23 - Popularitas Semu
“Junior Mi, tungguuu ….”
Bagus. Akhirnya dia datang.
“Ju—junior Mi?!”
“Jangan cuma bengong!” panggilku pada Saudara Seperguruan Qin, “Senior, cepat bantu aku menggusur dan mengikat mereka dekat pohon sebelah sana ….”
Bulan Delapan 223 Shirena.
Kabar soal tantangan Bukit Muara terhadap sekte-sekte di Xuen telah tersebar luas sesuai perhitungan. Orang-orang yang lagi kuikat sekarang ini merupakan korban dari berita tersebut. Mereka mengincarku dan Saudara Seperguruan Qin dengan niat menyergap pil penerobos ranah di tangan kami.
Sembrono sekaligus bagus ….
“Kau yakin gak apa-apa membiarkan mereka begini, Junior Mi?”
“Apa-apa malah.” Aku cekak pinggang, selesai mengikat orang-orang tadi dekat sebatang pohon. “Sudahlah, Senior. Jangan dipikirkan. Mereka mau merampok kita. Sudah untung cuma kubikin pingsan terus kuikat di sini sama masih kubiarkan hidup, ya, ‘kan?”
Anak itu kelihatan ragu.
“Mereka gak bakal mati,” kataku, coba menenangkan. “Coba pikir. Siapa nanti yang akan menyebarkan lokasi kita kalau orang-orang ini kubiarkan mati, Senior?”
Ia sedikit melega.
“Percaya padaku. Besok atau lusa mereka bakal muncul dan menyergap kita lagi ….”
Dan, ya. Itulah yang terjadi. Dua hari berikutnya orang-orang tersebut betulan muncul kembali di perbatasan negara tetangga dengan kekuatan sekian kali lebih banyak daripada malam ini.
“Bagaimana, percaya?”
Sejak saat itu, bocah plontos bermarga Gong Sun sebelahku pun tidak pernah lagi menanyakan keputusanku jika menghadapi situasi serupa. Dirinya juga jadi lebih tenang, mudah diajak bicara, terus sudah agak terbuka dan bersedia mendengarkan rencana buat mendongkrak popularitas Bukit Muara.
Dibanding bulan sebelumnya, perubahan kali ini benar-benar postitif.
Aku tidak perlu melakukan apa-apa lagi ….
***
“Akhirnya, kita sampai ke Tianwu.”
Bulan Sembilan 223 Shirena.
Perjalananku bersama Saudara Seperguruan Qin yang mulanya untuk menjajal jurus Genta dan Tubuh Emas, telah membawa kami ke Gerbang Kota Tianwu, Ibu Kota Pemerintahan Kerajaan Ding. Satu dari sekian kota penting di Persekutuan Pagar Tengah serta merupakan kota terpadat ketiga setelah ibu kota perdagangan sama pendidikan mereka, Mu Ang dengan Bo Ho.
Kota terbaik ‘tuk membangun fondasi sebelum melawan Serindi jika aku masih punya niat balas dendam ….
“Kami dari Sekte Bukit Muara di Xuen,” kataku pada petugas tol di gerbang kota, “kemari untuk menghadiri acara Sekte Belukar Semak dan menyalami Pu Ding.”
“Bukit Muara yang katanya punya Pil Penghalang Lapis Ganda itu?!”
“Kenapa mereka di sini?”
“Benar, bukankah Tianwu adalah wilayah—”
“Jangan-jangan mereka mau menantang Sekte Belukar—”
“Berisiiik!” pekik prajurit di depanku, meneriaki orang-orang yang tetiba ribut sebelum lanjut memeriksaku dan Saudara Seperguruan Qin. “Kalian bukan mau bikin onar, ‘kan?”
Menanggapi pertanyaan tersebut, kukeluarkan dua keping perak lalu menaruhnya di meja pemeriksa.
“Kalaupun aku dengan saudara seperguruanku bikin onar, Anda mau apa?”
“Ahaha ….” Seketika, muka serius si petugas langsung lenyap. “Anda benar, Pertapa. Urusan dunia persilatan tak ada hubungannya dengan manusia-manusia biasa seperti kami. Jika Anda berdua berulah, militer dibantu serikat sekalipun takkan bisa berbuat apa-apa.”
“Jangan terlalu pesimis,” kataku lantas menambah tiga keping perak, “aku pun masih manusia biasa.”
Membuat sang prajurit tambah semringah hingga lekas melompat keluar dari meja untuk mempersilakan kami lewat dengan muka kegirangan bak baru menang undian.
Sementara bocah polos sebelahku, celingak-celinguk sembari menuntun kuda serta menahan rasa penasaran waktu melewati gerbang kota yang sesak oleh rekan-rekan si petugas dan para penjaga.
Ia tidak berani bicara sampai kami benar-benar melewati gerbang dan masuk ke kota ….
“Kau sudah boleh tarik napas.”
