Bab 4 Setelah kepergian

Hari-hari setelah nenek pergi terasa panjang dan berat. Rumah yang biasanya hangat mendadak jadi dingin. Suara-suara kecil yang dulu membuat rumah hidup kini hilang. Tak ada lagi batuk kecil nenek di pagi hari, tak ada suara sandal kayu menyeret di lantai, tak ada aroma masakan sederhana yang selalu menyambut kami dari dapur.

Sejak jenazah nenek dimakamkan, kursi rotan di ruang tengah dibiarkan kosong. Tak seorang pun berani memindahkannya, seolah dengan begitu kami masih bisa merasa bahwa nenek ada di rumah. Setiap kali melewati kursi itu, aku hampir bisa membayangkan sosoknya duduk di sana, mengipas pelan sambil tersenyum. Tapi bayangan itu hanya bertahan sebentar, lalu menghilang, meninggalkan perih yang tak terjelaskan.

Malam hari adalah waktu terberat. Biasanya, aku masih bisa mendengar suara televisi dari kamar nenek, atau suara lembutnya yang berdoa sebelum tidur. Sekarang, yang tersisa hanya sunyi. Kadang aku sengaja begadang, menatap langit-langit kamar, berharap kantuk datang lebih cepat. Tapi justru yang datang adalah kenangan—potongan demi potongan yang menyayat hati.

Keluarga pun merasakan hal yang sama. Ibuku sering termenung lama di dapur, memegang panci tanpa melakukan apa-apa. Adik-adikku yang biasanya ribut mendadak jadi pendiam. Seakan-akan, kepergian nenek mengambil sebagian cahaya dari rumah ini.

Aku sendiri berusaha tegar, mencoba menahan air mata di depan orang lain. Tapi setiap kali aku sendirian, aku kalah. Air mata itu jatuh lagi, deras, tanpa bisa kucegah. Ada perasaan bersalah yang selalu menghantuiku—karena aku merasa belum sempat mengatakan banyak hal pada nenek. Aku belum sempat benar-benar mengucapkan terima kasih. Belum sempat bilang betapa aku menyayanginya. Semuanya terasa terlambat.

Hari-hari berlalu, tapi rasa kehilangan itu tak juga reda. Orang bilang waktu bisa menyembuhkan, tapi bagiku waktu hanya membuat rindu semakin dalam. Aku mulai sadar, kehilangan bukan sesuatu yang bisa dilupakan. Kehilangan adalah sesuatu yang harus kita bawa selamanya, dan perlahan-lahan belajar hidup berdampingan dengannya.

Kadang, di tengah keheningan, aku masih bisa mendengar suara nenek di kepalaku. Suara yang menenangkan, suara yang selalu membuatku merasa aman. Dan mungkin, selama suara itu masih ada di ingatanku, nenek tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat—dari kursi rotan di ruang tengah, ke ruang terdalam di dalam hatiku.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!