Bab 3 Selalu Ada, Tapi Tidak Pernah Dicari

Hari itu aku baru saja pulang dengan tubuh lelah. Sepanjang hari pikiranku sudah penuh dengan banyak hal—tentang pekerjaan yang tak selesai, tentang keluarga yang tak pernah lepas dari masalah. Aku hanya ingin beristirahat, duduk tenang, mungkin bercerita sedikit agar bebanku terasa lebih ringan.

Tapi ketika aku membuka ponsel, ada pesan masuk darinya. Panjang, berisi keluh kesah tentang pekerjaannya.Tentang rekan kerja yang tidak pengertian, tentang betapa capeknya ia menghadapi semua itu.

Aku membaca perlahan, lalu segera mengetik balasan. Aku mencoba menghiburnya, memberi semangat, bahkan menawarkan solusi yang kupikir bisa sedikit membantu. Aku ingin ia tahu kalau ia tidak sendirian. Aku ingin ia merasakan bahwa ada aku di sisinya, kapan pun ia butuh.

Percakapan berlanjut cukup lama. Aku mendengarkan, menanggapi, memastikan ia merasa lebih baik. Dan ketika akhirnya ia berkata ia sudah agak lega, aku ikut tersenyum. Ada kepuasan aneh di dadaku—meski aku lelah, setidaknya aku bisa menjadi sandaran baginya.

Namun saat giliranku datang, semua berbeda.

Malam itu, ketika pikiranku kusut dan dadaku terasa sesak, aku mencoba mengetik pesan padanya. Aku ingin bercerita, sekadar mengatakan betapa berat rasanya menanggung semuanya sendirian. Aku menulis panjang, mencoba jujur tentang kelelahanku, tentang rasa takutku akan masa depan.

Balasannya singkat.

“Jangan terlalu dipikirin, nanti juga selesai.”

Aku terdiam, menatap layar yang tiba-tiba terasa dingin. Tanganku masih menggenggam ponsel, tapi hatiku perlahan hampa. Aku mencoba menambahkan kalimat lain, berharap ia mengerti bahwa aku benar-benar butuh didengar. Tapi balasan selanjutnya datang lebih cepat:

“Aku mau tidur dulu ya, besok cerita lagi.”

Aku menutup mata, menarik napas panjang. Rasa kecewa menelusup, tidak meledak, tapi mengendap dalam. Seperti tetes air yang pelan-pelan mengikis batu. Tidak terlihat, tapi terasa.

Aku tahu ia lelah. Aku tahu ia punya dunianya sendiri. Tapi di saat yang sama, aku tak bisa membohongi diriku: aku merasa tidak diinginkan ketika aku yang rapuh.

Aku teringat kembali bagaimana dulu aku bisa menumpahkan segala rasa, dan selalu ada telinga yang mau mendengarkan tanpa terburu-buru. Dulu, aku bisa menangis tanpa takut diabaikan. Sekarang, aku harus memilih kata hati-hati, harus menahan tangis agar tidak dianggap berlebihan.

Dan dalam hening malam itu, aku bertanya pada diriku sendiri: mengapa aku bisa begitu siap menjadi sandaran, tapi ketika aku butuh bersandar, yang kutemukan hanyalah udara kosong?

Aku menarik selimut, memeluk diriku sendiri. Di dalam hati, aku berkata lirih, “Mungkin aku memang harus terbiasa berdiri sendiri, bahkan dalam sebuah hubungan.”


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!