41 - Tujuh Panji Ekspedisi
“Junior, aku penasaran.”
Kuturunkan keranjang petsai dekat pintu dapur terus mendekat dan bergabung bersama Saudara Seperguruan Qin juga tunangannya di tepas.
“Kenapa kemarin ayah mertuamu kau cegah ikut ekspedisi?” tanya saudara seperguruanku, membuka topik dengan kejadian minggu lalu: ketika Ayah Mertua mengunjungi Sekte ….
Waktu kuminta beliau menjaga istriku sepenuh hati. “Ayah, tolong jaga Lian selama putramu ini tidak ada.”
“Bukankah kau seharusnya membenciku karena pernah coba memisahkan kalian?”
“Kalau Ayah mau.” Kupalingkan muka sejenak sebelum lanjut berkata, “Namun, Lian takkan memaafkanku seandainya tahu kita pernah beretamu di sini dan aku membiarkan Ayah pergi ke Reruntuhan Tanah Tenggara kemudian tidak pernah kembali lagi ….”
Banyak pertanyaan muncul setelah kukatakan alasan tadi pada Ayah, beliau juga tidak langsung setuju buat tinggal, tapi ia membuka ruang negosiasi waktu kutunjukkan Pil Penghalang Lapis Ganda kedua.
Cek! Aku tiba-tiba kesal ingat kejadian minggu kemarin itu.
“Jangan tanyakan hal yang membuatku kesal,” ujarku kemudian meraih pisau terus duduk membantu calon saudari ipar memotong sayur, “petsai-petsai di ladang sudah menguras tenagaku hari ini, tahu?”
“Hem. Aku kan cuma penasaran—eh, ya! Pato bilang, kau menyuruh mereka memanen semua petsai gegara besok mau turun salju, benar?”
“Benar,” jawabku lalu menoleh bakal istrinya, “seniorku kalau sudah banyak tanya begini, biasanya gegara dia grogi atau lagi salting sa—”
“Aku gak salting!” sergah saudara seperguruanku, bela diri depan tunangannya segera.
Padahal, baik diriku maupun gadis sebelahnya sama-sama maphum bila kalimat barusan hanya sekadar gurau. Namun, memang dasar masih polos, bocah plontos di sana malah menanggapi candaanku serius.
Pakai acara ngambek segala. “Aku kan cuma penasaran, memang salah kalau banyak tanya?”
“Adik Seperguruan Mi tadi bercanda, Ketua. Kenapa harus kasar dan membentak begitu?”
Muka Senior Qin berubah merah ditegur Mo Lin.
Macam jambu air siap petik ….
***
Tanggal 25 Bulan Sepuluh 223 Shirena.
H-6 Ekspedisi Tanah Tenggara.
Kalian gak bakal percaya kalau kubilang sudah sejauh apa persiapan kami.
Dua juta sekian ratus ribu pertapa dari seluruh benua melebur lantas membagi diri jadi tujuh kelompok dengan dua transformasi tubuh di tiap regu sebagai wakil dan kepala.
Mereka kemudian merangkap jubah sekte asal dengan mantel ekspedisi lalu mengibarkan tujuh panji menurut kelompok tadi: Naga Emas, Merak Biru, Macan Kumbang, Kerbau Putih, Semut Merah, Penyu Hijau, dan Duyung Ungu.
“Aku kebagian mantel hijau.”
“Wah! Kau beruntung.”
“Benar. Selamat, Saudara.”
“Selanjutnyaaa ….”
Aku mendekat ke meja dekat gerbang Kemah Aliansi Gerbang Barat.
“Eh?! Kita ketemu lagi, Saudara Mi.”
“Hai.” Senyumku mekar, merespons aura cerah wanita dengan tusuk konde giok kaca dari dua minggu lalu di hadapanku. “Nona Tusuk Konde Cantik.”
“Haha. Namaku Luyin, jangan memanggilku nona tusuk konde,” ujarnya waktu membuka sebuah buku tebal yang sontak terjeda lantaran ia mendadak mendelikiku curiga, “tunggu dulu!”
Buku tebal tadi dia tutup.
“Saudara Mi, kau kemari buat mengambil plat nama dengan mantel ekspedisi apa karena nyasar lagi?”
Aku garuk pipi ditanya begitu, kalian tahu, tak tahu harus menjawab dan menjelaskan bagaimana sebab alasan sebenarnya ialah ketidaksengajaan sama seperti pertemuan kami sebelum ini.
Hanya. Masa, ya, harus kubilang nyasar lagi?
“Kenapa kau melamun, Saudara Mi?”
