Epilog

Waktu berjalan tanpa pernah benar-benar menunggu siapa pun.
Ia terus membawa hari-hari pergi, mengganti yang lama dengan yang baru, seolah semua bisa dilupakan begitu saja.

Tapi ada hal-hal yang tidak ikut hilang bersama waktu.Ada kenangan yang tetap tinggal,diam-diam menetap di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun selain diri kita sendiri.

Dulu, aku pikir kehilangan adalah akhir dari segalanya.
Bahwa ketika seseorang pergi, maka selesai sudah cerita tentangnya.

Ternyata tidak. Nenek tidak lagi ada di rumah,tidak lagi duduk di kursi rotannya,tidak lagi menyambutku dengan suara lembut yang selalu kurindukan.

Tapi entah bagaimana, ia tidak benar-benar pergi.Ia masih ada di cara aku mengingat hal-hal kecil, di kebiasaan yang tanpa sadar aku tiru, di rasa hangat yang sesekali datang tanpa alasan.

Aku masih kangen.
Dan mungkin, rasa itu tidak akan pernah benar-benar hilang.

Tapi sekarang, aku mulai mengerti bahwa rindu tidak selalu harus disembuhkan. Kadang, rindu hanya perlu diterima.
Dibiarkan ada, tanpa harus dilawan.Karena dari rindu itulah, aku belajar bahwa pernah ada seseorang
yang begitu berarti dalam hidupku.

Seseorang yang membuat rumah terasa hidup.
Seseorang yang mengajarkanku arti sederhana dari kasih sayang. Dan mungkin, itu sudah cukup.Sekarang, setiap kali aku pulang,aku tidak lagi mencari sesuatu yang hilang.

Aku hanya berhenti sejenak,
menarik napas pelan,dan membiarkan ingatan datang dengan sendirinya.

Tentang dapur yang dulu ramai.
Tentang kursi tua yang pernah penuh cerita.
Tentang suara yang kini hanya bisa kudengar dalam diam.Tentang nenek.

Karena pada akhirnya,
"Pulang" bukan lagi tentang menemukan kembali apa yang telah pergi. Melainkan tentang menerimabahwa sebagian dari “Rumah” akan selalu hidup di dalam kenangan.

Dan di setiap pulang,
aku tidak lagi merasa benar-benar sendiri.
Karena nenek dengan caranya sendiri
"Masih selalu ada".

....

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!