45 - Persinggahan Pertama
“Kita berhasiiil ….”
Petang hari, masih di hari ketiga Ekspedisi Tujuh Panji.
Berondong peluru meriam dibarengi lemparan jurus bermacam aliran dari atas formasi kapal udara dan kereta-kereta di bawah sana mencegah gerombolan monster di seberang mendekat.
Juga, memekarkan senyum semua orang.
“Hah.”
“Hahaha. Kita berhasil.”
“Kakiku lemas. Kukira kita akan mati di sini.”
Mumpung orang-orang lagi lengah, pelan-pelan kutarik diriku lalu menyelinap ke luar Geladak Tengah Kapal Pengangkut terus melompat ke Kapal Induk sembari ganti mantel.
Segera, kuperiksa kamar peta buat mencari peta rute perjalanan kami.
“Tetua?”
“Mana peta perjalanan kita?” tanyaku pada kru di sana, “aku ingin tahu kita sudah sampai mana.”
“Ah!” Salah seorang sigap menyambar lekas menggelar peta yang kumau di meja. “Ini, Tetua.”
“Bagus. Tolong panggil Kopilot Pertama kemari ….”
Sesaat kemudian.
“Anda memanggil, Tetua?”
“Benar.” Kupapak kopilot kapal induk tersebut lantas merangkulnya agar melihat peta. “Kemari-kemari, beri tahu atasanmu, kita akan berhenti di sini—lihat, titik sebelah sini!”
Ia terbelalak sebentar.
“Beri tahu kapal-kapal induk lain juga,” tambahku kemudian menegaskan, “kita harus sampai di sana sebelum matahari terbit besok, ingat! Atau, ketujuh panji takkan pernah bertahan sampai tujuan bulan depan.”
“Dimengerti ….”
Begitu pesanku diumumkan, kapal induk diikuti kapal-kapal pengangkut bersama kereta-kereta pandu juga penyisir di bawah segera putar haluan. Menuju titik yang kuinginkan pada peta perjalanan kami.
Wilayah yang dulu sangat kukenal bahkan kerap kukunjungi serta menjadi andalan bila memerlukan bantuan.
Kemah Tikar Dagang ….
***
“Kau dari mana, Saudara Mi?”
“Aku?” Kusenyumi orang yang barusan menegur terus loncat ke jaring layar. “Habis dengar pengumuman sama lihat arah kapal kita sekarang.”
“Oh.” Orang tadi kembali pada urusannya. “Katanya Wakil Kepala menemukan tempat singgah,” ucapnya sambil lalu, “beliau jarang keluar, tapi sekalinya muncul penuh dengan kejutan ….”
Satu sudut bibirku naik.
Bukan diriku jarang keluar, tapi aku tidak bisa ada di dua tempat sekaligus.
Bagaimanapun posisi Wakil Kepala Panji Duyung banyak menguras tenaga dan pikiran, terutama ketika harus menghadapi Bae Mon Dok dkk. yang super duper cerewet, jadi meski fasilitas kapal sebesar gunung itu sangat lengkap aku lebih suka menghindar kemari daripada harus berkeliaran lalu bertemu mereka di sana.
“Kau lagi apa, Saudara Mi?”
“Kau gak lihat aku lagi rebahan?” timpalku tanpa menoleh, “Saudara Jia, kapal ini menuju arah tenggara. Apa menurutmu kita akan segera sampai?”
Suara langkah di bawah terdengar makin ramai.
“Kita terbang lurus ke arah selatan dari Xuen, lalu berbelok sedikit menuju tenggara sebelum mencapai Sungai Lembah Giok. Itu sudah di luar jalur utama—”
“Kudengar Wakil Kepala ingin membawa kita singgah,” sahut suara lain, “Saudara Jia, sebaiknya kita percaya saja pada atasan. Apalagi ini menyangkut perjalanan besok.”
“Aku tidak bilang ragu atau tidak percaya pada keputusan Wakil Kepala, Saudara Du. Diriku dengan Saudara Mi hanya sedang mengira-ngira lokasi kita saja.”
“Ah, Saudara Mi! Aku tidak melihatmu ….”
Kulambaikan tangan merespons panggilan tersebut.
“Kalian serasi,” lanjut suara tadi, “orang tersantai dengan pekerja andalan se-Mantel Jerami Cabang Duyung Ungu. Hahaha—”
“Apa Wakil Kepala ada di tempat?” Seberkas suara, lantang dan menggelegar, menjeda semua orang sekaligus membuatku melesat ke kapal induk dan ganti jubah segera. “Aku Kepala Panji Semut Merah, data—”
“Tetua Sumooo!” teriakku, menjawab dari salah satu sisi geladak. “Aku di sini! Heeei ….”
Begitu ia mendarat.
“Buat apa kau kemari, Tetua?”
“Ah, Tetua Mi, aku ingin membicarakan hal penting soal tujuan kita ….”
