Bab 16 Sunyi yang Bicara

Jarak yang kuberi mulai terasa nyata. Aku sengaja tidak terlalu sering menghubungi, tidak lagi menjadi orang yang selalu memulai percakapan. Awalnya aku kira ia akan merasakan kehilangan, menanyakan keberadaanku, atau setidaknya mencari alasan mengapa aku berubah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ia tampak terbiasa. Hari-hari berlalu tanpa banyak kata, tanpa rindu yang digantungkan.

Di situlah aku sadar: kadang bukan kata-kata orang lain yang paling jujur, tapi sikapnya saat kita tidak lagi hadir. Sunyi yang seharusnya membuatnya resah, justru ia biarkan begitu saja. Dan kesunyian itu lebih keras berbicara daripada seribu kalimat.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!