18 - Kuburan Pusaka
“Hem ….”
Aku berjongkok, menyentuh permukaan tanah terus toleh kanan kiri, berdiri kemudian menyisir area sekitar pakai mata perak sekali lagi.
“Heran.” Di sana, area bekas pertempuran cincin lapis empat yang tekanannya sampai ke gerbang Dunia Kecil, benar-benar unik. “Gak ada residu selain ….”
Benar, aku kembali lagi waktu aura cincin lapis empat atau yang orang zaman ini sebut ranah pembaruan aura tadi mengagetkanku. Begitu ceritanya, jika kalian tanya kenapa masih di sini padahal sudah bilang mau keluar sama Wen Tong dan Sun Ling.
Hanya, aku juga sama herannya pas datang kemari sudah tidak ada apa-apa selain kerikil yang kupegang.
Jadi jangan tanya apa-apa dulu ….
“Aku gak bisa menebak batu apa i—gawat!”
Orang-orang mulai berdatangan.
Sebaiknya segera pergi ….
***
“Hem.”
Hari keempat di Dunia Kecil.
Tadinya aku mau pulang. Toh, tungku di punggung kura-kura mungil sama empat keranjangku sudah penuh herba. Jadi buat apa lagi aku di sini, ya, ‘kan?
Begitu niatku, tadinya.
Bahkan sebagian, herba-herba yang kumasukkan ke tungku, sudah kusuling jadi ratusan Pil Embun Rumput Bulan, Embun Lima Sumsum, Garis Kembar, sama Delapan Warna; puluhan butir Pil Pemudar Aura dengan Peluruh Residu Elemen; lusinan Pil Pemadat Inti, Penghalang Lapis Ganda, tambah Puncak Enam Kelopak; terus belasan Pil Bubuk Aroma Mimpi.
Totalnya ada tiga ratus tujuh puluh enam butir.
“Kurasa cukup. Ambil sebutir buat Pak Tua Ong, separuhnya mau kubagikan, dan sisanya buat kusimpan.”
Setelah kukurang-kurangi, masih ada seratus delapan puluh tujuh butir. Mereka bisa kupakai buat menaikkan ranah Ketua sama Senior Qin. Mwehehe.
‘Makin cepat orang-orang sekteku naik ranah, makin cepat pula aku menjemput Berlian ….’
Begitulah isi kepalaku saat itu sampai tiba-tiba ….
“Adaw!”
Sesuatu menyambar terus mencengkeram bahu kiriku hingga aku spontan menoleh dan menjerit.
“Aaa—hantuuu ….”
***
“Burung hantu nakal!”
Kusentili burung abu-abu bermata besar dengan kepala bulat yang sesaat lalu hampir membuatku jantungan. Dia, si burung hantu, muncul tiba-tiba dan melotot sebelahku sampai aku menjerit gegara kaget. Gegara itu juga para praktisi dari banyak sekte berlarian ke tempat yang kugunakan buat menyuling pil mana.
“Kenapa kau bikin aku kaget tadi, hah?” Berani-beraninya burung kepala bundar sama mata mirip kacamata ini menyambar bahuku pas diriku lengah. “Huh! Cari mati …, nih, mamam …, nih, sekali lagi ….”
Ngomong-ngomong, makin kuperhatikan binatang kecil di genggaman tanganku itu imut juga. Kepala bulat sama penampakan muka mirip parabola, mata cincin warna kuning nan sayu, terus paruh mungil.
Cantik buat jadi peliharaan.
“Woi, Burung. Gara-gara kau tempat sembunyiku sekarang hilang, tahu. Gimana aku mau buat pil lagi kalau banyak orang di guaku sana, hah?!
Buat hukuman. Kau harus jadi tunggangan terbangku—apa?!
Kau bilang apa barusan …?”
Makhluk mungil di tanganku buru-buru menggeleng terus pasang muka manis, bak lagi senyum, sama sedikit terkekeh pas kupelototi.
“Bagus.”
Ia menyerah. Mulai malam tersebut si burung abu-abu kunamai Oka terus kujadikan tunggangan terbang ….
***
“Sekarang apa?”
“Dunia Kecil terlalu aneh.”
“Aku setuju ….”
Dua hari kudengar komentar senada di gerbang area pertama sama ujung area kedua.
Dunia Kecil anehlah, tiba-tiba cuaca tak tertebaklah, terus semua herba sama tumbuh-tumbuhan spiritual area dua mendadak tidak tumbuh, dengan seabrek keluhan terhadap dunia ini.
Poin ketiga gegara ulahku. Soal herba di area kedua. Bukan tidak tumbuh, tapi dirikulah yang sudah memanen mereka pas kabut racun ungu masih ada.
Kalau soal kejanggalan lain, aku gak tahu.
“Oi, Oka. Aku bosan rebahan di pohon, ayo ter …, hem, waktu masih mungil kau gak nolak kusuruh terbang buat mencari orang dari sekte Burung Api sama Empat Puncak Bambu. Kenapa pas badanmu besar tiba-tiba takutan gini sampai bilang enggak mau kena sambar petir?”
Burung itu memutar kepala seratus dua puluh derajat.