***
“Hoaaa—eh?!”
Keesokan paginya, ketika kami tiba di Teras Kemah Tikar Dagang.
“Kurasa semua orang sudah turun,” kataku lalu merapikan muka terus lompat dari jaring layar, “aku juga harus turun buat beli oleh-oleh ….”
Waktunya menggambarkan bagaimana penampakan tempat luar biasa ini setelah satu juta tahun silam.
Lapang luas yang entah berapa kilo hingga ke selatan jauh sana, tiang-tiang besar macam pagar di muka kapal-kapal kami, terus tembok panjang di seberangnya itu, mereka semua disebut Teras Kemah Tikar Dagang.
Sedang area luas di baliknya, adalah tempat yang igin kudatangi.
“Kenapa kalian masih di sini?”
“Tetua.”
“Tetua.”
“Tetua Mi!”
Bae Mon Dok dkk. sigap menghampiriku.
“Tetua Mi, tempat apa ini?”
“Tetua Mi, kenapa kita tidak tidak bisa terbang melewati atap ataupun menerobos tembok i—”
“Kalian pikir di mana kita sekarang, hah?”
Kulewati mereka lantas mendekat ke dinding dengan ukiran muka barong alias kepala singa yang punya taring panjang besar melengkung macam babi hutan kemudian mengetuk. “Permisiii!”
Tak ada jawaban.
Jadi, kuketuk sekali lagi. Tuk-Tuk!
“Apa Kemah Tikar Dagang masih buka?” tanyaku lekas mengambil dua keping perak, “aku bawa lima puluh ribu keping perak lebih, mau pesan jasa ‘tikar dagang dua pekan’ sama menyumbang kemah rehaaat—”
“Eh?!” Semua orang terperanjat. Kaget lihat mata di ukiran dinding yang tadi tertutup kini terbuka. “Haaah?!”
“Ini dua perak,” kataku terus bilang, “tolong buka gerbangnya, Tuan Pintu.”
“Kukira sudah tidak ada yang tahu tempat ini,” jawab muka barong yang kuajak bicara, “masukkan uang itu ke mulutku, aaa ….”
Setelah dua koinku dia telan.
“Masuk—eh, ya! Jangan lewat sini semua, masih ada pintu setiap seratus meter di kanan dan kiriku.”
“Mengerti.” Kuanggukkan kepala terus toleh kanan kiri. “Tetua Zimo, kalian berenam lewat pintu yang lain saja, ya?” pintaku sebelum putar badan dan teriak, “Panji Duyung Ungu! Baris di belakangku ….”
***
Hari keempat ekspedisi.
Rombongan mantel tujuh warna tengah singgah ke Kawasan Kemah Tikar Dagang. Wilayah bebas terbesar dalam sejarah yang pernah tercatat dimiliki oleh regu dagang sejak era Kyongdokia berdiri—bahkan, dia lebih tua daripada umur negara itu sendiri.
Satu-satunya, dan hanya satu-satunya sejauh ingatanku, kawasan yang mampu menyaingi utopia istana naga milik istri dengan putriku di dua Laut Tengah Daratan-nya Eldhera. Rumah Permata Biru, Toko Perhiasan Han, sama Gerbang Baruke-ku saja kalah.
Jika diurut berdasarkan luas, maka tempat ini menduduki peringkat ketiga setelah dua Danau Tengah Daratan tadi sebelum Gerbang Baruke lalu Kuil Widupa di posisi empat dan lima. Sedang ‘tuk popularitas, dia nomor satu berkat adanya Kemah Rehat di sepanjang tiga ‘jalur benang’ pada masa Chloria zaman itu.
Siapa sangka Kemah Tikar Dagang ini masih ada ….
“Benar-benar di luar dugaan,” gumamku sembari celingak-celinguk melihati interior ruang tunggu beserta perabot di kanan kiri, “entah sudah berapa juta tahun—”
“Selamat siaaang!”
Seorang wanita muncul.
“Tuan Ure, terima kasih sudah menunggu. Saya, Tilda, Manajer Kemah Tikar Dagang generasi sekarang. Salam. Silakan duduk ….”
“Salam.”
“Ah, ya! Sebelum mulai, Kepala meminta saya menyampaikan pesan. Agak panjang dan mungkin kurang enak didengar sebab akan mengungkit kenangan Anda. Mohon jangan dimasukkan dalam hati, boleh?”
Begitu pintanya sebelum ganti raut muka lantas menyuarakan pesan dari sang atasan pakai suara berbeda setelah diriku mengangguk—setuju.
“Kukira dirimu cuma bakal mendekam di Istana Naga, Ure. Aku turut berduka atas kepergian Letta, tapi dari saat terakhir kita bertemu sampai Jantung Benua kembali ke asalnya diriku juga tak bisa meninggalkan Kebun Rawa. Semoga kau mengerti ….”
***
Kasih tip buat penulis
