21 - Wajah Baru
“Aku pulaaang ….”
Mukaku semringah.
Penampilan Gerbang Bukit Muara baru benar-benar menyilaukan, aku sampai sukar percaya kalau ini betulan sekteku bila tidak melihat terus baca papan nama di atas pintu sana.
Hem. Meski baru gerbang sama pagar depan, tukang yang kupanggil buat merenovasi padepokan hidup sesuai reputasi mereka. Gak rugi keluar seribu perak kemarin ….
“Kepala Mandor, aku suka gerbang baruku!” teriakku, mengacungkan jempol ke para pekerja yang lagi rehat di halaman kuil. “Dia kelihatan megah. Kalian benar-benar nomor satu se-Kota Xuen.”
“Ahaha.” Sang mandor kepala cepat-cepat menghadap buat menyambutku. “Jangan terlalu menyanjung, Bos. Kita baru sepertiga jalan, kami masih harus mengganti pagar samping dengan gerbang belakang sebelum lanjut merombak bangunan-bangunan utama.”
“Hem. Aku suka profesionalitasmu …,” akuku kemudian menarik camilan yang memang kubeli buat mereka pas ke kota pakai Benang Pandora terus kutaruh di depannya, “ngomong-ngomong, selain guru sama saudara seperguruanku gak ada orang lain lagi di sini, ‘kan?”
“Ma-maksud Anda, Bos?”
“Maksudku pas kalian mengganti gerbang, apa gak ada yang datang kemari?” bisikku sambil sesekali mengintip ke kuil, “seminggu ini aku dapat surat aneh di depan pintu ….”
“Ah, itu ….” Ia berpikir sebentar. “Tidak ada, Bos, tapi salah seorang pekerja melihat banyangan melintas saat menimba air di halaman belakang sama ….”
Hem. Aku melipat tangan dengar aduan sang mandor kepala.
“Aku mengerti,” kataku yang lalu memberinya dua keping perak dan berpesan, “tolong simpan semua yang kalian lihat atau dengar di sini dan jangan katakan soal kejadian tadi pada orang lain, paham?”
“Oh. Anda tenang saja, Bos. Mulutku tertutup rapat.”
“Bagus. Ah, ya! Kami masih kekurangan bangunan, tapi kau dan orang-orangmu boleh pakai gudang belakang buat menginap, terus bawa camilan ini buat kudapan kalian.”
“Te-terima kasih, Bos, terima kasih.”
Seminggu telah berlalu sejak diriku kembali dari Pertemuan Dunia Kecil, tetapi penguntit yang mengikutiku dari Gerbang Burung Api belum juga mau pergi. Apa yang sebenarnya mereka cari di padepokan ini?
Maksudku jika yang diincar itu diriku, seharusnya tadi mereka juga akan ikut turun gunung, bukan?
Namun, ini tidak. Itu artinya sasaran sebenarnya bukanlah diriku melainkan sesuatu atau seseorang di sini ….
“Ketua.”
“Kau sudah kembali?”
“Hehe … Ketua, tolong coba seragam baru kita.”
Pak tua di depanku berbalik.
“Kenapa ada—”
“Oh, ini untuk cadangan!” selaku lantas menjelaskan, “terus aku juga pesan dua model buat situasi berbeda, satu bakal kegiatan sehari-hari kita sama satu lagi pas ada acara di luar sekte.”
“Kenapa dua jubah di sana berbeda, Mi?”
Aku melirik jubahku dengan untuk Saudara Seperguruan Qin.
“Ah, itu jubah Senior Qin. Modelnya kubuat mirip desain jubah Anda sebagai tanda bahwa dialah calon ketua sekte selanjutnya, kalau punyaku ini bakal calon tetua. Hehe, bagus, ‘kan?”
Ketua tidak bersuara, beliau hanya tersenyum sebentar lantas mencoba jubah-jubah tersebut.
***
Seminggu kembali berlalu, renovasi sekte pun rampung.
“Bos, pekerjaan sudah selesai.” Mandor kepala menyalamiku dengan Ketua di depan gerbang sekte sembari pamitan bersama orang-orangnya. “Bekerja di sini adalah pengalaman terbaik, Anda tidak seperti pelanggan-pelanggan lain. Kesan pegawaiku terhadap tempat ini juga sangat baik. Terima kasih banyak.”
“Terima kasih juga—ah, ya, Kepala ….” Kuambil nota pelunasan yang kuterima dari kantor mereka beberapa hari lalu. “Aku suka hasil kerja kalian, bila suatu saat diriku minta bantuan lagi kau jangan sampai menolak.”
“Ahaha, Anda bisa saja, Bos.” Ia kelihatan senang pas menerima nota tersebut. “Sekte Bukit Muara sudah jadi pelanggan prioritas Regu Mistar Kayu. Jika aku tidak bisa, maka rekan-rekanku akan dengan senang hati membangunkan rumah impian Anda. Sebut saja di mana, kami akan segera datang.”
