Bab 8 Respon yang Kutunggu, atau Sekadar Formalitas

Pesanku sudah terkirim semalam. “Aku hanya butuh sedikit waktu untuk diriku sendiri.” Singkat, tapi jujur. Setelah mengirimkannya, aku mencoba tidur, meski pikiranku tetap berputar-putar, bertanya-tanya bagaimana ia akan menjawab.

Pagi harinya, aku membuka ponsel. Ada pesan darinya.

“Kenapa tiba-tiba begitu? Aku kan selalu ada.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Ada nada bingung, mungkin juga sedikit tersinggung. Tapi entah kenapa, aku merasa seolah ia tidak benar-benar mengerti maksudku. “Selalu ada” yang ia maksud ternyata berbeda dengan “selalu ada” yang aku harapkan.

Baginya, mungkin cukup dengan tetap di status “pasangan,” cukup dengan sesekali bertanya kabar, cukup dengan balasan singkat. Tapi bagiku, “selalu ada” berarti lebih dari itu. Mendengar tanpa terburu-buru. Menemani tanpa harus diminta. Membuatku merasa dicintai, bahkan dalam hal-hal kecil.

Aku menatap layar ponsel lama sekali, tidak segera membalas. Ada bagian dalam diriku yang ingin marah, ingin menjelaskan panjang lebar tentang semua sepi yang kurasakan. Tapi ada juga bagian lain yang sudah lelah mengulang-ulang cerita yang sama.

Akhirnya aku mengetik pelan:

“Aku tahu kamu ada. Tapi kadang aku merasa sendirian.”

Pesan itu terkirim, dan aku kembali menaruh ponsel. Aku menunggu beberapa saat, hingga balasan datang.

“Aku gak ngerti. Aku udah berusaha.”

Hatiku terasa berat. Aku percaya ia memang sudah berusaha, dengan caranya sendiri. Tapi itu bukan berarti aku tidak merasakan kekosongan. Perbedaan cara mencintai kami terasa begitu jelas. Ia mencintaiku dengan caranya—yang singkat, yang praktis, yang datar. Sementara aku merindukan cinta yang hangat, yang sederhana tapi penuh perhatian.

Aku menarik napas panjang, menatap langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa ingin memaksa. Mungkin ia memang begitu. Mungkin aku yang terlalu banyak berharap. Dan malam itu, aku berkata pada diriku sendiri: jika aku ingin bertahan, aku harus berdamai dengan perbedaan ini.

Aku menutup mata, membiarkan hatiku tenang meski sedikit perih. Karena pada akhirnya, aku sadar, kebahagiaan tidak selalu datang dari orang lain. Kadang, aku harus belajar menciptakannya sendiri.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!