Bab 7 Saat Ia Mulai Bertanya

Beberapa hari setelah aku memilih untuk lebih diam, suasana mulai berubah. Pesan darinya datang lebih sering, meski tetap singkat. Kadang ia menanyakan apakah aku sudah makan, kadang sekadar menuliskan “lagi apa?”

Dulu, pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah cukup membuatku tersenyum lebar. Tapi sekarang, rasanya berbeda. Ada bagian dalam diriku yang menanggapi datar, seolah aku tidak lagi menggantungkan kebahagiaan hanya pada kata-katanya. Aku membalas seperlunya, tanpa tergesa. Dan anehnya, aku merasa lebih tenang dengan cara itu.

Suatu malam, ia akhirnya menulis pesan lebih panjang dari biasanya. Ia bertanya apakah aku marah, apakah aku berubah, apakah ada sesuatu yang salah. Aku membaca setiap kalimatnya perlahan, lalu meletakkan ponsel tanpa segera membalas.

Bukan karena aku ingin mengabaikannya. Aku hanya butuh waktu untuk merasakan apa yang sebenarnya kurasakan.

Aku sadar, ada jarak yang mulai ia rasakan. Jarak yang sengaja kubuat, bukan untuk menghukumnya, tapi untuk melindungi diriku sendiri. Aku tidak lagi mau menunggu terus-menerus dengan hati berdebar, berharap sesuatu yang mungkin tidak datang. Aku ingin lebih kuat, bahkan jika itu berarti aku harus sedikit menjauh.

Di sisi lain, melihatnya mulai bertanya-tanya memberi sedikit rasa lega. Setidaknya ia sadar. Setidaknya, ada bagian dari dirinya yang menyadari bahwa aku tidak baik-baik saja.

Namun aku juga tahu, aku tidak bisa sepenuhnya menggantungkan harapan pada kesadarannya. Aku belajar bahwa kebahagiaan kecil bisa datang dari diriku sendiri—dari waktu yang kuhabiskan untuk menulis, dari musik yang menenangkan, dari langkah pelan-pelan menuju kedewasaan emosiku.

Malam itu aku akhirnya menjawab pesannya, singkat tapi jujur:

“Aku hanya butuh sedikit waktu untuk diriku sendiri.”

Setelah mengirimkannya, aku merasa lega. Tidak ada drama, tidak ada tuduhan, hanya kejujuran sederhana. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak lagi sepenuhnya terikat pada harapan yang menyesakkan.

Aku tidak tahu bagaimana ia akan menanggapi, atau bagaimana arah hubungan ini ke depan. Tapi yang kutahu, aku mulai berdamai dengan diriku sendiri. Dan itu, rasanya seperti langkah kecil menuju kebebasan yang sudah lama kucari.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!