37 - Rencana dan Penemuan
“Siapa mereka?”
“Yang kribo, Pilo. Kalau yang bulat terus punya jenggot sampai pinggang, Pato. Mereka yang akan mengurus ladang sama ternak kita selama aku pergi.”
“Salam, Kepala Biara.”
“Salam, Kepala Biara.”
“Aku bukan kepala biara,” ujar Saudara Seperguruan Qin, meluruskan informasi pada Pilo dan Pato. “Kalau kalian berencana tinggal di sini ….”
Ia melihatku, jadi kubalas lirikannya pakai senyum. Namun, dirinya malah geleng-geleng.
“Lupakan. Selama bersedia mematuhi aturan dan menjaga nama baik Sekte, kurasa aku tidak punya alasan ‘tuk menolak. Apalagi kalian berdua orangnya juniorku.”
“Benar. Dia seniorku …,” bisikku pada mereka, “jadi jangan membuatnya kesal.”
“Kami mengerti,” jawab keduanya, kompak. “Senior, Bos!”
Dua kurcaciku memang cepat tanggap ….
***
“Tetua Mi.”
Keesokan paginya, tanggal 16 Bulan Sepuluh.
Kerumunan di sekeliling Bukit Muara masih melebar. Bahkan, awan kelabu yang kemarin kulihat dari balkon kedai teh baru memayungi sekte kini telah menutupi separuh langit Xuen.
Benar-benar pemandangan luar biasa ….
“Jangan bilang kalian kekurangan lahan buat membuka kemah,” kataku waktu Tetua Kuni memanggil, “lihat langit gelap sebelah sana, Tetua. Bukankah penginapan-penginapan di Xuen juga sudah penuh semua?”
Eit! Kuangkat tangan segera pas mulutnya terbuka.
“Aku gak bisa bantu!” pungkasku kemudian pergi.
Huh. Kegiatan pagi ini benar-benar padat. Kalian gak bakal percaya kalau kubilang seberisik apa suara-suara yang sudah memanggil dan menjedaku buat sekadar tanya arah mulai keluar sampai selesai ambil air barusan.
Meskipun gak semua menyebalkan. Sebab, “Pagi, Tetua.”
“Tetua.”
“Tetua.”
“Tetua Mi.”
Selain Bae Mon Dok dkk. para pertapa ini cukup sopan serta pandai menempatkan diri. Mereka mematuhi batas-batas sekte sama gak ‘cuma kemari buat numpang buang angin’ ….
“Bagus. Kalian gak cuma numpang kentut, aku suka.”
Kuambil delapan butir Pil Bubuk Aroma Mimpi.
“Ini. Jalan sekitar sekteku biasa dilewati orang, terima kasih sudah membersihkan mereka. Bagi sama teman-temanmu, sana ….”
***
“Kenapa kau baru datang?”
“Aku masih butuh makan, mandi, sama—kalian tahu sendiri,” kataku di depan Tetua Bae dan para perwakilan tiga aliansi, “gak harus kujelaskan kenapa baru bisa kemari, ‘kan?”
“Ahaha.” Tetua Sumo segera memapak lalu mengajakku duduk. “Tetua Mi, kau masih marah gegara rencana yang agak beda dari obrolan kemarin—”
“Agak?” Aku mendelik. “Membawa semua pertapa ke Kyongdokia bukan cuma agak—”
Oops! Aku keceplosan.
“A … maksudku, kenapa kita ha … ah, sudahlah! Aku gak akan bilang apa-apa, apa pun rencananya peranku bulan depan cuma sebagai penonton. Sekteku juga takkan mengirim orang lain, catat itu.”
Aku tahu, dari lirikan spontan pas kusebut Kyongdokia tadi, orang-orang ini sudah menaruh curiga. Kuyakin cepat atau lambat mereka juga akan mengirim orang buat memantauku atau kegiatan di Bukit Muara.
‘Hah.’ Sebaiknya aku tetap menghindar sampai akhir bulan nanti. “Kurasa semua orang sudah di sini, apa lagi yang kalian tunggu?” tanyaku yang lalu berjalan terus duduk di kursi sebelah Tetua Guyun.
Selanjutnya, pertemuan bersama tiga aliansi pun dimulai.
Tetua Bae ketika itu membagikan selebaran kemudian menggelarkan satu peta besar, peta yang begitu terbuka langsung menampilkan model tiga dimensi dari sebuah wilayah yang pas kuperhatikan sontak kukenali sebagai perpaduan separuh Kolom Lima-Satu dengan Lima-Dua.
Peta yang mencatat lokasi Feru, Ibu Kota Kyongdokia.
“Dari mana kau dapat peta ini?” tanya Tetua Guyun sebelahku, “kenapa kau punya peta Daerah Liar Selatan?”
“Sabar, Tetua Guyun. Aku akan menjawabmu nanti ….”
Menurut penjelasan Tetua Bae, peta itu ia dapat lewat bantuan seseorang yang tidak mungkin dirinya sebut di pertemuan tersebut. Juga, peta di hadapan kami sekarang nantinya akan berguna ketika menyeberangi tempat yang mereka juluki ‘tanah terlarang di selatan’ sebelum mencapai Reruntuhan Tanah Tenggara.
Jadi, kalau kurangkum apa poinnya, sebelum sampai tujuan rombongan terlebih dahulu harus melintasi sebuah wilayah penuh monster. Peta besar yang Tetua Bae tunjukkan sekarang ini beserta seluruh artefak sesudahnya merupakan kebutuhan mutlak buat perjalanan bulan depan.
