Perisai Tak Terlihat di Jalanan
Langkah kaki Lestari menggema pelan di koridor apartemen yang sepi. Udara pagi masih terasa sejuk, sebuah kontras yang tajam dengan kehangatan yang baru saja ia tinggalkan di dalam unitnya. Saat pintu lift terbuka dan membawanya turun ke lantai parkir basement, ia bisa merasakan perubahan atmosfer yang drastis. Keharuman kopi dan roti panggang digantikan oleh aroma beton yang lembap dan sisa-sisa gas buang. Ini adalah gerbang pertama menuju dunia luar.
Ia menemukan mobilnya di sudut yang familier. Saat ia membuka kunci dan duduk di belakang kemudi, ia disambut oleh keheningan yang berbeda dari keheningan di apartemen. Ini adalah keheningan yang mekanis, yang mengisolasi. Matanya tertumbuk pada sebuah gantungan kunci berbentuk robot kayu kecil yang sedikit konyol, tergantung di kaca spion tengah. Hadiah iseng dari Adi beberapa bulan lalu. "Biar ada yang jagain kamu di jalan," kata Adi waktu itu. Lestari tersenyum, menyentuh kepala robot kayu itu dengan ujung jarinya. Sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan.
Mesin mobil menyala dengan deru yang teredam, dan saat mobilnya perlahan keluar dari basement menuju jalanan utama, Lestari menarik napas. Waktu bermain sudah selesai. Panggungnya kini adalah kota Bandung yang sedang menggeliat bangun.
Jalanan di pagi hari adalah sebuah simfoni kekacauan yang terorganisir. Angkot berwarna hijau dan biru berhenti dan melaju sesuka hati, motor-motor menyelinap di celah-celah sempit seperti ikan-ikan kecil, dan para pedagang kaki lima sudah memulai perniagaan mereka di trotoar. Klakson bersahut-sahutan, menciptakan musik latar yang khas untuk pagi hari di kota besar. Biasanya, simfoni ini akan membuat otot-otot di bahu Lestari menegang. Ia akan menggenggam setir lebih erat, bibirnya terkatup rapat, fokusnya terbagi antara jalan di depan dan daftar tugas yang sudah berputar di kepalanya.
Tapi pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada sebuah lapisan penyangga yang tak terlihat di antara dirinya dan kekacauan di luar.
..........................................................
Fondasi hari yang kokoh tidak akan menghentikan badai-badai kecil di luar sana—klakson yang bising, jalanan yang macet, atau antrean yang panjang.
Tapi ia akan berfungsi sebagai perisai tak terlihat, memastikan bahwa riak-riak kecil itu hanya membasahi ujung kaki, tidak sampai menenggelamkan seluruh jiwa.
..........................................................
Sebuah angkot di depannya tiba-tiba mengerem mendadak untuk menaikkan penumpang. Lestari menginjak rem dengan sigap, mobilnya berhenti hanya beberapa senti dari bemper angkot itu. Lestari yang kemarin mungkin akan menghela napas panjang, sedikit menggerutu di dalam hati. Lestari yang hari ini hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum. Ia teringat percakapannya dengan Adi saat sarapan.
“Tingkat urgensinya sedikit berbeda, ya.”
Ia membayangkan Adi duduk di sampingnya sekarang, mungkin akan berkomentar jenaka, "Nah, itu dia. Urgensi supir angkot dalam mengejar setoran jelas mengalahkan urgensi kita untuk sampai di tempat kerja tepat waktu. Skala prioritas, Sayang." Bayangan itu membuatnya terkekeh sendiri di dalam mobil. Tiba-tiba, kemacetan tidak lagi terasa begitu menyebalkan. Itu hanya menjadi bagian dari pemandangan pagi.
Ia menyalakan radio, tetapi bukan untuk mencari berita pagi yang sering kali penuh dengan kabar buruk. Ia mencari stasiun yang memutar lagu-lagu lama yang menenangkan. Pikirannya melayang kembali pada kehangatan cangkir kopi di tangannya tadi, pada cara Adi merapikan kerahnya, pada kecupan singkat di ambang pintu. Kenangan-kenangan kecil itu menjadi perisai tak terlihatnya. Setiap klakson yang menusuk telinga, setiap motor yang memotong jalurnya, seolah memantul dari perisai itu, tidak mampu menembus kedamaian yang telah ia bangun bersama Adi pagi ini.
Setelah dua puluh menit yang terasa lebih ringan dari biasanya, gedung rumah sakit yang megah dan familier mulai terlihat di kejauhan. Sebuah benteng putih yang menjadi rumah keduanya.
..........................................................
Kekuatan sejati seorang profesional bukanlah topeng tanpa emosi yang ia kenakan. Kekuatan sejatinya adalah hati yang terisi penuh sebelum ia berangkat kerja; terisi oleh kehangatan, oleh rasa aman, oleh keyakinan bahwa ada seseorang yang menunggunya pulang.
Amunisi terbaik bukanlah ketangguhan, melainkan kelembutan.
..........................................................
Lestari membelokkan mobilnya memasuki gerbang rumah sakit, melambai pada petugas keamanan yang sudah mengenalnya. Di sini, kekacauan jalanan digantikan oleh ketertiban yang tegang. Ambulans siaga di depan UGD, orang-orang berjalan dengan langkah cepat dan tujuan yang jelas. Ini adalah dunia yang menuntut fokus seratus persen.
Ia memarkir mobilnya di area parkir khusus dokter. Sebelum mematikan mesin, ia berhenti sejenak. Keheningan di dalam mobil kembali terasa. Ini adalah momen transisi terakhir. Di sini, di ruang kecil ini, ia akan melepaskan sisa-sisa dari Lestari sang kekasih, dan sepenuhnya menjadi Dokter Ayu sang profesional.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca spion. Merapikan beberapa helai rambutnya yang keluar dari ikatan. Ia melihat matanya sendiri. Ada ketenangan di sana, ya, tetapi kini juga ada ketajaman, sebuah kesiapan yang terlatih. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Udara yang ia hirup terasa seperti kedamaian dari paginya bersama Adi. Udara yang ia embuskan terasa seperti resolusi untuk menghadapi apa pun yang akan hari ini lemparkan padanya.
Ia menyentuh kepala robot kayu di spionnya untuk terakhir kali. "Doakan aku beruntung," bisiknya pada benda mati itu. Lalu, ia membuka pintu mobil. Kakinya yang berbalut sepatu datar yang praktis menapak di atas aspal parkiran. Pintu mobil ditutup dengan bunyi yang mantap. Perisai tak terlihat itu kini telah menyatu dengan dirinya. Ia berjalan tegap menuju pintu lobi rumah sakit. Ia siap.
Kasih tip buat penulis
