38 - Kemah Tiga Aliansi
“Tetua Zimo.”
“Ah, Tetua Mi.”
“Salam. Aku kemari gegara dua dwarf ini,” akuku ketika menemui Tetua Zimo di kemah sektenya, berharap ia akan berbaik hati meminjamkan kendaraan pengangkut yang sempat Tetua Bae singgung pada pertemuan tadi pagi. “Kalau boleh, kami kemari buat melihat kereta harimau besimu.”
“Kereta harimau besiku?”
“Benar.” Kutarik Pilo dan Pato pakai Benang Pandora. “Mereka berdua sangat penasaran dan merengek minta dibawa melihat kendaraan super megah itu, Tetua. Jadi jika—”
“Hahaha.” Tetua Zimo kelihatan senang. “Aku tidak tahu akan ada yang tertarik dengan karya remeh murid-murid sekteku—tentu saja!” teriaknya dengan tangan terbuka, “jangankan cuma lihat, kalian boleh membawa pulang satu dan mengendarainya kalau mau.”
“Sungguh?!” Dapat kesempatan begitu, tebak apa yang dua kurcaciku lakukan. “Anda orang hebat, Pertapa.”
“Benar. Bukan cuma hebat, tetapi juga dermawan. Anda panutan kami ….”
Mereka memeluk ciumi dan menjilat Tetua Zimo dengan bualan super duper manis—aku sampai mual gegara jenuh. Namun, sang tetua tampaknya menikmati perlakuan tersebut. Keduanya dirangkul kemudian ia ajak ‘tuk melihat koleksi pribadinya secara langsung.
Hem. Kecocokan sesama pengrajin, kurasa.
“Kurasa aku gak akan menemani kalian,” kataku sebelum mereka bertiga berlalu, “aku ada urusan la—”
“Jangan khawatir, Tetua Mi, dua dwarf ini akan kujaga baik-baik.”
“Benar, Bos. Pertapa Besar Zimo akan menjaga kami.”
“Anda tidak perlu cemas.”
Begitulah timpal ketiganya sebelum benar-benar berlalu dan tenggelam dalam dunia mereka ….
“Hahaha. Kalian harus coba semua benda buatanku. Aku punya kereta perang dari Esensi Banteng Langit.”
“Esensi Banteng Langit?”
“Bukankah hewan itu sangat ganas?”
“Ho. Kalian takkan percaya bagaimana caraku menangkapnya hidup-hidup.”
“Hidup-hidup? Ini luar biasa!”
“Ceritakan pada kami.”
“Tentu saja, akan kuceritakan ….”
***
“Hei. Apa kau tersesat?”
Kulihat orang yang baru menegurku.
Seorang wanita, pakaiannya bagus, dan ia membawa sebilah pedang dengan aura yang entah karena alasan apa disegel serta dibubuhi mantra pengabur.
Tusuk kondenya juga menarik, giok kaca yang cantik.
“Saudara? Saudara ….”
“Ah, maaf-maaf. Aku gak fokus.” Segera kurapikan diri dan berdiri. “Tusuk kondemu cantik.”
“Tusuk konde?” Ia pegang kepalanya sejenak. “Ah, maksudnya benda i—terima kasih, ini hadiah pemberian guruku. Eh, ya! Apa kau tersesat, Saudara?”
“Aku?”
“Melamun di batu sendirian, apa dirimu ditinggal rombongan? Kau dari sekte mana?”
Hem. Sebaiknya jangan bilang aku dari Bukit Muara, deh.
“Aku, Mi. Benar, Saudari. Aku ingin ke Bukit Karang dari Persekutuan Sabuk Timur.”
“Oh. Kau salah kemah, Saudara. Ini wilayah Aliansi Gerbang Barat, Sabuk Timur ada di bukit sebelah sana—yang ada menara naga itu.”
“Ah!” Kuanggukkan kepala dua kali. “Terima kasih banyak, Saudari. Diriku tertolong ….”
Sesaat kemudian.
“Permisi. Apa benar di sini kemah Persekutuan Sabuk Timur, Saudara?”
Orang yang kutemui di gerbang kemah melirikku dari atas sampai bawah sebelum bilang, ya. Kelihatan sekali bila dirinya merasa terganggu dan enggan meladeniku.
“Katakan kau mau apa?”
“Aku ingin tanya, apa anak bernama Miki dari Bukit Karang ada di sini?” tuturku sembari merogoh lengan jubah, mengambil sekeping perak yang selanjutnya kutaruh di meja. “Aku kerabat dari Kauro. Boleh tolong panggilkan anak itu sebentar?”
“Hem. Tunggu, biar kucari dulu.” Ia mengambil koinku lalu memeriksa sebuah buku. “Benar, namanya ada di daftar kemah ini.”
