang dalam dua menit: Kevin Anggara : Baik, saya akan datang. Terima kasih, Mbak Grace. Grace meletakkan ponselnya, menatap papan nama kecil yang berdiri di sudut meja, Grace Jasmine, SH.,MH, dan nama firma yang tercetak di bawahnya: Grace Jasmine Law firm. Satu tahun lalu, ia pergi dari Arman Sudibjo & Partners karena tidak ingin menghancurkan seseorang yang tidak bersalah. Sekarang, ia akan menjadi orang yang membelanya. Kali ini, pikir Grace, ia tidak pergi. --- Di luar jendela, jalanan Jakarta terlihat sangat sibuk, seperti tidak peduli pada setiap keputusan kecil yang dibuat oleh orang-orang yang mencoba melakukan hal yang benar meskipun mereka tidak yakin apa artinya. Grace mengambil sticky notes pinknya dan menuliskan sebuah kalimat. 'Tell him' Grace merasa harus menceritakan pada Pak Kevin semuanya sebelum ia mendengar dari orang lain. Belum tau kapan. Belum tau bagaimana. Tapi harus. ---

Graces's Cases

CHAPTER 3

Di publikasikan 10 Jun 2026 oleh _didiable

Satu minggu berlalu sejak sidang kasus Anita, dan firma kecil itu mulai terasa hidup. Grace datang lebih awal dari siapa pun, yang mana bukan pencapaian istimewa, sebab "siapa pun" dalam hal ini hanyalah dua orang lain, Mira, resepsionis baru yang melamar setelah melihat lowongan ditempel di papan pengumuman minimarket seberang jalan, dan Bowo, petugas kebersihan yang menjadi office boy, datang atas rekomendasi bapak tukang fotokopi di lantai bawah. Tim kecilnya, jika kata itu bisa digunakan untuk menggambarkan tiga orang yang masih saling menghafalkan kebiasaan masing-masing, yang baru ada selama beberapa hari. Mira berusia dua puluh lima tahun, ceria dengan cara yang hampir tidak masuk akal, ia bisa mengomentari cuaca, filosofi hidup, dan harga cabai dalam satu tarikan napas tanpa kehilangan senyumnya. Grace belum sepenuhnya terbiasa dengan energi semacam itu di pagi hari, tetapi ia menyadari bahwa setiap kali Mira menyapanya dengan kalimat pembuka yang terlalu panjang, ruangan firma yang masih berbau cat itu terasa sedikit lebih berpenghuni. Bowo, sebaliknya, adalah jenis tenang yang membuat orang bertanya-tanya apakah ia pendiam atau sekadar sangat efisien. Ia mengerti kapan harus mengisi galon, kapan harus menghilang agar tidak mengganggu percakapan, dan kapan harus muncul kembali dengan secangkir kopi yang selalu pas manisnya, dan bakat terakhir inilah yang membuat Grace diam-diam mensyukuri keberadaannya lebih dari yang ia akui. Pagi itu, Grace duduk di meja kerjanya dengan laptop terbuka dan layar yang menampilkan spreadsheet keuangan kantornya. Angka-angka yang belum mengkhawatirkan tetapi juga belum menggembirakan. Honor dari kasus Anita cukup untuk menutup sewa dua bulan ke depan, dan meskipun itu jauh dari aman, ia tahu bahwa firma ini tidak dibangun untuk menghasilkan uang dengan cepat. Ia membangunnya untuk alasan lain. "Mbak Grace, kopinya mau sekarang atau nanti?" Bowo berdiri di ambang pantri kecil dengan ekspresi serius yang agak berlebihan untuk sebuah pertanyaan tentang kopi. "Sekarang aja, Wo." "Gulanya setengah?" "Iyes, jangan banyak-banyak ya!" "Oke. Tapi hari ini saya coba tambahin jahe sedikit ya Mbak. Katanya bagus buat fokus." Grace mengangkat alis, tetapi tidak menolak. Bowo mengangguk puas dan menghilang kembali ke pantri. Mira muncul dari pintu depan tiga menit kemudian, tas selempangnya melintang, rambut setengah basah, tanda bahwa ia lari-lari dari halte busway dan langsung menyapa dengan volume yang tidak proporsional untuk ruangan seluas empat kali empat meter. "Pagi, Mbak Grace! Hari ini cerah banget lho, padahal tadi malam hujan, Mira kira bakal banjir soalnya selokan depan kos Mira tuh suka meluap kalau hujannya lebih dari.." "Pagi, Mir." "...setengah jam. Eh iya, pagi!" Mira nyengir lebar sambil meletakkan tasnya. "Ada jadwal ketemu hari ini, Mbak?" Grace menggeleng. "Belum. Tapi coba cek email, barangkali ada yang masuk." Mira mengangguk sebari duduk di mejanya, membuka laptop, dan untuk beberapa saat firma itu kembali tenggelam dalam suara ketikan dan dengung AC kecil yang sesekali berderit. Grace menyeruput kopi jahe buatan Bowo yang ternyata memang enak, meski ia tidak akan mengatakannya secara langsung agar Bowo tidak semakin bereksperimen dan membiarkan pikirannya mengembara. Kemenangan di kasus Anita memberinya sesuatu yang sulit ia jelaskan, bukan kebanggaan, melainkan semacam konfirmasi bahwa apa yang ia lakukan punya makna.  Pikirannya tiba-tiba teringat  anggukan dari pria di kursi belakang ruang sidang. Pria berpakaian rapi, tenang.  Ia telah mencoba melupakannya tapi semakin keras usahanya, semakin jelas kehadirannya. "Mbak Grace?" Grace mengerjap. Mira menatapnya dari balik layar laptop. "Ada tamu, Mbak." "Tamu?" Grace mengernyit. Firma ini belum beriklan di mana pun selain satu postingan media sosial yang hanya di like oleh Dinda, Anita, dan Ibunya Mira. Tamu dadakan, di pagi hari, tanpa janji, itu bisa berarti apa saja, tetapi pengalaman mengajarkannya bahwa biasanya itu berarti seseorang yang sudah kehabisan pilihan lain. Mira bangkit, merapikan rambutnya yang masih setengah berantakan, dan berjalan ke pintu kaca dengan langkah yang berusaha terlihat profesional, sebuah usaha yang sedikit terganggu ketika ia tersandung kabel charger laptopnya sendiri. Pintu terbuka. Dan di baliknya berdiri seorang pria yang baru saja terlintas dipikirannya. Ia tinggi, lebih tinggi dari yang Grace ingat di ruang sidang itu. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang memperjelas wajah cindo-nya yang tampan. Jas biru gelap yang dipasangkan dengan kemeja putih tanpa dasi, membuatnya tampak casual tapi elegan. Wajahnya? Grace tidak bisa menyangkalnya, memiliki ketenangan yang langka, semacam kedamaian yang biasanya hanya dimiliki orang-orang yang sudah melewati banyak hal dan memilih untuk tidak membiarkan semuanya terlihat. Ia berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Matanya coklat dan jernih, dan ketika ia melangkah masuk, tatapannya langsung menemukan Grace dengan presisi yang membuat Grace merasa ia bukan sedang mencari sesuatu, melainkan telah menemukan apa yang ia cari sejak lama. "Selamat pagi," katanya. Suaranya tenang, dan sopan. "Saya ingin bertemu dengan Mbak Grace Jasmine." "Saya Grace," jawab Grace, berdiri dari kursinya, dan mempersilahkan ia duduk di sofa  panjang "Silakan duduk." Pria itu mengangguk, anggukan yang sama. Ia duduk di sofa tamu yang masih baru, dan Mira yang entah bagaimana sudah pulih dari tersandung kabel, muncul dengan segelas air mineral yang diletakkan dengan hati-hati sebelum mundur ke mejanya, meski matanya sesekali melirik ke arah tamu itu dengan penasaran yang tidak terlalu ia sembunyikan. "Nama saya Kevin Anggara," kata pria itu. Grace terkejut, dan berusaha menutupinya. Bukan karena ia tidak mengharapkan nama itu. Tetapi karena ia telah berharap, berharap dengan putus asa, selama lebih dari setahun untuk tidak pernah mendengarnya lagi. Kevin Anggara. Nama yang nyaris ia bantu tenggelamkan. Grace berusaha tetap tenang, ia telah belajar, selama lima tahun di kantor hukum yang penuh permainan politik, untuk tidak membiarkan keterkejutan terlihat dari luar.  "Saya datang karena saya butuh pengacara," lanjut Kevin to the point tanpa permohonan, hanya pernyataan fakta yang membuat Grace semakin sulit bernapas. "Saya harap Mbak Grace bisa bantu kasus saya." Grace membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Pertanyaan pertama yang seharusnya ia ajukan 'untuk kasus apa?' sudah ia tahu jawabannya sebelum kata itu keluar. "Kasus Pratama Group," kata Kevin, seolah membaca pikirannya. Grace mengangguk pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Kevin. "Boleh tolong di ceritakan?" tanya Grace. Kevin menarik napas, ketenangan di wajahnya berubah sedikit.  "Saya bekerja di Pratama Group selama tujuh tahun di bagian  keuangan." Ia berhenti sejenak, seakan menimbang setiap kata. "Setahun lalu, manajemen meminta saya menandatangani laporan audit yang isinya tidak sesuai dengan temuan saya di lapangan. Saya menolak. Dua bulan kemudian, saya diberhentikan. Tiga bulan setelah itu, saya didakwa melakukan penggelapan dana perusahaan senilai dua belas miliar rupiah." Grace menyimak kembali kasus yang pernah ia pelajari dulu. "Mereka menyusun narasi bahwa saya memanipulasi data keuangan untuk keuntungan pribadi," lanjut Kevin. Suaranya rendah dan berat bukan karena kesal, melainkan kelelahan yang sudah terlalu lama dibawa. "Kenapa Pak Kevin memilih saya?" tanya Grace akhirnya. Kevin menatapnya, dan di dalam tatapan itu ada sesuatu yang membuat Grace harus menahan diri untuk tidak memalingkan wajah. "Saya ada di persidangan Mbak Grace minggu lalu," katanya.  "Saya tahu," jawab Grace, sebelum sempat menahan dirinya. "Saya melihat Bapak." Alis Kevin terangkat sedikit, terkejut, mungkin karena ia mengira kehadirannya tidak diperhatikan. "Saya sudah menemui empat pengacara sebelum ini," lanjut Kevin. "Dua menolak karena kasusnya melibatkan Pratama Group. Satu menerima tapi minta biaya yang tidak masuk akal. Satu lagi…" Ia tersenyum tipis, dan senyum itu menyimpan kepahitan yang tertahan. "Menyarankan saya untuk mengaku bersalah dan bernegosiasi" Keheningan mengisi ruangan. "Lalu saya melihat Mbak Grace di pengadilan itu," kata Kevin. "Mbak berdiri sendirian. Firma kecil, tanpa nama besar di belakang. Tapi Mbak tidak gentar. Mbak berhasil membela seseorang bukan karena trik, bukan karena koneksi, tapi karena kebenaran." Ia berhenti. "Saya butuh pengacara yang seperti itu." Grace merasakan sesuatu yang menyesakkan di dadanya, bukan karena pujian Kevin, melainkan karena ironi yang begitu tajam sampai rasanya bisa memotong. Pria ini datang kepadanya karena ia melihat seorang pengacara yang berani membela kebenaran. Pria ini tidak tahu, tidak mungkin tahu bahwa pengacara yang sama pernah duduk di meja kerja, membaca namanya di dalam berkas, dan nyaris menjadi bagian dari sistem yang menghancurkannya. "Pak Kevin," kata Grace, dan suaranya tetap terkendali meski setiap suku katanya terasa lebih berat dari biasanya. "Saya perlu jujur dengan Anda." Kevin menunggu. Grace menelan ludah. Ada bagian dirinya yang ingin mengatakan semuanya 'saya dulu bekerja di kantor hukum yang menangani kasus Pratama Group, saya pernah membaca berkas yang dirancang untuk menghancurkan Anda, saya tahu bahwa Anda tidak bersalah bukan karena saya mempercayai Anda sekarang tetapi karena saya pernah melihat buktinya dari sisi yang berlawanan'. Tetapi kalimat-kalimat itu terlalu banyak untuk satu tarikan napas, dan sebagian dari dirinya tahu bahwa kejujuran penuh di detik ini bisa menghancurkan kepercayaan yang baru saja Kevin letakkan di hadapannya. "Kasus ini tidak sederhana," katanya akhirnya, memilih jalur yang lebih sempit tetapi masih jujur. "Pratama Group punya sumber daya yang besar. Tim hukum mereka salah satu yang paling kuat di kota ini. Kalau saya menerima kasus Anda, ini bukan hanya soal membela Anda di pengadilan. Ini soal melawan sebuah sistem yang sudah dirancang untuk menang." "Saya tahu," jawab Kevin tenang. "Dan firma saya…" Grace menunjuk sekeliling ruangan dengan gerakan kecil. "Ini bukan kantor hukum besar. Saya hampir tidak punya tim. Sumber daya saya terbatas." "Saya juga tahu itu." "Lalu kenapa tetap datang ke sini?" Kevin diam sejenak. Lalu ia menjawab dengan satu kalimat yang membuat Grace merasa seluruh udara di ruangan itu menipis. "Karena keempat pengacara sebelum Mbak Grace, melihat kasus ini sebagai risiko." Ia menatap Grace tepat di mata. "Mbak adalah orang pertama yang saya yakin akan melihatnya sebagai ketidakadilan." Ruangan itu diam. Bowo berdiri membeku di ambang pantri dengan cangkir kopi jahe di tangan, tidak berani masuk. Mira berhenti mengetik, jari-jarinya menggantung di atas keyboard. AC berderit pelan, seolah ikut menahan napas. Grace menatap Kevin Anggara, pria yang namanya pernah ia baca sebagai target, pria yang kini duduk di depannya sebagai klien, pria yang memilih datang kepadanya karena alasan yang paling sederhana dan paling berat sekaligus, kepercayaan. Entah kenapa hati Grace berkata bahwa menolak pria ini adalah hal yang tidak bisa ia lakukan. Bukan karena rasa bersalah, meskipun rasa bersalah itu ada. Bukan karena ketampanannya, ketenangannya. Tetapi karena inilah persisnya alasan ia meninggalkan segalanya. Inilah ujian yang sesungguhnya. "Boleh saya diberi waktu beberapa hari dulu Pak?," tanya Grace akhirnya. Kevin mengangguk. Wajahnya tidak terlihat kecewa. "Berapa lama?" "Tiga hari. Saya perlu mempelajari kasusnya lebih dalam sebelum memutuskan." "Tiga hari," ulang Kevin, seakan menyimpan angka itu di tempat yang aman. "Baik, ini seluruh laporan keuangan dan log kerja saya selama bekerja disana." kata Kevin meberikan flashdisc hitam kecil. Terima kasih banyak atas waktunya Mbak.  Grace meraih flashdisc itu ragu. "Saya akan mengabari Bapak secepatnya." Kevin mengangguk sekali lagi, dan berjalan meninggalkan Grace. Grace mulai bertanya-tanya apakah anggukan itu memang kebiasaannya atau itu adalah caranya menyimpan hal-hal yang tidak bisa diucapkan.  Pintu kaca menutup pelan. Langkah Kevin terdengar menjauh di lorong, kehadirannya  meninggalkan jejak yang tidak bisa disapu oleh siapa pun, termasuk Bowo yang kini akhirnya berani masuk dengan kopi jahe yang sudah setengah dingin. "Mbak Grace," kata Mira pelan, matanya masih menatap pintu kaca. "Dia… siapa?" "Calon klien," jawab Grace singkat. Mira membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu yang jelas bukan tentang status klien, lalu menutupnya lagi ketika menangkap ekspresi Grace. "Oke," katanya bijak, lalu kembali ke laptopnya. Grace duduk kembali di kursinya. Spreadsheet keuangan masih terbuka di layar, angka-angkanya masih sama, tetapi semuanya terasa tidak penting. Ia menutup laptop, menyilangkan tangan di depan dada, dan menatap lurus ke papan nama 'Gracia Jasmine Law Firm'. Huruf-huruf yang seminggu lalu membuatnya tersenyum bangga, tetapi hari ini membuat dadanya terasa berat oleh tanggung jawab baru. Kevin Anggara. Nama itu berputar kembali di kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti. Ia meraih ponselnya dan mengetik pesan. Grace: "Din, bisa ketemu sore ini? gue mau cerita." Dinda: "Serius apa ringan?" Grace: "Serius." Dinda: "Oke. BlackKafe jam 4. Gue yang traktir." Grace meletakkan ponsel, menarik napas panjang, lalu memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, dua gambar saling bergantian, wajah Kevin yang tenang dan penuh harap, dan wajahnya sendiri dari setahun lalu, duduk di bawah cahaya laptop, membaca nama yang sama dengan tangan yang gemetar dan hati yang ingin lari. Ia lari waktu itu. Ia memilih pergi. Tapi sekarang orang yang dulu ia tinggalkan dalam berkas, kini datang sendiri ke pintunya, dengan luka yang sama, meminta pertolongan yang benar-benar nyata. Grace sadar, bahwa pergi dari sebuah ketidakadilan bukan berarti ia telah melawannya, bahwa selama ini kepergiannya sebagai bukti bahwa ia berada di pihak yang benar, padahal yang sebenarnya ia lakukan hanyalah menyelamatkan dirinya sendiri. Kevin tidak terselamatkan waktu itu. Dan sekarang Kevin ada di sini. Grace membuka matanya. "Bowo," panggilnya. "Ya, Mbak?" "Kopinya enak." Bowo tersenyum lebar, senyum pertama yang Grace lihat darinya selama empat hari. "Besok saya tambahin sereh, Mbak." Grace mengangguk tanpa benar-benar mendengar, karena kepalanya sudah berada di tempat lain, di sebuah ruang sidang yang belum terjadi, menghadapi wajah-wajah yang pernah ia kenal, membela pria yang seharusnya ia bela sejak awal. Di meja kerjanya, di bawah tumpukan dokumen kasus Anita yang sudah selesai, tersimpan selembar kertas notes pink yang ia tulis di malam pertama setelah resign. Ia menariknya pelan, membaca tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring: Nama firma. Struktur. Perizinan. Lokasi. Grace mengambil pulpen, dan menambahkan tulisan dibawahnya, Kevin Anggara. Lalu ia menatap nama itu lama, terlalu lama, sebelum akhirnya menutup notes itu dan menyimpannya kembali di bawah tumpukan dokumen, tepat di tempat yang sama, seolah nama itu belum siap untuk dilihat oleh dunia. Grace tahu bahwa tiga hari yang ia minta bukanlah untuk memutuskan. Keputusan itu sudah jatuh sejak detik pertama Kevin menyebutkan namanya. Tiga hari itu adalah untuk mempersiapkan dirinya menghadapi semua yang akan datang setelahnya.

