Pagi Setelah Jaga Malam

Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi bagi Lestari, ini adalah senja. Senja dari hari sepanjang 48 jam yang baru saja ia lalui di rumah sakit.

Ia membuka pintu apartemennya pelan, berharap tidak membangunkan Adi.

Namun, Adi sudah duduk di meja makan. Dengan secangkir teh kamomil yang uapnya menari-nari di udara. Di samping cangkirnya, ada segelas air putih, secangkir kopi dan sepiring roti bakar. Untuk Lestari.

Adi tidak bertanya, "Bagaimana semalam?" Ia tahu pertanyaan itu terlalu berat untuk dijawab sekarang. Sebagai seorang penulis, ia adalah pembaca raut wajah yang ulung. Ia bisa melihat sisa-sisa pertarungan semalam di mata Lestari yang sayu, di bahunya yang sedikit merosot.

"Duduklah, Dok. Pasienmu hari ini hanya roti bakar ini," kata Adi lembut, menarik kursi untuknya.

Lestari tersenyum tipis, meletakkan tasnya, dan membiarkan tubuhnya jatuh ke kursi.

Ia meraih cangkir kopinya yang sudah disiapkan Adi—hitam, sedikit gula, persis seperti yang ia suka. Tangan yang terlatih membedah dan menjahit itu kini terasa sedikit gemetar saat memegang cangkir. Lelah.


..........................................................

Beban terberat di pundak seorang penyembuh adalah jeda sunyi setelah ia selesai menyelamatkan orang lain.

Saat adrenalin surut dan yang tersisa hanyalah kehampaan dan pertanyaan, "Sudah cukup baikkah aku?"

..........................................................


Mereka duduk dalam diam selama beberapa menit. Lestari menyesap kopinya, membiarkan pahitnya kafein membangunkan kembali sel-sel tubuhnya yang tertidur. Adi menyesap tehnya, kehadirannya terasa seperti selimut hangat.

"Aku tidak berhasil menyelamatkan anak laki-laki itu," bisik Lestari akhirnya. Suaranya serak. Kalimat itu menggantung di udara, berat dengan segala hal yang tidak terucapkan.

Adi tidak mengatakan, "Kamu sudah melakukan yang terbaik," atau "Itu bukan salahmu." Klise-klise itu tidak akan pernah cukup. Sebaliknya, ia menggeser kursinya, mendekat, dan meletakkan tangannya di atas tangan Lestari yang dingin. Ia hanya diam dan menggenggam.

Genggaman itu berkata: “Aku tidak mengerti rasa sakitmu sepenuhnya, tapi aku di sini. Kamu tidak sendirian di dalamnya.”


..........................................................

Cinta yang dewasa tidak selalu tentang menawarkan solusi. Sering kali, ia adalah tentang keberanian untuk duduk bersama di tengah masalah yang belum ada jawabannya

..........................................................


"Terima kasih untuk kopinya," kata Lestari, membalas genggaman Adi.

"Sama-sama," jawab Adi.

"Sekarang habiskan rotimu, lalu tidurlah. Biar aku yang jaga dunia hari ini."

Pagi itu, di sebuah dapur kecil, seorang dokter yang lelah menemukan tempatnya untuk sembuh. Bukan karena obat atau perawatan, melainkan karena kehadiran seseorang yang mengerti bahwa pahlawan pun butuh tempat untuk pulang dan menjadi manusia biasa.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!