Begitu ….
“Kau bilang mereka punya kendaraan pengangkut raksasa, Junior?”
“Benar. Kereta mirip mobil, cuma pakai roda kayu terus mesin bahan bakar minyak diganti batu mana.”
Saudara Seperguruan Qin sama duo kurcaciku antusias mendengarkan cerita sepulang dari pertemuan. Mata mereka berbinar, wajah cerah, terus gestur macam anak teka mendengarkan guru—benar-benar imut.
“Tunggu, apa itu mobil?”
“Benar juga, Pilo. Bos, mobil itu apa?”
Sialan. Aku lupa Eldhera belum mengenal mobil.
“Junior, aku juga baru dengar sekarang. Seperti apa bentuk mobil ini?”
“Hem.” Kugaruk pipi sebentar. “Mobil itu macam kereta,” ujarku sembari memperagakan pakai tangan, “dia punya empat roda terus jendelanya ada di semua sisi, kanan kiri depan belakang—kebayang?”
Mata ketiganya mengerling, membayangkan wujud kereta ber-empat roda serta punya empat jendela di empat sisi—mungkin.
“Terus-terus,” lanjutku semangat, terbawa suasana. “Mobil gak ditarik pakai kuda, tapi pakai sejenis rangkaian struktur pendukung proses mekanik yang disebut mesin.”
“Aku tidak mengerti,” aku seniorku, polos.
Yang juga didukung dua kurcaci sebelahnya. “Sama. Aku tidak tahu apa benda yang Anda sebut struktur?”
“Mekanik. Aku juga baru dengar kata ini sekarang, Kribo. Terus nama mereka jadi mesin kalau bertemu ….”
Aku menengadah. Tidak percaya bila kosa kata sederhana macam itu tak dipahami semua orang.
“Salahku. Maaf.” Sebaiknya jangan kulanjutkan. “Pendeknya mobil yang lagi kita bahas sekarang bergerak pakai bantuan mesin, begitu saja. Paham, ‘kan?”
“Maksudmu seperti sihir, Junior?”
Aku tidak ingin bilang iya, tapi jika kusanggah bakal muncul pertanyaan lain. Cek! Pelik sekali.
“Mereka gak pakai mana, jadi aku ragu kalau menyebutnya sihir.”
“Tunggu, Bos.” Pilo minta waktu, tangannya dilipat dan kepalanya menunduk. “Tadi Anda bilang mobil ini bukan ditarik dengan kuda dan tidak menggunakan batu mana, ‘kan?”
Sialan. Wajah kurcaci kribo satu itu bikin aku cemas.
“Bukankah ini penemuan baru?!”
Eh?! Aku terkejut.
“Kalau kita bisa membuatnya, bukankah—”
“Kau benar, Kribo. Benda semacam itu kalau benar ada sudah pasti membawa keajaiban ….”
Wajah mereka yang tiba-tiba semringah gak bisa kujelaskan.
Aku tidak tahu harus menggambarkan dua kurcaci yang kini tengah berjingkrak kegirangan mengitari saudara seperguanku dengan cara apa. Selain pakai kata keduanya tampak bersinar, aku tidak tahu lagi. Sungguh.
Apa menemukan mesin sehebat itu?
***
“Bos.”
“Berhenti mengikutiku, Pato. Kau gak lihat aku sibuk, hah?”
“Sibuk apanya?” celetuk Pilo, muncul dari belakang pinggang gemuk kawan karibnya. “Anda cuma mondar-mandir sekitaran bukit, ladang, sungai, sama gudang. Kami melihatnya sebagai ….”
Menganggur. Keduanya kompak bilang begitu.
“Terus?” Aku menoleh dan menjuling. “Kalian tahu aku mondar-mandir bukit, ladang, sungai, sama gudang. Itu namanya kalian menguntit, tahu?”
“Bukan!” sanggah Pilo yang kemudian mendekat dan berbisik, “tapi supermenguntit—”
Adaw! Aku kaget. Tidak percaya mereka akan mengakuinya bahkan bilang super, terus bangga pula.
“Berhenti mengikutiku, bukannya kalian kubawa buat mengurus kerbau sama ladang-ladang di sekte?”
“Sekarang masih awal musim dingin, Bos,” timpal Pato, “ladang selain kubis-kubismu gak perlu diurus.”
“Soal kerbau juga sudah beres!” tambah Pilo bangga, “jadi Anda tidak perlu cemas, kami sekarang tak punya pekerjaan yang harus dilakukan.”
‘Justru pas kalian gak punya kerjaan aku jadi cemas,’ batinku sebelum melengos sambil bilang, “aku mau jalan-jalan sebentar—jangan menguntit! Ikut saja, tapi pertanyaan kalian soal mesin gak bakal kujawab sampai kita balik Sekte ….”
Aku capek.
Setelah dengar soal mesin, dua kurcaci di belakangku ini gak pernah melepaskan mata mereka dariku.
Sama sekali. Selama masih di Sekte dengan area sekitarnya, mereka selalu menemukan cara buat muncul tiba-tiba lalu tanya bagaimana sebuah mesin bekerja, apa kelemahan dan keunggulannya dibanding tenaga hewan dengan kekuatan sihir, terus bisakah aku merakitnya di sini.
Benar-benar melelahkan ….
***
Kasih tip buat penulis
