22 - Penerus dan Tetua Gudang Pusaka Bukit Muara

“Aku gak bisa menebak ranahmu, Junior Mi.”

Aku menoleh ke bocah plontos di kuda sebelah—lebih ke menjuling sebetulnya.

Dia yang rencananya mau kusuruh latih tanding menantang padepokan-padepokan sekitar ini terus bilang gak bisa menebak ranahku dan berulang-ulang membahas kejadian waktu aku memperagakan Lonceng Emas sama sederet jurus beraliran chi panas bulan lalu.

Hem.

“Maksudku saat itu diriku masih pengembunan hawa …,” ujarnya buat kesekian kali, “jelas takkan mungkin melihat orang di pengokohan fondasi, tapi—”

“Kau sudah mengatakannya belasan kali, Senior Qin.”

“Hehe.” Ia terkekeh, lantas tiba-tiba mengentak kuda.”Lihat! Kita sampai ke Sekte Palu Emas ….”

Bagus, sekarang dirinya benar-benar mirip Ketua.

“Menghindari topik terus kabur ke hal lain,” gumamku yang lalu hela napas, “anak itu persis gurunya, ‘kan?”

Huh! Kudaku mendengus.

“Kalau dia menang lawan Ketua Palu Emas, menurutmu berapa persen murid mereka yang bisa kita serap—ah, sudahlah! Kita bahas ini nanti,” kataku terus mengentak perut si Mera, “ayo susul bocah itu ….”

Rencanaku adalah popularitas instan.

Namun, diriku juga sadar bila hal tersebut takkan mungkin tercapai pakai cara biasa. Mustahil. Buktinya, sudah kukenalkan Bukit Muara baru saat Pertemuan Dunia Kecil di Lembah Dua Tebing dengan cukup heboh dan yang melirikku hanya sedikit.

Dua tetua sekte sama sekumpulan amatir. Jika begini terus, kapan sekteku masuk jajaran anggota inti dan akan bisa kubawa bersaing dengan perkumpulan sebelah. Ya, ‘kan?

***

“Siapa kalian?”

“Penerus Bukit Muara sama tetua mereka,” kataku, menjawab orang di depan Gerbang Palu Emas. “Kemari buat melakukan pertukaran.”

Kukeluarkan Pil Penghalang Lapis Ganda.

“Kudengar ketua sekte ini sulit menerobos puncak formasi mutiara inti …,” lanjutku yang lantas menoleh dan memberi Saudara Seperguruan Qin tanda supaya maju pakai gerakan kepala, “murid utama sekteku ingin cari pengalaman, jadi kutawarkan pil penerobos ranah bila dirinya bisa dikalahkan.”

“Sembarangan!” bentak salah seorang penjaga, “sekteku bukan—”

“Apa tadi kau bilang ingin cari pengalaman?!”

Bagus. Orang yang kucari muncul.

“Benar.” Kuangkat pil penerobos cincin lapis empatku. “Kalahkan dia dan pil ini milikmu.”

“Jangan menye—apa?!”

Aku senang lihat muka kagetnya pas pukulan mendadak barusan terhalau oleh Aura Genta Emas.

“Aku lupa bilang,” akuku sembari tersenyum, “calon ketuaku menguasasi jurus Tubuh dengan Genta Emas tahap puncak, pukulan pelan gak akan berpengaruh. Jadi, tolong jangan meremehkannya dan pakai saja jurus-jurus terkuat kalian. Ya?”

Benar, meremehkan bocah sebelahku dengan menyerang tiba-tiba menggunakan pukulan biasa kayak barusan takkan berguna. Terlebih, Genta dan Tubuh Emas yang ia latih sangat sensitif pada benturan serta benar-benar keras dan sulit ditembus bahkan oleh benda-benda tajam.

“Kalau mau mengalahkan seniorku, pakai mantra terkuat cincin lapi—maksudku mantra terkuat ranah formasi mutiara inti tahap menengah atau di atasnya.”

“Junior ….” Saudara seperguruanku turun dari kuda. “Jangan beri tahu lawan apa yang harus mereka lakukan, jika patriak sungguh merapal mantra Palu Emas yang terkenal aku mana bisa bertahan.”

“Besar kepala!” sergah orang yang sesaat lalu terpental sehabis menyerangnya, “jangankan Mantra Palu Emas, tinju beruang putihku saja sudah cukup buat melempar kalian—hiyaaa ….”

Satu, dua …, tiga belas pukulan kemudian.

“Kurasa cukup.” Penerus ketua sekteku hanya terdeorong setengah langkah dari tempat ia berdiri, sementara lawan sudah bolak-balik dan telah dua kali merapal Palu Emas yang katanya gak mau digunakan. “Junior Mi, aku sudah paham bagaimana langkah dengan kuda-kuda sekte ini.”

