Dasi Abu-Abu dan Jas Dokter yang Putih

Setelah tegukan kopi terakhir, energi mulai menjalari tubuh Lestari. Kabut kantuk telah sepenuhnya terangkat, digantikan oleh kesadaran jernih akan hari yang terbentang di hadapannya. Mereka pindah dari kamar ke dapur, sebuah pergeseran dari ruang istirahat ke ruang fungsional. Adi, yang sudah lebih dulu bergerak, sedang menyiapkan sarapan yang paling efisien namun penuh perhatian: dua tangkup roti gandum panggang dengan alpukat yang ditumbuk dan sedikit taburan lada hitam.

"Silakan, sarapan untuk para juara," kata Adi sambil meletakkan piring di depan Lestari.

Lestari tersenyum sambil mengambil rotinya. "Juara, ya? Rasanya lebih seperti gladiator yang akan masuk ke arena."

Adi terkekeh sambil mengoleskan selai pada rotinya sendiri. "Tugasmu hari ini: menyelamatkan nyawa, membuat keputusan sepersekian detik, menjadi harapan bagi banyak orang. Tugas saya: memastikan notulensi rapat kemarin tidak tersesat di antara meja A dan meja B, dan merespons tiga belas email dengan kata pembuka 'Dengan hormat'. Tingkat urgensinya sedikit berbeda, ya."

Lestari tertawa, tawa renyah pertama di hari Seninnya. "Jangan meremehkan dirimu. Tanpa orang-orang yang memastikan dokumen tidak tersesat, para gladiator ini tidak akan pernah digaji."

Mereka menyantap sarapan dalam irama yang cepat namun tidak tergesa-gesa, diiringi oleh obrolan-obrolan ringan. Membicarakan hal-hal kecil—seperti menebak apakah jalanan akan macet atau tidak—terasa seperti sebuah kemewahan, cara mereka menunda sejenak beban pikiran tentang pekerjaan masing-masing. Ini adalah momen terakhir mereka sebagai "kita" sebelum terbagi menjadi "aku" dan "kamu" untuk delapan atau sepuluh jam ke depan.

"Aku mungkin pulang malam," kata Lestari di sela-sela kunyahannya, sebuah kalimat yang sudah menjadi bagian dari rutinitas mereka.

"Aku tahu," jawab Adi. "Aku akan sisakan makan malam. Atau kalau mau, aku bisa samperin ke rumah sakit nanti malam, bawain sesuatu yang hangat."

Lestari menatapnya, rasa terima kasih terpancar di matanya. Tawaran sederhana itu terasa lebih berarti daripada ribuan janji romantis.


..........................................................

Setiap pagi kita mengenakan seragam kita masing-masing, entah itu jas putih, dasi, atau sekadar senyum profesional. Kita menjadi arsitek, dokter, penulis.

Tapi cinta sejati adalah tentang memiliki seseorang yang, saat menatapmu dalam seragam itu, masih bisa melihat dengan jelas anak kecil yang pernah bermimpi untuk menjadi itu semua.

..........................................................


Selesai sarapan, mereka berpisah ke pos persiapan masing-masing. Sebuah tarian tanpa suara yang sudah mereka hafal di luar kepala.

Adi masuk ke kamar, membuka lemari, dan memilih senjatanya untuk hari itu: kemeja katun biru muda yang disetrika rapi, celana bahan berwarna gelap, dan sebuah dasi abu-abu bermotif garis halus. Ia mengenakannya dengan gerakan yang efisien dan terlatih. Saat ia berdiri di depan cermin untuk mengikat dasinya, simpul four-in-hand yang sempurna itu seolah mengunci persona Aditia Wibawa Sena, sang staf pemerintah, pada tempatnya. Pikirannya sudah mulai memetakan tugas-tugas birokratis yang menunggunya. Namun, di balik tatapan matanya yang fokus pada simpul dasi, sebagian kecil dari benaknya—bagian sang penulis—sedang mencatat detail pagi itu: warna cahaya, rasa roti alpukat, dan tawa renyah Lestari.

Di saat yang bersamaan, di kamar mandi, Lestari sedang melalui transformasinya sendiri. Ia mengikat rambutnya ke belakang dengan cepat dan praktis. Ia mengenakan setelan scrub hijaunya yang terasa seperti kulit kedua. Lalu, dari gantungan di belakang pintu, ia mengambil jubah kebesarannya: jas dokter berwarna putih bersih. Saat ia memasukkan lengannya ke dalam jas itu, ia bisa merasakan sebuah perubahan subtil terjadi pada postur tubuhnya. Bahunya menjadi sedikit lebih tegap, dagunya sedikit lebih terangkat. Ia memasukkan stetoskop ke dalam saku kanan dan ponsel kerja ke saku kiri. Dokter Lestari Cendana Ayu kini telah mengambil alih. Pikirannya tidak lagi di dapur, tetapi sudah berada di koridor UGD, mengantisipasi kasus-kasus yang mungkin akan datang.


..........................................................

Ucapan "sampai jumpa" di pagi hari adalah sebuah janji yang sunyi. Itu adalah kesepakatan bahwa dua dunia yang berbeda akan dijalani secara terpisah, dengan keyakinan penuh bahwa di penghujung hari, kedua dunia itu akan kembali bertemu di titik yang sama: rumah.

..........................................................


Beberapa menit kemudian, mereka bertemu lagi di ruang tengah, dekat pintu keluar. Keduanya telah berubah. Lestari dalam balutan warna putih yang fungsional dan berwibawa. Adi dalam balutan warna biru dan abu-abu yang rapi dan formal. Mereka berdiri berhadapan sejenak, saling memandang versi profesional satu sama lain.

"Jas putihmu terlihat jauh lebih heroik daripada dasi abu-abuku," kata Adi sambil tersenyum, merapikan kerah kemeja Lestari yang sedikit terlipat.

"Tapi dasimu memastikan para pahlawan tetap bisa membayar cicilan rumah," balas Lestari, sambil mengulurkan tangan untuk mengencangkan simpul dasi Adi yang sudah sempurna.

Momen itu singkat, hanya beberapa detik, tetapi penuh dengan rasa saling menghormati. Mereka tidak hanya melihat pasangan mereka, tetapi juga seorang profesional yang berdedikasi pada dunianya masing-masing.

"Aku berangkat dulu," kata Lestari, meraih tas kerjanya.

"Aku juga sebentar lagi," sahut Adi.

Di ambang pintu, mereka berhenti. Adi mencondongkan tubuhnya dan memberikan kecupan singkat di bibir Lestari. Kecupan itu terasa berbeda dari kecupan di malam hari. Ini lebih seperti sebuah stempel persetujuan, sebuah bekal, sebuah transfer energi.

"Hati-hati di jalan," kata mereka hampir bersamaan, sebuah kalimat standar yang terdengar seperti doa.

Lalu, Lestari membuka pintu dan melangkah keluar, membawa serta aroma kopi dan kehangatan pagi mereka. Adi memperhatikannya hingga punggungnya menghilang di tikungan koridor, sebelum akhirnya menutup pintu. Senin telah dimulai. Pertarungan mereka masing-masing telah menanti. Tapi pagi itu, mereka tidak berangkat dari titik nol. Mereka berangkat dari titik yang bernama "kita".

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!