46 - Cara Kerja Dunia Lain
“Kenapa kau bengong, Tetua Mi?”
Aku menoleh ke kiri, lantas melesat dan teriak.
“Jangan ganggu aku sampai kita sampai di Tanah Tenggaraaa ….”
Meninggalkan Bae Mon Dok dkk. di depan Kantor Layanan Tikar Dagang Dua Pekan bersama muka-muka bingung mereka. Sesaat kemudian diriku kembali dengan topeng, topi, dan naginata setelah mengganti mantel berwarna menjadi jerami—sebagai Saudara Mi dari Kemah Cabang Logistik Panji Duyung Ungu.
***
Sebelumnya, ketika memesan jasa tikar dagang dua pekan.
“Jadi kalian gak bisa membantuku?”
“Kami bisa mengonfirmasi Reruntuhan Kyongdokia di selatan sebagai benar,” tutur Tilda, Manajer Kemah Tikar Dagang, waktu kuminta mereka membuatkan peta Puing Tanah Tenggara. “Akan tetapi, mohon maaf, kami tidak bisa menerima pesanan Anda ….”
Kupikir tadinya dengan datang kemari lalu menyewa jasa ‘tikar dagang dua pekan’ aku bisa sekalian membuat persiapan ekstra sebelum betulan menjelajahi puing dan dunia kecil di tujuan ekspedisi.
Sayang, diriku ternyata salah sangka.
Reruntuhan Kyongdokia memang benar ada, tapi tujuan perjalanan kami rupanya agak sedikit ke utara hingga mustahil bagiku ‘tuk mengambil persiapan di luar apa yang telah Bae Mon Dok dkk. lakukan.
Jadinya, minatku pada Ekspedisi Tujuh Panji sekarang seketika hilang terus alasan diriku mengunjungi tempat ini mendadak berubah.
Alhasil ….
“Aku mau menyumbang untuk membuka kemah rehat di Kerajaan Azura, Tzudi, Nadi, sama Sun.”
“Apakah—”
“Benar! Tolong bantu para pengungsi sampai mereka bisa keluar dari zona konflik.”
“Saya mengerti ….”
Resepsionis Kantor Jasa Kemah Rehat selanjutnya memberiku secarik kertas.
“Silakan tulis nominal yang ingin Anda donasikan dan tolong masukan uang Anda ke lubang ini, Tuan.”
Kuterima kertas tersebut, menulis nominal uang yang mau kusumbangkan, kemudian membuka dompet dan mentransfer sejumlah uang dari sana ke lubang ajaib di meja si resepsionis.
Sedetik berlalu, dua detik, hingga sekian menit kemudian.
“Sudah.” Aku tersenyum pada resepsionis.
Namun, balasan yang kudapat malah delik heran. “Tu-tuan?”
“Kenapa?”
“Be-berapa jumlah yang Anda donasikan?”
Aku toleh kanan kiri sebelum menjawab dengan berbisik.
“Cuma dua puluh.”
“Hah.” Ia tampak sedikit lega. “Saya baru pertama kali lihat dua puluh emas ditransfer selama itu—”
“Platinum.”
“Maaf?”
“Dua puluh platinum,” ulangku, meluruskan informasi sambil mengetuk kertas tadi dua kali. “Aku menulis dua puluh platinum di sini ….”
Lantaran keperluan di sana belum selesai, aku tidak begitu memperhatikan si resepsionis.
“Aku masih ada sedikit uang,” sambungku lekas mengambil kertas lain dan menulis nominal baru, “kali ini buat siapa saja yang kebetulan melintas atau butuh bantuan di semua cabang kemah rehat.”
“Be-berapa yang Anda tulis sekarang?” tanyanya pas kubuka dompet dan mentransfer uang macam tadi, “du-dua puluh lagikah?”
“Aku gak sedermawan itu,” jawabku sambil gurau, “kali ini cuma setengahnya ….”
***
“Oooi! Kalian mau pada ke mana?”
Selanjutnya, tatkala diriku sudah tidak tahu mau melakukan apa.
“Tungguuu!” Segera kukejar Jia dan para mantel jerami waktu mereka melintas di Gerbang Area Barat Laut Kemah Tikar Dagang. “Bukannya kapal masih—”
“Kami mau cari tempat hiburan, Saudara Mi.”
“Hah?” Mataku mendelik, tidak percaya dengan apa yang baru kudengar. “Tempat hiburan?”
“Benar. Kamar Meriam masih butuh sehari semalam buat kembali penuh. Atasan bilang kita boleh berkeliling asal jangan terlalu jauh atau perginya tidak sendirian, jadi kami kemari biar gak bosan me—”
“Terus yang mengangkut peluru?”
“Oh. Itu para pengokohan fondasi sama mutiara inti yang urus.”
Hem. Tumben mantel jerami gak jadi pesuruh.
“Saudara Mi, kau mau ke kapal, ‘kan?”
“Tadinya, ya.”
“Sebaiknya jangan kembali dulu.”
“Benar. Ikut kami saja. Kapan lagi kita bebas berkeliaran macam sekarang?”