“Aku tidak mendaftar untuk ikut ekspedisi, Saudari,” akuku sambil pasang senyum, “alasanku kenapa kemarin mencari Bukit Karang karena di sana ada kerabatku, tapi ….”
Ya! Sengaja kutahan kata-kataku ‘tuk menghadirkan ilusi emosional berat.
“Oh, ya ampun!” Dan berhasil, mata Luyin membulat. “Aku minta maaf, Saudara Mi. Kejadian hari itu benar-benar membuat semua orang kaget. Kepala Aliansi bahkan melarang kami membicarakannya.”
“Aku mengerti, terima kasih.”
“Eh, ya! Ngomong-ngomong, kau belum memberitahuku kenapa dirimu—”
“Luyiiin!” Panggilan dari arah gerbang sontak menjeda kami.
Panggilan lantang dari seorang wanita gempal yang segera mendekat begitu melihat Luyin.
Wanita gempal dengan gada besi hitam besar di bahu kanan. “Kalian gak dengar denting lonceng ini, hah?!”
“Aku sudah selesai, Rora!” sahut Luyin, buru-buru mengintip ke belakangku sekilas kemudian memapak dan melewati si wanita. “Apa Guru yang menyuruhmu—jangan khawatir, sekarang aku akan ke tenda beliau ….”
“Dia pikir siapa lagi yang bisa memaksaku datang kemari kalau bukan lampir menakutkan itu?” gumam wanita yang barusan dipanggil Rora, ia kini berdiri di depanku. “Sekarang … kau belum kebagian mantel?”
Aku menggeleng.
“Anu—”
“Nih!” Dirinya tidak mendengarkan dan mengasongkan mantel dari belakang kursi. “Kau bisa langsung pergi ke tenda sebelah sana. Pengokohan fondasi macam kita berdua ditempatkan bersama para pengembunan hawa buat mengawasi mereka, jadi atasan gak akan terlalu peduli sama pekerjaanmu. Sudah, ya ….”
Benar-benar tidak mendengarkanku.
“Tunggu, Saudari!”
“Jangan tanya apa-apa, aku takkan menjawabmu.” Begitu pungkasnya sambil lalu ….
***
Beberapa saat sebelum diriku bertemu Luyin ….
“Kau sedang apa, Junior?”
“Enam hari lagi sekte kita bakal kembali normal, ‘kan?” tanyaku pas menoleh, merespons Saudara Seperguran Qin yang baru saja keluar. “Kita gak akan melihat bendera-bendera di sana itu lagi, ‘kan? Mereka gak mungkin terus menggangguku macam sekarang, ‘kan? Senior?”
“Ju-junior, wajahmu menakutkan ….”
Aku sudah tidak tahan.
Sejak kedatangan ayah mertuaku minggu lalu dan kabar soal beliau yang membawa pulang pil penerobos ranah seusai dari sini menyebar, besoknya Gerbang Bukit Muara mulai ramai diketuki oleh tetua dari banyak sekte.
Sangat baik pada awalnya. Toh, diriku juga merasa hal tersebut wajar sebab masih dalam koridor kesepakatan bersama antara tiga aliansi dengan semua pihak yang terlibat pada rencana ekspedisi kami.
Namun, seminggu berlalu hal baik tadi berubah buruk. Pelan-pelan mereka tumbuh jadi tak tahu waktu, abai terhadap privasi, serta terkesan memaksa dan tidak kenal tempat.
Aku sampai nekat menerobos ke luar gerbang terus mengambil mantel acak dari Rora gegara gak punya pilihan selain sembunyi di Kemah Aliansi Gerbang Barat macam sekarang ….
“Sudah sampai. Mulai malam ini sampai kita berangkat nanti kau bisa menginap di sini, Saudara Mi.”
“Terima kasih, Saudara Juan.”
“Jangan sungkan. Kita sesama mantel jerami ….”
Mantel jerami.
Regu tambahan di luar tujuh mantel warna dari kelompok utama: Naga Emas, Merak Biru, Macan Kumbang, Kerbau Putih, Semut Merah, Penyu Hijau, dan Duyung Ungu. Kelompok yang khusus menampung pertapa-pertapa kelana, bukan merupakan murid atau tidak punya hubungan dengan sekte mana-mana, sebagai tenaga tambahan selama ekspedisi.
Begitulah bunyi keterangan yang kudengar sepintas waktu pertemuan terakhir kali.
“Tambahan pengokohan fondasi di sini artinya meringankan pekerjaan kami,” ujar orang yang mengantarku ke Barak Mantel Jerami sebelum undur diri, “jadi mohon bantuannya besok, Saudara Mi. Selamat malam.”
Selain senyum, apa lagi yang bisa kulakukan sekarang?
“Selamat malam ….”
***
Kasih tip buat penulis
