Bab 5 Percakapan dengan Diriku Sendiri
Malam itu aku duduk sendirian di kamar, lampu sengaja kuredupkan. Hanya cahaya layar ponsel yang sesekali menyala, memberi bayangan samar di dinding. Tapi layar itu tetap sunyi, tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Hanya keheningan yang menemani.
Aku menutup mata, mencoba mengatur napas. Tapi semakin aku diam, semakin ramai suara di dalam kepalaku. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kupendam mulai bermunculan, satu demi satu.
Mengapa aku merasa begitu lelah?
Mengapa aku selalu berusaha keras untuk hadir, tapi ketika aku yang rapuh, aku harus berdiri sendiri?
Apakah aku terlalu berharap? Atau memang aku yang salah memilih cara mencintai?
Aku menatap cermin kecil di meja. Bayangan wajahku terlihat pucat, dengan mata yang sedikit bengkak karena sering menangis diam-diam. Aku mencoba tersenyum pada pantulan itu, tapi senyumnya hambar. Aku bahkan nyaris tidak mengenali diriku sendiri.
Aku rindu… bukan pada seseorang, tapi pada rasa.
Rasa dicintai dengan lembut, rasa diperhatikan dalam hal-hal kecil, rasa tenang ketika tahu ada seseorang yang benar-benar peduli. Dulu aku pernah merasakannya. Dulu aku tahu bagaimana hangatnya. Tapi sekarang, aku hanya bisa mengingat.
Aku mencintai pasanganku, aku tidak meragukan itu. Aku ingin tetap bertahan, ingin memberi kesempatan. Tapi jujur, hatiku mulai jenuh. Seperti berjalan di jalan panjang yang sepi, tanpa tahu kapan akan bertemu cahaya.
Aku berbicara pada diriku sendiri malam itu.
Mungkin aku terlalu sering mengabaikan perasaanku sendiri demi bertahan.
Mungkin aku terlalu sibuk menguatkan orang lain sampai lupa bahwa aku juga butuh dikuatkan.
Dan mungkin, sudah saatnya aku mengakui bahwa aku tidak baik-baik saja.
Air mata menetes pelan, tapi kali ini aku tidak berusaha menahannya. Aku membiarkan semuanya mengalir, seolah dengan begitu sebagian beban bisa ikut pergi.
Aku tahu, aku masih ingin berjuang. Aku masih berharap suatu hari nanti ia bisa melihatku dengan cara yang berbeda—cara yang membuatku merasa dihargai, bukan sekadar ada. Tapi untuk pertama kalinya, aku juga mulai sadar: jika hari itu tidak pernah datang, aku harus siap berdamai dengan diriku sendiri.
Karena mungkin, pada akhirnya, yang paling bisa menolongku hanyalah aku sendiri.
Kasih tip buat penulis
