Bab 9 Antara Bertahan dan Melepas

Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Bukan karena ada perubahan besar darinya, tapi karena aku mulai melihat segalanya dengan cara yang lain. Aku berhenti menunggu balasan cepat, berhenti menghitung seberapa sering ia menanyakan kabar, berhenti berharap terlalu tinggi pada hal-hal yang mungkin tidak akan berubah.

Bukan berarti aku sudah tidak peduli. Aku masih mencintainya, masih ingin hubungan ini berjalan. Tapi aku mulai sadar: mencintai seseorang tidak selalu berarti harus kehilangan diriku sendiri. Selama ini aku terlalu sibuk mengejar perhatiannya, sampai lupa memberi ruang untuk diriku bernapas.

Suatu sore, aku duduk di bangku taman, memandangi anak-anak kecil yang berlarian sambil tertawa lepas. Rasanya sederhana sekali, tapi bahagia. Aku berpikir, mungkin cinta juga seharusnya sesederhana itu. Tidak melulu penuh drama, tidak melulu soal siapa yang lebih berkorban, tapi tentang bisa tertawa bersama dalam hal-hal kecil.

Aku masih merindukan kelembutan yang dulu pernah kurasakan. Tapi aku juga sadar, merindukan bukan berarti harus kembali. Masa lalu telah berlalu, dan orang itu kini sudah punya dunia sendiri—keluarga, anak, kebahagiaan yang tak lagi menyisakan ruang untukku. Dan aku tidak ingin mengusik itu.

Jadi aku hanya bisa menerima bahwa yang kurindukan bukan sosoknya, melainkan rasa yang dulu ia berikan. Rasa dicintai dengan sederhana. Rasa diperhatikan tanpa harus diminta.

Sekarang aku berdiri di persimpangan. Aku bisa memilih untuk bertahan, dengan segala perbedaan dan luka kecil yang ada. Atau aku bisa melepaskan, mencari jalanku sendiri menuju ketenangan. Pilihan itu belum kuputuskan. Tapi yang pasti, aku tidak lagi sekacau dulu.

Karena aku mulai belajar: tidak semua cinta harus dipertahankan mati-matian, dan tidak semua luka harus ditutup rapat-rapat. Kadang, cinta mengajarkan kita cara menerima. Kadang, luka justru menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.

Malam itu, aku menatap bayangan diriku di kaca jendela. Aku tersenyum tipis. Mungkin perjalananku masih panjang, mungkin masih banyak air mata di depan. Tapi kali ini aku lebih siap. Karena aku tahu, apa pun yang terjadi nanti—bertahan atau melepas—aku tetap akan punya diriku sendiri. Dan itu cukup untuk saat ini.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!