“Batasan gak akan menyambarmu kalau terbangnya di bawah seratus hasta—Cek! Baiklah-baiklah ….”
Aku menyerah, kurasa burung hantu tetaplah burung hantu.
“Alasanmu kebanyakan, Oka. Jalan saja kalau gitu ….”
Beda dengan si Mera sama kura-kura mungil, burung hantu yang lagi menggendongku sekarang benar-benar bawel. Bukan cuma berpengetahuan sampai bisa memberitahuku serba-serbi Dunia Kecil secara rinci, burung satu ini ternyata juga banyak tawar terus pilih-pilih.
“Aku sudah dengar soal Formasi Belenggu Naga sama Hujan Pedang,” kataku, meminta si burung hantu abu-abu agar ganti topik. “Kapan kita—kau bilang apa?!”
Ia menoleh, lagi.
“Barusan, sebelum Kuburan Pusaka …, nah, nah … itu, benar—oooh ….”
Hem.
Pengetahuan burung satu ini boleh juga.
Selain tahu banyak soal benda-benda ajaib beserta warna-warni penghuni Dunia Kecil, dia juga mahir melacak hewan mistis dan punya perbendaharaan data tentang habitat mereka.
“Bagus.” Meski baru sebatas pengakuan, aku sudah cukup senang. “Kalau memang yang kau bilang itu benar, carikan aku sarang-sarang hewan mistis langka pas kita keluar dari sini, ya—”
“Sudah mulaaai!”
“Lihaaat!
Jerit dengan pekik sontak menjeda dan membuatku celingak-celinguk, memeriksa sekitar sebelum melihat ke arah yang semua orang tunjuk.
“Apa itu, Oka?”
Merujuk keterangan si burung hantu.
Pilar cahaya putih kebiruan yang lagi menjulang di depan sana adalah tanda kebangkitan naga emas, penunggu Dunia Kecil sekaligus makhluk mistis terkuat di sini.
Ia bilang, ular naga sepanjang satu kilometer dengan lebar seratus meter tersebut menjaga senjata pemungkas berupa pedang putih berbahan Kristal Es Dingin. Pusaka utama yang muncul sekali tiap sekian seratus tahun.
“Hem.” Aku elus dagu dengar penjelasan Oka. “Boleh juga,” komentarku terus balik rebahan di punggung si burung, “dekati tempat itu—tenang saja, biar kurapal mantra kamuflase supaya kau gak kelihatan kalau lagi membawaku pas kita di sana.”
Hari keenam di Dunia Kecil.
Sekali lagi, diriku malah menjelajahi dunia ajaib ini.
Padahal, awalnya aku mau langsung pulang sehabis memetik herba area dua. Namun, sampai mereka kusuling jadi pil mana sama sebagian kusemai buat kutanam nanti, diriku malah asyik menunggui keajaiban di sini.
Benar-benar di luar rencana. Apalagi sekarang aku tergoda ingin lihat bagaimana rupa sama penampakan ular naga penjaga pusaka utama yang Oka bilang ….
“Saudara-saudara.”
Semua orang berbalik.
“Makhluk mistiiis!” Sebagian bahkan langsung memekik, dan ada juga yang tiba-tiba lompat ‘tuk menerjang pas lihat ke sumber suara. “Tangkap burung raksasa iniii!”
“A-apa?!” Walau, ya, mereka bukan tandingannya juga. “Mu-mustahil—”
“Saudara,” panggilku, berpura-pura dari balik punggung Oka dan mengisikan suara buatnya. “Diriku kemari bukan sebagai musuh, kenapa begitu tegang?”
Kulempar satu Pil Penghalang Lapis Ganda ke udara.
“Diriku sebetulnya hendak bertanya …,” lanjutku, mendekatkan pil tadi ke depan si burung. “Saudara, berapa tangan dan bantuan tenaga yang bisa kutukar dengan sebutir pil ini?”
“Pi-pi-pil, Pil Penghalang Lapis Ganda!”
“I-i-itu Pil Penghalang Lapis Ganda!”
“Pil Penghalang Lapis Ganda.”
“Kabarnya pil ini digunakan untuk menerobos ke ranah pembaruan aura.”
“Bukan hanya pembaruan aura,” sambungku menanggapi reaksi mereka, “tetapi juga satu ranah di atasnya.”
“Ra-ranah, ranah di atas pembaruan aura?!”
“Benar, Saudara.” Kuberi Oka isyarat agar maju selangkah. “Pil Penghalang Lapis Ganda memang sehebat itu. Jadi, bolehkah kutahu berapa tenaga yang bisa kutukar dengan sebutir pil ini?”
Semua orang mulai ribut hingga salah seorang memberanikan diri untuk maju dan bertanya.
“Tetua Burung Hantu, boleh kutahu alasan kenapa Anda ingin menukar pil seberharga itu?”
Dengar pertanyaan tersebut, kusuruh Oka melihat ke pilar cahaya terus maju dua langkah.
“Tentu saja,” ujarku yang lalu meminta si burung berbalik terus melihat para pertapa, “diriku hendak menjadi raja monster baru dan mengalahkan semua pesaing di sana ….”
***
Kasih tip buat penulis