Graces's Cases

Waktu, induk kenikmatan dunia

Di publikasikan 09 Jun 2026 oleh Bangun

Ketika kita melihat dalil dalil tentang penghuni neraka, mereka meminta untuk di kembalikan di dunia, agar mereka diberikan waktu agar bisa beramal shaleh. وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَـٰلِحًا غَيْرَ ٱلَّذِى كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا۟ فَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ  Dan mereka berteriak di dalam neraka, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu." (Dikatakan kepada mereka), "Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun." (QS Al Fatir ayat 37) Selama ini mereka melalaikan waktu. Waktu yang seharusnya bisa mereka lakukan untuk mengingat Allah, mereka lakukan untuk mengingat angan-angan duniawi. Waktu yang seharusnya bisa mereka pakai untuk dzikir setelah shalat, mereka gunakan untuk buka hp. Waktu yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk mengunjungi orang tua, mereka gunakan untuk sibuk mengurusi bisnisnya, pekerjaannya. Waktu yang seharusnya bisa mereka lakukan untuk bersedekah, mereka simpan hartanya. Waktu yang seharusnya bisa mereka lakukan untuk berdoa, mereka gunakan untuk ngobrol. Mereka (penghuni neraka) meminta dikembalikan di dunia itu bukan karena dunia itu indah, tetapi mereka ingin lari dari siksaan. Tetapi tidak ada jalan kembali bagi mereka yang menyekutukan Allah, bagi mereka yang tidak beriman kepada Allah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa men-tauhidkan Allah, dijauhi dari perbuatan syirik, dan semoga Allah senantiasa memberikan kita ingatan akan dahsyatnya siksaan di neraka seperti halnya ayat diatas sehingga kita dapat terus bersemangat untuk beribadah kepada Allah dan semoga Allah memasukkan kita kedalam surga Firdaus tanpa hisab. Allahuma Aminn

Renungan

Tenang dengan memahami hakekat dunia dan takdir

Di publikasikan 08 Jun 2026 oleh Bangun

Hakekat DuniaAllah mendesain dunia ini bukan sebagai tempat istirahat, Allah membuat dunia ini sebagai tempat ujian bagi hamba-hambaNya, Allah ingin tau siapa diantara hamba-hambaNya yang lulus dalam ujian tersebut dan akan diberikan ganjaran yang indah setelah di dunia Allah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ  Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah ayat 155) ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (QS Al Mulk ayat 2) أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji? (QS Al Ankabut ayat 2) Hakekat TakdirBetapa sering kita merasa kecewa jika sesuatu yang menimpa kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan? Padahal segala sesuatu yang menimpa kita itu Allah yang pilih, dan kita tau Allah memiliki sifat Al Adl (yang maha adil), Allah memiliki sifat Al Alimm (yang maha mengetahui). Jadi segala sesuatu yang menimpa kita ini bukan karena manusia lain, melainkan karena Allah sudah tetapkan. Dan kembali lagi, segala ketetapan Allah, segala takdir Allah pasti yang terbaik. Allah berfirman:  . . . وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS Al Baqarah 216) --- Dengan merenungkan 2 hakekat diatas, kita menjalani hidup dengan lebih ringan, insya Allah. Jika ada musibah, mbatin "Namanya juga dunia, ini tempat ujian, tinggal kita sabar, ikhtiar, dan minta pertolongan Allah"Jika tidak sesuai keinginan, mbatin "Pasti ada sesuatu yang Allah siapkan dibalik kejadian ini"Jika kita marah tidak terima atas kejadian yang menimpa kita, mbatin "Jangan sok tau! Kita tu siapa? baca lagi ayat Al Baqarah 216"وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

