Bab 10 Rindu yang menjadi Do’a
Rindu itu awalnya terasa seperti luka yang tidak pernah kering. Setiap kali aku mengingat nenek, dadaku sesak, mataku panas, dan air mata jatuh begitu saja. Aku sempat bertanya-tanya: mengapa harus merindukan seseorang yang tidak mungkin kembali? Bukankah itu hanya menyiksa diri?
Namun, waktu berjalan, dan aku mulai mengerti. Rindu ternyata bukan sekadar rasa sakit. Ia adalah pengingat akan kasih sayang yang pernah kuterima, pengingat bahwa aku pernah dicintai dengan begitu tulus. Dan perlahan, aku belajar mengubah rindu itu menjadi sesuatu yang lebih menenangkan—menjadi doa.
Setiap kali rasa rindu datang, aku menutup mata dan berbisik lirih, “Ya Tuhan, beri nenek tempat terbaik di sisi-Mu. Lapangkan jalannya, terangi kuburnya, dan jadikan amal baiknya sebagai cahaya.” Kata-kata itu keluar begitu saja, kadang dengan suara bergetar, kadang hanya dalam hati. Tapi setiap kali melakukannya, ada rasa damai yang sulit kujelaskan.
Aku teringat bagaimana dulu nenek selalu mendoakan kami, cucu-cucunya, tanpa lelah. Bahkan di saat tubuhnya lemah, bibirnya masih bergetar melafalkan doa. Sekarang, seolah peran itu berpindah padaku. Jika dulu aku yang menerima, kini aku yang harus memberi. Memberi doa, sebagai tanda cinta yang tak pernah padam.
Doa-doa itu menjadi jembatan antara aku dan nenek. Aku merasa seakan-akan ada jalan halus yang menghubungkan bumi dengan langit. Di satu sisi ada aku, dengan kerinduan yang tak terucapkan. Di sisi lain ada nenek, yang mungkin sedang tersenyum menerima setiap doa yang kukirimkan.
Pelan-pelan, aku mulai menyadari bahwa doa adalah bentuk rindu yang paling indah. Rindu yang tidak menyiksa, tidak menenggelamkan, tapi justru menguatkan. Dengan berdoa, aku tidak lagi hanya meratapi kehilangan, melainkan juga merawat kenangan.
Dan setiap selesai berdoa, aku merasa lebih dekat dengan nenek. Bukan karena ia kembali hadir secara nyata, tapi karena aku percaya bahwa cinta tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berubah bentuk. Dari pelukan menjadi doa. Dari tawa menjadi kenangan. Dari kehadiran fisik menjadi kekuatan batin.
Kini, setiap kali rindu datang, aku tidak lagi merasa hampa. Aku tahu apa yang harus kulakukan: menundukkan kepala, mengucap doa, dan membiarkan hatiku dipenuhi rasa syukur. Syukur karena pernah memiliki nenek yang begitu istimewa. Syukur karena meski ia telah tiada, cintanya tetap hidup bersamaku.
Rindu ini akhirnya menemukan jalannya. Ia bukan lagi beban, melainkan jalan pulang menuju doa. Dan di setiap doa yang kuucapkan, aku tahu, aku tidak sedang berbicara sendirian—aku sedang berbicara dengan Tuhan tentang seseorang yang sangat kucintai.
Kasih tip buat penulis
