40 - Ayah Mertua

“Guruuu!”

“Paman Guru!”

Aku dan saudara seperguruanku menoleh.

Zi Yang dan Zi Ge berlari ke ladang. Muka merah mereka, napas tersengal, terus aura pas keduanya tergopoh membuatku dan Saudara Seperguruan Qin mundur dua langkah.

“Guru, Anda harus melihat ini.”

Duo Zi itu rupanya hendak menunjukkan sebuah gulungan ‘tuk sang guru sebelahku. Gulungan putih dengan giok poles di kedua ujungnya ….

“Bukanya itu Jurus Formasi Pedang: Kalang Tiga Sudut?” gumamku, mengintip isi gulungan di tangan saudara seperguruanku selirik. “Kalian dapat dari mana, Zi Yang, Zi Ge?”

“Paman Guru. Seorang tetua di gerbang sekte memberikan gulungan itu pada kami dan minta bertemu Guru. Aku dan Zi Yang cepat-cepat kemari karena takut ada hal penting.”

“Biar cuma bagian pembuka, formasi serangan macam ini laku ribuan batu mana di pasar gelap sama rumah-rumah lelang,” komentarku terus melihat Senior Qin, “sudah pasti penting. Sebaiknya kita temui dia, Senior.”

“Kau yakin?” Saudara seperguruanku tampak ragu, ia melihatku kemudian menoleh kedua muridnya. “Kalian antar tetua tadi ke aula penerima tamu kita dulu, aku akan menemuinya sebentar lagi.”

“Baik. Guru. Paman Guru.”

“Sudah sana, guru kalian bilang dia akan menyusul sebentar lagi ….”

***

“Eh?!”

Aku mendelik, juga terbelalak, waktu mendapati siapa orang yang dirujuk Zi Yang dan Zi Ge sesaat lalu.

“Ayah Mertua?”

“Kau, si penculik.”

“Kalian saling kenal?”

Ayah mertuaku.

Ya. Ayah mertua yang sudah menculik istriku, Berlian, dari Kauro Baru tahun lalu kemudian meminta diriku datang padanya dengan status dan privilese sebagai anggota sekte ternama di salah satu dari tiga aliansi. Huh!

Saudara seperguruanku, kala itu melihat kami dengan sorot mata heran sekian saat sebelum lanjut mengenalkan ayah mertuaku sebagai Tetua Mentari Gelap kemudian diriku tetua gudang pusaka sekte ini.

“Jadi, Anda mau menukar pembuka Kalang Tiga Sudut dengan salah satu harta kami?” tanyaku, duduk tepat di seberang Ayah Mertua. “Kesampingkan soal itu dulu, kita belum sempat bicara banyak kemarin.”

“Aku setuju. Mumpung putriku tidak di sini, bagaimana kau akan meyakinkanku untuk merestui kalian?”

Saudara Seperguruan Qin yang duduk di antara kami kelihatan kikuk—aku paham bila dirinya tetiba terjebak dalam suasana canggung antara mertua dan menantu yang kurang akur.

“Apa yang harus kuyakinkan?” tanyaku lagi, menaruh sebutir Pil Penghalang Lapis Ganda di meja. “Bukankah sudah terbukti bila setahun bersama Anda tidak lebih baik daripada tahun-tahun Berlian bersamaku, Ayah?”

“Jika tolok ukurnya berat badan, putriku memang lebih banyak berpuasa saat bersamaku.”

Berpuasa? Beliau pikir istriku gak mau makan gegara siapa, hah?

“Puasa atau menolak makan? Ada perbedaan fundamental pada kedua kata tersebut. Jika Ayah tidak mampu membedakan mereka, diriku semakin yakin bila bersamaku adalah pilihan terbaik.”

“Huh.” Ayah mertuaku mendengkus. “Kau pandai memilih dan memelintir kata.”

“Putramu belajar banyak dari contoh yang Ayah berikan beberapa waktu ke belakang.”

“Aku tersanjung. Namun, bukankah wibawa diriku sebagai orang tua juga tidak boleh kau injak-injak begini. Apa ucapan ayah mertuamu ini salah, Menantuku?”

Wibawa? Aku sebal pas dia menjual predikat buat memenangkan pertengkaran kami.

“Tidak. Anda tidak salah, tapi ….” Aku mundur buat bersandar ke sandaran kursi. “Wibawa mana yang telah putramu injak ketika putri ‘Ayah’ kupinang dengan layak dan kujadikan Nyonya Keluarga Mi sepenuh hati?”

“Sama sekali bukan. Tidak ada kaitannya dengan hal itu.”

“Atau.” Kulipat tanganku. “Apakah ini soal syarat datang pada Ayah dengan status tinggi sebagai anggota sekte terkemuka? Bukankah putra Ayah sekarang merupakan Murid Kedua Bukit Muara, sekolah bela diri kaya raya yang juga menguasai separuh Kerajaan Ding mulai dari tengah hingga ke barat melewati perbatasan.”

Ketika itu kulihat muka mertuaku merah padam.