Renungan

CHAPTER 2

Di publikasikan 05 Jun 2026 oleh _didiable

Pagi itu terasa berbeda, bukan karena cuaca, bukan pula karena rutinitas, melainkan karena untuk pertama kali dalam hidupnya Grace melangkah menuju sesuatu yang sepenuhnya miliknya sendiri. Ia berhenti beberapa detik di depan pintu kaca kecil yang masih bening, menatap papan nama sederhana yang terpasang di atasnya 'Gracia Jasmine Law Firm'. Tulisan itu tidak besar, tidak mencolok, bahkan mungkin akan terlewat oleh orang yang berjalan terburu-buru di koridor gedung ini. Tangannya terangkat menyentuh gagang pintu yang masih terasa dingin, ia menarik napas pelan, lalu mendorongnya hingga terdengar bunyi klik halus yang anehnya terasa seperti penanda dimulainya sesuatu yang besar. Ruangan persegi itu menyambutnya dengan bau cat baru dan kayu yang belum sepenuhnya kering, sementara sinar matahari pagi menyelinap dari jendela di ujung kanan ruangan dan jatuh tepat di atas meja kerja utama, meja yang ia pilih sendiri dengan pertimbangan yang terlalu detail untuk sesuatu yang begitu sederhana. Grace berjalan masuk, sepatunya beradu pelan dengan lantai dan menciptakan gema kecil di ruangan yang masih lengang, dan ketika ia berhenti di tengah ruangan untuk menatap sekeliling, tanpa sadar ia tersenyum. "Gue benar-benar melakukan ini," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. Ia menarik kursi dan duduk, membiarkan dirinya merasakan keheningan yang tidak lagi menekan seperti di kantor lama. Tidak ada dengung printer, tidak ada panggilan rapat, tidak ada tekanan dari atasan yang menatapnya seakan idealisme adalah sebuah kekurangan. Hanya ada dirinya dan pilihan-pilihan yang kini sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya sendiri. Tetapi kehangatan itu tidak bertahan lama, sebab di balik setiap langkah besar selalu menunggu pertanyaan yang jauh lebih sulit, dan pertanyaan itu kini menatapnya balik dari layar laptop yang menyala kosong.. 'selanjutnya apa?' Ia menyandarkan punggung, melipat tangan di depan dada, dan menyadari bahwa sebuah kantor tanpa klien hanyalah ruangan indah dengan nama yang cantik. It doesnt pays the bill! Hari-hari pertama berjalan seperti itu, diisi rancangan strategi yang ia tulis dan hapus berulang kali, daftar relasi lama yang ragu-ragu ingin ia hubungi, dan keheningan panjang yang membuatnya bertanya-tanya apakah ia telah melompat terlalu jauh tanpa jaring. Tapi grace berusaha kembali tetap fokus membuat firma hukum miliknya ini harus  berhasil. *** Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan Grace baru saja sampai di depan rumahnya ketika suara itu kembali terdengar lebih keras, lebih lantang daripada malam-malam sebelumnya. "Diam kamu!" Suara seorang laki-laki, disusul bunyi benda yang dibanting hingga pecah, lalu tangisan yang tidak lagi berusaha disembunyikan. Kali ini berbeda, sebab bukan hanya Grace yang mendengarnya; beberapa pintu rumah di sepanjang gang itu terbuka satu per satu, dan para tetangga mulai keluar dengan wajah yang menyimpan campuran cemas dan ragu. Seorang ibu di seberang berdiri sambil menutup mulutnya, seorang bapak menggumamkan niat menelepon ketua RT, dan bisik-bisik mulai merambat di antara mereka seperti percikan yang menunggu menjadi api. "Saya sering lihat istrinya lebam," kata seseorang pelan. "Kemarin di tukang sayur juga, mukanya ditutup-tutupin," sambung yang lain. Grace berdiri diam di antara mereka, menatap rumah di sebelah yang lampunya menyala terang namun menyimpan kegelapan yang jauh lebih pekat daripada malam di luar, dan untuk kesekian kalinya kalimat lama yang selalu ia pakai untuk melindungi diri, 'bukan urusanku' terdengar kembali dikepalanya. Ia teringat dirinya sendiri beberapa minggu lalu, berdiri di ruangan Pak Arman dan menolak menenggelamkan seorang manusia demi memenangkan perkara dan ia menyadari betapa munafiknya bila ia berani melawan ketidakadilan di kantor lamanya, tetapi memilih tuli terhadap ketidakadilan yang berjarak lebih dekat dari rumahnya. Ketua RT akhirnya datang, kerumunan semakin rapat, dan di tengah situasi itu seorang ibu yang usianya kira-kira sebaya dengannya menoleh dan menatapnya dengan mata yang penuh harap. "Mbak Grace," katanya ragu, "Mbak kan pengacara. Memang nggak bisa bantu?" Pertanyaan sederhana itu entah kenapa menghantam tepat di tempat yang paling dalam, tempat di mana Grace menyimpan seluruh alasan mengapa ia rela melepaskan karier yang aman demi sebuah ruangan kecil idaman yang masih berbau cat baru. Ia terdiam beberapa saat, merasakan beratnya tatapan orang-orang yang menunggu, lalu perlahan mengangguk. "Bisa." Jawab Grace mantap. Dan pada detik itu juga ia tahu bahwa firma kecilnya baru saja menemukan kasus pertamanya, bukan dari relasi atau iklan, melainkan dari hati nuraninya sendiri yang menolak untuk diam lebih lama. *** Keesokan paginya Grace berdiri di depan rumah itu, menarik napas, lalu mengetuk pintu yang sebentar kemudian terbuka setengah. Seorang pria tinggi berbadang kekar menjulang di ambang pintu, sorot matanya tajam dan penuh kecurigaan, dan dari dalam rumah menyelinap keluar bau rokok bercampur sesuatu yang pahit. "Ada apa?" tanyanya dingin begitu melihat Grace. Grace tidak langsung menjawab, ia menahan tatapan pria itu dengan tenang, tidak menantang tetapi juga tidak mundur. "Saya ingin bicara dengan istri Bapak," katanya akhirnya. Rahang pria itu mengeras. "Dia lagi nggak bisa diganggu." Dari balik bahu pria itu, Grace menangkap sekilas sosok seorang perempuan yang berdiri setengah tersembunyi di balik dinding, wajahnya pucat, ada warna keunguan samar di pipi kirinya yang berusaha ditutup bedak. Mata mereka bertemu sekejap sebelum perempuan itu buru-buru menunduk, dan Grace mengenali jenis ketakutan itu, bukan sekadar takut dimarahi, melainkan ketakutan yang lain. "Saya hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," lanjut Grace dengan suara yang dijaga tetap rata, "karena beberapa kali terdengar suara ribut dari rumah Bapak." Pria itu tertawa pendek, tawa tanpa kehangatan. "Dia baik-baik saja. Kamu nggak perlu ikut campur." "Kalau memang begitu," kata Grace tenang, "biarkan dia yang bilang sendiri." Keheningan menggantung di antara mereka seperti kabel yang nyaris putus, sampai pria itu setengah berbalik dan berkata pada istrinya dengan suara berbisik yang masih bisa terdengar, menyuruh sang istri mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Perempuan itu melangkah maju dengan gerakan yang seakan memikul beban yang tak terlihat, dan tanpa berani menatap Grace ia berbisik, "Saya… baik-baik saja." Grace menatapnya lama, mengangguk pelan, lalu berkata bahwa ia akan kembali lagi nanti, dan ketika ia melangkah pergi sementara pintu ditutup kasar di belakangnya, Grace tahu, perempuan itu baru saja berbohong, bukan untuk melindungi suaminya, melainkan untuk bertahan hidup. ** Hari itu Grace tidak kembali ke kantor, melainkan duduk lama di sebuah warung kecil di ujung jalan komplek rumahnya, dengan segelas es kopi yang batu esnya perlahan mencair, sementara di kepalanya mulai menyusun segala kemungkinan yang terjadi di rumah tetangganya itu. Kekerasan, ia tahu betul dari pengalaman bertahun-tahun membaca berkas perkara, KDRT selalu punya ritme, punya waktu, punya siklus yang berulang, dan justru pada keberulangan itulah letak kelemahannya sebagai sebuah perbuatan yang bisa dibuktikan. Di layar ponselnya ia mulai mengetik daftar yang akan menjadi tulang punggung perkaranya: kesaksian tetangga, rekaman suara, dokumentasi luka, riwayat medis, dan pola kejadian, dan ketika matanya berhenti di kata terakhir, ia menatap ke arah rumah itu dan berbisik pada dirinya sendiri bahwa jika perempuan itu belum mampu bersuara, maka ialah yang harus membuat dunia mendengarnya. Malam-malam berikutnya, lampu ruang tamu Grace sengaja dibiarkan padam, dan ia duduk di dekat jendela dengan tubuh setengah tersembunyi di balik tirai tipis, ponselnya dalam mode perekam, menunggu dengan kesabaran karena satu bukti yang sah lebih berharga daripada seratus kemarahan. Suara itu datang pada malam pertama sekitar pukul sembilan lewat, tidak terlalu keras tetapi cukup jelas, nada tinggi yang patah-patah, disusul bunyi benturan. Lalu datang lagi pada malam kedua, dan malam ketiga, dan meskipun hasil rekaman itu jauh dan tidak sepenuhnya jernih, pada setiap potongannya tersimpan pola yang sama persis. Nada marah, suara benturan, dan tangisan yang berusaha ditahan. Di siang hari, di dalam kantornya yang sunyi, Grace memutar ulang rekaman-rekaman itu satu per satu, mencatat waktu, frekuensi, dan durasinya, menyadari bahwa ia tidak sekadar mengumpulkan suara, melainkan sedang menyusun sebuah cerita yang tidak akan bisa disangkal. Di hari yang lain, Grace mendekati ibu-ibu yang biasa berkumpul di tukang sayur pada pagi hari, menyatu dalam obrolan ringan sebelum akhirnya bertanya pelan tentang rumah sebelah. Obrolan itu sempat berhenti, beberapa orang saling pandang dengan ragu, sampai satu suara muncul nyaris berbisik. "Kamu juga dengar, ya?", dan dari sanalah cerita mengalir seperti air yang menemukan celah, tentang teriakan yang hampir setiap malam, tentang wajah lebam yang terlihat sekilas, tentang alasan-alasan yang selalu sama. Jatuh, terpeleset, terbentur pintu. "Kalau sesekali sih mungkin," kata seorang ibu, "tapi ini berulang," Grace mengingat dan mencatat semuanya, nama, tanggal, setiap detail kecil yang kelak bisa menjadi potongan bukti, sambil menyadari bahwa masih ada satu hal tersulit yang belum ia miliki, yaitu pengakuan dari korban itu sendiri. -- Grace kembali ke rumah itu, kali ini dengan perhitungan yang cermat, menunggu sampai mobil pria itu keluar meninggalkan rumahnya sebelum ia mendekat dan mengetuk pelan, dan ketika pintu terbuka, perempuan itu muncul dengan wajah yang lebih pucat daripada sebelumnya. "Boleh saya masuk?" tanya Grace lembut, dan setelah keraguan yang panjang, pintu itu akhirnya terbuka lebih lebar. Di dalam, udara terasa berat dan kosong, seperti rumah yang sudah lama tidak mengenal tawa. Mereka duduk berhadapan dengan tangan yang sama-sama dingin. "Saya Grace," katanya pelan, "saya pengacara, dan saya tahu apa yang terjadi di sini, tapi saya tidak bisa membantu kalau Mbak tidak mau bicara." Lanjut Grace bicara dengan cepat, khawatir suaminya tiba-tiba kembali. Keheningan panjang menggantung sebelum perempuan itu akhirnya bersuara dengan getir. "Apa bedanya? Kalau saya bicara, dia akan lebih marah." Jawab wanita itu lesu. "Kalau mba memilih tetap diam, mungkin untuk sementara keadaan akan terlihat lebih tenang, tapi kalau hal yang mbak alami ini berulang terus, hal yang sangat buruk dari ini bisa saja terjadi." Ucap Grace lembut, dan mengelus pelan lengan perempuan itu saat air mata mulai mengalir dari matanya. Grace tidak bicara lagi, ia membiarkan ruang agar terasa aman, hanya berkata pelan bahwa perempuan itu tidak sendirian. Perempuan itu akhirnya menyebut namanya sendiri dengan suara yang nyaris hilang. "Saya Anita," katanya buru-buru. "Suami saya hanya keluar sebentar untuk membeli rokok dan bir." Lanjutnya gelisah  "Mbak Grace harus pergi sekarang, lusa suamiku akan pergi ke toko sekitar jam 9 pagi. Mbak bisa datang lagi lusa." Mereka pun membuat janji, Grace mengangguk dan berjanji akan kembali dua hari lagi, pada jam ketika sang suami pergi mengurus tokonya dari pagi hingga sore, satu-satunya rentang waktu yang cukup panjang dan cukup aman untuk benar-benar bicara. Dua hari kemudian Grace datang sesuai janji, dan ruang tamu yang sama kini terasa sedikit berbeda, lebih tenang meski masih dibebani keheningan yang sama, dengan hanya detak jam dinding yang mengisi kekosongan yang terlalu lama dibiarkan. Grace duduk di sofa abu-abu dengan tangan terlipat di pangkuannya, tenang dan memberi ruang alih-alih tekanan, karena ia tahu betul bahwa kata pertama selalu menjadi yang paling sulit diucapkan. "Mbak Anita tidak harus cerita semuanya hari ini," katanya akhirnya membuka suara, "kita bisa pelan-pelan." Anita menatapnya sekilas dengan mata yang mulai menggenang. "Kalau saya cerita," bisiknya, "apa benar bisa berubah?" Grace menganggukan kepalanya dengan yakin. Ia menekan tombol rekam pada ponselnya, lalu membiarkan perempuan di hadapannya menemukan keberaniannya sendiri, satu kalimat demi kalimat. "Saya capek, Mbak," kata Anita tiba-tiba, suaranya pecah. Ia bercerita bahwa pada mulanya tidak seperti ini, bahwa dulu suaminya begitu baik sampai semua orang pun berkata demikian, bahwa kemarahan pertama hanyalah bentakan yang ia anggap wajar karena semua orang sesekali pasti pernah marah. Lalu datang tangan yang pertama , Anita mengingatnya dengan jelas, hanya karena ia terlambat membuka pintu, dan ketika ia meminta maaf, suaminya pun ikut meminta maaf, mengaku khilaf, berjanji tidak akan mengulanginya. Dan Anita mempercayainya, karena ia mencintai, dan karena cinta sering kali menjadi alasan paling jujur sekaligus paling menyakitkan untuk bertahan. "Lalu terjadi lagi," lanjutnya dengan tangan yang gemetar, "awalnya sebulan sekali, lalu dua minggu sekali, sekarang hampir tiap minggu." Grace mendengarkan dengan tenang, sesekali bertanya pelan, dan ketika ia menanyakan apa yang biasa dikatakan sang suami, Anita menjawab lirih bahwa ia selalu disalahkan, bahwa kalau ia lebih diam, lebih cepat, lebih menurut, semuanya akan baik-baik saja. Sampai akhirnya, dengan tatapan kosong yang menghantam, ia mengakui hal yang paling menyakitkan dari semuanya, "Saya… mulai percaya, dan saya menuruti semua perkataannya." Grace mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dan berkata dengan lembut namun tegas, "Mbak Anita, tidak ada satu pun yang Mbak lakukan, yang membuat Mbak pantas disakiti." Ketika Anita mencoba membantah dengan menyebut apa yang selalu dikatakan suaminya, Grace memotongnya pelan. "Kita jangan dulu peduli apa kata dia. Kita peduli dulu pada apa yang benar."  Anita mengakui ketakutannya,  takut bila ia melaporkan suaminya, suaminya akan lebih marah. Takut bila kelak pria itu ditahan dan bebas, aja mencari Anita lagi. Tapi Grace tidak menyangkalnya, tidak memberi harapan palsu, melainkan menjawab setiap kekhawatiran itu dengan satu kata jujur yang berulang. "Iya." Ketika Anita bingung mengapa wanita di hadapannya justru membenarkan semua ketakutannya, Grace tersenyum tipis dan menjelaskan bahwa semua itu memang kemungkinan yang nyata. "Tapi ada satu hal yang belum Mbak tau, bahwa Mbak tidak harus menghadapi semua ini sendirian. Ada hukum, ada proses, ada perlindungan, dan ada saya." Perlahan Anita mulai menceritakan semua luka yang selama ini ia kunci rapat, tentang dorongan yang membuatnya jatuh menghantam meja dapur hingga lengannya membekas, tentang seminggu lalu ketika ia dipukul dengan ikat pinggang, dan setiap pengakuan itu membuat ruangan terasa semakin sempit sekaligus semakin terang oleh kebenaran yang akhirnya berani disuarakan. "Terima kasih sudah cerita," kata Grace mengelus pelan lengan Anita. Anita menunduk lega, tapi masih ada ketakutan dalam hatinya.  