Bab 2 Jarak yang Tidak Terlihat
Pagi itu, matahari sudah tinggi ketika aku membuka mata. Ponselku tergeletak di meja samping, masih dengan notifikasi yang belum kubuka. Aku menyalakan layar, melihat ada pesan dari pasanganku. Hanya satu kalimat: “Jangan lupa sarapan.”
Aku tersenyum tipis, lalu meletakkannya kembali. Pesan itu seharusnya cukup untuk membuatku merasa diperhatikan. Tapi entah kenapa, rasanya berbeda. Ada sesuatu yang hilang. Pesan itu terasa seperti formalitas, bukan kepedulian yang lahir dari hati.
Hari-hariku berjalan biasa. Aku sibuk dengan pekerjaanku, sementara ia sibuk dengan dunianya sendiri. Kami tetap saling mengirim pesan, tapi singkat, seperlunya. Jika aku mencoba bercerita panjang lebar—tentang apa yang kupikirkan, tentang kegelisahanku—sering kali balasannya hanya “oh” atau “sabar ya.”
Seolah-olah aku sedang berbicara pada tembok...
Aku tahu ia bukan orang yang pandai mengekspresikan rasa, tapi hatiku tetap saja merindukan sesuatu yang lebih. Aku rindu diperhatikan dalam diam, rindu dipeluk tanpa diminta, rindu ada yang benar-benar mendengar tanpa menghakimi.
Malam hari, ketika lelah sudah menumpuk, aku sering mengajaknya untuk sekadar video call. Aku ingin melihat wajahnya, mendengar suaranya. Tapi jawaban yang kudapat sering sama: “Lagi pengen nonton film.” atau “Capek, besok aja ya.”
Aku mengangguk, mencoba mengerti. Tapi saat panggilan itu berakhir bahkan sebelum dimulai, ada hampa yang menyelinap. Di satu sisi aku tak ingin memaksanya. Di sisi lain, aku merasa makin sendirian.
Aku teringat dulu, ketika masih remaja, sekadar menatap wajah seseorang lewat layar ponsel sudah bisa membuatku tertawa sampai lupa waktu. Tidak ada rasa malas, tidak ada alasan untuk menghindar. Dulu, cinta begitu sederhana: hanya ingin dekat, hanya ingin bersama.
Sekarang, kedekatan itu terasa mewah.
Di kamar malam itu, aku memeluk bantal erat-erat, seolah berharap ada kehangatan lain yang bisa menemaniku. Aku tidak ingin berpaling, tidak ingin mengkhianati. Aku hanya ingin diperlakukan dengan cara yang sama seperti dulu aku pernah diperlakukan—dengan sabar, dengan lembut, dengan cinta yang tidak terasa seperti kewajiban.
Dan di dalam hati kecilku, aku bertanya: apakah mungkin aku terlalu berharap banyak? Ataukah memang beginilah cinta setelah dewasa, berubah jadi rutinitas yang kering perlahan-lahan?
Aku menarik selimut, menutup mata, berharap esok akan berbeda. Tapi jauh di dalam diriku, aku tahu, esok mungkin akan sama saja.
Kasih tip buat penulis
