Gema Sunyi dan Secangkir Teh Pagi
Bunyi pintu apartemen yang tertutup disusul oleh suara kunci yang diputar dari luar terdengar begitu final. Dan kemudian, sunyi. Adi berdiri terpaku di ruang tengah selama beberapa detik, mendengarkan kesunyian itu. Ini adalah fenomena yang aneh. Apartemennya kini secara teknis kosong, tetapi rasanya justru lebih penuh. Penuh dengan sisa-sisa kehadiran Lestari.
Ada lekukan samar di bantal sofa tempat mereka duduk tadi. Ada aroma lembut dari parfum Lestari yang masih tertinggal di udara, berbaur dengan sisa-sisa wangi kopi. Bahkan keheningan itu sendiri terasa berbeda; bukan keheningan yang hampa, melainkan keheningan yang bergema, seolah dinding-dinding apartemen masih menyimpan getaran dari tawa dan percakapan mereka beberapa saat yang lalu.
Adi tersenyum tipis. Ia berjalan ke dapur dan mulai membereskan piring-piring sarapan mereka. Mencuci piring adalah salah satu pekerjaan paling membosankan di dunia, tetapi pagi ini, kegiatan itu terasa seperti sebuah meditasi. Saat membilas piring yang tadi digunakan Lestari, ia teringat ekspresi wajahnya saat menceritakan tentang pasiennya, lalu bagaimana ekspresi itu berubah menjadi tawa renyah karena leluconnya yang "receh". Piring-piring itu bukan lagi sekadar benda kotor, melainkan artefak dari sebuah pagi yang berharga.
Setelah dapur kembali bersih, barulah tiba waktunya untuk ritual pribadinya. Jika kopi adalah bahan bakar Lestari yang beroktan tinggi, maka minuman Adi adalah solar yang bekerja lambat dan stabil. Ia memasak air hingga mendidih, lalu menuangkannya ke dalam sebuah gelas bening yang sudah diisi dengan dua sendok teh tubruk dan sedikit gula batu. Ia mengaduknya perlahan, memperhatikan daun-daun teh itu menari-nari sebelum akhirnya mengendap di dasar. Teh tubruk. Minuman para pemikir dan perenung, begitu katanya pada Lestari suatu waktu.
..........................................................
Kesendirian setelah melepas seseorang pergi bukanlah kesepian. Itu adalah sebuah ruang hening yang masih hangat, sebuah jeda di mana gema tawa dan sisa-sisa percakapan masih menari-nari di udara.
Itu adalah bukti bahwa sebagian dari dirinya memilih untuk tetap tinggal.
..........................................................
Sambil membawa gelas tehnya yang hangat, Adi duduk di singgasananya: meja kayu kecil di dekat jendela. Di sinilah Aditia sang staf pemerintah beristirahat, dan Adi sang penulis mengambil alih. Pemandangan dari jendela kini lebih ramai. Lalu lintas Senin pagi sudah mencapai puncaknya. Dari ketinggian apartemennya, semua mobil dan motor itu tampak seperti mainan yang bergerak lambat. Ia bertanya-tanya, di antara lautan kendaraan itu, di manakah mobil Lestari sekarang? Apakah perisai tak terlihatnya bekerja dengan baik?
Ia membuka buku catatan kulitnya yang sudah usang. Halaman-halamannya penuh dengan coretan, kalimat-kalimat acak, dan sketsa-sketsa kecil. Ia tidak berniat menulis sebuah bab atau bahkan paragraf. Ia hanya ingin menangkap satu momen kecil dari pagi ini sebelum menguap. Jarinya yang memegang pena berhenti sejenak, lalu ia menulis:
Robot kayu di kaca spion. Malaikat pelindung paling konyol di jalanan Bandung. Tugasnya: memastikan sang dokter tidak ikut-ikutan barbar seperti supir angkot.
Ia membaca kembali tulisan itu dan terkekeh pelan. Sebuah "hal receh" yang hanya akan ia dan Lestari mengerti. Inilah cara kerjanya. Ia mengumpulkan fragmen-fragmen kecil dari kehidupannya, menyimpannya seperti harta karun, yang suatu saat nanti mungkin akan ia rangkai menjadi sebuah cerita utuh.
Namun, jam di dinding terus berdetak tanpa kompromi. Waktu untuk Adi sang penulis sudah habis. Ia menatap jam, lalu menghela napas. Waktunya untuk bertransformasi.
..........................................................
Di dalam diri setiap orang yang menjalani rutinitas, sering kali hidup seorang penyair, pelukis, atau musisi yang terpaksa diam.
Kebahagiaan adalah kemampuan untuk membiarkan suara tersembunyi itu berbisik sesekali—mencatat satu baris puisi di sela-sela laporan, atau menyenandungkan lagu di tengah koridor yang kaku.
..........................................................
Adi menutup buku catatannya dengan sebuah gerakan tegas. Ia menghabiskan sisa tehnya dalam satu tegukan, seolah sedang menelan kembali persona penulisnya, menyimpannya di dalam untuk sementara waktu. Ia kembali ke kamar, berganti pakaian dengan kemeja dan celana bahannya, mengikat dasi abu-abunya dengan gerakan yang sudah di luar kepala. Transformasi itu kini selesai.
Sebelum berangkat, ia melakukan patroli terakhir di apartemen. Mematikan lampu dapur, memastikan jendela terkunci. Matanya tertumbuk pada cangkir kopi biru tua milik Lestari yang sudah bersih dan berdiri terbalik di rak pengering. Sebuah benda mati yang terasa begitu hidup. Ia menyentuhnya sekilas dengan ujung jarinya, sebuah perpisahan tanpa suara.
Ia meraih tas kerjanya, sebuah tas selempang praktis yang isinya jauh dari kata puitis: laptop, dokumen, dan kotak makan siang. Saat ia membuka pintu apartemen untuk melangkah keluar, udara di dalam terasa berbeda dengan udara di luar koridor. Udara di dalam masih menyimpan kehangatan pagi mereka.
Ia menarik pintu hingga tertutup. Memutar kunci. Bunyi klik dari gerendel yang mengunci terasa seperti penutup dari babak pagi itu. Apartemen itu kini kembali menjadi ruang yang sunyi, sebuah sangkar emas yang akan dengan sabar menunggu kedua penghuninya kembali pulang. Adi berbalik, melangkah menuju lift, siap untuk memainkan perannya di panggungnya sendiri.
Kasih tip buat penulis