Bocah plontos itu berbalik.

“Oh.” Aku berhenti topang dagu terus mendorong kudanya. “Baik, kita lanjut ke tempat berikutnya …..”

Karena tak bisa mengalahkan saudara seperguruanku bahkan setelah melempar pemungkas, Papan Nama Sekte Palu Emas pun kurampas dan mereka kusuruh memasang panji bertuliskan Bukit Muara di depan pintu.

“Kami menang secara adil,” kataku sebelum meninggalkan Palu Emas, “jika ada yang mau mencopot panji ini, silakan datang dan tantang penerus sekteku di padepokan ….”

***

“Sebulan berlalu ….”

Sejauh ini, belum ada satu pun sekte di Xuen yang berhasil menembus Genta Emas apalagi sampai menyentuh inti formasi tubuh emas saudara seperguruanku. Bahkan, kini perguruan-perguruan itu malah terang-terangan dan langsung menyerah sebelum mencoba begitu kami datang.

“Dan aku gak puas dengan hasil tersebut.”

“Kendalikan amarahmu, Junior Mi,” ujar bocah di seberangku, merapatkan tangan sambil tutup mata depan api unggun sembari menunggui ikan bakar yang belum matang. “Guru pernah berpesan, ‘Terbur-buru hanya akan menghancurkanmu sebagaimana serakah melakukannya.’”

“Hem.” Kilipat tangan depan dada terus coba fokus kepadanya. “Senior, dua sifat tadi melekat padaku. Secara gak langsung dirimu baru saja mengutukku, kau tahu?”

“Ahaha.” Ia membuka mata. “Aku gak bermaksud begitu, Junior. Tolong jangan salah paham. Kita ini satu perguruan, mana mungkin diriku tega mengutukmu.”

“Huh.” Kualihkan perhatian ke ikan bakar di api unggun. “Gak usah menjaga perasaanku. Dari dulu banyak orang sudah melakukannya. Bertambah seorang pengutuk lagi buatku bukan masalah besar, Senior.”

“Eh, ya!” Anak itu pindah duduk ke dekatku. “Aku belum pernah dengar ceritamu. Kata Guru dirimu sudah mengembara ke banyak sekte sebelum menemukan Bukit Muara, apa benar?”

“Bukan cuma benar ....” Kutark ikan bakar bagiannya pakai Benang Pandora terus kuasongkan. “Kalian sekte terakhir di daftar yang kupunya.”

“Kata-katamu jahat sekali.”

“Memang,” timpalku sambil menyikut lengan si bocah pakai senyum, “bukan cuma jahat, tapi aku ini sangat amat terlampau jahat dan super duper serta benar-benar kejam, loh, Senior. Aku adalah perwujudan raja para monster benua, huaaa!”

“Berhenti menggodaku!” Anak itu berusaha menghalau tanganku sambil melindungi muka dan perut supaya gak kena gelitik. “Junior Mi, begini-begini aku seniormu, ya—hentikaaan ….”

“Salah.” Kini aku cekak pinggang. “Kau bukan seniorku.”

“Hah?”

“Asal tahu saja, ya.” Kupasang muka serius sebelum lanjut menggodanya. “Kau ini calon penerus Ketua Bukit Muara, sedangkan diriku itu adalah tetua gudang pusaka kalian yang legendaris. Paham?”

“Hem. Bisa kau hilangkan kata legendaris barusan, Junior Mi?”

“Kenapa?”

“Gak cocok buat cepol sama pipi bulatmu.”

“Hahaha ….”

Bocah ini mengingatkanku pada Lupin, muka sama delikannya bikin gemas. Dia juga selalu menyembunyikan rasa penasaran di depan Ketua, mirip bocah itu saat di depanku.

“Ngomong-ngomong ….” Ia menoleh. “Junior Mi, semua papan nama di sana mau kita apakan?”

“Huh …, mau apa lagi—panas, panas …, huh …, huh …, bhawa phulang therus khasih Ketuha—haaa ….”

“Kau gila, ya?!” Saudara Seperguruan Qin melotot. “Guru mana mau dikasih barang-barang begituan, beliau pasti bakal langsung menghukum kita kalau tahu kau dan aku menantangi sekte-sekte di Xuen.”

“Benarkah?”

Anak sebelahku mengangguk cepat.

“Benar. Bahkan bukan cuma—”

“Siapa?!” pekikku, segera bangkit lalu memeriksa sekitar pakai Mata Perak. “Jangan lariii ….”

Bagus.

Bukan hanya kami di hutan ini.

Selain yang kukejar masih ada belasan orang di depan sana, bersenjata lengkap, dan mereka siap memapakku dengan lemparan jurus juga kertas-kertas jimat.

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!