Bab 9 Percakapan yang tak pernah selesai

Sejak nenek pergi, aku sering merasa seolah ada ruang kosong dalam diriku. Namun anehnya, ruang kosong itu kadang terisi oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada saat-saat tertentu ketika aku merasa masih bisa berbicara dengannya, meski hanya dalam hati.

Setiap malam, sebelum tidur, aku punya kebiasaan baru: berbisik pada langit-langit kamar, seakan-akan nenek sedang duduk di tepi ranjang seperti dulu. Aku menceritakan hal-hal kecil—tentang hari yang melelahkan, tentang rencana masa depan, bahkan tentang kebingungan yang kualami. Dan entah bagaimana, setelahnya aku merasa lebih tenang, seolah nenek mendengarkan dengan penuh perhatian.

Kadang aku membayangkan bagaimana nenek akan menjawab. Suaranya yang lembut, penuh kesabaran, seperti masih bisa kudengar jelas. Saat aku mengeluh, dalam pikiranku nenek berkata, “Sabar ya, Nak. Semua ada waktunya. Jangan terburu-buru.” Saat aku merasa putus asa, aku bisa mendengar nada suaranya yang menguatkan, “Kamu kuat. Nenek tahu itu. Jangan menyerah.”

Ada juga momen ketika aku berjalan sendirian di sore hari, angin bertiup pelan, daun-daun jatuh dari pohon, dan tiba-tiba aku merasa nenek berjalan di sampingku. Aku mulai bercerita, kadang tanpa suara, hanya dalam hati. Rasanya nyata sekali. Mungkin karena selama hidupnya, nenek selalu menjadi tempatku pulang dengan segala cerita.

Aku tahu, orang lain mungkin menganggap itu hanya imajinasi. Tapi bagiku, percakapan itu nyata. Nyata karena membuatku kuat. Nyata karena membuatku merasa tidak sendiri. Nyata karena dengan cara itu, aku masih bisa menjaga ikatan dengan seseorang yang paling kusayangi.

Yang paling sulit adalah ketika aku mengalami hal penting dalam hidup. Aku ingin sekali nenek ada untuk menyaksikannya. Kadang aku berdiri lama di depan cermin, memegang toga kelulusanku, lalu berkata, “Nek, aku sudah sampai di sini.” Dan dalam batinku, aku mendengar jawaban yang begitu menenangkan: “Nenek bangga sama kamu.”

Seolah percakapan itu tidak pernah benar-benar berakhir. Nenek mungkin sudah tiada, tapi suaranya tetap hidup dalam ingatanku. Nasihatnya, tawanya, bahkan gumamannya saat membaca doa, semua masih terdengar jelas.

Aku mulai percaya bahwa orang yang kita cintai tidak benar-benar meninggalkan kita. Mereka hidup dalam kenangan, dalam doa, dalam percakapan-percakapan sunyi yang hanya bisa kita dengar dengan hati.

Bagi dunia, mungkin nenek sudah selesai dengan kisah hidupnya. Tapi bagiku, ia tetap hadir. Percakapan kami akan terus berlangsung, tak peduli waktu, tak peduli jarak. Karena rindu ini bukan tanda kehilangan semata, melainkan bukti bahwa kasih sayang nenek akan selalu abadi di dalam diriku.

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!