Garis Langit Abu-abu
Genggam Erat, Lepaskan Perlahan Sebuah Catatan Tentang Kita ini bukan sekadar buku, melainkan sebuah cermin. Di dalamnya, hiduplah Lestari Cendana Ayu, seorang dokter yang merawat luka fisik orang lain sembari mencoba memahami luka batinnya sendiri. Lalu ada Aditia Wibawa Sena, seorang penulis yang piawai merangkai kata untuk dunia, namun terkadang gagap menerjemahkan perasaannya sendiri. Novel ini adalah manifestasi dari keyakinan, bahwa cerita terbaik sering kali ditemukan dalam potongan-potongan kehidupan yang paling biasa: secangkir kopi yang mendingin, percakapan canggung di telepon, atau keheningan panjang yang justru berbicara lebih banyak. Dari senyum tipis karena lelucon receh, ketegangan yang membuat napas tertahan, hingga haru biru yang melegakan. Ini bukan bacaan untuk sekali habis, melainkan seorang teman yang bisa didatangi kembali saat hidup terasa terlalu riuh atau terlalu sepi. (akan terbit setiap Sabtu)
Titik Nol
-
Pagi Setelah Jaga Malam
386 kata
-
Dunia yang Dijaga
639 kata
-
Aroma Hujan dan Teh Jahe
820 kata
-
Makan Malam dan Peta Luka Batin
923 kata
-
Musik Hujan di Jendela Kaca
804 kata
-
Sebelum Esok Kembali Datang
772 kata
-
Pintu Menuju Senin
748 kata
-
Dasi Abu-Abu dan Jas Dokter yang Putih
842 kata
-
Perisai Tak Terlihat di Jalanan
826 kata
-
Gema Sunyi dan Secangkir Teh Pagi
754 kata
-
Garis Batas Antara Dua Dunia
899 kata
-
Ritual Birokrasi dan Baris Puisi yang Tersembunyi
755 kata
-
Detak Jantung yang Berlari dan Tangan yang Tenang
795 kata
-
Rapat Koordinasi dan Pesan Singkat di Bawah Meja
752 kata
-
Kopi Dosis Kedua dan Jeda Lima Menit
779 kata
-
Jarum Jam yang Merangkak Pulang
808 kata
-
Pintu yang Terbuka dan Aroma Martabak Keju
786 kata
-
Cerita yang Dibagi dan yang Disimpan Sendiri
849 kata
-
Napas yang Melambat dan Channel Televisi yang Terlewat
723 kata
-
Kesemutan di Kaki dan Selimut Hangat
765 kata