42 - H-1

“Akhirnya ….”

Hariku berlanjut.

H-5, 4, 3, 2, 1 di Kemah Mantel Jerami.

Hitung mundur terus berjalan hingga persiapan kami kini jauh dari sekadar rampung. Tujuh kelompok utama telah menetapkan formasi armada serta sudah sekian kali bolak-balik mengutus pengintai guna meninjau rute sebelum hari keberangkatan tanggal pertama Bulan Sebelas besok.

Dan, kalian tahu, pada kesibukan itu ternyata peranku sama sekali tidak signifikan.

Bayangkan. Meski diriku menghilang dan membiarkan posisi Wakil Kepala Panji Duyung Ungu kosong lima hari ini, kesibukan Tetua Bae dkk. tetap berjalan normal dan tak sedikit pun mengalami penundaan.

“Hah ….” Jadi, mari lupakan mereka. “Setelah mengantre buat dapat jatah makan, aku bisa duduk juga.”

“Kau kelihatan lega sekali, Saudara Mi.”

“Tentu saja,” timpalku pada orang di sebelah, “kaupikir berapa lama kakiku berdiri buat semangkuk sup panas sama biar bisa duduk di sini, hah, Saudara Jia?”

Jia, ranah pengembunan hawa sebelahku, adalah rekan kerja yang dapat diandalkan lima hari ini. Bukan hanya oleh sesama mantel jerami, tetapi juga sampai menjadi favorit atasan dari mantel tujuh warna.

Pekerja terbaik, pokoknya.

“Pegal, tahu ….”

“Saudara Mi. Kau bukan cuma satu-satunya ranah pengokohan fondasi di kemah mantel jerami duyung ungu kita, tapi juga satu-satunya yang malah lebih kelihatan macam manusia biasa.”

“Aku memang cuma manusia,” timpalku, lanjut meniupi mangkuk sup di tangan lantas mencecapnya pelan-pelan. “Huh …, huh—hum! Tumben sup buatan Rora jadi enak.”

“Itu bukan buatan Nona Rora—eh! Saudara Mi, lihat di sana ….”

Aku menoleh kemudian melihat ke arah yang Jia tunjuk.

“Hem.” Di depan sana, sebuah lapang sekian ratus meter dari tempatku dan para mantel jerami duduk, tengah mendarat sebuah perahu terbang raksasa.

Bakal angkutan kami besok ….

***

“Berhenti.”

“Kalian tidak boleh kemari!”

Lantaran dihalau waktu mau melihat perahu raksasa di lapang kemah, kudekati petugas di meja dekat pembatas area tempat kendaraan terbang tadi parkir.

“Saudara. Aku, Mi, dari Kemah Cabang Logistik Duyung Ungu—”

“Ah, ya! Kalian kemari mau ambil senjata, ‘kan?” sela si petugas bermantel merah yang lekas bangkit kemudian mengeluarkan sepasang peti besar ke kiri meja, “ayo antre! Hari ini semua orang dapat jatah topi sama senjata buat perlengkapan besok ….”

Tanggal 30 Bulan Sepuluh.

Menurut jadwal yang kupegang, H-1 keberangkatan harusnya jadi saat membongkar kemah sama waktu buat mengambil plat nama sekaligus nomor kabin perahu beserta urutan keberangkatan besok.

Namun, macam yang kalian dengar, ternyata semua orang juga dipersenjatai hari itu.

“Lihat, bagaimana penampilanku?”

Aku putar badan di depan Saudara Jia, menunjukkan topi, topeng, sama senjata baru yang kudapat.

“Keren, ‘kan?” tanyaku, pasang muka senang. “Topi ini kayak irisan melon, aku mau menamainya Iris Melon. Terus topeng kayu … bagaimana, seram belum? Aku punya dua, jadi depan belakang.”

“Tingkahmu macam anak-anak, Saudara Mi.”

“Biar, mweee!” Kuabaikan komentar mereka terus lanjut memamerkan barang-barang baruku di sana. “Lihat, bukankah naginataku hebat—hahaha ….”

Aku cekak pinggang sebelah dan berpose bak jenderal perang zaman dulu.

“Topi Iris Melon, Topeng Hantu-Muka Rata, Mantel Jerami, sama Naginata—jeng-jreng!”

***

“Ini kabinku, kan?”

Siangnya, di atas perahu terbang bakal kendaraan besok.