“Ah, syukurlah—”
“Tapi ….” Lelaki gondrong di depanku melirik badanku sekali lagi. “Kemah kami sangat sibuk, me—”
Mengerti. Kutaruh sekeping perak lagi.
“Aku hanya ingin bicara dengannya sebentar,” pintaku yang lalu menambah sekeping lagi, “jika uang-uang ini kurang, tolong katakan berapa yang harus kubayar.”
“Ish!” Dirinya pasang muka kesal, tetapi cepat-cepat menyambar dua koin barusan. “Kau pikir aku itu siapa, hah? Pertapa sepertiku sudah tidak memerlukan barang fana, jangan asal bicara.”
“Ah, benar-benar. Anda seorang pertapa yang sudah menghilangkan nafsu dunia,” kataku sembari menaruh satu keping lagi, “diriku salah bicara barusan. Maafkan-maafkan ….”
“Tunggu di sini!” pungkasnya yang kemudian beranjak usai menyambar koin keempat ….
***
“Paman Mi?!”
Diriku menoleh, tersenyum, lekas memapak lalu mengangkat dan memeluk bocah yang menyongsongku—Miki.
“Bocah Nakal, ke mana saja kau setahun ini, hah?” kataku, menurunkan tubuh anak itu gegara pusing sehabis membawanya berputar-putar. “Kenapa kau sangat kurus? Bocah, apa Bukit Karang gak memberimu makan—tunggu?!”
Aku senang melihat Miki di sini. Dirinya benar-benar pulang ke Bukit Karang setelah kejadian tahun lalu dan ayah mertuaku tidak melakukan apa-apa padanya. Akan tetapi, mataku sontak mendelik pas menemukan jejak aura janggal di belikat si bocah.
“Lepas bajumu, Bocah.”
“Ke-kenapa, Paman Mi?”
“Sudah nurut saja, tunjukkan belikatmu padaku … ini—siapa pelakunya?”
“Paman?”
“Jangan cuma melihatku. Katakan siapa yang merapal Formasi Cermin Hantu padamu, hah—Bocaaah?!”
Aku kesal. Ilmu menyebalkan dari zamanku itu masih ada. Sihir jahat yang dahulu dipakai para Tetua Telapak Besi untuk berganti tubuh dan menyamar di antara murid Teratai Perak.
“Ikut aku!” Kusambar tubuhnya kemudian melesat dari sana.
Membawa sang bocah sekian ratus mil ke arah barat dari kemah tersebut. “Di mana kita, Paman?”
“Tanyanya nanti saja,” ujarku yang lalu menarik tubuhnya duduk, “kita akan mengangkat kutukan sialan di badanmu dulu. Berani benar dia memasang penanda penukar tubuh pada keluargaku.”
Anak itu kelihatan bingung. Namun, ia menurut dan tidak banyak tanya sampai kutukan tersebut terangkat.
“Lihat, ini penanda yang ditanam ke belikatmu. Siapa pelakunya, Miki?”
“Aku ….” Si bocah tampak ragu. “Aku gak tahu apa maksudmu, Paman. Seingatku be—tunggu! Guru pernah membawaku dan beberapa senior ke gua rahasia tiga bulan lalu, di sana kami melakukan semacam ritual. A-apa mungkin … Paman Mi?”
“Bisa jadi,” timpalku kemudian menghancurkan penanda sialan tadi, Ctas! “Sebaiknya kau jangan kembali ke Bukit Karang. Gurumu pasti tahu kalau penanda di tubuhmu sudah hilang.”
“Mana bisa, Paman. Guruku sedang sakit parah, aku gak mau me—”
“Dengarkan aku, Bocah! Penanda tadi dibuat untuk persiapan Sihir Cermin Hantu. Pas semua syarat mantra sialan itu siap, perapalnya akan merebut dan memakai tubuhmu sebagai inang baru.”
Kutatap matanya serius.
“Kau mau jadi tumbal sihir sialan ini?”
Ia sontak menggeleng.
“Makanya, jangan kembali ke Bukit Karang dulu.”
“Tapi, Paman ….”
“Apa lagi?”
“Kalau gak kembali ke Sekte, Guru dan senior-seniorku pasti akan mencariku.”
“Soal itu biar aku yang urus ….”
Huh. Satu lagi hal yang merusak hariku.
Siapa sangka bila sihir menyebalkan yang kukira telah musnah dari benua ternyata masih ada.
Cermin Hantu. Jurus perebut raga yang digunakan para Tetua Perguruan Telapak Besi di masa lalu, sekaligus jurus yang juga membinasakan mereka pada saat itu. Ilmu terkutuk warisan praperiode perang besar Kerajaan Jian Seng dan Kyongdokia ….
***
Kasih tip buat penulis
