Bab 1 Aroma Dapur yang Hilang

Sejak nenek pergi, rumah terasa berbeda. Ada hampa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seolah ada ruang kosong yang tidak terlihat, tapi bisa dirasakan di setiap sudut. Dulu, pagi-pagi sebelum matahari naik, dapur rumah selalu ramai. Bunyi sendok beradu dengan panci, suara sutil yang menggesek wajan, ditambah dengan aroma bawang putih yang ditumis, membuat rumah seakan bernyawa. Sekarang, yang terdengar hanya suara detak jam dinding dan hembusan angin dari jendela yang terbuka.

Aku masih sering terbangun dengan kebiasaan lama: menunggu suara langkah pelan nenek menuju dapur. Langkahnya khas—pelan tapi mantap, kadang diiringi batuk kecil yang justru membuatku merasa tenang karena itu tanda nenek ada. Tapi setiap aku bangun sekarang, yang kudapati hanya lantai dingin dan keheningan yang tidak ramah.

Yang paling aku rindukan adalah kursi rotan tuanya di ruang tengah. Kursi itu mungkin sudah rapuh, catnya mulai mengelupas, tapi di situlah nenek menghabiskan sebagian besar harinya. Ia duduk sambil memegang kipas kain lusuh, kadang memejamkan mata, kadang tersenyum melihat cucu-cucunya bermain. Di mataku, kursi itu bukan sekadar tempat duduk, melainkan takhta sederhana bagi seorang perempuan yang penuh kasih sayang. Setiap kali aku melewati kursi itu sekarang, rasanya seperti ada bayangan yang duduk di sana, menatapku, lalu perlahan memudar.

Aku tumbuh besar dengan kehangatan nenek. Aku masih ingat betul, setiap pulang sekolah, nenek selalu menunggu di depan pintu. Tubuhnya kecil, kulitnya penuh keriput, tapi senyum itu—senyum yang sederhana dan tulus—selalu membuatku lupa pada lelah. Kadang nenek menepuk pundakku, bertanya apakah aku sudah makan, lalu dengan tangan yang gemetar membimbingku masuk ke dapur.

Dapur itu bagiku dulu adalah surga kecil. Di sana nenek selalu punya sesuatu untuk disajikan. Kadang hanya teh manis panas, kadang pisang goreng yang kulitnya agak gosong, atau sekadar kerupuk yang digoreng dengan minyak seadanya. Tapi entah kenapa, semua terasa istimewa ketika keluar dari tangan nenek. Mungkin bukan soal rasanya, tapi karena ada cinta yang ikut tersaji di setiap piring.

Kini, semua itu tinggal kenangan. Aku sering berdiri lama di dapur, hanya untuk menyalakan kompor dan menumis bawang putih sebentar. Aku tahu itu terdengar aneh, tapi aroma bawang putih yang terbakar selalu mengingatkanku pada nenek. Kadang aku berharap dengan cara itu, aku bisa memanggil kembali sosoknya—mungkin ia akan muncul, tersenyum sambil berkata, “Kebanyakan minyak, Nak,” seperti yang sering ia lakukan dulu. Tapi tentu saja tidak pernah berhasil. Yang datang hanya rasa kosong, menusuk lebih dalam setiap kali aku sadar bahwa aku benar-benar kehilangan.

Orang-orang sering bilang waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi bagiku, waktu justru membuat rasa rindu ini semakin nyata. Waktu mengajarkan bahwa kehilangan bukan soal melupakan, tapi tentang belajar hidup berdampingan dengan kekosongan yang ditinggalkan. Dan aku… aku masih berusaha belajar sampai sekarang.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!