“Seandainya anak lelaki di hadapan Ayah bukanlah menantu idaman menurut kacamata seorang Tetua Sekte Mentari Gelap, maka putramu ini minta maaf karena hal itu di luar kuasanya. Toh, Ibu Mertua tidak berpesan apa-apa selain istriku sangat mencintai suaminya. Ayah.”

Lama kami saling tatap sampai muka merah ayah mertuaku kembali melunak.

“Hah ….” Beliau hela napas sebelum mengganti topik dengan bertanya soal kabar putrinya. “Apa Lian baik-baik saja? Kali ini aku takkan menghalangi kalian atau memaksa anak itu meninggalkanmu, kuharap juga tidak akan ada lagi dendam di antara kita.”

“Begitu lebih baik.”

“Ngomong-ngomong. Aku kemari karena—”

Kudorong pil penghalang lapis gandaku pada beliau.

“Peluang kemanjuran pil penerobos ranah bukan seratus persen,” terangku sebelum lanjut memberitahukan aturan sekte terkait persiapan ekspedisi bulan depan, “Bukit Muara hanya membuka balai obat sekali ‘tuk tiap sekte yang ingin menukar herba sampai dua hari sebelum kita berangkat, tolong mengerti apabila diriku cuma akan membantu Mentari Gelap satu kali selama periode tersebut.”

Kupalingkan wajah ke arah jendela.

“Kulihat Ayah di makam Ibu tiga tahun lalu,” akuku kemudian balik menghadap Ayah Mertua dan menarik kembali obrolan jadi seputar keluarga, “aku juga tahu Ayah bertemu Ibu sebelum beliau jatuh sakit ….”

***

“Tadinya kupikir kau gak akur sama mertuamu, Junior?”

“Memang.” Kutoleh Saudara Seperguruan Qin sekilas sebelum mundur kembali ke Bilik Anggrek, salah satu ruangan di aula penerima tamu sekte kami, bekas kupakai bicara dengan Ayah Mertua. “Cuma, gitu-gitu juga dia itu ayah adik iparmu, tahu. Jangan nilai dirinya buruk, Senior.”

“Bukan. Jangan salah paham dulu. Maksudku awal obrolan kalian terdengar sinis dan menjengkelkan,” lanjut Senior Qin, mengikutiku ke dalam. “Kau dengan Tetua Mentari Gelap macam musuh bebuyutan tadi. Cuma, makin ke sini ternyata kalian diam-diam saling memperhatikan.

Junior. Aku sebenarnya terharu ….”

“Dih.” Aku lantas topang dagu di meja tempat kami sebelumnya bicara. “Senior, sekarang malah diriku yang harus bilang padamu agar jangan salah paham,” kataku tanpa memperhatikan dirinya, “juniormu memang gak pandai berbakti macam dirimu pada Ketua, tapi bukan berarti saudara seperguruanmu ini juga gak bisa berbuat baik pada orang tua. Apalagi pria tadi berjasa melahirkan adik iparmu.”

“Hem. Kalimatmu berbelit-belit.”

“Huh. Jangan pikirkan. Aku melantur saja itu.”

“Eh, ya! Kau gak pulang minggu ini?”

Kugelengkan kepala sebelum menanggapi bocah plontos yang kini duduk manis dan tersenyum di depanku.

“Istriku tahu aku gak bakal pulang sampai ekspedisi ke tenggara beres. Dia di rumah bareng Soran, putri kami. Dan mereka bilang, aku boleh fokus sama urusan di sini sampai keraguanku hilang.”

“Keraguan?”

“Soal Kyongdokia.” Kupalingkan wajah ke arah lain. “Kau tahu, Senior, aku sekarang ragu jika Reruntuhan Tanah Tenggara yang semua orang ributkan itu ada kaitannya dengan guruku.”

Tidak ada sahutan dari saudara seperguruanku sampai ….

“Junior, apa makna Bukit Muara buatmu?”

Ia tiba-tiba menggeser topik lewat pertanyaan menggelitik: apa makna Bukit Muara?

Benar. Apa makna sekte ini di hidupku sekarang?

Dulu. Aku melamar kemari gegara permintaan ayah mertua untuk menjemput istriku setelah berhasil menjadi bagian dari sekte terkemuka di salah satu dari tiga aliansi.

Demi alasan itulah sekolah bela diri dengan papan nama bertuliskan ‘bukit muara’ ini kudorong buat melawan arus dengan tampil percaya diri di acara-acara Pagar Tengah, nekat menantang sekte-sekte di Xuen, kemudian memancing kepala bersama penerusnya keluar dari kebiasaan lama sekaligus zona nyaman mereka.

Semua kulakukan atas nama upaya memantaskan diri supaya layak bersanding bersama istri terus merebut restu mertua. Tidak ada alasan lain. Dan sekarang, dua niat itu tercapai.

Istriku ‘lah kembali lalu tabir antara diriku dan Ayah Mertua tersingkap. Bukankah jika begitu alasan tadi tidak relevan lagi terus posisi sekte satu ini di hidupku juga perlu diperbarui?

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!