17 - Gerbang Kanal Lain

Hem.

Sesuai dugaan.

Dunia Kecil yang katanya menghubungkan banyak dunia ini adalah mini kanal. Dia menempel pada Eldhera bak dua gelembung, kecil dan besar, lalu menghubungkannya ke kanal-kanal lain dengan cara serupa.

“Hebat juga,” kataku setelah puas keliling tempat yang disebut ‘Dunia Kecil’ itu dan melihat penampakannya dari dekat, “karena terhubung ke banyak kanal, dia jadi punya pasokan energi melimpah.”

Entah bagaimana cara tempat ini terbentuk, tapi jika ingat rekorku sebagai pelahap kanal mana bisa kubiarkan dia mengembang lagi, ‘kan? Jadi ….

“Chloe.”

[Hadir!]

“Aku malas sebetulnya,” akuku pada layar ungu transparan di hadapanku, “tapi bisakah kau pasang menara di kanal-kanal yang terhubung kemari terus—”

[Peluruhan kanal bisa dilakukan, tetapi apa Anda ingin menampung para penghuninya, Tuan?]

Penunggu Kantong Hati Naga satu itu benar-benar cermat, sudah bisa menebak dan menyarankan beberapa pilihan padahal belum kukatakan semua keinginanku.

“Aku ogah menampung penghuni kanal lain, jadi jangan sarankan ini lagi. Kirim saja ke kanal terdekat. Kalau mereka ternyata sudah punya host, pasang menara temporal di sini terus buka menu invasi.”

[Dimengerti.]

Kenanganku dengan penghuni kanal lain tidak bagus. Meski gak semua, tetapi kepergian Doll, Monika, sama monopoli Puing Lalika cukup untuk membuatku langsung memilih ‘peluruhan’ bila memungkinkan.

Apalagi kanal mini ini rumornya juga merupakan kancah perang, sudah tentu para penghuni kanal-kanal besar yang terhubung kemari takkan punya kesan baik.

Jadi mending kuambil langkah preventif ….

***

“Saudara Mi! Sebelah sini—heiii …!”

Lihat Sun Ling dan Wen Tong, murid Sekte Burung Api dan Empat Puncak Bambu, kubelokkan arah terbang kelabang merahku kemudian mendarat di sebuah bukit.

“Kau penuh kejutan, Saudara Mi. Aku baru tahu kapak perangmu juga merupakan arte—”

“Bukan!” potong Saudara Wen, maju selangkah ke depan Saudara Sun. “Sebelum ke sana, bagaimana caramu menghindari larangan terbang tempat ini, Saudara Mi?”

“Larangan terbang?”

“Benar, aku lupa!” timpal Sun Ling segera, “Saudara Mi, tempat ini melarang semua penggunaan teknik sama artefak terbang. Bagaimana caramu menghindari sambaran petir di langit dan terbang dengan kapak itu?”

Sial! Aku ceroboh. Harusnya kuperiksa juga aturan kanal ini tadi ….

“Ahaha. Kalian salah paham, Saudara Wen, Saudara Sun. Yang dilarang di sini itu kan teknik sama pusaka terbang, bukan melayang.”

“Ma-maksudnya?”

“Begini, Saudara Sun ….”

Aku menoleh lantas melambai pada Kelabang Merah agar mendekat.

“Lihat kapak perangku ini baik-baik, dia itu melayang di udara. Bukan terbang. Saudara Wen, Saudara Sun.”

“Aku gak percaya!”

Dasar kritis. Murid Empat Puncak Bambu yang baru saja menangkap kejanggalanku langsung mengeluarkan pusaka terbangnya, sebuah perahu giok, kemudian mencoba teori tersebut.

“Kalau melayang dan terbang benar dibedakan, harusnya perahuku juga ….”

Aku dan Sun Ling selanjutnya duduk terus topang dagu melihat dirinya melakukan percobaan.

“Perhatikan baik-baik,” ujar Wen Tong, mulai merapal mantra perahu pusaka tadi hingga pelan-pelan ia pun terangkat ke udara. “Eh?!”

Heran tampak jelas di muka sang praktisi ranah pengokohan fondasi tahap awal tersebut.

“Dulu gak begini!”

“Mungkin larangannya berubah,” timpal Sun Ling sebelahku.

Yang segera disanggah oleh si empunya perahu dengan menambah ketinggian. “Mana mungkin! Aku a—”

Ctas! Namun, kemalangan pun terjadi.

Pada titik itu, kira-kira di ketinggian seratus hasta dari permukaan tanah.

Guntur menggelegar mengikuti cambuk halilintar yang sontak menjatuhkan Wen Tong sama perahu gioknya sekali entak agar mereka kembali tanah. Bdum!