Grace menambahkan dengan tegas bahwa yang seharusnya takut bukanlah dirinya, melainkan orang yang telah menyakitinya. "Apa Mbak mau semua ini berhenti ?" Tanya Grace, dan Anita langsung mengangguk. "Oke, good. Karena kita harus segera membuat laporan ke polisi." Ketika Grace menyebut langkah berikutnya adalah melapor, ketakutan itu memang kembali muncul di mata Anita, tetapi Grace dengan sabar berkata bahwa itu tidak harus dilakukan hari ini, bahwa mereka akan menuju ke sana bersama-sama. Grace lalu  mengulurkan tangannya, tidak memaksa, hanya menawarkan, dan setelah beberapa detik yang terasa panjang, Anita menggenggamnya. "Tolong saya," bisik Anita lirih, dan Grace menggenggam tangan itu lebih erat sambil berkata "Saya di sini". Seketika itu kehangatan merasuki hati Anita, ia merasakan ada seseorang yang datang bukan sebagai penyelamat yang menggurui, melainkan sebagai teman, sebagai pendengar, sebagai saksi. *** Hari-hari berikutnya Grace dan Anita mencuri waktu di sela jadwal sang suami yang sedang mengurus toko, dan dalam pertemuan-pertemuan singkat itu Grace meminta izin untuk memotret luka-luka lebam di tubuh Anita, dan menggabungkannya bersama bukti-bukti yang telah ia kumpulkan untuk menjadi bahan laporan ke polisi demi memperoleh surat permintaan visum. Anita kerap terdiam dengan wajah dipenuhi ketakutan, dan ketika akhirnya mereka duduk di kantor polisi dengan tangan Anita yang gemetar, Grace menggenggam tangannya dan berkata pelan bahwa langkah ini bukan semata untuk melawan suaminya, melainkan untuk melindungi Anita sendiri. --- Langit sudah gelap ketika Anita turun dari mobil Grace malam itu, dengan salinan laporan polisi tersimpan di dalam tasnya. Ia berdiri beberapa saat di depan pagar rumah sebelum masuk, ia lalu menarik napas panjang dan mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat ketika mendapati suaminya sudah duduk di sofa dengan tubuh condong ke depan, kedua tangan bertaut, rahang mengeras, dan tatapan yang langsung menembusnya begitu pintu terbuka. "Kamu dari mana?" Suara pria itu rendah, dan justru kerendahannya itulah yang membuat Anita semakin takut. "Dari..dari rumah sakit". Jawab Anita terbata. Ia mencoba menjawab bahwa ia hanya keluar sebentar, lalu mengatakan bahwa ia menemui dokter, tetapi setiap jawaban hanya membuat tatapan pria itu semakin menyipit penuh curiga, sampai akhirnya tangan kasar itu mencengkeram pergelangannya dan suaranya meninggi menuntut penjelasan. "Ke rumah sakit?! Apa-apaan kamu?! Ngapain ke rumah sakit segala?!" Plak! Tamparan itu datang tiba-tiba, membuat kepala Anita terhempas ke samping dan dunia berputar.  Remote televisi melayang nyaris mengenai kepalanya dan membentur pintu dengan bunyi keras, dan sebelum ia sempat bangkit, dorongan kasar kembali menghempaskan tubuhnya ke meja kecil hingga pecahan kaca berserakan di lantai. *** Di rumah sebelah, Grace baru saja keluar dari kamar mandi ketika suara itu kembali terdengar, bunyi benda yang dilemparkan dan tangisan yang kali ini benar-benar pecah, bukan tangisan yang ditahan. Jantung Grace berdegup kencang, tetapi tidak ada lagi ruang untuk ragu. Ia meraih ponselnya dan menekan nomor polisi, melaporkan dengan cepat dan jelas bahwa sedang terjadi kekerasan dalam rumah tangga, menyebutkan alamat lengkapnya dan menegaskan bahwa korban sedang dalam bahaya. Setelah petugas memastikan unit segera dikirim, Grace tidak menutup teleponnya, ia tetap berjaga di balik jendela, mengawasi, mendengarkan, menolak untuk meninggalkan Anita sendirian meski hanya dalam jarak pandang. Di dalam rumah itu Anita telah terjatuh ke lantai, tubuhnya meringkuk berusaha melindungi diri sementara suaminya tidak juga berhenti, tendangan demi tendangan mendarat di sisi tubuhnya diiringi bentakan-bentakan. "Berani-beraninya ya kamu pergi keluar rumah! Siapa yang kasih izin?!" Ia menangis, gemetar, tangannya mencoba menahan meski sia-sia, sampai akhirnya dari kejauhan terdengar suara sirene yang mula-mula samar lalu semakin dekat, membuat pria itu terhenti dengan napas memburu. Sesaat kemudian sirene itu meraung tepat di depan rumah. Cahaya biru memantul di kaca jendela, dan ketika pria itu membuka pintu dengan langkah cepat, dua orang polisi telah berdiri di sana menyampaikan bahwa mereka menerima laporan dugaan kekerasan. "Cuma masalah keluarga aja pak." Pria itu menggeleng cepat, berdalih bahwa tidak ada apa-apa dan bahwa itu hanya urusan keluarga. Tetapi ketika polisi meminta paksa masuk tannpa menunggu jawaban, pemandangan di dalam rumah itu tidak bisa lagi disangkal oleh alasan apa pun. Anita tergeletak di lantai dengan Air mata bercucuran, luka yang jelas dan segar serta napas yang tidak stabil. Salah satu polisi berlutut di sampingnya dan bertanya pelan siapa yang melakukan ini, Anita langsung mengangkat tangannya yang gemetar menunjuk ke arah suaminya. "Dia," ucapnya. Satu kata, tetapi cukup untuk mengubah segalanya. "Fitnah dia pak!" Suaminya berteriak panik.  Dengan sigap borgol besi langsung mengikat tangannya, dan ia digiring keluar masih dengan teriakan dan penyangkalan yang  tidak akan lagi didengar siapa pun. Dari seberang, Grace langsung berlari menuju Anita, ia menghampiri petugas medis membantu Anita keluar dengan tubuh yang lemah dan penuh lebam. Grace memeluknya, menguatkan tubuh sekaligus hatinya, dan dalam pelukan itu keduanya tahu bahwa malam terburuk ini justru menjadi malam pertama Anita benar-benar melangkah keluar. *** Ruang sidang pagi itu terasa dingin, dari deretan kursi kayu yang hampir penuh terdengar bisik-bisik para tetangga komplek Grace yang sengaja datang memberi support untuk Anita. Majelis hakim memasuki ruangan dengan raut wajah yang sulit dibaca. Seruan agar hadirin berdiri pun menggema, semua orang bangkit serempak sebelum kemudian kembali duduk mengikuti ketukan palu. Di bangku depan, Anita duduk dengan jari-jari menggenggam ujung blazer yang dikenakannya, berusaha menahan gemetar yang tetap saja menjalar, sementara di sampingnya Grace duduk tegak dan tenang, tangannya memegang berkas perkara yang telah tersusun rapi dengan setiap halaman ditandai dan setiap detail telah ia hafal di luar kepala. Ketika terdakwa digiring masuk dengan tangan terborgol dan wajah yang masih keras meski kini menyimpan kegelisahan, matanya mencari dan berhenti pada Anita, membuat perempuan itu refleks menunduk. Grace langsung menyentuh tangan Anita pelan, sebuah sinyal kecil tanpa kata yang berarti, 'kamu aman'. Jaksa penuntut umum berdiri dan membacakan dakwaannya dengan suara tegas dan terlatih, menjabarkan bahwa terdakwa didakwa melakukan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga secara berulang terhadap istrinya sendiri, lengkap dengan tanggal kejadian, bentuk kekerasan, serta dampak fisik dan psikis yang ditimbulkan. Setiap kalimat yang terucap membuat Anita menahan napas seakan luka-luka lama itu dibuka kembali, namun kali ini pembukaan itu bukan untuk menyakitinya melainkan untuk memperlihatkan kebenaran. Nama Anita dipanggil, dan ia melangkah pelan menuju kursi saksi, mengucapkan sumpah dengan tangan yang masih dingin, sementara dari kursi penasihat hukum Grace menatapnya tenang, memberi kekuatan tanpa sepatah kata pun. Atas pertanyaan hakim yang lembut namun tegas, Anita mulai bercerita bahwa pada awalnya hanya ada bentakan, lalu berkembang menjadi tamparan, namun selalu disusul permintaan maaf dan janji bahwa itu tak akan terulang. Sebuah pola yang ia percayai karena ia berpikir keadaan akan membaik, sampai pola itu terus berulang dan semakin sering. Ketika hakim bertanya apakah ia pernah melawan, Anita menggeleng pelan dan mengakui ketakutannya, takut bila suaminya menjadi lebih marah. Namun pada malam terakhir itu, katanya dengan suara yang melemah lalu menatap lurus ke depan, ia sudah tidak kuat lagi, dan untuk pertama kalinya ia memilih bercerita. Bukti-bukti pun dipaparkan satu per satu, dimulai dari rekaman suara yang diputar di ruang sidang, suara bentakan, benda jatuh, dan tangisan yang terdengar begitu jelas hingga beberapa pengunjung menahan napas. Disusul kesaksian seorang ibu dari lingkungan sekitar yang menuturkan malam-malam penuh teriakan dan wajah Anita yang pernah ia lihat penuh lebam, lalu keterangan dokter yang menjelaskan hasil visum dengan temuan luka memar di beberapa bagian tubuh yang tingkat keparahannya menunjukkan adanya kekerasan berulang. Setiap bukti saling menguatkan satu sama lain, merajut sebuah gambaran yang semakin sulit dibantah. Lalu tibalah giliran pihak terdakwa, dan pengacara pembela berdiri dengan percaya diri, mengajukan argumen bahwa perkara ini sesungguhnya adalah konflik rumah tangga yang seharusnya diselesaikan secara internal, bahwa tidak semua pertengkaran dapat serta-merta dikategorikan sebagai tindak pidana. "Klien kami memang mengakui adanya luapan emosi, namun sama sekali tidak berniat mencederai." Belum puas dengan itu, sang pembela meminta izin melakukan pemeriksaan silang terhadap Anita, dan ketika diberi kesempatan, ia berjalan mendekati kursi saksi dengan senyum tipis yang dingin. "Saudari Anita," katanya, "Anda mengaku takut pada suami Anda, takut sampai tidak berani melawan, benar begitu?" Anita mengangguk pelan. "Tapi anehnya," lanjut sang pembela dengan nada yang sengaja diperhalus untuk menyembunyikan jebakannya, "Anda justru berani diam-diam merekam, diam-diam menemui pengacara, diam-diam mengumpulkan bukti selama berhari-hari. Bagi orang yang katanya begitu ketakutan, bukankah itu justru terdengar seperti seseorang yang terencana, yang punya agenda? Bukankah mungkin saja, Saudari Anita, bahwa semua ini Anda susun untuk menyingkirkan suami Anda demi alasan lain?" Ruangan seketika hening, dan Anita merasakan napasnya tercekat, matanya mulai berkaca, dan untuk sesaat ia tampak hampir runtuh di kursi itu, seakan seluruh keberanian yang susah payah ia kumpulkan terancam rontok hanya oleh beberapa kalimat yang diputarbalikkan. Ia membuka mulut namun tak ada suara yang keluar, dan tatapan terdakwa yang menusuk dari seberang ruangan membuat tubuhnya semakin mengecil. "Keberatan, Yang Mulia." Suara Grace memecah keheningan saat ia berdiri dengan tenang namun tegas. "Itu menggiring saksi pada kesimpulan spekulatif dan menyerang karakter korban, bukan menanyakan fakta. Mengumpulkan bukti atas penderitaan yang dialami bukanlah tanda agenda tersembunyi, melainkan tanda bahwa korban akhirnya menemukan keberanian untuk tidak lagi diam." Hakim mengangguk. "Keberatan diterima. Anda diminta mengarahkan pertanyaan pada fakta, bukan asumsi." Sang pembela tersenyum tipis dan mundur selangkah, namun Grace belum selesai,bdengan izin hakim ia bangkit dan maju beberapa langkah, suaranya tenang tetapi setiap kata terdengar jelas memenuhi ruangan. "Yang Mulia, izinkan saya meluruskan logika yang barusan ditawarkan kepada kita. Saat tadi disebutkan bahwa korban tidak memiliki saksi yang melihat langsung, seakan-akan kekerasan baru menjadi nyata bila ada penonton yang menyaksikan. Tetapi kekerasan dalam rumah tangga justru dirancang untuk terjadi tanpa penonton, di balik pintu yang tertutup, di dalam dinding yang  bisu. Maka menuntut adanya saksi mata langsung sama saja dengan menuntut agar korban tidak pernah bisa memperoleh keadilan." Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu mengendap, lalu melanjutkan sambil sesekali menatap ke arah Anita. "Kita telah mendengar rekaman suaranya. Kita telah melihat hasil visumnya yang menunjukkan kekerasan berulang, bukan satu insiden tunggal. Kita telah mendengar kesaksian tetangga yang konsisten satu sama lain. Dan yang terpenting, kita telah mendengar langsung dari korban dan saat terdakwa tertangkap tangan saat ditempat kejadian. Menyebut semua ini sekadar konflik rumah tangga adalah bentuk penyangkalan terhadap penderitaan, dan bila penyangkalan semacam itu kita biarkan menang, maka kita sedang mengirim pesan kepada setiap rumah di negeri ini bahwa kekerasan boleh ditoleransi asalkan terjadi di balik pintu yang tertutup." "Klien saya hanya khilaf!" sela pengacara pembela, mencoba merebut kembali kendali, tetapi Grace menoleh dengan ketenangan yang justru terasa lebih tajam daripada bentakan. "Khilaf terjadi satu kali," katanya. "Yang terjadi berulang selama berbulan-bulan, dengan pola yang sama, bukan lagi kekhilafan, itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan, Yang Mulia, memiliki konsekuensi hukum." Pada titik hati terdakwa terasa retak. Wajahnya yang sejak awal keras kini memerah oleh amarah yang tak lagi mampu ia tahan, dan tiba-tiba ia bangkit dari kursinya sambil berteriak ke arah Anita, "Kamu memang nggak pernah becus! Gara-gara kamu semua jadi begini, dasar perempuan tidak tahu diuntung!" Suaranya menggelegar memenuhi ruang sidang, urat-urat di lehernya menonjol, dan petugas harus bergegas menahannya saat ia mencoba melangkah maju, dan dalam ledakan beberapa detik itu, watak yang selama ini ia sembunyikan di balik dalih "khilaf" dan "urusan keluarga" terbuka telanjang di hadapan majelis hakim, jaksa, dan setiap pasang mata di ruangan itu. Hakim menatap terdakwa dengan tatapan yang tak lagi menyembunyikan penilaian, lalu memerintahkannya duduk dan tenang. Grace kembali ke tempat duduknya dengan tenang tanpa kemenangan yang dipamerkan, karena ia tahu bahwa terdakwa baru saja membuktikan sendiri apa yang berusaha disangkal oleh pembelaannya. Setelah seluruh bukti dan kesaksian dipertimbangkan, hakim membuka berkas dan membacakan putusannya dengan suara yang tegas, menyatakan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga, lalu menjatuhkan pidana penjara selama sepuluh tahun sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Ketika palu diketuk dengan satu bunyi tegas yang menutup segalanya, tangis pun pecah di ruangan itu. Bukan tangis ketakutan seperti yang dahulu selalu mengiringi malam-malam Anita, melainkan tangis kelegaan. Anita menutup wajahnya, bahunya yang selama bertahun-tahun terangkat tegang oleh kewaspadaan akhirnya turun, dan beban yang begitu lama ia panggul perlahan terlepas dari tubuhnya. Di luar ruang sidang, Anita berdiri di bawah langit yang terasa jauh lebih luas daripada sebelumnya, menarik napas dalam. "Terima kasih." Grace mengangguk, dan dengan senyum tenang ia berkata, "Ini bukan akhir, Mbak. Ini awal" Anita tersenyum, dengan rasa lega dan bebas yang menjalar ke seluruh hatinya, mengucapkan syukur dan terima kasih berkali-kali seakan tak mampu menampung semuanya dalam satu kalimat. Grace menahan air mata lega dan bahagia yang sudah mulai menggenang di matanya. Inilah alasan Grace melepaskan karirnya di lantai dua puluh itu, inilah alasan papan nama kecil di firma sederhananya, dan inilah hukum sebagaimana yang dulu ia bayangkan ketika masih kecil. --- Grace tengah memasukan beberapa barang ke dalam tasnya ketika ia menyadari ada seseorang yang sejak tadi belum beranjak dari kursi pengunjung di barisan belakang. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun, berpakaian rapi memperhatikan Grace, ketika tatapan mereka bertemu sekejap, pria itu tidak buru-buru memalingkan wajah, ia hanya mengangguk pelan, nyaris seperti sebuah penghormatan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar meninggalkan Grace. 

