EPILOG - Saat Aku Belajar Melepaskan
Cinta, pada akhirnya, bukan hanya soal menggenggam erat seseorang agar tetap tinggal. Kadang cinta juga tentang keberanian untuk merelakan, bahkan ketika hati masih ingin bersama. Aku dulu berpikir, semakin keras aku bertahan, semakin besar kemungkinan hubungan ini selamat. Tapi aku salah. Yang sering membuat kita hancur bukan kepergian orang lain, melainkan penolakan kita untuk menerima kenyataan.
Aku belajar bahwa aku tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintaiku dengan cara yang sama seperti aku mencintainya. Aku juga tidak bisa terus menukar kebahagiaanku demi mempertahankan orang lain. Karena pada akhirnya, jika aku sendiri tak bahagia, hubungan itu akan runtuh perlahan.
Dan di sinilah aku berdiri sekarang. Bukan sebagai lelaki yang kalah, tapi sebagai lelaki yang berani memilih dirinya sendiri. Aku tidak tahu siapa yang akan benar-benar menemaniku hingga akhir nanti, tapi aku yakin Tuhan selalu tahu siapa yang tepat untuk hadir di waktunya.
Aku menutup lembar ini dengan dada yang lebih ringan. Rasa sakit mungkin masih ada, rindu mungkin masih datang, tapi aku sudah berdamai. Aku sudah memilih untuk tetap melangkah. Karena hidup tidak berhenti hanya karena satu hati tak lagi berpihak padaku.
Aku belajar: "mencintai orang lain itu indah, tapi mencintai diriku sendiri adalah hal yang paling penting. Dan hari ini, aku akhirnya berani melakukannya."
Kasih tip buat penulis
