Dunia yang Dijaga

Adi menutup pintu kamar Lestari dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Bunyi klik pelan dari gerendel pintu menjadi satu-satunya penanda, sebuah segel tak terlihat yang memisahkan dunia luar dari ruang suci tempat Lestari memulihkan dirinya.

Apartemen itu kini terasa begitu hening. Berbeda dengan keheningan canggung atau kosong, ini adalah keheningan yang penuh—penuh dengan tujuan. Adi berdiri sejenak di koridor, membiarkan keheningan itu meresap. Inilah tugasnya sekarang: menjadi penjaga keheningan ini.

Ia berjalan kembali ke dapur. Di atas meja, cangkir kopi Lestari yang sudah kosong dan cangkir tehnya yang masih terisi setengah berdiri berdampingan. Sebuah potret kecil dari pagi mereka. Adi membawa kedua cangkir itu ke wastafel. Ia membasuhnya perlahan di bawah air mengalir, membersihkan sisa-sisa percakapan berat mereka, membasuh jejak lelah dari bibir cangkir Lestari.

Ini bukan sekadar pekerjaan rumah tangga; ini adalah ritual. Sebuah cara untuk menata kembali dunia kecil mereka setelah diguncang badai kecil.

Pandangannya kemudian jatuh pada sebuah kursi makan, tempat Lestari melempar seragam jaganya. Pakaian itu tergeletak begitu saja, kusut dan tak berdaya, seolah masih menyimpan gema dari semua peristiwa semalam. Adi mengangkatnya. Kainnya terasa kaku dan tercium samar aroma khas rumah sakit—campuran antiseptik, obat, dan sesuatu yang tak terlukiskan, mungkin aroma dari kecemasan itu sendiri.

Dengan hati-hati, Adi melipat seragam itu. Bukan lipatan yang rapi sempurna, melainkan lipatan yang penuh hormat. Ia sedang tidak melipat sepotong kain; ia sedang merawat sebuah zirah, baju perang milik pejuang yang paling ia cintai.


..........................................................

Menjaga seseorang bukanlah tentang memikul semua bebannya.

Terkadang, ia sesederhana membereskan hal-hal kecil di sekitarnya, agar saat ia kembali membuka mata, dunianya terasa sedikit lebih ringan.

..........................................................


Setelah dapur kembali rapi dan zirah itu tersimpan aman, Adi berjalan menuju sudut favoritnya: sebuah meja kayu kecil di dekat jendela yang menghadap ke hiruk pikuk kota. Di sinilah dunianya yang lain berada. Dunia kata-kata, kalimat, dan paragraf. Ia membuka buku catatannya yang tebal, mengambil pena, dan menatap halaman kosong di hadapannya.

Biasanya, setelah sebuah momen yang begitu kaya akan emosi, jemarinya akan menari-nari, ingin segera menangkap semua perasaan itu ke dalam tulisan. Tapi hari ini berbeda. Halaman itu tetap kosong. Pikirannya tidak bisa menemukan kata yang tepat.

Ia menyadari sesuatu. Apa yang baru saja ia saksikan—kerapuhan Lestari, kekuatan dalam diam mereka—terlalu suci untuk segera diubah menjadi sebuah cerita. Rasanya seperti sebuah pengkhianatan. Momen itu adalah milik mereka berdua, bukan untuk konsumsi pembaca.

Adi tidak mencintai Lestari untuk dijadikan materi tulisan. Ia mencintai sang dokter dengan tangan yang cekatan dan hati yang kadang berantakan. Ia mencintai perempuan yang bisa menjelaskan patofisiologi penyakit jantung dengan fasih, namun kesulitan menjelaskan luka di hatinya sendiri. Ia mencintai semua versi Lestari yang ada.

Ia sadar, tugasnya sebagai seorang penulis dan sebagai pasangan Lestari kadang bertentangan. Penulis ingin mengabadikan, pasangan ingin melindungi. Hari ini, ia memilih untuk menjadi yang kedua.


..........................................................

Mencintai seseorang berarti mencintai semua versi dirinya yang ada.

Versi yang kuat saat menyapa dunia, versi yang lelah saat menutup pintu, dan versi rapuh yang hanya berani ia tunjukkan kepadamu.

..........................................................


Adi menutup kembali buku catatannya. Mungkin nanti, suatu saat, ia akan menulis tentang ini. Bukan tentang detailnya, melainkan tentang rasanya. Tentang bagaimana cinta terkadang bukanlah tentang kata-kata besar, melainkan tentang kehadiran yang tak bersuara.

Ia bangkit dari kursinya dan pindah ke sofa.

Sinar matahari siang mulai menerobos masuk melalui jendela, menciptakan pola-pola cahaya di lantai kayu. Adi tidak menyalakan televisi atau musik. Ia hanya duduk di sana, dalam keheningan yang ia jaga dengan segenap hatinya.

Ia memejamkan mata, mendengarkan deru napas kota di kejauhan, dan detak jantungnya sendiri yang tenang. Di dalam kamar, Lestari sedang tidur, mengisi kembali energinya. Dan di ruang tengah, Adi sedang berjaga, mengisi kembali dunianya dengan kedamaian.

Ini adalah pembagian peran yang tak pernah mereka tulis dalam perjanjian apa pun. Lestari menjaga kehidupan di luar sana. Adi menjaga kehidupan kecil mereka di dalam sini. Dan untuk saat ini, keseimbangan itu terasa begitu sempurna. Begitu cukup.

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!