Graces's Cases

CHAPTER 1

Di publikasikan 05 Jun 2026 oleh _didiable

Hujan turun sejak sore, tipis tapi konsisten, Dari balik jendela kaca lantai dua puluh, Grace menatap titik-titik air yang meluncur perlahan. Pukul 19.45, lantai kantor sudah kosong. Lampu-lampu di kubikel padam satu per satu, menyisakan lorong panjang yang terasa lebih dingin dari biasanya. Hanya beberapa ruangan yang masih menyala, termasuk ruang kerja Grace, dipenuhi berkas, catatan, dan secangkir kopi yang sudah kehilangan hangatnya sejak tiga jam lalu. Grace menghela napas panjang. Layar laptop di depannya menampilkan dokumen pembelaan untuk klien perusahaan besar yang sedang tersandung kasus penggelapan dana internal. Ia sudah membaca berkas itu berkali-kali. Bahkan tanpa melihat pun, ia tahu setiap paragrafnya. Dan itulah masalahnya. Grace tahu terlau banyak. Tahu bahwa kliennya tidak sepenuhnya jujur.Tahu bahwa seseorang sedang dikorbankan.Dan tahu bahwa dirinya… diminta menjadi bagian dari itu. “Belum pulang, Grace?” Suara itu membuatnya menoleh. Dika, rekan kerjanya, berdiri di ambang pintu sambil merapikan jasnya. “Sebentar lagi,” jawab Grace singkat. Dika masuk, melihat layar laptop Grace sekilas, lalu tersenyum miring. “Kasus Pratama Group?” Grace mengangguk. Dika mendengus pelan. “Kasus panas. Tapi ya… lo tahu sendiri lah gimana endingnya.” Grace menatapnya. “Maksud lo?” “Ya menang, lah. Selama kliennya punya uang dan nama besar, kita pasti menang.” Dika mengangkat bahu. “Itu kan yang penting.” Grace tidak langsung menjawab. Dika memperhatikannya beberapa detik, lalu berkata, “Jangan bilang lo masih mikirin soal benar atau salah.” Grace tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Bukannya itu inti dari hukum?” Dika tertawa kecil. “Itu inti dari buku teks. Bukan dunia nyata.” Kalimat itu menggantung di udara. Grace tidak membalas. Ia hanya kembali menatap layar laptopnya, tapi huruf-huruf di sana terasa semakin kabur. “Gue cabut duluan ya.” Pamit Dika sambil berlalu. Setelah Dika pergi, ruangan itu kembali sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, tapi menekan. Grace memejamkan mata sejenak. Lima tahun. Sudah lima tahun ia bekerja di kantor hukum itu. Lima tahun membangun reputasi, membuktikan diri, dan naik perlahan menjadi salah satu associate yang paling diandalkan. Dan selama lima tahun itu, ia terus berkata pada dirinya sendiri: Ini cuma sementara. Aku hanya perlu bertahan sedikit lagi. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya… ia mulai ragu apakah itu benar. Grace melihat sekeliling ruangan, menghela nafas dan berniat bersiap-siap pulang. Pintu ruangannya diketuk dua kali. “Masuk,” kata Grace. Pak Arman berdiri di sana. Partner senior yang selama ini menjadi atasannya, seorang pria di akhir lima puluhan dengan aura tegas dan tatapan yang sulit dibaca. “Grace, masih di sini. Bagus,” katanya sambil masuk tanpa menunggu undangan. Grace langsung duduk lebih tegak. “Iya, Pak. Saya masih nyusun draft final untuk pembelaan besok.” Pak Arman meletakkan sebuah map di meja Grace. “Revisi ini,” katanya singkat. Grace membuka sebuah dokumen, beberapa halaman sudah ditandai dengan tinta merah. Ia mulai membaca, dan alisnya perlahan berkerut. Narasi yang ia buat… diubah. Bukan sekadar diperhalus. Tapi diarahkan menggeser fokus kesalahan dari struktur manajemen perusahaan… ke satu nama. Seorang karyawan divisi keuangan. Nama yang sebelumnya hanya muncul sekilas di berkas, sekarang dijadikan pusat cerita. Grace mengangkat wajahnya. “Pak, ini…” “Kita ubah pendekatannya,” potong Pak Arman tenang. “Tapi ini berarti kita menyalahkan dia sepenuhnya.” sahut Grace. Pak Arman menatapnya tanpa ekspresi. “Memang itu strateginya.” Grace menelan ludah. “Tapi bukti-buktinya belum cukup kuat untuk menyimpulkan dia pelaku utama.” Pak Arman tersenyum tipis. “Bukti bisa disusun, Grace. Yang penting narasinya harus meyakinkan.” Jantung Grace berdetak lebih cepat. “Pak, saya sudah baca semua transaksi. Ada indikasi kuat bahwa aliran dana tidak berhenti di dia. Ada pihak lain…” “Grace.” Potong Pak Arman dengan nada rendah berwibawa. Satu kata itu menghentikan semuanya. Pak Arman melangkah lebih dekat, menatap Grace dengan tajam. “Kita tidak dibayar untuk mencari semua kemungkinan,” katanya pelan tapi tegas. “Kita dibayar untuk memenangkan kasus.” Grace menggenggam dokumen itu lebih erat. “Kalau dia bukan pelakunya, Pak?” suaranya hampir berbisik. Pak Arman menghela napas pendek, seolah lelah mengulang hal yang sama. “Grace, kamu pintar. Itu sebabnya kamu ada di sini. Tapi kamu terlalu idealis.” Ia berhenti sejenak. “Dunia tidak bekerja seperti itu.” Kalimat itu lagi. Selalu kalimat itu. Grace menatap berkas di tangannya. Nama itu terasa semakin berat. Seorang karyawan biasa. Tidak punya kuasa. Tidak punya uang. Dan sekarang, akan dijadikan tameng. “Apa dia tahu?” tanya Grace. “Apa?” “Kalau dia akan dijadikan pihak yang bertanggung jawab?” Pak Arman tidak langsung menjawab. Dan dari diam itu, Grace sudah mendapatkan jawabannya. Tidak. Tentu saja tidak. Grace menarik napas dalam. Parasaan yang tidak nyaman merasuki hatinya. “Pak, saya tidak bisa,” katanya akhirnya. Pak Arman mengangkat alis. “Tidak bisa apa?” “Menyusun pembelaan seperti ini.” Jawab Grace. Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. “Ini perintah grace, saya kesini bukan untuk diskusi.” Suara Pak Arman mulai berubah. Grace menatapnya, kali ini tanpa ragu. “Saya tidak bisa menulis sesuatu yang saya tahu tidak benar.” Pak Arman tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya. “Kamu serius?” Grace mengangguk. “Ini bukan soal serius atau tidak, Grace. Ini soal pekerjaanmu.” Suaranya mulai meninggi. “Kalau kamu tidak bisa melakukan ini, untuk apa kamu ada di sini?” Pertanyaan itu menancap. Dan untuk pertama kalinya, Grace tidak punya jawaban yang bisa ia gunakan untuk bertahan. Ia melihat sekeliling ruangannya. Rak yang penuh dengan buku dan dokumen-dokumen, sertifikat di dinding, foto-foto tim yang tersenyum di acara perusahaan. Semua yang dulu membuatnya bangga. Sekarang terasa… mengecewakan. Grace perlahan menggeser dokumen di mejanya. Lalu ia menutup laptopnya. Klik. Suara kecil itu terdengar jauh lebih keras dari yang seharusnya. Ia berdiri. Gerakannya tenang, tapi ada ketegasan yang tidak bisa disembunyikan. “Pak,” katanya pelan, “kalau pekerjaan saya mengharuskan saya melakukan hal seperti ini, berati saya memang tidak seharusnya ada di sini.” Wajah Pak Arman mengeras. “Kamu sedang membuat kesalahan besar.” “Mungkin,” jawab Grace. “Tapi ini kesalahan yang saya pilih sendiri.” Grace menarik napas. “Saya resign.” Dua kata sederhana. Tapi terasa seperti melepaskan beban yang sudah ia bawa terlalu lama. Pak Arman menatapnya tajam, mencoba mencari celah—keraguan, ketakutan, apa pun yang bisa membuat Grace mundur. Tapi tidak ada. Yang ada hanya ketenangan yang aneh. “Pikirkan lagi,” Bujuknya tanpa usaha. “Terimakasih pak,” jawab Grace kukuh. Pak Arman menggeleng pelan. “Kamu akan nyesal Grace.” Grace hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Ia meraih tasnya, meninggalkan laptop kantornya dan semua berkas-berkas di meja yang tadi sedang ia kerjakan. Langkahnya menuju pintu terasa ringan, terlalu ringan untuk sesuatu yang baru saja akan mengubah hidupnya. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. Menoleh ke ruangan kantornya untuk yang terakhir. Lima tahun. Dan semuanya berakhir di malam yang panjang ini. Grace membuka pintu. Udara dingin lorong menyambutnya. Lampu-lampu yang tersisa terlihat redup, seperti ikut memahami bahwa sesuatu telah selesai. Ia berjalan melewati deretan meja kosong. Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang tahu. Dan untuk pertama kalinya… itu tidak masalah. Saat pintu lift terbuka, Grace melangkah masuk. Pintu menutup perlahan. Refleksi dirinya terlihat samar di permukaan logam dinding lift. Wanita berusia tiga puluh tahun yang lelah, tapi merasa yakin atas keputusan yang diambilnya. Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, suara hujan terdengar jelas. Grace melangkah keluar gedung. Tanpa payung. Tanpa rencana pasti. Tapi dengan sesuatu yang selama ini hilang, kejujuran pada dirinya sendiri. Hujan membasahi wajahnya, rambutnya, pakaiannya. Tetapi ia tidak berhenti. Tidak berlari. Ia berjalan pelan, menikmati setiap tetes yang jatuh. Seolah membersihkan semua yang beban yang menempel di seluruh tubuhnya. Di tengah trotoar yang basah dan lampu kota yang berpendar, Grace tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama…Ia merasa bebas. Dan meskipun ia belum tahu ke mana langkah berikutnya akan membawanya, ia tahu bahwa ia tidak akan kembali. *** Grace terbangun tanpa suara alarm. Tidak ada nada dering yang memaksanya membuka mata. Tidak ada notifikasi rapat. Tidak ada pesan mendesak dari klien. Tidak ada apa-apa. Ia menatap langit-langit kamarnya yang putih dan datar. Ia hanya berbaring, mencoba memahami perasaan yang mengendap di dadanya. Grace menarik napas panjang, lalu duduk perlahan di tepi tempat tidur. Jam di meja menunjukkan pukul 07.12. Biasanya, di jam seperti ini, ia sudah berada di mobil, terjebak macet, atau setidaknya sedang bersiap-siap dengan tergesa. Sekarang? Ia bahkan belum tahu hari ini ingin melakukan apa. “Ini yang kamu mau,” gumamnya pelan pada diri sendiri. Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan membuka tirai. Cahaya pagi masuk dengan lembut, menyinari lantai kamarnya yang rapi. