Bab 5 Belajar merelakan
Hari-hari setelah nenek tiada membuatku semakin sadar bahwa rindu bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan sekaligus menguatkan. Setiap kali aku melihat sesuatu yang mengingatkanku padanya, rasanya dada ini sesak. Tapi di balik rasa itu, ada kehangatan samar yang membuatku merasa seakan nenek masih bersamaku.
Aku sering menemukan diriku melakukan hal-hal kecil yang dulu biasa dilakukan nenek. Misalnya, ketika aku membuat teh manis, aku selalu menuangkannya ke cangkir yang sama—cangkir bermotif bunga yang catnya sudah mulai pudar. Itu adalah cangkir kesukaan nenek. Saat aku meneguknya, aku hampir bisa merasakan kebiasaan nenek menyeruput pelan, meniupnya sedikit sebelum menyesap.
Atau saat aku ke dapur, aku sengaja menyimpan beras dalam kaleng biskuit tua, persis seperti yang nenek lakukan. Dulu aku sering protes, “Kenapa nggak disimpan di tempat yang lebih bagus, Nek?” dan ia hanya tertawa kecil, bilang, “Yang penting bisa makan, Nak. Nggak usah pilih-pilih wadah.” Aku baru sadar, kebiasaannya yang sederhana itu menyimpan banyak pelajaran: tentang menerima apa adanya, tentang tidak mempersulit hidup.
Perlahan aku belajar, merelakan bukan berarti melupakan. Merelakan adalah menerima bahwa seseorang yang kita cintai sudah selesai dengan perjalanan dunianya. Tapi di saat yang sama, ia tetap hidup di dalam diri kita, lewat kenangan, lewat kebiasaan kecil, lewat nilai-nilai yang diwariskan.
Ada sore ketika aku duduk di teras, menatap hujan deras yang turun. Aku teringat lagi pada kebiasaan nenek menyodorkan singkong rebus sambil berkata “Hujan itu rezeki.” Aku tersenyum sendiri. Kata-kata itu dulu hanya terdengar sederhana, tapi sekarang rasanya berbeda. Seperti pesan agar aku selalu melihat sisi baik dalam setiap keadaan, meski sesulit apa pun.
Aku juga mulai menyadari, mungkin nenek tidak ingin aku terus tenggelam dalam kesedihan. Aku ingat senyum terakhirnya sebelum ia pergi, senyum yang seakan ingin bilang bahwa aku harus kuat. Bahwa hidup harus terus berjalan. Bahwa cinta tidak pernah hilang meski raga sudah tiada.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berdoa dengan tenang. Aku menyebut namanya pelan, memohon agar nenek tenang di sisi-Nya. Ada air mata yang jatuh, tapi kali ini bukan hanya karena sedih. Ada sedikit kelegaan, ada rasa damai yang pelan-pelan menyelinap di hatiku.
Sejak saat itu, aku mulai belajar berdamai. Rindu tetap ada, dan mungkin akan selalu ada. Tapi aku tahu, rindu ini bukan beban—ia adalah pengingat bahwa aku pernah memiliki seseorang yang begitu berharga, yang cintanya menempel erat di dalam hidupku. Dan merelakan, ternyata bukan tentang melepaskan, melainkan tentang menjaga cinta itu tetap hidup dengan cara yang berbeda.
Kasih tip buat penulis
