Bab 10 Berdamai dengan Rindu
Aku pernah berpikir rindu itu selalu tentang ingin kembali. Tentang mengulang sesuatu yang pernah hilang, tentang menjemput kenangan yang terbuang. Tapi semakin jauh aku melangkah, semakin kusadari rindu bukan soal kembali, melainkan tentang menerima.
Rindu memang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk. Kadang ia datang lewat senyuman samar saat melihat orang lain tertawa bahagia. Kadang lewat rasa perih ketika ingatan lama menepi di kepalaku tanpa diundang. Dan kadang, rindu itu hanya hadir sebagai bisikan kecil, mengingatkanku bahwa aku pernah dicintai dengan cara yang berbeda.
Dulu, aku melawan rindu. Aku mengutuknya, aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa melupakan. Tapi sekarang aku tahu, rindu tidak perlu dilawan. Ia hanya perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan. Sama seperti luka yang membentukku menjadi lebih kuat, rindu pun membentukku menjadi lebih mengerti arti kehilangan.
Aku tidak lagi ingin kembali. Tidak lagi menoleh terlalu jauh ke belakang. Yang ada di masa lalu biarlah tetap di sana, tersimpan sebagai bagian dari diriku. Aku memilih berjalan dengan langkah yang lebih ringan, tanpa beban harus mengulang atau merebut sesuatu yang sudah bukan milikku.
Aku sadar, mencintai seseorang tidak pernah sia-sia. Sekalipun akhirnya aku harus melepaskan, cinta itu tetap meninggalkan jejak—jejak yang membuatku lebih tahu apa artinya dihargai, apa artinya dikhianati, dan apa artinya bertahan.
Malam itu, aku menutup mata dengan tenang. Tidak ada lagi amarah, tidak ada lagi pertanyaan yang menyesakkan. Hanya ada aku, dengan segala luka, cinta, dan rindu yang kini berdiri berdampingan tanpa saling mengganggu.
Aku tidak tahu bagaimana akhir dari perjalanan ini. Tapi satu hal yang pasti, aku sudah berdamai dengan diriku sendiri. Dan mungkin, itu adalah bentuk kemenangan paling indah yang bisa kudapatkan dari semua yang pernah kualami.
Kasih tip buat penulis