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… ia punya waktu. Dan anehnya, justru itu yang membuatnya bingung. --- Satu jam kemudian, Grace sudah berpakaian rapi, tidak formal, hanya kaos putih longgar dan celana bahan. Kebiasaan lama yang belum sepenuhnya hilang. Grace mengetik pesan untuk sahabatnya sebelum keluar rumah, Grace : Sarapan di BlackKafe ya, otw. Ia meraih tasnya, lalu melangkah keluar rumah. Begitu ia menutup pintu, suara itu kembali terdengar. “Dasar kamu nggak guna!” Suara laki-laki. Keras. Kasar. Disusul suara benda jatuh. Dan kemudian tangisan perempuan. Grace berhenti sejenak di depan pintu. Ia tidak perlu mencari sumber suara itu. Ia tahu persis dari mana asalnya. Rumah di sebelah. Dan ini bukan pertama kalinya, bahkan bukan yang kedua atau ketiga. Sudah berbulan-bulan,  mungkin lebih. Awalnya, Grace sempat merasa terganggu. Bahkan pernah berdiri lebih lama di depan pintu seperti sekarang, mencoba memastikan apakah ia harus melakukan sesuatu. Tapi ia takut dikira terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Dan lama-lama, ia terbiasa. Atau lebih tepatnya, dipaksa terbiasa. “Bukan urusanku,” bisiknya pelan, hampir otomatis. Kalimat yang sama yang selalu ia gunakan. Kalimat yang membuatnya bisa tetap berjalan. Hari ini pun, ia melakukan hal yang sama. Menarik napas. Mengalihkan pandangan. Lalu melangkah pergi. Seolah tidak terjadi apa-apa. *** Aroma kopi hangat langsung menyambut begitu Grace membuka pintu BlackKafe. Musik lo-fi lembut mengalun menjadi backsound beberapa pelanggan yang sibuk dengan laptop dan buku mereka. “Grace!” Suara ceria itu datang dari sudut dekat jendela. Dinda melambaikan tangan, senyumnya lebar seperti biasa. Grace tidak bisa menahan senyum kecilnya. Dinda, sahabatnya sejak kuliah. Satu-satunya orang yang selalu tahu bagaimana membaca Grace tanpa perlu banyak kata. Grace berjalan mendekat, lalu duduk di kursi seberangnya. “Lo kelihatan beda,” kata Dinda sambil menatapnya penuh perhatian. Grace mengangkat alis. “Baru juga duduk.” “Justru itu. Biasanya elo datang sambil buka laptop, ngecek email, sambil ngomel soal klien.” Dinda menyandarkan dagunya di tangan. “Sekarang lo cuma… duduk.” Grace tersenyum kecil. “Karena emang enggak ada yang harus gue buka lagi.” Dinda menyipitkan mata, bertanya penasaran “Oke??” Grace menghela napas. “Gue resign.” Dinda membeku selama satu detik. Lalu.. “HAH..APA?!” Beberapa orang di kafe menoleh. Dinda langsung menutup mulutnya, lalu berbisik dengan suara yang masih penuh keterkejutan, “Elo serius?!” Grace mengangguk pelan. Dinda menatapnya lama, mencoba memastikan ini bukan lelucon. “Kapan?” “Semalam.” “Dan elo baru bilang sekarang?!” Dinda memukul ringan meja. Grace tersenyum tipis. “Yes, here i am”, mengambil gelas kopi Dinda di sebrang mejanya dan menyeruputnya. “Mas, Es Americano satu ya!” Grace berkata pelan pada barista di sebrang meja bar. Dinda bersandar, masih memproses. “Oke… tunggu… tunggu…” katanya sambil mengangkat tangan. “Ini Grace yang sama yang selalu bilang ‘sedikit lagi, gue tahan sedikit lagi’? Yang kerja sampai malam tiap hari? Yang bahkan lupa ulang tahunnya sendiri ?” Grace tertawa pelan. “Yes, still me.” “Dan sekarang elo resign?” “Iya.” Tegas Grace. Hening sejenak. Lalu perlahan, ekspresi Dinda berubah. Bukan lagi terkejut. Tapi… bangga. “Akhirnya,” katanya pelan. Grace menatapnya. “Akhirnya?” Dinda mengangguk. “Gue udah nunggu momen ini dari dulu.” Grace mengernyit. “Serius?” “Serius.” Dinda tersenyum. “Elo itu pintar, Grace. Tapi lo terlalu lama bertahan di tempat yang salah.” Grace menunduk, memainkan ujung cangkir kopinya. “Yah, lama-lama capek juga lah, Din.” Dinda tidak langsung menjawab. Sebagai seorang psikolog, ia tahu kapan harus diam. Kapan harus memberi ruang. Dan Grace… mulai bicara. Tentang kasus terakhir. Tentang tekanan. Tentang bagaimana ia diminta membelokkan kebenaran. Tentang rasa bersalah yang selama ini ia tekan. Semua keluar, seperti bendungan yang akhirnya rubuh. Dinda mendengarkan. Tidak memotong. Tidak menghakimi. Hanya sesekali mengangguk, atau memberikan respons kecil yang membuat Grace tahu, ia tidak sendirian. “Kadang gue mikir…” kata Grace pelan, “apa gue terlalu idealis?” Dinda tersenyum lembut. “Menurut lo sendiri gimana?” Grace terdiam. “Gue cuma pengen melakukan hal yang benar,” lanjutnya. “Dan itu salah?” tanya Dinda balik. Grace menggeleng pelan. “Berarti bukan elo yang salah,” kata Dinda tenang. Grace menghela napas panjang. “Terus sekarang?” tanya Dinda. “Elo mau ngapain?” Grace tertawa kecil. “Itu dia masalahnya. Gue enggak tahu.” Dinda menatapnya beberapa detik, lalu menyipitkan mata seperti sedang menganalisis sesuatu. “Elo tahu nggak sih masalah lo sebenarnya apa?” Grace mengangkat alis. “Apa?” “Elo kesepian.” Grace langsung tertawa. “Apa hubungannya?” “Banyak.” Dinda bersandar santai. “Elo udah berapa lama nggak pacaran?” Grace mengerjap. “Itu… nggak relevan.” “Jawab aja!” Grace menghela napas. “Empat tahun.” Dinda mengangguk seolah itu mengonfirmasi sesuatu. “Nah.” “Nah apanya?” Grace mengerutkan dahi. “Elo terlalu fokus sama kerjaan. Sampai-sampai hidup lo cuma itu. Jadi, pas sebuah pekerjaan itu ternyata nggak sesuai dengan nilai lo, ya lo jadi ngerasa kehilangan arah.” Grace terdiam. Ada benarnya, dan anehnya tiba-tiba ia menjadi merasa tidak nyaman. “Jadi menurut lo, gue ini resign karena kesepian?” tanya Grace setengah bercanda. “Bukan cuma itu,” kata Dinda. “Tapi itu salah satu faktor.” Grace menggeleng sambil tersenyum kecil. “Elo psikolog apaan si Din, ngelawak lo ya?!” “Gue serius,” lanjut Dinda. “Elo butuh sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan. Sesuatu yang… lo percaya.” Hening sejenak. Grace menatap keluar jendela melihat orang-orang berjalan lalu lalang. “Tapi kalau bukan itu…” katanya pelan, “gue harus ngapain?” Dinda terdiam sejenak. Lalu, dengan nada yang lebih santai—seolah hanya asal bicara—ia berkata: “Ya kalo elo emang seidealis itu… kenapa nggak buka firma hukum sendiri aja?” Grace menoleh cepat. “Hah?” Dinda mengangkat bahu. “Ya… kantor elo, aturan elo. Elo yang tentuin klien mana yang mau lo ambil. Elo juga yang tentuin prinsipnya.” Grace menatap sahabatnya itu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Itu… nggak semudah itu lah, Din.” “Ya memang nggak.” Dinda mengangguk. “Tapi bukan berarti nggak mungkin.” Grace tidak langsung menjawab. Kalimat itu, sederhana. Tapi terasa seperti sesuatu yang membuka pintu yang selama ini ia anggap terkunci. “Kantor lo... aturan lo…” Grace mengulang ucapan sahabatnya pelan, menyilangkan tangannya didada sambil menatap langit-langit kafe. Dinda tersenyum kecil. “Iya.” Grace menunduk. Membayangkan. Sebuah tempat… di mana ia tidak perlu mengorbankan nilai-nilainya. Di mana ia bisa memilih untuk membela yang benar. Di mana ia tidak perlu lagi berkompromi dengan hal yang membuatnya muak. “Gila sih!” kata Grace pelan. Dinda tertawa. “Ide bagus emang biasanya kedengarannya gila di awal.” Grace mengangkat wajahnya dan mematung. Bukan ragu. Bukan kosong. Tapi… harapan. “Kalau gue beneran bikin kantor sendiri…” katanya perlahan, “lo bakal dukung gue kan?” Dinda langsung menjawab tanpa ragu. “Selalu.” Grace tersenyum. Keputusan itu belum sepenuhnya terbentuk. Tapi niatnya sudah ada. Dan itu cukup untuk memulai. *** Sesampainya dirumah, Grace duduk di meja makan dan membuka laptop. Masih ada ketidakpastian, tapi ia merasa memiliki tujuan baru, arah yang baru. Ia mebuka notes pinknya menuliskan : Nama firma. Struktur. Perizinan. Lokasi. Dan Grace pun tehanyut dengan laptop dan buku catatannya untuk menjalankan rencana barunya sampai malam tiba. *** Keesokan paginya Grace terbangun dengan suara alarm 05.30. Rutinitas hariannya selama ini membuatnya terbiasa bangun pagi. Saat menggoreng telur untuk sarapan. Pikirannya tentang membuka kantor sendiri terlalu jauh sampai membuat telurnya gosong. Isi kepalanya terlalu penuh, dan Grace merasa harus menguraikannya satu persatu. Grace mengambil buku catatannya, menuliskan apa saja  yang akan dia lakukan hari ini sambil melahap telurnya. Mulai dari pencarian lokasi, bagaimana interior kantornya nanti, dan mencari tahu cara mendirikan perusahaan. Setelah ia selesai dengan rutinitas paginya. Grace mulai mencari lokasi yang pas untuk kantornya. Ia berjalan dari satu gedung ke gedung lain. Melihat ruang kosong. Membayangkan meja kerja. Membayangkan papan nama. Membayangkan dirinya sendiri berdiri di sana. Bukan sebagai karyawan, tapi sebagai pemilik. Sebagai seseorang yang menentukan arah. Prosesnya tidak mudah, birokrasi berbelit, formulir yang tak ada habisnya, biaya yang membuatnya beberapa kali terdiam lebih lama dari seharusnya. Tapi setiap kali ragu datang, ia mengingat kembali malam saat ia resign. Hari-hari berikutnya berlalu cepat. Grace sibuk menyiapkan kantor barunya. Lebih sibuk dari sebelumnya. Tapi berbeda, tidak ada lagi rasa tertekan, yang ada hanya lelah yang memuaskan. Dinda sesekali datang membantu. Memberi perspektif, atau sekadar menemani sampai akhirnya kantor siap. *** 1 bulan setelah resign. “Gue nggak nyangka lo bisa secepat ini,” kata Dinda suatu sore saat melihat sebuah ruangan yang hampir selesai disiapkan. Grace tersenyum. “Gue juga.” Ruangan itu sederhana, tidak besar, tapi cukup. Dua set meja kerja beserta kursinya, satu set sofa panjang, pantry kecil dengan mesin kopi di sudut ruangan, dan rak buku yang masih kosong. Lalu sebuah papan kecil di depan pintu. Grace berdiri di depannya. Membaca nama yang tertera. Gracia Jasmine Law Firm Ia menghela napas pelan, perjalanan ini baru dimulai. Masih banyak yang belum ia tahu, masih banyak yang mungkin akan menguji. Tapi satu hal yang pasti, Kali ini, ia berjalan di jalannya sendiri.