“Aku suka mendengarnya ….”
Sesaat kemudian.
“Kau kasih dia berapa, Mi?”
Aku menoleh pada Ketua.
“Mukanya benar-benar cerah pas lihat kertas tadi,” lanjut beliau, menatapku penasaran. “Gak kecil, ‘kan?”
“Gak banyak, kok,” kataku yang lalu membukakan gerbang ‘tuk beliau, “cuma seribu, Ketua.”
“Seribu perunggu sampai sesenang itu—”
“Seribu perak,” selaku lekas mengikutinya dari belakang dan, “adaw … kenapa Anda tiba-tiba berhen—”
“Kau bilang apa barusan?” Pak tua di depanku seketika berbalik, cekak pinggang, lalu melotot. “Seribu keping perak buat merenovasi kuil bobrok ini, hah?!”
Aku garuk pipi.
“Bukan cuma renovasi,” kataku lantas merinci, “kita sekarang punya dapur sama lumbung baru, rumah tamu, kandang ternak dengan kuda, gudang, bengkel kecil, terus kamar mandi juga toilet terpisah.”
Ketua menggeleng dengan bibir bergetar.
Kelihatan sekali bila beliau sebetulnya ingin bilang sesuatu, tetapi tertahan entah oleh apa hingga satu-satunya yang berhasil keluar pada saat itu hanya hela napas diikuti langkah cepat menuju kuil yang kini telah berubah fungsi menjadi aula utama.
Meninggalkanku dengan sebuah tanda tanya besar ….
“Ketua, tunggu!”
Tanggal 15 Bulan Tujuh.
Bukit Muara kini punya penampilan baru.
Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana penampakannya sekarang. Namun, kalau boleh menyebut contoh yang mendekati padepokan ini sudah mirip kastil atau istana-istana di negeri sakura.
Benar. Meski aula utama tidak benar-benar sebesar kastil, tapi parit di luar tembok dengan susunan bangunan-bangunan juga luas halamannya mendekati.
Kebayang, ‘kan?
***
“Ketua ….”
Aku menyusul pak tua tadi ke aula sekte.
“Tunggu sebentar, kenapa Anda tiba-tiba—”
“Aku mau lanjut semedi,” terang beliau, sudah bersila sambil tutup mata di tempatnya biasa semedi, di depan altar wewangian. “Jangan ganggu a—”
“Aku punya Pil Pemadat Inti!” timpalku, mengasongkan sebutir pil penerobos ranah ke hadapannya. “Lihat!”
Ketua membuka mata pelan-pelan.
“Dengan pil ini Anda akan bisa menerobos ke puncak ranah formasi mutiara inti ….”
Huh. Sudah kuduga. Ranah formasi mutiara inti tahap menengah mana sanggup menolak pesona Pil Pemadat Inti kualitas terbaik di tanganku.
“Buat apa kau tunjukkan pil itu di depanku, Mi?”
Eh?! Kok, reaksinya hanya begitu?
“Ayolah, Ketua.” Kuusap-usapi pil tersebut buat merayu beliau. “Aku cuma mau mengajak Senior Qin jalan-jalan dan menyapa tetangga kita. Sebentar saja, kok. Boleh, ya?”
“Apa tujuan aslimu?” tanya Ketua, sok jual mahal sembari pura-pura tidak melirik pil di tanganku. “Jika kalian berdua pergi lalu diri—”
“Aku punya formasi penghalang lima bendera sama manual kabut pelinglung!”
“Dari mana kau dapat barang-barang ini, hah?!” sergah beliau, terbelalak menunjuki dua benda yang baru saja kukeluarkan. “Kau tidak—”
“Rumah lelang!” potongku, berbohong. ‘Mana mungkin kubilang aku menulisnya sendiri, ‘kan?’
“Hah.” Ketua hela napas sebelum pasrah. “Baiklah. Aku tidak bisa menghadapimu dengan semua sumber daya yang entah seberapa banyak itu, Mi. Namun, bukan berarti dirimu juga bisa terus melewatkan latihan.”
“Hehe.” Kutarik lengan jubah sedikit lalu kutunjukkan manik energi di pergelangan kiriku. “Tenang, Ketua. Aku sudah punya dantian pengokohan fondasi tahap awal di si—”
“Apa?!” Sekali lagi, beliau terbelalak di depanku. “Se-sejak kapan ….”
Hari itu.
Langkahku menuju Bukit Muara yang booming semakin dekat.
Selesai merevisi manual jurus, menampilkan bahwa sekteku punya bobot serta tidak bisa lagi dipandang enteng atau sebelah mata di acara persekutuan, terus merenovasi sekalian membangun gudang pusaka. Kini yang perlu kulakukan hanya merombak formasi dan membuka gerbang untuk regenerasi ….
***
Kasih tip buat penulis
