Bab 20 Menyambut Esok

Aku tidak tahu bagaimana akhir dari semua ini. Bisa jadi aku tetap bersamanya, bisa jadi aku memilih pergi. Tapi yang jelas, aku tidak lagi takut pada kesendirian. Aku tidak lagi melihat sepi sebagai musuh. Karena dari sepi inilah aku belajar menemukan suaraku sendiri.

Aku menatap ke depan dengan langkah yang lebih ringan. Masih ada luka, masih ada rindu, tapi aku sudah tidak lagi membiarkan itu mengikat kakiku. Aku belajar bahwa masa lalu adalah guru, bukan rumah untuk kembali. Dan masa depan adalah jalan yang harus kujalani dengan kepala tegak.

Malam itu, aku tersenyum kecil sebelum memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa siap menyambut esok—apa pun yang menunggu di sana.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!