Graces's Cases

Bab 4 Berusaha Cerdas

Di publikasikan 01 Jun 2026 oleh Bengkoang

“Ah. Pagi, Merah.” Satu minggu kemudian, dua minggu dari kedatanganku ke Yotaar, dan seminggu sejak Plester Co. berdiri. Tujuh hariku bolak-balik menyeberangi jembatan selatan kota sambil mengetuk pintu-pintu rumah di sana tanpa bosan kini berbuah, seperdelapan dari total komunitas area kumuh tersebut telah berhasil kucatat sebagai pelanggan uji coba. Gak buruk, bukan? Tentu, ini bukan hasil kerjaku sendiri. “Siap buat hari ini, Sobat?” tanyaku selesai dari kamar mandi, menyambar gagang kapak perang sama tas selempang lalu melangkah ke luar kamar, semangat. “Jadwal kita lumayan padat ….” Keliling seratus enam puluh blok, menarik kresek-kresek sampah ke atas punggung Kelabang Merah pakai Benang Pandora, mengetuk pintu calon pelanggan baru, kemudian menyebar selebaran iklan selesai dari TPA sekian mare arah tenggara kota. Belum selesai. Sehabis itu aku juga ada wawancara sama para calon pekerja magang di taman kota. Bukan mau sok keren, tapi seratus enam puluh blok lebih gak mungkin terus kusisir setiap hari sendiri, ‘kan? Makanya sekarang kubuka lowongan kerja, berharap pintu-pintu berkah makin terbuka kalau jalan rezeki kulebarkan ‘tuk banyak orang. Toh, niat awalku bikin usaha ini pun memang biar lapangan kerja meningkat dan angka tunakarya turun. “Kalian ….?” “Sobet, Bos. Ini, Potur. Kami mau melamar jadi pegawai Plester Co.” Kalian tahu, dua karyawan pertama Plester Co. beberapa hari kemudian adalah seorang laki-laki kurus dan seorang pria gempal. Kombinasi unik yang kalau dibayangkan ibarat nol dengan koma. Namun, keduanya jujur dan mudah diajari. Jadi bukan masalah. Kan, yang kubutuhkan tenaga mereka. Selang sekian waktu, Plester Co. kembali meningkatkan diri dengan memesan seragam dan memperbarui kontrak kerja sama layanan. Beberapa poin selanjutnya kuevaluasi supaya pekerjaan lebih efektif, tertata, serta sistematis secara konsep maupun praktik di lapangan. Hal-hal terkait jabatan, pembagian wilayah, perangkat juga alur kerja pegawai, semua kureka sedemikian rupa biar Kelabang Merah mudah mengangkut kresek-kresek dari kota ke TPA sekali jalan. Puncaknya, dua bulan kemudian kami sudah bisa menyewa kantor dengan empat kendaraan operasional lalu truk pengangkut tadi bertambah jadi enam belas unit di bulan keempat. Haha. *** “Hoi, Mi!” “Ah, Pak Simon.” Aku turun dari truk sampah lantas menyapa pelanggan pertama Plester Co. tersebut. “Anda kelihatan makin cerah, Pak Simon.” “Hoho, kamu ini. Justru yang makin cerah itu kamu, Mi,” balas beliau, cekak pinggang sembari tersenyum. Hangat seperti biasa. “Bawa pegawai baru lihat-lihat lokasi lagikah?” “Haha, iya, Pak. Besok saya gak keliling lagi, jadi ceritanya hari ini mau pamit sekalian ngenalin pegawai.” “Hah?” Pak Simon melihat dua pegawai magangku lantas mencondongkan badan. “Saya gak salah dengar, kamu pindah tugas apa gimana? Kok, gak keliling lagi?” “Iya, Pak. Daerah sini sekarang dipegang manajer sama penyelia, saya jadinya pindah ke bagian kantor.” “Ke bagian kantor? Wah, mujur kamu!” Entah bagaimana harus kurespons muka senang Pak Simon kala itu, tapi tahu beliau turut bahagia dengar diriku pindah ke kantor sudah cukup bikin hati berbunga. “Awal ketemu, kamu sama teman kamu masih jalan kaki bawa-bawa papan dada. Sekarang, empat bulan dari pas itu, kamu naik truk terus malah udah mau pindah ke bagian kantor aja—eh, ya, temanmu kemarin gimana? Saya perasaan enggak pernah lihat kalian bareng lagi, deh.” “Oh, dia resign, Pak.” Aku gak mungkin bilang kami berdua ribut sejak hari pertama Plester Co. mulai jalan, ‘kan? Lagi pula, hubunganku dan Pareta juga rumit. “Katanya pindah ke Yotaar, tapi gak tahu kerja di apa.” “Oh ….” Mulut dan mata Pak Simon membulat. “Pantas. Saya kira kalian cuma beda daerah kerja, ternyata dia resign, ya.” Selain Pak Simon, beberapa pelanggan turut kusapa sepanjang jalan sampai ke jembatan tempat Kelabang Merah biasa kupanggil buat lanjut mengangkut gundukan kresek ke TPA hari tersebut. Dan, macam Pak Simon di halaman rumah beliau, mereka juga menyelamati, minta foto, sebagian bahkan mendoakan pas dengar diriku besok pindah jadi ke bagian kantor. Benar-benar hangat. Padahal tak kusebut maksud pindah ke bagian kantor tadi apa, haha. Apa pun, diriku bersyukur senyum tulus para pelanggan Plester Co. menutup sore itu dengan kehangatan. Terima kasih …. *** “Bos.” Besoknya, kegiatanku berlanjut. “Pemkot Foaer minta setengah keuntungan perusahaan buat izin kota mereka, ambil atau jangan?” Dan, sebagai direktur merangkap CEO Plester Co., pagiku dibuka dengan laporan keuangan bulan kemarin sama seabrek dokumen ini itu. Mataku sampai melotot sama kepala geleng-geleng lihat tumpukan kertas di meja kepala perusahaan yang harus selesai kubaca sebelum jam makan siang, argh. “Kamu bilang apa tadi?” tanyaku pada Sisi, Manajer Keuangan Plester Co. “Setengah keuntungan?” Gadis kacamata berambut bob, wangi, serta sangat rapi dalam balutan kemeja di balik blazer longgar dan rok hitam selutut itu mengangguk. “Berapa populasi mereka?” “Lima sampai enam ribu, Bos.” “Anggap lima ribu,” kataku lalu beralih ke berkas lain, “ambil aja.” “Bos?” “Apa lagi, Sisi?” tanyaku buat kedua kali, “kamu gak lihat laporan Wiji belum saya baca, hah?” “Wali Kota Mungli mengundang Anda makan malam.” Aku seketika terdiam, berpikir, coba mencerna informasi yang manajer keuanganku sampaikan barusan. “Mungli, TPA?” “Tempat Pembuangan Akhir, ya,” ulang Sisi sebelum lanjut merinci, “katanya usaha kita ilegal, undangan ini sekaligus iktikad baik Pemerintah Mungli buat menyambut kerja sama sama Plester Co. ….” Benar. Aku tahu cepat atau lambat hari ini akan datang, saat di mana usahaku dibenturkan dengan otoritas dan pemegang kekuasaan setempat. Hem. “Kapan?” “Minggu depan.” “Ngomong-ngomong, kenapa kamu yang kasih tahu saya, mana Stevan?” “Manajer Stevan masih ngelobi Wali Kota Yotaar,” timbrung kepala bagian personaliaku, Wiji, mendekat dengan dokumen baru yang langsung mendarat tepat di puncak tumpukan berkas di meja. “Tolong periksa yang ini dulu, Bos. Saya perlu buat rapat jam sembilan.” “Bagus!” komentarku rada buang muka, enek sarapanku tumpukan berkas butuh tanda tangan, “saya kira ada empat puluh orang lebih di kantor ini, tapi kenapa cuma saya yang sarapannya kertas sama pulpen?” Sisi spontan melepas senyum geli, dan cepat-cepat ia tahan pas kepalaku menoleh. Sedang Wiji, seketika melipat tangan lantas memiringkan muka merespons delik melas dari mataku. “Biar saya rinci,” sambut si kepala bagian personalia yang segera menepati kata-kata tersebut, “satu orang CEO, tiga manajer, dua asisten manajer, empat penyelia, tiga puluh dua pengemudi, dua pembantu umum merangkap juru masak, sama dua pegawai magang bakal akuntan baru. Empat puluh enam orang. Semua punya peran dengan tanggung jawab masing-masing, dan—” “Dan saya pemegang tanggung jawab tertinggi di kantor ini,” selaku mendahului agar ia berhenti, “tempat semua berkas yang butuh tanda tangan terdampar. Ya, ‘kan?” “Betul,” timpal Wiji yang lalu menganggukkan kepala sambil merem satu kali, “jadi tolong keluhan kayak barusannya dikurang-kurangi, ya, Bos. Saya juga capek ini nunggu tanda tangan Anda gak nempel-nempel dari tadi, padahal jam sembilan tinggal sejam setengah lagi.” Dengar itu, teman sesama manajer sebelah si kepala personalian langsung merapatkan bibir. Menahan tawa yang pada akhirnya tetap pecah walau singkat, ffth! ***

Plester Co.

Bab 3 Melawan Malas

Di publikasikan 01 Jun 2026 oleh Bengkoang

“Udah dapat kerjanya?” Seharian ini aku keliling kota bareng Pareta, mengetuk pintu belakang toko, restoran, sampai ke rumah-rumah penduduk sambil senyum menawarkan jasa kelola limbah rumah tangga. Plester Co. Hasilnya sederet nama pelanggan percobaan di kertas yang kupegang tambah satu orang nelangsa yang langsung ambruk di pojok taman sana, haha. “Si Mi curang!” protes Pareta, mengeluh di depan Niki dan semua anggota Geng Plester. “Dia seharian ini cuma nyatet terus basa-basi sama orang doang.” “Hei!” sanggahku, hendak bela diri. “Ngeyakinin orang buat jadi pelanggan kita juga butuh skill, tahu.” “Pelanggan, huh?” Niki mendekat. “Coba lihat kamu berhasil dapat pelanggan berapa.” Kuasongkan papan dada di tangan lalu bergabung dengan yang lain. “Kita baru keliling seperempat kota—” “Hari pertama seperempat kota dan badanku udah pegal-pegal!” sahut Pareta dari belakang, menyusul terus duduk bersama geng kami. “Aku gak mau ikut kamu besok, Mi.” “Hem.” Terserahlah, toh hari ini sudah selesai. “Ya, ya, kamu bebas mau ngapain aja besok, Pare.” “Lima belas orang di hari pertama, gak buruk.” Komentar Niki pas mengembalikan papan dada terdengar sinis serta agak remeh, tapi itu wajar. Lima belas pelanggan uji coba setelah panas-panasan seharian bagi ia dan gengnya yang biasa keliling kota memang tampak sepele, meskipun buatku mereka pembuka yang lumayan baik. “Seenggaknya mulai besok aku ada kerjaan,” balasku menerima papan dada tadi, “ketimbang nganggur.” “Cih! Serah.” “Lima belas pelanggan. Serius besok mau lanjut keliling kota lagi, Mi?” Kudeliki Pareta lantaran ia menanyakan hal yang sudah jelas, sebal. “Gak usah melotot,” pintanya sambil sigap menyilangkan tangan depan dada dan ambil jarak, pertahanan diri menghadapi delikanku sebelum fokus memperhatikan Niki di depan sana. “Kita, kan, fren.” “Perhatian semuanya ….” *** “Yakin gak mau ikut kita ambil makan di alun-a—” Besoknya, sesuai rencana, kubekap mulut Pareta pas ia menyapaku depan penginapan lalu melengos ‘tuk memulai hari. Gak ada yang perlu kubicarakan lagi soal kegiatan kami pagi itu. “Mi, tunggu!” Dan, ia yang katanya gak mau ikut aku hari ini malah menyusul. “Kamu gak dengar omongan Niki semalam, pemkot bakal bagi-bagi duit, seratus suth per orang sama seratus mapuluh kalau bawa bayi atau anak-anak?” Kutoleh mukanya sekilas, terus balik fokus lihat ke depan. “Mi, aku tahu kamu gengsi—oh, ayolah. Oi! Kita ini orang susah, kenapa malu nerima sumbangan?” Aku berhenti, berbalik dan menunggu dirinya, lalu cekak pinggang. “Terus kamu mau selamanya susah, gitu?” “Mi! Sadar, kapan kamu terima kenyataan kita itu gak punya apa-apa. Tinggal aja di kolong jembatan.” Kugerakkan kepala sambil mengerling sekali, isyarat menunjuk motel yang seminggu ini kutumpangi. “Ya …, kamu bisa maksain bayar motel—cuma kamu itu tetep gelan … bajumu boleh rapi, tapi ini semua gak ngebikin kita berdua beda. Kalau enggak ada Plester, sekarang mungkin kamu masih luntang-lantung di Stuckenborstel.” “Oh.” Satu sudut bibirku naik. “Terus kalian ngerasa aku berhutang budi, gitu?” “Ya.” “Dengar.” Kutunjuk pemuda di depanku. “Kita sekarang emang lagi susah, gak punya—apalah sebutannya, terserah. Cuma ingat, itu bukan alasan buat kamu berpangku tangan dan gak ngelakuin apa-apa. Paham?” “Ho. Tuan terhormat bisa khotbah, ya. Bagus, makan tuh gengsi!” Hah. Kurasa di situasi kami sekarang diriku memang cuma bisa menggeleng melihat punggung Pareta yang makin menjauh. Plester mungkin tampak saling peduli dari luar, tapi ketidakberdayaan yang terus mereka pelihara di antara anggotanya benar-benar bukan hal bagus. Bukan menampik keadaan yang memang sedang serba sulit, aku sendiri tahu bagaimana rasanya ditolak waktu melamar pekerjaan gegara gak bisa baca tulis dan penampilan kotor bulan lalu, diriku mengerti. Namun, menyerah pada keadaan sambil menghindar buat cari solusi juga salah. Aku tidak ingin begitu, hidup ini pilihan, dan aku mau yang terbaik meski kutahu takkan mudah. *** “Kamu datang lagi?” Aku menoleh. “Pak Simon.” Pak Simon, pria paruh baya berkulit pucat kemerahan pelanggan pertamaku kemarin. “Saya kira kalian cuma menipu kemarin, ternyata kamu betulan ambil sampah saya hari ini.” “Haha. Bapak bisa saja,” balasku sambil senyum, “Anda sudah bayar di muka untuk jasa kami, kewajiban saya datang kemari sampai bulan depan.” “Kamu tahu, di sini sering datang penipu pura-pura jual jasa. Inilah, itulah. Saya pikir kamu sama pemuda lusuh, maaf, teman kamu kemarin salah satunya. Lima belas suth saya, saya anggap sedekah.” “Mana bisa begitu, Pak.” Kuikat kresek sampah di halaman Pak Simon lantas kupanggul. “Anda ini. Mari.” “Tunggu!” panggil si pria paruh baya, berjalan menghampiriku. “Kalau kamu betul dari jasa ambil sampah apalah itu, tolong mampir ke rumah saudari saya. Dua blok dari sini, cat ungu—cuma rumah dia yang pakai warna ini, gak mungkin salah. Ah, ada pohon nangka juga di halamannya kalau kamu ragu.” Pak Simon mengasongiku lima belas suth lagi. “Keluarganya sibuk kerja jadi halaman rumahnya juga berantakan kayak saya, haha. Tolong sekalian kamu rapikan, ya. Saya kasih bonus kalau dia gak ngeluh depan rumahnya bau lagi.” “Oh.” Kuturunkan kresek sampah tadi sebentar, menerima uang Pak Simon, lantas mengambil papan dada dari pinggang. “Saya catat dulu, ya, Pak. Tolong nama sama alamat saudari bapak ….” Keliling kota dan mengambil kresek sampah dari halaman ke halaman begini mungkin memang capek, tapi uang hasil kerjanya halal. Juga, baik. Meskipun enggak sekaligus banyak kayak upah buruh, pelayan, sama pegawai-pegawai bergaji di kantor korporat. Eh?! Plester Co. juga masuk korporasi, ya? Hehe. Biarpun baru merintis …. *** “Beres!” Kutepuk tanganku lega selesai berkeliling dan mengambil kresek-kresek sampah di kota. “Sekarang …, Chloe.” Sejak dulu, Eldhera dan Benua Baru memang ajaib. Tolong jangan kaget kalau tiba-tiba aku mengeluarkan kapak perang kemudian mengubah wujudnya jadi kelabang raksasa model sekarang. Toh, kalian juga sudah pada tahu aku punya Kantung Hati Naga sama satu pengelola menara yang memang menampung barang-barang ajaib di belakang pinggang, ‘kan? Bukan hal baru. Balik ke si Kelabang Merah, kapak perangku yang sekarang berwujud lipan atau kelabang raksasa. Biar gak buluk sama karatan. Dia mau kupakai buat usaha—paling tidak sampai aku bisa beli kendaraan sendiri. “Oi, Merah. Gak usah ngeluh, di sini udah gak ada perang. Mending kupake buat ngangkut kresek-kresek itu atau enggak pernah kukeluarin sama sekali, hah?” Kelabang raksasaku mendekat, lalu antenanya ia gosokkan ke perutku. “Bagus. Begitu baru benar. Anak baik.” [Barang-barang Anda bisa disimpan sementara di Kantong Hati Naga, Tuan.] “Hem.” Mataku mendelik baca pesan Chloe. “Kresek-kresek itu isinya sampah. Jangan sok ngide mau situ tampung di Kantong Hati Naga, deh.” [Hanya niat membantu,] balas si pengelola kantung ajaib, [keputusan ada di tangan Anda.] “Ya, dan keputusanku jangan ngide sama muncul kalau gak kupanggil lagi.” [Dimengerti ….] Setelah semua kresek tadi kunaikkan ke punggung Kelabang Merah, kami pun melaju ke TPA terdekat dari kota tersebut. Merayap bersama semilir angin senja nan syahdu bertemankan garis jingga sepanjang mata memandang di kejauhan …. ***

