Bab 15 Menguji Keputusan
Hari-hari setelah itu seperti ujian yang tidak pernah selesai. Aku mencoba bertahan, memberi kesempatan pada hubungan ini. Aku berusaha lebih sabar, lebih mengerti, lebih mengalah. Tapi di balik setiap usahaku, ada rasa getir yang tak bisa kualihkan: perasaan bahwa aku berjuang sendirian.
Aku mulai sadar, bertahan bukan hanya tentang menunggu seseorang berubah, tapi juga tentang melihat apakah aku masih sanggup menerima keadaannya tanpa kehilangan diriku sendiri. Dan setiap kali aku menimbangnya, hatiku terasa semakin rapuh.
Kadang ada hari di mana dia menunjukkan sedikit perhatian. Sederhana—sebuah pesan, sebuah tawa, sebuah tatapan yang mengingatkanku pada masa lalu. Saat itu aku merasa masih ada alasan untuk tetap di sini. Namun, di hari-hari lain, ia kembali pada sikapnya yang dingin, seolah aku hanya bayangan. Dan di sanalah keraguanku tumbuh lagi.
Aku mencoba memberi jarak kecil, bukan untuk mengakhiri, tapi untuk menguji: apakah ia akan merindukan kehadiranku, atau justru terbiasa dengan ketiadaanku? Jika ia merindukan, mungkin masih ada cinta yang bisa kami selamatkan. Tapi jika tidak, mungkin aku harus mulai belajar menerima kenyataan bahwa hubungan ini memang hanya bertahan di atas sisa-sisa rasa.
Dalam kesunyian, aku menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang terus menghantui:
Apakah aku mencintainya, atau hanya kenangan tentang dirinya?
Apakah aku bertahan karena sayang, atau karena takut kehilangan?
Apakah aku rela mengorbankan kebahagiaanku, hanya demi tidak disebut menyerah?
Semua pertanyaan itu seperti cermin. Dan setiap kali aku menatap cermin itu, aku semakin melihat betapa lelahnya diriku.
Aku tahu, suatu saat nanti aku harus memberi jawaban. Tapi untuk sekarang, aku biarkan waktu yang menguji. Jika hubungan ini bisa bertahan dalam jarak, mungkin memang masih ada alasan untuk berjuang. Namun jika tidak, maka aku harus berani melangkah pergi—meski hatiku berat, meski aku harus memulai lagi dari awal.
Dan untuk pertama kalinya, aku mulai menyiapkan diriku menghadapi kemungkinan terburuk: bahwa mencintainya berarti juga harus siap kehilangan.
Kasih tip buat penulis
