24 - Bengkel di Jalan Long An

“Terima kasih. Silakan datang lagi ….”

Makan, sudah. Alamat kartografer, sudah. Selanjutnya ….

“Ayo sapa Pu Ding sebelum menghadiri Acara Belukar Semak, Senior.”

“Junior, aku ma—”

“Gak boleh!” selaku yang lantas mengangkat tubuh dan mendudukkan Saudara Seperguruan Qin di punggung kudanya terus lompat ke punggung si Mera, “kau sudah sepakat buat ikut semua aturanku sebelum kita datang kemari, ‘kan, Senior?”

“Tapi …, Junior Mi, kenapa kita harus datang ke Istana segala?”

“Cukup omong kosongnya, Senior.” Kusenyumi bocah sebelahku. “Aku baru sadar jika Bukit Muara butuh lebih dari sekadar ‘modal besar’ sebelum mulai melakukan debut di Pagar Tengah, kau tahu. Jadi lihat baik-baik bagaimana caraku mengaturkan semua itu untuk kita ….”

Benar. Dua bulan keliling banyak tempat dan memeriksa ombak sehabis melempar pancing. Menurut kalian kenapa aku ingin ‘menyalami’ Pu atau Raja Wilayah Ding?

***

“Junior Mi.”

Aku menoleh.

“Katamu kita mau mengunjungi Istana, ‘kan?”

“Benar. Lalu?”

“Apa sebuah bengkel kelihatan macam istana bagimu?”

Aku tersenyum dengar pertanyaan bocah sebelahku.

Langkah kami memang janggal jika mengacu pada rencana semula, menyalami Pu Ding kemudian menghadiri acara Belukar Semak buat menantang formasi mutiara inti mereka.

Lantas, apa tujuanku mampir ke bengkel satu ini. Begitu pertanyaannya, ‘kan?

“Jawabannya sederhana …,” kataku lalu menggedor pintu bengkel tersebut, brak-brak-brak! “Permisi. Apa Kepala Bengkel ada di tempat?”

“Aku kepala bengkel di sini. Siapa yang mencariku?!”

“Bagus.” Kusambut kurcaci yang baru muncul itu dengan senyum lebar. “Aku mau membeli bengkel ini ….”

Kalian boleh menyebutku gila karena tetiba mau beli bengkel tanpa sebab, tiada angin ataupun hujan.

Namun, tolong jangan lupa bila selain menyuling rumput obat keahlianku juga adalah menempa.

Kuakui. Bila kalian orangnya menimbang untung rugi alias perhitungan, tindakanku sekarang hanyalah bakar uang. Apalagi kami tidak berencana ‘tuk membuka bisnis atau menetap lama di Tianwu, ‘kan?

“Bagaimana?” tanyaku, selesai menyebutkan harga dan meminta sang kepala bengkel mungil untuk membuka penawaran. “Selain membeli lahan baru, kau juga bisa membangun bengkel yang lebih besar dengan seribu lima ratus koin perak dariku, bukan?”

“Hem. A—”

“Ah, ya!” Jangan menyela dulu, diriku belum selesai. “Aku tahu sejarah lebih bernilai ketimbang uang bagi para dwarf,” ujarku lantas menambah harga, “jadi, tanpa mengurangi rasa hormat atau bermaksud buruk dan apabila dirimu berkenan, keinginanku adalah menjadi sponsor regu tempa—”

“Omong kosong!” bentak si kurcaci, berdiri terus cekak pinggang menanggapi tawaran keduaku. “Menjadi sponsor, kaupikir aku semiskin itu sampai butuh dikasihani, hah?!”

“Sudah kubilang jika dirimu berkenan saja, ‘kan?”

“Aku tidak berkenan!” tegasnya yang lalu melipat tangan sambil buang muka, “kau boleh membeli tanah dan bekas bengkelku, tapi jangan berharap bisa membeli keahlianku—paham?!”

“Baik, baik. Diriku mengerti, Tuan Ben.” Segera kutaruh kantung uang ke hadapannya. “Kalau begitu tolong kemasi barangmu dan barang-barang milik muridmu sore ini, aku dengan saudara seperguruanku di sana akan mulai menempati beng—”

“Tunggu-tunggu-tunggu!”

“Jangan bilang kau mau menarik kata-kata barusan?”

Ia kelihatan bingung.

“Semua orang mendengarnya. Seribu lima ratus keping perakku ada di depanmu dan kau tadi bilang aku boleh membeli tanah dengan bekas bengkelmu kecuali keahlian menempa—”

“Aku tidak bilang mau menjualnya sekarang!”

“Benar,” timpalku lalu mengeluarkan sekantung uang lagi, “tapi aku dan saudara seperguruanku butuh tempat tinggal segera. Jadi, kugandakan tawaran sebelumnya dan tolong tinggalkan bengkel i—”

“Tunggu!”

“Apa lagi?”

“Kau yakin mau membeli bengkelku—”

“Bekas bengkelmu.”