Plester Co.

Bab 2 Plester Co.

Di publikasikan 01 Jun 2026 oleh Bengkoang

“Hah …, hah …, hah ….” “Haaah—mereka gak ngejar kita, ‘kan?” Aku ingin ketawa lihat Pareta dan Niki terkapar di trotoar. “Kamu kenapa, Mi?” “Cuma geli—Geng?!” “Mi, aku tahu buntelan lemak bikin kamu susah napas …, cuma, kalau ngomong jangan setengah-setengah …, hah, itu bikin kesel.” “Setuju ….” “Gak.” Kutepuk-tepuki bahu Pareta biar dia lihat sediri. “Bukan …, tuh, tuh! Mending lihat sendiri, deh.” “Apa?” “Kalian lihat apa?” “Gak tahu,” timpal Pareta, menoleh Niki lantas selonjoran. “Si Mi nyuruh lihat ke depan, tapi enggak tahu ada apa. Cuma langit cerah doang.” Aku berdecak dengar komentar Pareta, gak percaya dia gak paham maksudku. “Maksudnya coba lihat kota di depan. Gitu, loh, akh!” “Kota?” “Kota apa?” Sekian detik berlalu sebelum dua anggota Geng Plester itu kompak geleng kepala. “Gak ada apa-apa, tuh, Mi.” “Hah?” Mataku membulat. “Serius kalian gak lihat apa-apa?” “Emang apaan, sih?” tanya Niki, melihatku heran. “Gak usah main kode, bilang langsung aja kali, Mi.” “Hah.” Aku menggeleng lantas duduk di tiang lampu jalan. “Sebulan ini kalian nyari-nyari kerjaan, ‘kan—nah, kota di depan tuh cocok buat kita.” Masalah pertamaku selain bahasa, aksara, tempat tinggal dan makanan, juga adalah sumber pemasukan yang belum pasti. Benar-benar gak pasti. Dua bulanku mengikuti Geng Plester, mereka mengais hidup dari barang-barang sisa yang ditemukan sepanjang jalan. Gaya hidup yang tak bisa kuikuti, jelas saja. Di Eldhera aku bisa pergi berburu atau menukar besi-besi bekas pakai buat kulebur jadi pisau sama barang-barang penunjang keperluan lain, paling pahit diriku akan mengambil pesanan serikat kalau gak mendaftar paruh waktu sebagai pengumpul mayat sama coba pekerjaan-pekerjaan lain di Kantor Muri Distrik. Di sini, mana bisa. Walaupun pada praktiknya diriku tetap mengandalkan minyak cendana Chloe, kantung ajaibku, sebulan bersama mereka-mereka ini. Intinya ada masalah fundamental lain yang harus kuhadapi di Benua Baru, itu saja. Cukup. “Hei, Mi. Orang bodoh juga tahu banyak kerjaan di tempat kumuh kayak gitu, pe-er buat pemerintah kota mereka. Kamu lagi bercanda, ya?” “Gak. Aku enggak bercanda. Gundukan sampah di ujung jembatan ini, misal, tanda kalau pemerintah kota mereka belum punya sistem pengelolaan limbah—itu peluang kita buat punya kerjaan di sana.” Niki dan Pareta silih lirik sebelum keduanya kompak angkat bahu, tidak paham maksud kata-kataku. “Oke. Kamu boleh coba cari kerjaan di sana,” ujar Niki, tersenyum singkat lalu putar badan. Acuh tak acuh menanggapi ide ‘brilian’ barusan, sepertinya. “Aku masih ada kerjaan di Yotaar, jangan lupa malam ini kita ada operasi. Segitu aja, bye!” “Hah.” Kurasa menunjukkan memang lebih mudah daripada bicara. “Pare, kamu mau ikut aku ke kota itu atau balik ke Yotaar kayak Niki?” “A ….” Anak itu menjuling. “Aku gak ada kerjaan, sih. Ikut kamu aja, deh. Hehe.” Bagus. Setidaknya aku gak sendiri …. *** “Oi, Mi. Buat apa kita beli pulpen sama kertas segala?” “Buat nyatet-lah, apa lagi?” Aku menjuling menanggapi Pareta waktu keluar dari toko ATK, ia yang banyak tanya kadang menyebalkan. “Nanti kamu tahu sendiri, kok.” Rencananya, aku dan pemuda satu sebelahku mau mengetuk pintu rumah-rumah di sini ‘tuk menawarkan jasa ambil sampah bulanan. Tiap sore atau pagi hari kami akan mengambil sampah rumah tangga mereka buat dibuangkan ke tempat pembuangan akhir atau TPA terdekat dari kota ini. Begitu. Doakan semua lancar dan kami dapat pelanggan. “Pare, kita ke gang itu dulu ….” Menurut pengalamanku, masalah limbah semacam ini berakar dari mental tambah kemalasan yang secara sadar atau tidak terpelihara lewat perilaku sehari-hari. Bukan cuma kesadaran soal kebersihan lingkungan. Sekali abai, kemungkinan selamanya akan tetap begitu. Dampaknya macam-macam, mulai masalah kesehatatan ringan sampai hal-hal berat yang tidak kita tahu. Namun, kita bukan mau membahas itu. Perhatianku sekarang ialah bagaimana memanfaatkan kemalasan orang-orang kota ini buat jadi sumber uang. Hehe. “Permisi, kami dari—” “Permisi, kami—” “Permisi.” “Kami ….” Meskipun praktik dan langkah pertamanya memang tidak mudah. “Hah!” Pareta merebah di rumput halaman sebuah rumah. “Kamu serius mau ngetuk rumah semua orang di sini, Mi? Kita udah keliling delapan blok, diusir tiga kali, sama dikejar anjing galak dua kali.” “Namanya juga usaha,” balasku yang kala itu tertarik oleh aktivitas seseorang, “tunggu sini bentar.” “Oi, Mi? Kamu mau ke mana ….” Keliling delapan blok sambil kerja masih belum apa-apa ketimbang keliling kota buat nyari kerjaan. Apalagi di usaha ini kami kepala, bukan buntut bahkan lebih remeh karena rentan kena pecat kapan saja bos suka. Bukan maksud merendahkan kaum-kaum karyawan berprestasi tinggi pekerja keras jujur dengan dedikasi penuh atau semacamnya, sungguh, ini hanya keluh atas pengalaman lapangan di masa lalu. Tolong jangan tersinggung, oke? “Permisi.” Aku mau coba dekati calon pelanggan dulu. “Permisi,” panggilku ‘tuk kedua kali, ”salam, Bapak di sana. Selamat siang.” “Ya?” “Hallo, Bapak. Perkenalkan, saya Mi—” “Langsung aja, kamu mau apa ke halaman saya?” “Oh, begini. Saya dan teman sebelah sana dari Korporasi Plester atau pendeknya Plester Co., Bapak. Kami baru di kota ini, mau menawarkan jasa kelolakan limbah rumah tangga bulanan. Jadi setiap pagi atau sore hari selama satu bulan tertanggal langganan, tim kami akan—” “Plester? Korporasi? Kok …, maaf, tapi penampilan temanmu di sana kayak gelandangan?” “Oh. Terima kasih, Anda sungguh jeli. Sebagian pekerja Plester Co. memang para tunawisma lokal yang sengaja diberdayakan lewat usaha-usaha sejenis i—” “Kalian bisa dipercaya?” Ya, ampun. Apa penampilanku dan Pareta tak semeyakinkan itu? “Kalau Bapak belum yakin,” timpalku sambil senyum, “kita bisa mulai uji coba satu bulan, setengah harga dibayar di muka dan jika kinerja tim kami tak memuaskan Bapak tak perlu lanjut berlangganan.” Laki-laki paruh baya di depanku memiringkan muka sebentar. “Apa jasa kalian tadi?” “Kelolakan limbah rumah tangga, Bapak.” “Jadi, kamu sama teman kamu di sana bakal ke sini tiap hari selama satu bulan buat ambil sampah-sampah rumah tangga saya?” “Betul.” “Berapa?” “Normalnya lima puluh suth per bulan,” sambutku semringah mengenalkan paket layanan, “karena kami masih promo dan Bapak masuk pelanggan uji coba pertama, cukup tiga puluh suth saja.” “Satu suth per hari?” “Betul.” “Kalian meragukan,” komentar orang itu, yang sialnya harus tetap kuterima pakai senyum. “Cuma, biaya makan keluarga saya aja lima belas suth per hari. Huh. Keluar lima belas suth lagi hari ini bukan masalah.” “Ah!” Segera kuasongkan kertas dan pulpen yang kubawa. “Tolong tulis nama Anda di sini, tanda tangan sebelah sini … terima kasih, Bapak.” Pelangan pertamaku, laki-laki paruh baya dengan kulit pucat kemerahan. Tidak buruk. *** “Berhasil?” Kulihat Pareta sambil senyum. “Berhasillah,” balasku nan lantas memintanya mulai bekerja, “sana ambilin plastik di tong itu, kamu yang bawa plastik sampah hari ini.” “Sialan ….” Jasa kelola sampah bulanan, Plester Co. Kalian mungkin menganggapku terlalu cepat senang sebab sudah senyum lebar padahal baru dapat satu pelanggan, tapi siapa peduli. Biarpun baru satu tetap dihitung pelanggan berbayar, ya, ‘kan? “Kita ke mana lagi?” “Ke mana lagi?” Kulirik Pareta sebentar sebelum teriak semangat, “Kita lanjut ke rumah di seberaaang!” “Arrgh! Bisa tenang sedikit gak? Aku malas dilihatin orang-orang begi—” “Gak papa, biar semua orang tahu kita dari perusahaan kelola limbah bulanan ada di sini ….” ***

Plester Co.