Bab 1 Bayangan di Antara Waktu
Malam itu, aku duduk di meja belajar, menatap layar ponsel yang masih menyala. Balasan pesan dari pasanganku muncul singkat, hanya beberapa kata yang dingin, tanpa tanda kehangatan. Aku membaca ulang pesannya berkali-kali, berharap menemukan arti lain di antara huruf-hurufnya. Tapi tetap saja, rasanya kosong. Aku meletakkan ponsel itu pelan di atas meja, lalu menyandarkan tubuhku ke kursi. Nafas panjang keluar begitu saja, berat, seolah ada sesuatu yang mengganjal di dadaku.
Kamar ini terasa sunyi. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan, menemani kesepianku. Aku memandang langit-langit, berusaha mengusir resah dengan berpura-pura tidak peduli. Tapi rasa itu tetap ada. Rasa sepi di tengah hubungan yang seharusnya jadi tempat aku pulang.
Aku punya pasangan. Aku mencintainya, aku ingin bertahan dengannya. Tapi belakangan aku sering merasa asing. Pulang ke rumah atau membuka percakapan dengannya tidak lagi seperti pulang ke pelukan. Rasanya hambar, seperti air tanpa rasa. Aku mencoba berkali-kali untuk terbuka, untuk menceritakan kepadanya betapa lelah dan kacau pikiranku akhir-akhir ini. Namun sering kali, yang kudapat hanyalah balasan singkat, atau sikap dingin yang membuatku semakin ragu untuk berbicara.
Akhirnya aku belajar diam. Aku menyimpan sendiri segala rasa lelah, takut, dan kecewaku. Tapi diam itu justru membuatku semakin sesak. Seperti menumpuk batu di dadaku sendiri, semakin lama semakin berat.
Di saat-saat seperti inilah pikiranku sering kembali ke masa lalu. Masa sekolah adalah masa ketika cinta begitu sederhana, tapi terasa begitu dalam. Aku masih bisa mengingat jelas bagaimana rasanya dicintai waktu itu. Ada seseorang yang selalu perhatian dengan hal-hal kecil: menunggu di gerbang sekolah hanya untuk berjalan bersama, mengirim pesan singkat “hati-hati di jalan,” atau sekadar menemani duduk ketika hujan turun. Hal-hal kecil, tapi begitu hangat. Aku merasa berharga tanpa harus berusaha keras.
Kini, perhatian seperti itu terasa jauh. Aku sudah berusaha mencintai sepenuh hati, selalu ada untuk pasanganku, mendengarkan keluh kesahnya, mencoba menjadi tempat pulang yang ia butuhkan. Tapi saat aku yang rapuh, aku yang butuh tempat bersandar, rasanya aku sendirian. Aku merindukan kelembutan yang dulu pernah kurasakan.
Suatu sore, ketika aku membuka media sosial, aku melihat foto masa laluku. Seseorang yang pernah begitu dekat denganku kini berdiri di samping pasangannya, menggendong anak kecil dengan senyum yang tulus. Aku terpaku. Ada rasa sesak yang datang, tapi bukan karena aku masih menginginkannya. Tidak. Aku tidak iri. Aku bahkan merasa lega melihatnya bahagia.
Yang sebenarnya kurindukan hanyalah caranya dulu mencintaiku. Cara yang sederhana, lembut, penuh perhatian. Cara yang membuatku merasa istimewa, meski aku hanyalah diriku yang biasa-biasa saja.
Malam itu, aku membuka jendela kamar. Angin membawa aroma tanah basah, sisa hujan sore yang belum lama reda. Aku menatap langit malam, bintang-bintang kecil bertebaran di atas sana. Dan aku bertanya pada diriku sendiri: apakah aku masih bisa merasakan cinta yang seperti itu lagi? Ataukah masa itu hanya akan selalu menjadi kenangan, tidak pernah kembali?
Aku tidak ingin menyerah. Aku masih ingin bertahan dengan hubunganku sekarang. Aku masih percaya, mungkin suatu hari nanti pasanganku akan melihatku dengan cara yang sama—penuh kasih, penuh sabar, penuh perhatian.
Kerinduan ini bukan untuk orangnya. Kerinduan ini adalah untuk rasa itu. Sebuah pengingat bahwa aku pernah dicintai dengan cara yang menenangkan. Dan aku masih menyimpan harapan, bahwa aku akan merasakannya lagi—bukan dari bayangan masa lalu, melainkan dari orang yang kini kusebut rumah.
Kasih tip buat penulis