“Ya. Kau yakin mau membeli bekas bengkelku semahal itu?”

“Hem.” Kuelus dagu perlahan, pura-pura berpikir. “Gak!”

Kuambil lagi kantung uang kedua.

“Seribu lima ratus keping perak sudah lebih dari cukup.”

Muka kurcaci di depanku berubah cemberut.

‘Aku tahu benar bangsamu anak uang plus mata duitan,’ gumamku sembari ketawa dalam hati, “meski sangat jujur dan menjunjung tinggi harga diri, tapi diriku juga gak boleh mencampuradukkan perasaan sama bisnis.”

Kubuka ikat kantung pertama kemudian memasukkan tangan, hendak mengurangi isinya.

“Seribu lima ratus perak sepertinya masih terlalu berlebi—”

“Jangan mempermainkanku!” pekik si kurcaci pas menyambar kantung uang tersebut, “seribu lima ratus perak buat tanah sama bekas bengkel ini, tidak boleh kurang!”

“Bijih, arang, sama perkakas-perkakasnya?”

“Ambil saja kalau mau—”

“Sepakaaat!” Kuulurkan tangan semringah. “Dengan begini kau gak perlu repot berkemas dan bisa langsung membawa murid-muridmu pergi ….”

Walau agak menjebak, kesepakatan tetaplah kesepakatan.

Selanjutnya, si kurcaci pun menggantung palu beserta semua perkakas, menulis tanda terima, mengganti nama di surat tanah dan bangunan, lalu terakhir mengucapkan kata-kata sekaligus salam perpisahan bersama murid-muridnya di depan bengkel yang telah menemani mereka selama puluhan tahun tersebut.

Hem.

“Kau gak kasihan sama mereka, Junior Mi?” tanya Saudara Seperguruan Qin pas mengintip dari jendela, “kita gak seharusnya mengusir pemilik bengkel dan merampas semua barang di sini begitu saja, ‘kan?”

“Simpati tetap simpati dan bisnis tetaplah bisnis ….” Begitu jawabku, pindah ke area tempa selesai memeriksa kelengkapan toko dengan barang-barang di gudang. “Kalau mau kasihan, kau seharusnya gak ikut aku ke luar buat menantang sekte-sekte kemarin, Senior.”

“Junior Mi, kenapa jawabanmu terdengar makin menyebalkan?”

“Senior, ada hal yang gak perlu kau usik atau tanya alasannya kenapa …,” ujarku, menoleh setelah menyalakan tungku. “Salah satunya, keputusanku buat membeli bengkel ini.”

“Aku makin gak paham.”

Memang tidak perlu.

Buat apa juga paham kenapa seseorang mengambil suatu tindakan. Kita bukan mereka dan tidak ada kewajiban bagi si pelaku untuk menjelaskan apa yang sedang atau telah dilakukannya kepada kita, bukan?

Aku hanya ingin membeli bengkel di Jalan Long An dari Distrik Selatan Tianwu. Itu saja.

“Intinya, Senior.” Kutarikkan kursi buatnya duduk. “Penasaran memang hal wajar, tapi bukan berarti dirimu juga bebas menanyakan pada setiap orang kenapa mereka ingin atau melakukan sesuatu.”

“Bukan,” sanggah Saudara Seperguruan Qin, “aku cuma penasaran. Tadi siang kau bilang kita mau menyalami Pu Ding, kenapa malah belok kemari terus membeli bengkel ini. Itu pertanyaanku.”

“Oh.” Kuambil sesendok pasir besi lalu memasukkannya ke tungku. “Soal Pu Ding, kita akan menyalaminya setelah punya hadiah buat dibawa ke Istana.”

“Hadiah?”

“Benar. Kau pikir siapa Pu Ding, Senior?”

“Penguasa wilayah, ‘kan?”

“Maksudku siapa kita sampai bisa keluar masuk Istana dan menemuinya begitu saja …?” tanyaku, mengulang penjelasan. “Popularitas Bukit Muara belum sampai ke titik di mana seorang pu bebas kita ganggu.”

“Kenapa kita harus tetap menyalaminya kalau begitu?”

“Supaya kita punya penyokong di acara minggu depan.”

“Penyokong?”

“Benar. Kita ini datang dari Xuen dan mau menantang Sekte Belukar Semak sama Akar Rumput di wilayah kekuasaan mereka, ‘kan?”

“Terus?”

“Kalau enggak punya penyokong yang mampu menjamin keamanan kita setelah berhasil mengalahkan mereka nanti, apa dirimu pikir cuma mengandalkan kekuatanmu tambah diriku kita berdua akan sanggup menghadapi murid-murid sekte nomor tujuh sama delapan belas di persekutuan itu, Senior?”

Ia menggeleng.

“Bukannya kita tinggal kabur saja, ya?”

“Gak salah, sih.” Aku mulai capai menjelaskan padanya. “Cuma, kemenanganmu nanti jadi enggak ada artinya terus kita juga gak bisa membawa pulang papan nama mereka. Memang kau mau?”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!