“Aw.” Membuatku sama karib yang menunggu di bawah spontan tutup muka, menghindari pemandangan di langit ‘tuk sesaat, sebelum bergegas memapak perahu beserta sang empunya ke tempat jatuh mereka. “Saudara Wen, kau gak kenapa-napaaa …?!”

***

“Kau sudah sadar ….”

“Sa-saudara Sun?”

“Bagai—”

Ting! Laporan Chloe muncul.

Tepat ketika orang yang baru saja membuka mata sehabis jatuh kena sambar petir di depanku dengan Sun Ling mulai lompat-lompat kayak katak sambil teriak kegirangan.

“Aku menemukannya, aku menemukannyaaa ….”

Entah apa yang membuat Wen Tong girang, aku tidak memperhatikan. Mataku langsung fokus sama laporan Chloe di depanku pas ia bilang Dunia Kecil kini hanya terhubung dengan Eldhera ….

‘Aku mengerti,’ batinku selesai baca laporannya. “Saudara Sun, Saudara Wen. Urusanku di sini sudah tercapai, aku akan undur diri sekarang. Semoga—”

“Tunggu, Saudara Mi. Kabut beracun baru saja lenyap dan jalan ke area kedua baru terbuka, bukannya akan sayang bila tidak mencoba peruntungan di ladang herba sama kuburan pusaka di sana.”

“Benar, apalagi sekarang kita tahu larangan terbang Dunia Kecil hanya melarang sihir terbang di atas ketinggian seratus hasta dari permukaan tanah!”

“Hah?!” Sun Ling melongo dengar omongan rekan sebelahnya. “Kau bilang apa barusan, Saudara Wen?”

“Saudara Sun, Saudara Mi. Aku sekarang yakin larangan dunia ini punya ketentuan spesifik setelah percobaan tadi, jadi selama kita menemukan mereka mengakali aturan-aturan di sini bukan lagi hal mustahil.”

Saudara Sun meletakkan tangan ke kening Saudara Wen.

“Kepalamu gak terbentur pas jatuh ta—”

“Singkirkan tanganmu dari wajahku. Aku baik-baik saja. Daripada itu, Saudara Mi ….” Wen Tong melihatku optimis. “Bagaimana, mau menjelajahi Dunia Kecil ini bersama kami, ‘kan?”

Aku tersenyum.

“Kuucapkan selamat atas penemuan besar baruasan, Saudara Wen, dan terima kasih untuk ajakannya.” Sayang, tiga hari memetik herba di sini sudah lebih dari sekadar cukup. “Namun, keranjang herbaku sudah penuh.”

Kelabang merahku mendekat, menunjukkan empat keranjang yang ia pikul.

“Terus juga, kudengar area kedua dan pertama merupakan gelanggang perang serta ajang adu bakat. Aku takut dengan keahlian sekarang, diriku cuma bakal menjadi beban.”

“Yah. Sayang sekali ….”

“Sudahlah, Saudara Wen.” Sun Ling kelihatannya lebih pengertian. “Semua orang yang datang ke Dunia Kecil punya tujuan sendiri-sendiri. Saudara Mi bilang keranjang herbanya sudah penuh, ‘kan?”

“Terus kau mau bilang jika memetik herba area luar saja sudah cukup, hah?” timpal karibnya sambil menoleh gemas, “kau yang paling tahu herba-herba area kedua jauh lebih langka dan berharga ….”

Hem.

Dia pikir dari mana tumbuh-tumbuhan di keranjangku.

Semua herba kupetik dari area dua pas tempat itu masih diselimuti kabut asap. Asal tahu saja, ya!

“Hah ….” Sayang, aku gak bisa mengatakannya karena masih harus merendah. “Saudara Wen, Saudara Sun. Sekali lagi terima kasih, tapi sumber daya sekteku masih sangat terbatas, takutnya jika menunda keluar sekarang herba-herba ini malah gak bisa kubawa pulang.”

“Hem. Benar juga. Setelah kabut beracun lenyap seluruh sekte dari setiap dunia akan saling sergap, langkahmu masuk akal, Saudara Mi.”

Akhirnya, bocah bermarga Wen itu mau melepaskanku.

“Ahaha. Terima kasih, Saudara Wen.”

“Baiklah, kita berpisah di sini saja. Aku dan Saudara Sun akan menjelajah area kedua buat memetik herba sama mencari pusaka di area pertama. Kami akan pulang setelah dapat harta karun naga, hahaha ….”

Begitulah. Usai berpisah dengan keduanya aku lanjut menuju gerbang masuk, hendak kembali ke Eldhera dan mengolah herba-herba yang kudapat dari ‘dunia kecil’ tersebut.

Sampai tiba-tiba ….

Bdum! Dentuman keras diikuti tekanan berat khas ranah cincin lapis empat atau pembaruan aura yang datang dari arah belakang sontak menjeda langkah hingga membuat diriku berbalik ….

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!