Kalian tahu, aura positif orang-orang ini saat mengajakku benar-benar bikin silau. Aku tidak bisa menghindar pas lihat senyum cerah mereka.
Jadinya alih-alih kembali ke kapal, diriku kala itu spontan putar badan kemudian ikut cari tempat hiburan.
Meskipun, sayang, langkah kami segera kandas lantaran ….
“Saudara Du, bagaimana sekarang?”
“Jangan tanya aku. Saudara Jia?”
“Aku juga tidak tahu. Saudara Mi?”
“Hah ….” Kugelengkan kepala lihat muka polos mereka. “Kalian betulan gak bawa uang?”
“Saudara Mi, kita ini pertapa. Uang yang kukenal itu batu mana. Emas, perak dan sebagainya aku gak punya.”
“Kau, Saudara Jia?” Aku menoleh ke pekerja terbaik di kapal kami, berharap dapat jawaban beda.
Namun, ‘tuk urusan ini ia sama saja. “Macam Saudara Du, aku juga cuma bawa batu mana.”
Cek! Parah.
Benar-benar parah.
Meski kebanyakan pertapa memang selalu menjaga dan membatasi diri dari kehidupan duniawi, tapi itu bukan berarti mereka harus semiskin ini juga dong—elah!
“Eh?!” Tunggu, aku tiba-tiba penasaran. “Kalau kalian gak bawa uang ‘normal’ buat ekspedisi sekarang, terus peluru meriam yang kita beli sama lagi diangkut ke kapal dibayar pakai apa dong?”
“Kalau soal itu ….”
Semua orang kompak melihat ke Saudara Du.
“Katanya para tetua ranah transformasi mengambil misi dari banyak kerajaan sebelum ekspedisi. Jadi, kuyakin mereka tidak perlu kita pikirkan—daripada mereka, ini kita sekarang bagaimana?”
Semua orang spontan pada buang muka dan pura-pura gak dengar waktu dia tanya soal uang buat bayar tiket masuk taman hiburan di hadapan kami. Hadeh ….
***
“Sekarang bagaimana?”
“Jangan tanya ….”
Masih di depan taman hiburan, Area Barat Laut Kemah Tikar Dagang. Empat belas mantel jerami masih pada duduk bengong, topang dagu melihati keramaian seberang jeruji pembatas tempat yang ingin kami masuki—bikin geleng-geleng sama sesekali hela napas, iba.
“Hah.”
“Eh? Saudara Mi?”
“Kita gak mungkin bengong sambil meratap lihat orang-orang naik bianglala sama komedi putar di sana terus, ‘kan?” kataku yang lalu mendekat ke penjual roti bakar, “lima belas potong, tolong.”
Sesaat kemudian, mereka segera mengerubungiku.
“Kau punya uang, Saudara Mi?”
“Kenapa gak belikan kami tiket masuk—”
“Benar. Kalau punya uang, kena—”
“Berisik!” timpalku terus cemberut, “roti-roti ini satunya cuma sekeping perunggu, beli lima belas gak sampai satu perak. Tiket masuk sana dua puluh perunggu per orang, sudah tiga perak buat sampai pintu doang.”
“Hem.” Mereka makan roti sambil tertular cemberut. Mau membantah, tapi hitung-hitungan barusan masuk akal. “Terus gimana cara kita supaya bisa masuk tempat itu?”
“Cara lama,” ujar Saudara Jia, tiba-tiba berdiri dengan muka cerah. “Lihat. Pedagang di depan sana menjual roti bakar terus dapat uang. Kenapa kita di sini hanya duduk diam?”
“Aku paham maksudmu,” timpal yang lain, “tapi kita mau jualan apa, Saudara Jia?”
“Benar. Kau tahu sendiri kita cuma bawa barang-barang pertapa—”
“Tidak!” Saudara Du ikutan berdiri. “Justru karena kita pertapa, barang-barang yang kita jual akan berbeda daripada barang pedagang-pedagang di sini.”
“Maksudnya?” Aku garuk pipi memperhatikan mereka. “Kau mau jual apa?”
“Aku bisa menulis jimat sekali pakai,” jawab salah seorang, tiba-tiba bangkit penuh semangat.
Yang, segera disahut kawan-kawannya gembira. “Benar juga, aku punya banyak bahan ‘tuk membuat jimat.”
“Kalau begitu tunggu apa lagi?” sambar Saudara Du semringah, menerima semangat mereka dengan tangan terbuka. “Aku juga akan menyumbang mantra sekali pakai—”
“Aku bisa sedikit ilmu meramal.”
“Aku bisa jurus ilusi ….”
Begitulah.
Empat belas mantel jerami ranah pengembunan hawa tersebut selanjutnya menggelar tikar dagang, stan ramal beserta peruntungan, serta membuka panggung atraksi dadakan.
Berusaha menarik minat orang-orang yang lewat ‘tuk ditukar kepingan receh agar bisa membeli tiket taman hiburan di belakang mereka ….
***
Kasih tip buat penulis
