Bab 3 Hari terakhir

Hari itu masih jelas menempel di kepalaku, seolah baru kemarin terjadi. Pagi terasa berbeda sejak aku membuka mata. Udara di rumah lebih dingin, lebih sunyi, dan ada sesuatu yang membuatku enggan keluar dari kamar. Biasanya, dari jauh aku bisa mendengar suara nenek di dapur—entah suara sendok beradu, atau batuk kecilnya yang sudah akrab di telingaku. Tapi pagi itu… hening.

Aku keluar kamar dengan langkah ragu. Suasana rumah seperti kehilangan denyutnya. Di ruang tengah, kursi rotan nenek kosong. Aku menoleh ke arah dapur, tak ada aroma masakan, tak ada suara wajan berdesis. Semuanya terasa salah.

Aku berjalan ke kamar nenek. Di sana, kulihat tubuhnya terbaring lemah di ranjang. Wajahnya pucat, matanya terpejam, dan selendang tipis yang biasa menutupi bahunya kini hanya menutupi sebagian tubuhnya. Aku mendekat pelan, duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangannya.

Tangannya dingin. Begitu dingin sampai membuat jantungku berdebar tak karuan. Tapi genggaman itu masih terasa sama: rapuh, tapi penuh kehangatan yang tak tergantikan. Aku ingin berbicara, ingin mengatakan banyak hal. Ingin bilang betapa aku menyayanginya, betapa aku berterima kasih atas semua yang telah ia berikan sejak aku kecil. Ingin bilang bahwa aku belum siap kehilangan. Tapi kata-kata itu hanya berputar di kepalaku, tak pernah berhasil keluar dari mulut.

Nenek sempat membuka matanya sedikit. Tatapannya redup, tapi masih ada cahaya di sana—cahaya yang sama yang selalu menyambutku setiap aku pulang sekolah. Ia tersenyum tipis, dan itu sudah cukup untuk membuat air mataku jatuh. Bibirnya bergerak, berusaha mengucapkan sesuatu. Aku mendekatkan telinga, dan samar-samar kudengar suaranya yang nyaris hilang, “Jangan sedih, ya…”

Setelah itu, napasnya mulai berat. Suara detaknya pelan, semakin pelan, lalu… berhenti. Semuanya begitu cepat. Seperti lampu yang padam tanpa aba-aba.

Aku tetap duduk di sana, masih menggenggam tangannya yang dingin. Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang ikut terkubur bersama napas terakhir nenek. Rumah yang selama ini penuh dengan suaranya mendadak jadi asing.

Hari itu adalah pertama kalinya aku benar-benar mengerti arti kata kehilangan. Dan sejak saat itu, aku tahu, hidupku tidak akan pernah sama lagi.

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!