Bab 11 Menemukan Kembali Diriku
Waktu berjalan tanpa peduli pada luka yang kubawa. Setelah malam-malam panjang yang kuhabiskan dalam rindu, aku mulai sadar bahwa hidupku tidak boleh berhenti di sana. Ada banyak hal yang menunggu di depan, ada tanggung jawab, ada keluarga, ada diriku sendiri yang perlu dirawat.
Aku mulai menata hari-hariku perlahan. Bangun pagi tanpa menunggu pesan masuk. Membuka jendela, menghirup udara segar, dan berkata pada diri sendiri bahwa hari ini harus kujalani apa adanya. Kadang masih ada sesak yang datang tiba-tiba, terutama saat kenangan menyelinap. Tapi kali ini aku tidak lagi melawannya, aku biarkan lewat, lalu kuteruskan langkahku.
Perlahan aku belajar, mungkin beginilah jalanku. Cinta yang dulu kurasakan memberi kelembutan, kini berganti menjadi tanggung jawab, keteguhan, dan penerimaan. Aku belajar bahwa mencintai tidak selalu tentang mendapat balasan, kadang ia hanya tentang memberi ruang, bahkan untuk diriku sendiri.
Dan di balik semua itu, aku mulai percaya satu hal: meski aku pernah terluka, aku masih bisa tumbuh. Meski pernah dibiarkan sendirian, aku tetap bisa melangkah. Mungkin inilah waktuku untuk benar-benar mengenal siapa aku, tanpa bergantung pada siapa pun.
Malam-malamku tidak lagi dipenuhi tangisan yang panjang. Ada keheningan, ada kesunyian, tapi kali ini tidak menakutkan. Keheningan itu seperti ruang untukku mendengar suaraku sendiri—sesuatu yang lama sekali tidak pernah kulakukan.
Aku tahu perjalanan ini belum selesai. Masih ada banyak hal yang harus kupahami, banyak luka yang belum sepenuhnya sembuh. Tapi satu langkah kecil yang sudah kuambil adalah ini: aku menemukan kembali diriku.
Kasih tip buat penulis