“Saudara Mi. Aku tahu dirimu senang, tapi apa set lengkap itu juga harus kau pakai terus ke mana-ma—”

“Topi-topeng sama naginata ini masih baru,” timpalku pada mereka yang naik perahu bersamaku, “aku belum puas memakainya. Lagi pula, kenapa kalian terus mengikutiku? Bukannya nomor kabin kita beda jauh, ya?”

“Soal itu ….” Mereka garuk kepala. “Kita sudah tidak punya pekerjaan, jadi—”

Gong! Bagus. Suara apa itu?

“Kenapa mereka membunyikan gong siang bolong begini?”

“Lihat, di sanaaa!”

Aku menoleh ke arah yang semua orang tunjuk.

“Itu, ‘kan?” Aku takjub, penampakan kapal induk kami yang sebesar gunung benar-benar bikin merinding.

Bersama gong yang mengiringi tiap kayuhan selusin dayung kaki-kakinya, ia melintas penuh keangkuhan dan membelalakkan siapa saja yang melihat dari bawah. Luar biasa ….

Diriku sampai lompat ke tiang geladak buat mengintip isi geladak luar mereka. “Panji Penyu Hijau, kapal ini punya Tetua Zimo … besar sekali. Dia dan perahuku macam induk ayam sama telur.”

Kuintip tanah di bawah si kapal induk.

“Kan, itu kereta-kereta harimau besinya—eh?!”

Sontak aku ingat sesuatu.

“Mereka menuju ke Sekte ….”

***

Di Bukit Muara.

‘Untung masih keburu.’

Begitu pikirku sebelum lanjut teriak, “Berhentiii!”

Menghalau kapal-kapal induk milik mantel tujuh warna agar berhenti tepat sebelum mereka menabrak kubah pelindung sekteku dan membuat keributan di depan gerbang kami. Ckiiit!

“Mau apa kalian?” Selanjutnya kulepas tekanan aura seberat belasan ribu kati sebagai tanda ‘tuk Bae Mon Dok dkk. supaya turun dari kapal. “Apa maksud semua ini?”

“Te-tetua Miii ….”

Kuredam auraku begitu mereka muncul.

“Tetua Mi, kau hampir membunuh murid-muridku.”

“Benar.”

“Ranah-ranah pembaruan aura di kapalku juga terkena luka dalam menahan tekanan tadi.”

“Huh.” Aku mendengkus lalu berpaling dan membelakangi mereka. “Siapa suruh kalian bawa perahu-perahu itu kemari. Kita akan berangkat besok, jangan ganggu aku sampai—”

“Tetua Mi, tunggu. Kita masih harus membahas ….”

Aku berbalik, melihat wajah para tetua sekilas, kemudian menggeleng.

“Hah.” Kurasa mereka gak bakal bisa dibawa kompromi. “Kita bicara di kapal,” kataku lantas melesat ke Kapal Induk Duyung Ungu, “ikut aku ….”

Sesaat kemudian.

“Tetua.”

“Tetua.”

“Tolong panggil kru dari kamar peta terus bawa kemari peta rute perjalanan besok,” kataku pada orang yang menyambutku begitu menginjak geladak, “dan tolong anggap kami tidak ada.”

“Kenapa kita tidak pakai ru—”

“Langsung saja, kenapa kalian mencariku?” selaku, gak mau lama-lama meladeni tiga belas orang ini. “Kalau masih soal besok, bukankah Tetua Bae dan Tetua Yang sudah menangani semuanya?”

“Kau salah paham, Tetua Mi.”

“Makanya cepat beri tahu,” balasku pada Tetua Kuni, “formasi armada sudah diatur dan jadwal keberangkatan juga sudah ada, selain rute apa lagi yang mau kita bahas?”

“Tebakanmu benar, Mi Tua,” sambung Tetua Yang, “pengintai kita menemukan sesuatu di selatan Sesa. Kau tadi minta diambilkan peta.” Ia menatapku serius. “Kuyakin berita itu juga sudah sampai ke telingamu, ‘kan?”

Sebetulnya tadi aku asal memberi perintah supaya gak dikira gabut.

“Kau jelaskan saja …,” pintaku, melempar semua padanya. “Kurasa sumbermu lebih kredibel.”

“Tetua.”

“Bagus, petanya datang. Tetua Yang, tolong lanjutkan.”

Menerima operanku, pak tua dengan jubah putih nyentrik tersebut selanjutnya mengambil alih.

Ia beberkan temuan pengintai yang Tujuh Panji kirim ke selatan hingga meramaikan peta yang baru saja Kru Kamar Peta Kapal Induk Duyung Ungu gelar di hadapan kami ….

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!