Bab 2 Suara yang masih tertinggal
Ada hari-hari tertentu yang selalu menyeretku kembali ke masa kecil, seolah waktu menolak berjalan lurus. Hujan deras adalah salah satunya. Setiap tetes yang jatuh di genteng rumah membawa suara yang akrab, suara yang selalu membuatku teringat pada nenek.
Dulu, setiap kali hujan turun deras, nenek akan memanggilku. Suaranya lembut, tapi cukup jelas menembus derasnya suara air di luar. Aku akan berlari kecil ke ruang tengah, dan di sana nenek sudah duduk di kursi rotannya, memegang sepotong singkong rebus yang masih hangat. Ia selalu menyodorkannya padaku sambil berkata, “Hujan itu rezeki, Nak. Jangan takut, nikmati saja suaranya.”
Aku akan duduk di lantai, bersandar pada kakinya yang kurus, sementara nenek mengelus pelan kepalaku. Aku bisa mendengarkan denting air hujan di atap selama berjam-jam tanpa merasa bosan, karena nenek selalu membuat segalanya terasa aman. Ada ketenangan yang hanya bisa muncul saat aku berada di sisinya, ketenangan yang bahkan orang dewasa pun mungkin sulit menemukannya.
Nenek bukan orang yang pandai bercerita panjang. Tapi setiap kata yang ia ucapkan selalu sederhana dan bermakna. Kadang ia menasihatiku tanpa terlihat seperti sedang menasihati. Misalnya, ketika aku berebut mainan dengan sepupuku, nenek hanya akan tersenyum lalu berkata, “Kalau kamu bisa ngalah, itu tandanya hatimu lebih besar. Nenek selalu bangga sama yang hatinya besar.” Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa menancap dalam di kepalaku sampai hari ini.
Banyak hal kecil yang nenek lakukan tanpa sadar menjadi pelajaran. Ia tidak pernah makan duluan. Ia selalu memastikan semua orang di rumah sudah duduk dan mendapat bagian, barulah ia mengambil piring untuk dirinya sendiri. Aku yang kecil dulu sering bertanya kenapa, dan jawabannya selalu sama: “Kalau kamu ingin kenyang beneran, pastikan dulu semua orang di sekelilingmu juga kenyang.”
Kini, setelah ia pergi, semua kenangan itu seperti suara samar yang tertinggal di dinding rumah. Kadang aku merasa mendengar langkahnya di lorong menuju kamar belakang. Kadang, saat melewati ruang tengah, aku merasa kursi rotan itu masih bergerak pelan, seperti ada seseorang yang baru saja bangkit dari sana.
Ada malam-malam ketika aku sengaja mematikan lampu dan duduk diam di ruang tengah, berharap bisa mendengar suaranya lagi. Hanya satu kata, atau bahkan satu tarikan napas saja. Tapi yang kudapatkan hanya hening. Hening yang begitu pekat, hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Dan di situlah aku sadar—rindu bukan sekadar ingatan. Rindu adalah suara yang terus bergema meski sumbernya sudah lama tiada.
Kasih tip buat penulis