“Hah ….” Bocah itu terengah-engah, betulan tarik napas. “Apa-apaan ta—”
“Cuma permainan kata,” selaku lalu menjelaskan, “siapa juga yang mau bikin onar di kota terketat se-Kerajaan Ding ini, Senior. Kau bodoh kalau percaya penjaga gak bisa meringkus kita tadi ….”
Sebetulnya mereka memang gak bisa meringkusku.
Kalaupun tentara-tentara di belakang sana betulan nekat, satu entakan kaki si Mera sebelahku tambah rapalan sihir bumi sudah cukup ‘tuk meluluhlantakkan—bukan hanya gerbang, tapi juga seluruh distrik di—Tianwu.
Namun, macam yang kubilang. Semua itu ….
“Cuma permainan kata, mengerti, ‘kan?”
Bocah sebelahku menggeleng. Hem.
“Sudahlah. Sebelum menemui Pu Ding di Istana ayo cari makan dulu ….”
***
Beberapa saat kemudian, di salah satu kedai tak jauh dari gerbang kota.
“Ahaha. Selamat datang. Silakan, silakan ….”
“Tolong bawakan rekomendasi koki ‘tuk hidangan vegetarian,” kataku pada pelayan kemudian memberinya sekeping perak, “dan tolong carikan aku alamat kartografer terbaik di sini.”
Ngomong-ngomong, agendaku di Kota Tianwu ada dua.
Pertama untuk mengumpulkan papan nama sekalian mengiklankan Bukit Muara lewat ‘latih tanding’ macam dua bulan ke belakang, dan yang kedua buat melihat situasi Timur di lapangan.
Maksudku geopolitik sama sosial pasca-Tragedi Kauoro dua tahun silam ….
“Junior Mi. Soal kartografer barusan. Beri tahu aku, kau lagi merencanakan apa?” tanya Saudara Seperguruan Qin, bergeser ke dekatku sesaat pelayan undur diri.
Melihat dirinya antusias kala itu kujawab, “Aku mau memetakan Ding, Tzudi, sama Vu …, persiapan sebelum menyerbu Serindi, kalau kau tanya buat apa.”
Ia terbelalak. Reaksi spontan yang bisa kumaklumi.
“Katupkan mulutmu, Senior,” ujarku, senyum topang dagu sambil melihatinya. “Apa kau betulan percaya?”
Gong Sun Qin sontak menggeleng.
“Gaya bercandamu benar-benar …, susah kutandingi—”
“Taruh senjatamu di pinggir meja.”
“Maaf—ah, ya! Katanya Tianwu itu wilayah Sekte Akar Rumput sama Belukar Semak, apa kita nanti sungguh akan menantang mereka?”
Kepalaku memiring memperhatikan dirinya.
“Junior Mi. Bukan aku mau merusak rencana di pertemuan nanti, tapi …, kita sudah sejauh ini.”
“Bilang saja kalau kau mau aku memastikan jika kita bakal betulan menantang mereka.”
“Hehe.”
“Kita lihat situasinya dulu, kalau mereka laya—eh, tapi … Senior, daripada itu, bukankah kau kusuruh berlatih mantra pemanggil pedang putih di sana,” ujarku, merujuk senjata yang sebelumnya ia taruh di meja. “Sudah selama ini, kenapa aura kalian masih belum padu?”
“Hehe.”
Sekali lagi, bocah plontos sebelahku cuma nyengir—ketawa garing sambil menunjukkan gigi dan garuk-garuk kepala tak gatal. Jelas sekali bila dirinya melewatkan latihan. Cek!
“Hah ….” Aku hela napas, berdecak, terus menggeleng. “Nanti kubilang Ketua kau banyak bermalas-malasan di luar dan gak berlatih dengan sungguh-sungguh.”
“Jangaaan—” jeritnya yang sontak tertahan dan segera ia ganti dengan bisik, “jangan bilang apa-apa pada Guru … kumohon. Junior Mi, kau tahu sendiri beliau sangat ketat padaku, ‘kan?”
“Makanya berlatih.” Kulipat tanganku. “Kalau Bukit Muara sudah terkenal terus dirimu berhasil menguasai pusaka di sana itu, Ketua pasti gak bakal mengomelimu lagi—kujamin.”
“Mudah kalau cuma bilang gitu,” balasnya, tiba-tiba menggelayut lemas ke pingiran meja dan melihatku tanpa gairah. “Kau gak melatih jurus Genta—ya, ya, aku lupa dirimu sudah menguasai semua mantra perguruan di minggu pertama.”
Aku ingin ketawa lihat muka sebalnya.
Bocah ini mirip Miki. Usia-usia susah diatur. Maunya tampil keren, hebat, dan bisa diandalkan.
Namun, masih belum peka sama situasi sekitar serta agak sembrono khas remaja-remaja tanggung.
“Aku cuma merapal Jari Emas, bukan lagi pamer.”
“Tetap saja ….”
Lihatlah cara dia protes.
Menggemaskan sekali, ‘kan?
***
Kasih tip buat penulis
